- Beranda
- Stories from the Heart
Bangke (knock knock her heart)
...
TS
artraras
Bangke (knock knock her heart)
Newbie gabut buang sampah

SATU
“Bangke, ada kak Gea tuh didepan”
“Suruh kesini aja langsung”
“Kak Gea gak mau, katanya kamar Bangke bau”
Age mendengus kesal mendengar kepolosan Alana. Bocah perempuan berumur 5 tahun yang selalu menanggilnya Bangke itu memang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Dulu pernah saat Age tidak sengaja memecahkan pot tanaman bongsai sang mama, Lana dengan entengnya bilang ‘bangke bilang kalau Mama nanya, yang pecahin kucing’. Sungguh jujur bukan adiknya itu -_-
~~~
“Kenapa gak langsung ke kamar gue aja?”
“Gak ah”
“Ya kenapa?”
“Ini hari minggu”
“Hah? Apa hubungannya? Otak gue gak sampe sumpah”
“Berarti tadi malam itu malam minggu. Pasti lo nonton film miskin kan. Gue tobat nemuin jejaknya”
“Astaghfirullah Gea, segitu jeleknya gue dimata lo” Age mengelus dadanya dramatis.
Gea hanya menatap kosong kedepan. Ia sama sekali tidak menanggapi ocehan Age. Age yang sudah lama mengenal Gea pun tau bahwa gadis itu sedang ada masalah.
“Ada apa?” Tanya Age lembut.
Gea melirik Age sekilas dan kembali menatap kedepan. Helaan napas pelan terdengar oleh Age.
“Gue tau lo kesini karena mau cerita kan?” Age memandang Gea dengan lembut. Jemarinya bergerak mengelus rambut Gea. “Jadi ada apa Ya?”
“Age~”
“Hmm”
“Gue putus sama Tian. Dia selingkuh Ge” air mata yang sejak tadi ditahan pun berselancar bebas dipipi Gea.
Age menatap sendu sang gadis. Ingin rasanya ia menghapus air mata itu, namun ia tau Gea butuh menangis untuk melepaskan kesedihannya. “Lo tau dari mana Tian selingkuh?”
“Gue liat dia Ge. Dia janji nemenin gue nonton tadi malam. Gue senang banget, gue udah siapin diri gue. Bahkan gue sengaja pake baju baru gue. Tapi dia batalin gitu aja” tangis Gea semakin keras.
“Lo kan tau gue pengen banget nonton pengabdi setan, jadi gue nekat nonton sendiri. Gue liat Tian disana. Dia sama Luna”
“Lo nyamperin mereka?”
Gea menggeleng “Gue gak sanggup liat mereka gandengan, rangkulan, ketawa bareng. Gue sakit Ge”
Gue juga gak sanggup liat lo begini Ya batin Age
“Gue gak jadi nonton pengabdi setan kan”
Age mengernyitkan dahi “Sebenernya lo sedih karena putus atau gak jadi nonton sih?”
“Dua-duanya” Jawab Gea polos.
Jangan ditanya seberapa gatalnya tangan Age untuk menjitak kepala gadis gila disampingnya.
“Ge~ bantuin gue hilangin sakit ini”
Age menyeringai jail “Lo mau gue ngapain? Memeluk lo hangat? Ayo sini sini” Age merentangkan lengannya lebar-lebar.
“Gue peperin ingus tau rasa lo”
“Najis banget sih Ya. Gak ada manis-manisnya lo emang”
“Bicara manis, gue jadi pengen es krim Ge. Mana tau gue jadi gak sakit hati lagi”
“Bilang aja mau gue traktir”
“Jadi lo gak mau beliin?” Gea memandang Age melas.
“Yauda ayo”
Age melenggang masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci motor dan dompet. Tanpa Age sadari, Gea memandang punggungnya sambil tersenyum dan menggumamkan terima kasih dengan pelan.
~~~
Age baru saja sampai didepan rumah Gea. Disana, lelaki tampan berkulit putih dengan postur tinggi dan tegap bahkan otot bisepnya terlihat jelas karena lelaki itu memakai kaos longgar tanpa lengan sedang mencuci mobil. Age turun dari motornya, melangkah kearah pagar putih, melipat tangannya diatas pagar tersebut dan meletakan dagunya disana. Sok imut.
“Ululu Mas ganteng rajin banget pagi-pagi cuci mobil”
“Kalau gak mau gue siram mending diem deh”
“Dih jahara deh Mas ganteng~”
Ghara, lelaki yang mencuci mobil itu pun tak menanggapi Age. Ia tampak sangat berkonsentrasi pada kegiatannya. Age yang sedikit kesal karena diabaikan pun melangkah mendekati Ghara.
“Bang, yang sebelah sini belum bersih nih” Tunjuk Age pada sisi kanan mobil CRV putih itu.
Ghara mendelik sekilas dan kembali melanjutkan menggosok badan mobil dengan spons kuning.
“Nah ini juga belum bersih”
“Ini noda apaan Bang?”
“Lo abis dari mana sih Bang, sampe berlumpur gini mobil lo”
“Rodanya belum nih Bang”
“Kerja lo lam-“
“Item! Diem gak lo”
“Wah rasis lo Bang”
“Mau sarapan spons ya lo” masih dengan spons penuh busa, Ghara berjalan mendekati Age. Age yang melihat keseriusan dimata lelaki itu pun langsung berlari keluar dan duduk manis diatas motor Yamaha R15-nya.
Tak lama kemudian Gea muncul dari balik pintu, gadis itu berlari kecil sehingga rambut kuncir kudanya melambai-lambai indah. Age pun tersenyum cerah melihatnya.
“Bang Ghara, gue berangkat dulu ya” Gea memeluk sang kakak dari belakang. Niatnya ingin salim tapi tangan Ghara sedang penuh busa sekarang.
“Iya, belajar yang bener. Oh iya, bilang sama makhluk item disana untuk hati-hati, jangan ngebut”
“Siap komandan” Gea memberikan hormat kepada Ghara.
~~~
Kelas 10 IPA 2 sedang dalam mode silent sekarang. Sebenernya ini sangat jarang sekali terjadi, karena kelas itu termasuk kedalam lima besar kelas teribut seantero SMA Nusantara II. Ada 3 situasi yang menyebabkan terbungkamnya kelas tersebut.
1. Saat Pak Taufik mengajar
2. Saat diberi pertanyaan
3. Saat Arif bertugas
Seharusnya Bu Hanin sedang menerangkan pelajaran kimia saat ini, namun karena ia tidak datang, kelas 10 IPA 2 diberikan tugas lks yang cukup banyak. Sebenarnya itu tidak begitu menjadi masalah bagi mereka, toh tugasnya juga bisa untuk jadi PR. Yang menjadi masalah adalah Bu Hanin yang memberi mandat kepada Arif untuk melaporkan siapa saja yang tidak tertib selama ia tidak masuk.
Arif merupakan spesies manusia paling menyebalkan didunia. Jika disuruh memilih antara lalat atau Arif. Akan dengan lantang menjawab lalat. Digangguin lalat saat makan akan lebih menyenangkan dibanding berurusan dengan Arif. Arif itu pemegang deathnote. Jika dia sudah mengeluarkan deathnote, maka ia tak akan puas sebelum menggoreskan tinta pena membentuk sebuah nama. Ia akan melakukan segala cara untuk memuaskan hasratnya itu. Dan sialnya Age sering menjadi korban.
“Ge, pinjem tipex lo dong”
Sorry Rif, gue gak akan makan perangkap lo batin Age.
Tanpa suara Age memberikan tipex kepada Arif. Arif yang kesal pun mencoba cara lain kepada korban sejatinya itu.
“Ge, makasih tipexnya” Arif mengembalikan tipex dan menyelipkan kertas berisi jawaban no.6 didalamnya.
Age melihat tak tertarik dan mengembalikan kertas tersebut kepada Arif. Tentu Arif menjadi semakin kesal. Tanpa peringatan Arif memukul lengan Age sehingga terdengar suara ‘Plak’ cukup keras. Age menatap sengit Arif. Tatapan itu seolah berkata kenapa.lo.mukul.gue. Arif dengan polosnya menunjukan telapak tangannya yang terdapat tulisan ‘nyamuk’. Age hampir saja menerjang Arif sekarang juga, tetapi dia tau tindakan itu akan membuat Arif senang. Jadi ia memutuskan tetap diam dan memendam gondok sendiri. Arif menggenggam penanya kencang, ia tampak sangat kesal sekarang. Ia mulai melihat kesekitar mencari target lain.
Age tersenyum bangga akan dirinya sendiri, biasanya ia akan dengan mudah termakan perangkap Arif. Tapi kali ini dialah pemenangnya. Huahahaha.
Tami Harjo:Ge! Gea pingsan. Sekarang di uks!
Brak!
Age berdiri tanpa peringatan sampai-sampai bangku yang tadi ia duduki terjungkal mengenaskan. Semua siswa menatap Age heran. Tak ambil pusing dengan pandangan aneh disekitarnya, Age langsung melesat keluar kelas. Arif yang melihatnya pun tersenyum penuh kemenangan. Tangannya dengan ceria mengukir Age Nalapraya didalam deathnote.
~~~
Begitu sampai di UKS, tanpa mengetuk Age langsung nyelonong masuk. Matanya mengedar mencari sosok Gea. Dan dapat. Disana Gea sedang duduk diatas tempat tidur sembari bengong melihat kehadiran Age.
“Lo ngapain Ge?” Tanya Gea bingung.
Age mengerjap, “Loh, Kenapa lo bangun? Bukannya lo pingsan?” Telunjuk Age teracung kearah Gea.
“Itu artinya Gea udah sadar Ge. Bego lo kadang kebangetan”
“Gini ya Tam, lo baru chat gue kurang dari 5 menit. Eh udah bangun aja nih bocah” Age merogoh-rogoh kantong celananya berniat mengambil ponselnya.
“Jadi lo seneng gue pingsan?”
“Ya gak gitu juga”
“Udah ada Age, gue balik kelas ya Gea” Tami langsung keluar dari uks.
Age berjalan mendekati tempat tidur dan bokongnya menduduki salah satu bangku kosong disana. Matanya menyorot lembut wajah Gea yang sekarang tampak sedikit pucat.
“Kok bisa pingsan sih lo? Caper ke gue ya?”
Gea dongkol mendengarnya.
“Muka lo pucat banget Ya, kaya gak makan dari SD”
“Becanda aja terus Ge, orang lagi sakit juga” Bibir Gea mengerucut.
Age tergelak pelan “Iya maaf. Mana yang sakit”
Gea tersenyum kecil, ia mengambil tangan Age dan meletakannya diatas kepalanya sendiri “Disini, kepala gue pusing”. Tanpa disuruh, Age langsung mengelus lembut rambut Gea yang saat ini sedikit berantakan. Elusan tersebut mengantarkan rasa nyaman kepada Gea. Lihatlah bahkan mata Gea sudah terpejam menikmati gerakan yang dilakukan Age. Gea hampir saja tertidur kalau cowok disampingnya itu tidak membuka suara.
“Untung yang sakit kepala lo Ya, kalau jantung mah gue jadi enak. Elus OSIS”
Gea yang mendengar pun langsung melotot kearah Age, “Pikiran lo dimana sih Ge” ujar Gea kesal.
“Gak ada kata Kiel”
“Emang”
“Sok tau. Pikiran gue ada. Dipenuhi lo mala” alis tebal itu tampak naik turun menggoda. Gea yang melihat tingkah jenaka Age pun tidak dapat menahan cengirannya. Dia merasa beruntung punya sahabat yang selalu ada untuknya seperti Age.
INDEKS:
DUA
TIGA
EMPAT
LIMA
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS

SATU
“Bangke, ada kak Gea tuh didepan”
“Suruh kesini aja langsung”
“Kak Gea gak mau, katanya kamar Bangke bau”
Age mendengus kesal mendengar kepolosan Alana. Bocah perempuan berumur 5 tahun yang selalu menanggilnya Bangke itu memang memiliki tingkat kejujuran yang tinggi. Dulu pernah saat Age tidak sengaja memecahkan pot tanaman bongsai sang mama, Lana dengan entengnya bilang ‘bangke bilang kalau Mama nanya, yang pecahin kucing’. Sungguh jujur bukan adiknya itu -_-
~~~
“Kenapa gak langsung ke kamar gue aja?”
“Gak ah”
“Ya kenapa?”
“Ini hari minggu”
“Hah? Apa hubungannya? Otak gue gak sampe sumpah”
“Berarti tadi malam itu malam minggu. Pasti lo nonton film miskin kan. Gue tobat nemuin jejaknya”
“Astaghfirullah Gea, segitu jeleknya gue dimata lo” Age mengelus dadanya dramatis.
Gea hanya menatap kosong kedepan. Ia sama sekali tidak menanggapi ocehan Age. Age yang sudah lama mengenal Gea pun tau bahwa gadis itu sedang ada masalah.
“Ada apa?” Tanya Age lembut.
Gea melirik Age sekilas dan kembali menatap kedepan. Helaan napas pelan terdengar oleh Age.
“Gue tau lo kesini karena mau cerita kan?” Age memandang Gea dengan lembut. Jemarinya bergerak mengelus rambut Gea. “Jadi ada apa Ya?”
“Age~”
“Hmm”
“Gue putus sama Tian. Dia selingkuh Ge” air mata yang sejak tadi ditahan pun berselancar bebas dipipi Gea.
Age menatap sendu sang gadis. Ingin rasanya ia menghapus air mata itu, namun ia tau Gea butuh menangis untuk melepaskan kesedihannya. “Lo tau dari mana Tian selingkuh?”
“Gue liat dia Ge. Dia janji nemenin gue nonton tadi malam. Gue senang banget, gue udah siapin diri gue. Bahkan gue sengaja pake baju baru gue. Tapi dia batalin gitu aja” tangis Gea semakin keras.
“Lo kan tau gue pengen banget nonton pengabdi setan, jadi gue nekat nonton sendiri. Gue liat Tian disana. Dia sama Luna”
“Lo nyamperin mereka?”
Gea menggeleng “Gue gak sanggup liat mereka gandengan, rangkulan, ketawa bareng. Gue sakit Ge”
Gue juga gak sanggup liat lo begini Ya batin Age
“Gue gak jadi nonton pengabdi setan kan”
Age mengernyitkan dahi “Sebenernya lo sedih karena putus atau gak jadi nonton sih?”
“Dua-duanya” Jawab Gea polos.
Jangan ditanya seberapa gatalnya tangan Age untuk menjitak kepala gadis gila disampingnya.
“Ge~ bantuin gue hilangin sakit ini”
Age menyeringai jail “Lo mau gue ngapain? Memeluk lo hangat? Ayo sini sini” Age merentangkan lengannya lebar-lebar.
“Gue peperin ingus tau rasa lo”
“Najis banget sih Ya. Gak ada manis-manisnya lo emang”
“Bicara manis, gue jadi pengen es krim Ge. Mana tau gue jadi gak sakit hati lagi”
“Bilang aja mau gue traktir”
“Jadi lo gak mau beliin?” Gea memandang Age melas.
“Yauda ayo”
Age melenggang masuk kedalam rumah untuk mengambil kunci motor dan dompet. Tanpa Age sadari, Gea memandang punggungnya sambil tersenyum dan menggumamkan terima kasih dengan pelan.
~~~
Age baru saja sampai didepan rumah Gea. Disana, lelaki tampan berkulit putih dengan postur tinggi dan tegap bahkan otot bisepnya terlihat jelas karena lelaki itu memakai kaos longgar tanpa lengan sedang mencuci mobil. Age turun dari motornya, melangkah kearah pagar putih, melipat tangannya diatas pagar tersebut dan meletakan dagunya disana. Sok imut.
“Ululu Mas ganteng rajin banget pagi-pagi cuci mobil”
“Kalau gak mau gue siram mending diem deh”
“Dih jahara deh Mas ganteng~”
Ghara, lelaki yang mencuci mobil itu pun tak menanggapi Age. Ia tampak sangat berkonsentrasi pada kegiatannya. Age yang sedikit kesal karena diabaikan pun melangkah mendekati Ghara.
“Bang, yang sebelah sini belum bersih nih” Tunjuk Age pada sisi kanan mobil CRV putih itu.
Ghara mendelik sekilas dan kembali melanjutkan menggosok badan mobil dengan spons kuning.
“Nah ini juga belum bersih”
“Ini noda apaan Bang?”
“Lo abis dari mana sih Bang, sampe berlumpur gini mobil lo”
“Rodanya belum nih Bang”
“Kerja lo lam-“
“Item! Diem gak lo”
“Wah rasis lo Bang”
“Mau sarapan spons ya lo” masih dengan spons penuh busa, Ghara berjalan mendekati Age. Age yang melihat keseriusan dimata lelaki itu pun langsung berlari keluar dan duduk manis diatas motor Yamaha R15-nya.
Tak lama kemudian Gea muncul dari balik pintu, gadis itu berlari kecil sehingga rambut kuncir kudanya melambai-lambai indah. Age pun tersenyum cerah melihatnya.
“Bang Ghara, gue berangkat dulu ya” Gea memeluk sang kakak dari belakang. Niatnya ingin salim tapi tangan Ghara sedang penuh busa sekarang.
“Iya, belajar yang bener. Oh iya, bilang sama makhluk item disana untuk hati-hati, jangan ngebut”
“Siap komandan” Gea memberikan hormat kepada Ghara.
~~~
Kelas 10 IPA 2 sedang dalam mode silent sekarang. Sebenernya ini sangat jarang sekali terjadi, karena kelas itu termasuk kedalam lima besar kelas teribut seantero SMA Nusantara II. Ada 3 situasi yang menyebabkan terbungkamnya kelas tersebut.
1. Saat Pak Taufik mengajar
2. Saat diberi pertanyaan
3. Saat Arif bertugas
Seharusnya Bu Hanin sedang menerangkan pelajaran kimia saat ini, namun karena ia tidak datang, kelas 10 IPA 2 diberikan tugas lks yang cukup banyak. Sebenarnya itu tidak begitu menjadi masalah bagi mereka, toh tugasnya juga bisa untuk jadi PR. Yang menjadi masalah adalah Bu Hanin yang memberi mandat kepada Arif untuk melaporkan siapa saja yang tidak tertib selama ia tidak masuk.
Arif merupakan spesies manusia paling menyebalkan didunia. Jika disuruh memilih antara lalat atau Arif. Akan dengan lantang menjawab lalat. Digangguin lalat saat makan akan lebih menyenangkan dibanding berurusan dengan Arif. Arif itu pemegang deathnote. Jika dia sudah mengeluarkan deathnote, maka ia tak akan puas sebelum menggoreskan tinta pena membentuk sebuah nama. Ia akan melakukan segala cara untuk memuaskan hasratnya itu. Dan sialnya Age sering menjadi korban.
“Ge, pinjem tipex lo dong”
Sorry Rif, gue gak akan makan perangkap lo batin Age.
Tanpa suara Age memberikan tipex kepada Arif. Arif yang kesal pun mencoba cara lain kepada korban sejatinya itu.
“Ge, makasih tipexnya” Arif mengembalikan tipex dan menyelipkan kertas berisi jawaban no.6 didalamnya.
Age melihat tak tertarik dan mengembalikan kertas tersebut kepada Arif. Tentu Arif menjadi semakin kesal. Tanpa peringatan Arif memukul lengan Age sehingga terdengar suara ‘Plak’ cukup keras. Age menatap sengit Arif. Tatapan itu seolah berkata kenapa.lo.mukul.gue. Arif dengan polosnya menunjukan telapak tangannya yang terdapat tulisan ‘nyamuk’. Age hampir saja menerjang Arif sekarang juga, tetapi dia tau tindakan itu akan membuat Arif senang. Jadi ia memutuskan tetap diam dan memendam gondok sendiri. Arif menggenggam penanya kencang, ia tampak sangat kesal sekarang. Ia mulai melihat kesekitar mencari target lain.
Age tersenyum bangga akan dirinya sendiri, biasanya ia akan dengan mudah termakan perangkap Arif. Tapi kali ini dialah pemenangnya. Huahahaha.
Tami Harjo:Ge! Gea pingsan. Sekarang di uks!
Brak!
Age berdiri tanpa peringatan sampai-sampai bangku yang tadi ia duduki terjungkal mengenaskan. Semua siswa menatap Age heran. Tak ambil pusing dengan pandangan aneh disekitarnya, Age langsung melesat keluar kelas. Arif yang melihatnya pun tersenyum penuh kemenangan. Tangannya dengan ceria mengukir Age Nalapraya didalam deathnote.
~~~
Begitu sampai di UKS, tanpa mengetuk Age langsung nyelonong masuk. Matanya mengedar mencari sosok Gea. Dan dapat. Disana Gea sedang duduk diatas tempat tidur sembari bengong melihat kehadiran Age.
“Lo ngapain Ge?” Tanya Gea bingung.
Age mengerjap, “Loh, Kenapa lo bangun? Bukannya lo pingsan?” Telunjuk Age teracung kearah Gea.
“Itu artinya Gea udah sadar Ge. Bego lo kadang kebangetan”
“Gini ya Tam, lo baru chat gue kurang dari 5 menit. Eh udah bangun aja nih bocah” Age merogoh-rogoh kantong celananya berniat mengambil ponselnya.
“Jadi lo seneng gue pingsan?”
“Ya gak gitu juga”
“Udah ada Age, gue balik kelas ya Gea” Tami langsung keluar dari uks.
Age berjalan mendekati tempat tidur dan bokongnya menduduki salah satu bangku kosong disana. Matanya menyorot lembut wajah Gea yang sekarang tampak sedikit pucat.
“Kok bisa pingsan sih lo? Caper ke gue ya?”
Gea dongkol mendengarnya.
“Muka lo pucat banget Ya, kaya gak makan dari SD”
“Becanda aja terus Ge, orang lagi sakit juga” Bibir Gea mengerucut.
Age tergelak pelan “Iya maaf. Mana yang sakit”
Gea tersenyum kecil, ia mengambil tangan Age dan meletakannya diatas kepalanya sendiri “Disini, kepala gue pusing”. Tanpa disuruh, Age langsung mengelus lembut rambut Gea yang saat ini sedikit berantakan. Elusan tersebut mengantarkan rasa nyaman kepada Gea. Lihatlah bahkan mata Gea sudah terpejam menikmati gerakan yang dilakukan Age. Gea hampir saja tertidur kalau cowok disampingnya itu tidak membuka suara.
“Untung yang sakit kepala lo Ya, kalau jantung mah gue jadi enak. Elus OSIS”
Gea yang mendengar pun langsung melotot kearah Age, “Pikiran lo dimana sih Ge” ujar Gea kesal.
“Gak ada kata Kiel”
“Emang”
“Sok tau. Pikiran gue ada. Dipenuhi lo mala” alis tebal itu tampak naik turun menggoda. Gea yang melihat tingkah jenaka Age pun tidak dapat menahan cengirannya. Dia merasa beruntung punya sahabat yang selalu ada untuknya seperti Age.
INDEKS:
DUA
TIGA
EMPAT
LIMA
ENAM
TUJUH
DELAPAN
SEMBILAN
SEPULUH
SEBELAS
DUA BELAS
TIGA BELAS
EMPAT BELAS
LIMA BELAS
Diubah oleh artraras 12-03-2018 20:46
anasabila memberi reputasi
1
14.5K
106
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
artraras
#26
Laptop ane koma gan
Pagi yang cerah seakan mengejek Age yang dilanda mendung. Dengan malas-malasan ia membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh. Age melepaskan kaos rumahan berwarna putih. Tubuh bagian atasnya terekspos bebas. Age melihat pantulan dirinya dicermin, tangannya bergerak menyentuh bekas luka melintang di perut kanan atasnya. Luka itu tampak sedikit menonjol. Tidak hanya diperut, beberapa goresan samar pun menetap dipunggung Age. Luka-luka yang sudah tidak terasa sakit tapi tetap meninggalkan pedih dihatinya. Age menggeleng, tidak mau mengingat hal yang tidak penting di ingat. Ia harus segera mandi agar tidak terlambat.
Saat hendak keruang makan, ponsel Age berdenting pelan menandakan ada chat masuk.
Gea Thitania:Maaf ya Ge, gue hari ini berangkat bareng Tian
Syukurlah. Age sebenarnya juga masih bingung bagaimana dia harus memasang muka dihadapan Gea. mencoba tidak terjadi apa-apa juga sepertinya sulit, namun dia harus bisa bukan? Oke, Age akan mencobanya.
“Bangke jadi beliin Lana boneka gede?” pipi Lana menggembung setiap sesendok penuh nasi goreng masuk kedalam mulutnya.
“Kaga” jawab Age singkat.
“Kok gak jadi?” tanya Lana merengek.
“Susah carinya. Kaga nemu”
“Mana boleh! Kan Bangke udah janji” Lana merajuk, bibirnya sudah mengerucut maju.
“Yauda kaga jadi janji” jawab Age santai sambil berdiri dari duduknya. Menyalami kedua orangtuanya dan berpamitan. Lana yang merasa dibohongi pun akhirnya menjeritkan tangisnya.
~~~
Apa salah dan dosaku sayang
Cinta suci ku kau buang-buang
“Lo berdua bisa diem kaga sih? Gue cabein tuh cangkem tau rasa lo”
“Dih galak banget yang hatinya potek” Kiel terus tertawa keras sambil sesekali memukul meja. Runa juga tidak mau kalah, walau ketawanya tidak sekeras Kiel tapi tetap saja dia tertawa lepas diatas penderitaan Age.
Age mendengus kesal. Kedua sahabatnya itu memang tai kucing, bukannya menghibur hati Age yang sedang lara mala terus-terusan mengejek dan mengatainya. Ingin rasanya Age menjual kedua sahabatnya itu ke online shop. Tapi Age sadar kalau mereka tidak akan laku. Buktinya masih jomblo. Lelah meruntuki keduanya, Age memutuskan untuk tidur, mumpung masih jam istirahat juga. Baru saja matanya terpejam, suara-suara ghoib Kiel dan Runa yang jujur saja tidak ada bagusnya membuat hati Age memanas.
Tega niannya caramu
Menjadikan diriku
Pelampiasan cintamu agar dia kembali padamu
Tanpa peduli sakitnya aku
Begitu mata Age terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah buku fisika bilingual dengan hardcover. Gak pakai lama, langsung aja buku itu Age raih dan lemparkan kearah kiel dan Runa. Bukunya meluncur cepat, sedikit terbuka sehingga kertas-kertas berisi teori rumit melambai-lambai terkena angin, dan akhirnya pas. Pas mendarat diwajah Kiel dengan lancar.
“Bodat!!!” Makian Kiel berpadu dengan suara berdebum buku yang jatuh didekat kakinya. Kebayang gimana wajah Kiel sekarang? Beehhh wajah Kiel itu…ah sudahlah.
“Kimaklah, sakit kali hidung aku bah” logat Medan Kiel keluar. “Kalau gue jadi sampai pinter fisika, lo harus tanggung jawab Ge”
Runa yang sempat bengong akhirnya tertawa lepas sedangkan Age mah masa bodoh Kiel marah atau kaga. Salah sendiri bikin meradang orang yang lagi potek kokoro.
“Hidung gue kaga patah kan Run?”
“Astagfirullah!!!! Hidung lo El. Hidung lo!!! kenapa jadi gede begini!!” Runa pura-pura histeris.
Kiel melotot “Memang begini dari sononya ler!”
Runa tak kuasa untuk tidak tertawa. Age pun akhirnya tersenyum tipis melihat kedua sahabatnya itu.
“Jambu” gumam Age.
Kiel sudah pasti mendengar, makanya sekarang ia memungut buku didekat kakinya dan melemparnya kearah Age. Tapi sang sasaran sudah lebih dulu ngacir keluar kelas. Anda kurang beruntung, coba lagi lain kali Kiel.
~~~
Sepanjang jalan Age masih saja senyum-senyum gak jelas ketika mengingat kedua sahabatnya, seperti orang gila. Ya mungkin dia memang sedikit gila. Kakinya terus melangkah sampai ia sadar bahwa ini hanya beberapa langkah dari kelas Gea.
Kenapa gue kesini? Dasar kaki sialan! Kenapa lo jalan kesini! Anjirr mulai gak waras kayanya gue batin Age meruntuk. Takut kepergok Gea, Age pun bergegas untuk pergi. Begitu ia berbalik, badannya menabrak seseorang. Tidak begitu keras, tapi ntah mengapa tubuh Age limbung –mungkin efek belum makan siang. Mata Age refleks memejam untuk mengantisipasi rasa sakit yang bakal ia rasakan. Tuh kan bener. Rasa sakit menyengat ia rasakan di bokong ketika mencium lantai. ‘bokong seksi gue!!!!’ batin Age berteriak. Untung sepi Ge, jadi gak ditambah malu.
Begitu mendongak, mata Age langsung menemukan Lyla. Siswi kelas 12 yang menjadi primadona sekolah. Tak heran jika gelar itu dinobatkan kepada Lyla. Gadis itu memiliki kulit putih, rambutnya hitam lurus dan terasa sangat halus kalau disentuh, tubuhnya tinggi semampai, tidak ada penumpukan lemak berlebihan, semua proposional. Yang membuat dirinya tampak sangat indah adalah manik matanya, benda bulat hitam itu selalu bisa memerangkap siapapun yang melihatnya. Ok cukup untuk segi fisik. Segi akademis jangan diragukan. Lyla selalu masuk dalam 3 besar angkatan. Hebat bukan.
Karena terlalu banyak bengong dan mengagumi kecantikan gadis didepannya, akhirnya Age tersadar dan cepat-cepat berdiri.
“Gue gak papa” gayanya sok cool sambil menepuk-nepuk debu imajiner diseragamnya.
Lyla mengerjapkan matanya sesaat sebelum terbahak lepas “Gue gak ngerasa tanya”
Blush. Age malu dengan sangat. Kulit coklatnya jadi memerah. Bego sih haha.
“Ya kan mana tau kalila merasa bersalah” Age menggaruk lehernya canggung.
“Perasaan badan gue kurus deh. Masa lo langsung melayang pas gue tabrak. Lemah” Lyla menyeringai jahil. Age meringis mendengarnya.
“Udah lupain. Btw lo Age kan?”
Age mengangguk.
“Gue Lyla”
“Udah tau. Kan kalila terkenal”
Lyla tersenyum mendengar jawaban polos Age. “Jadi gini Ge. Bentar lagi kan bakalan ada festival sekolah jadi gue mau ajak lo gabung sama klub musik. Gue tau lo pinter main gitar”
Age menerima lembar formulir anggota klub musik yang tadi Lyla sodorkan. Sembari membaca setiap point di formulir, Age menimbang-nimbang apakah ia ikut atau tidak.
“Iris”
Age mengangkat pandangannya dari lembar formulir “Hah?”
“Dia sepupu gue”
“Serius? Iris sepupu lo kak?”
Lyla mengangguk “Dia selalu cerita kalau dia punya temen yang pinter main gitar. Dia juga bilang temennya itu masih SMA dan kebetulan satu sekolah sama gue. karena penasaran, gue jadi ikut dia manggung beberapa waktu lalu. Dan gue gak sangka kalau Age yang dielu-elukan itu lo.
“Tapi gue akui kalau permainan lo emang bagus. Petikan lo hidup”
“Jadi lo ngajak gue gabung karena Iris atau karena kemampuan gue?”
“Ya karena Iris lah”
“Sialan!”
“Hahaha. Kaga kaga. Karena kemampuan lo kok. Makanya lo harus gabung. Gue tunggu jawaban lo satu minggu lagi. Oke?”
“Oke” Age mengangguk dan kembali melihat formulir ditangannya.
“Iris gadis yang baik Ge” gumam Lyla pelan.
“Hah? Lo ngomong sesuatu?”
Lyla buru-buru menggeleng. “kalau gitu gue balik dulu ya. Bye”
Tanpa menunggu tanggapan Age, Lyla langsung melangkah. Tetapi hanya beberapa langkah. Kemudian badannya berbalik kembali melihat Age.
“Ge”
“Ya Kak?”
“Lyla. Nama gue Lyla. Kak Lyla bukan Kalila” Lyla tersenyum dan berbalik melanjutkan langkahnya.
Age hanya tersenyum malu menanggapi.
~~~
“Sejak kapan lo deket sama kakak kelas?”
“Astaghfirullah Gea!! Sejak kapan lo ada disini?”
Mereka sedang berada diparkiran sekarang. Age baru saja akan menaiki motornya disaat Gea muncul dengan tiba-tiba.
“Gue nanya duluan. Cepat dijawab”
“Kakak kelas apaan sih?” Age masih belum mengerti sampai ia tersadar “Lo liat?”
“Lo ada hubungan apa sama Kak Lyla?” tanya Gea menuntut.
“Kaga ada. Gue beneran kaga ada hubungan apa-apa” bantah Age panik seperti cowok yang kepergok selingkuh.
Gea manatap Age curiga “Terus kenapa tadi kalian keliatan deket banget?”
“Kenapa lo pengen tau Ya?”
“Iihhh jawab aja Age!”
Age menghela nafas “Kak Lyla ngajak gue gabung ke klub musik”
“Gak boleh!”
“Lah kok?”
“Gini ya Ge. Gue tau lo itu males belajar. Sekarang aja waktu lo udah kebagi sama kotakbisu. Kalau ditambah sama klub musik lagi. Kapan lo serius untuk pendidikan lo?”
“Gue bisa bagi waktu”
Gea menatap tajam Age “Lo gak bisa! Gue ini SAHABAT lo. Gue ngerti gimana lo” Gea memberi penekanan pada kata sahabat.
Oh ya? Buktinya lo gak pernah ngerti perasaan gue Ya batin Age.
“Sekarang mana formulirnya?” tangan Gea menengadah meminta formulir.
“Di dalam tas”
“Siniin”
Age menghela nafas “Gue males ngambilnya Ya”
Gea menarik tas yang nyaman nemplok dipunggung Age “Oke oke gue ambil” putus Age mengalah. Ia melepas tasnya dan memakainya kembali di depan dada. Membuka tas dan mengambil selembar kertas formulir. Tangannya terulur menyerahkan kepada Gea. Dengan gerakan sangat cepat, Gea merampas kertas tersebut dan tanpa peringatan langsung berlari menjauhi Age.
“Woi Gea!! Balikin formulir gue!!! Woi!!!”
Kaki Age otomatis ikut berlari mengejar Gea. Tas didadanya masih dalam keadaan terbuka membuat beberapa buku jatuh berceceran. Bego kan Age. Saat ia memunguti buku-bukunya, Gea sudah berlari sangat jauh darinya. Percuma jika mengejar. Setelah semua buku masuk ke tas dan tas tertutup dengan benar, Age kembali melihat kearah Gea berlari tadi.
Sial! Harusnya ia tidak usah melihat. Disana, didepan gerbang sekolah. Tian menyambut Gea yang berlari menghampirinya dengan senyum yang begitu menawan. Age yakin Gea pasti dengan semangat membalas senyuman itu. Tian memakaikan helm dikepala Gea, merapikan rambut-rambut yang menghalangi pandangan gadis itu. Age terus mengikuti setiap interaksi yang kedua sejoli itu tunjukan sampai Tian melajukan motornya dan mereka menghilang pulang.
Age menarik napas dalam, memegang dada kirinya yang kembali sesak.
Gue pasti bisa bertahan batin Age.
TBC
makasi buat yang baca dan menunggu serpihan kisah bangke ini.terharu ane gan
TUJUH
Pagi yang cerah seakan mengejek Age yang dilanda mendung. Dengan malas-malasan ia membawa tubuhnya ke kamar mandi untuk menyegarkan tubuh. Age melepaskan kaos rumahan berwarna putih. Tubuh bagian atasnya terekspos bebas. Age melihat pantulan dirinya dicermin, tangannya bergerak menyentuh bekas luka melintang di perut kanan atasnya. Luka itu tampak sedikit menonjol. Tidak hanya diperut, beberapa goresan samar pun menetap dipunggung Age. Luka-luka yang sudah tidak terasa sakit tapi tetap meninggalkan pedih dihatinya. Age menggeleng, tidak mau mengingat hal yang tidak penting di ingat. Ia harus segera mandi agar tidak terlambat.
Saat hendak keruang makan, ponsel Age berdenting pelan menandakan ada chat masuk.
Gea Thitania:Maaf ya Ge, gue hari ini berangkat bareng Tian
Syukurlah. Age sebenarnya juga masih bingung bagaimana dia harus memasang muka dihadapan Gea. mencoba tidak terjadi apa-apa juga sepertinya sulit, namun dia harus bisa bukan? Oke, Age akan mencobanya.
“Bangke jadi beliin Lana boneka gede?” pipi Lana menggembung setiap sesendok penuh nasi goreng masuk kedalam mulutnya.
“Kaga” jawab Age singkat.
“Kok gak jadi?” tanya Lana merengek.
“Susah carinya. Kaga nemu”
“Mana boleh! Kan Bangke udah janji” Lana merajuk, bibirnya sudah mengerucut maju.
“Yauda kaga jadi janji” jawab Age santai sambil berdiri dari duduknya. Menyalami kedua orangtuanya dan berpamitan. Lana yang merasa dibohongi pun akhirnya menjeritkan tangisnya.
~~~
Apa salah dan dosaku sayang
Cinta suci ku kau buang-buang
“Lo berdua bisa diem kaga sih? Gue cabein tuh cangkem tau rasa lo”
“Dih galak banget yang hatinya potek” Kiel terus tertawa keras sambil sesekali memukul meja. Runa juga tidak mau kalah, walau ketawanya tidak sekeras Kiel tapi tetap saja dia tertawa lepas diatas penderitaan Age.
Age mendengus kesal. Kedua sahabatnya itu memang tai kucing, bukannya menghibur hati Age yang sedang lara mala terus-terusan mengejek dan mengatainya. Ingin rasanya Age menjual kedua sahabatnya itu ke online shop. Tapi Age sadar kalau mereka tidak akan laku. Buktinya masih jomblo. Lelah meruntuki keduanya, Age memutuskan untuk tidur, mumpung masih jam istirahat juga. Baru saja matanya terpejam, suara-suara ghoib Kiel dan Runa yang jujur saja tidak ada bagusnya membuat hati Age memanas.
Tega niannya caramu
Menjadikan diriku
Pelampiasan cintamu agar dia kembali padamu
Tanpa peduli sakitnya aku
Begitu mata Age terbuka, hal pertama yang ia lihat adalah buku fisika bilingual dengan hardcover. Gak pakai lama, langsung aja buku itu Age raih dan lemparkan kearah kiel dan Runa. Bukunya meluncur cepat, sedikit terbuka sehingga kertas-kertas berisi teori rumit melambai-lambai terkena angin, dan akhirnya pas. Pas mendarat diwajah Kiel dengan lancar.
“Bodat!!!” Makian Kiel berpadu dengan suara berdebum buku yang jatuh didekat kakinya. Kebayang gimana wajah Kiel sekarang? Beehhh wajah Kiel itu…ah sudahlah.
“Kimaklah, sakit kali hidung aku bah” logat Medan Kiel keluar. “Kalau gue jadi sampai pinter fisika, lo harus tanggung jawab Ge”
Runa yang sempat bengong akhirnya tertawa lepas sedangkan Age mah masa bodoh Kiel marah atau kaga. Salah sendiri bikin meradang orang yang lagi potek kokoro.
“Hidung gue kaga patah kan Run?”
“Astagfirullah!!!! Hidung lo El. Hidung lo!!! kenapa jadi gede begini!!” Runa pura-pura histeris.
Kiel melotot “Memang begini dari sononya ler!”
Runa tak kuasa untuk tidak tertawa. Age pun akhirnya tersenyum tipis melihat kedua sahabatnya itu.
“Jambu” gumam Age.
Kiel sudah pasti mendengar, makanya sekarang ia memungut buku didekat kakinya dan melemparnya kearah Age. Tapi sang sasaran sudah lebih dulu ngacir keluar kelas. Anda kurang beruntung, coba lagi lain kali Kiel.
~~~
Sepanjang jalan Age masih saja senyum-senyum gak jelas ketika mengingat kedua sahabatnya, seperti orang gila. Ya mungkin dia memang sedikit gila. Kakinya terus melangkah sampai ia sadar bahwa ini hanya beberapa langkah dari kelas Gea.
Kenapa gue kesini? Dasar kaki sialan! Kenapa lo jalan kesini! Anjirr mulai gak waras kayanya gue batin Age meruntuk. Takut kepergok Gea, Age pun bergegas untuk pergi. Begitu ia berbalik, badannya menabrak seseorang. Tidak begitu keras, tapi ntah mengapa tubuh Age limbung –mungkin efek belum makan siang. Mata Age refleks memejam untuk mengantisipasi rasa sakit yang bakal ia rasakan. Tuh kan bener. Rasa sakit menyengat ia rasakan di bokong ketika mencium lantai. ‘bokong seksi gue!!!!’ batin Age berteriak. Untung sepi Ge, jadi gak ditambah malu.
Begitu mendongak, mata Age langsung menemukan Lyla. Siswi kelas 12 yang menjadi primadona sekolah. Tak heran jika gelar itu dinobatkan kepada Lyla. Gadis itu memiliki kulit putih, rambutnya hitam lurus dan terasa sangat halus kalau disentuh, tubuhnya tinggi semampai, tidak ada penumpukan lemak berlebihan, semua proposional. Yang membuat dirinya tampak sangat indah adalah manik matanya, benda bulat hitam itu selalu bisa memerangkap siapapun yang melihatnya. Ok cukup untuk segi fisik. Segi akademis jangan diragukan. Lyla selalu masuk dalam 3 besar angkatan. Hebat bukan.
Karena terlalu banyak bengong dan mengagumi kecantikan gadis didepannya, akhirnya Age tersadar dan cepat-cepat berdiri.
“Gue gak papa” gayanya sok cool sambil menepuk-nepuk debu imajiner diseragamnya.
Lyla mengerjapkan matanya sesaat sebelum terbahak lepas “Gue gak ngerasa tanya”
Blush. Age malu dengan sangat. Kulit coklatnya jadi memerah. Bego sih haha.
“Ya kan mana tau kalila merasa bersalah” Age menggaruk lehernya canggung.
“Perasaan badan gue kurus deh. Masa lo langsung melayang pas gue tabrak. Lemah” Lyla menyeringai jahil. Age meringis mendengarnya.
“Udah lupain. Btw lo Age kan?”
Age mengangguk.
“Gue Lyla”
“Udah tau. Kan kalila terkenal”
Lyla tersenyum mendengar jawaban polos Age. “Jadi gini Ge. Bentar lagi kan bakalan ada festival sekolah jadi gue mau ajak lo gabung sama klub musik. Gue tau lo pinter main gitar”
Age menerima lembar formulir anggota klub musik yang tadi Lyla sodorkan. Sembari membaca setiap point di formulir, Age menimbang-nimbang apakah ia ikut atau tidak.
“Iris”
Age mengangkat pandangannya dari lembar formulir “Hah?”
“Dia sepupu gue”
“Serius? Iris sepupu lo kak?”
Lyla mengangguk “Dia selalu cerita kalau dia punya temen yang pinter main gitar. Dia juga bilang temennya itu masih SMA dan kebetulan satu sekolah sama gue. karena penasaran, gue jadi ikut dia manggung beberapa waktu lalu. Dan gue gak sangka kalau Age yang dielu-elukan itu lo.
“Tapi gue akui kalau permainan lo emang bagus. Petikan lo hidup”
“Jadi lo ngajak gue gabung karena Iris atau karena kemampuan gue?”
“Ya karena Iris lah”
“Sialan!”
“Hahaha. Kaga kaga. Karena kemampuan lo kok. Makanya lo harus gabung. Gue tunggu jawaban lo satu minggu lagi. Oke?”
“Oke” Age mengangguk dan kembali melihat formulir ditangannya.
“Iris gadis yang baik Ge” gumam Lyla pelan.
“Hah? Lo ngomong sesuatu?”
Lyla buru-buru menggeleng. “kalau gitu gue balik dulu ya. Bye”
Tanpa menunggu tanggapan Age, Lyla langsung melangkah. Tetapi hanya beberapa langkah. Kemudian badannya berbalik kembali melihat Age.
“Ge”
“Ya Kak?”
“Lyla. Nama gue Lyla. Kak Lyla bukan Kalila” Lyla tersenyum dan berbalik melanjutkan langkahnya.
Age hanya tersenyum malu menanggapi.
~~~
“Sejak kapan lo deket sama kakak kelas?”
“Astaghfirullah Gea!! Sejak kapan lo ada disini?”
Mereka sedang berada diparkiran sekarang. Age baru saja akan menaiki motornya disaat Gea muncul dengan tiba-tiba.
“Gue nanya duluan. Cepat dijawab”
“Kakak kelas apaan sih?” Age masih belum mengerti sampai ia tersadar “Lo liat?”
“Lo ada hubungan apa sama Kak Lyla?” tanya Gea menuntut.
“Kaga ada. Gue beneran kaga ada hubungan apa-apa” bantah Age panik seperti cowok yang kepergok selingkuh.
Gea manatap Age curiga “Terus kenapa tadi kalian keliatan deket banget?”
“Kenapa lo pengen tau Ya?”
“Iihhh jawab aja Age!”
Age menghela nafas “Kak Lyla ngajak gue gabung ke klub musik”
“Gak boleh!”
“Lah kok?”
“Gini ya Ge. Gue tau lo itu males belajar. Sekarang aja waktu lo udah kebagi sama kotakbisu. Kalau ditambah sama klub musik lagi. Kapan lo serius untuk pendidikan lo?”
“Gue bisa bagi waktu”
Gea menatap tajam Age “Lo gak bisa! Gue ini SAHABAT lo. Gue ngerti gimana lo” Gea memberi penekanan pada kata sahabat.
Oh ya? Buktinya lo gak pernah ngerti perasaan gue Ya batin Age.
“Sekarang mana formulirnya?” tangan Gea menengadah meminta formulir.
“Di dalam tas”
“Siniin”
Age menghela nafas “Gue males ngambilnya Ya”
Gea menarik tas yang nyaman nemplok dipunggung Age “Oke oke gue ambil” putus Age mengalah. Ia melepas tasnya dan memakainya kembali di depan dada. Membuka tas dan mengambil selembar kertas formulir. Tangannya terulur menyerahkan kepada Gea. Dengan gerakan sangat cepat, Gea merampas kertas tersebut dan tanpa peringatan langsung berlari menjauhi Age.
“Woi Gea!! Balikin formulir gue!!! Woi!!!”
Kaki Age otomatis ikut berlari mengejar Gea. Tas didadanya masih dalam keadaan terbuka membuat beberapa buku jatuh berceceran. Bego kan Age. Saat ia memunguti buku-bukunya, Gea sudah berlari sangat jauh darinya. Percuma jika mengejar. Setelah semua buku masuk ke tas dan tas tertutup dengan benar, Age kembali melihat kearah Gea berlari tadi.
Sial! Harusnya ia tidak usah melihat. Disana, didepan gerbang sekolah. Tian menyambut Gea yang berlari menghampirinya dengan senyum yang begitu menawan. Age yakin Gea pasti dengan semangat membalas senyuman itu. Tian memakaikan helm dikepala Gea, merapikan rambut-rambut yang menghalangi pandangan gadis itu. Age terus mengikuti setiap interaksi yang kedua sejoli itu tunjukan sampai Tian melajukan motornya dan mereka menghilang pulang.
Age menarik napas dalam, memegang dada kirinya yang kembali sesak.
Gue pasti bisa bertahan batin Age.
TBC
makasi buat yang baca dan menunggu serpihan kisah bangke ini.terharu ane gan
0