Kaskus

Story

juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..

Prolog

Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..

Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)

SIDE STORIES

Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
uang500ratusAvatar border
devanpancaAvatar border
iskrimAvatar border
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
juraganpengkiAvatar border
TS
juraganpengki
#1324
Akhirnya Boleh Gondrong...

Didalam kamar, gw termenung masih memikirkan ucapan Suluh yang menerangkan bahwa ia adalah sosok yang harus bertanggung jawab, atas rapuhnya hubungan gw dengan Anggie.. Sebenarnya, yang patut disalahkan adalah gw, karena melanjutkan kebohongan yang dibuat ketiga saudara, soal penyebab mati suri nya gw ke Anggie..

Oh iya, kata Ridho yang sudah mengembalikan motor Anggie bersama Bimo kemarin, di rumahnya Anggie hanya ada Mamahnya saja.. Mamahnya Anggie sempat menyuruh Ridho dan Bimo untuk menunggu putri nya yang sebentar lagi akan tiba.. Tapi Ridho menolak dan langsung memasukkan motor sport berwarna merah itu ke dalam garasi rumah mereka..

Gw tahu kemungkinan Anggie kecewa dan marah ke gw atas dua hal.. Pertama, soal gw yang masih berhubungan dengan segala macam hal gaib, karena Anggie dulu pernah meminta gw untuk meninggalkan segala macam yang berbau mistis.. Yang kedua, dia pasti marah saat melihat Reinata memeluk gw di rumah..

Jika gw diberi kesempatan untuk menjelaskan segalanya dan Anggie sedikit bisa menekan rasa ego, hubungan kami pasti tidak akan seperti ini.. Dan dari dua pangkal masalah yang gw sebutkan diatas, hal itu tidak seharusnya dijadikan Anggie untuk memiliki hubungan khusus dengan pemuda lain diatas hubungan kami yang masih menggantung..

Tapi, kenapa gw merasakan ada raut kesedihan dari mata Anggie saat gw dan Ibu melihatnya sebelum masuk ke dalam mobil seorang pemuda asing? Kenapa juga gw masih merasakan emosi begitu menatapnya saat itu? Jelas-jelas Anggie yang sudah berkhianat.. Gw ga bisa begini terus.. Gw harus segera ambil keputusan..

“Di acara Kak Silvi, gw harus tuntaskan semua masalah gw sama Anggie.. Gw harus mutusin dia” Ucap gw dalam hati, meski tetap saja terasa getir saat mengucapkannya..

Beberapa lagu cadas sengaja gw putar dari mini home theatre yang ada di kamar, setidaknya perasaan gw akan jauh lebih baik.. Tiba-tiba, adik perempuan gw, Ayu langsung membuka pintu kamar yang tidak gw kunci, dan main duduk saja sambil nyerocos ga jelas..

“Kamu ngomong apa sih, De?” Tanya gw heran dengan tangan menekan tombol volume di remote untuk mengecilkan suara musik yang menghentak..

Ayu nampak mencibir ke arah gw yang baru bereaksi setelah ia lelah berbicara ga jelas.. Lalu, gadis kecil yang mau beranjak remaja karena sudah kelas 1 SMP itu, merebut remote mini home theatre yang ada di genggaman tangan gw dan langsung menekan tombol OFF..

“Yahh, koq di matiin, De? Abang kan lagi dengerin lagu” Keluh gw sambil mencoba merebut remote dari tangan Ayu..

“Abang dari tadi dipanggil Ibu.. Ada Kak Ayu juga diluar tuh..” Jawab Ayu seraya meletakkan remote di depan speaker aktive di atas meja kecil di sebelah tempat tidur..

“Ya udah, kamu duluan aja ke depan.. Bilang Ibu bentar lagi abang ke sana” Perintah gw ke Ayu, lalu mengambil kaus dari lemari dan mengenakannya..

Gw sempat merapikan rambut yang memang sudah semakin gondrong.. Ibu beberapa kali sempat menyuruh gw untuk mencukur rambut, tapi gw nya malas.. Menurut gw sesekali memiliki rambut gondrong bukan masalah besar.. Lagipula, gondrong nya bukan yang tidak beraturan, tapi masih rapih dan membuat gw terlihat lebih maskulin..

“Kamu ngapain aja sih di kamar, Bang? Ibu dari tadi panggil-panggil ga juga keluar” Kata Ibu sedikit melotot..

“Abang lagi dengerin lagu, Bu” Jawab gw sambil duduk di sofa sebelah Ibu, hingga dapat melihat Ayu dengan jelas, karena posisi duduk nya berhadapan dengan gw..

Gw sempat mengedipkan sebelah mata ke arah Ayu yang terlihat sedang memperhatikan gw.. Seketika gadis itu membesarkan kedua mata karena kaget dan langsung melemparkan pandangan ke arah lain, untuk menyembunyikan wajahnya yang merona..

Ibu yang melihat hal tersebut tersenyum penuh arti.. Lalu, menyodorkan sebuah undangan berwarna merah marun, dengan photo Om Hendra dan Tante Septi di bagian depan.. Gw sempat membaca nama orang yang diundang di atas sebuah sticker putih di bawah gambar Om Hendra dan Tante Septi.. Pandangan gw menatap bingung ke Ibu meski tetap gw terima undangan itu..

“Ibu mau minta tolong kamu sama Ayu anterin undangan ke rumah saudara nya Ayah, Pak Sugeng” Ucap Ibu yang membuat gw cukup terkejut..

“Pak Sugeng kan rumahnya di Ciledug, Bu.. Jauh banget.. Emang ga ada no Hp nya, Bu? Via WA aja ngundangnya” Kata gw sambil meletakkan undangan itu di atas meja..

“Huss! Ini amanat dari Tante kamu.. Lewat WA udah Ibu undang tadi, tapi undangan resmi nya tetep harus disampaikan, Bang.. Udah sana ganti celana sama yang panjang.. Mau ke rumah saudara harus rapih” Sanggah Ibu yang disusul senyuman Ayu..

Dengan setengah hati, gw terpaksa menuruti Ibu dan kembali ke kamar untuk mengganti celana.. Setelah mengenakan celana panjang hitam dan mengganti kaus dengan yang putih bergambar kartun jamur warna hitam, gw segera kembali ke ruang tamu..

“Pake mobil Ayu aja, Bang.. Sekalian kata Ayu nanti mau di cuci steam” Kata Ibu sambil menyerahkan kunci bergantungan boneka Mickey Mouse kecil..

Gw sempat menoleh ke arah Ayu yang langsung menganggukan kepalanya.. Sambil menarik nafas, gw mengambil kunci mobil Ayu dan juga undangan di atas meja, lalu mengajak Ayu untuk keluar menuju teras.. Pandangan gw sempat menoleh ke arah Ayu yang sedang mencium tangan Ibu untuk berpamitan..

Ibu nampak mengikuti Ayu dari belakang dan berdiri di depan teras dengan senyuman manis melihat kami yang sudah berada di dalam mobil.. Ayu sempat melambaikan tangan ke arah Ibu, sebelum gw mengeluarkan mobil dari pekarangan rumah..

Gw melihat isi bensin masih sangat penuh.. Sepertinya Ayu sudah begitu mempersiapkannya sebelum menemani gw mengantarkan undangan ke Ciledug..

“Pak Sugeng itu siapanya almarhum Ayah kamu, Mam?” Tanya Ayu sambil mengikat rambutnya ke belakang..

Gw yang melihat Ayu, tidak menjawab nya.. Tapi malah memperhatikan gadis itu lekat-lekat.. Ayu yang baru menyadari gw sedang memperhatikannya, mendadak menghentikan kegiatan menguncir rambut..

“Kamu koq ngeliatin aku, Mam? Kenapa, ga pantes yah kalo rambut aku kuncir?” Tanya Ayu sambil sesekali melirik ke arah gw..

“Ga.. Lu cantik koq, Yu” Jawab gw santai dan membuat wajah gadis itu memerah..

“Eh, Yu.. Kira-kira kalo rambut gw di kuncir belakang gitu, bisa ga?” Tanya gw yang membuat Ayu menoleh kembali..

Sesaat, dia menatap gw secara seksama dengan dua alis mata yang berkerut.. Gw tahu dia sedang mencoba membayangkan dulu sebelum memberi kan jawaban..

“Kek nya bisa sih.. Rambut kamu kan udah agak panjang, Mam” Jawab Ayu sambil tersenyum..

“Bisa bantu kuncirin rambut gw ga? Tapi jangan pake iketan rambut yang kek lu pake, Yu.. Girly banget itu mah.. Yang karet aja”

Mendengar permintaan gw, Ayu terlihat kembali membesarkan kedua mata.. Kemudian sengaja ia menutupi hal itu dengan mencari-cari sesuatu di dalam tas nya..

“Nah, ini aku ada karet hitam.. Sini aku kuncirin.. Kamu nya deketan sedikit” Kata Ayu sambil mengacungkan sebuah karet kecil berwarna hitam..

Gw langsung menuruti apa yang Ayu perintahkan, dengan mendekat kan wajah gw ke wajahnya hingga berjarak sejengkal.. Ayu terlihat sangat terkejut dan memundurkan wajahnya sedikit ke belakang.. Dari jarak dekat itu, gw bisa mencermati wajah Ayu.. Harus gw akui gadis itu memang cantik..

“Kenapa, emang ga bisa kuncirin rambut gw kalo gw nya ngadep lu, Yu?” Tanya gw sengaja memancing reaksi gadis itu..

“Bi.. Bisa koq.. Sebentar” Jawab Ayu sambil tergagap, dengan wajah yang makin terkejut..

Lalu, gadis itu mulai menaikkan kedua tangannya dan memegangi rambut gw.. Bau tubuh Ayu tercium harum di hidung ini saat kedua tangannya naik.. Gw sempat menatap wajah Ayu yang nampak kesulitan menyembunyikan rona merah nya.. Dalam hati, gw tertawa melihat tingkah Ayu yang kikuk banget.. Beberapa lama, Ayu berusaha mengikat rambut gw dengan posisi menghadap wajah gw.. Tapi usahanya selalu saja gagal..

“Aku ngiket rambut kamunya dari belakang aja yah.. Kalo dari depan susah, Mam.. Dari tadi aku ga bisa-bisa” Kata Ayu sambil melempar pandangan ke arah lain, tak mau menatap mata gw yang masih berjarak sejengkal dihadapannya..

Gw tahu itu hanya alasan Ayu saja yang tak ingin gw terus menatapnya.. Padahal, gw suka melihat wajahnya yang bersemu merah dari jarak cukup dekat.. Karena tak tega melihat Ayu yang terus merona, gw menganggukan kepala dan memutar tubuh hingga membelakangi nya.. Tanpa mengalami kesulitan, Ayu berhasil mengikat rambut gw dengan menyisakan sebuah kunciran pendek di belakang kepala.. Maklum lah, gondrong nya rambut gw masih tanggung, tapi gw juga tidak berniat panjangin rambut lagi, cukup sepanjang ini saja..

Dari luar, terdengar suara Ibu yang bertanya kenapa kami belum juga jalan.. Setelah sempat berkaca di spion atas mobil, gw tersenyum dan mulai menyalakan mesin sebelum Ibu menghampiri..

“Gimana, Yu, keren ga gw kalo di iket gini?” Tanya gw meminta pendapat Ayu saat mobil kami sudah meluncur di jalan raya..

“Bagus, Mam” Jawab Ayu cukup singkat sambil menatap ke arah luar jendela..

“Beneran bagus ga? Lu ngomong nya ga pake liet gw gitu.. Jujur aja, Yu.. Kalo ga bagus, lu buka aja lagi” Sanggah gw sembari melirik Ayu..

“Iya, beneran bagus.. Mirip Adipati Dolken di film Hujan Bulan Juli yang main sama Velove, kamu tau ga filmnya” Jawab Ayu dengan dilanjutkan sebuah pertanyaan..

“Ga tahu sih, tapi kalo Velove Vexia gw tahu.. She’s absolutely hot!”

“Hhuu.. Dasar cowo! Giliran artis cewe yang cantik aja kenal” Ejek Ayu sambil mencubit pinggang gw..

Gw sempat meringis kesakitan, lalu tertawa mendengar ejekan gadis yang memakai rok hitam bermotif batik putih dengan tanktop hitam di balut cardigan putih polos.. Harus gw akui selera berbusana Ayu itu keren.. Apapun yang dipakainya, meski terlihat sederhana dan ga ribet, kelihatan stylish aja.. Riasan wajahnya juga bagus.. Tidak terlalu tebal, dan tipis banget juga tidak..

“Mam? Koq kamu bengong gitu? Kalo ga mau jawab, ga apa-apa koq?” Tanya Ayu yang membuat gw bingung..

“Loh, emang lu nanya apaan, Yu?” Kata gw balik bertanya..

“Masa kamu ga denger pertanyaan aku tadi, lagi mikirin siapa sih?”

“Mikirin cewe pertama yang udah ngiket rambut gw, Yu” Jawab gw sekena nya, dan lagi-lagi membuat Ayu harus melempar pandangan untuk menyembunyikan wajahnya yang memerah..

Untuk beberapa lama, gw dan Ayu terdiam.. Gw fokus mengemudikan mobil, sementara Ayu masih menatap ke luar jendela yang ada disampingnya..

“Kata Ibu, kamu baru putus yah, dari cewe kamu yang namanya Anggie?” Tanya Ayu tiba-tiba, dan membuat gw tercekat..

“Yang lu tanyain tadi soal itu?” Kata gw bertanya balik ke Ayu, dan dibalas anggukan kepala gadis itu..

“Ibu bilang apa aja, Yu soal gw? Kata gw melanjutkan pertanyaan..

Perlahan, Ayu menjelaskan apa yang sudah dikatakan Ibu soal hubungan gw dengan Anggie.. Hampir semuanya di ceritakan Ibu ke Ayu.. Sampai saat terakhir gw dan Ibu memergoki Anggie, di depan rumahnya bersama seorang pemuda asing..

Gw sempat membesarkan kedua mata karena kaget, saat mendengar Ayu menuturkan semua yang dikatakan Ibu tentang Anggie.. Dalam hati, gw sempat menyayangkan tindakan Ibu yang sudah mencampuri urusan pribadi gw dan menceritakan semua ke Ayu..

“Aku suka lihat sih cewe kamu yang namanya Anggie itu.. Cantik tau, Mam.. Masa ga mau balikan sih?” Tanya Ayu yang terdengar sengaja menggoda..

Gw tersenyum getir mendengar candaan Ayu.. Lalu menarik nafas dalam-dalam dan mengeluarkannya perlahan.. Dalam hati, gw masih bersusah payah mencoba menerka alasan apa yang membuat Ibu sampai menceritakan semuanya pada Ayu..

“Gw belom putus, Yu.. Hubungan gw sama tetangga lu itu masih ngegantung.. Tapi hari sabtu besok, gw bakal ambil sikap” Ucap gw ke Ayu dengan wajah menatap kosong ke arah depan..

Sore harinya, selepas Ayu pulang.. Gw langsung menyusul Ibu ke dapur.. Gw berniat menanyakan alasan Ibu yang sudah menceritakan ke Ayu, perihal hubungan gw dengan Anggie..

Dengan wajah tertekuk, gw menuangkan segelas air putih dingin dari botol yang ada di dalam kulkas.. Lalu, sengaja meletakkan gelas sedikit kasar di atas meja makan.. Ibu sempat melirik ke arah gw dan mulai berjalan menghampiri..

“Kamu ngambek kenapa sama Ibu, Bang? Soal Anggie yang Ibu ceritain ke Ayu yah?” Tebak Ibu yang gw balas dengan anggukan kepala..

“Dengerin, Bang.. Ibu ga mau kamu masih terpaut sama Anggie terus.. Ibu mau, kamu menatap ke depan dan tinggalkan masa lalu di belakang.. Maafin Ibu kalo terlalu ikut campur, tapi maksud Ibu ceritain semua ke Ayu, biar gadis itu tahu dan tidak berharap banyak dari kamu.. Sudah berapa anak gadis orang yang harus kecewa sama kamu? Padahal, ada beberapa orang yang menurut Ibu lebih baik dari Anggie.. Mo sampe kapan kamu terus menjalin hubungan yang selalu saja ada masalah?” Kata Ibu panjang lebar dengan nada suara tidak menggurui..

Gw tertegun mendengar kalimat demi kalimat yang Ibu tuturkan.. Hampir semua yang beliau lisan kan itu benar adanya.. Sedikit demi sedikit, tekad gw untuk mengakhiri hubungan yang tidak sehat dengan Anggie, semakin kuat..

“Tadi, Tante Septi telpon.. Kata nya kamu diminta jadi pagar bagus di acara nikahan Silvi, Sabtu besok.. Terus, Ibu mau kamu ajak Ayu sebagai pasangan.. Satu lagi, Ibu ga suka liet rambut kamu di iket macam berandal pasar” Kata Ibu yang membuat gw cukup terkejut..

“Kenapa harus ajak Ayu sih, Bu? Ibu kan janji ga lanjutin perjodohan yang dulu” Tolak gw sambil menyandarkan punggung di bagian atas kursi makan..

“Kamu kenapa sih ga suka banget sama Ayu, Bang? Dia cantik, pinter, keluarga nya juga Ibu sudah kenal baik” Sanggah Ibu dengan suara lebih tinggi..

Gw langsung terdiam mendengar ucapan Ibu yang lebih tepatnya berupa sebuah bentakan itu.. Gw sangat tidak mau obrolan sore ini harus diakhiri oleh pertengkaran dengan sosok yang sangat gw sayangi tersebut.. Ibu juga sama terdiam seperti halnya gw.. Nampak nya Ibu tidak sengaja meninggikan suaranya tadi..

Perlahan, Ibu memegang kedua tangan gw yang tertumpu di atas meja.. Gw menoleh ke arah Ibu yang tersenyum..

“Maafin Ibu yah, Bang.. Ibu ga sengaja bentak kamu.. Sekarang, begini saja.. Terserah kamu mau ajak Ayu atau tidak ke pesta nya Silvi Sabtu besok.. Ibu ga bakal maksa deh” Ucap Ibu dengan suara yang lebih enak di dengar..

Gw pun menganggukan kepala dan membalas senyuman Ibu..

“Abang bukannya ga suka sama Ayu, Bu.. Cuma yang namanya perasaan kan ga bisa di paksain.. Sabtu besok abang janji bakal ajak Ayu deh, buat nemenin abang jadi Pagar Bagus.. Tapi, abang minta satu syarat boleh?” Tanya gw setelah memutuskan untuk menerima permintaan Ibu..

Dahi Ibu nampak berkerut bingung, dan menunggu gw untuk menyatakan syarat yang akan gw sebutkan..

“Abang boleh gondrongin rambut yah” Pinta gw ke Ibu dan dibalas dengan kedua matanya yang membesar..
Araka
jenggalasunyi
sampeuk
sampeuk dan 16 lainnya memberi reputasi
17
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.