- Beranda
- Stories from the Heart
Sang Wakil Janji [TAMAT]
...
TS
dudatamvan88
Sang Wakil Janji [TAMAT]
TRILOGI
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON III
![Sang Wakil Janji [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/12/24/9887347_201712241036200233.jpg)
Salam Para penghuni Jagad KASKUSTerutama Yang bermukim Di SubFor SFTH.
Hari ini saya akan menulis Season III dan yang akan menjadi akhir Dari Trilogi Other Story Of Borneo yang Telah ane tulis sebelumnya.
Mohon Kritik dan Saran Buat ane yang Nubie ini ya.
Oo iya.. Dimohon kepada pare reader agar mengikuti dan mematuhi aturan yang berlaku di SFTH dan ane ga mentolelir apapun bentuk keKEPOan yang berlebihan..
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON III
![Sang Wakil Janji [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/12/24/9887347_201712241036200233.jpg)
Salam Para penghuni Jagad KASKUSTerutama Yang bermukim Di SubFor SFTH.
Hari ini saya akan menulis Season III dan yang akan menjadi akhir Dari Trilogi Other Story Of Borneo yang Telah ane tulis sebelumnya.
Mohon Kritik dan Saran Buat ane yang Nubie ini ya.
Oo iya.. Dimohon kepada pare reader agar mengikuti dan mematuhi aturan yang berlaku di SFTH dan ane ga mentolelir apapun bentuk keKEPOan yang berlebihan..
Quote:
Quote:
PROLOG
Semuanya mengerucut tepat di depan mataku seakan - akan aku adalah antagonis utamanya.
Aku benar - benar merasa menjadi orang yang salah yang berada ditempat yang salah hingga aku harus mengembalikan semua yang kubuang.
Apa memang harus seperti ini??
Semua yang kualami telah menyeretku dalam lingkaran rumit dan menjauh dari tujuan awalku saat berangkat ke pulau ini.
Aku hanya ingin membangun ulang hidupku dari nol. Tapi sekarang Aku sudah menantang orang yang jelas dan sangat jelas berada jauh diatasku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku saat MATImenjadi salah satu pilihanya.
Saat semuanya terpampang dengan jelas di depan mataku. Saat aku mulai merasa mampu menghadapi segalanya yang telah menyeretku.
Tia. Lusi. Aku berjanji akan mengakhirinya tak lama lagi. Mungkin tak lama lagi pula aku akan bertemu kalian. Atau mungkin kalian harus menunggu lebih lama lagi untuk bertemu denganku.
Semuanya mengerucut tepat di depan mataku seakan - akan aku adalah antagonis utamanya.
Aku benar - benar merasa menjadi orang yang salah yang berada ditempat yang salah hingga aku harus mengembalikan semua yang kubuang.
Apa memang harus seperti ini??
Semua yang kualami telah menyeretku dalam lingkaran rumit dan menjauh dari tujuan awalku saat berangkat ke pulau ini.
Aku hanya ingin membangun ulang hidupku dari nol. Tapi sekarang Aku sudah menantang orang yang jelas dan sangat jelas berada jauh diatasku.
Untuk pertama kalinya dalam hidupku saat MATImenjadi salah satu pilihanya.
Saat semuanya terpampang dengan jelas di depan mataku. Saat aku mulai merasa mampu menghadapi segalanya yang telah menyeretku.
Tia. Lusi. Aku berjanji akan mengakhirinya tak lama lagi. Mungkin tak lama lagi pula aku akan bertemu kalian. Atau mungkin kalian harus menunggu lebih lama lagi untuk bertemu denganku.
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh dipretelin 12-04-2018 15:07
vanpad dan 38 lainnya memberi reputasi
39
808.9K
3.2K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dudatamvan88
#1655
SEPENGGAL KISAH ORONG - ORONG
“Apa?? Gw?? Kenapa jadi gw?? Apa yang udah gw lakuin??” gerutuku dalam hati tanpa berani sedikitpun mengeluarkan suara.
Jika aku katakan semua ini adalah guyonan murahan maka jelas jawabanya adalah tidak mungkin karena orang yang mengucapkanya barusan adalah orang yang pastinya tidak akan bercanda dalam hal apapun. Tapi kenapa aku dan hanya aku yang dipersalahkan. Dan apa pula yang sudah kulakukan hingga membuat keturunanya menumpahkan darah sesamanya?? Tapi jika memang aku yang menjadi penyebabnya seharusnya pak sami sudah menghabisiku dari awal. Apakah ini alasanya ida mengajakku lari?? Tapi kenapa dia mau mengambil resiko untuk lai besamaku sedangkan kehidupan yang tenang sudah menantinya besama aji??
”HHAAAAAAAAAAAAATTTTT”
Sebuah teriakan keras dari arah yang tidak kuketahui tiba – tiba terdengar dan mengejutkanku. Benar saja. Tak lama setelahnya puluhan orang yang sebelumnya saling bertarung satu sama lain kini sudah berkumpul disekitarku dan ikut bersimpuh dihadapan sang Atta. Tak ada yang beran mengeluarkan suara atau walaupun hanya mendongaknkan kepala mereka. Semuanya khusyu bersimpuh ditengah keheningan.
“Nata.. Sami.. Berdiri dan mendekatlah” Ujar sang atta dengan suara yang sangat berwibawa memanggil pak sami dan orang yang tadi sempat bertarung sengit denganya dan kini aku tau jika beliau bernama nata.
“Puun datu..” ujar mereka berdua dan langsung beranjak mendekati sang atta.
Entah apa yang mereka bicarakan. Walaupun mereka berjarak tak jauh driku tapi aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi terlihat jika saling terjadi adu argumen yang cukup sengit diantara mereka berdua. Apa mereka sedang membivarakan tentang hukuman untukku?? Aakkhh. Apapun hasilnya pilihanku hanya menerimanya karena lari adalah pilihan terbodohku saat ini.
GREEEEEEPPP
“Gw disini ndra.. lu tenang aja.. gw percaya temen gw itu bisa ngelarin semua ini..” ujar pak aksa yang entah sejak kapan sudah ada di sisi kananku dengan mencengkram pundakku dengan sangat kencang.
“EH..?? iya pak” jawabku dengan sedikit terkejut.
Walaupun kesempatan untuk selamat kecil. Tapi harapan selalu ada. Dan aku sangat berharap pak sami bisa membantu sekarang. Betapa hinanya aku jika berharap terlalu banyak pada orang yang kuanggap musuh beberapa saat yang lalu. Tapi bagaimana caranya untuk meyakinkan diriku sendiri jika semuanya akan baik – baik saja saat ini?? Walaupun pak aksa sendiri yang meyakinkanku. Tapi rasanya kali ini aku akan meragukan kata – katanya. Ternyata aku harus mati tanpa sempat meminta maaf pada semua orang yang aku kenal.
“Lu takut palalu lepas ya?? Hhe” ujar pak aksa dengan suara pelan mencoba mengajakku bergurau.
Aku tidak menjawabnya dan hanya menengok ke arah pak aksa yang bukanya menyemangatiku tapi malah membuat keringat dingin semakin keluar deras dan nyaliku semakin ciut. Tapi jika membicarakan kepala yang lepas aku jadi teringat sebuah kisah tentang walisongo yang tepatnya adalah Sunan kalijaga.
“Tapi gw juga bukan orong – orong. Tapi kayaknya enak kalo jadi orong – orong trus hidup bebas tanpa masalah” ujarku dengan suara yang sangat pelan.
“tenang ndra.. di kalimantan ini ada kayu yang lebih kuat dari kayu jati.. disini ada kayu ulin.. pasti lebih awet.. hhehehe” ujar pak aksa yang tanpa kusadari telah tau apa yang aku pikirkan dan apa yang baru saja kugumankan.
Ingin rasanya aku langsung berteriak memakinya saat ini juga. Tapi ayolah pak. Ini bukan saatnya untuk tertawa. Nyawaku berada diujung tanduk saat ini.
“Ndraa” ujar pak sami memanggilku dengan setengah berteriak.
Tak ada raut ceria diwajahnya. Yang ada hanyalah tatapan tajam. Tapi tidak. Semua pasang mata yang ada disini tengah mengarah padaku dengan tatapan yang tak jauh berbeda saat aku mulai melangkah maju mendekati pak sami dan setelah cukup dekat pak sami memberikan isyarat jari agar aku berlutut yang tanpa pikir panjang akupun melakukanya.
“Ganindra Basudewa.. seorang anak muda yang mau menantangku.. kenapa kamu berlutut??” ujar sang atta dengan suara berat dan pastinya terdengar sangat menyeramkan untukku.
Tanpa menjawab dan tanpa berani menaikan wajah aku haya tetap diam diposisi ini. Saat ini hanya ketakutan yang aku rasakan. Bukan karena takut akan sesuatu yang menyeramkan karena ta ada yang menyeramkan dari apa yang ada di depanku saat ini. Tapi ketakutan akan kematian dan semua penyesalan. Walaupun beberapa kali aku menghibur diri bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan almarhum anakku. Tapi hati kecil ini selalu mengatakan jika belum saatnya jika aku mati saat ini.
“ijinkan saya bicara datu” ujar pak sami yang tiba – tiba sudah berdiri disamping kiriku.
“Diam.. biar dia yang bicara.. kamu sudah menjelaskanya tadi.. sekarang aku ingin mendengar dari mulutnya” ujar sang atta membentak pak sami yang langsung membuatnya diam dengan kepala tertunduk lesu.
DEG
“Aku?? Ngejelasin ke sang atta??” gumanku dalam hati dalam keterkejutan.
“iya.. jelaskan ke saya” ujar sang atta.
Sial. Aku lupa jika ida saja bisa melakukan itu dengan mudah. Apalagi beliau?? Tapi aku harus memulai darimana?? Apa yang harus aku ucapkan lebih dulu?? Darimana aku harus memulainya. Atau lebih tepatnya. Bagaimana aku memulainya??
DUUGGG
Sang ata tiba – tiba menghentakkan kakinya ditanah dan langsung membuyarkan semua lamunanku. Sial. Belum pernah sekalipun aku harus berbicara di depan banyak pasang mata seperti ini. Ya walaupun pernah satu kali saat aku mengucapkan ijab dahulu tapi tatapan mata orang – orang yang ada disekitarku jelas berbeda.
“Saya.. saya..” ujarku dengan tergugup dan lidahku benar – benar kelu untuk melanjutkanya.
BUG
Pak sami menepuk pundakku dan mengangguk perlahan untuk menghilangkan semua keraguanku. Yah sepertinya dia paham yang aku pikirkan. Ah tidak. Semua orang yang ada disini paham dan tau apa yang aku pikirkan saat ini.
“sekarang saatnya..” ujarku pada diriku sendiri sambil menarik nafas dalam – dalam.
“Saya baru di pulau ini.. saya datang kesini karena ingin membangun kehidupan saya dari nol dan ga lebih dari itu.. tapi kemudian dan tanpa saya duga saya akhirnya ketemu sama pak sami yang tak lain adalah teman dari guru saya yang ada di belakang itu.. pak aksa.. berjalanya waktu saya akhirnya kerja disebuah bengkel yang didepanya ada sebuah rumah.. rumah besar dengan aura yang gelap.. disitu saya nemu suatu fakta kalo sudah terjadi pembantaian yang ga manusiawi terjadi hingga memaksa saya untuk kembali mengamalkan apa yang sudah saya buang dulu dan sedikitpun saya benar – benar ga tau kalo orang yang jadi dalang di rumah itu adalah bu ning dan mbak endah dan mereka sudah mendapat perlindungan dari anda.. sebagaimana orang awam. apalagi belakangan saya tau jika ada sebuah hubungan emosional saya dan diakhiri oleh mereka berdua dengan cara yang keji membuat saya langsung gelap mata dan menyerang semua yang menghalangi saya.. dan saya aui saya memang bersalah dan saya benar – benar tida menyangka sebelumnya jika perbuatan saya itu akhirnya menyeret semua masalah yang lebih besar ini” ujarku dengan tertunduk tanpa berani sama sekali melihat ke arah depan.
“Cukup” ujar sang atta memotong ucapanku. “Dia meminta perlindunganku dari kejahatan disekitarnya baik itu dari keturunanku atau pula para pendatang yang kami terima.. dan aku sudah menjanjikan keselamatan atasnya.. itulah yang menjadi perdebatan anak cucuku hingga kalian semua yang ada disini saling meyerang satu sama lainya.. dan aku menjanjikan keselamatan atasnya di tanahku ini.. tapi orang yang sudah menumpahkan darah di tanah warisanku tidak bisa dimaafkan.. apalagi dia telah berhasil mengadu domba anak – anakku..” Lanjut beliau dengan menunjuk ke arah bu ning dengan mata yang tiba – tiba berubah hijau dan menyala dengan terang.
Apalagi sekarang?? Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Tapi aku sudah sangat lega setelah bisa berbicara panjang lebar di depan orang yang paling disegani ini.
“oh iya.. tadi kamu sempat berpikir tentang orang yang memotong kepala orong – orong??” ujar sang atta sambil menengok ke arahku.
DEG
“Eh.. iya.. maaf” jawabku dengan setengah terkejut.
“Aku kenal dengan dia yang kamu pikirkan itu” ujar sang atta yang kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah bu ning yang sedang ditarik oleh salah satu orang yang sedari tadi ada dibelakang beliau.
“Eh?? Kenal?? Berapa umurnya??” pikirku yang tak sanggup membayangkanya apalagi berkata – kata.
Jika aku katakan semua ini adalah guyonan murahan maka jelas jawabanya adalah tidak mungkin karena orang yang mengucapkanya barusan adalah orang yang pastinya tidak akan bercanda dalam hal apapun. Tapi kenapa aku dan hanya aku yang dipersalahkan. Dan apa pula yang sudah kulakukan hingga membuat keturunanya menumpahkan darah sesamanya?? Tapi jika memang aku yang menjadi penyebabnya seharusnya pak sami sudah menghabisiku dari awal. Apakah ini alasanya ida mengajakku lari?? Tapi kenapa dia mau mengambil resiko untuk lai besamaku sedangkan kehidupan yang tenang sudah menantinya besama aji??
”HHAAAAAAAAAAAAATTTTT”
Sebuah teriakan keras dari arah yang tidak kuketahui tiba – tiba terdengar dan mengejutkanku. Benar saja. Tak lama setelahnya puluhan orang yang sebelumnya saling bertarung satu sama lain kini sudah berkumpul disekitarku dan ikut bersimpuh dihadapan sang Atta. Tak ada yang beran mengeluarkan suara atau walaupun hanya mendongaknkan kepala mereka. Semuanya khusyu bersimpuh ditengah keheningan.
“Nata.. Sami.. Berdiri dan mendekatlah” Ujar sang atta dengan suara yang sangat berwibawa memanggil pak sami dan orang yang tadi sempat bertarung sengit denganya dan kini aku tau jika beliau bernama nata.
“Puun datu..” ujar mereka berdua dan langsung beranjak mendekati sang atta.
Entah apa yang mereka bicarakan. Walaupun mereka berjarak tak jauh driku tapi aku sama sekali tidak bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tapi terlihat jika saling terjadi adu argumen yang cukup sengit diantara mereka berdua. Apa mereka sedang membivarakan tentang hukuman untukku?? Aakkhh. Apapun hasilnya pilihanku hanya menerimanya karena lari adalah pilihan terbodohku saat ini.
GREEEEEEPPP
“Gw disini ndra.. lu tenang aja.. gw percaya temen gw itu bisa ngelarin semua ini..” ujar pak aksa yang entah sejak kapan sudah ada di sisi kananku dengan mencengkram pundakku dengan sangat kencang.
“EH..?? iya pak” jawabku dengan sedikit terkejut.
Walaupun kesempatan untuk selamat kecil. Tapi harapan selalu ada. Dan aku sangat berharap pak sami bisa membantu sekarang. Betapa hinanya aku jika berharap terlalu banyak pada orang yang kuanggap musuh beberapa saat yang lalu. Tapi bagaimana caranya untuk meyakinkan diriku sendiri jika semuanya akan baik – baik saja saat ini?? Walaupun pak aksa sendiri yang meyakinkanku. Tapi rasanya kali ini aku akan meragukan kata – katanya. Ternyata aku harus mati tanpa sempat meminta maaf pada semua orang yang aku kenal.
“Lu takut palalu lepas ya?? Hhe” ujar pak aksa dengan suara pelan mencoba mengajakku bergurau.
Aku tidak menjawabnya dan hanya menengok ke arah pak aksa yang bukanya menyemangatiku tapi malah membuat keringat dingin semakin keluar deras dan nyaliku semakin ciut. Tapi jika membicarakan kepala yang lepas aku jadi teringat sebuah kisah tentang walisongo yang tepatnya adalah Sunan kalijaga.
Quote:
“Tapi gw juga bukan orong – orong. Tapi kayaknya enak kalo jadi orong – orong trus hidup bebas tanpa masalah” ujarku dengan suara yang sangat pelan.
“tenang ndra.. di kalimantan ini ada kayu yang lebih kuat dari kayu jati.. disini ada kayu ulin.. pasti lebih awet.. hhehehe” ujar pak aksa yang tanpa kusadari telah tau apa yang aku pikirkan dan apa yang baru saja kugumankan.
Ingin rasanya aku langsung berteriak memakinya saat ini juga. Tapi ayolah pak. Ini bukan saatnya untuk tertawa. Nyawaku berada diujung tanduk saat ini.
“Ndraa” ujar pak sami memanggilku dengan setengah berteriak.
Tak ada raut ceria diwajahnya. Yang ada hanyalah tatapan tajam. Tapi tidak. Semua pasang mata yang ada disini tengah mengarah padaku dengan tatapan yang tak jauh berbeda saat aku mulai melangkah maju mendekati pak sami dan setelah cukup dekat pak sami memberikan isyarat jari agar aku berlutut yang tanpa pikir panjang akupun melakukanya.
“Ganindra Basudewa.. seorang anak muda yang mau menantangku.. kenapa kamu berlutut??” ujar sang atta dengan suara berat dan pastinya terdengar sangat menyeramkan untukku.
Tanpa menjawab dan tanpa berani menaikan wajah aku haya tetap diam diposisi ini. Saat ini hanya ketakutan yang aku rasakan. Bukan karena takut akan sesuatu yang menyeramkan karena ta ada yang menyeramkan dari apa yang ada di depanku saat ini. Tapi ketakutan akan kematian dan semua penyesalan. Walaupun beberapa kali aku menghibur diri bahwa sebentar lagi aku akan bertemu dengan almarhum anakku. Tapi hati kecil ini selalu mengatakan jika belum saatnya jika aku mati saat ini.
“ijinkan saya bicara datu” ujar pak sami yang tiba – tiba sudah berdiri disamping kiriku.
“Diam.. biar dia yang bicara.. kamu sudah menjelaskanya tadi.. sekarang aku ingin mendengar dari mulutnya” ujar sang atta membentak pak sami yang langsung membuatnya diam dengan kepala tertunduk lesu.
DEG
“Aku?? Ngejelasin ke sang atta??” gumanku dalam hati dalam keterkejutan.
“iya.. jelaskan ke saya” ujar sang atta.
Sial. Aku lupa jika ida saja bisa melakukan itu dengan mudah. Apalagi beliau?? Tapi aku harus memulai darimana?? Apa yang harus aku ucapkan lebih dulu?? Darimana aku harus memulainya. Atau lebih tepatnya. Bagaimana aku memulainya??
DUUGGG
Sang ata tiba – tiba menghentakkan kakinya ditanah dan langsung membuyarkan semua lamunanku. Sial. Belum pernah sekalipun aku harus berbicara di depan banyak pasang mata seperti ini. Ya walaupun pernah satu kali saat aku mengucapkan ijab dahulu tapi tatapan mata orang – orang yang ada disekitarku jelas berbeda.
“Saya.. saya..” ujarku dengan tergugup dan lidahku benar – benar kelu untuk melanjutkanya.
BUG
Pak sami menepuk pundakku dan mengangguk perlahan untuk menghilangkan semua keraguanku. Yah sepertinya dia paham yang aku pikirkan. Ah tidak. Semua orang yang ada disini paham dan tau apa yang aku pikirkan saat ini.
“sekarang saatnya..” ujarku pada diriku sendiri sambil menarik nafas dalam – dalam.
“Saya baru di pulau ini.. saya datang kesini karena ingin membangun kehidupan saya dari nol dan ga lebih dari itu.. tapi kemudian dan tanpa saya duga saya akhirnya ketemu sama pak sami yang tak lain adalah teman dari guru saya yang ada di belakang itu.. pak aksa.. berjalanya waktu saya akhirnya kerja disebuah bengkel yang didepanya ada sebuah rumah.. rumah besar dengan aura yang gelap.. disitu saya nemu suatu fakta kalo sudah terjadi pembantaian yang ga manusiawi terjadi hingga memaksa saya untuk kembali mengamalkan apa yang sudah saya buang dulu dan sedikitpun saya benar – benar ga tau kalo orang yang jadi dalang di rumah itu adalah bu ning dan mbak endah dan mereka sudah mendapat perlindungan dari anda.. sebagaimana orang awam. apalagi belakangan saya tau jika ada sebuah hubungan emosional saya dan diakhiri oleh mereka berdua dengan cara yang keji membuat saya langsung gelap mata dan menyerang semua yang menghalangi saya.. dan saya aui saya memang bersalah dan saya benar – benar tida menyangka sebelumnya jika perbuatan saya itu akhirnya menyeret semua masalah yang lebih besar ini” ujarku dengan tertunduk tanpa berani sama sekali melihat ke arah depan.
“Cukup” ujar sang atta memotong ucapanku. “Dia meminta perlindunganku dari kejahatan disekitarnya baik itu dari keturunanku atau pula para pendatang yang kami terima.. dan aku sudah menjanjikan keselamatan atasnya.. itulah yang menjadi perdebatan anak cucuku hingga kalian semua yang ada disini saling meyerang satu sama lainya.. dan aku menjanjikan keselamatan atasnya di tanahku ini.. tapi orang yang sudah menumpahkan darah di tanah warisanku tidak bisa dimaafkan.. apalagi dia telah berhasil mengadu domba anak – anakku..” Lanjut beliau dengan menunjuk ke arah bu ning dengan mata yang tiba – tiba berubah hijau dan menyala dengan terang.
Apalagi sekarang?? Apa yang akan terjadi selanjutnya?? Tapi aku sudah sangat lega setelah bisa berbicara panjang lebar di depan orang yang paling disegani ini.
“oh iya.. tadi kamu sempat berpikir tentang orang yang memotong kepala orong – orong??” ujar sang atta sambil menengok ke arahku.
DEG
“Eh.. iya.. maaf” jawabku dengan setengah terkejut.
“Aku kenal dengan dia yang kamu pikirkan itu” ujar sang atta yang kemudian memalingkan kembali wajahnya ke arah bu ning yang sedang ditarik oleh salah satu orang yang sedari tadi ada dibelakang beliau.
“Eh?? Kenal?? Berapa umurnya??” pikirku yang tak sanggup membayangkanya apalagi berkata – kata.
symoel08 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
yang membudayakan kata ![Sang Wakil Janji [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/12/04/9887347_201712040913160327.jpg)