- Beranda
- Stories from the Heart
first love
...
TS
taripuji987
first love
INTRO
Salam kenal buat para sesepuh dan reader Forum SFTH...
sebenarnya ini pertama kali gw posting dan pertama kali gw buat sebuah tulisan/ cerita, jadi mohon maaf nih kalo tulisan ataupun ceritanya jelek karena msih amatir
Agan semua jangan kagok klo agan/aganwati mau kasih saran atau kritik apalagi cendol.
jadi kali ini gw mau nyeritain kisah tiga sahabat dalam mencari cinta yang tak terlepas dari kisah cinta pertama mereka yang masih selalu melekat di hati sanubari mereka, apakah mereka akan bisa menemukan cinta sejati atau apakah mereka akan menemukan cinta pertama mereka kembali,
bagi yang penasaran silakan di baca agan/aganwati
Part 1 "Dia cinta pertama ku"
Part 2 "Dia cinta pertama ku 2"
Part 3 "Sebuah awal yang baru"
Part 4 "Sebuah pilihan yang sulit"
PART 5 " Sebuah Keputusan"
PART 6 "Sebuah Kebetulan Atau Sebuah Takdir"
Salam kenal buat para sesepuh dan reader Forum SFTH...
sebenarnya ini pertama kali gw posting dan pertama kali gw buat sebuah tulisan/ cerita, jadi mohon maaf nih kalo tulisan ataupun ceritanya jelek karena msih amatir
Agan semua jangan kagok klo agan/aganwati mau kasih saran atau kritik apalagi cendol.
jadi kali ini gw mau nyeritain kisah tiga sahabat dalam mencari cinta yang tak terlepas dari kisah cinta pertama mereka yang masih selalu melekat di hati sanubari mereka, apakah mereka akan bisa menemukan cinta sejati atau apakah mereka akan menemukan cinta pertama mereka kembali,
bagi yang penasaran silakan di baca agan/aganwati
Part 1 "Dia cinta pertama ku"
Part 2 "Dia cinta pertama ku 2"
Part 3 "Sebuah awal yang baru"
Part 4 "Sebuah pilihan yang sulit"
PART 5 " Sebuah Keputusan"
PART 6 "Sebuah Kebetulan Atau Sebuah Takdir"
Diubah oleh taripuji987 12-02-2018 09:56
anasabila memberi reputasi
1
2K
12
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
taripuji987
#10
PART 4
# Sebuah Pilihan Yang Sulit #
# Sebuah Pilihan Yang Sulit #
lita semakin akrab dengan teman chatinganya. bahkan dari pagi sampai malam mereka selalu melakukan chat.
"huuu yang lagi asik chatingan sampek2 w yang ada di samping nya dicuekin" ucap nita sambil merangkul lita yang sedari tadi fokus kepada handphonya. lita pun hanya tersenyum pada nita dan meminta maaf karna tidak melihat nita tadi.
karna kami yang letaknya tak terlalu jauh jadi sebelum masuk kantor kami sering mampir di cafe yang letaknya tak terlalu jauh dari kantor kami, untuk sekedar ngumpul dan sarapan pagi.
Aku datang lebih dulu dan memesan secangkir susu coklat sambil menunggu nita dan lita. tak lama mereka pun tiba dan kami pun sarapan bersama. saat sarapan pun lita masih asik dengan hp nya itu nita pun jadi iseng dan sedikit meledek lita yang sepertinya sudah move on dan sudah dapat pengantinya, lita pun hanya tersenyum menangapi ledekan nita.
"kenapa kalian ngak saling ketemuan aja" ucapku pada lita, nita pun setuju dengan ku dan berkata kita harus selalu mengenal orang yang menjadi teman kita karna kita hidup di dunia nyata bukan dunia maya.
Lita pun berpikir apa yang aku dan nita katakan ada benarnya juga. tapi sepertinya nita masih ragu apakah ia harus bertemu dengan si kucing hitam atau tidak.
Setelah selesai sarapan nita kembali ke kantornya, aku dan lita juga segera bergegas ke kantor kami yang kebetulan satu gedung, saat menunggu lif lita bertanya padaku mengenai hubungan aku dan doni. aku pun menjawab saat ini hubunganku dan doni hanya sebatas rekan kerja dan terman. walaupun mungkin aku ingin memiliki hubungan yang lebih dari itu, tapi aku tidak ingin berharap lebih karna aku takut suatu saat nanti hatiku akan terluka lagi olehnya.
Seperti biasa hari2 ku aku lalui dengan menulis sebuah naska dan kadang membantu rekan2 kerja ku yg tengah sibuk dengan tugas mereka, seperti hari ini aku harus pergi ke tukang fotokopian untuk menjilid naska yang sudah jadi karna OB di tempat ku sedang ijin kerja karna sakit.
Aku pergi ke tukang fotokopian yang letaknya tak jauh dari kantorku dan saat di lobi aku bertemu dengan doni, aku menyapanya sekaligus bertanya kenapa dia kemari, atau mungkin ada janji dengan pak danu, doni pun menjawab bahwa dia ada janji dengan temanya yang kebetulan bekerja di gedung ini juga. lalu suara perempuan pun terdengar sedang memangil namanya dari arah belakang, seorang perempuan yang cantik dengan rambut pirangnya yang bergelombang dan terlihat sangat berkelas dari pakaianya. donipun memperkenalkan aku dengan temanya itu yang bernama Risa, nama yang cantik seperti wajahnya.
Entah mengapa aku merasa sangat minder berada diantara mereka berdua. akupun segera pergi dari mereka berdua dan mengatakan bahwa aku harus pergi kesuatu tempat, dari kejauhan aku melihat mereka yang nampak sangat akrab, sekilas aku terbayang dengan kejadian saat SMA dulu, aku pun segera merefres otakku yang tak karuan ini sembari mengatakan pada diriku sendiri bahwa ia tidak boleh menaru perasaan suka pada doni lagi, bagi ku saat ini doni hanyalah teman dan rekan kerja tidak lebih dari itu.
Aku duduk di depan tempat fotokopi sambil menunggu naskah yang sedang di jilid, sekilas aku masih terbayang kejadian saat doni bertemu dengan wanita tadi tapi aku pun langsung menyadarkan diri dengan menepuk-nepuk pipiku.
Di bandara terlihat seorang lelaki dengan tampilan modis yang memiliki wajah yang manis. sedang berjalan dengan senyuman di wajahnya yang membuat para wanita disekitarnya selalu memperhatikanya dan tersenyum pada pemuda itu, dan dengan ramah pemuda itu pun membals senyum kepada gadis-gadis bahkan ibu-ibu yang memperhatikanya.
“wellcome back indonesia”
Teriak pria itu dengan gembira. ia pun segera pergi dari bandara dengan mengunakan taksi, di perjalanan ia menikmati setiap sudut ibu kota jakarta, bahkan ia pun menikmati kemacetan yang biasanya kebanyakan orang sangat membencinya.
Aku berjalan kembali ke kantor setelah selesai menjilid saat hendak masuk ke lobi aku kembali melihat doni yang sepertinya sedang menunggu seseorang, sontak akupun langsung ngumpet menghindari doni. seakan aku tak ingin bertemu dengan nya hari ini setelah melihatnya akrab dengan cewek tadi. dengan hati- aku berjalan meningalkan lobi gedung kantor. namun seseorang memegang bahuku dari belakang sontak akupun kaget dan langsung menghentikan langkahku.
jangan2 jangan doni tadi liat w. ahhh harus gimana ini. ucapku dalam hati.
"hay riri" ucap pria yang memegan pundak ku itu suata yang tak asing bagiku namun ini bukan suara doni suara ini seperti suara gilang, tapi setauku gilang masih di thailan dan baru kembali ke indonesia besok. aku pun menego kebelakang memastikan siapa orang yang hampir membuatku jantungan pagi ini.
“gilang” ucapku kaget melihatnya.
Gilang pun hanya tersenyum melihatku yang terkejud melihatnya. "kamu terke..." belum sempat gilang menyelesaikan ucapanya akupun langsung menarik gilang meningalkan lobi gedung kantor, menuju basemen parkiran untuk naik lif dari sana.
"kok naik lifnya dari sini sih. kan bisa dari lobi" protes gilang yang harus. berjalan jauh menuju basmen parkiran kantor,
"siapa suruh dateng tiba2 kayak gitu bikin kaget orang aja" ucapku sambil berjalan dengan cepat menuju lif, gilang pun hanya tersenyum mendengar omelan ku itu sambil mengikutiku dari belakang.
"lo lagi menghindari seseorang yaa" tanya gilang saat di dalam lif.
Aku kaget kenapa gilang bisa tau kalo aku sedang menghindari seseorang, aku pun menjawab singkat dengan mengatakan “tidak” gilang pun tersenyum sesaat mendengar jawabanku tadi, aku pun bertanya kenapa gilang tiba-tiba tertawa padahal tidak ada hal lucu yang terjadi.
gilang masih saja tersenyum sendiri sambil melihat ke arahku dan tidak menjawab pertanyaanku, yang membuat ku tak habis pikir kepada pemuda ini yang selalu saja bertingkah aneh.
Flasback Pertemuan Pertama Gilang dan Riri
Gilang masuk ke lobi hotel untuk acara keluarga saat itu dan dihadapanya riri berjalan mendekati gilang dan langsung mengucapkan “i love you”, gilang pun kaget dan bertanya apa maksud dari ucapan gadis itu yang langsung pergi keluar tampa menjelaskan sepatah katapun pada gilang.
Beberapa hari setelah kejadian saat riri hendak masuk lobi kantor ia melihat cowok yang nampak tak asing baginya ternyata itu adalah gilang cowok yang ada di hotel waktu itu, riri segera pergi dari lobi untuk menghindari menghindari gilang karna kejadian itu sangat memalukan, namun gilang melihat riri yang sedang pergi diam2 dari lobi, penasaran akan riri gilang pun mengikutinya dari belakang tampa sepengetahuan riri.
“kenapa tuh cowok musti nogol di sini sih. ahh malu2 in aja w naik lif dari basemen aja deh dari pada ketemu tuh orang.”
mendengar ucapan riri membuat gilang tertawa kecil karna merasa cewek yang ia temui itu sangat aneh.
“Dasar cewek aneh” ucap gilang sambil tersenyun dan akhirnya kembali ke lobi kantor.
Saat di kantor pak danu memperkenalkan karyawan baru di bagian disain grafis yang tak lain adalah gilang, riri syok melihat cowok yang tadi ia hindari malah menjadi rekan satu kantornya. gilang tersenyum dan melihat ke arah riri yang mencoba memalingkan wajahnya dari pandangan gilang.
Sungguh sial batin riri sambil menepuk-nepuk kakinya yang pegal karna berjalan dari lobi kantor ke basemen parkiran mengunkan sepatu haknya. gilang melihat riri yang sedang menepuk-nepuk kakinya dan tersenyun gilangpun pergi mengambil salep untuk meredakan nyeri kaki di lacinya dan memberikanya kepada riri seraya berkata
‘’mungkin ini bisa merekan pegal kaki karna berjalan ke basemen dengan sepatu hak tinggi’’
riri yang mendengarnya pun merasa sangat malu namun berkat kejadian itu riri dan gilang kini menjadi teman yang sangat dekat.
‘’kaki lo ngak kenapa-kenapa kan abis jalan dari lobi ke basemen’’ ledek gilang aku pun langsung memelototinya seraya memberi peringatan kepada gilang agar berhenti meledek ku.
Seperti biasanya gilang selalu membuat terkejut, dan hari ini membuat semua orang terkejut dengan kehadiranya yang tiba-tiba di kantor, bahkan pak danu geleng-geleng kepala melihat tingkah anak buahnya yang ajaib ini, tapi terlepas dari semua itu kami senang dengan kedatangan gilang ke indonesia sekaligus ia juga berhasil menghandel proyek yang ia kerjakan selama di thailan.
Doni terlihat lesu sambil melihat2 pekerjaan yang ada di atas mejanya. reza masuk ke dalam ruangan doni mengantar kan berkas pada doni. melihat doni yg lesu reza pun bisa menebak bahwa doni sedang galau, mendengar itu donipun menghela nafas panjang ia pun menceritakan kejadian tadi siang saat ia datang menemui risa di kantornya,
Saat itu doni sedang menunggu riri di lobi kantor dan berniat mengajaknya makan siang. namun riri tak kunjung datang sesekali doni melihat keluar gedung tapi ia tak melihat riri. Akhirnya doni pun memutuskan untuk menghampirinya namun saat itu doni tak sengaja melihat riri dan berniat menghampirinya namun langkahnya terhenti saat seorang pria yang tak doni kenal menghampiri riri dan mereka pun pergi bersama ke arah basemen.
reza yang mendengar cerita doni pun mengeleng2kan kepalanya dan berkata “kita jadi cowok harus cepat tangap” sambil menepuk pundak temanya itu seraya pergi meningalkan ruanganya doni.
Mendengar ucapan reza membuat doni terdiam seperti sedang merenungi apa yang telah ia perbuat, di sisilain terlihat lita yang sedang asik chatingan di sela-sela pekerjaanya dengan si kucing hitam, terlintas apa yang dibicarakan nita dan riri waktu di caffe tadi pagi untuk segera bertemu dengan sikucing hitam itu, namun lita masih terlihat ragu untuk bertemu langsung dengan si kucing hitam karna sekarang ini dia merasa nyaman hanya dengan chating dengan si kucing hitam, dan untuk bertemu langsung dan menjalin hubungan secara langsung lita merasakan ada keraguan karna takut akan apa yang ia harapkan nanti tidak sepeti apa yang ia banyangkan.
Seorang ibu tengah memasukan makanan kedalam kulkas yang terlihat berantakan dan tak terurus, selesai memberekan kulkas ibu itu pun membereskan kasur yang terlihat berantakan, setelah memberekan seluruh ruangan yang berantakan itu sang ibu pun menelepon seseorang, namun sepertinya orang yang ia telepon itu tak mengankat teleponya, lalu sang ibu itu pun menelpon seseorang yang tak lain adalah manajer dari dion,
“dimana dion, kenapa tidak mengankat telepon dari saya” ucap sang ibu sedikit kesal sambil membereskan kotak makanan yang ia bawa.
sang manajer dion yang bernama fahrul pun langsung memberi alasan bahwa dion sedang istirahat di ruanganya sebelum melakukan pemotretan lagi dan hpnya sedang dicas.
‘’ok kalo gitu suruh dion untuk menelepon saya setelah pemotretan selesai”
Fahrul pun yang tadi tengan menerima telepon dari ibuya dion pun kini menyandarkan tubuhnya lagi di sofa dan ia pun melihat ke arah dion yang sedang duduk di bangkunya sambil memejamnkan matanya, dan memberitahu dion bahwa ibunya tadi menelepon.
Ibunya dion adalah orang yang sangat tegas dan sangat memikirkan masa depan anak semata wayangnya itu, bahkan saat dion pertama kali menjadi model ibunya sempat melarangnya, dan mereka sempat bertengkar gara-gara hal tersebut.
Hal yang samapun dialami oleh nita, nita adalah anak paling bontot walaupun nita terliha sangat mandiri tetapi kedua orang tuanya sangat mencemaskan nya terutama soal jodoh, karna semua kaka nita telah menikah dan kebanyakan mereka menikah di usia muda, dan setiap nita pulang kerumah pasti kedua orang tuanya selalu menanyakan kapan rencananya untuk menikah, dan hal itu adalah hal yang paling dibenci oleh nita,
Setelah pemotretan selesai dion menelpon ibunya dan seperti biasanya setiap sebulan sekali ibu dion datang kerumahnya sambil membawaan makanan dan sekaligus membreskan rumahnya, di tepon terlihat ibu sangat khawatir akan anaknya yang sekarang ini berprofesi sebagai model dan pindah kejakarta dan melihat keadaanya rumahnya yang selalu sama setiap ibunya datang kerumah yaitu berantakan, sang ibu pun memintanya untuk berhenti menjadi model dan mencari pekerjaan yang lain, namun dion menolak karna pekerjaan sebagai model saat ini cukup menyenangka dan ia dapat menghasilkan uang yang lumayan banyak, lalu sang ibu pun menyuruhnya untuk cepat menikah sehingga kehiduapanya lebih teratur dan ada yang mengurus.
“gimana kalo kamu ketemu putri teman ibu, anak perempuanya baik, pintar dan juga cantik, siapa tau kalian bisa cocok’’ mendengar sang ibu sudah mulai membicarakan mengenai perjodohan membuat dion merasa tergangu dan segera ia menolak perjodohan dengan berkata bahwa ia sudah punya pacar saat ini.
tak jaug dari dion berdiri muncul nita yang tengah berbincang dengan ibunya di telepon
‘’iyaa bu aku baik-baik aja disini’’ ucap nita dengan ibunya di telepon
‘’yaampun ibu, nita tuh ngak suka kalo dijodohin gitu, nita bisa kok cari pendamping nita sendiri, lagian juga nita kan masih muda bu, blm tua juga kok, udah deh ibu tenang aja’’ ucap nita menjelasakan masalah perjodohan kepada ibunya lewat telepon.
Nita membalikan badanya dan melihat dion yang tengah berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri, terlihat dion tersenyum kepada nita, sekejap nita terpaku dan berpikir apa dion barusan mendengar percakapan nya di telepon tadi, tapi nita tak mau tau dan tak mau ambil pusing ia pun langsung pergi tampa sepatah katapun.
‘’gimana kalo kita pacaran?’’ ucap Dion saat nita berjalan melewati dion.
Nitapun langsung menghentikan langkahnya setelah mendengar ucapan dion.
“apa?’’ ucap nita kaget
“gimana kalo kita pacaran supaya lo ngak disuruh-suruh nikah sama nyokap lo” mendengar ucapan dion menbuat nita tertawa kecil ia pun berkata bahwa ini bukan lelucon yang bisa dibercandaain lalu pergi menigalkan dion.
“kenapa sama orang itu, otaknya udah ngak waras kali yaa, jangan-jangan dia denger semua pembicaraan ku sama ibu di telepon lagi, si ibu juga sih, kenapa terus-terusan ngebasan perjodohan sih, emang ini masih jaman siti nurbaya apa” ucap nita kesal.
Setelah pemotretan selesai nita berniat untuk segera pulang toh hari ini pejerjaanya sudah selsai, saat di lobi kantor nita melihat ibunya sedang duduk diruang tunggu menunggu nita, nita pun menghampiri ibunya, dan bertanya kenapa ibu datang ke kantornya, ibu nita pun mengatakan bahwa ia ingin memnemui temanya dan ingin mengajak nita agar bisa berkenalan dengan anak teman ibunya, nita protes dan bilang bahwa nita tidak ingin dijodoh-jodohkan seperti ini.
Dari kejauhan terlihat dion yang sedang hendak kembali ke rumah nya dan tak sengaja melihat nita dan ibunya, melihat percakapan nita dan ibunya, membuat dion mendapatkan ide, dan dion pun menghampiri mereka,
“ibu nita ngak mau” ucap nita menolak
‘’kenapa sih ngak mau, emang kamu udah punya pacar apa’’ tanya ibu yang membuat nita jadi kehabisan kata-kata.
‘’iyaa bu nita udah punya pacar’’ ucap dion yang membuat nita dan ibunya kaget.
‘’perkenalkan saya dion pacar nita, dan ibu pasti ibunya nita yaa” ucap dion dengan ramah kepada ibu nita sambil merangkul nita.
Epilog
Saat itu aku dan lita sedang bermain taruhan koin karna saking bosenya nunggu nita di lobi hotel untuk liburan. kami pun bermain lempar koin dan yg kalah harus bilang i love you sama cowok yang masuk ke lobi hotel. saat itu karna memang sedang sialnya aku yang kalah taruhan dan harus melakukan hal gila yang mungkin akan ku sesali seumur hidupku, aku hanya berharap kalo yg masuk ke lobi bukan bapak-bapak apalgi cewek, semoga aja anak kecil yang masuk lobi atau semoga aja itu nita yang masuk lobi hotel. ucapku sembari berdoa
“liat ri ada yang masuk ke lobi” ucap lita heboh.
Ternyata seorang cowok yang seumuran dengan ku, “gawat bisa-bisa dia ngira yang aneh-aneh lagi, ahhh bodo dia ngak kenal aku ini, dan kita ngak akan ketemu lagi kan tenang cuma bilang i love you doang.” ucapku di dalam hati.
Di belakang lita tertawa melihat penderitaanku apa lagi saat cowok yang menjadi targetnya
“riri lumayan tuh cowoknya ganteng kali aja kalian bisa jadian sehabis ini” ledek lita yang membuatku jadi bad mood , aku pun langsung bergegas menghampirinya dan langsung mengucapkan kata i love you kepadanya.
Setelah ku bilang itu nampak pria itu bingun, dan mencoba bertanya padaku namun aku tak pikir panjang dan langsung pergi dari hotel itu menghindari pria itu dan tepat di depan hotel nita datang akupun langsung memarahi nita yang baru datang karena datang telat.
Masih dengan tawanya lita pun menghampiri aku dan nita yang ada di lobi, terlihat nita sangat bingun dengan kelakukan aku dan lita, nita pun mengajak kami masuk namun aku menghentikan langkahnya sambil melihat kedalam lobi hotel melihat apakah cowok yang tadi sudah pergi atau belum.
0