- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#472
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
“Ma.. Maksud Bapak?” Tanya gw dengan suara sempat terbata-bata..
“Loh.. Kenapa masih menanyakan maksud saya? Kan sudah jelas saya bilang barusan, bahwa mulai hari ini kamu, saudara Imam Al Fattah, sudah dipecat.. Ini ada dua amplop.. Yang satu berisi surat Pemutusan Hubungan Kerja, dan satu nya lagi ada sejumlah uang penghargaan dari saya pribadi.. Silahkan di terima.. Dan, sekali lagi saya mohon maaf” Jelas Pak Sugi sekali lagi untuk mempertegas ucapannya yang pertama..
Gw langsung speechless, Gan.. Kedua tangan gw yang semula ada di sandaran tangan kursi, seketika turun dan terkepal dengan sendirinya diatas dua paha.. Tatapan mata gw memandang nanar ke arah dua amplop putih yang ada diatas meja persis di hadapan gw..
“Kamu itu sebenarnya termasuk salah satu tenaga potensial di kantor ini, Imam.. Saya bahkan sempat terpikir untuk mendaftarkan kamu untuk ikut test masuk PNS.. Tapi menurut laporan beberapa staff, kinerja kamu semakin kesini semakin menurun, terutama dari segi absensi.. Jadi terpaksa saya mengambil langkah ini” Kata Pak Sugi sambil menyandarkan punggung nya di kursi besar..
Kepala gw yang semula menunduk, mulai terangkat dan menatap wajah Pimpinan instansi yang akan segera gw tinggalkan ini..
“Mengapa saya tidak mendapat teguran terlebih dahulu baik secara lisan maupun tulisan, Pak?“ Tanya gw dengan nada suara sedikit meninggi..
Pak Sugi sendiri membalas tatapan dan pertanyaan gw barusan hanya dengan sebuah senyuman yang terkesan meremehkan, lalu beliau bangkit berdiri dari bangku nya dan berjalan menuju pintu yang tertutup..
“Ini sudah menjadi keputusan saya sebagai pimpinan.. Apapun tidak bisa mengubahnya.. Sekarang, silahkan keluar dari ruangan saya” Ucap Pak Sugi yang terdengar dari belakang dengan suara agak naik..
Gw menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.. Kemudian, gw berdiri dari bangku tanpa mengambil satu pun amplop yang ada di atas meja dan melangkah kan kedua kaki untuk berjalan menuju pintu.. Gw menyempatkan diri untuk mencium tangan laki-laki bertubuh gempal tersebut, sebelum keluar dari ruangannya.. Kembali gw merasakan sensasi seperti terkena sengatan listrik, tapi gw tahan kali ini..
Tiada kata yang bisa menggambarkan suasana hati gw saat ini.. Semua beban yang terasa menyatu, membuat bahu gw seperti sedang memikul sebongkah batu sangat besar.. Dengan tatapan sendu, gw mulai merapihkan meja kerja, memasukkan barang-barang pribadi yang memang kepunyaan gw, lalu berjalan menelusuri koridor untuk menuju tempat parkir..
Beberapa staff lain yang menyapa gw, hanya gw balas dengan seyuman getir.. Gw juga tidak berpamitan ke rekan-rekan sepekerjaan yang lain, seperti Pak Rudi.. Saat ini yang ada di benak gw hanya ingin pergi jauh dan berteriak sekencang-kencangnya untuk memuntahkan segala keluh kesah yang gw rasakan..
Di tempat parkir, pandangan mata gw terpaku ke sebuah mobil Hond* Ja** hitam yang baru saja memasuki gerbang.. Dari nomer seri nya, gw ingat betul mobil itu yang pernah menyerempet mobil peninggalan Ayah.. Dan benar saja, seorang gadis cantik yang gw ingat bernama Ayu, keluar dari kendaraan tersebut serta langsung melempar senyuman manisnya ke arah gw..
Gw sendiri hanya membalas senyumannya, dengan anggukan kepala dan wajah dihiasi sebuah senyuman yang sedikit gw paksakan.. Pandangan mata gw sempat tertegun melihat penampilan cewe yang bernama Ayu itu.. Penampilannya sangat jauh berbeda dari saat terakhir kali kami bertemu..
Waktu itu, gw ingat betul rambutnya yang panjang sepunggung berwarna kemerahan.. Tapi kali ini sudah hitam legam kembali.. Dan pakaiannya yang dahulu cenderung terbuka, sekarang nampak anggun di balut seragam kerja berwarna sama dengan yang gw kenakan.. Meski tidak memakai hijab, tapi penampilan Ayu sudah sangat enak dilihat, dengan baju panjang yang di bordir khusus pada ujung tangan dan rok panjang yang menyentuh sepatu kerja sedikit ber hak tinggi..
“Imam! Ya, Ampun! Aku ga nyangka bisa ketemu lagi sama kamu disini” Ucap Ayu dengan diiringi senyuman manis, sambil terus berjalan mendekat..
Gw yang hendak membuka pintu mobil, terpaksa mencabut kembali kunci yang sudah masuk.. Lalu membalas sapaan Ayu dengan senyuman pula..
“Ohh iya.. Aku minta maaf yaa soal mobil kamu.. Tapi udah beres kan sekarang? Aku ga enak banget soalnya” Kata Ayu lagi..
“Iya, ga apa-apa, Yu.. Makasih udah mo benerin mobil bokap gw yah.. Ehh, lu koq bisa ada disini, mo ngelamar kerja? Kebetulan ada satu bagian yang kosong tuh di bagian keuangan” Jawab gw ke Ayu..
“Aku udah diterima koq, Mam.. Dan bagian aku emang di keuangan.. Terus, kamu kerja disini juga? Asyiik, kalo gitu kita jadi rekan sekantor donk hari ini”
Ucapan Ayu barusan sedikit membuat gw terkejut.. Ternyata instansi ini sudah mendapatkan orang lain yang akan menempati posisi gw sebelumnya, dan orang itu adalah Ayu..
“Tadi nya gw emang kerja disini, tapi sekarang udah ga lagi, Yu.. Btw, selamat yah.. Setahu gw bagian keuangan itu orang nya enak-enak koq.. Lu pasti betah” Jawab gw atas pertanyaan Ayu sambil menyodorkan tangan kanan untuk menyalaminya..
Ayu sendiri nampak kaget mendengar ucapan gw barusan, lalu menjabat tangan gw sambil terus menatap bingung..
“Ya udah.. Gw cabut duluan yah, Yu..” Kata gw lagi yang tidak ingin berlama-lama berada ditempat itu..
Dengan sedikit cepat, gw memasukkan kunci dan membuka pintu mobil..
“Ehh, Imam, tunggu!” Ucap Ayu sambil memegang lengan kiri gw..
Gw seketika mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobil, lalu melirik ke arah pegangan tangan Ayu yang masih ada di lengan gw.. Dengan wajah agak bersemu merah, gadis itu segera melepaskan pegangannya..
“Aku sempet minta nomer kamu sama temen kamu yang waktu itu nemenin aku bawa mobil ini ke bengkel.. Maaf ga izin lagi ke kamu nya.. Tapi, kapan-kapan, aku boleh telpon kamu, yah”
Ucapan Ayu barusan hanya gw balas dengan anggukan kepala sebagai tanda untuk mengiyakan permintaannya.. Setelah itu, gw segera masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.. Gw sempat melihat wajah Ayu yang dpenuhi kebingungan, dari spion kanan..
Dengan perasaan bercampur aduk, gw kemudikan mobil sedikit cepat menuju rumah Ridho.. Gw harus mencari seseorang untuk mencurahkan semua keluh kesah gw, setidaknya agar perasaan ini menjadi lebih baik.. Tak berapa lama, gw pun tiba di rumah salah satu saudara gw itu.. Kebetulan, Ridho terlihat sedang duduk termenung di depan teras rumahnya..
Melihat mobil yang gw kemudikan, Ridho nampak sedikit terkejut, lalu bergegas masuk ke dalam.. Setelah memarkirkan mobil di garasinya, gw langsung berjalan menuju kamar Ridho.. Disana, gw melihat Ridho memegangi Hp seperti edang mengetik pesan yang entah akan dikirmkan untuk siapa..
“Lu ga baca WA gw, Bree?” Tanya gw sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya, lalu memejamkan kedua mata, menunggu alasan Ridho sebagai jawaban dari pertanyaan gw..
“Gw baru buka Hp” Balas Ridho sedikit kaku..
Gw sempat membuka mata dan melirik ke arah nya yang masih terlihat sibuk mengetik..
“Lu lagi ribut sama Suluh, Bree? BT amat muka lu” Tanya gw yang penasaran, tapi malah dibalas hanya dengan gelengan kepala Ridho..
Perlahan, gw bangkit dan duduk berpangku tangan di atas paha.. Tatapan mata gw kosong menatap poster Kylie Jenner di dinding kamar ini.. Benak gw kembali mengingat kilasan rentetan kejadian yang membuat gw kehilangan semangat.. Beruntung gw masih mempunyai tiga orang saudara yang gw yakin akan selalu bahu untuk gw bersadar disaat seperti ini..
“Hidup gw lagi kaco banget, Bree” Ucap gw mengawali curhatan ke Ridho, sambil memutar posisi tubuh hingga menghadapnya..
Ridho sendiri nampak menghentikan kegiatannya dan meletakkan Hp di atas meja belajar, lalu menatap gw sedikit aneh..
“Gw berturut-turut di hantam masalah.. Dari mulai hilangnya Pedang Jagat Samudera, hubungan gw yang berantakan sama Anggie, terus Bayu Barata sama Sekar juga pergi ninggalin gw, dan barusan gw dipecat dari kerjaan, Bree” Lanjut gw seraya melayangkan pandangan ke langit-langit kamar dengan mulut terkunci..
Sejenak, gw menarik nafas dalam-dalam sambil tetap menatap langit-langit kamar, berusaha mencari jawaban atas kesalahan apa yang membuat gw sampai tersandung masalah bertubi-tubi.. Tentu saja tidak ada jawaban apapun disana, yang terlihat malah dua ekor cicak sedang berkejaran satu sama lain..
“Kalo aja lu tau, Mam.. Ini semua gara-gara lu juga?” Tiba-tiba, benak gw seperti mendengar suara Ridho yang nampak sedang mengambil Hpnya kembali, setelah terdengar bunyi pesan masuk dari benda miliknya itu..
“Maksud lu gara-gara gw apa, bree?” Tanya gw yang membuat Ridho langsung menatap wajah gw dengan heran..
“Maksud lu?” Kata Ridho balas bertanya..
Gw terdiam mendengar pertanyaan Ridho disertai tampang nya yang menyiratkan ketidak mengertian.. Beberapa kali pandangan gw bertemu dengan tatapan mata Ridho..
“Gw salah denger keknya, Bree.. Tadi gw kek sempet denger, lu ngomong ini semua gara-gara gw” Kata gw mencoba menjelaskan ke arah Ridho, dan membuat salah satu saudara gw itu membesarkan kedua matanya karena terkejut..
“Jangan bilang si Imam bisa baca pikiran gw” Lagi-lagi gw mendengar suara Ridho berbicara dalam benak, dan seketika gw menatap salah satu saudara gw itu dengan tajam..
“Ma.. Maksud Bapak?” Tanya gw dengan suara sempat terbata-bata..
“Loh.. Kenapa masih menanyakan maksud saya? Kan sudah jelas saya bilang barusan, bahwa mulai hari ini kamu, saudara Imam Al Fattah, sudah dipecat.. Ini ada dua amplop.. Yang satu berisi surat Pemutusan Hubungan Kerja, dan satu nya lagi ada sejumlah uang penghargaan dari saya pribadi.. Silahkan di terima.. Dan, sekali lagi saya mohon maaf” Jelas Pak Sugi sekali lagi untuk mempertegas ucapannya yang pertama..
Gw langsung speechless, Gan.. Kedua tangan gw yang semula ada di sandaran tangan kursi, seketika turun dan terkepal dengan sendirinya diatas dua paha.. Tatapan mata gw memandang nanar ke arah dua amplop putih yang ada diatas meja persis di hadapan gw..
“Kamu itu sebenarnya termasuk salah satu tenaga potensial di kantor ini, Imam.. Saya bahkan sempat terpikir untuk mendaftarkan kamu untuk ikut test masuk PNS.. Tapi menurut laporan beberapa staff, kinerja kamu semakin kesini semakin menurun, terutama dari segi absensi.. Jadi terpaksa saya mengambil langkah ini” Kata Pak Sugi sambil menyandarkan punggung nya di kursi besar..
Kepala gw yang semula menunduk, mulai terangkat dan menatap wajah Pimpinan instansi yang akan segera gw tinggalkan ini..
“Mengapa saya tidak mendapat teguran terlebih dahulu baik secara lisan maupun tulisan, Pak?“ Tanya gw dengan nada suara sedikit meninggi..
Pak Sugi sendiri membalas tatapan dan pertanyaan gw barusan hanya dengan sebuah senyuman yang terkesan meremehkan, lalu beliau bangkit berdiri dari bangku nya dan berjalan menuju pintu yang tertutup..
“Ini sudah menjadi keputusan saya sebagai pimpinan.. Apapun tidak bisa mengubahnya.. Sekarang, silahkan keluar dari ruangan saya” Ucap Pak Sugi yang terdengar dari belakang dengan suara agak naik..
Gw menghela nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan.. Kemudian, gw berdiri dari bangku tanpa mengambil satu pun amplop yang ada di atas meja dan melangkah kan kedua kaki untuk berjalan menuju pintu.. Gw menyempatkan diri untuk mencium tangan laki-laki bertubuh gempal tersebut, sebelum keluar dari ruangannya.. Kembali gw merasakan sensasi seperti terkena sengatan listrik, tapi gw tahan kali ini..
Tiada kata yang bisa menggambarkan suasana hati gw saat ini.. Semua beban yang terasa menyatu, membuat bahu gw seperti sedang memikul sebongkah batu sangat besar.. Dengan tatapan sendu, gw mulai merapihkan meja kerja, memasukkan barang-barang pribadi yang memang kepunyaan gw, lalu berjalan menelusuri koridor untuk menuju tempat parkir..
Beberapa staff lain yang menyapa gw, hanya gw balas dengan seyuman getir.. Gw juga tidak berpamitan ke rekan-rekan sepekerjaan yang lain, seperti Pak Rudi.. Saat ini yang ada di benak gw hanya ingin pergi jauh dan berteriak sekencang-kencangnya untuk memuntahkan segala keluh kesah yang gw rasakan..
Di tempat parkir, pandangan mata gw terpaku ke sebuah mobil Hond* Ja** hitam yang baru saja memasuki gerbang.. Dari nomer seri nya, gw ingat betul mobil itu yang pernah menyerempet mobil peninggalan Ayah.. Dan benar saja, seorang gadis cantik yang gw ingat bernama Ayu, keluar dari kendaraan tersebut serta langsung melempar senyuman manisnya ke arah gw..
Gw sendiri hanya membalas senyumannya, dengan anggukan kepala dan wajah dihiasi sebuah senyuman yang sedikit gw paksakan.. Pandangan mata gw sempat tertegun melihat penampilan cewe yang bernama Ayu itu.. Penampilannya sangat jauh berbeda dari saat terakhir kali kami bertemu..
Waktu itu, gw ingat betul rambutnya yang panjang sepunggung berwarna kemerahan.. Tapi kali ini sudah hitam legam kembali.. Dan pakaiannya yang dahulu cenderung terbuka, sekarang nampak anggun di balut seragam kerja berwarna sama dengan yang gw kenakan.. Meski tidak memakai hijab, tapi penampilan Ayu sudah sangat enak dilihat, dengan baju panjang yang di bordir khusus pada ujung tangan dan rok panjang yang menyentuh sepatu kerja sedikit ber hak tinggi..
“Imam! Ya, Ampun! Aku ga nyangka bisa ketemu lagi sama kamu disini” Ucap Ayu dengan diiringi senyuman manis, sambil terus berjalan mendekat..
Gw yang hendak membuka pintu mobil, terpaksa mencabut kembali kunci yang sudah masuk.. Lalu membalas sapaan Ayu dengan senyuman pula..
“Ohh iya.. Aku minta maaf yaa soal mobil kamu.. Tapi udah beres kan sekarang? Aku ga enak banget soalnya” Kata Ayu lagi..
“Iya, ga apa-apa, Yu.. Makasih udah mo benerin mobil bokap gw yah.. Ehh, lu koq bisa ada disini, mo ngelamar kerja? Kebetulan ada satu bagian yang kosong tuh di bagian keuangan” Jawab gw ke Ayu..
“Aku udah diterima koq, Mam.. Dan bagian aku emang di keuangan.. Terus, kamu kerja disini juga? Asyiik, kalo gitu kita jadi rekan sekantor donk hari ini”
Ucapan Ayu barusan sedikit membuat gw terkejut.. Ternyata instansi ini sudah mendapatkan orang lain yang akan menempati posisi gw sebelumnya, dan orang itu adalah Ayu..
“Tadi nya gw emang kerja disini, tapi sekarang udah ga lagi, Yu.. Btw, selamat yah.. Setahu gw bagian keuangan itu orang nya enak-enak koq.. Lu pasti betah” Jawab gw atas pertanyaan Ayu sambil menyodorkan tangan kanan untuk menyalaminya..
Ayu sendiri nampak kaget mendengar ucapan gw barusan, lalu menjabat tangan gw sambil terus menatap bingung..
“Ya udah.. Gw cabut duluan yah, Yu..” Kata gw lagi yang tidak ingin berlama-lama berada ditempat itu..
Dengan sedikit cepat, gw memasukkan kunci dan membuka pintu mobil..
“Ehh, Imam, tunggu!” Ucap Ayu sambil memegang lengan kiri gw..
Gw seketika mengurungkan niat untuk masuk ke dalam mobil, lalu melirik ke arah pegangan tangan Ayu yang masih ada di lengan gw.. Dengan wajah agak bersemu merah, gadis itu segera melepaskan pegangannya..
“Aku sempet minta nomer kamu sama temen kamu yang waktu itu nemenin aku bawa mobil ini ke bengkel.. Maaf ga izin lagi ke kamu nya.. Tapi, kapan-kapan, aku boleh telpon kamu, yah”
Ucapan Ayu barusan hanya gw balas dengan anggukan kepala sebagai tanda untuk mengiyakan permintaannya.. Setelah itu, gw segera masuk ke dalam mobil dan mulai menyalakan mesinnya.. Gw sempat melihat wajah Ayu yang dpenuhi kebingungan, dari spion kanan..
Dengan perasaan bercampur aduk, gw kemudikan mobil sedikit cepat menuju rumah Ridho.. Gw harus mencari seseorang untuk mencurahkan semua keluh kesah gw, setidaknya agar perasaan ini menjadi lebih baik.. Tak berapa lama, gw pun tiba di rumah salah satu saudara gw itu.. Kebetulan, Ridho terlihat sedang duduk termenung di depan teras rumahnya..
Melihat mobil yang gw kemudikan, Ridho nampak sedikit terkejut, lalu bergegas masuk ke dalam.. Setelah memarkirkan mobil di garasinya, gw langsung berjalan menuju kamar Ridho.. Disana, gw melihat Ridho memegangi Hp seperti edang mengetik pesan yang entah akan dikirmkan untuk siapa..
“Lu ga baca WA gw, Bree?” Tanya gw sambil merebahkan diri di atas tempat tidurnya, lalu memejamkan kedua mata, menunggu alasan Ridho sebagai jawaban dari pertanyaan gw..
“Gw baru buka Hp” Balas Ridho sedikit kaku..
Gw sempat membuka mata dan melirik ke arah nya yang masih terlihat sibuk mengetik..
“Lu lagi ribut sama Suluh, Bree? BT amat muka lu” Tanya gw yang penasaran, tapi malah dibalas hanya dengan gelengan kepala Ridho..
Perlahan, gw bangkit dan duduk berpangku tangan di atas paha.. Tatapan mata gw kosong menatap poster Kylie Jenner di dinding kamar ini.. Benak gw kembali mengingat kilasan rentetan kejadian yang membuat gw kehilangan semangat.. Beruntung gw masih mempunyai tiga orang saudara yang gw yakin akan selalu bahu untuk gw bersadar disaat seperti ini..
“Hidup gw lagi kaco banget, Bree” Ucap gw mengawali curhatan ke Ridho, sambil memutar posisi tubuh hingga menghadapnya..
Ridho sendiri nampak menghentikan kegiatannya dan meletakkan Hp di atas meja belajar, lalu menatap gw sedikit aneh..
“Gw berturut-turut di hantam masalah.. Dari mulai hilangnya Pedang Jagat Samudera, hubungan gw yang berantakan sama Anggie, terus Bayu Barata sama Sekar juga pergi ninggalin gw, dan barusan gw dipecat dari kerjaan, Bree” Lanjut gw seraya melayangkan pandangan ke langit-langit kamar dengan mulut terkunci..
Sejenak, gw menarik nafas dalam-dalam sambil tetap menatap langit-langit kamar, berusaha mencari jawaban atas kesalahan apa yang membuat gw sampai tersandung masalah bertubi-tubi.. Tentu saja tidak ada jawaban apapun disana, yang terlihat malah dua ekor cicak sedang berkejaran satu sama lain..
“Kalo aja lu tau, Mam.. Ini semua gara-gara lu juga?” Tiba-tiba, benak gw seperti mendengar suara Ridho yang nampak sedang mengambil Hpnya kembali, setelah terdengar bunyi pesan masuk dari benda miliknya itu..
“Maksud lu gara-gara gw apa, bree?” Tanya gw yang membuat Ridho langsung menatap wajah gw dengan heran..
“Maksud lu?” Kata Ridho balas bertanya..
Gw terdiam mendengar pertanyaan Ridho disertai tampang nya yang menyiratkan ketidak mengertian.. Beberapa kali pandangan gw bertemu dengan tatapan mata Ridho..
“Gw salah denger keknya, Bree.. Tadi gw kek sempet denger, lu ngomong ini semua gara-gara gw” Kata gw mencoba menjelaskan ke arah Ridho, dan membuat salah satu saudara gw itu membesarkan kedua matanya karena terkejut..
“Jangan bilang si Imam bisa baca pikiran gw” Lagi-lagi gw mendengar suara Ridho berbicara dalam benak, dan seketika gw menatap salah satu saudara gw itu dengan tajam..
dodolgarut134 dan 15 lainnya memberi reputasi
16