- Beranda
- Stories from the Heart
WARISAN
...
TS
meta.morfosis
WARISAN
hai gan/sis....
ini adalah thread keberapa dari beberapa thread yang sudah pernah ane buat, tapi karena adanya beberapa alasan...dengan terpaksa thread thread tersebut ane hentikan, intinya penghentian thread thread tersebut bukan karena alasan adanya perintah ghoib ataupun permintaan narasumber hehe....semoga untuk kisah ini bisa ane share sampai akhir...
oke...singkat kata, kisah yang akan ane share kali ini masih berhubungan dengan hal hal yang berbau ghoib alias setan/demit dan sejenisnya, dan kisah ini akan ane beri judul
catatan :
* untuk kisah yang ane akan tuliskan ini, ane akan menempatkan diri sebagai tokoh yang mengalaminya
* jangan bertanya...ini kisah nyata ataupun fiksi, karena sudah jelas apa yang akan ane share ini berhubungan dengan sesuatu yang ghoib, dan ketika kita berbicara tentang sesuatul yang ghoib itu akan ada pertentangan antara percaya enggak percaya...kenyataan ataupun imajinasi....cukup jadikan kisah ini sebagai bacaan di waktu senggang aja...atau lebih tepatnya jadikan kisah ini sebagai bacaan yang membangkitkan adrenalin....
* apakah ts percaya dengan sesuatu yang ghoib, jawaban ts...percaya tapi tidak dengan cara berlebihan
* apakah ts pernah mengalaminya.....ya pernah...
* apakah ts percaya dengan kejadian kejadian yang terjadi dan di luar akal sehat adalah ulah dari mahluk ghoib ....jawaban ts...bisa ya..bisa juga tidak, alasannya karena kita sebagai manusia diberikan kelebihan berupa akal pikiran yang akan memberikan kita modal untuk mencerna setiap peristiwa yang terjadi dengan bijak, banyak faktor lain yang bisa melatarbelakangi peristiwa tersebut di luar hal hal yang berbau ghoib
* apakah ts percaya mahluk ghoib mempunyai kekuatan.....percaya, seperti halnya manusia, hewan, dan tumbuhan ....semuanya mempunyai kekuatan, begitu juga dengan mahluk ghoib...tapi kekuatan yang paling besar dan tidak tertandingi...adalah kekuatan tuhan yang maha esa...
* jangan creepy/copy pasta kisah ini tanpa seizin ts....
selamat membaca....

Prologue
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Epilog
ini adalah thread keberapa dari beberapa thread yang sudah pernah ane buat, tapi karena adanya beberapa alasan...dengan terpaksa thread thread tersebut ane hentikan, intinya penghentian thread thread tersebut bukan karena alasan adanya perintah ghoib ataupun permintaan narasumber hehe....semoga untuk kisah ini bisa ane share sampai akhir...
oke...singkat kata, kisah yang akan ane share kali ini masih berhubungan dengan hal hal yang berbau ghoib alias setan/demit dan sejenisnya, dan kisah ini akan ane beri judul
WARISAN
catatan :
* untuk kisah yang ane akan tuliskan ini, ane akan menempatkan diri sebagai tokoh yang mengalaminya
* jangan bertanya...ini kisah nyata ataupun fiksi, karena sudah jelas apa yang akan ane share ini berhubungan dengan sesuatu yang ghoib, dan ketika kita berbicara tentang sesuatul yang ghoib itu akan ada pertentangan antara percaya enggak percaya...kenyataan ataupun imajinasi....cukup jadikan kisah ini sebagai bacaan di waktu senggang aja...atau lebih tepatnya jadikan kisah ini sebagai bacaan yang membangkitkan adrenalin....
* apakah ts percaya dengan sesuatu yang ghoib, jawaban ts...percaya tapi tidak dengan cara berlebihan
* apakah ts pernah mengalaminya.....ya pernah...
* apakah ts percaya dengan kejadian kejadian yang terjadi dan di luar akal sehat adalah ulah dari mahluk ghoib ....jawaban ts...bisa ya..bisa juga tidak, alasannya karena kita sebagai manusia diberikan kelebihan berupa akal pikiran yang akan memberikan kita modal untuk mencerna setiap peristiwa yang terjadi dengan bijak, banyak faktor lain yang bisa melatarbelakangi peristiwa tersebut di luar hal hal yang berbau ghoib
* apakah ts percaya mahluk ghoib mempunyai kekuatan.....percaya, seperti halnya manusia, hewan, dan tumbuhan ....semuanya mempunyai kekuatan, begitu juga dengan mahluk ghoib...tapi kekuatan yang paling besar dan tidak tertandingi...adalah kekuatan tuhan yang maha esa...
* jangan creepy/copy pasta kisah ini tanpa seizin ts....
selamat membaca....

Prologue
Chapter 1
Chapter 2
Chapter 3
Chapter 4
Chapter 5
Chapter 6
Chapter 7
Chapter 8
Chapter 9
Chapter 10
Chapter 11
Chapter 12
Chapter 13
Chapter 14
Chapter 15
Chapter 16
Chapter 17
Chapter 18
Chapter 19
Chapter 20
Chapter 21
Chapter 22
Chapter 23
Epilog
Diubah oleh meta.morfosis 26-02-2018 22:57
sekarpuspita531 dan 22 lainnya memberi reputasi
23
104.8K
Kutip
337
Balasan
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
meta.morfosis
#184
Spoiler for Chapter 13:
“ kalau memang ternyata aki udah sadar dan membuka pintu kamar tersebut, lantas yang merokok di dalam kamar gw ini berarti daru...?”
belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang bermain main dalam benak gw ini, kini tampak sepotong kaki sebatas dengkul yang terlihat menyeruak keluar dari dalam kamar aki, melihat hal tersebut...bisa gw rasakan detak jantung gw yang sedari tadi telah berdegup cepat kini semakin bertambah cepat.......dan perlahan tapi pasti...kini sepotong tangan yang menggenggam sebilah golok terlihat keluar dari dalam kamar...hal ini jelas membuat nafas yang tengah gw hembuskan seperti terhenti sejenak
“ golok itu....” ucap gw mengenali golok yang berada dalam genggaman tangan tersebut, sebilah golok yang sedari kemarin memang telah menjadi obyek pencarian gw dan daru
“ aki....ini pasti aki....” ucap gw pelan, tatapan mata gw seperti terpaku menanti sesosok mahluk yang gw anggap sebagai aki tersebut memunculkan bagian tubuhnya yang lain...hingga akhirnya gw mulai melihat sesosok mahluk yang gw simpulkan sebagai aki tersebut mulai menyembulkan kepalanya keluar dalam kamar, gelapnya penerangan di luar kamar seperti menampakan potongan wajah dari sesosok mahluk yang gw anggap sebagai aki tersebut laksana sebuah silhoute hitam yang penuh misteri.... walaupun kini pandangan mata gw terkendala oleh gelapnya penerangan...tapi bisa gw pastikan dari bentuk wajah dan rambut yang menghiasi kepala sesosok mahluk tersebut memang mengarah kepada karakteristik sosok aki...walaupun.......
“ bukan...ini bukan aki...” sangkal gw begitu dapat memastikan bahwa bagian wajah dari sesosok mahluk tersebut terlihat begitu hitam...bahkan kehitamannya itu seakan menyatu dengan kegelapan ruangan di depan kamar, untuk apa yang gw lihat kali ini...gw terpaksa harus meninjau ulang kesimpulan yang telah gw buat, apa yang tengah gw lihat kali ini....sungguh sangat tidak mendukung dari karakteristik kulit aki yang selama ini gw lihat
hampir beberapa saat lamanya gw hanya bisa terdiam terpaku menatap mahluk tersebut berdiri mematung tepat di pintu kamar aki, tatapan mata sesosok mahluk tersebut terlihat lurus memandang ke arah depan, hingga akhirnya....entah karena terpancing oleh rasa keingintahuan gw yang mengkerucut di pandangan mata ini....kini dengan sangat perlahan mahluk tersebut mulai menolehkan wajahnya ke arah gw
“ Aaaaaaa....”
entah gw harus mengucapkan apa begitu melihat wajah dari sesosok mahluk yang menyerupai aki tersebut, wajah mahluk tersebut yang terlihat begitu hitam seakan menyatu dengan kegelapan, hanya sorot matanya yang tajam terlihat menatap gw dalam kegelapan...warna merah menyala dari kedua bola mata tersebut seperti ingin menegaskan sebuah ucapan dari bibirnya yang terlihat bergerak gerak....bisa gw katakan kini apa yang telah tersaji di depan mata gw ini laksana sebuah mantra pelumpuh yang dapat menghentikan semua saraf gerak di tubuh gw ini...bahkan untuk mengalihkan pandangan dari sesosok mahluk tersebut terasa sangat sulit untuk gw lakukan, diantara rasa ketidakberdayaan gw untuk melakukan sesuatu...masih terlintas di benak gw ini sebuah pemikiran, andai saja saat ini gw diberikan pilihan untuk tetap terjaga menatap mahluk tersebut atau tertidur dalam ketidaksadaran...gw akan memilih untuk tertidur dalam ketidaksadaran
“ pakk....bapak....tolong danang pak....cepat pulang....danang udah enggak kuat lagi menghadapi ini semua....” ucap gw dalam hati seraya membayangkan sosok bapak yang akan hadir dan mengeluarkan gw dari situasi ini...hingga akhirnya...
....derrrrrr.....
suara guntur yang terdengar cukup keras terdengar memecah keheningan malam, pandangan mata gw yang semula terpaku menatatap sesosok mahluk yang menyerupai aki tersebut kini seperti terselimuti oleh kegelapan....mungkin ini adalah salah satu bentuk dari pertolongan tuhan yang mencoba mengeluarkan gw dari ketidakberdayaan, suasana gelap gulita yang tercipta di ruangan ini kini laksana sebuah cemeti yang menyadarkan pikiran gw untuk segera mengambil sebuah tindakan...dan sepertinya hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran gw saat ini adalah gw harus segera keluar dari dalam rumah ini walaupun dengan resiko gw akan berbenturan dengan barang barang yang ada di dalam rumah ini.......seiring dengan keputusan yang telah gw ambil, kini gw segera berlari menuju pintu rumah ...kegelapan ruangan yang seakan menutupi pandangan mata ini kini tidak mampu lagi untuk menahan keinginan gw untuk segera keluar dari dalam rumah ini
“ brengsek.....!!!” maki gw begitu mendapati kenyataan pintu rumah yang terkunci, gerakan jari tangan gw yang gemetar seperti membatasi keluwesan gerakan jari tangan gw dalam membuka kunci pintu, cukup lama juga gw bergelut dengan sesuatu yang seharusnya terasa sangat mudah untuk gw lakukan disaat dalam situasi normal....kini diantara gerakan jari jemari tangan yang telah berhasil membuka kunci pintu bisa gw rasakan sebuah benda dingin yang menyentuh punggung gw...dan gw yakin benda yang menyentuh punggung gw ini bukanlah sebuah telapak tangan melainkan sebuah benda yang terbuat dari logam...dan mungkin benda itu adalah...
“ persetannn....” maki gw pada diri sendiri tanpa menghiraukan kesimpulan yang telah gw ambil, seiring gerakan tangan gw yang telah memutar gagang pintu pada putaran maksimal...sebuah pemandangan yang akan melepaskan gw dari semua kejadian menyeramkan ini kini tersaji di hadapan gw, hembusan angin dingin yang menerpa wajah ini seperti sebuah kata ajakan yang meminta gw untuk segera berlari meninggalkan rumah... tanpa memperdulikan pintu rumah yang masih terbuka...gw segera berlari menembus kegelapan malam diantara rintik hujan dan hawa dingin yang terasa menusuk kulit ini
“ sinting.... gw bebas...bebas....” gumam gw sambil membungkukan tubuh ini, irama nafas gw yang terasa naik turun seperti mengiringi butiran keringat yang keluar dan bercampur dengan butiran air hujan yang membasahi tubuh ini
“ ini bukan main main lagi....ini nyata....” ucap gw sambil mengambil nafas panjang dan menghembuskannya, terlihat seberkas cahaya yang sedikit menyilaukan pandangan mata gw ini, tampak di sebuah pos jaga yang terletak tidak jauh dari posisi gw berdiri saat ini, beberapa orang pemuda terlihat memperhatikan gw...salah satunya tampak mengarahkan cahaya lampu senternya ke arah gw, tanpa menunggu para pemuda tersebut menghampiri...gw segera berjalan menuju pos jaga tersebut
“ nang....danang....?” teriak seorang pemuda sambil tetap mengarahkan senternya ke arah gw
“ lohhh kamu kenapa nang....?” tanya seorang pemuda lagi begitu gw tiba di pos jaga, untuk beberapa saat gw memperhatikan wajah orang orang yang hadir di pos jaga, kini tampak tiga orang pemuda yang hampir sepantaran dengan gw beserta seorang lelaki paruh baya, dari tiga orang pemuda tersebut tampak salah satunya adalah pemuda kampung yang pernah terlibat pembicaraan dengan gw sewaktu di mushola beberapa hari yang lalu sebut saja namanya idang..., sedangkan lelaki separuh baya yang bersama para pemuda tersebut adalah pak sunu seorang penjaga keamanan kampung yang bertugas menjaga kemanan kampung ini sehari harinya
“ nang kamu kenapa....?” tanya pak sunu yang melihat gw masih terdiam, tarikan tangannya kini telah membawa gw memasuki pos jaga, bisa gw rasakan rasa heran di wajah mereka begitu melihat tubuh gw yang basah oleh air hujan serta, tatapan mata idang terlihat memperhatikan kaki gw yang tidak mengenakan sandal dan terlihat kotor oleh tanah basah, untuk sesaat gw kembali terdiam...keinginan gw untuk menceritakan kejadian yang baru saja gw alami seperti terhalang oleh rasa khawatir akan tanggapan yang kurang baik atas kejadian yang telah gw alami
“ nang....?” ucap salah seorang pemuda sambil menyentuh bahu gw
“ enggak ada apa apa pak sunu....danang hanya ingin keluar rumah aja, tadi kebetulan enggak bisa tidur...ditambah lagi lampu mati....” seiring dengan perkataan gw, kini bayangan gw akan sosok ibu, kak dira dan daru yang gw tinggalkan di rumah seperti menyadarkan gw akan kelalaian yang telah gw lakukan...sempat terlintas rasa menyesal di hati ini karena telah meninggalkan mereka di rumah dalam kondisi gelap gulita seperti itu
“ masa sih nang....” ucap idang karena merasa tidak yakin dengan penjelasan yang baru saja gw berikan, terlihat pak sunu memberikan isyarat mata agar para pemuda yang lain tidak menimpali perkataan idang...tapi tampaknya tingkat pemikiran dewasa para pemuda tersebut belumlah setara dengan tingkat pemikiran pak sunu, kini gw melihat para pemuda tersebut terlihat seperti saling bermain mata
“ lu masih ingat kan nang...dengan cerita yang gw ceritakan di mushola waktu itu....” ucap idang kembali berusaha mengingatkan gw dengan pembicaraan yang terjadi di mushola, mendapati hal tersebut...gw hanya terdiam tanpa bermaksud merespon perkataannya
“ aki lu itu mengamalkan ilmu hitam......” ujar seorang pemuda lagi sambil menatap wajah gw...gw mengenal pemuda tersebut dengan nama panggilan asep, seorang pemuda yang memang sudah sedari kecil terkenal dengan kenakalannya, mendengar perkataan asep kini kembali pak sunu mencoba mengingatkan agar menghentikan pembicaraan, tanpa memperdulikan perkataan pak sunu, para pemuda tersebut tetap melanjutkan pembicaraannya
“ menurut cerita orang tua gw, dulu sebenarnya aki darwis.... bukanlah orang yang mampu seperti sekarang ini...kehidupannya serba susah....hingga pada suatu waktu, aki darwis ikut serta dalam pemilihan kepala desa....ya kalian kan tau sendiri berapa banyak modal yang dibutuhkan untuk meraih jabatan kepala desa....” ucap seorang pemuda yang gw kenal dengan nama bidin
rasa dingin yang semakin terasa menusuk kulit tubuh ini, telah membuat bidin menghentikan perkataannya, sebatang rokok kretek kini telah tersulutkan di mulutnya, sepertinya tingkat kenakalan gw dalam menghisap rokok masih kalah jauh dibandingkan para pemuda kampung ini
“ pada akhirnya kalian pasti sudah bisa menebak....aki darwis akhirnya kalah dalam pemilihan kepala desa...sindiran sindiran dari para pengikut kepala desa terpilih kepada aki darwis seperti enggak ada hentinya, mulai dari sindiran halus hingga yang kasar... bisa dikatakan semua sindiran tersebut sudah seperti santapan sehari hari bagi aki darwis....hingga akhirnya mungkin karena marasa sudah enggak tahan lagi dengan semua sindiran itu, aki dan nini lu itu nang... pergi meninggalkan kampung ini, hampir dua tahun lamanya aki dan nini darwis enggak ada kejelasan kabar beritanya.....rumah yang sekarang lu tempati itu di tinggalkannya begitu aja....”
mendengar penjelasan bidin tersebut, keingintahuan gw akan sosok aki dan masa lalunya seperti sedikit terungkap, gw sadar...keingintahuan gw untuk mengetahui masa lalu aki tidak akan pernah gw dapatkan dari mulut bapak
“ lantas bagaimana kelanjutannya....?” tanya gw kembali kepada bidin, sejujurnya gw lebih senang mendapatkan semua penjelasan ini dari bidin karena bidin terlihat lebih santun dalam memberikan penjelasan dan terkesan tidak menghakimi aki, hal ini sangat berbanding terbalik dengan perkataan perkataan yang keluar dari mulut idang dan asep
“ setelah dua tahun tidak ada kabar beritanya....tidak ada angin...tidak ada hujan, aki dan nini darwis kembali ke kampung ini dengan membawa seorang anak yang tidak lain adalah bapak lu nang......perlahan tapi pasti, perekonomian keluarga aki darwis semakin membaik...dan masih menurut cerita orang tua gw...pada saat usia aki darwis mencapai 38 tahun...keluarga aki darwis mencapai tingkat kejayaannya ” terang bidin, pak ibnu yang mendengarkan penjelasan bidin sepertinya sudah mengetahui masa lalu dari aki dan nini
“ mencapai tingkat kejayaan....?” tanya gw penuh dengan rasa penasaran
“ iya....keluarga aki darwis semakin kaya dan sangat di takuti.....” jawab bidin singkat
“ di takuti karena kesaktian ilmu hitamnya....” celetuk idang yang terkesan kembali menyudutkan aki
“ buat apa kaya karena ilmu hitam....kaya tapi sengsara...matinya pun akan jelas sengsara...” timpal asep sambil mengeluarkan tawa kecilnya, mendengar hal tersebut...rasa kesal yang sedari tadi sudah coba untuk gw tahan kini seperti mengkerucut pada jari jari tangan yang mulai terkepal keras, dan sepertinya bidin menyadari itu
“ kalian enggak boleh gitu....biar bagaimanapun kita mendengar cerita cerita tersebut dari orang tua kita...yang bahkan kita sendiri tidak mengetahui kebenarannya...” ucap bidin berusaha menahan idang dan asep menyudutkan keluarga gw dengan segala pandangan negatifnya
“ enggak mungkin orang tua kita berbohong din...” ujar asep yang berbalaskan anggukan kepala idang, melihat sikap keras kepala yang di perlihatkan idang dan asep seketika itu juga telah membuat pandangan mata gw yang selama ini gw alihkan dari wajah mereka, kini terpaku tajam menatap mereka....tidak gw rasakan lagi rasa dingin dari air hujan yang membasahi kaos yang gw kenakan.....mungkin ini adalah efek dari rasa emosi gw yang mulai berjalan menuju puncaknya, perlahan bisa gw rasakan rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh ini....hingga akhirnya semua rasa hangat itu seperti berkumpul di jari jemari tangan kanan gw yang sudah terkepal
“ ahhh...” gumam gw pelan begitu merasakan rasa hangat yang terkumpul di tangan gw telah berubah menjadi rasa panas, getaran yang mulai timbul pada jari jemari tangan gw yang terkepal seperti mengisyaratkan adanya energi besar yang terkumpul disana, melihat hal tersebut pak sunu yang sedari tadi hanya duduk mengamati, kini bangkit dari duduknya
“ udah nang....sebaiknya kamu saya antar pulang....” ujar pak sunu sambil berusaha meraih pergelangan tangan gw, tapi begitu melihat tatapan mata gw yang tajam...pak sunu terlihat mengurungkan niatnya
“ sebenarnya apa masalah kalian dengan keluarga gw.....?” tanya gw seraya menatap idang dan asep dengan tajam, entah ini hanya perasaan gw saja ataukah memang ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang sedang mengaburkan pandangan mata gw ini....kini walaupun gw menyadari gw sedang menatap idang dan asep dengan tajam...tapi gw merasakan kesadaran gw perlahan demi perlahan seperti terambil alih oleh sesuatu yang sangat sulit untuk gw jelaskan dengan kata kata
“ brengsek lu nang...lu pikir kami bakalan takut ya....lu tuh bukan aki darwis....lu bukan siapa siapa....” ucap asep seraya mengajak idang untuk bersiap siap menantang gw berkelahi
mungkin itu adalah kalimat terakhir yang gw dengar sebelum akhirnya kesadaran gw benar benar menghilang....gw benar benar tidak mengetahui apa yang telah gw lakukan setelah idang dan asep mengucapkan kalimat tersebut....hal yang kini gw sadari adalah.....gw merasakan cahaya matahari yang terasa hangat diantara kelopak mata gw yang masih terpejam...
“ bu.....” ucap gw lirih sambil membuka pejaman mata ini, rasa silau yang gw rasakan seperti mengaburkan pandangan mata gw terhadap keberadaan ibu, kak dira, daru serta pak ujang di dalam kamar, seiring dengan telapak tangan gw yang menghalangi laju sinar matahari tersebut, kini bisa gw lihat ekspresi kekhawatiran di wajah ibu, kak dira, daru serta pak ujang
“ alhamdulillah kamu udah sadar nang....” seiring dengan perkataan ibu, jari jemari tangannya terasa lembut membelai kening gw
“ apa yang terjadi bu.....?”
“ sebaiknya kamu istirahat dulu nang.....” saran pak ujang sambil mengembangkan senyumnya
“ ya udah teh.....berhubung danang udah sadar, sekarang saya mau membereskan atap dulu....” ucap pak ujang kembali yang berbalas anggukan kepala ibu
“ ra....cepat kamu buatkan teh manis hangat untuk adik kamu...” perintah ibu kepada kak dira, mendapati perintah ibu...kini kak dira dan pak ujang terlihat berlalu meninggalkan kamar
“ apa yang terjadi sama danang bu.....” tanya gw kembali seraya merasakan pening di kepala ini
“ semalam kamu pingsan nang....kamu diantarkan ke rumah ini oleh pak sunu dan bidin...menurut keterangan dari pak sunu dan bidin, katanya semalam kamu berkelahi dengan idang dan asep....”
mendengar keterangan yang keluar dari mulut ibu, kini ingatan gw seperti kembali berangsur normal, bisa gw ingat kembali saat saat terakhir asep mengucapkan sebuah kalimat yang akhirnya mengantarkan gw tidak sadarkan diri
“ astagfirullah....danang minta maaf bu...bagaimana kabar idang dan asep....?” tanya gw dengan rasa cemas, ingatan gw akan rasa panas yang gw rasakan pada malam itu telah mengantarkan tatapan mata gw kini terarah pada cincin bermata batu hitam yang masih melekat di jari manis tangan kanan
“ apakah cincin ini yang telah membuat gw merasakan hawa panas itu....?” tanya gw dalam hati seraya menunggu jawaban dari ibu tentang kondisi asep dan idang yang terlibat perkelahian dengan gw semalam
belum sempat gw mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang bermain main dalam benak gw ini, kini tampak sepotong kaki sebatas dengkul yang terlihat menyeruak keluar dari dalam kamar aki, melihat hal tersebut...bisa gw rasakan detak jantung gw yang sedari tadi telah berdegup cepat kini semakin bertambah cepat.......dan perlahan tapi pasti...kini sepotong tangan yang menggenggam sebilah golok terlihat keluar dari dalam kamar...hal ini jelas membuat nafas yang tengah gw hembuskan seperti terhenti sejenak
“ golok itu....” ucap gw mengenali golok yang berada dalam genggaman tangan tersebut, sebilah golok yang sedari kemarin memang telah menjadi obyek pencarian gw dan daru
“ aki....ini pasti aki....” ucap gw pelan, tatapan mata gw seperti terpaku menanti sesosok mahluk yang gw anggap sebagai aki tersebut memunculkan bagian tubuhnya yang lain...hingga akhirnya gw mulai melihat sesosok mahluk yang gw simpulkan sebagai aki tersebut mulai menyembulkan kepalanya keluar dalam kamar, gelapnya penerangan di luar kamar seperti menampakan potongan wajah dari sesosok mahluk yang gw anggap sebagai aki tersebut laksana sebuah silhoute hitam yang penuh misteri.... walaupun kini pandangan mata gw terkendala oleh gelapnya penerangan...tapi bisa gw pastikan dari bentuk wajah dan rambut yang menghiasi kepala sesosok mahluk tersebut memang mengarah kepada karakteristik sosok aki...walaupun.......
“ bukan...ini bukan aki...” sangkal gw begitu dapat memastikan bahwa bagian wajah dari sesosok mahluk tersebut terlihat begitu hitam...bahkan kehitamannya itu seakan menyatu dengan kegelapan ruangan di depan kamar, untuk apa yang gw lihat kali ini...gw terpaksa harus meninjau ulang kesimpulan yang telah gw buat, apa yang tengah gw lihat kali ini....sungguh sangat tidak mendukung dari karakteristik kulit aki yang selama ini gw lihat
hampir beberapa saat lamanya gw hanya bisa terdiam terpaku menatap mahluk tersebut berdiri mematung tepat di pintu kamar aki, tatapan mata sesosok mahluk tersebut terlihat lurus memandang ke arah depan, hingga akhirnya....entah karena terpancing oleh rasa keingintahuan gw yang mengkerucut di pandangan mata ini....kini dengan sangat perlahan mahluk tersebut mulai menolehkan wajahnya ke arah gw
“ Aaaaaaa....”
entah gw harus mengucapkan apa begitu melihat wajah dari sesosok mahluk yang menyerupai aki tersebut, wajah mahluk tersebut yang terlihat begitu hitam seakan menyatu dengan kegelapan, hanya sorot matanya yang tajam terlihat menatap gw dalam kegelapan...warna merah menyala dari kedua bola mata tersebut seperti ingin menegaskan sebuah ucapan dari bibirnya yang terlihat bergerak gerak....bisa gw katakan kini apa yang telah tersaji di depan mata gw ini laksana sebuah mantra pelumpuh yang dapat menghentikan semua saraf gerak di tubuh gw ini...bahkan untuk mengalihkan pandangan dari sesosok mahluk tersebut terasa sangat sulit untuk gw lakukan, diantara rasa ketidakberdayaan gw untuk melakukan sesuatu...masih terlintas di benak gw ini sebuah pemikiran, andai saja saat ini gw diberikan pilihan untuk tetap terjaga menatap mahluk tersebut atau tertidur dalam ketidaksadaran...gw akan memilih untuk tertidur dalam ketidaksadaran
“ pakk....bapak....tolong danang pak....cepat pulang....danang udah enggak kuat lagi menghadapi ini semua....” ucap gw dalam hati seraya membayangkan sosok bapak yang akan hadir dan mengeluarkan gw dari situasi ini...hingga akhirnya...
....derrrrrr.....
suara guntur yang terdengar cukup keras terdengar memecah keheningan malam, pandangan mata gw yang semula terpaku menatatap sesosok mahluk yang menyerupai aki tersebut kini seperti terselimuti oleh kegelapan....mungkin ini adalah salah satu bentuk dari pertolongan tuhan yang mencoba mengeluarkan gw dari ketidakberdayaan, suasana gelap gulita yang tercipta di ruangan ini kini laksana sebuah cemeti yang menyadarkan pikiran gw untuk segera mengambil sebuah tindakan...dan sepertinya hal yang pertama kali terlintas dalam pikiran gw saat ini adalah gw harus segera keluar dari dalam rumah ini walaupun dengan resiko gw akan berbenturan dengan barang barang yang ada di dalam rumah ini.......seiring dengan keputusan yang telah gw ambil, kini gw segera berlari menuju pintu rumah ...kegelapan ruangan yang seakan menutupi pandangan mata ini kini tidak mampu lagi untuk menahan keinginan gw untuk segera keluar dari dalam rumah ini
“ brengsek.....!!!” maki gw begitu mendapati kenyataan pintu rumah yang terkunci, gerakan jari tangan gw yang gemetar seperti membatasi keluwesan gerakan jari tangan gw dalam membuka kunci pintu, cukup lama juga gw bergelut dengan sesuatu yang seharusnya terasa sangat mudah untuk gw lakukan disaat dalam situasi normal....kini diantara gerakan jari jemari tangan yang telah berhasil membuka kunci pintu bisa gw rasakan sebuah benda dingin yang menyentuh punggung gw...dan gw yakin benda yang menyentuh punggung gw ini bukanlah sebuah telapak tangan melainkan sebuah benda yang terbuat dari logam...dan mungkin benda itu adalah...
“ persetannn....” maki gw pada diri sendiri tanpa menghiraukan kesimpulan yang telah gw ambil, seiring gerakan tangan gw yang telah memutar gagang pintu pada putaran maksimal...sebuah pemandangan yang akan melepaskan gw dari semua kejadian menyeramkan ini kini tersaji di hadapan gw, hembusan angin dingin yang menerpa wajah ini seperti sebuah kata ajakan yang meminta gw untuk segera berlari meninggalkan rumah... tanpa memperdulikan pintu rumah yang masih terbuka...gw segera berlari menembus kegelapan malam diantara rintik hujan dan hawa dingin yang terasa menusuk kulit ini
“ sinting.... gw bebas...bebas....” gumam gw sambil membungkukan tubuh ini, irama nafas gw yang terasa naik turun seperti mengiringi butiran keringat yang keluar dan bercampur dengan butiran air hujan yang membasahi tubuh ini
“ ini bukan main main lagi....ini nyata....” ucap gw sambil mengambil nafas panjang dan menghembuskannya, terlihat seberkas cahaya yang sedikit menyilaukan pandangan mata gw ini, tampak di sebuah pos jaga yang terletak tidak jauh dari posisi gw berdiri saat ini, beberapa orang pemuda terlihat memperhatikan gw...salah satunya tampak mengarahkan cahaya lampu senternya ke arah gw, tanpa menunggu para pemuda tersebut menghampiri...gw segera berjalan menuju pos jaga tersebut
“ nang....danang....?” teriak seorang pemuda sambil tetap mengarahkan senternya ke arah gw
“ lohhh kamu kenapa nang....?” tanya seorang pemuda lagi begitu gw tiba di pos jaga, untuk beberapa saat gw memperhatikan wajah orang orang yang hadir di pos jaga, kini tampak tiga orang pemuda yang hampir sepantaran dengan gw beserta seorang lelaki paruh baya, dari tiga orang pemuda tersebut tampak salah satunya adalah pemuda kampung yang pernah terlibat pembicaraan dengan gw sewaktu di mushola beberapa hari yang lalu sebut saja namanya idang..., sedangkan lelaki separuh baya yang bersama para pemuda tersebut adalah pak sunu seorang penjaga keamanan kampung yang bertugas menjaga kemanan kampung ini sehari harinya
“ nang kamu kenapa....?” tanya pak sunu yang melihat gw masih terdiam, tarikan tangannya kini telah membawa gw memasuki pos jaga, bisa gw rasakan rasa heran di wajah mereka begitu melihat tubuh gw yang basah oleh air hujan serta, tatapan mata idang terlihat memperhatikan kaki gw yang tidak mengenakan sandal dan terlihat kotor oleh tanah basah, untuk sesaat gw kembali terdiam...keinginan gw untuk menceritakan kejadian yang baru saja gw alami seperti terhalang oleh rasa khawatir akan tanggapan yang kurang baik atas kejadian yang telah gw alami
“ nang....?” ucap salah seorang pemuda sambil menyentuh bahu gw
“ enggak ada apa apa pak sunu....danang hanya ingin keluar rumah aja, tadi kebetulan enggak bisa tidur...ditambah lagi lampu mati....” seiring dengan perkataan gw, kini bayangan gw akan sosok ibu, kak dira dan daru yang gw tinggalkan di rumah seperti menyadarkan gw akan kelalaian yang telah gw lakukan...sempat terlintas rasa menyesal di hati ini karena telah meninggalkan mereka di rumah dalam kondisi gelap gulita seperti itu
“ masa sih nang....” ucap idang karena merasa tidak yakin dengan penjelasan yang baru saja gw berikan, terlihat pak sunu memberikan isyarat mata agar para pemuda yang lain tidak menimpali perkataan idang...tapi tampaknya tingkat pemikiran dewasa para pemuda tersebut belumlah setara dengan tingkat pemikiran pak sunu, kini gw melihat para pemuda tersebut terlihat seperti saling bermain mata
“ lu masih ingat kan nang...dengan cerita yang gw ceritakan di mushola waktu itu....” ucap idang kembali berusaha mengingatkan gw dengan pembicaraan yang terjadi di mushola, mendapati hal tersebut...gw hanya terdiam tanpa bermaksud merespon perkataannya
“ aki lu itu mengamalkan ilmu hitam......” ujar seorang pemuda lagi sambil menatap wajah gw...gw mengenal pemuda tersebut dengan nama panggilan asep, seorang pemuda yang memang sudah sedari kecil terkenal dengan kenakalannya, mendengar perkataan asep kini kembali pak sunu mencoba mengingatkan agar menghentikan pembicaraan, tanpa memperdulikan perkataan pak sunu, para pemuda tersebut tetap melanjutkan pembicaraannya
“ menurut cerita orang tua gw, dulu sebenarnya aki darwis.... bukanlah orang yang mampu seperti sekarang ini...kehidupannya serba susah....hingga pada suatu waktu, aki darwis ikut serta dalam pemilihan kepala desa....ya kalian kan tau sendiri berapa banyak modal yang dibutuhkan untuk meraih jabatan kepala desa....” ucap seorang pemuda yang gw kenal dengan nama bidin
rasa dingin yang semakin terasa menusuk kulit tubuh ini, telah membuat bidin menghentikan perkataannya, sebatang rokok kretek kini telah tersulutkan di mulutnya, sepertinya tingkat kenakalan gw dalam menghisap rokok masih kalah jauh dibandingkan para pemuda kampung ini
“ pada akhirnya kalian pasti sudah bisa menebak....aki darwis akhirnya kalah dalam pemilihan kepala desa...sindiran sindiran dari para pengikut kepala desa terpilih kepada aki darwis seperti enggak ada hentinya, mulai dari sindiran halus hingga yang kasar... bisa dikatakan semua sindiran tersebut sudah seperti santapan sehari hari bagi aki darwis....hingga akhirnya mungkin karena marasa sudah enggak tahan lagi dengan semua sindiran itu, aki dan nini lu itu nang... pergi meninggalkan kampung ini, hampir dua tahun lamanya aki dan nini darwis enggak ada kejelasan kabar beritanya.....rumah yang sekarang lu tempati itu di tinggalkannya begitu aja....”
mendengar penjelasan bidin tersebut, keingintahuan gw akan sosok aki dan masa lalunya seperti sedikit terungkap, gw sadar...keingintahuan gw untuk mengetahui masa lalu aki tidak akan pernah gw dapatkan dari mulut bapak
“ lantas bagaimana kelanjutannya....?” tanya gw kembali kepada bidin, sejujurnya gw lebih senang mendapatkan semua penjelasan ini dari bidin karena bidin terlihat lebih santun dalam memberikan penjelasan dan terkesan tidak menghakimi aki, hal ini sangat berbanding terbalik dengan perkataan perkataan yang keluar dari mulut idang dan asep
“ setelah dua tahun tidak ada kabar beritanya....tidak ada angin...tidak ada hujan, aki dan nini darwis kembali ke kampung ini dengan membawa seorang anak yang tidak lain adalah bapak lu nang......perlahan tapi pasti, perekonomian keluarga aki darwis semakin membaik...dan masih menurut cerita orang tua gw...pada saat usia aki darwis mencapai 38 tahun...keluarga aki darwis mencapai tingkat kejayaannya ” terang bidin, pak ibnu yang mendengarkan penjelasan bidin sepertinya sudah mengetahui masa lalu dari aki dan nini
“ mencapai tingkat kejayaan....?” tanya gw penuh dengan rasa penasaran
“ iya....keluarga aki darwis semakin kaya dan sangat di takuti.....” jawab bidin singkat
“ di takuti karena kesaktian ilmu hitamnya....” celetuk idang yang terkesan kembali menyudutkan aki
“ buat apa kaya karena ilmu hitam....kaya tapi sengsara...matinya pun akan jelas sengsara...” timpal asep sambil mengeluarkan tawa kecilnya, mendengar hal tersebut...rasa kesal yang sedari tadi sudah coba untuk gw tahan kini seperti mengkerucut pada jari jari tangan yang mulai terkepal keras, dan sepertinya bidin menyadari itu
“ kalian enggak boleh gitu....biar bagaimanapun kita mendengar cerita cerita tersebut dari orang tua kita...yang bahkan kita sendiri tidak mengetahui kebenarannya...” ucap bidin berusaha menahan idang dan asep menyudutkan keluarga gw dengan segala pandangan negatifnya
“ enggak mungkin orang tua kita berbohong din...” ujar asep yang berbalaskan anggukan kepala idang, melihat sikap keras kepala yang di perlihatkan idang dan asep seketika itu juga telah membuat pandangan mata gw yang selama ini gw alihkan dari wajah mereka, kini terpaku tajam menatap mereka....tidak gw rasakan lagi rasa dingin dari air hujan yang membasahi kaos yang gw kenakan.....mungkin ini adalah efek dari rasa emosi gw yang mulai berjalan menuju puncaknya, perlahan bisa gw rasakan rasa hangat yang menjalar di sekujur tubuh ini....hingga akhirnya semua rasa hangat itu seperti berkumpul di jari jemari tangan kanan gw yang sudah terkepal
“ ahhh...” gumam gw pelan begitu merasakan rasa hangat yang terkumpul di tangan gw telah berubah menjadi rasa panas, getaran yang mulai timbul pada jari jemari tangan gw yang terkepal seperti mengisyaratkan adanya energi besar yang terkumpul disana, melihat hal tersebut pak sunu yang sedari tadi hanya duduk mengamati, kini bangkit dari duduknya
“ udah nang....sebaiknya kamu saya antar pulang....” ujar pak sunu sambil berusaha meraih pergelangan tangan gw, tapi begitu melihat tatapan mata gw yang tajam...pak sunu terlihat mengurungkan niatnya
“ sebenarnya apa masalah kalian dengan keluarga gw.....?” tanya gw seraya menatap idang dan asep dengan tajam, entah ini hanya perasaan gw saja ataukah memang ada sebuah kekuatan tak kasat mata yang sedang mengaburkan pandangan mata gw ini....kini walaupun gw menyadari gw sedang menatap idang dan asep dengan tajam...tapi gw merasakan kesadaran gw perlahan demi perlahan seperti terambil alih oleh sesuatu yang sangat sulit untuk gw jelaskan dengan kata kata
“ brengsek lu nang...lu pikir kami bakalan takut ya....lu tuh bukan aki darwis....lu bukan siapa siapa....” ucap asep seraya mengajak idang untuk bersiap siap menantang gw berkelahi
mungkin itu adalah kalimat terakhir yang gw dengar sebelum akhirnya kesadaran gw benar benar menghilang....gw benar benar tidak mengetahui apa yang telah gw lakukan setelah idang dan asep mengucapkan kalimat tersebut....hal yang kini gw sadari adalah.....gw merasakan cahaya matahari yang terasa hangat diantara kelopak mata gw yang masih terpejam...
“ bu.....” ucap gw lirih sambil membuka pejaman mata ini, rasa silau yang gw rasakan seperti mengaburkan pandangan mata gw terhadap keberadaan ibu, kak dira, daru serta pak ujang di dalam kamar, seiring dengan telapak tangan gw yang menghalangi laju sinar matahari tersebut, kini bisa gw lihat ekspresi kekhawatiran di wajah ibu, kak dira, daru serta pak ujang
“ alhamdulillah kamu udah sadar nang....” seiring dengan perkataan ibu, jari jemari tangannya terasa lembut membelai kening gw
“ apa yang terjadi bu.....?”
“ sebaiknya kamu istirahat dulu nang.....” saran pak ujang sambil mengembangkan senyumnya
“ ya udah teh.....berhubung danang udah sadar, sekarang saya mau membereskan atap dulu....” ucap pak ujang kembali yang berbalas anggukan kepala ibu
“ ra....cepat kamu buatkan teh manis hangat untuk adik kamu...” perintah ibu kepada kak dira, mendapati perintah ibu...kini kak dira dan pak ujang terlihat berlalu meninggalkan kamar
“ apa yang terjadi sama danang bu.....” tanya gw kembali seraya merasakan pening di kepala ini
“ semalam kamu pingsan nang....kamu diantarkan ke rumah ini oleh pak sunu dan bidin...menurut keterangan dari pak sunu dan bidin, katanya semalam kamu berkelahi dengan idang dan asep....”
mendengar keterangan yang keluar dari mulut ibu, kini ingatan gw seperti kembali berangsur normal, bisa gw ingat kembali saat saat terakhir asep mengucapkan sebuah kalimat yang akhirnya mengantarkan gw tidak sadarkan diri
“ astagfirullah....danang minta maaf bu...bagaimana kabar idang dan asep....?” tanya gw dengan rasa cemas, ingatan gw akan rasa panas yang gw rasakan pada malam itu telah mengantarkan tatapan mata gw kini terarah pada cincin bermata batu hitam yang masih melekat di jari manis tangan kanan
“ apakah cincin ini yang telah membuat gw merasakan hawa panas itu....?” tanya gw dalam hati seraya menunggu jawaban dari ibu tentang kondisi asep dan idang yang terlibat perkelahian dengan gw semalam
Diubah oleh meta.morfosis 01-02-2018 17:24
itkgid dan 7 lainnya memberi reputasi
8
Kutip
Balas