- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#473
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Ridho sendiri terlihat seperti sengaja menyibukkan diri dengan menyentuh layar Hp nya berulang-ulang.. Sesekali gw bisa melihat kedua matanya melirik ke arah gw lalu kembali menatap layar Hp, bertingkah seperti seseorang yang sudah melakukan kesalahan, tapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa..
“Njirr!! Dia emang bisa baca pikiran gw” Kembali suara Ridho terdengar dalam benak ini, sekaligus membuat gw terkejut pula..
“Udah, Mam.. Jangan baca pikiran gw deh.. Males gw kalo kek gini” Kata Ridho lewat lisannya sendiri seraya meletakkan lagi Hp ya di atas meja belajar..
Gw tertegun mendengar kalimat Ridho.. Dalam hati gw bertanya-tanya, apakah memang benar gw bisa membaca pikiran orang, seperti kelebihan yang Suluh miliki..
“Jadi gw bisa baca pikiran lu, bree? Pantes dari tadi gw kek denger suara lu, pas gw lihat lu malah lagi diem” Ucap gw sambil menatap Ridho dengan pandangan setengah percaya..
Saudara gw itu nampak hanya membalas dengan senyuman getir.. Entah mengapa reaksi Ridho dari pertama gw datang, terlihat seperti orang yang tidak suka..
“Tapi tunggu dah, yang kalimat pertama gw denger, itu beneran ada di otak lu, Bree? Terus maksud lu apa tadi bilang semua gara-gara gw?” Tanya gw saat kembali ingat isi kepala Ridho yang sempat terbaca oleh gw..
Ridho sendiri nampak berdiri dan melangkah maju dua kaki, lalu berhenti tepat selangkah di hadapan gw yang masih terduduk di pinggir kasurnya.. Sorot mata Ridho terkesan seperti sedang mengisyaratkan suatu amarah yang terpendam..
“Lu bilang, Sekar dan Bayu Barata ninggalin lu kan, Mam.. Lu tahu, Naga Saksana sama Nyai Lingga juga ninggalin gw.. Terus Rampak Tantra dan Nyi Laras Abang juga sama-sama ninggalin Bimo dan Suluh.. Lu mo tau kenapa, karena ini ada hubungannya dengan Mati Suri nya lu, Mam.. Semua jin penjaga kita dipaksa pergi karena lu” Ucapan Ridho yang bernada tinggi barusan membuat gw sangat terkejut dan seketika gw ikut berdiri dari kasurnya..
Jelas sekali gw merasakan ada rasa benci tersirat dari tiap kalimat yang dilontarkan salah satu saudara gw itu.. Entah apa alasannya, yang pasti menerima sorot mata tajam dan penyalahan atas apa yang sudah terjadi dari Ridho, membuat gw jengkel..
“Jadi lu nyalahin gw, Dho? Lu pikir semua ini tanggung jawab gw? Lu pikir gw mau mati suri? Hah!” Bentak gw sambil mendorong tubuh Ridho ke belakang, lalu menatap nya dengan sorot mata yang jauh lebih tajam..
Ridho sendiri hanya bisa terdiam tanpa menjawab apapun.. Gw lihat dua tangannya sudah terkepal, seperti siap untuk memberi pukulan ke gw..
“Kenapa? Lu mo mukul gw? Pukul, Dho! Nih muka gw.. Gw kan yang udah bikin semua jin penjaga lu juga pergi? Kenapa ragu? Ayo pukul!” Teriak gw dengan menarik tangan kanan Ridho yang masih terkepal..
Saudara gw itu, menarik pergelangan tangan kanan nya dari pegangan tangan gw.. Kemudian mundur selangkah ke belakang dengan wajah tertunduk untuk sesaat, lalu kembali menatap ke arah gw..
“Gw ngerti sekarang, kenapa lu, Bimo dan Suluh cuma baca WA gw doank, ga mau bales.. Ternyata lu bertiga nyalahin gw buat semua yang udah terjadi.. Asli, gw ga nyangka lu bertiga tega ngelakuin ini ke gw” Ucap gw dengan suara bergetar dan dua tangan yang juga sudah sejak tadi terkepal..
BUGG!!!
Suara pukulan kepalan tangan gw di dinding kamar Ridho, terdengar cukup keras, bahkan mambuat seluruh rumah ikut bergetar untuk beberapa saat.. Seandainya bukan Ridho yang mengatakan hal tadi, niscaya sudah gw buat jatuh terjengkang orang tersebut, dengan sebuah pukulan..
Deru nafas gw memburu seiring aliran darah yang semakin cepat.. Gw kecewa mengetahui ketiga orang yang gw harapkan mau memberi sedikit ketenangan di tiap riak masalah dalam hidup, malah semakin menambah berat beban yang gw pikul..
“Gw kecewa sama lu bertiga.. Awalnya gw mau nyari ketenangan dari lu.. Tapi, nyata nya lu bertiga malah kek TA*!!!” Ucap gw sengaja memberi penekanan pada kata terakhir di kalimat gw..
“Mana kalimat lu yang bilang akan selalu ada buat gw, Dho? Bukan malah ringanin beban gw tapi lu malah bikin hidup gw makin berantakan.. Ga ada sodara yang tega ninggalin sodara nya yang laen pas lagi down kek gw, kecuali lu, Dho! Lu semua emang ANJIN*, tau ga!!” Teriak gw lagi memuntahkan semua amarah lewat lisan..
“Mulai sekarang, gw anggap lu semua bukan lagi saudara.. Kita ambil jalan masing-masing.. Hubungan sodara kita kelar sampe sini.. Dan jangan coba buat nemuin gw” Ancam gw yang membuat Ridho seketika membesarkan kedua matanya karena terkejut..
Dengan berjalan tanpa semangat, gw keluar dari kamar yang tidak akan lagi gw jamah, menuju garasi.. Gw segera menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan kendaraan itu dari garasi rumah Ridho sedikit cepat, dengan rongga dada dipenuhi amarah dan sedih yang semakin memuncak..
Persis di depan sebuah rumah kosong yang tidak begitu jauh dari rumah Ridho, gw menghentikan laju kendaraan dan menyalakan lagu yang volume nya sudah gw naikkan dengan sengaja.. Airmata yang sudah tak mampu lagi gw tahan, akhirnya keluar juga dari kedua bola mata yang makin terasa pedih..
“ANJII**!!!” Teriak gw sekeras mungkin sambil memukul jok yang ada disebelah kiri beberapa kali..
Tak hanya sekali teriakan memaki gw terdengar saling bersahutan dengan hentakan lagu.. Entah berapa puluh pukulan tangan kosong gw yang menghantam jok sebelah kiri.. Hingga akhirnya gw hanya bisa menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan berteriak parau didalamnya..
Lengkap sudah penderitaan yang gw alami.. Semua orang yang gw sayang pergi meninggalkan gw dalam keterpurukan.. Hanya Ibu dan Ayu yang tersisa.. Ya! Harapan gw hanya tinggal Ibu dan Ayu.. Gw ga sanggup menerima ujian ini, jika mereka berdua juga meninggalkan gw..
Setelah setengah puas melampiaskan rasa amarah dan sedih yang menyatu, gw menyeka airmata dari kedua indera penglihatan ini.. Perlahan, gw mulai menjalan kan mobil peninggalan Ayah dan melaju di jalan yang cukup ramai..
Entah kemana gw mau menuju.. Jika pulang ke rumah, rasa hati gw masih terasa berat untuk bertemu Ibu dan menceritakan tentang kabar pemecatan.. Gw takut akan mengecewakan Ibu.. Gw tidak mau melihat Ibu sedih saat mengetahui gw yang telah gagal untuk membuatnya bangga..
Persis di perempatan, semua kendaraan harus berhenti karena lampu merah.. Beberapa orang pengemis mulai menyerbu untuk meminta sedikit rezeki dari penumpang kendaraan roda empat maupun roda dua.. Pandangan mata gw terpaku saat melihat seorang laki-laki tuna netra berusia paruh baya yang sedang di tuntun oleh seorang anak kecil.. Entah mengapa, tiba-tiba benak gw langsung teringat akan sosok Almarhum Ayah..
Setitik rasa rindu mulai terbit dari relung hati gw yang paling dalam terhadap sosok yang selalu mengayomi gw saat masalah mendera seperti sekarang ini.. Setelah memberi selembar uang lima ribuan ke anak kecil yang menuntun laki-laki tuna netra itu, gw langsung melajukan kendaraan begitu lampu merah berganti hijau..
Tanpa pikir panjang, gw mengambil jalur sebelah kanan dan melajukan kendaraan sedikit cepat.. Tepat di sebuah gerbang besi dengan tulisan Tempat Pemakaman Umum, dimana jasad Ayah beristirahat dengan tenang, gw menghentikan mobil..
Seorang kakek tua berbaju putih lusuh dengan celana panjang hitam di atas mata kaki, nampak sedang berjongkok di tanah, berusaha membersihkan rumput-rumput liar dari sebuah makam..
“Asslammualaikum, Bah” Sapa gw memberi salam ke laki-laki yang bernama Abah Ipin, penjaga makam sekaligus petugas pembersih seluruh area pemakaman umum ini.. Sapaan gw barusan membuat laki-laki yang biasa gw panggil hanya dengan sebuatn Abah itu, berdiri dan membalikkan badan menghadap gw..
“Anak ini siapa yah? Maaf kalau abah lupa.. Maklum, usia sudah diujung” Tanya Abah Ipin sembari mengerutkan dahinya yang nampak dibanjiri keringat sebesar biji jagung..
“Saya Imam, putra almarhum Pak Idris” Jawab gw disusul sebuah senyuman..
Abah Ipin nampak tersenyum juga, lalu selangkah maju mendekat dan menatap gw dari ujung kaki sampai kepala..
“Ohh.. Imam.. Pantas abah ga kenal.. Pakaiannya masih rapih.. Biasanya kesini pakai baju koko sama peci, itu juga udah lama yah” Jawab Abah Ipin..
“Baru pulang kerja, Bah.. Sekalian mampir ke sini.. Kangen sama Ayah.. Ya sudah, saya tinggal dulu ya, Bah..” Kata gw lalu berjalan meninggalkan Abah Ipin, menuju makam Ayah..
Disebuah makam bernisan marmer hitam dengan pinggiran yang juga sudah di marmer berwarna sama, gw berlutut sambil membersihkan permukaan nisan yang nampak sedikit berdebu..
“Ayah, ini abang.. Maafin abang kalo jarang mengunjungi Ayah.. Yah, abang kangen banget sama Ayah” Ucap gw sambil menyeka dua tetes airmata yang tanpa sadar sudah mengalir..
“Abang sekarang lagi di uji, Yah.. Orang-orang yang abang sayang pergi menjauh.. Benda yang selalu menemani abang hilang.. Bahkan abang juga dipecat dari kerjaan tadi pagi.. Abang bingung mau cerita sama siapa, Yah.. Biasanya Ayah yang selalu ngelus kepala abang kalo lagi kek gini..” Kata gw sambil menatap kosong ke sederet nama yang tertulis di atas nisan..
“Abang boleh tinggal sebentar disini kan, Yah.. Abang ga mau pulang dulu.. Abang malu sama Ibu.. Abang ngerasa udah gagal jadi anak Ayah sama Ibu..” Ucap gw diiringi airmata yang sudah kembali berderai..
“Abang harus gimana, Yah.. Abang bingung mau kemana dan ngapain.. Seandainya bisa, Abang pengen ikut Ayah.. Abang kangen di peluk sama Ayah.. Abang kangen di omelin Ayah.. Abang kangen Yah” Ucap gw sambil menundukkan kepala karena derasnya air mata semakin membuat dada ini sesak..
Tiba-tiba, kepala gw naik saat merasa tangan seseorang memegang bahu.. Gw langsung menyeka kedua belah mata dan menoleh ke samping kanan.. Cukup terkejut gw dibuatnya, begitu melihat siapa gerangan sosok yang datang dan kini sudah berdiri disebelah kanan gw sambil tersenyum..
Ridho sendiri terlihat seperti sengaja menyibukkan diri dengan menyentuh layar Hp nya berulang-ulang.. Sesekali gw bisa melihat kedua matanya melirik ke arah gw lalu kembali menatap layar Hp, bertingkah seperti seseorang yang sudah melakukan kesalahan, tapi seolah-olah tidak terjadi apa-apa..
“Njirr!! Dia emang bisa baca pikiran gw” Kembali suara Ridho terdengar dalam benak ini, sekaligus membuat gw terkejut pula..
“Udah, Mam.. Jangan baca pikiran gw deh.. Males gw kalo kek gini” Kata Ridho lewat lisannya sendiri seraya meletakkan lagi Hp ya di atas meja belajar..
Gw tertegun mendengar kalimat Ridho.. Dalam hati gw bertanya-tanya, apakah memang benar gw bisa membaca pikiran orang, seperti kelebihan yang Suluh miliki..
“Jadi gw bisa baca pikiran lu, bree? Pantes dari tadi gw kek denger suara lu, pas gw lihat lu malah lagi diem” Ucap gw sambil menatap Ridho dengan pandangan setengah percaya..
Saudara gw itu nampak hanya membalas dengan senyuman getir.. Entah mengapa reaksi Ridho dari pertama gw datang, terlihat seperti orang yang tidak suka..
“Tapi tunggu dah, yang kalimat pertama gw denger, itu beneran ada di otak lu, Bree? Terus maksud lu apa tadi bilang semua gara-gara gw?” Tanya gw saat kembali ingat isi kepala Ridho yang sempat terbaca oleh gw..
Ridho sendiri nampak berdiri dan melangkah maju dua kaki, lalu berhenti tepat selangkah di hadapan gw yang masih terduduk di pinggir kasurnya.. Sorot mata Ridho terkesan seperti sedang mengisyaratkan suatu amarah yang terpendam..
“Lu bilang, Sekar dan Bayu Barata ninggalin lu kan, Mam.. Lu tahu, Naga Saksana sama Nyai Lingga juga ninggalin gw.. Terus Rampak Tantra dan Nyi Laras Abang juga sama-sama ninggalin Bimo dan Suluh.. Lu mo tau kenapa, karena ini ada hubungannya dengan Mati Suri nya lu, Mam.. Semua jin penjaga kita dipaksa pergi karena lu” Ucapan Ridho yang bernada tinggi barusan membuat gw sangat terkejut dan seketika gw ikut berdiri dari kasurnya..
Jelas sekali gw merasakan ada rasa benci tersirat dari tiap kalimat yang dilontarkan salah satu saudara gw itu.. Entah apa alasannya, yang pasti menerima sorot mata tajam dan penyalahan atas apa yang sudah terjadi dari Ridho, membuat gw jengkel..
“Jadi lu nyalahin gw, Dho? Lu pikir semua ini tanggung jawab gw? Lu pikir gw mau mati suri? Hah!” Bentak gw sambil mendorong tubuh Ridho ke belakang, lalu menatap nya dengan sorot mata yang jauh lebih tajam..
Ridho sendiri hanya bisa terdiam tanpa menjawab apapun.. Gw lihat dua tangannya sudah terkepal, seperti siap untuk memberi pukulan ke gw..
“Kenapa? Lu mo mukul gw? Pukul, Dho! Nih muka gw.. Gw kan yang udah bikin semua jin penjaga lu juga pergi? Kenapa ragu? Ayo pukul!” Teriak gw dengan menarik tangan kanan Ridho yang masih terkepal..
Saudara gw itu, menarik pergelangan tangan kanan nya dari pegangan tangan gw.. Kemudian mundur selangkah ke belakang dengan wajah tertunduk untuk sesaat, lalu kembali menatap ke arah gw..
“Gw ngerti sekarang, kenapa lu, Bimo dan Suluh cuma baca WA gw doank, ga mau bales.. Ternyata lu bertiga nyalahin gw buat semua yang udah terjadi.. Asli, gw ga nyangka lu bertiga tega ngelakuin ini ke gw” Ucap gw dengan suara bergetar dan dua tangan yang juga sudah sejak tadi terkepal..
BUGG!!!
Suara pukulan kepalan tangan gw di dinding kamar Ridho, terdengar cukup keras, bahkan mambuat seluruh rumah ikut bergetar untuk beberapa saat.. Seandainya bukan Ridho yang mengatakan hal tadi, niscaya sudah gw buat jatuh terjengkang orang tersebut, dengan sebuah pukulan..
Deru nafas gw memburu seiring aliran darah yang semakin cepat.. Gw kecewa mengetahui ketiga orang yang gw harapkan mau memberi sedikit ketenangan di tiap riak masalah dalam hidup, malah semakin menambah berat beban yang gw pikul..
“Gw kecewa sama lu bertiga.. Awalnya gw mau nyari ketenangan dari lu.. Tapi, nyata nya lu bertiga malah kek TA*!!!” Ucap gw sengaja memberi penekanan pada kata terakhir di kalimat gw..
“Mana kalimat lu yang bilang akan selalu ada buat gw, Dho? Bukan malah ringanin beban gw tapi lu malah bikin hidup gw makin berantakan.. Ga ada sodara yang tega ninggalin sodara nya yang laen pas lagi down kek gw, kecuali lu, Dho! Lu semua emang ANJIN*, tau ga!!” Teriak gw lagi memuntahkan semua amarah lewat lisan..
“Mulai sekarang, gw anggap lu semua bukan lagi saudara.. Kita ambil jalan masing-masing.. Hubungan sodara kita kelar sampe sini.. Dan jangan coba buat nemuin gw” Ancam gw yang membuat Ridho seketika membesarkan kedua matanya karena terkejut..
Dengan berjalan tanpa semangat, gw keluar dari kamar yang tidak akan lagi gw jamah, menuju garasi.. Gw segera menyalakan mesin mobil dan mengeluarkan kendaraan itu dari garasi rumah Ridho sedikit cepat, dengan rongga dada dipenuhi amarah dan sedih yang semakin memuncak..
Persis di depan sebuah rumah kosong yang tidak begitu jauh dari rumah Ridho, gw menghentikan laju kendaraan dan menyalakan lagu yang volume nya sudah gw naikkan dengan sengaja.. Airmata yang sudah tak mampu lagi gw tahan, akhirnya keluar juga dari kedua bola mata yang makin terasa pedih..
“ANJII**!!!” Teriak gw sekeras mungkin sambil memukul jok yang ada disebelah kiri beberapa kali..
Tak hanya sekali teriakan memaki gw terdengar saling bersahutan dengan hentakan lagu.. Entah berapa puluh pukulan tangan kosong gw yang menghantam jok sebelah kiri.. Hingga akhirnya gw hanya bisa menutup wajah dengan kedua telapak tangan dan berteriak parau didalamnya..
Lengkap sudah penderitaan yang gw alami.. Semua orang yang gw sayang pergi meninggalkan gw dalam keterpurukan.. Hanya Ibu dan Ayu yang tersisa.. Ya! Harapan gw hanya tinggal Ibu dan Ayu.. Gw ga sanggup menerima ujian ini, jika mereka berdua juga meninggalkan gw..
Setelah setengah puas melampiaskan rasa amarah dan sedih yang menyatu, gw menyeka airmata dari kedua indera penglihatan ini.. Perlahan, gw mulai menjalan kan mobil peninggalan Ayah dan melaju di jalan yang cukup ramai..
Entah kemana gw mau menuju.. Jika pulang ke rumah, rasa hati gw masih terasa berat untuk bertemu Ibu dan menceritakan tentang kabar pemecatan.. Gw takut akan mengecewakan Ibu.. Gw tidak mau melihat Ibu sedih saat mengetahui gw yang telah gagal untuk membuatnya bangga..
Persis di perempatan, semua kendaraan harus berhenti karena lampu merah.. Beberapa orang pengemis mulai menyerbu untuk meminta sedikit rezeki dari penumpang kendaraan roda empat maupun roda dua.. Pandangan mata gw terpaku saat melihat seorang laki-laki tuna netra berusia paruh baya yang sedang di tuntun oleh seorang anak kecil.. Entah mengapa, tiba-tiba benak gw langsung teringat akan sosok Almarhum Ayah..
Setitik rasa rindu mulai terbit dari relung hati gw yang paling dalam terhadap sosok yang selalu mengayomi gw saat masalah mendera seperti sekarang ini.. Setelah memberi selembar uang lima ribuan ke anak kecil yang menuntun laki-laki tuna netra itu, gw langsung melajukan kendaraan begitu lampu merah berganti hijau..
Tanpa pikir panjang, gw mengambil jalur sebelah kanan dan melajukan kendaraan sedikit cepat.. Tepat di sebuah gerbang besi dengan tulisan Tempat Pemakaman Umum, dimana jasad Ayah beristirahat dengan tenang, gw menghentikan mobil..
Seorang kakek tua berbaju putih lusuh dengan celana panjang hitam di atas mata kaki, nampak sedang berjongkok di tanah, berusaha membersihkan rumput-rumput liar dari sebuah makam..
“Asslammualaikum, Bah” Sapa gw memberi salam ke laki-laki yang bernama Abah Ipin, penjaga makam sekaligus petugas pembersih seluruh area pemakaman umum ini.. Sapaan gw barusan membuat laki-laki yang biasa gw panggil hanya dengan sebuatn Abah itu, berdiri dan membalikkan badan menghadap gw..
“Anak ini siapa yah? Maaf kalau abah lupa.. Maklum, usia sudah diujung” Tanya Abah Ipin sembari mengerutkan dahinya yang nampak dibanjiri keringat sebesar biji jagung..
“Saya Imam, putra almarhum Pak Idris” Jawab gw disusul sebuah senyuman..
Abah Ipin nampak tersenyum juga, lalu selangkah maju mendekat dan menatap gw dari ujung kaki sampai kepala..
“Ohh.. Imam.. Pantas abah ga kenal.. Pakaiannya masih rapih.. Biasanya kesini pakai baju koko sama peci, itu juga udah lama yah” Jawab Abah Ipin..
“Baru pulang kerja, Bah.. Sekalian mampir ke sini.. Kangen sama Ayah.. Ya sudah, saya tinggal dulu ya, Bah..” Kata gw lalu berjalan meninggalkan Abah Ipin, menuju makam Ayah..
Disebuah makam bernisan marmer hitam dengan pinggiran yang juga sudah di marmer berwarna sama, gw berlutut sambil membersihkan permukaan nisan yang nampak sedikit berdebu..
“Ayah, ini abang.. Maafin abang kalo jarang mengunjungi Ayah.. Yah, abang kangen banget sama Ayah” Ucap gw sambil menyeka dua tetes airmata yang tanpa sadar sudah mengalir..
“Abang sekarang lagi di uji, Yah.. Orang-orang yang abang sayang pergi menjauh.. Benda yang selalu menemani abang hilang.. Bahkan abang juga dipecat dari kerjaan tadi pagi.. Abang bingung mau cerita sama siapa, Yah.. Biasanya Ayah yang selalu ngelus kepala abang kalo lagi kek gini..” Kata gw sambil menatap kosong ke sederet nama yang tertulis di atas nisan..
“Abang boleh tinggal sebentar disini kan, Yah.. Abang ga mau pulang dulu.. Abang malu sama Ibu.. Abang ngerasa udah gagal jadi anak Ayah sama Ibu..” Ucap gw diiringi airmata yang sudah kembali berderai..
“Abang harus gimana, Yah.. Abang bingung mau kemana dan ngapain.. Seandainya bisa, Abang pengen ikut Ayah.. Abang kangen di peluk sama Ayah.. Abang kangen di omelin Ayah.. Abang kangen Yah” Ucap gw sambil menundukkan kepala karena derasnya air mata semakin membuat dada ini sesak..
Tiba-tiba, kepala gw naik saat merasa tangan seseorang memegang bahu.. Gw langsung menyeka kedua belah mata dan menoleh ke samping kanan.. Cukup terkejut gw dibuatnya, begitu melihat siapa gerangan sosok yang datang dan kini sudah berdiri disebelah kanan gw sambil tersenyum..
dodolgarut134 dan 17 lainnya memberi reputasi
18