- Beranda
- Stories from the Heart
KUMIS HORAS (KUMPULAN MISTERI HOROR ASLI SERAM)
...
TS
finahdy
KUMIS HORAS (KUMPULAN MISTERI HOROR ASLI SERAM)

Assalamualaikum gansist .
Salam sejahtera buat kalian semua.
Thread yang tadi ternyata eror dan sekarang bikin lagi disini.
Alasan thread ini dibuat karena banyak banget yang minta saya untuk apdet lebih banyak cerita horor lagi.
Semoga gansist semua terhibur dan puas karena thread disini gak bakal kentang sebab dibuat untuk habis dalam sekali baca (semacam cerpen gitu).
Buat gansist yang baru kenal saya maka dengan penuh suka cita saya ucapkan salam kenal dan untuk yang pengen baca thread saya yang lain bisa kunjungi ini 👉 WAYAH SURUP karena disitu saya membuat cerita bersambung yang pastinya sama horor nya dengan ini.
Selamat membaca semua 😊
Index
1. Maafkan Aku yang Gagap
Diubah oleh finahdy 03-01-2018 18:51
nona212 dan 2 lainnya memberi reputasi
3
11K
22
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
finahdy
#1
MAAFKAN AKU YANG GAGAP

Aku berjalan sendirian melewati lorong sekolah yang mulai sepi.
Maklum saja jam pelajaran telah usai dan semua siswa bahkan guru sudah banyak yang pulang, sedangkan aku baru saja menyelesaikan tugasku yang kemarin terlewat sebab aku sengaja bolos sekolah.
"duh kenapa sepi banget gini sih?" batinku saat melihat tak ada sesosok pun yang tersisa di sekolah ini.
Oh ya kelasku berada sangat jauh dari gerbang sehingga perjalananku terasa sangat lama di kesunyian ini.
"kayra.." terdengar seseorang memanggilku.
Aku menoleh kebelakang untuk mencari tau asal dari suara itu.
Ternyata itu adalah delia gadis yang sekelas denganku, setidaknya aku memiliki seseorang untuk menemaniku menuju gerbang.
Delia menghampiriku dan kita berjalan bersama.
"kok kamu baru pulang sih?" tanyanya seraya mendekatkan wajahnya padaku.
"emm anu.... Ak... Aku habis ngerjain tugas" jawabku dengan terbata-bata.
Bukan karena apa tapi sejak kecil aku memang agak gugup ketika berbicara dengan orang lain walaupun dia sangat dekat denganku.
"ohhh gitu" sahut delia.
Aku mengangguk dan disepanjang jalan aku selalu menundukkan kepalaku berharap ada seseorang lagi yang datang untuk bergabung dengan kita.
"kamu kenapa kay?" tanya delia
"engg... Enggak papa kok del" jawabku terus menunduk.
"yaakk sebentar lagi sampai gerbang" ucapku dalam hati.
Tapi kenapa langkahku ini semakin melamban ketika kami melewati ruang laboratorium ipa yang agak menyeramkan itu?
"lab ipa ini menurutku agak membosankan, gimana menurutmu kay?" tanya delia saat kita lewat tepat di depan pintu lab ipa.
"emmm.. Eeemmm" jawabku grogi
"eh kamu kenapa gitu" kejut delia yang membuat jantungku semakin berdegup kencang.
"eehh kammm.. Kamu ngomong aapp... Apa tadi?" tanyaku pada delia.
"oh kamu gak dengar, yaudah deh gak jadi" kata delia yang memutuskan tidak menanyakan kembali pertanyaannya tadi.
Saat melewati taman sekolah bulu kudukku mulai berdiri satu persatu.
Taman yang memiliki sepohon beringin yang sangat besar itu memang terkenal angker dan menyimpan sedikit pengalaman buruk bagiku.
"duhhh kenapa gerbangnya sekarang jauh banget" gumamku.
Kakiku terasa gemetaran saat beringin itu menghembuskan anginnya ke tubuhku.
"kay kamu kenapa sih kok diem aja?" tanya delia lagi.
"eehh.. Akkk... Akkkuu" jawabku terbata-bata.
"iya aku tau kamu gagap tapi kamu tetep harus ngomong" sindir delia.
"i... Eengg.." gagapku mulai parah jantungku terasa akan copot saat delia berhenti di depanku dan menunjukkan wajahnya yang terlihat membusuk dengan dipenuhi banyak belatung di sekitar mata dan pipinya.
Aku terdiam tidak bisa apa-apa, tubuhku bagai ditahan oleh rantai yang amat kuat.
"aku sudah nunggu kamu ngomong ke semua orang akan kematianku tapi kenapa kamu diam saja kay? Kukira kamu kawan baikku tapi untuk bicara saja kamu tidak becus" ujar delia memarahiku.
Bau tak sedap yang menyelimuti jasad delia mulai mencolek hidungku hingga membuatku ingin muntah.
"aku terluka kay saat vano dan teman-temannya mulai menjamah tubuhku, sedangkan kulihat kamu bersembunyi didalam kelas itu. Dadaku kesakitan saat pisau milik vano tertancap tepat dijantungku sedangkan kamu hanya ketakutan dibalik kaca itu" sambung delia.
"aakkkk.. Aaakkk.. Akkuu" ucapku mencoba membela diri.
"dasar gagap. Kalau sampai vano dan teman-teman brengseknya itu masih menertawai kematianku maka dengan terpaksa aku juga akan membawamu bersamaku karena sampai kapanpun kebodohanmu takkan kumaafkan" lanjut delia dengan wajah seramnya yang perlahan menghilang dari hadapanku.
Aku berlari sekuat tenaga sampai-sampai aku terjatuh hingga membuatku terbangun dari tidurku.
"tuu... Tuhan.. Ap... Apa yang harus ku.. kulakukan?" aku bertanya sendiri didalam kamarku.
Tanpa berfikir panjang kuambil jaketku dan mulai berlari menuju kantor polisi untuk memberikan kesaksianku.
Diawal beberapa polisi menganggapku tengah ngelindur karena waktu ini terlampau malam bagi anak sepertiku berada disana.
Tetapi setelah berkali-kali kujelaskan dan kuyakinkan kepada mereka maka akhirnya merekapun percaya dan akan melakukan penyelidikan dikeesokan harinya.
Saat kulihat seorang petugas rumah sakit membawa kantong jenazah yang berisi tubuh delia yang sepertinya mulai tak berbentuk itu.
"kamu sudah datang, beruntungnya kita" ucap salah satu guru saat aku mendekati mereka.
Polisi membawaku keruangan kepala sekolah beserta beberapa guru disana.
Pihak polisi memintaku untuk menceritakan kembali apa yang semalam kuceritakan kepada mereka agar guru-guru mengetahuinya dan akupun melakukannya dengan suka hati walau sedikit terkendala dalam pengucapanku.
Akhirnya semua memutuskan untuk menetapkan vano sebagai tersangka, walau sempat mengelak demi mempertahankan harga diri tetapi kesalahan tetaplah harus dipertanggung jawabkan.
Vano dan teman-temannya yang sudah merencanakan kejadian itu pun terpaksa harus menurut dan mendekam dalam jeruji besi bahkan pada beberapa minggu kemudian vano ditemukan tewas akibat bunuh diri karena stress berkepanjangan selama di penjara.
Aku senang karena terbebas dari beban sebesar itu dan taklupa ku kunjungi peristirahatan terakhir delia setiap aku ada waktu karena setiap aku menemuinya dia selalu menyisipkan senyuman kedalam mimpiku.
-----------------------TAMAT-----------------------
redrices memberi reputasi
1