- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.5K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#112
Part 43 Nelangsa
Sekitar 2 hari kemudian sepulang pelatihan aku ngerasa ada yg sedikit aneh dengan tubuhku. Kadang2 meriang bahkan sampai menggigil tp sebentarnya baikkan lagi, cuma yg ngga bikin enak aku merasa aku berkeringat tidak seperti biasanya.
Mungkin kecapean, pikirku, jadi kubawa tidur aja. Lewat tengah malam aku kebangun,perutku mules. Mana toiletnya di ruang tengah yg lumayan jauh jaraknya dr kamarku. Aku coba tahan, malah tambah mules dan bikin ngga bisa tidur. Akhirnya kuberanikan diri keluar kamar buat ke toilet.
Setelah ke toilet bukannya lebih lega. Tapi perutku terasa makin begah, seperti kembung. Tadi di toilet juga ngga lancar, apa aku ada salah makan ya. Aku hanya bisa baringan, guling kanan kiri ngga jelas, tanpa bisa memejamkan mata.
Aku terlonjak kaget ketika ponselku tiba2 berdering. Buset dah siapa yg tlp jam segini, sebelum kujawab, kulihat jam di ponselku menunjukkan pukul 01.25
“iya Wa, kamu belum tidur?”
“kamu kenapa Dy?”
“kenapa apanya maksudmu?” aku balik nanya karena ngga ngerti mksdnya
“eemm…aku ngga tau kenapa sedari sore tadi kepikiran kamu, tp karena pasien lagi banyak dan td ada acara juga, jd baru bisa tlp sekarang. Kamu ngga apa2 kan?”
“aku juga ngga tau Wa, seharian badanku kayak meriang sama berkeringat tp ngga kaya biasanya keringetnya banyak banget, trus badanku jadi dingiiiin bgt trus beberapa menitnya meriang lagi, gitu terus.”
“hm…kamu ada obat penurun panas?”
“aku ngga ada obat sama sekali.”
“ya udah, banyakin minum air putih dulu ya, besok kalau masih kayak gitu kondisimu harus kedokter ya.”
“iya, Wa.”
“ya udah, tidur ya sekarang, biar besok mendingan.
“iya.”
Dan untunglah setelah telpon itu aku bisa tertidur.
Bukannya membaik, kondisiku masih tetap saja sama ketika aku bangun di pagi harinya. Terpaksa hari itu aku ijin tidak ikut kelas, untuk beristirahat di kost. Aku hanya tidur seharian berharap sakit ini segera pergi.
Sore menjelang malam, perutku berteriak2 minta diisi. Lapar sangat, bagaimana tidak seharian hanya makan roti dan air putih saja. Kupaksakan untuk keluar mencari makan. Untunglah di sekitaran kost ada banyak warung makan, meski harganya lumayan mahal. Tak apalah yg penting dapat makan dulu. Maunya sekalian beli obat, tapi aku ngga tau harus beli obat apa. Karena dulu kalau aku sakit, sudah ada bokap yg siap dengan obatnya, aku tinggal minum aja. Mau nanya Dewa, aku ngga mau ngerepotin dia dan lagian aku lupa juga bawa ponselku.
Jadilah, aku urungkan niatku untuk beli obat dan setelah makan segera balik ke kost.
Aku kembali tiduran, badanku terasa sakit tapi belum berapa lama berbaring aku ngerasa perutku mules lagi, aku hendak duduk ketika tiba2 rasa mulesnya berubah jadi mual dan tanpa bisa aku control lagi, aku langsung muntah2, semua makanan yg kumakan tadi keluar lagi.
Badanku lemes sekali, tapi sekali lagi aku harus paksakan diriku untuk bangun dan membersihkan muntahanku sendiri yg berceceran di lantai kamarku. Terpaksa aku gunakan selimutku buat ngelap karena aku hanya punya satu lap dan itu pun sudah basah kuyup.
Selesai membersihkan lantai aku kembali meringkuk di kasur, karena aku ngga punya selimut lagi, aku memakai jaketku karena badanku menggigil kedinginan tapi suhu tubuhku sepertinya tinggi karena aku merasa mataku terasa sangat panas.
Aku mendengar seperti suara ketukan di pintu kamarku, kupaksakan untuk berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu kamarku. Begitu aku buka, aku sangat terkejut sekaligus senang karena Mas Kayon berdiri di depanku dengan senyum khasnya
“Dy…,” suaranya memanggil terasa menggema di telingaku.
Aku hendak mendekat kearahnya, tapi setiap kali aku melangkah dia seperti terseret kebelakang menjauhiku
“mas…”panggilku bermaksud supaya dia mendekat menghampiriku tapi dia hanya tersenyum dalam diamnya.
Aku berjalan cepat menghampirinya, dan secepat itu pun dia bergerak menjauh. Aku berlari mendekatinya dan dia pun bergerak menjauh secepat aku bergerak mendekatinya. Aku berlari dan terus berlari, dan dia pun semakin jauh dan menjauh, hanya bayang2 wajahnya yg terlintas samar di mataku
“haah…,” aku tersentak terbangun masih dengan nafas ngos2an, masih sangat jelas membayang di mataku senyum di wajah Mas Kayon yg terlihat di dalam mimpiku.
Dan tanpa bisa kuperintah dan tanpa bisa kucegah, memori otakku kembali memutar semua kenangan2 tentang dirinya, dan dengan segera menghancurkan pertahananku untuk tidak menagis. Sakit sekali rasanya. Dan semakin sakit, ketika bayang2 wajah kedua orang tuaku terlintas begitu saja, tangisku semakin menjadi2.
Aku kangen rumah. Dan rindu ini semakin membuatku merasakan kesendirian ini begitu menyiksa.
Ponselku berbunyi…. kubiarkan karena aku sedang tidak ingin bicara.
Berbunyi untuk yg kedua kalinya….kubiarkan
Ketiga kalinya ….kubiarkan juga
Keempat kalinya…. Masih kubiarkan
Kelima kalinya…..kuambil dan diantara sisa2 airmataku kulihat tulisan buram dilayar ponselku memperlihatkan nama Dewa
Keenam kalinya….. cepat2 kuseka air mataku, dan kujawab
“halo,”aku merasa suaraku masih terdengar serak
“kamu kenapa? Kamu ngga apa2 kan Dy?"
“i..iya…ehem….aku ngga apa2 Wa, hanya panas saja badan..”
“jadi beli obat?sudah diminum obatnya? panas bgt ya badan kamu, duh.. gimana ini caranya ya,” cecarnya
Entah kenapa pertanyaan2 Dewa menggema terus di telingaku, aku ngga fokus dengan omongannya selanjutnya, dan seperti sebuah slide ingatanku malah kembali mengingat ketika Mas Kayon sakit dan kuantar ke kostnya, membelikannya minum, makan, dan memberinya obat. Air mataku merembes tanpa bisa kutahan, aku terisak…
“dy…dyan…,” samar kudengar suara Dewa, lupa kalau aku masih menempelkan ponsel di telingaku.
Kujauhkan ponselku dan kulepaskan semua rasa di hatiku yg kutahan dengan tangisan.
Kuseka air mataku, setelah kurasa sedikit kelegaan di dada ini. Kuraih lagi ponselku, kupikir Dewa pasti sudah memutuskan sambungan telponnya karena cukup lama aku mengacuhkannya tadi.
Tapi dugaanku salah, ternyata masih tersambung. Kutempelkan lagi di telingaku.
“dy..” dia memanggilku
“maaf Wa,” sahutku lirih
“ngga apa2…sudah lebih lega?”
“iya…”
“masih panas?””
“masih.”
“sudah minum obat?”
“belum.”
“masih naik turun panasnya?”
“masih.”
“maaf, kamu ada ke belakang hari ini?”
“ngga ada.”
“kemarin?”
“iya ada"
“maaf, fesesnya gimana, keras apa cair?”
“keras.”
“berkeringatnya masih seperti kemarin?”
“iya.”
“ngerasa mual atau muntah?”
“muntah?”
“sudah berapa kali?”
“sekali tadi.”
"Selain panas kamu ada ngerasain gimana lagi di.badan kamu, kaya pegel2 atau nyeri?"
"Iya, kadang2 nyeri kayak ngilu gitu rasanya."
“besok kamu harus ke dokter Dy. Jangan di tunda lagi.”
“aku ngga tau tempatnya Wa.”
“tanya ibu kost aja, minta alamatnya, nama dokternya, kamu naik taksi ke sana minta tolong temen nemenin, inget taksinya suruh nunguin aja, gpp bayar agak mahal.”
“aku ngga yakin…” aku menggigil lagi, terasa dingin, kusentuhh dahiku terasa panas.
“wa…” panggilku ketika dia tidak menyahut
“iya, kamu menggigil lagi?”
“iya..”
“ya udah istirahat,inget besok pagi tanya ibu kost, atau minta tolong saudaramu di sana, bukannya kamu bilang ada sodara.”
“iya…” jawabku ragu
“harus besok, jgn ditunda. Sekarang kamu tidur, jgn mikir yg ngga2 lagi, inget doa sebelum tidur…”
“iya…”
“aku tutup sekarang…”
Dia menutup telponnya. Sejenak aku memang ngga bisa tidur, dingin sekali rasanya, tapi perlahan2 aku mulai ngerasa sedikit hangat seperti di peluk dan perlahan2 mulai mengantuk. Sampai akhirnya aku terlelap.
Aku terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Kubuka mataku, aku masih terbaring, aku yakinkan diriku kalau aku memang benar2 sudah terbangun, aku coba duduk, damn…berat sekali kepalaku, mataku langsung berkunang2. Kembali aku pejamkan mataku selama beberapa detik sebelum membukanya perlahan2.
Kupaksakan berdiri, berjalan kearah pintu, dan selintas mimpiku semalam terbayang. Ngga mungkin akan sama seperti mimpiku, batinku.
Kubuka pintu dan……..
Ternyata ibu kostku…….beliau berdiri di depanku begitu pintu kubuka.
“kata Pretty nak Dyan sakit, jadi ibu bawakan bubur kacang ijo,” ujarnya begitu melihatku.
“aduh jadi merepotkan,” sahutku lirih, memberi jalan si ibu yg hendak masuk ke dalam kamar.
“sama ini ibu bawakan nasi, cuma ngga ada lauknya, ibu blom masak, gpp ya..”
“iya bu gpp, ini udah cukup sekali, maaf kalau malah bikin repot.”
“ngga repot kok, udah ada minum obat?”
“udah bu,”sahutku berbohong, aku ngga mau merepotkannya lagi
“ya udah istirahat ya…”ujarnya tersenyum dan berlalu dari kamarku.
Kucicipi bubur kacang ijonya. Bersyukur banget ada makanan ini. Sedikit demi sedikit aku makan karena masih terasa mual sekali perutku.
Benar kata Dewa, aku harus ke dokter. Jadi aku putuskan mengirimkan pesan ke seorang saudaraku.
Aku memanggilnya Mbak Eny dia adalah sepupuku, entah apa istilah persaudaraannya, bokapku bersepupu dengan bokapnya Mbak Eny ini, jadi aku persepupuan kedua dengannya. Mbak Eny ini sudah menikah dan menetap di S**, kebetulan suaminya adalah sales executive di sebuah perusahaan farmasi, jadi beliau mengenal dengan baik para dokter di kota ini.
Malam harinya Mbak Eny menjemputku ke kost dan mengajakku ke dokter. Oleh dokter aku ditanya gejala2 yg aku alami, dan segera di rujuk untuk cek lab. Dari percakapan si dokter dengan suaminya Mbak Eny, dokter menyebut gejala yg kualami mengarah ke Thypus, dan harus dipastikan dulu dengan cek lab.
Jujur saja, aku punya ketahanan tubuh yg bagus, aku ngga pernah sakit lama2, paling2 hanya asmaku saja yg kambuh dan bisa sembuh dalam waktu sehari atau paling lama 2 hari. Saat itu aku masih belum ngerti sakit Thypus itu apa.
Dari dokter, lalu ke apotik ambil obat, semua biaya berobat di bayarin oleh Mbak Eny, sungguh aku berhutang budi banyak sama beliau dan suaminya. Dari apotik, aku diajak makan soto khas S** di suatu kedai yg lumayan ramai. Kata Mbak Eny sotonya enak, tapi dimulutku rasanya pahit bgt, ngga enak, tapi perutku lapar, karena aku hanya makan bubur aja td pagi dan makan sedikit nasi putih siangnya. Kupaksakan makan, kupikir, biar cepet sembuh. Selesai makan aku diantar ke kost, karena sudah larut, Mbak Eny ngga mampir dan hanya menurunkanku di depan kost.
Belum sempat aku meraih pintu kamar, aku ngerasa mual sekali, sebenernya di jalan td udah terasa, tp kutahan. Aku bersandar di balkon, dan langsung muntah lagi. Untungnya aku meletakkan ember yg biasa kupakai buat ngepel di bawah jendela kamarku, jadi muntahanku tertampung di sana. Dan malam itu adlah malam paling mengenaskan dalam hidupku.
Keesokan paginya, sebelum suami Mbak Eni menjemputku untuk cek lab, aku sempatkan mengirimkan pesan ke kakakku di Bali, bahwa aku sakit dan mau cek lab untuk memastikan sakitnya apa.
Syukurlah, aku hanya terbukti terkena gejala thypus, baru gejala saja. Tapi, dokter yg memeriksaku memastikan bahwa aku harus bed rest, kalau tidak gejalanya bisa menjadi positif thypus. Aku mengiyakan sarannya.
Tapi kemudian yg ragu justru suami Mbak Eny, bahkan meminta dokter apa bisa aku opname saja, biar terurus dengan baik, dalihnya karena aku kost sendiri. Aku mati2an meyakinkan beliau kalau aku bisa jaga diri, sampai akhirnya sebuah sms mnyelamatkanku, kakakku mengabarkan bahwa ibuku akan datang ke S** untuk menemaniku sementara waktu sampai aku sembuh.
***
“ibu sudah tidur?” tanya Dewa suatu malam ketika dia menelponku.
“kayaknya sih udah.”
“kamu gimana?udah baikan rasanya? Masih panas?”
“udah baikan Wa, panas sih masih tp ngga tinggi2 suhunya kaya kemarin.”
“dokter nyaranin apa?”
“jaga makan, ngga boleh cape, istirahat…”
“trus kok jam segini masih telponan?”
“yeee,..yg nelpon siapa?”
“hahahaha…ya udah, kamu tidur ya.”
“iya. Thanks ya.”
“iya.”
Selama aku sakit Dewa masih tetap tiap malam menelponku meski ngga lama2 lagi, katanya biar aku bisa istirahat.
Dan kehadiran ibuku terasa begitu berarti sekali. Aku yg ngga terlalu dekat dengan beliau, jadi ngerasa walaupun selama ini beliau sangat sibuk, tapi masih ada perhatiannya buatku.
Dan berat sekali rasanya ketika beliau harus kembali pulang setelah aku benar2 pulih.
Ah, pasti nanti bakalan home sick lagi.
Mungkin kecapean, pikirku, jadi kubawa tidur aja. Lewat tengah malam aku kebangun,perutku mules. Mana toiletnya di ruang tengah yg lumayan jauh jaraknya dr kamarku. Aku coba tahan, malah tambah mules dan bikin ngga bisa tidur. Akhirnya kuberanikan diri keluar kamar buat ke toilet.
Setelah ke toilet bukannya lebih lega. Tapi perutku terasa makin begah, seperti kembung. Tadi di toilet juga ngga lancar, apa aku ada salah makan ya. Aku hanya bisa baringan, guling kanan kiri ngga jelas, tanpa bisa memejamkan mata.
Aku terlonjak kaget ketika ponselku tiba2 berdering. Buset dah siapa yg tlp jam segini, sebelum kujawab, kulihat jam di ponselku menunjukkan pukul 01.25
“iya Wa, kamu belum tidur?”
“kamu kenapa Dy?”
“kenapa apanya maksudmu?” aku balik nanya karena ngga ngerti mksdnya
“eemm…aku ngga tau kenapa sedari sore tadi kepikiran kamu, tp karena pasien lagi banyak dan td ada acara juga, jd baru bisa tlp sekarang. Kamu ngga apa2 kan?”
“aku juga ngga tau Wa, seharian badanku kayak meriang sama berkeringat tp ngga kaya biasanya keringetnya banyak banget, trus badanku jadi dingiiiin bgt trus beberapa menitnya meriang lagi, gitu terus.”
“hm…kamu ada obat penurun panas?”
“aku ngga ada obat sama sekali.”
“ya udah, banyakin minum air putih dulu ya, besok kalau masih kayak gitu kondisimu harus kedokter ya.”
“iya, Wa.”
“ya udah, tidur ya sekarang, biar besok mendingan.
“iya.”
Dan untunglah setelah telpon itu aku bisa tertidur.
Bukannya membaik, kondisiku masih tetap saja sama ketika aku bangun di pagi harinya. Terpaksa hari itu aku ijin tidak ikut kelas, untuk beristirahat di kost. Aku hanya tidur seharian berharap sakit ini segera pergi.
Sore menjelang malam, perutku berteriak2 minta diisi. Lapar sangat, bagaimana tidak seharian hanya makan roti dan air putih saja. Kupaksakan untuk keluar mencari makan. Untunglah di sekitaran kost ada banyak warung makan, meski harganya lumayan mahal. Tak apalah yg penting dapat makan dulu. Maunya sekalian beli obat, tapi aku ngga tau harus beli obat apa. Karena dulu kalau aku sakit, sudah ada bokap yg siap dengan obatnya, aku tinggal minum aja. Mau nanya Dewa, aku ngga mau ngerepotin dia dan lagian aku lupa juga bawa ponselku.
Jadilah, aku urungkan niatku untuk beli obat dan setelah makan segera balik ke kost.
Aku kembali tiduran, badanku terasa sakit tapi belum berapa lama berbaring aku ngerasa perutku mules lagi, aku hendak duduk ketika tiba2 rasa mulesnya berubah jadi mual dan tanpa bisa aku control lagi, aku langsung muntah2, semua makanan yg kumakan tadi keluar lagi.
Badanku lemes sekali, tapi sekali lagi aku harus paksakan diriku untuk bangun dan membersihkan muntahanku sendiri yg berceceran di lantai kamarku. Terpaksa aku gunakan selimutku buat ngelap karena aku hanya punya satu lap dan itu pun sudah basah kuyup.
Selesai membersihkan lantai aku kembali meringkuk di kasur, karena aku ngga punya selimut lagi, aku memakai jaketku karena badanku menggigil kedinginan tapi suhu tubuhku sepertinya tinggi karena aku merasa mataku terasa sangat panas.
Aku mendengar seperti suara ketukan di pintu kamarku, kupaksakan untuk berdiri dan berjalan pelan ke arah pintu kamarku. Begitu aku buka, aku sangat terkejut sekaligus senang karena Mas Kayon berdiri di depanku dengan senyum khasnya
“Dy…,” suaranya memanggil terasa menggema di telingaku.
Aku hendak mendekat kearahnya, tapi setiap kali aku melangkah dia seperti terseret kebelakang menjauhiku
“mas…”panggilku bermaksud supaya dia mendekat menghampiriku tapi dia hanya tersenyum dalam diamnya.
Aku berjalan cepat menghampirinya, dan secepat itu pun dia bergerak menjauh. Aku berlari mendekatinya dan dia pun bergerak menjauh secepat aku bergerak mendekatinya. Aku berlari dan terus berlari, dan dia pun semakin jauh dan menjauh, hanya bayang2 wajahnya yg terlintas samar di mataku
“haah…,” aku tersentak terbangun masih dengan nafas ngos2an, masih sangat jelas membayang di mataku senyum di wajah Mas Kayon yg terlihat di dalam mimpiku.
Dan tanpa bisa kuperintah dan tanpa bisa kucegah, memori otakku kembali memutar semua kenangan2 tentang dirinya, dan dengan segera menghancurkan pertahananku untuk tidak menagis. Sakit sekali rasanya. Dan semakin sakit, ketika bayang2 wajah kedua orang tuaku terlintas begitu saja, tangisku semakin menjadi2.
Aku kangen rumah. Dan rindu ini semakin membuatku merasakan kesendirian ini begitu menyiksa.
Ponselku berbunyi…. kubiarkan karena aku sedang tidak ingin bicara.
Berbunyi untuk yg kedua kalinya….kubiarkan
Ketiga kalinya ….kubiarkan juga
Keempat kalinya…. Masih kubiarkan
Kelima kalinya…..kuambil dan diantara sisa2 airmataku kulihat tulisan buram dilayar ponselku memperlihatkan nama Dewa
Keenam kalinya….. cepat2 kuseka air mataku, dan kujawab
“halo,”aku merasa suaraku masih terdengar serak
“kamu kenapa? Kamu ngga apa2 kan Dy?"
“i..iya…ehem….aku ngga apa2 Wa, hanya panas saja badan..”
“jadi beli obat?sudah diminum obatnya? panas bgt ya badan kamu, duh.. gimana ini caranya ya,” cecarnya
Entah kenapa pertanyaan2 Dewa menggema terus di telingaku, aku ngga fokus dengan omongannya selanjutnya, dan seperti sebuah slide ingatanku malah kembali mengingat ketika Mas Kayon sakit dan kuantar ke kostnya, membelikannya minum, makan, dan memberinya obat. Air mataku merembes tanpa bisa kutahan, aku terisak…
“dy…dyan…,” samar kudengar suara Dewa, lupa kalau aku masih menempelkan ponsel di telingaku.
Kujauhkan ponselku dan kulepaskan semua rasa di hatiku yg kutahan dengan tangisan.
Kuseka air mataku, setelah kurasa sedikit kelegaan di dada ini. Kuraih lagi ponselku, kupikir Dewa pasti sudah memutuskan sambungan telponnya karena cukup lama aku mengacuhkannya tadi.
Tapi dugaanku salah, ternyata masih tersambung. Kutempelkan lagi di telingaku.
“dy..” dia memanggilku
“maaf Wa,” sahutku lirih
“ngga apa2…sudah lebih lega?”
“iya…”
“masih panas?””
“masih.”
“sudah minum obat?”
“belum.”
“masih naik turun panasnya?”
“masih.”
“maaf, kamu ada ke belakang hari ini?”
“ngga ada.”
“kemarin?”
“iya ada"
“maaf, fesesnya gimana, keras apa cair?”
“keras.”
“berkeringatnya masih seperti kemarin?”
“iya.”
“ngerasa mual atau muntah?”
“muntah?”
“sudah berapa kali?”
“sekali tadi.”
"Selain panas kamu ada ngerasain gimana lagi di.badan kamu, kaya pegel2 atau nyeri?"
"Iya, kadang2 nyeri kayak ngilu gitu rasanya."
“besok kamu harus ke dokter Dy. Jangan di tunda lagi.”
“aku ngga tau tempatnya Wa.”
“tanya ibu kost aja, minta alamatnya, nama dokternya, kamu naik taksi ke sana minta tolong temen nemenin, inget taksinya suruh nunguin aja, gpp bayar agak mahal.”
“aku ngga yakin…” aku menggigil lagi, terasa dingin, kusentuhh dahiku terasa panas.
“wa…” panggilku ketika dia tidak menyahut
“iya, kamu menggigil lagi?”
“iya..”
“ya udah istirahat,inget besok pagi tanya ibu kost, atau minta tolong saudaramu di sana, bukannya kamu bilang ada sodara.”
“iya…” jawabku ragu
“harus besok, jgn ditunda. Sekarang kamu tidur, jgn mikir yg ngga2 lagi, inget doa sebelum tidur…”
“iya…”
“aku tutup sekarang…”
Dia menutup telponnya. Sejenak aku memang ngga bisa tidur, dingin sekali rasanya, tapi perlahan2 aku mulai ngerasa sedikit hangat seperti di peluk dan perlahan2 mulai mengantuk. Sampai akhirnya aku terlelap.
Aku terbangun karena mendengar suara ketukan di pintu kamarku. Kubuka mataku, aku masih terbaring, aku yakinkan diriku kalau aku memang benar2 sudah terbangun, aku coba duduk, damn…berat sekali kepalaku, mataku langsung berkunang2. Kembali aku pejamkan mataku selama beberapa detik sebelum membukanya perlahan2.
Kupaksakan berdiri, berjalan kearah pintu, dan selintas mimpiku semalam terbayang. Ngga mungkin akan sama seperti mimpiku, batinku.
Kubuka pintu dan……..
Ternyata ibu kostku…….beliau berdiri di depanku begitu pintu kubuka.
“kata Pretty nak Dyan sakit, jadi ibu bawakan bubur kacang ijo,” ujarnya begitu melihatku.
“aduh jadi merepotkan,” sahutku lirih, memberi jalan si ibu yg hendak masuk ke dalam kamar.
“sama ini ibu bawakan nasi, cuma ngga ada lauknya, ibu blom masak, gpp ya..”
“iya bu gpp, ini udah cukup sekali, maaf kalau malah bikin repot.”
“ngga repot kok, udah ada minum obat?”
“udah bu,”sahutku berbohong, aku ngga mau merepotkannya lagi
“ya udah istirahat ya…”ujarnya tersenyum dan berlalu dari kamarku.
Kucicipi bubur kacang ijonya. Bersyukur banget ada makanan ini. Sedikit demi sedikit aku makan karena masih terasa mual sekali perutku.
Benar kata Dewa, aku harus ke dokter. Jadi aku putuskan mengirimkan pesan ke seorang saudaraku.
Aku memanggilnya Mbak Eny dia adalah sepupuku, entah apa istilah persaudaraannya, bokapku bersepupu dengan bokapnya Mbak Eny ini, jadi aku persepupuan kedua dengannya. Mbak Eny ini sudah menikah dan menetap di S**, kebetulan suaminya adalah sales executive di sebuah perusahaan farmasi, jadi beliau mengenal dengan baik para dokter di kota ini.
Malam harinya Mbak Eny menjemputku ke kost dan mengajakku ke dokter. Oleh dokter aku ditanya gejala2 yg aku alami, dan segera di rujuk untuk cek lab. Dari percakapan si dokter dengan suaminya Mbak Eny, dokter menyebut gejala yg kualami mengarah ke Thypus, dan harus dipastikan dulu dengan cek lab.
Jujur saja, aku punya ketahanan tubuh yg bagus, aku ngga pernah sakit lama2, paling2 hanya asmaku saja yg kambuh dan bisa sembuh dalam waktu sehari atau paling lama 2 hari. Saat itu aku masih belum ngerti sakit Thypus itu apa.
Dari dokter, lalu ke apotik ambil obat, semua biaya berobat di bayarin oleh Mbak Eny, sungguh aku berhutang budi banyak sama beliau dan suaminya. Dari apotik, aku diajak makan soto khas S** di suatu kedai yg lumayan ramai. Kata Mbak Eny sotonya enak, tapi dimulutku rasanya pahit bgt, ngga enak, tapi perutku lapar, karena aku hanya makan bubur aja td pagi dan makan sedikit nasi putih siangnya. Kupaksakan makan, kupikir, biar cepet sembuh. Selesai makan aku diantar ke kost, karena sudah larut, Mbak Eny ngga mampir dan hanya menurunkanku di depan kost.
Belum sempat aku meraih pintu kamar, aku ngerasa mual sekali, sebenernya di jalan td udah terasa, tp kutahan. Aku bersandar di balkon, dan langsung muntah lagi. Untungnya aku meletakkan ember yg biasa kupakai buat ngepel di bawah jendela kamarku, jadi muntahanku tertampung di sana. Dan malam itu adlah malam paling mengenaskan dalam hidupku.
Keesokan paginya, sebelum suami Mbak Eni menjemputku untuk cek lab, aku sempatkan mengirimkan pesan ke kakakku di Bali, bahwa aku sakit dan mau cek lab untuk memastikan sakitnya apa.
Syukurlah, aku hanya terbukti terkena gejala thypus, baru gejala saja. Tapi, dokter yg memeriksaku memastikan bahwa aku harus bed rest, kalau tidak gejalanya bisa menjadi positif thypus. Aku mengiyakan sarannya.
Tapi kemudian yg ragu justru suami Mbak Eny, bahkan meminta dokter apa bisa aku opname saja, biar terurus dengan baik, dalihnya karena aku kost sendiri. Aku mati2an meyakinkan beliau kalau aku bisa jaga diri, sampai akhirnya sebuah sms mnyelamatkanku, kakakku mengabarkan bahwa ibuku akan datang ke S** untuk menemaniku sementara waktu sampai aku sembuh.
***
“ibu sudah tidur?” tanya Dewa suatu malam ketika dia menelponku.
“kayaknya sih udah.”
“kamu gimana?udah baikan rasanya? Masih panas?”
“udah baikan Wa, panas sih masih tp ngga tinggi2 suhunya kaya kemarin.”
“dokter nyaranin apa?”
“jaga makan, ngga boleh cape, istirahat…”
“trus kok jam segini masih telponan?”
“yeee,..yg nelpon siapa?”
“hahahaha…ya udah, kamu tidur ya.”
“iya. Thanks ya.”
“iya.”
Selama aku sakit Dewa masih tetap tiap malam menelponku meski ngga lama2 lagi, katanya biar aku bisa istirahat.
Dan kehadiran ibuku terasa begitu berarti sekali. Aku yg ngga terlalu dekat dengan beliau, jadi ngerasa walaupun selama ini beliau sangat sibuk, tapi masih ada perhatiannya buatku.
Dan berat sekali rasanya ketika beliau harus kembali pulang setelah aku benar2 pulih.
Ah, pasti nanti bakalan home sick lagi.
JabLai cOY memberi reputasi
1