- Beranda
- Stories from the Heart
Meniti Garis Takdir
...
TS
Aboeyy
Meniti Garis Takdir

Meniti Garis Takdir:
Sebuah Novel by ABOEYY
(Tamat)
Sebuah Novel by ABOEYY
(Tamat)
Quote:
PERSEMBAHAN:
Quote:
*****
INDEX:
Part 1.2,
Part 1.3,
Part 1.4,
Part 1.5,
Part 1.6,
Part 1.7
****
Part 2.1,
Part 2.2,
Part 2.3,
Part 2.4
****
Part 3.1,
Part 3.2,
Part 3.3
****
Part 4.1,
Part 4.2,
Part 4.3
****
Part 5.1,
Part 5.2,
Part 5.3,
Part 5.4
****
Part 6.1,
Part 6.2,
Part 6.3
****
Part 7.1,
Part 7.2,
Part 7.3,
Part 7.4
****
Part 8.1,
Part 8.2
****
Part 9.1,
Part 9.2,
Part 9.3,
Part 9.4,
Part 9.5,
Part 9.6,
Part 9.7
****
Part 10.1,
Part 10.2,
Part 10.3,
Part 10.4,
Part 10.5
****
Part 11.1,
Part 11.2,
Part 11.3,
Part 11.4,
Part 11.5,
Part 11.6,
Part 11.7,
Part 11.8,
Part 11.9
****
Part 12.1,
Part 12.2,
Part 12.3,
Part 12.4,
Part 12.5,
Part 12.6,
Part 12.7,
Part 12.8,
Part 12.9 (Tamat)
****
1. Seruan dari Langit
Part 1.2,
Part 1.3,
Part 1.4,
Part 1.5,
Part 1.6,
Part 1.7
****
Part 2.1,
Part 2.2,
Part 2.3,
Part 2.4
****
Part 3.1,
Part 3.2,
Part 3.3
****
Part 4.1,
Part 4.2,
Part 4.3
****
Part 5.1,
Part 5.2,
Part 5.3,
Part 5.4
****
Part 6.1,
Part 6.2,
Part 6.3
****
Part 7.1,
Part 7.2,
Part 7.3,
Part 7.4
****
Part 8.1,
Part 8.2
****
Part 9.1,
Part 9.2,
Part 9.3,
Part 9.4,
Part 9.5,
Part 9.6,
Part 9.7
****
Part 10.1,
Part 10.2,
Part 10.3,
Part 10.4,
Part 10.5
****
Part 11.1,
Part 11.2,
Part 11.3,
Part 11.4,
Part 11.5,
Part 11.6,
Part 11.7,
Part 11.8,
Part 11.9
****
Part 12.1,
Part 12.2,
Part 12.3,
Part 12.4,
Part 12.5,
Part 12.6,
Part 12.7,
Part 12.8,
Part 12.9 (Tamat)
****
1. Seruan dari Langit
PART #1.1

Gema azan Maghrib beberapa menit telah berlalu. Sang imam baru saja mengucapkan salam kedua. Namun malam telah membentangkan jubah hitamnya. Suasana desa yang belum terjamah oleh listrik itu semakin gelap dan sepi. Tidak terdengar bunyi, kecuali suara anak-anak yang mulai belajar mengaji. Di bawah cahaya obor, mereka tetap giat belajar. Mengeja hurup per hurup Hijaiyah, merangkai kata, menyusun kalimat, hingga sempurna menjadi satu ayat. Mereka duduk berderet, menanti giliran sang Imam mengajarkan ayat berikutnya.

Seorang anak yang duduk pada deret paling ujung tiba-tiba berdiri. “Permisi Pak Ustadz, bolehkah saya pamit pulang duluan?” kata anak itu.
Tanpa menanyakan alasannya, sang Ustadz menganggukkan kepala. Beliau mengetahui siapa anak itu, sehingga kalau dia meminta izin, pasti karena ada keperluan, bukan karena kemalasan.
Setelah mengambil berkah dari tangan ustadz, anak itu bergegas pulang. Ia berlari menembus kegelapan malam menuju rumahnya yang berjarak sekitar 400 meter dari masjid itu.
Sang ibu baru selesai membaca surah Yasin. Ia buru-buru menutup buku kecil itu, dan menaruhnya di atas meja, ketika mendengar ketukan pintu. Tanpa memperdulikan kakinya yang mulai sakit-sakitan, ia beranjak ke depan. Dengan dua tangan, ia mengangkat palang kayu yang berfungsi sebagai kunci, sambil menjawab salam dari suara yang sudah dikenalnya.
Palang pintu itu masih di tangannya. Ia bertanya bertubi-tubi karena terkejut melihat anaknya pulang lebih awal. Biasanya setelah shalat Isya baru pulang ke rumah, sekalipun tidak mengaji. “Kenapa pulang Nak? Mengapa tidak ikut ngaji dan shalat Isya? Ustadznya tidak hadir?”
“Tidak apa-apa, Ma! Hanya Mujid yang minta izin pulang duluan. Ada yang ingin Mujid sampaikan sama Mama,” jawabnya sambil tetap mematung di depan pintu.
Perempuan berusia 45 tahun itu bergeser ke sebelah kanan pintu, sebagai isyarat mempersilakan anaknya masuk. Sambil menundukkan badan tanda hormat, Mujid melewati ibunya. Lalu duduk di depan sajadah yang masih terhampar.
“Bukankah dapat dibicarakan setelah shalat Isya?” ucap ibunya setelah duduk di sajadahnya, berhadapan dengan Mujid.
“Iya, Ma! Tapi Mujid ingin bicara sekarang.”
“Apa yang ingin dibicarakan, Nak?”
“Begini, Ma! Tadi waktu shalat dan menanti giliran mengaji, Mujid dengar suara ustadz terserak-serak. Beliau sudah tua. Saya khawatir, kalau beliau wafat, siapa yang akan menggantikannya?”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”
“Saya sudah setahun tamat SD, dan beberapa kali tamat ngaji. Bagaimana kalau saya diizinkan melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren?” pinta Mujid dengan penuh harap.
Sang ibu terpaku. Mukanya menengadah ke atas seperti menanti jawaban dari langit. Sang anak terdiam menunggu keputusan ibunya. Wajahnya tertunduk. Tiba-tiba dua tetes air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput. Dengan ujung mukena yang masih dikenakannya, disekanya airmata seraya berkata:
“Mujid! Kau anakku satu-satunya, dan ayahmu sudah tiada. Kalau kau pergi, siapa lagi yang menemani Mama? Demi Allah, andaikan bukan karena tujuan menuntut ilmu, satu meter pun Mama tidak akan mengizinkanmu jauh dari Mama.”
“Jadi, Mama setuju?” tanya anak itu sambil mengangkat wajah, dengan mata berbinar. Ia menyalami dan mencium tangan ibunya, seolah-olah keinginannya telah direstui.
“Sebentar, Nak! Mama belum selesai bicara. Benar, Mama mendukung niatmu. Tapi Mama masih berpikir masalah biaya. Ayahmu tidak meninggalkan harta. Untuk hidup sehari-hari saja, kita lebih banyak berpuasa.”
“Iya, Ma! Tapi, setiap ada kemauan, pasti ada jalan,” jawab Mujid pelan.
“Benar! Di mana kemauan, di situ ada jalan. Tapi keinginan tanpa kemampuan, hanya akan menemukan jalan buntu.”
Mujid terdiam. Ia tidak berani menjawab. Terlihat lukisan kesedihan yang mendalam di wajahnya yang masih lugu, di usianya yang baru menanjak 14 tahun. Sementara azan shalat Isya terdengar berkumandang.
“Mari shalat dulu. Kita minta petunjuk-Nya,” kata ibunya membangkitkan lamunan anaknya.
Keduanya shalat berjamaah. Mujid menjadi imam. Rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, sang imam membaca surah al-Mulk hingga separoh, dan dilanjutkan hingga selesai pada rakaat kedua.
Dua tetes air bening tiba-tiba keluar dari kelompak mata sang ibu, ketika lantunan 5 ayat terakhir surah itu dengan lembut menyentuh kepekaan perasaannya. Dalam hati, ia berdoa: “Ya Allah, kabulkanlah cita-citanya.”
“Mama rasa kalau hanya untuk jadi imam dan guru ngaji, kau sudah mampu. Suaramu fasih dan merdu, tajwidnya tepat. Jadi, kiranya tidak perlu sekolah ke Pesantren,” ucap ibunya setelah selesai berdoa.
“Kalau hanya baru bisa baca al-Quran, itu belum cukup, Ma! Ilmu agama itu sangat luas. Ada fiqih dengan ushulnya, ada al-Quran dengan tafsirnya. Ada hadis dengan mushthalah-nya. Ada tauhid dengan perinciannya. Ada tasawuf dengan berbagai coraknya. Minimal saya ingin belajar tentang hal-hal yang wajib dan yang haram, sebagai pedoman bagi diri sendiri, dan syukur kalau dapat mengajarkannya.”
Ibunya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mujid. Ia tidak menyangka anaknya sudah menguasai dasar-dasar agama, dan tampak memiliki kecerdasan yang tinggi. Padahal selama ini hanya belajar agama kepada ustadz yang menjadi imam masjid itu.
“Jika anakku sekolah pesantren, mungkin ia lebih cepat menguasai ilmu agama,” pikir ibunya.
“Baiklah, Nak! Mama restui keinginanmu. Besok Mama akan bicara dengan Pak Hamdan. Mungkin dia bisa bantu. Dia kan saudara ayahmu. Kedua anak lelakinya, Salim dan Mahdi, sudah mandiri. Keduanya ikuti jejak ayahnya jadi pedagang sejak tamat SD. Sedangkan anak perempuannya, Ahda, masih kelas 4 SD. Jadi, hanya dia yang masih dibiayai.”
“Terima kasih, Ma!” ucap Mujid sambil sekali lagi mencium tangan ibunya. Ia beranjak ke tempat tidur yang hanya beralaskan tikar purun, dan berbantal gumpalan kain bekas yang dibungkus dengan sarung. “Dengan namamu ya Allah, hidup dan matiku,” ucapnya sebelum terlelap. Matanya terpejam seolah-olah sedang berbaring di atas dipan asrama pesantren yang dicita-citakannya.
Sementara sang anak tertidur, sang ibu tetap terjaga. Dihamparkannya kembali sajadah yang telah lusuh itu. Di ujung dua rakaat shalat sunnah yang didirikannya, dengan suara lirih, ia berdoa:
Tanpa menanyakan alasannya, sang Ustadz menganggukkan kepala. Beliau mengetahui siapa anak itu, sehingga kalau dia meminta izin, pasti karena ada keperluan, bukan karena kemalasan.
Setelah mengambil berkah dari tangan ustadz, anak itu bergegas pulang. Ia berlari menembus kegelapan malam menuju rumahnya yang berjarak sekitar 400 meter dari masjid itu.
Sang ibu baru selesai membaca surah Yasin. Ia buru-buru menutup buku kecil itu, dan menaruhnya di atas meja, ketika mendengar ketukan pintu. Tanpa memperdulikan kakinya yang mulai sakit-sakitan, ia beranjak ke depan. Dengan dua tangan, ia mengangkat palang kayu yang berfungsi sebagai kunci, sambil menjawab salam dari suara yang sudah dikenalnya.
Palang pintu itu masih di tangannya. Ia bertanya bertubi-tubi karena terkejut melihat anaknya pulang lebih awal. Biasanya setelah shalat Isya baru pulang ke rumah, sekalipun tidak mengaji. “Kenapa pulang Nak? Mengapa tidak ikut ngaji dan shalat Isya? Ustadznya tidak hadir?”
“Tidak apa-apa, Ma! Hanya Mujid yang minta izin pulang duluan. Ada yang ingin Mujid sampaikan sama Mama,” jawabnya sambil tetap mematung di depan pintu.
Perempuan berusia 45 tahun itu bergeser ke sebelah kanan pintu, sebagai isyarat mempersilakan anaknya masuk. Sambil menundukkan badan tanda hormat, Mujid melewati ibunya. Lalu duduk di depan sajadah yang masih terhampar.
“Bukankah dapat dibicarakan setelah shalat Isya?” ucap ibunya setelah duduk di sajadahnya, berhadapan dengan Mujid.
“Iya, Ma! Tapi Mujid ingin bicara sekarang.”
“Apa yang ingin dibicarakan, Nak?”
“Begini, Ma! Tadi waktu shalat dan menanti giliran mengaji, Mujid dengar suara ustadz terserak-serak. Beliau sudah tua. Saya khawatir, kalau beliau wafat, siapa yang akan menggantikannya?”
“Lalu, apa yang ingin kau lakukan?”
“Saya sudah setahun tamat SD, dan beberapa kali tamat ngaji. Bagaimana kalau saya diizinkan melanjutkan sekolah ke Pondok Pesantren?” pinta Mujid dengan penuh harap.
Sang ibu terpaku. Mukanya menengadah ke atas seperti menanti jawaban dari langit. Sang anak terdiam menunggu keputusan ibunya. Wajahnya tertunduk. Tiba-tiba dua tetes air mata mengalir di pipinya yang mulai keriput. Dengan ujung mukena yang masih dikenakannya, disekanya airmata seraya berkata:
“Mujid! Kau anakku satu-satunya, dan ayahmu sudah tiada. Kalau kau pergi, siapa lagi yang menemani Mama? Demi Allah, andaikan bukan karena tujuan menuntut ilmu, satu meter pun Mama tidak akan mengizinkanmu jauh dari Mama.”
“Jadi, Mama setuju?” tanya anak itu sambil mengangkat wajah, dengan mata berbinar. Ia menyalami dan mencium tangan ibunya, seolah-olah keinginannya telah direstui.
“Sebentar, Nak! Mama belum selesai bicara. Benar, Mama mendukung niatmu. Tapi Mama masih berpikir masalah biaya. Ayahmu tidak meninggalkan harta. Untuk hidup sehari-hari saja, kita lebih banyak berpuasa.”
“Iya, Ma! Tapi, setiap ada kemauan, pasti ada jalan,” jawab Mujid pelan.
“Benar! Di mana kemauan, di situ ada jalan. Tapi keinginan tanpa kemampuan, hanya akan menemukan jalan buntu.”
Mujid terdiam. Ia tidak berani menjawab. Terlihat lukisan kesedihan yang mendalam di wajahnya yang masih lugu, di usianya yang baru menanjak 14 tahun. Sementara azan shalat Isya terdengar berkumandang.
“Mari shalat dulu. Kita minta petunjuk-Nya,” kata ibunya membangkitkan lamunan anaknya.
Keduanya shalat berjamaah. Mujid menjadi imam. Rakaat pertama setelah membaca surah al-Fatihah, sang imam membaca surah al-Mulk hingga separoh, dan dilanjutkan hingga selesai pada rakaat kedua.
Dua tetes air bening tiba-tiba keluar dari kelompak mata sang ibu, ketika lantunan 5 ayat terakhir surah itu dengan lembut menyentuh kepekaan perasaannya. Dalam hati, ia berdoa: “Ya Allah, kabulkanlah cita-citanya.”
“Mama rasa kalau hanya untuk jadi imam dan guru ngaji, kau sudah mampu. Suaramu fasih dan merdu, tajwidnya tepat. Jadi, kiranya tidak perlu sekolah ke Pesantren,” ucap ibunya setelah selesai berdoa.
“Kalau hanya baru bisa baca al-Quran, itu belum cukup, Ma! Ilmu agama itu sangat luas. Ada fiqih dengan ushulnya, ada al-Quran dengan tafsirnya. Ada hadis dengan mushthalah-nya. Ada tauhid dengan perinciannya. Ada tasawuf dengan berbagai coraknya. Minimal saya ingin belajar tentang hal-hal yang wajib dan yang haram, sebagai pedoman bagi diri sendiri, dan syukur kalau dapat mengajarkannya.”
Ibunya mengangguk-angguk mendengar penjelasan Mujid. Ia tidak menyangka anaknya sudah menguasai dasar-dasar agama, dan tampak memiliki kecerdasan yang tinggi. Padahal selama ini hanya belajar agama kepada ustadz yang menjadi imam masjid itu.
“Jika anakku sekolah pesantren, mungkin ia lebih cepat menguasai ilmu agama,” pikir ibunya.
“Baiklah, Nak! Mama restui keinginanmu. Besok Mama akan bicara dengan Pak Hamdan. Mungkin dia bisa bantu. Dia kan saudara ayahmu. Kedua anak lelakinya, Salim dan Mahdi, sudah mandiri. Keduanya ikuti jejak ayahnya jadi pedagang sejak tamat SD. Sedangkan anak perempuannya, Ahda, masih kelas 4 SD. Jadi, hanya dia yang masih dibiayai.”
“Terima kasih, Ma!” ucap Mujid sambil sekali lagi mencium tangan ibunya. Ia beranjak ke tempat tidur yang hanya beralaskan tikar purun, dan berbantal gumpalan kain bekas yang dibungkus dengan sarung. “Dengan namamu ya Allah, hidup dan matiku,” ucapnya sebelum terlelap. Matanya terpejam seolah-olah sedang berbaring di atas dipan asrama pesantren yang dicita-citakannya.
Sementara sang anak tertidur, sang ibu tetap terjaga. Dihamparkannya kembali sajadah yang telah lusuh itu. Di ujung dua rakaat shalat sunnah yang didirikannya, dengan suara lirih, ia berdoa:

Quote:
Bersambung>>>
Spoiler for Sumber:
Diubah oleh Aboeyy 17-08-2019 12:52
anasabila memberi reputasi
1
11.8K
81
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
Aboeyy
#59
PART #11.6
Bagaikan kapal yang telah bersandar di dermaga, saat itu Alina tampak ingin merebahkan kepalanya di bahu Mujid. Namun Mujid segera menggeser kursinya saat rambut Alina menyentuh wajahnya.
“Kapan melamarnya?” tanya Alina setelah meletakkan pipinya di atas meja sambil menatap Mujid.
“Kalau besok pagi?”
Alina tampak berpikir. “Malam ini aku beritahu ayah ibuku dulu. Jadi, besok aku beritahu kamu, kapan orangtuaku bisa bertemu keluargamu. Berarti paling cepat, dua hari lagi.”
‘”Baiklah!” sahut Mujid sumringah.
Pagi itu Pak Hasmi, istrinya dan Mujid berangkat ke rumah Alina. Ahda dan Yanto menemani bibinya di rumah sakit.
Ditemui oleh ayah dan ibu Alina yang sudah diberitahu akan kedatangan tamu, tanpa basa-basi Pak Hasmi langsung ke pokok pembicaraan.
“Jadi, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar secara resmi putri Bapak yang bernama Alina, untuk anak angkat kami, Mujid.”
Ayah Alina juga tanpa bersilat kata, langsung menjawab: “Dengan senang hati kami menerima lamaran ini, karena sampai saat ini Alina tidak terikat perjanjian atau lamaran orang lain.”
Pagi itu juga langsung dibicarakan masalah mahar dan tanggal pernikahan. Disepakati akad nikah akan dilangsungkan 20 hari lagi, namun walimahnya ditunda hingga Mujid tamat sekolah.
Pak Hasmi, istrinya dan Mujid langsung menuju rumah sakit, menyampaikan kabar gembira itu kepada Mama Mujid. Setelah itu, Mujid, Yanto dan Ahda kembali ke desa.
“Segera urus surat-menyurat pernikahan,” pesan Pak Hasmi.
“Iya, Pak!” sahut Mujid dan mobil pun meluncur pulang.
Selesai acara lamaran, Alina kembali ke rumah sakit untuk mengurus izin cuti kerja. Saat itu pula Alina bertemu dr. Fadli di ruang administrasi. Sinar matanya tampak masih mengharapkan Alina. Ia bersikap ramah terhadap Alina yang duduk disela 3 buah kursi darinya.
“Hai, Sayang!” sapanya.
“Masih marah ya sama aku?” lanjutnya karena sapaannya tak disahut.
Alina terus mengisi formulir yang diambilnya sendiri dari ruangan itu.
“Menulis apa, Sayang?” tanya Dr. Fadli yang telah berdiri di belakang Alina dan ingin memeluknya, walaupun di sana ada 2 wanita perawat lainnya yang sudah berkeluarga. Keduanya hanya bisa memandang heran dengan kelakuan dokter muda itu.
Alina terkejut dan langsung berdiri, dengan pulpen masih di tangan. Dengan sigap dokter itu menangkap kedua lengan Alina, sehingga ia tak bisa menghindar, namun mulutnya tetap bungkam. Hanya badannya yang terus bergerak untuk melepaskan diri.
“Oo... mau mengurus cuti?” kata dokter itu setelah membaca formulir yang diisi Alina di atas meja itu.
“Nih kolom alasan cuti belum diisi,” sambungnya sambil menunjuk formulir itu setelah melepaskan lengan kanan Alina. Saat itulah Alina membalikkan tubuhnya ke kanan dengan harapan tangan dr. Fadli terlepas. Lengannya memang lepas, namun dengan cepat pula kedua tangan dokter itu memeluknya dengan kuat. Ketika Alina memandang geram ke arah wajah Fadli, dokter itu langsung memiringkan kepalanya ke kanan untuk mencium pipi Alina. Secara refleks Alina menusukkan mata pulpen itu ke belakang dr. Fadli.
“Au..” dokter itu terkejut dan menjerit. Pelukannya terlepas seiring jatuhnya pulpen Alina. Secepatnya Alina berlari menjauhinya setelah sempat meraih formulir itu.
“Awas, kamu takkan bisa cuti tanpa tandatanganku, sebab disposisi permohonan harus melaluiku,” ancam dr. Fadli yang masih didengar Alina dari balik pintu.
Bagaikan kapal yang telah bersandar di dermaga, saat itu Alina tampak ingin merebahkan kepalanya di bahu Mujid. Namun Mujid segera menggeser kursinya saat rambut Alina menyentuh wajahnya.
“Kapan melamarnya?” tanya Alina setelah meletakkan pipinya di atas meja sambil menatap Mujid.
“Kalau besok pagi?”
Alina tampak berpikir. “Malam ini aku beritahu ayah ibuku dulu. Jadi, besok aku beritahu kamu, kapan orangtuaku bisa bertemu keluargamu. Berarti paling cepat, dua hari lagi.”
‘”Baiklah!” sahut Mujid sumringah.
Pagi itu Pak Hasmi, istrinya dan Mujid berangkat ke rumah Alina. Ahda dan Yanto menemani bibinya di rumah sakit.
Ditemui oleh ayah dan ibu Alina yang sudah diberitahu akan kedatangan tamu, tanpa basa-basi Pak Hasmi langsung ke pokok pembicaraan.
“Jadi, maksud kedatangan kami ke sini adalah untuk melamar secara resmi putri Bapak yang bernama Alina, untuk anak angkat kami, Mujid.”
Ayah Alina juga tanpa bersilat kata, langsung menjawab: “Dengan senang hati kami menerima lamaran ini, karena sampai saat ini Alina tidak terikat perjanjian atau lamaran orang lain.”
Pagi itu juga langsung dibicarakan masalah mahar dan tanggal pernikahan. Disepakati akad nikah akan dilangsungkan 20 hari lagi, namun walimahnya ditunda hingga Mujid tamat sekolah.
Pak Hasmi, istrinya dan Mujid langsung menuju rumah sakit, menyampaikan kabar gembira itu kepada Mama Mujid. Setelah itu, Mujid, Yanto dan Ahda kembali ke desa.
“Segera urus surat-menyurat pernikahan,” pesan Pak Hasmi.
“Iya, Pak!” sahut Mujid dan mobil pun meluncur pulang.
Selesai acara lamaran, Alina kembali ke rumah sakit untuk mengurus izin cuti kerja. Saat itu pula Alina bertemu dr. Fadli di ruang administrasi. Sinar matanya tampak masih mengharapkan Alina. Ia bersikap ramah terhadap Alina yang duduk disela 3 buah kursi darinya.
“Hai, Sayang!” sapanya.
“Masih marah ya sama aku?” lanjutnya karena sapaannya tak disahut.
Alina terus mengisi formulir yang diambilnya sendiri dari ruangan itu.
“Menulis apa, Sayang?” tanya Dr. Fadli yang telah berdiri di belakang Alina dan ingin memeluknya, walaupun di sana ada 2 wanita perawat lainnya yang sudah berkeluarga. Keduanya hanya bisa memandang heran dengan kelakuan dokter muda itu.
Alina terkejut dan langsung berdiri, dengan pulpen masih di tangan. Dengan sigap dokter itu menangkap kedua lengan Alina, sehingga ia tak bisa menghindar, namun mulutnya tetap bungkam. Hanya badannya yang terus bergerak untuk melepaskan diri.
“Oo... mau mengurus cuti?” kata dokter itu setelah membaca formulir yang diisi Alina di atas meja itu.
“Nih kolom alasan cuti belum diisi,” sambungnya sambil menunjuk formulir itu setelah melepaskan lengan kanan Alina. Saat itulah Alina membalikkan tubuhnya ke kanan dengan harapan tangan dr. Fadli terlepas. Lengannya memang lepas, namun dengan cepat pula kedua tangan dokter itu memeluknya dengan kuat. Ketika Alina memandang geram ke arah wajah Fadli, dokter itu langsung memiringkan kepalanya ke kanan untuk mencium pipi Alina. Secara refleks Alina menusukkan mata pulpen itu ke belakang dr. Fadli.
“Au..” dokter itu terkejut dan menjerit. Pelukannya terlepas seiring jatuhnya pulpen Alina. Secepatnya Alina berlari menjauhinya setelah sempat meraih formulir itu.
“Awas, kamu takkan bisa cuti tanpa tandatanganku, sebab disposisi permohonan harus melaluiku,” ancam dr. Fadli yang masih didengar Alina dari balik pintu.
0