- Beranda
- Stories from the Heart
Vanilla
...
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain
Comment, critics and question allowed ya
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.
Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe
Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain

Comment, critics and question allowed ya
Spoiler for Prolog:
Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories
Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results
Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th
Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End
Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
beanilla93
#121
Part 29. Zarry
Selepas obrolan via telpon, sedikit demi sedikit aku mulai berusaha percaya lagi sama Zarry. Karena ya, aku emang bukan tipe orang yang percaya sesuatu yang belum dapat ku buktikan sendiri. Dalam hal apakah Zarry bener balikan sama Tiara, ya aku harus bener-bener nemu bukti baru aku percaya. Beberapa waktu setelah itu, ya emang nggak ada cerita apa-apa lagi juga sih. Jadi ya hubunganku sama Zarry pelan-pelan mulai adem lagi. Walaupun Zarry masih sering on duty dan susah ditemui.
Hari ini day off-nya Zarry, jadi aku bisa ketemu dia setelah sekian lama nggak(ketemu). Dan setelah kejadian ‘a long night’ beberapa waktu yang lalu, kami lebih sering pacaran di rumah Zarry di banding keluar. Soalnya kalau jalan keluar, pasti selalu bingung mau kemana. Bingung mau makan apa lah, bingung milih tempat soalnya males ketemu siapa-siapa lah. Mending beli makan atau cemilan, terus ngedekem di kamar Zarry. Adem, penuh hiburan, penuh makanan, terus bisa bebas ngerokok, sambil usel-usel sama pacar. Muehehe
Nggak seperti biasanya, hari ini Zarry nggak pake main ps dulu. Kangen katanya. (Hmm gombal
) Kita berdua langsung ngusel-ngusel aja sambil tiduran.
“Sayang, ac kamar kamu dingin banget.” kataku pada Zarry yang lagi main hp di sebelahku.
Tanpa bicara apa-apa, Zarry berdiri dan mengambil remote ac dan menaikkan suhu kamarnya. Setelah itu, Zarry kembali berbaring di sebelahku.
Nggak (belum
)ngapa-ngapain lo ya, cuman ngobrol. Sambil aku tiduran di lengan kanannya dia, tangannya nggak berhenti mainin rambutku(kebiasaan Zarry dari kecil, doyan mainin rambut). Tangan kirinya tetap main hp, tapi tetep sambil ngobrol sama aku.
Tanpa sengaja, aku ikut melihat layar hp yang lagi disentuh-sentuh sama dia. Dia lagi buka-buka room chat, ada notif pesan masuk. Dari siapa coba?
Tiara? Bukan.
Erina? Bukan juga.
Dari Vera.
Hmf, kirain lama nggak main kesini, hubungan Zarry sama dia udah end. Pengennya. Ternyata masih aja.
Dan tebak isinya apa?
Kangen? Bukan.
I love you? Bukan juga. (karena aku mencintai diriku sendiri, jadi ‘i love you too Van’
)
Isinya itu,
“Sayang, kamu nggak macem-macem kan disana?”
deg
Duh, ko hati aku nggak enak ya bacanya.
Tiba-tiba aja aku mikir, kalo aku ada di posisi Vera gimana rasanya. Terlepas dari Vera yang(katanya Zarry sih) cuek dan nggak perhatian sama sekali, tapi tetep aja Vera itu pacar pertamanya Zarry.
Dan entah kenapa, tiba-tiba aku juga kepikiran,
“Kalau dia bisa bohong sama Vera demi bisa pacaran sama aku. Apa yang jamin dia nggak bakal bohong juga sama aku demi bisa sama cewek lain lagi?”
“Sayang?” panggil Zarry pelan menyadarkan ku dari lamunanku.
“Eh, iya kenapa sayang?”
“Itu abu rokok kamu mau dipanjangin sampe kapan?” tanyanya sambil ngambil rokokku dan mematikannya sekalian ke asbak.
Elah, lumayan lama rupanya ngelamun ampe lupa ngisep. Padahal baru berapa kali isep. Tau-tau udah abis sama angin. Ah elah, sayang banget.
Oh iya, nggak banyak yang tau kalo aku ngerokok. Soalnya aku milih-milih lagi sama siapa kalo mau ngerokok. Yang pasti keluarga sih nggak ada yang tau. Bisa geger dunia persilatan kalo keluarga sampe ada yang tau. Temen juga cuman beberapa aja yang tau, mantan yang tau cuman 2. Bisa dihitung pake jari sih jumlahnya. Soalnya paling males ngerokok dihadapan temen yang menggurui. Dan sekarang kalian para reader juga jadi tau sih. Sstt, jangan bilang siapa-siapa ya. Sekarang juga udah jarang kok. Kalo lagi pengen aja (kalo pengennya tiga kali sehari ya sama aja boong Van). Hehe
Oke, balik lagi ke kamar Zarry.
“Mikirin apa sih?” tanya Zarry sambil ngelus pelan kepalaku.
Aku pun memiringkan badanku ke arah kiri, menghadap Zarry.
V : Kamu inget nggak, malem itu aku nanya kamu serius apa nggak sama aku? (sambil mainin rambutnya)
Z : Iya inget. Kenapa?
V : Kamu nggak bohong kan? (sambil natap matanya)
Z : Nggak lah sayang. Mana mungkin aku bohong kalo aku lagi begitu. Ada apa sih kok bahas-bahas itu? (sambil mainin rambutku lagi)
V : Hmmm nggak papa. Tiba-tiba aku kepikiran aja, kenapa kamu mau pacaran sama aku, padahal kan udah ada Vera?
Z : Hmm. Kan aku pernah bilang, kalo Vera itu nggak perhatian sama aku. Ya, mungkin karena dia lebih tua dari kita dan cara dia pacaran jauh lebih dewasa kali ya. Jadi buat dia, perhatian dan komunikasi itu nggak begitu penting. Sedangkan kamu. Kamu bisa ngasih aku perhatian yang nggak aku dapatkan dari Vera. Tapi kamu juga nggak over dalam menunjukkan perhatian kamu kaya you know lah, mantan-mantanku yang cemburuan itu. Kamu juga bisa ngerti kalo aku lagi sibuk dan nggak pernah ngambek-ngambek nggak jelas kalo aku lagi sibuk.
V : Masa sih, aku sebaik itu di mata kamu?
Z : Iya sayang, sebaik itu. Kamu itu jauuuuh lebih baik dari yang kamu bayangkan. Jadi, nggak usah khawatir ya. Gimana kamu bersikap sama aku, begitu juga aku bersikap sama kamu. When you give me everything, then i give you my everything...
Aku pun menghela nafas masih sambil menatap mata Zarry. Aku sedang menilai, tuluskah semua yang dia katakan barusan. Kata-katanya emang indah semua sih. Dengan kata-kata seperti itu, dan dengan tatapan mata seperti itu, cewek mana pun pasti merasa bangga memiliki pacar seperti Zarry. Dan cewek mana pun pasti dengan mudahnya percaya.
Zarry pun perlahan mendekatkan wajahnya padaku, dan bibirku pun bertemu dengan bibirnya. Entah ciuman itu adalah ungkapan sayang, atau cuma sebagai pembungkam supaya aku berhenti membahas pembahasan itu lebih lanjut lagi.
Zarry melepas ciumannya, dan entah sejak kapan Zarry sudah berada di atasku. Dari bahasa tubuhnya dan juga bahasa tubuhku, kami berdua sama-sama tau bahwa kami sedang menginginkan satu sama lain. Zarry pun kembali mengecup bibirku dengan lembut setelah sebelumnya berkata,
“I love you Vanilla.”
---
Waktu di jam dinding kamar Zarry menunjukkan pukul 8 malam saat aku membuka mataku. Berarti sudah 4 jam berlalu sejak aku datang tadi.
Iyap, aku ketiduran. Lelah, abis ‘olahraga’
Aku kebangun gara-gara ngerasa gerah. Padahal ac nya masih nyala. Aku pun nyari remote ac dan menurunkan lagi suhu kamar yang tadi dinaikkan Zarry.
Aku pun kembali ke tempat tidur, dan ngeliat Zarry masih ketiduran dan nggak pake baju.
Hihihi, mukanya lucu banget. Kaya anak kecil yang abis main seharian, terus nggak sempet mandi, cuma lepas baju dan langsung tidur.
Aku menaiki tubuhnya dan memandangi wajahnya sambil iseng pegang-pegang mukanya. Mau gangguin sampe dia bangun. Aku pegang hidungnya, matanya, bibirnya, semuanya lah pokoknya. Ternyata masih nyenyak juga, nggak bangun-bangun. Padahal udah ditindih pake beban 5x kg, masih anteng aja dia tidur.
Setelah bosen, aku pindah lagi ke sampingnya dan merencanakan keisengan lainnya. Aku ngambil hp ku dan membuka kamera. Aku memindahkannya ke mode video dan me record muka dia sambil hehe-hehe kecil. Setelahnya, aku memutar kameraku menjadi kamera depan yang menampilkan wajahku. Kemudian aku mendekatkan wajahku ke wajah Zarry dan mencuri cium(ngerti kan curi cium apa? Cium yang cuma ‘set’ gitu) pipinya, dan langsung mundur, lalu menekan lagi tombol record buat menyudahi video iseng itu.
Aku memplay video tersebut dan ngikik kecil karena hasilnya lucu-lucu romantis gimana gitu.
“Udah lama kamu bangunnya?” tanyanya tiba-tiba.
Aku kaget dan langsung memencet lock hpku sambil melihat ke arah Zarry.
“Baru aja kok sayang.” jawabku sambil tersenyum.
“Kebangun kenapa? Mau pulang?” tanyanya sambil menggenggam tangan kananku.
“Ya nggak lah, baru jam 8. Masih kangen tau...”
“Terus kenapa bangun?”
“Gerah yang..” ucapku sambil kipas-kipas pake tangan.
“Loh kamu ini lo lucu. Tadi katanya kedinginan, lah sekarang kepanasan?
“
“Kamar kamu ko tiba-tiba panas gini loh. Tadi beneran dinginn.”
“Bukan salah kamarnya yang. Kamarnya mah gini-gini aja dari tadi. Kamunya aja kan tadi sem- Hmp!“
Belum sempat Zarry menyelesaikan kalimatnya, aku langsung membekap wajahnya pake bantal. Paling kesel kalo dia bahas-bahas ‘nganu’ yang udah terjadi. Malu.
“Udah ih nggak usah ngomong yang aneh-aneh! Mendingan kamu cari cara biar kamarnya adem lagiiii!!!”
Zarry pun membuka bantal yang kupakai membekap wajahnya sambil nyengir-nyengir kuda. Dia kemudian ngambil remote ac yang terletak di meja sebelah tempat tidurnya.
“Udah aku turunin tadi suhunya yang, tapi tetep aja gerah. Kamu nggak ada kipas angin atau blower atau apa kek biar ada angin-anginnya gitu.“
Zarry pun bangkit dari tempat tidur dan memakai bajunya.
“Mau kemana yang?” tanyaku.
“Beli rokok sama beli pulsa.”
“Aaaa cariin kipas angin dulu sebelum aku ditinggalin. Gerah yaannggg” rengekku sambil narik-narik bajunya Zarry. Zarry pun menoleh ke arahku dan,
Fuuuhh!!
Sekonyong-konyong(halah) dia meniup mukaku bak sedang meniup lilin ulang tahun, terus ngacir keluar kamar sambil bilang,
“Udah kan anginnya?”
Kampret beneran lah.
“Garing yang, garriiiinnggg! Nggak lucuuuuu!”
---
Sekitar 15 menit kemudian Zarry masuk kembali ke kamarnya sambil nyengir-nyengir kuda.
Sedangkan aku? Masang muka jutek sejutek-juteknya.
"Duh kenapa pacarku cemberut? Apa salah dan dosaku sayang?" tanyanya sambil mendekati aku dan nowel pipiku.
"Tau ah! Kamu nggak peka!"
"Loh, nggak peka apanya?" tanyanya lagi sambil senyum-senyum nyebelin
"Aku tuh nggak pake kode-kodean lo yang kaya cewek-cewek lainnn. Permintaanku jelassss. Aku kepanasan, minta angiiinn. Minta ademmm. Bukan minta tiup. Emang aku lilin ulang tahun?" ambekku sambil nyubit-nyubitin perutnya yang dulu pernah gendut itu.
"Nggak ada kipas angin yang dirumahku. Ac aja. Sabar yaaa." sahutnya sambil ngelus-ngelus kepalaku.
"Tau ah bete! Panas nih! Sana jauh-jauhhhh!
" jawabku sambil tiduran ngadep ke arah jendela(ngebelakangin Zarry).
Setelah itu nggak ada suara apa-apa lagi. Sepi.
Jangan-jangan Zarry malah balik ngambek sama aku lagi?
Balik badan nggak ya?
Tapi dia mah iseng, jangan-jangan masih ada tapi sengaja diem biar mancing aku supaya balik badan?
Duh gimana iniiiii. Balik badan nggak ya?
Nggggggguunggggg (bunyi kipas angin ceritanya).
Aku kaget mendengar suara kipas angin dari belakangku, dan akhirnya refleks duduk dan berbalik.
Dan dibelakangku, sebuah kipas angin sudah menyala dengan deras, dan Zarry dengan cengir kudanya berdiri di sampingnya sambil melihat ke arahku dengan tatapan penuh arti.
Aku yang ceritanya masih mau ngambek pun gagal setelah Zarry ngomong,
"Udahan nggak itu manyun-manyunnya? Matiin lagi nih kipas anginnya?"
"Eh jangan-jangannn. Hehehe makasih ya sayangggggg" ucapku dengan sumringah sambil membuka lebar kedua tanganku minta dipeluk.
Zarry pun mendatangi dan memelukku sambil mengelus belakang kepalaku.
'Kalau perlakuan kamu begini terus, kapan akal sehatku bisa memenangkan pertarungan melawan perasaanku?'
Selepas obrolan via telpon, sedikit demi sedikit aku mulai berusaha percaya lagi sama Zarry. Karena ya, aku emang bukan tipe orang yang percaya sesuatu yang belum dapat ku buktikan sendiri. Dalam hal apakah Zarry bener balikan sama Tiara, ya aku harus bener-bener nemu bukti baru aku percaya. Beberapa waktu setelah itu, ya emang nggak ada cerita apa-apa lagi juga sih. Jadi ya hubunganku sama Zarry pelan-pelan mulai adem lagi. Walaupun Zarry masih sering on duty dan susah ditemui.
Hari ini day off-nya Zarry, jadi aku bisa ketemu dia setelah sekian lama nggak(ketemu). Dan setelah kejadian ‘a long night’ beberapa waktu yang lalu, kami lebih sering pacaran di rumah Zarry di banding keluar. Soalnya kalau jalan keluar, pasti selalu bingung mau kemana. Bingung mau makan apa lah, bingung milih tempat soalnya males ketemu siapa-siapa lah. Mending beli makan atau cemilan, terus ngedekem di kamar Zarry. Adem, penuh hiburan, penuh makanan, terus bisa bebas ngerokok, sambil usel-usel sama pacar. Muehehe
Spoiler for about Vanilla dan ngusel-ngusel:
Nggak seperti biasanya, hari ini Zarry nggak pake main ps dulu. Kangen katanya. (Hmm gombal
) Kita berdua langsung ngusel-ngusel aja sambil tiduran. “Sayang, ac kamar kamu dingin banget.” kataku pada Zarry yang lagi main hp di sebelahku.
Tanpa bicara apa-apa, Zarry berdiri dan mengambil remote ac dan menaikkan suhu kamarnya. Setelah itu, Zarry kembali berbaring di sebelahku.
Nggak (belum
)ngapa-ngapain lo ya, cuman ngobrol. Sambil aku tiduran di lengan kanannya dia, tangannya nggak berhenti mainin rambutku(kebiasaan Zarry dari kecil, doyan mainin rambut). Tangan kirinya tetap main hp, tapi tetep sambil ngobrol sama aku. Tanpa sengaja, aku ikut melihat layar hp yang lagi disentuh-sentuh sama dia. Dia lagi buka-buka room chat, ada notif pesan masuk. Dari siapa coba?
Tiara? Bukan.
Erina? Bukan juga.
Dari Vera.
Hmf, kirain lama nggak main kesini, hubungan Zarry sama dia udah end. Pengennya. Ternyata masih aja.
Dan tebak isinya apa?
Kangen? Bukan.
I love you? Bukan juga. (karena aku mencintai diriku sendiri, jadi ‘i love you too Van’
)Isinya itu,
“Sayang, kamu nggak macem-macem kan disana?”
deg
Duh, ko hati aku nggak enak ya bacanya.
Tiba-tiba aja aku mikir, kalo aku ada di posisi Vera gimana rasanya. Terlepas dari Vera yang(katanya Zarry sih) cuek dan nggak perhatian sama sekali, tapi tetep aja Vera itu pacar pertamanya Zarry.
Dan entah kenapa, tiba-tiba aku juga kepikiran,
“Kalau dia bisa bohong sama Vera demi bisa pacaran sama aku. Apa yang jamin dia nggak bakal bohong juga sama aku demi bisa sama cewek lain lagi?”
“Sayang?” panggil Zarry pelan menyadarkan ku dari lamunanku.
“Eh, iya kenapa sayang?”
“Itu abu rokok kamu mau dipanjangin sampe kapan?” tanyanya sambil ngambil rokokku dan mematikannya sekalian ke asbak.
Elah, lumayan lama rupanya ngelamun ampe lupa ngisep. Padahal baru berapa kali isep. Tau-tau udah abis sama angin. Ah elah, sayang banget.
Oh iya, nggak banyak yang tau kalo aku ngerokok. Soalnya aku milih-milih lagi sama siapa kalo mau ngerokok. Yang pasti keluarga sih nggak ada yang tau. Bisa geger dunia persilatan kalo keluarga sampe ada yang tau. Temen juga cuman beberapa aja yang tau, mantan yang tau cuman 2. Bisa dihitung pake jari sih jumlahnya. Soalnya paling males ngerokok dihadapan temen yang menggurui. Dan sekarang kalian para reader juga jadi tau sih. Sstt, jangan bilang siapa-siapa ya. Sekarang juga udah jarang kok. Kalo lagi pengen aja (kalo pengennya tiga kali sehari ya sama aja boong Van). Hehe
Oke, balik lagi ke kamar Zarry.
“Mikirin apa sih?” tanya Zarry sambil ngelus pelan kepalaku.
Aku pun memiringkan badanku ke arah kiri, menghadap Zarry.
V : Kamu inget nggak, malem itu aku nanya kamu serius apa nggak sama aku? (sambil mainin rambutnya)
Z : Iya inget. Kenapa?
V : Kamu nggak bohong kan? (sambil natap matanya)
Z : Nggak lah sayang. Mana mungkin aku bohong kalo aku lagi begitu. Ada apa sih kok bahas-bahas itu? (sambil mainin rambutku lagi)
V : Hmmm nggak papa. Tiba-tiba aku kepikiran aja, kenapa kamu mau pacaran sama aku, padahal kan udah ada Vera?
Z : Hmm. Kan aku pernah bilang, kalo Vera itu nggak perhatian sama aku. Ya, mungkin karena dia lebih tua dari kita dan cara dia pacaran jauh lebih dewasa kali ya. Jadi buat dia, perhatian dan komunikasi itu nggak begitu penting. Sedangkan kamu. Kamu bisa ngasih aku perhatian yang nggak aku dapatkan dari Vera. Tapi kamu juga nggak over dalam menunjukkan perhatian kamu kaya you know lah, mantan-mantanku yang cemburuan itu. Kamu juga bisa ngerti kalo aku lagi sibuk dan nggak pernah ngambek-ngambek nggak jelas kalo aku lagi sibuk.
V : Masa sih, aku sebaik itu di mata kamu?
Z : Iya sayang, sebaik itu. Kamu itu jauuuuh lebih baik dari yang kamu bayangkan. Jadi, nggak usah khawatir ya. Gimana kamu bersikap sama aku, begitu juga aku bersikap sama kamu. When you give me everything, then i give you my everything...
Aku pun menghela nafas masih sambil menatap mata Zarry. Aku sedang menilai, tuluskah semua yang dia katakan barusan. Kata-katanya emang indah semua sih. Dengan kata-kata seperti itu, dan dengan tatapan mata seperti itu, cewek mana pun pasti merasa bangga memiliki pacar seperti Zarry. Dan cewek mana pun pasti dengan mudahnya percaya.
Zarry pun perlahan mendekatkan wajahnya padaku, dan bibirku pun bertemu dengan bibirnya. Entah ciuman itu adalah ungkapan sayang, atau cuma sebagai pembungkam supaya aku berhenti membahas pembahasan itu lebih lanjut lagi.
Zarry melepas ciumannya, dan entah sejak kapan Zarry sudah berada di atasku. Dari bahasa tubuhnya dan juga bahasa tubuhku, kami berdua sama-sama tau bahwa kami sedang menginginkan satu sama lain. Zarry pun kembali mengecup bibirku dengan lembut setelah sebelumnya berkata,
“I love you Vanilla.”
---
Waktu di jam dinding kamar Zarry menunjukkan pukul 8 malam saat aku membuka mataku. Berarti sudah 4 jam berlalu sejak aku datang tadi.
Iyap, aku ketiduran. Lelah, abis ‘olahraga’
Aku kebangun gara-gara ngerasa gerah. Padahal ac nya masih nyala. Aku pun nyari remote ac dan menurunkan lagi suhu kamar yang tadi dinaikkan Zarry. Aku pun kembali ke tempat tidur, dan ngeliat Zarry masih ketiduran dan nggak pake baju.
Hihihi, mukanya lucu banget. Kaya anak kecil yang abis main seharian, terus nggak sempet mandi, cuma lepas baju dan langsung tidur.
Aku menaiki tubuhnya dan memandangi wajahnya sambil iseng pegang-pegang mukanya. Mau gangguin sampe dia bangun. Aku pegang hidungnya, matanya, bibirnya, semuanya lah pokoknya. Ternyata masih nyenyak juga, nggak bangun-bangun. Padahal udah ditindih pake beban 5x kg, masih anteng aja dia tidur.
Setelah bosen, aku pindah lagi ke sampingnya dan merencanakan keisengan lainnya. Aku ngambil hp ku dan membuka kamera. Aku memindahkannya ke mode video dan me record muka dia sambil hehe-hehe kecil. Setelahnya, aku memutar kameraku menjadi kamera depan yang menampilkan wajahku. Kemudian aku mendekatkan wajahku ke wajah Zarry dan mencuri cium(ngerti kan curi cium apa? Cium yang cuma ‘set’ gitu) pipinya, dan langsung mundur, lalu menekan lagi tombol record buat menyudahi video iseng itu.
Aku memplay video tersebut dan ngikik kecil karena hasilnya lucu-lucu romantis gimana gitu.
“Udah lama kamu bangunnya?” tanyanya tiba-tiba.
Aku kaget dan langsung memencet lock hpku sambil melihat ke arah Zarry.
“Baru aja kok sayang.” jawabku sambil tersenyum.
“Kebangun kenapa? Mau pulang?” tanyanya sambil menggenggam tangan kananku.
“Ya nggak lah, baru jam 8. Masih kangen tau...”
“Terus kenapa bangun?”
“Gerah yang..” ucapku sambil kipas-kipas pake tangan.
“Loh kamu ini lo lucu. Tadi katanya kedinginan, lah sekarang kepanasan?
““Kamar kamu ko tiba-tiba panas gini loh. Tadi beneran dinginn.”
“Bukan salah kamarnya yang. Kamarnya mah gini-gini aja dari tadi. Kamunya aja kan tadi sem- Hmp!“
Belum sempat Zarry menyelesaikan kalimatnya, aku langsung membekap wajahnya pake bantal. Paling kesel kalo dia bahas-bahas ‘nganu’ yang udah terjadi. Malu.
“Udah ih nggak usah ngomong yang aneh-aneh! Mendingan kamu cari cara biar kamarnya adem lagiiii!!!”
Zarry pun membuka bantal yang kupakai membekap wajahnya sambil nyengir-nyengir kuda. Dia kemudian ngambil remote ac yang terletak di meja sebelah tempat tidurnya.
“Udah aku turunin tadi suhunya yang, tapi tetep aja gerah. Kamu nggak ada kipas angin atau blower atau apa kek biar ada angin-anginnya gitu.“
Zarry pun bangkit dari tempat tidur dan memakai bajunya.
“Mau kemana yang?” tanyaku.
“Beli rokok sama beli pulsa.”
“Aaaa cariin kipas angin dulu sebelum aku ditinggalin. Gerah yaannggg” rengekku sambil narik-narik bajunya Zarry. Zarry pun menoleh ke arahku dan,
Fuuuhh!!
Sekonyong-konyong(halah) dia meniup mukaku bak sedang meniup lilin ulang tahun, terus ngacir keluar kamar sambil bilang,
“Udah kan anginnya?”
Kampret beneran lah.
“Garing yang, garriiiinnggg! Nggak lucuuuuu!”
---
Sekitar 15 menit kemudian Zarry masuk kembali ke kamarnya sambil nyengir-nyengir kuda.
Sedangkan aku? Masang muka jutek sejutek-juteknya.
"Duh kenapa pacarku cemberut? Apa salah dan dosaku sayang?" tanyanya sambil mendekati aku dan nowel pipiku.
"Tau ah! Kamu nggak peka!"
"Loh, nggak peka apanya?" tanyanya lagi sambil senyum-senyum nyebelin
"Aku tuh nggak pake kode-kodean lo yang kaya cewek-cewek lainnn. Permintaanku jelassss. Aku kepanasan, minta angiiinn. Minta ademmm. Bukan minta tiup. Emang aku lilin ulang tahun?" ambekku sambil nyubit-nyubitin perutnya yang dulu pernah gendut itu.
"Nggak ada kipas angin yang dirumahku. Ac aja. Sabar yaaa." sahutnya sambil ngelus-ngelus kepalaku.
"Tau ah bete! Panas nih! Sana jauh-jauhhhh!
" jawabku sambil tiduran ngadep ke arah jendela(ngebelakangin Zarry).Setelah itu nggak ada suara apa-apa lagi. Sepi.
Jangan-jangan Zarry malah balik ngambek sama aku lagi?
Balik badan nggak ya?
Tapi dia mah iseng, jangan-jangan masih ada tapi sengaja diem biar mancing aku supaya balik badan?
Duh gimana iniiiii. Balik badan nggak ya?
Nggggggguunggggg (bunyi kipas angin ceritanya).
Aku kaget mendengar suara kipas angin dari belakangku, dan akhirnya refleks duduk dan berbalik.
Dan dibelakangku, sebuah kipas angin sudah menyala dengan deras, dan Zarry dengan cengir kudanya berdiri di sampingnya sambil melihat ke arahku dengan tatapan penuh arti.
Aku yang ceritanya masih mau ngambek pun gagal setelah Zarry ngomong,
"Udahan nggak itu manyun-manyunnya? Matiin lagi nih kipas anginnya?"
"Eh jangan-jangannn. Hehehe makasih ya sayangggggg" ucapku dengan sumringah sambil membuka lebar kedua tanganku minta dipeluk.
Zarry pun mendatangi dan memelukku sambil mengelus belakang kepalaku.
'Kalau perlakuan kamu begini terus, kapan akal sehatku bisa memenangkan pertarungan melawan perasaanku?'
Diubah oleh beanilla93 05-01-2018 14:39
0