- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#758
Yo bray kali ini gue update lagi.. semoga kagak kentang ye 
Yang udah Iso bagi cendol dong

Quote:
“Pas kemaren kan Bang Galih ngasih minum ke seseorang yah bang ?” ujar Ipin dibalik telepon.
“Iya emang kenapa? kan nenek-nenek yang abis nyari kayu bakar “ jawab Galih.
“Tapi yang aku liat kemaren bukan nenek-nenek bang..tapi…”
Part 21
Sesajen Tiga
“Tinut”
HP Galih mati karena lowbat, kami kami semua dengan serentak merasa kecewa dan penasaran karena penjelasan dari Ipin sungguh sangat kentang.
“Yah elu mah Lih, pake mati segala HP nya”
“Tau nih si abang, saya jadi ngerasa dikentangin kalo gini mah”
Galih tidak menjawab perkataanku dan Yana, dia tampak mengambil sesuatu dari dalam tas yang ada didekatnya. Sebuah Powerbank berukuran sebesar batu bata merah dikeluarkannya.
“Muke gile lu lih, powerbank apa bata tuh?”
“Apaan sih Ron komen aja lu, udah yang penting gue bisa Charge HP gue “
Pada akhirnya kami bertiga mengobrol ngalor-ngidul sambil menunggu batre HP Galih setidaknya mencapai 10% agar bisa di Charge sambil dimainkan.
“Cu ! ”
Kami bertiga dikejutkan oleh suara wanita tua dari arah belakang, kami sungguh kaget sampai-sampai Kopi Galih tumpah. Begitu kutoleh kebelakang rupanya yang memanggil “cu” adalah nenek yang kemarin sore meminta minum.
Karena aku mendapatkan penjelasan dari Ipin bahwa nenek yang sekarang ada dihadapan kami bukanlah manusia, kami merasa gugup namun kami tidak dapat bergerak, rasanya ada sesuatu yang menahan badan kami terlihat dari raut wajah Galih dan Yana yang terihat tegang.
“Kenapa Kok pada diem?”
Begitu nenek tersebut beres berkata, akhirnya tubuhku bisa digerakan, Galih dan Yana juga sepertinya demikian. Kami memandang wajah satu sama lain dan bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
“Eh nenek darimana malem-malem gini?” Tanya Galih membuka pembicaraan.
(NOTE: kami menggunakan bahasa Sunda halus saat mengobrol dengan Nenek, kebetulan kami semua bisa)
“Abis buang air nenek cu, terus ngeliat kalian masih pada kemah disini. Nenek boleh ikut duduk cu?”
“Bo….boleh nek !” jawab Galih kikuk.
(Saat itu kami tidak ngeuh mana mungkin ada nenek jauh-jauh ke air terjun hanya untuk buang air)
Nenek itu kemudian duduk dikarpet bersama kami dengan posisi duduk emok, kami semua melihat kearah nenek itu dengan perasaan gugup. Terlebih Kami semua mengetahui kami sedang duduk bersama nenek jadi-jadian.
“Cuma bertiga aja cu? Temenmu yang lain kemana?”
“Yang lain ada dirumah Pak RW nek, lagi pada gak enak badan !” jawab Galih kikuk lagi.
“Kalo boleh tau nenek rumahnya dimana ya?” aku mencoba menggali informasi.
“Nenek tinggal deket sini cu, nenek tinggal sendirian. Sepi, makanya nenek kemari”
Kamipun terlibat obrolan ringan ngalor-ngidul bersama nenek ini, entah mengapa rasa takut yang kami alami hilang begitu saja seiring mengobrol dengan sang Nenek.
“Temen kalian yang tiga sakit kenapa kalo nenek boleh tau?”
‘Emang nenek gak tau? Nenek kan….hmmmmp”
Galih buru-buru menutup mulut Yana yang hampir saja berkata bahwa kami sudah mengetahui nenek ini bukan manusia.
“Tau apa cu? Kalo tau nenek gak bakalan nanya “
“Temen kami gak kuat dingin nek, iyah gak kuat dingin “ ujar Galih menjelaskan.
“Dingin? Emang dingin banget yah cu disini?”
“Iyah nek mereka gak kuat dingin “aku ikut menimpali.
“Zzzzzt…Zzzzzt" suara HP ku bergetar menandakan SMS masuk.
Segera kubuka HP ku yang bermodel HP lipat.
“Deg”
Aku begitu kaget mengetahui siapa sebenarnya nenek ini, aku membalas SMS Ipin disaat sang nenek sedang mengobrol dengan Galih.
Tak lama kemudian Ipin membalas.
“Lih..Lih..”
“Apaan Ron?”
Sedetik kemudian aku memberikan kode kepadanya agar mengecek HP nya dengan menunjukkan HP-ku. Galih langsung tanggap dan
menyalakan HP nya, sementara Yana malah asik mengobrol dengan nenek membahas air terjun ini.
Galih langsung terlihat melotot kaget dan menggunakan gerakan bibir kepadaku, gerakan bibirnya seperti mengucapkan “MAMPUS”.. akupun membalas ucapan Galih dengan gerakan bibir pula “TENANG”.
“Bang ngapain mangap-mangap gitu?” Tanya Yana kepadaku, wajahnya melihat kearah ku dan Galih secara bergantian.
“Eh gak apa-apa Yan..hehe” ujarku dengan gugup.
Jujur aku merasa takut jika menerima kenyataan sekarang sedang duduk bersama dengan seorang nenek jadi-jadian, namun sejauh ini karena nenek tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman. Aku berusaha untuk tenang, dan muncullah kebiasaanku yang gemar menggali informasi.
“Nek, nenek tau gak soal patung monyet yang ada digubug dibawah sana?” tanyaku.
“Oh patung disana , iya nenek tau.. patung itu udah ada lama disana cu dari jaman Belanda”
“Itu tempat pesugihan atau apa Nek?” lanjutku.
“Bukan cu, disana Cuma ada sosok penjaga aja.. lagian pesugihan buat apa cu gak bakal bisa “
Aku menjadi penasaran dengan jawaban nenek ini, dia berkata tidak mungkin untuk melakukan pesugihan disini. Begitu juga dengan Galih yang lambat laun menjadi tenang dan mendengarkan cerita sang nenek.
“Maksudnya gak bisa gimana Nek? Kan dibawahnya ada sesajen?”
“Gak bisa cu, sosok disana gak bisa bikin orang jadi kaya…kalian gak boleh meminta kekayaan kepada mereka cu”
“Kenapa emang nek?” kali ini Yana yang bertanya.
“Ya kalo kalian nanti minta pesugihan, minta kekayaan .. terus minta rumah …paling nanti Mbah Omah Cuma ngomong sambil ngelus Dada.. nanti dia bilang. BORO-BORO NGASIH ELU UANG SAMA RUMAH, GUE AJA DIGUBUG”
Kami semua tertawa dengan serentak mendengar jawaban dari sang Nenek, suasana menjadi cair dan tidak ada rasa takut sama sekali.
“Tapi kalian harus inget, biarpun beda alam harus tetap saling menghormati. Bayangin kalo misal kalian punya rumah, terus ada orang asing masuk kewilayah kalian, terus mereka bicara seenaknya dan bahkan mencuri”
Kami hanya bisa terdiam mendengarkan, dari tadi kami hanya mendengarkan kemudian diam, mendengarkan lalu diam. hanya itu yang bisa kami lakukan karena kami tahu kami sedang berbicara dengan mahkluk astral.
“Nek, udah malem. Kayaknya kita mau tidur aja nek “ ujar Galih sambil berjalan memasuki tenda.
“Iya Nek, saya juga” Ujar Yana menyusul Galih kedalam tenda satu lagi.
“Et dah ini orang baru aja dikasih tau biar sopan malah kaya gini"
Aku menatap kearah sang Nenek, beliau hanya tersenyum kepadaku. Tak lama kemudian beliau berdiri dan berkata.
“Cu, hati kamu bersih. Nenek rasa kamu pantas buat nerima ini “
Sejurus kemudian dia mengeluarkan sebuah buntelan kain kecil berwarna coklat dengan motif batik bunga dari balik kebayanya. Buntelan seukuran kepalan anak balita.
“Ini..ini apa Nek?”
“Nanti juga kamu bakal tau cu,dibukanya kalo nanti kamu sudah dirumah aja.. nenek pergi dulu “ ujarnya sambil melangkah pergi.
Aku mengamati bungkusan ini dan sangat penasaran, kuendus buntelan ini dari dekat. Baunya sangat wangi, mirip bau menyan namun wangi dan menenangkan. Aku lupa belum mengucapkan terima-kasih kepada nenek tadi dan berniat mengucapkannya sekarang.
“Nek, maka….”
Belum beres aku bicara, aku merasa terkejut karena Nenek tadi sekarang sudah menjelma menjadi seekor Harimau Putih besar berpostur humanoid. Bukan itu saja yang membuat aku paling terkejut, namun karena aku melihat harimau tersebut berjalan diatas air dan masuk kebalik air terjun, aku tercengang untuk beberapa saat.
Karena malam sudah larut, aku masuk kedalam tenda. Disana aku tidak dapat tidur dengan cepat, dikepalaku masih terbayang sosok manusia harimau yang merupakan jelmaan nenek tadi. Namun tubuh manusia harimau tersebut terlihat seperti laki-laki berotot, bukan wanita.
Malam itu aku merasa gelisah, sulit sekali rasanya untuk memejamkan mata. Berbeda sekali dengan malam kemarin yang hanya beralaskan karpet saja aku dapat tidur dengan pulasnya.
Ditengah kegelisahanku yang tidak dapat tidur, aku mendengar suara pepohonan seperti berayun tertiup angin kencang, atau lebih tepatnya seperti ada yang sedang berayun. Mungkin Mbah Omah sedang berkeliaran.
Diluar Api unggun masih menyala, dari dalam tenda aku dapat melihat bayangan apa saja yang lewat didekat tendaku. Awalnya aku melihat tupai melintas, dilanjutkan mungkin seekor musang. Namun semakin malam muncul bayangan yang tidak biasa.
Sesosok bayangan perempuan tiba-tiba melayang didekat tendaku, kenapa aku menyebutnya perempuan? Karena dari bayangannya saja aku melihat dengan jelas postur tubuh dan juga rambut panjangnya.
Sosok wanita tersebut atau yang lebih kita kenal sebagai kuntilanak kemudian menangis. Suaranya sangat lirih dan sedih, kucek jam di HP ku menunjukan pukul 12 malam, jam-jam riskan makhluk seperti mereka hangout.
“Zzzzt….Zzzzt” Hp ku bergetar, rupanya SMS dari Galih.
HP ku bergetar lagi setelah menerima SMS dari Galih, rupanya kali ini SMS dari Yana.
“TUT”
suara sms gagal terkirim,begitu aku cek pulsa rupanya habis.
“Zzzzt…Zzzzt”
SMS dari Yana.
SMS dari Galih.
“PULSA GUE ABIS !!!” aku berteriak dari dalam tenda.
Seketika itu juga suara tangisan berhenti, namun sosok itu masih berdiri dipinggir tenda, bayangannya masih jelas oleh cahaya Api unggun. Kini suara menangis berhenti dan berganti menjadi suara cekikikan.
“Zzzzt…Zzzzt”
Wanita itu terus tertawa cekikikan namun sesekali berubah menjadi tangisan, lalu kembali tertawa. Api unggun perlahan redup cahayanya dan
aku tidak bisa melihat bayangan wanita ini dengan jelas, namun suara nya masih terdengar disamping tendaku. Dan hal itu terjadi selama hampir TIGA JAM, sampai pada akhirnya suara tersebut hilang
“Zzzt..Zzzzt” ku-cek SMS ternyata dari operator provider.
Aku tidak segera membalas SMS Galih, kulihat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Aku merasakan keringat dibadanku, keringat dingin yang aku sendiripun tidak menyadarinya.
“Sabilulungan..sabilulungan”
Aku mendengar samar-samar suara wanita menyinden lagu Sunda dengan merdu,diiringi suara suling bambu khas tanah Sunda. Rasanya begitu tenang, biarpun aku tahu yang menyinden dan menyuling bukanlah manusia, wanita tersebut menyinden selama hampir 1,5 jam dan terhenti ketika adzan subuh.
Kutunggu beberapa menit, tidak ada jawaban SMS dari mereka. Aku memutuskan mencoba tidur karena sudah terasa lelah namun tak kunjung dapat tidur. Dan hal yang paling menyebalkan adalah hingga pukul 6 pagi aku tak kunjung tidur juga
.
Aku keluar dari tenda didinginnya udara pagi, kulihat Galih dan Yana sedang duduk dipinggiran Air terjun. Mereka menatap kearah air terjun,perlahan aku menghampiri mereka dan duduk didekatnya.
“Oy bangke, napa gue SMS kagak dibales?” ujarku dengan kesal namun dengan suara lemas.
Mereka berdua menolehkan wajahnya kepadaku, terihat jelas kantung mata mereka menandakan mereka tidak tidur.
“Santai aja kali Ron, kayak lu gak ngerasain aja semalem kaya apaan?” ujar Galih dengan tatapan malas.
“Iya bang santai aja napa, lagi cape kita nih kagak tidur “Yana menimpali.
“Baru pertama kali gue denger konser 5 jam tanpa henti ,,asu dah”
“Hahahaha”
kami semua tertawa mendengar ucapan Galih karena selain kata-katanya, wajahnya juga seperti orang mabuk.
Pagi itu kami menikmati waktu pagi dengan sarapan dan minum kopi, dilanjutkan pukul 10 pagi kami membereskan tenda. Sangat berat bagi kami membawa barang duakali lipat karena ketiga teman kami berada dibawah dan dilarang naik kemari.akhirnya pada siang hari mobil jemputan datang dan akhirnya kami pulang. Dan bisa ditebak sepanjang perjalanan kami betiga tidur membangke.
Present day.
“Lih, gue penasaran sama nasib Eko sama Upin gimana yah, lu tau kagak?”
“Gue juga gak ngerti sih Ron, yang gue denger. 4 bulan kemaren si Eko menginggal kecelakaan dijalan, terus si Upin gue denger meninggal bunuh diri”
“Hah yang bener lu Lih? Kok gak ngasih tau gue?”
“Ya gue kan bilang Hp gue ganti no nya kehapus semua, gak tau no Lu gue”
“Ya udah ntar malem gue kerumah lu Lih,nanti kita bahas lagi, tolong siapin alatnya ya,,hehe”
“Ok , bawa martabak mehong aja kesini yah….haha”
Kututup telepon dan menyimpan HP-ku, kutatap foto Linda dan kacamatanya. Kuambil bingkai dan kacamatanya kemudian memasukannya kedalam laci meja kerja yang dibelikan oleh ayah ketika aku lulus SMA, berharap aku bisa cepat move on.
Ketika aku sedang membereskan isi laci agar ada cukup ruang untuk menyimpan foto dan kacamata, aku melihat sebuah benda yang tidak asing,sebuah buntalan bermotif batik bunga. Buntalan yang diberikan oleh sang Nenek harimau.
“Kenapa gue bisa lupa yah kalo gue nyimpen buntelan disini?” gumamku dalam hati.
Selama 2 tahun buntelan ini berada dilaciku tanpa pernah aku tau isinya apa, aku merasa semakin penasaran. Perlahan dengan hati-hati kubuka buntelan kecil atau lebih mirip dompet tradisional (kanjut kundang -> googling aja). kutarik talinya dengan hati-hati karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“KYAAAAAAAAAA”
Sheril Menjerit keras dari arah kamarnya.
“Iya emang kenapa? kan nenek-nenek yang abis nyari kayu bakar “ jawab Galih.
“Tapi yang aku liat kemaren bukan nenek-nenek bang..tapi…”
Part 21
Sesajen Tiga
“Tinut”
HP Galih mati karena lowbat, kami kami semua dengan serentak merasa kecewa dan penasaran karena penjelasan dari Ipin sungguh sangat kentang.
“Yah elu mah Lih, pake mati segala HP nya”
“Tau nih si abang, saya jadi ngerasa dikentangin kalo gini mah”
Galih tidak menjawab perkataanku dan Yana, dia tampak mengambil sesuatu dari dalam tas yang ada didekatnya. Sebuah Powerbank berukuran sebesar batu bata merah dikeluarkannya.
“Muke gile lu lih, powerbank apa bata tuh?”
“Apaan sih Ron komen aja lu, udah yang penting gue bisa Charge HP gue “
Pada akhirnya kami bertiga mengobrol ngalor-ngidul sambil menunggu batre HP Galih setidaknya mencapai 10% agar bisa di Charge sambil dimainkan.
“Cu ! ”
Kami bertiga dikejutkan oleh suara wanita tua dari arah belakang, kami sungguh kaget sampai-sampai Kopi Galih tumpah. Begitu kutoleh kebelakang rupanya yang memanggil “cu” adalah nenek yang kemarin sore meminta minum.
Karena aku mendapatkan penjelasan dari Ipin bahwa nenek yang sekarang ada dihadapan kami bukanlah manusia, kami merasa gugup namun kami tidak dapat bergerak, rasanya ada sesuatu yang menahan badan kami terlihat dari raut wajah Galih dan Yana yang terihat tegang.
“Kenapa Kok pada diem?”
Begitu nenek tersebut beres berkata, akhirnya tubuhku bisa digerakan, Galih dan Yana juga sepertinya demikian. Kami memandang wajah satu sama lain dan bingung apa yang harus dilakukan sekarang.
“Eh nenek darimana malem-malem gini?” Tanya Galih membuka pembicaraan.
(NOTE: kami menggunakan bahasa Sunda halus saat mengobrol dengan Nenek, kebetulan kami semua bisa)
“Abis buang air nenek cu, terus ngeliat kalian masih pada kemah disini. Nenek boleh ikut duduk cu?”
“Bo….boleh nek !” jawab Galih kikuk.
(Saat itu kami tidak ngeuh mana mungkin ada nenek jauh-jauh ke air terjun hanya untuk buang air)
Nenek itu kemudian duduk dikarpet bersama kami dengan posisi duduk emok, kami semua melihat kearah nenek itu dengan perasaan gugup. Terlebih Kami semua mengetahui kami sedang duduk bersama nenek jadi-jadian.
“Cuma bertiga aja cu? Temenmu yang lain kemana?”
“Yang lain ada dirumah Pak RW nek, lagi pada gak enak badan !” jawab Galih kikuk lagi.
“Kalo boleh tau nenek rumahnya dimana ya?” aku mencoba menggali informasi.
“Nenek tinggal deket sini cu, nenek tinggal sendirian. Sepi, makanya nenek kemari”
Kamipun terlibat obrolan ringan ngalor-ngidul bersama nenek ini, entah mengapa rasa takut yang kami alami hilang begitu saja seiring mengobrol dengan sang Nenek.
“Temen kalian yang tiga sakit kenapa kalo nenek boleh tau?”
‘Emang nenek gak tau? Nenek kan….hmmmmp”
Galih buru-buru menutup mulut Yana yang hampir saja berkata bahwa kami sudah mengetahui nenek ini bukan manusia.
“Tau apa cu? Kalo tau nenek gak bakalan nanya “
“Temen kami gak kuat dingin nek, iyah gak kuat dingin “ ujar Galih menjelaskan.
“Dingin? Emang dingin banget yah cu disini?”
“Iyah nek mereka gak kuat dingin “aku ikut menimpali.
“Zzzzzt…Zzzzzt" suara HP ku bergetar menandakan SMS masuk.
Segera kubuka HP ku yang bermodel HP lipat.
Quote:
Bang ini saya Ipin, SMS ke Hp Bang Galih pending mulu. Saya mau ngasih tau nenek yang saya liat kemarin itu bukan orang. Tapi manusia harimau
“Deg”
Aku begitu kaget mengetahui siapa sebenarnya nenek ini, aku membalas SMS Ipin disaat sang nenek sedang mengobrol dengan Galih.
Quote:
Manusia harimau? Maksudnya gimana Pin?
Tak lama kemudian Ipin membalas.
Quote:
Iya bang, perawakannya kayak orang berotot tapi berbulu harimau, wajahnya juga wajah harimau..ngeri saya bang
“Lih..Lih..”
“Apaan Ron?”
Sedetik kemudian aku memberikan kode kepadanya agar mengecek HP nya dengan menunjukkan HP-ku. Galih langsung tanggap dan
menyalakan HP nya, sementara Yana malah asik mengobrol dengan nenek membahas air terjun ini.
Galih langsung terlihat melotot kaget dan menggunakan gerakan bibir kepadaku, gerakan bibirnya seperti mengucapkan “MAMPUS”.. akupun membalas ucapan Galih dengan gerakan bibir pula “TENANG”.
“Bang ngapain mangap-mangap gitu?” Tanya Yana kepadaku, wajahnya melihat kearah ku dan Galih secara bergantian.
“Eh gak apa-apa Yan..hehe” ujarku dengan gugup.
Jujur aku merasa takut jika menerima kenyataan sekarang sedang duduk bersama dengan seorang nenek jadi-jadian, namun sejauh ini karena nenek tidak menunjukkan tanda-tanda ancaman. Aku berusaha untuk tenang, dan muncullah kebiasaanku yang gemar menggali informasi.
“Nek, nenek tau gak soal patung monyet yang ada digubug dibawah sana?” tanyaku.
“Oh patung disana , iya nenek tau.. patung itu udah ada lama disana cu dari jaman Belanda”
“Itu tempat pesugihan atau apa Nek?” lanjutku.
“Bukan cu, disana Cuma ada sosok penjaga aja.. lagian pesugihan buat apa cu gak bakal bisa “
Aku menjadi penasaran dengan jawaban nenek ini, dia berkata tidak mungkin untuk melakukan pesugihan disini. Begitu juga dengan Galih yang lambat laun menjadi tenang dan mendengarkan cerita sang nenek.
“Maksudnya gak bisa gimana Nek? Kan dibawahnya ada sesajen?”
“Gak bisa cu, sosok disana gak bisa bikin orang jadi kaya…kalian gak boleh meminta kekayaan kepada mereka cu”
“Kenapa emang nek?” kali ini Yana yang bertanya.
“Ya kalo kalian nanti minta pesugihan, minta kekayaan .. terus minta rumah …paling nanti Mbah Omah Cuma ngomong sambil ngelus Dada.. nanti dia bilang. BORO-BORO NGASIH ELU UANG SAMA RUMAH, GUE AJA DIGUBUG”
Kami semua tertawa dengan serentak mendengar jawaban dari sang Nenek, suasana menjadi cair dan tidak ada rasa takut sama sekali.
“Tapi kalian harus inget, biarpun beda alam harus tetap saling menghormati. Bayangin kalo misal kalian punya rumah, terus ada orang asing masuk kewilayah kalian, terus mereka bicara seenaknya dan bahkan mencuri”
Kami hanya bisa terdiam mendengarkan, dari tadi kami hanya mendengarkan kemudian diam, mendengarkan lalu diam. hanya itu yang bisa kami lakukan karena kami tahu kami sedang berbicara dengan mahkluk astral.
“Nek, udah malem. Kayaknya kita mau tidur aja nek “ ujar Galih sambil berjalan memasuki tenda.
“Iya Nek, saya juga” Ujar Yana menyusul Galih kedalam tenda satu lagi.
“Et dah ini orang baru aja dikasih tau biar sopan malah kaya gini"
Aku menatap kearah sang Nenek, beliau hanya tersenyum kepadaku. Tak lama kemudian beliau berdiri dan berkata.
“Cu, hati kamu bersih. Nenek rasa kamu pantas buat nerima ini “
Sejurus kemudian dia mengeluarkan sebuah buntelan kain kecil berwarna coklat dengan motif batik bunga dari balik kebayanya. Buntelan seukuran kepalan anak balita.
“Ini..ini apa Nek?”
“Nanti juga kamu bakal tau cu,dibukanya kalo nanti kamu sudah dirumah aja.. nenek pergi dulu “ ujarnya sambil melangkah pergi.
Aku mengamati bungkusan ini dan sangat penasaran, kuendus buntelan ini dari dekat. Baunya sangat wangi, mirip bau menyan namun wangi dan menenangkan. Aku lupa belum mengucapkan terima-kasih kepada nenek tadi dan berniat mengucapkannya sekarang.
“Nek, maka….”
Belum beres aku bicara, aku merasa terkejut karena Nenek tadi sekarang sudah menjelma menjadi seekor Harimau Putih besar berpostur humanoid. Bukan itu saja yang membuat aku paling terkejut, namun karena aku melihat harimau tersebut berjalan diatas air dan masuk kebalik air terjun, aku tercengang untuk beberapa saat.
Karena malam sudah larut, aku masuk kedalam tenda. Disana aku tidak dapat tidur dengan cepat, dikepalaku masih terbayang sosok manusia harimau yang merupakan jelmaan nenek tadi. Namun tubuh manusia harimau tersebut terlihat seperti laki-laki berotot, bukan wanita.
Malam itu aku merasa gelisah, sulit sekali rasanya untuk memejamkan mata. Berbeda sekali dengan malam kemarin yang hanya beralaskan karpet saja aku dapat tidur dengan pulasnya.
Ditengah kegelisahanku yang tidak dapat tidur, aku mendengar suara pepohonan seperti berayun tertiup angin kencang, atau lebih tepatnya seperti ada yang sedang berayun. Mungkin Mbah Omah sedang berkeliaran.
Diluar Api unggun masih menyala, dari dalam tenda aku dapat melihat bayangan apa saja yang lewat didekat tendaku. Awalnya aku melihat tupai melintas, dilanjutkan mungkin seekor musang. Namun semakin malam muncul bayangan yang tidak biasa.
Sesosok bayangan perempuan tiba-tiba melayang didekat tendaku, kenapa aku menyebutnya perempuan? Karena dari bayangannya saja aku melihat dengan jelas postur tubuh dan juga rambut panjangnya.
Sosok wanita tersebut atau yang lebih kita kenal sebagai kuntilanak kemudian menangis. Suaranya sangat lirih dan sedih, kucek jam di HP ku menunjukan pukul 12 malam, jam-jam riskan makhluk seperti mereka hangout.
“Zzzzt….Zzzzt” Hp ku bergetar, rupanya SMS dari Galih.
Quote:
Ron lu dah tidur belom?
Quote:
Belom Lih, napa emang?
Quote:
Lu denger suara cewek nangis kagak?
Quote:
Gue bukan Cuma denger, setannya ada dipinggir tenda gue njeng
Quote:
Hah setan? Lu yakin itu setan bukan orang?
Quote:
Ya lu yang bener aja mana ada cewek malem-malem ke air terjun Cuma buat nangis, lu kira dalem dongeng !
Quote:
Jadi ini beneran setan, takut gue njeng
HP ku bergetar lagi setelah menerima SMS dari Galih, rupanya kali ini SMS dari Yana.
Quote:
Bang suara nangis denger kagak? Kayaknya suaranya dari deket tenda abang?
Quote:
Iya Yan, ada kuntilanak deket tenda gue
“TUT”
suara sms gagal terkirim,begitu aku cek pulsa rupanya habis.
“Zzzzt…Zzzzt”
SMS dari Yana.
Quote:
Bang bales napa? Takut nih saya
SMS dari Galih.
Quote:
Ron nape lu gak bales? Masih idup kan lu
“PULSA GUE ABIS !!!” aku berteriak dari dalam tenda.
Seketika itu juga suara tangisan berhenti, namun sosok itu masih berdiri dipinggir tenda, bayangannya masih jelas oleh cahaya Api unggun. Kini suara menangis berhenti dan berganti menjadi suara cekikikan.
“Zzzzt…Zzzzt”
Quote:
Asu ngapain lu teriak, tuh jadi sekarang jadi suara ketawa Njeng !!
Quote:
Bang ngapain teriak, suaranya jadi ketawa. Tambah takut saya
Wanita itu terus tertawa cekikikan namun sesekali berubah menjadi tangisan, lalu kembali tertawa. Api unggun perlahan redup cahayanya dan
aku tidak bisa melihat bayangan wanita ini dengan jelas, namun suara nya masih terdengar disamping tendaku. Dan hal itu terjadi selama hampir TIGA JAM, sampai pada akhirnya suara tersebut hilang
“Zzzt..Zzzzt” ku-cek SMS ternyata dari operator provider.
Quote:
Selamat anda mendapatkan tambahan pulsa dari no 08123xxxxxx
Quote:
Ron ada pulsa masuk gak? Barusan gue transfer
Quote:
Iya ada, napa gak lu transfer daritadi kampret
Quote:
Gue lupa njeng, takut gue
Quote:
Lu napa belom tidur Lih?
Quote:
Mana bisa gue tidur sambil dengerin suara Kunti
Aku tidak segera membalas SMS Galih, kulihat jam menunjukkan pukul 3 pagi. Aku merasakan keringat dibadanku, keringat dingin yang aku sendiripun tidak menyadarinya.
“Sabilulungan..sabilulungan”
Aku mendengar samar-samar suara wanita menyinden lagu Sunda dengan merdu,diiringi suara suling bambu khas tanah Sunda. Rasanya begitu tenang, biarpun aku tahu yang menyinden dan menyuling bukanlah manusia, wanita tersebut menyinden selama hampir 1,5 jam dan terhenti ketika adzan subuh.
Quote:
Lih lu udah tidur belom?
Quote:
Yan masih melek?
Kutunggu beberapa menit, tidak ada jawaban SMS dari mereka. Aku memutuskan mencoba tidur karena sudah terasa lelah namun tak kunjung dapat tidur. Dan hal yang paling menyebalkan adalah hingga pukul 6 pagi aku tak kunjung tidur juga
.Aku keluar dari tenda didinginnya udara pagi, kulihat Galih dan Yana sedang duduk dipinggiran Air terjun. Mereka menatap kearah air terjun,perlahan aku menghampiri mereka dan duduk didekatnya.
“Oy bangke, napa gue SMS kagak dibales?” ujarku dengan kesal namun dengan suara lemas.
Mereka berdua menolehkan wajahnya kepadaku, terihat jelas kantung mata mereka menandakan mereka tidak tidur.
“Santai aja kali Ron, kayak lu gak ngerasain aja semalem kaya apaan?” ujar Galih dengan tatapan malas.
“Iya bang santai aja napa, lagi cape kita nih kagak tidur “Yana menimpali.
“Baru pertama kali gue denger konser 5 jam tanpa henti ,,asu dah”
“Hahahaha”
kami semua tertawa mendengar ucapan Galih karena selain kata-katanya, wajahnya juga seperti orang mabuk.
Pagi itu kami menikmati waktu pagi dengan sarapan dan minum kopi, dilanjutkan pukul 10 pagi kami membereskan tenda. Sangat berat bagi kami membawa barang duakali lipat karena ketiga teman kami berada dibawah dan dilarang naik kemari.akhirnya pada siang hari mobil jemputan datang dan akhirnya kami pulang. Dan bisa ditebak sepanjang perjalanan kami betiga tidur membangke.
Present day.
“Lih, gue penasaran sama nasib Eko sama Upin gimana yah, lu tau kagak?”
“Gue juga gak ngerti sih Ron, yang gue denger. 4 bulan kemaren si Eko menginggal kecelakaan dijalan, terus si Upin gue denger meninggal bunuh diri”
“Hah yang bener lu Lih? Kok gak ngasih tau gue?”
“Ya gue kan bilang Hp gue ganti no nya kehapus semua, gak tau no Lu gue”
“Ya udah ntar malem gue kerumah lu Lih,nanti kita bahas lagi, tolong siapin alatnya ya,,hehe”
“Ok , bawa martabak mehong aja kesini yah….haha”
Kututup telepon dan menyimpan HP-ku, kutatap foto Linda dan kacamatanya. Kuambil bingkai dan kacamatanya kemudian memasukannya kedalam laci meja kerja yang dibelikan oleh ayah ketika aku lulus SMA, berharap aku bisa cepat move on.
Ketika aku sedang membereskan isi laci agar ada cukup ruang untuk menyimpan foto dan kacamata, aku melihat sebuah benda yang tidak asing,sebuah buntalan bermotif batik bunga. Buntalan yang diberikan oleh sang Nenek harimau.
“Kenapa gue bisa lupa yah kalo gue nyimpen buntelan disini?” gumamku dalam hati.
Selama 2 tahun buntelan ini berada dilaciku tanpa pernah aku tau isinya apa, aku merasa semakin penasaran. Perlahan dengan hati-hati kubuka buntelan kecil atau lebih mirip dompet tradisional (kanjut kundang -> googling aja). kutarik talinya dengan hati-hati karena khawatir terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.
“KYAAAAAAAAAA”
Sheril Menjerit keras dari arah kamarnya.
Yang udah Iso bagi cendol dong

Diubah oleh roni.riyanto 22-01-2018 20:48
sulkhan1981 dan redbaron memberi reputasi
3
Kutip
Balas