- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
adriantz dan 133 lainnya memberi reputasi
128
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#1326
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Suasana Balairung Budi Utomo di Hotel Bum* Wiya*a Depok, tempat acara pernikahan Kak Silvi dan Anton akan diselenggarakan hari ini, sudah nampak ramai, tapi bukan oleh tamu, melainkan keluarga besar kami.. Acara Akad nya akan dilaksanakan jam 11 siang, sedangkan kami selaku keluarga besar sudah tiba di Hotel ini dua jam sebelum acara di mulai.. Karena masih ada beberapa hal yang harus dilengkapi..
Acara pernikahan Kak Silvi dan Anton akan menggunakan adat betawi modern, karena kedua keluarga besar merupakan orang asli Depok.. Disini yang sempat bikin gw merasa aneh.. Secara otonomi, Depok memang masih berada di wilayah Provinsi Jawa Barat.. Tapi masyarakat Depok sendiri tidak begitu banyak yang menggunakan Bahasa Sunda, sebagai bahasa sehari-hari.. Mayoritas warga Depok itu menggunakan Bahasa Betawi yang unik.. Mungkin karena letaknya lebih dekat ke Jakarta kali, makanya pengaruh Betawi sangat kental di warga Depok..
Nah, Om Hendra sengaja menyewa dua buah kamar di Hotel Bum* Wiya*a, yang digunakan untuk merias dua keluarga besar.. Satu kamar untuk merias pengantin dan keluarga besar Anton, dan satu kamar lagi untuk merias keluarga besar Om Hendra, termasuk gw dan Ibu.. Gw dan si Kambing Rio yang hanya dapat cuti dua hari dari dinasnya, sedang menjajal Jas hitam berleher seperti model shanghai..
Alhamdulillah, ukuran Jas hitam yang akan gw kenakan ternyata slim fit, jadi ngebentuk banget di badan.. Sementara, Rio yang tubuhnya makin berotot dan berisi sempat kesulitan untuk memilih jas yang ukurannya pas.. Si Kambing sempat terdengar menggerutu beberapa kali, tapi akhirnya menemukan juga jas yang tepat, meski terlihat sedikit kebesaran..
Ada satu hal yang membuat gw tidak terlalu sreg, saat menjajal tiap Jas.. Empat orang yang akan merias kami dikamar ini, semuanya adalah laki-laki yang ‘belok’.. Gw sempat merasa keempat laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dari gw itu, sering sekali mencuri pandang.. Meski mereka sedang merias orang lain, seperti Tante Septi dan Ibu, tetap saja gw merasa ada yang memperhatikan.. Lu ngerasa kan, bree, kalo ada orang yang lagi perhatiin diam-diam?
Awalnya, gw tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, karena masih banyak orang yang ada di kamar ini.. Tapi, setelah semua nya turun ke bawah, untuk menuju balairung, dan hanya menyisakan gw dan Rio, keempat pemuda aneh itu mulai terlihat lebih berani.. Dari bercanda dengan sengaja latah menyebut ‘barang’ yang mereka sendiri punya, sampai ada yang berani menyentuh tubuh gw, seperti yang saat ini dilakukan oleh salah seorang dari mereka..
“Woyy!! Lu ga usah pegang-pegang bokong gw, Njing” Bentak gw sambil membalikkan badan, saat seseorang terasa meremas bokong gw..
“Ga pegang koq bang ganteng, aku cuma rapihin jas nya, yang belakang agak kusut tadi” Jawab pemuda berambut ikal sambil memainkan mata nya, yang membuat gw makin kesal..
“Pegang aja Mas.. Kalo perlu remes juga ga apa-apa dia mah” Ledek Rio yang wajahnya sedang dibedaki..
Gw yang masih menatap tajam ke arah pemuda tadi, langsung berjalan mendekati Rio dan berbisik di telinganya..
“Gw duluan ke bawah, Men.. Ga beres kalo lama-lama disini.. Bawaannya Horror!” Bisik gw ke Rio yang langsung menarik tangan gw secepat kilat..
“Masa lu tega ninggalin gw sama alien, Men? Tunggu napa, gw lagi dibedakin nih, bentar lagi juga kelar” Pinta Rio dengan mata menatap mengiba..
“Lu mo dibedakin sekilo juga ga bakal bikin muka lu putih, Men.. Hadapilah kenyataan pahit mu, anak muda” Jawab gw santai, lalu melepaskan tangan Rio dan berjalan pelan menuju pintu kamar hendak menyusl Ibu dan yang lain..
Baru saja gw akan merasa bebas, tiba-tiba salah seorang dari keempat pemuda ‘belok’ itu mencegat langkah gw.. Sambil menatap penuh arti, pemuda berkacamata warna pink itu, membasahi bibirnya dengan lidah sendiri..
“Boleh minta nomer Hp kamu ga? Siapa tahu kita bisa chat dan perkenalan ini akan berlanjut ke jenjang yang lebih.....”
Tak mau mendengarkan ucapan nya itu lebih lanjut, dengan kasar, gw menarik bahu pemuda itu, hingga terlempar kesamping dan jatuh di atas sofa empuk..
“Aww, aku mau donk di kasarin” Kata temannya dari belakang..
Tanpa pikir panjang, gw mempercepat langkah dan keluar dari kamar..
BRAKK!!!
“BRRRR”
Suara pintu kamar hotel yang gw tarik dengan keras terdengar cukup kencang, disusul suara gw yang bergidik merinding karena teringat ucapan pamuda tadi.. Tak lama dari gw menutup pintu, mendadak daun pintu tertarik kembali ke dalam, karena ada yang membuka..
Gw yang sempat mundur dan bersikap siaga, langsung menghela nafas lega saat melihat Rio muncul dari balik pintu dengan wajah pucat..
“Gila! Tuh maho-maho di dalem mo rudapaksa gw, Men” Kata Rio dengan wajah pucat..
“Mampu* lu! Ga ngerti sih gw bilangin dari tadi” Kata gw sambil sesekali tertawa kecil..
“Yaa Allah, hamba mohon, lindungi hamba dari mahluk kek tadi, Ya Allah, dimana pun hamba berada.. Satu lagi, Ya Allah.. Sisain perawan buat hamba dan saudara sepupu hamba..”
“Aamiin” Ucap gw mengaminkan do’a Rio dengan sepenuh hati..
Gw dan Rio sudah berpenampilan ala Pagar Bagus adat Betawi.. Kami memakai jas hitam berkancing warna emas, dengan selendang batik terikat dipinggang dan blangkon atau bendo sebagai penutup kepala.. Di jas kami, tersemat rantai kecil berwarna emas yang terkait dari saku jas ke kancing.. Sebagai bawahan, kami menggunakan celana bahan hitam dengan sepatu kulit yang sudah mengkilat..
Ada dua orang saudara perempuan kami yang menjadi Pagar Ayu, dengan berbusana kebaya khas betawi yang berwarna terang mencolok.. Mereka berdiri masing-masing di sebelah gw dan Rio.. Karena dua orang cewe yang hubungan saudara nya agak jauh itu, gw dan Rio tidak berniat untuk modusin mereka..
Tugas kami berempat sebagai Pagar Bagus dan Pagar Ayu adalah menyambut para tamu undangan untuk pertama kali.. Beberapa tamu undangan sudah ada yang tiba.. Dengan senyuman manis yang tersungging di tiap wajah, kami menyambut mereka..
Senyuman gw semakin sumringah saat melihat Ayu datang bersama kedua orang tuanya, Pak Sugi dan Bu Aisyah.. Ayu terlihat semakin cantik dengan menggunakan kebaya modern berwarna pink dengan rok pendek sebatas lutut, bermotif batik warna campuran seperti gold, krem dan pink.. Rambut hitam panjang yang sengaja di geraikan di atas dadanya dan sepatu high heels berwarna gold, semakin mempercantik penampilan Ayu..
Setelah menyambut Ayu dan menyalami kedua orang tuanya, gw langsung menarik lengan Ayu.. Rio yang berdiri beberapa meter di hadapan gw, melihat ke arah kami dengan wajah penasaran..
“Lu temenin gw disini yah” Pinta gw ke Ayu dan langsung di balas dengan senyuman manis dan anggukan kepalanya..
Tiba-tiba, Rio berjalan mendekat dan langsung mengulurkan tangan kanan ke arah Ayu.. Sesaat, Ayu menoleh ke gw seperti meminta isyarat bagaimana membalas cara perkenalan Rio yang langsung to the point..
“Hai, gw Rio, sepupunya Imam.. Lu jangan mau sama Imam, pantat nya barusan abis di remes maho” Kata Rio sambil terus mengulurkan tangan kanannya..
Gw yang mendengar candaan si Kambing Item barusan, langsung menendang betisnya.. Ayu terdengar tertawa melihat gw yang berusaha membalas Rio dengan tendangan.. Lalu kembali berdiri di samping Ayu..
Ayu sendiri lagi-lagi menatap gw seperti tadi, seolah-olah meminta saran untuk membalas atau tidak, uluran tangan yang kembali dilakukan si kambing.. Sambil tersenyum, gw menaikkan dagu ke arah Ayu sebagai isyarat untuknya agar membalas jabatan tangan Rio.. Dengan setengah hati, Ayu menjabat tangan kanan saudara sepupu gw itu sambil menyebut namanya.. Najisnya, si Rio sengaja terus menggenggam tangan Ayu, sampai-sampai gadis itu kembali menoleh ke arah gw..
“Udah donk salamannya, jangan usaha mulu” Ucap gw sambil menarik tangan Rio agar segera melepas genggaman tangannya dari tangan Ayu..
Rio sendiri terkekeh untuk sesaat, lalu menarik bahu gw sedikit menjauh dari Ayu dan kedua saudara perempuan kami yang bertugas sebagai Pagar Ayu..
“Gila! Cakep banget, Men..Yang itu buat gw yak.. Lu kan udah ada Anggie” Kata Rio dengan setengah berbisik sambil melirik Ayu yang masih berdiri menunggu gw..
“Lu pikir kue! Maen minta aja.. Udah aah, nyo kita kesana lagi, kasihan Ayu.. Lu diem-diem aja sama si Ina” Jawab gw dan segera melangkahkan kaki kembali ke arah Ayu..
Rio yang terlihat sebal juga mengikuti dari belakang, lalu berjalan lagi ke seberang untuk berdiri bersama cewe Pagar Ayu yang bernama Ina..
“Lu cantik pake kebaya, Yu” Puji gw dengan sedikit merapat ke gadis itu..
“Udah deh, jangan modusin aku terus” Jawab Ayu yang mulai memerah wajahnya..
“Ehh, beneran, Yu.. Ga modus koq” Sahut gw yang malah di balas dengan cubitan manja nya ke pinggang gw..
“Kau juga keren pake jas betawi gitu, tapi koq tumben ga di iket rambutnya, Mam?” Tanya Ayu sambil melirik ke arah belakang kepala gw yang tertutupi blangkon..
“Nah iya, Yu.. tolong iketin deh.. Tadi sempet di omelin sama Ibu kalo di iket.. Tapi kan sekarang Ibu lagi sibuk di dalem, jadi rambut gw boleh deh di iket.. Tolong yah” Jawab gw seraya melepaskan blangkon dari atas kepala dan meletakkannya di atas meja..
Ayu tersenyum dan menganggukan kepala, lalu meletakkan tas tangannya diatas meja di belakang kami.. Gw sempat menoleh ke arah Rio yang nampak penasaran melihat Ayu mengaduk-aduk isi dalam tasnya.. Dengan mengedipkan sebelah mata, gw memberi kode ke arah Rio dan membuatnya langsung membuang muka..
Setelah Ayu mendapatkan benda yang ia cari, yaitu karet gelang, gw langsung memutar badan dan membelakangi gadis itu, menghadap ke dalam ruang balairung yang nampak ramai.. Gw sempat melirik jam tangan dan melihat sudah pukul 10.30.. Sementara, Ayu mulai mengikat rambut gw dari belakang.. Setengah jam lagi acara sakral akad nikah salah satu saudara gw akan dimulai..
Tiba-tiba, gw mendengar suara seorang perempuan berdehem dari arah belakang, bersamaan dengan sudah selesainya Ayu mengikat rambut gw.. Dengan santai dan senyuman yang tersungging di wajah, gw berbalik menghadap Ayu, sekaligus melihat siapa yang barusan berdehem..
Pandangan mata gw seketika membesar, seiring senyuman manis gw yang menghilang, begitu melihat Anggie sudah berdiri bersama pemuda yang waktu itu menjemputnya.. Sesaat, Anggie melirik tajam ke arah Ayu dan membuat gadis itu menundukkan wajah..
Dengan cepat, gw pegang telapak tangan kanan Ayu dan menggenggamnya erat.. Gw sempat melihat Ayu yang terkejut dengan apa yang gw lakukan, tapi gadis itu tidak berusaha melepaskan telapak tangannya dari genggaman gw..
“Hei” Sapa gw singkat ke arah Anggie dan terdengar agak kaku..
Anggie membalas sapaan gw dengan senyuman dingin sambil melirik ke arah tangan gw yang masih menggenggam telapak tangan Ayu.. Lalu, seperti sengaja, gadis itu langsung menggandeng lengan pemuda yang ada disampingnya.. Sejenak, gw melihat wajah pemuda berpakaian batik warna gelap yang terlihat kaget, menerima gandengan tangan Anggie..
“Kamu jadi Pagar Bagus, Mam? Oh iya, kenalin nih cowok aku, Darren” Kata Anggie yang membuat kedua mata gw membesar karena kaget..
Entah mengapa, ada setitik rasa perih dalam hati gw saat mendengar gadis itu memperkenalkan pemuda yang digandengnya.. Tatapan mata gw sempat menatap nanar ke arah pacarnya Anggie, tapi dengan cepat gw kuasai emosi saat merasakan Ayu menekan telapak tangannya di dalam genggaman gw..
Sambil tersenyum getir, gw melepaskan genggaman tangan gw dari tangan Ayu dan menarik pinggang ramping gadis itu.. Ayu sempat membelalakkan kedua mata, tapi segera menyimpulkan senyum saat Anggie melempar pandangan sinis ke dirinya..
“Iya, gw jadi Pagar Bagus sama cewe gw, Gie.. Kenalin nih, Ayu, cewe gw yang baru” Jawab gw dengan sengaja berbohong dan mengakui Ayu sebagai cewe gw..
Ayu sempat terdengar berdehem dua kali, lalu mengulurkan tangannya ke arah Anggie sambil tersenyum.. Anggie juga terlihat terkejut mendengar kalimat gw tadi dan untuk beberapa saat menatap mata gw dengan nanar.. Aneh, kenapa gw merasakan hati makin remuk saat melihat kedua mata Anggie mulai berkaca-kaca..
Tanpa membalas uluran tangan Ayu, Anggie segera meninggalkan kami bersama pacarnya, dan mulai memasuki ruang balairung.. Gw sempat melihat Anggie dari belakang.. Gadis itu nampak melepas gandengan tangannya dan seperti sedang menyeka kedua mata..
Dengan menarik nafas dalam-dalam, gw melepas pelukan di pinggang Ayu.. Gadis berkebaya pink itu untuk sesaat terdiam, lalu mengambil blankon gw yang ada di atas meja dan memasangkannya di atas kepala gw kembali..
Gw melihat Ayu dengan telatennya memasangkan blangkon di kepala ini.. Lalu mengambil sehelai tissue dari tasnya yang ada diatas meja dan mulai menyeka keringat gw di dahi dan bawah hidung..
Sambil menatap sendu ke wajah Ayu, gw menangkap tangannya yang masih bergerak menyeka keringat gw.. Ayu sejenak berhenti dan menatap gw dengan pandangan bertanya-tanya..
“Maafin gw, Yu.. Gw terpaksa bilang lu cewe gw” Kata gw dengan suara lirih..
Ayu mengulum senyuman manisnya, kemudian merapihkan leher jas gw..
“Ga apa-apa, Mam.. Aku ngertiin koq” Jawab Ayu sambil diiringi sebuah senyuman..
Suasana Balairung Budi Utomo di Hotel Bum* Wiya*a Depok, tempat acara pernikahan Kak Silvi dan Anton akan diselenggarakan hari ini, sudah nampak ramai, tapi bukan oleh tamu, melainkan keluarga besar kami.. Acara Akad nya akan dilaksanakan jam 11 siang, sedangkan kami selaku keluarga besar sudah tiba di Hotel ini dua jam sebelum acara di mulai.. Karena masih ada beberapa hal yang harus dilengkapi..
Acara pernikahan Kak Silvi dan Anton akan menggunakan adat betawi modern, karena kedua keluarga besar merupakan orang asli Depok.. Disini yang sempat bikin gw merasa aneh.. Secara otonomi, Depok memang masih berada di wilayah Provinsi Jawa Barat.. Tapi masyarakat Depok sendiri tidak begitu banyak yang menggunakan Bahasa Sunda, sebagai bahasa sehari-hari.. Mayoritas warga Depok itu menggunakan Bahasa Betawi yang unik.. Mungkin karena letaknya lebih dekat ke Jakarta kali, makanya pengaruh Betawi sangat kental di warga Depok..
Nah, Om Hendra sengaja menyewa dua buah kamar di Hotel Bum* Wiya*a, yang digunakan untuk merias dua keluarga besar.. Satu kamar untuk merias pengantin dan keluarga besar Anton, dan satu kamar lagi untuk merias keluarga besar Om Hendra, termasuk gw dan Ibu.. Gw dan si Kambing Rio yang hanya dapat cuti dua hari dari dinasnya, sedang menjajal Jas hitam berleher seperti model shanghai..
Alhamdulillah, ukuran Jas hitam yang akan gw kenakan ternyata slim fit, jadi ngebentuk banget di badan.. Sementara, Rio yang tubuhnya makin berotot dan berisi sempat kesulitan untuk memilih jas yang ukurannya pas.. Si Kambing sempat terdengar menggerutu beberapa kali, tapi akhirnya menemukan juga jas yang tepat, meski terlihat sedikit kebesaran..
Ada satu hal yang membuat gw tidak terlalu sreg, saat menjajal tiap Jas.. Empat orang yang akan merias kami dikamar ini, semuanya adalah laki-laki yang ‘belok’.. Gw sempat merasa keempat laki-laki yang usianya tidak terpaut jauh dari gw itu, sering sekali mencuri pandang.. Meski mereka sedang merias orang lain, seperti Tante Septi dan Ibu, tetap saja gw merasa ada yang memperhatikan.. Lu ngerasa kan, bree, kalo ada orang yang lagi perhatiin diam-diam?
Awalnya, gw tidak begitu mempermasalahkan hal tersebut, karena masih banyak orang yang ada di kamar ini.. Tapi, setelah semua nya turun ke bawah, untuk menuju balairung, dan hanya menyisakan gw dan Rio, keempat pemuda aneh itu mulai terlihat lebih berani.. Dari bercanda dengan sengaja latah menyebut ‘barang’ yang mereka sendiri punya, sampai ada yang berani menyentuh tubuh gw, seperti yang saat ini dilakukan oleh salah seorang dari mereka..
“Woyy!! Lu ga usah pegang-pegang bokong gw, Njing” Bentak gw sambil membalikkan badan, saat seseorang terasa meremas bokong gw..
“Ga pegang koq bang ganteng, aku cuma rapihin jas nya, yang belakang agak kusut tadi” Jawab pemuda berambut ikal sambil memainkan mata nya, yang membuat gw makin kesal..
“Pegang aja Mas.. Kalo perlu remes juga ga apa-apa dia mah” Ledek Rio yang wajahnya sedang dibedaki..
Gw yang masih menatap tajam ke arah pemuda tadi, langsung berjalan mendekati Rio dan berbisik di telinganya..
“Gw duluan ke bawah, Men.. Ga beres kalo lama-lama disini.. Bawaannya Horror!” Bisik gw ke Rio yang langsung menarik tangan gw secepat kilat..
“Masa lu tega ninggalin gw sama alien, Men? Tunggu napa, gw lagi dibedakin nih, bentar lagi juga kelar” Pinta Rio dengan mata menatap mengiba..
“Lu mo dibedakin sekilo juga ga bakal bikin muka lu putih, Men.. Hadapilah kenyataan pahit mu, anak muda” Jawab gw santai, lalu melepaskan tangan Rio dan berjalan pelan menuju pintu kamar hendak menyusl Ibu dan yang lain..
Baru saja gw akan merasa bebas, tiba-tiba salah seorang dari keempat pemuda ‘belok’ itu mencegat langkah gw.. Sambil menatap penuh arti, pemuda berkacamata warna pink itu, membasahi bibirnya dengan lidah sendiri..
“Boleh minta nomer Hp kamu ga? Siapa tahu kita bisa chat dan perkenalan ini akan berlanjut ke jenjang yang lebih.....”
Tak mau mendengarkan ucapan nya itu lebih lanjut, dengan kasar, gw menarik bahu pemuda itu, hingga terlempar kesamping dan jatuh di atas sofa empuk..
“Aww, aku mau donk di kasarin” Kata temannya dari belakang..
Tanpa pikir panjang, gw mempercepat langkah dan keluar dari kamar..
BRAKK!!!
“BRRRR”
Suara pintu kamar hotel yang gw tarik dengan keras terdengar cukup kencang, disusul suara gw yang bergidik merinding karena teringat ucapan pamuda tadi.. Tak lama dari gw menutup pintu, mendadak daun pintu tertarik kembali ke dalam, karena ada yang membuka..
Gw yang sempat mundur dan bersikap siaga, langsung menghela nafas lega saat melihat Rio muncul dari balik pintu dengan wajah pucat..
“Gila! Tuh maho-maho di dalem mo rudapaksa gw, Men” Kata Rio dengan wajah pucat..
“Mampu* lu! Ga ngerti sih gw bilangin dari tadi” Kata gw sambil sesekali tertawa kecil..
“Yaa Allah, hamba mohon, lindungi hamba dari mahluk kek tadi, Ya Allah, dimana pun hamba berada.. Satu lagi, Ya Allah.. Sisain perawan buat hamba dan saudara sepupu hamba..”
“Aamiin” Ucap gw mengaminkan do’a Rio dengan sepenuh hati..
Gw dan Rio sudah berpenampilan ala Pagar Bagus adat Betawi.. Kami memakai jas hitam berkancing warna emas, dengan selendang batik terikat dipinggang dan blangkon atau bendo sebagai penutup kepala.. Di jas kami, tersemat rantai kecil berwarna emas yang terkait dari saku jas ke kancing.. Sebagai bawahan, kami menggunakan celana bahan hitam dengan sepatu kulit yang sudah mengkilat..
Ada dua orang saudara perempuan kami yang menjadi Pagar Ayu, dengan berbusana kebaya khas betawi yang berwarna terang mencolok.. Mereka berdiri masing-masing di sebelah gw dan Rio.. Karena dua orang cewe yang hubungan saudara nya agak jauh itu, gw dan Rio tidak berniat untuk modusin mereka..
Tugas kami berempat sebagai Pagar Bagus dan Pagar Ayu adalah menyambut para tamu undangan untuk pertama kali.. Beberapa tamu undangan sudah ada yang tiba.. Dengan senyuman manis yang tersungging di tiap wajah, kami menyambut mereka..
Senyuman gw semakin sumringah saat melihat Ayu datang bersama kedua orang tuanya, Pak Sugi dan Bu Aisyah.. Ayu terlihat semakin cantik dengan menggunakan kebaya modern berwarna pink dengan rok pendek sebatas lutut, bermotif batik warna campuran seperti gold, krem dan pink.. Rambut hitam panjang yang sengaja di geraikan di atas dadanya dan sepatu high heels berwarna gold, semakin mempercantik penampilan Ayu..
Setelah menyambut Ayu dan menyalami kedua orang tuanya, gw langsung menarik lengan Ayu.. Rio yang berdiri beberapa meter di hadapan gw, melihat ke arah kami dengan wajah penasaran..
“Lu temenin gw disini yah” Pinta gw ke Ayu dan langsung di balas dengan senyuman manis dan anggukan kepalanya..
Tiba-tiba, Rio berjalan mendekat dan langsung mengulurkan tangan kanan ke arah Ayu.. Sesaat, Ayu menoleh ke gw seperti meminta isyarat bagaimana membalas cara perkenalan Rio yang langsung to the point..
“Hai, gw Rio, sepupunya Imam.. Lu jangan mau sama Imam, pantat nya barusan abis di remes maho” Kata Rio sambil terus mengulurkan tangan kanannya..
Gw yang mendengar candaan si Kambing Item barusan, langsung menendang betisnya.. Ayu terdengar tertawa melihat gw yang berusaha membalas Rio dengan tendangan.. Lalu kembali berdiri di samping Ayu..
Ayu sendiri lagi-lagi menatap gw seperti tadi, seolah-olah meminta saran untuk membalas atau tidak, uluran tangan yang kembali dilakukan si kambing.. Sambil tersenyum, gw menaikkan dagu ke arah Ayu sebagai isyarat untuknya agar membalas jabatan tangan Rio.. Dengan setengah hati, Ayu menjabat tangan kanan saudara sepupu gw itu sambil menyebut namanya.. Najisnya, si Rio sengaja terus menggenggam tangan Ayu, sampai-sampai gadis itu kembali menoleh ke arah gw..
“Udah donk salamannya, jangan usaha mulu” Ucap gw sambil menarik tangan Rio agar segera melepas genggaman tangannya dari tangan Ayu..
Rio sendiri terkekeh untuk sesaat, lalu menarik bahu gw sedikit menjauh dari Ayu dan kedua saudara perempuan kami yang bertugas sebagai Pagar Ayu..
“Gila! Cakep banget, Men..Yang itu buat gw yak.. Lu kan udah ada Anggie” Kata Rio dengan setengah berbisik sambil melirik Ayu yang masih berdiri menunggu gw..
“Lu pikir kue! Maen minta aja.. Udah aah, nyo kita kesana lagi, kasihan Ayu.. Lu diem-diem aja sama si Ina” Jawab gw dan segera melangkahkan kaki kembali ke arah Ayu..
Rio yang terlihat sebal juga mengikuti dari belakang, lalu berjalan lagi ke seberang untuk berdiri bersama cewe Pagar Ayu yang bernama Ina..
“Lu cantik pake kebaya, Yu” Puji gw dengan sedikit merapat ke gadis itu..
“Udah deh, jangan modusin aku terus” Jawab Ayu yang mulai memerah wajahnya..
“Ehh, beneran, Yu.. Ga modus koq” Sahut gw yang malah di balas dengan cubitan manja nya ke pinggang gw..
“Kau juga keren pake jas betawi gitu, tapi koq tumben ga di iket rambutnya, Mam?” Tanya Ayu sambil melirik ke arah belakang kepala gw yang tertutupi blangkon..
“Nah iya, Yu.. tolong iketin deh.. Tadi sempet di omelin sama Ibu kalo di iket.. Tapi kan sekarang Ibu lagi sibuk di dalem, jadi rambut gw boleh deh di iket.. Tolong yah” Jawab gw seraya melepaskan blangkon dari atas kepala dan meletakkannya di atas meja..
Ayu tersenyum dan menganggukan kepala, lalu meletakkan tas tangannya diatas meja di belakang kami.. Gw sempat menoleh ke arah Rio yang nampak penasaran melihat Ayu mengaduk-aduk isi dalam tasnya.. Dengan mengedipkan sebelah mata, gw memberi kode ke arah Rio dan membuatnya langsung membuang muka..
Setelah Ayu mendapatkan benda yang ia cari, yaitu karet gelang, gw langsung memutar badan dan membelakangi gadis itu, menghadap ke dalam ruang balairung yang nampak ramai.. Gw sempat melirik jam tangan dan melihat sudah pukul 10.30.. Sementara, Ayu mulai mengikat rambut gw dari belakang.. Setengah jam lagi acara sakral akad nikah salah satu saudara gw akan dimulai..
Tiba-tiba, gw mendengar suara seorang perempuan berdehem dari arah belakang, bersamaan dengan sudah selesainya Ayu mengikat rambut gw.. Dengan santai dan senyuman yang tersungging di wajah, gw berbalik menghadap Ayu, sekaligus melihat siapa yang barusan berdehem..
Pandangan mata gw seketika membesar, seiring senyuman manis gw yang menghilang, begitu melihat Anggie sudah berdiri bersama pemuda yang waktu itu menjemputnya.. Sesaat, Anggie melirik tajam ke arah Ayu dan membuat gadis itu menundukkan wajah..
Dengan cepat, gw pegang telapak tangan kanan Ayu dan menggenggamnya erat.. Gw sempat melihat Ayu yang terkejut dengan apa yang gw lakukan, tapi gadis itu tidak berusaha melepaskan telapak tangannya dari genggaman gw..
“Hei” Sapa gw singkat ke arah Anggie dan terdengar agak kaku..
Anggie membalas sapaan gw dengan senyuman dingin sambil melirik ke arah tangan gw yang masih menggenggam telapak tangan Ayu.. Lalu, seperti sengaja, gadis itu langsung menggandeng lengan pemuda yang ada disampingnya.. Sejenak, gw melihat wajah pemuda berpakaian batik warna gelap yang terlihat kaget, menerima gandengan tangan Anggie..
“Kamu jadi Pagar Bagus, Mam? Oh iya, kenalin nih cowok aku, Darren” Kata Anggie yang membuat kedua mata gw membesar karena kaget..
Entah mengapa, ada setitik rasa perih dalam hati gw saat mendengar gadis itu memperkenalkan pemuda yang digandengnya.. Tatapan mata gw sempat menatap nanar ke arah pacarnya Anggie, tapi dengan cepat gw kuasai emosi saat merasakan Ayu menekan telapak tangannya di dalam genggaman gw..
Sambil tersenyum getir, gw melepaskan genggaman tangan gw dari tangan Ayu dan menarik pinggang ramping gadis itu.. Ayu sempat membelalakkan kedua mata, tapi segera menyimpulkan senyum saat Anggie melempar pandangan sinis ke dirinya..
“Iya, gw jadi Pagar Bagus sama cewe gw, Gie.. Kenalin nih, Ayu, cewe gw yang baru” Jawab gw dengan sengaja berbohong dan mengakui Ayu sebagai cewe gw..
Ayu sempat terdengar berdehem dua kali, lalu mengulurkan tangannya ke arah Anggie sambil tersenyum.. Anggie juga terlihat terkejut mendengar kalimat gw tadi dan untuk beberapa saat menatap mata gw dengan nanar.. Aneh, kenapa gw merasakan hati makin remuk saat melihat kedua mata Anggie mulai berkaca-kaca..
Tanpa membalas uluran tangan Ayu, Anggie segera meninggalkan kami bersama pacarnya, dan mulai memasuki ruang balairung.. Gw sempat melihat Anggie dari belakang.. Gadis itu nampak melepas gandengan tangannya dan seperti sedang menyeka kedua mata..
Dengan menarik nafas dalam-dalam, gw melepas pelukan di pinggang Ayu.. Gadis berkebaya pink itu untuk sesaat terdiam, lalu mengambil blankon gw yang ada di atas meja dan memasangkannya di atas kepala gw kembali..
Gw melihat Ayu dengan telatennya memasangkan blangkon di kepala ini.. Lalu mengambil sehelai tissue dari tasnya yang ada diatas meja dan mulai menyeka keringat gw di dahi dan bawah hidung..
Sambil menatap sendu ke wajah Ayu, gw menangkap tangannya yang masih bergerak menyeka keringat gw.. Ayu sejenak berhenti dan menatap gw dengan pandangan bertanya-tanya..
“Maafin gw, Yu.. Gw terpaksa bilang lu cewe gw” Kata gw dengan suara lirih..
Ayu mengulum senyuman manisnya, kemudian merapihkan leher jas gw..
“Ga apa-apa, Mam.. Aku ngertiin koq” Jawab Ayu sambil diiringi sebuah senyuman..
sampeuk dan 15 lainnya memberi reputasi
16