- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.5K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#70
Part 35 Kejutan
Aku mengetuk ruang kajur jurusanku sebelum membukanya. Di sana sudah ada dosen pembimbing 2 ku yg sedang ngobrol dengan rekannya.
“pak,” sapaku begitu berdiri di samping beliau.
“eh, kamu Dy, gimana?” tanyanya menghentikan obrolannya yg heboh.
Dosen pembimbingku ada 2.
Pembimbing 1 seorang ibu2 yg sudah mendapat gelar profesor dan menjabat guru besar di universitas otomatis beliau sibuk bgt, kalau mau bimbingan harus janjian dulu, dtg paling ngga 1 jam sebelum janjian atau bakalan di tinggal. Kalau beliau lg ada tamu yg tentu saja lebih penting dr mahasiswa kroco2 kaya aku alhasil aku harus menunggu sampai berjam2, bak satpam penjaga pintu menunggu di luar ruangannya.
Tapi orangnya asli pinter bgt, tegas, dan to the point klo ngomong. Pertama kali beliau baca proposalku beliau lgs paham dan menyetujuinya meski materi yg aku ambil lain daripada yg lain dan tidak awam untuk dibahas.
Dulu aku pernah kena semprot gara2 ngga buat tugas di matakuliah beliau gara2 kelupaan. Beruntungnya waktu bimbingan semua berjalan lancar dan beliau mengerti dan ngga bermasalah dengan bahasan2 yg aku angkat.
Sedangkan pembimbing 2 ku bertolak belakang 180 derajat. Beliau bapak2 yg easy going bgt, asik di ajak ngobrol, tiap bimbingan selalu setuju dengan arahan dr pembimbing 1 ku jd otomatis ngga ada kontradiksi antar 2 pembimbing itu.
“mau minta tanda tangan pak, sekalian mau info senin depan saya maju sidang, bapak bisa dtg kan? Soalnya Ibu S sudah konfirm ngga bisa dtg ada urusan yg lebih penting katanya sm pak rektor,” jelasku
“gampanglah. Mana yg sy tanda tangani, eh ini Ibu S udah tanda tangan kan?”
“sudahlah pak, ini tanda tangan beliau,” sahutku.
Baru kemudian beliau membubuhkan tanda tangannya di berkas2 skripsiku.
“abis ini mau ngapain Dy?” tanyanya sambil menandatangani berkas2ku.
“mau pulang aja pak,” sahutku
“bukan... mksd saya selesai kuliah ini, lanjut S2 aja ya?” ujarnya seperti menahan tawa.
“oh..bapak ini, sidang aja belum, lulus juga belum, udah di suruh S2 aja.”
“ya kan berencana dr sekarang, lagian materi skripsi kamu itu bagus lho, jarang atau malah ngga ada yg angkat kan sebelumnya? Inovatif itu mengikuti perkembangan zaman bagus kalau kamu lanjutkan bahasannya buat tesis.......Atau jangan2 kamu mau nikah abis kuliah ya?”
“hehehe...maunya tp yg diajak nikah ngga ada Pak, gimana dong,” sahutku bercanda
“hari gini ngga punya pacar? Kasian bgt kamu ya.”
Ini sih penghinaan namanya, batinku.

“hehehe ya begitulah Pak nasib saya....”
“beneran ngga ada pacar?” sekali lagi beliau bertanya sambil mengembalikan berkas2ku yg sudah ditandatanganinya.
“hehehe iya Pak udah putus,” sahutku menerima kembali berkas2ku.
“kok bisa putus?” tanyanya lagi. Adeeeh ni bapak kepo bgt ternyata.
“eemm...banyak perbedaan Pak,” sahutku berbohong , ngga mungkin lah aku bilang kalau aku ditinggalkan begitu aja tanpa sebab, bisa2 aku dapat kuliah tambahan khusus dr beliau.
“perbedaan apa? beda agama?” tebaknya lagi, membuatku merutuki diri sendiri, salah ngomong nih kayanya, “bener beda agama?” dia bertanya lagi.
Aku mengangguk mengiyakan biar percakapan ngga mengenakkan ini cepat kelar.
Beliau seperti menghela nafas sebelum berkata,
“gini Dy, apa yg kamu rasa dekat itu sebenarnya jauh, yg jauh itu terasa dekat.”
Ini apa pula maksudnya???

“maksudnya apa ya Pak??” jujur saja aku sama sekali ngga ngerti kata2 bijaknya itu.
“ya... kamu pikirin aja baik2 kata2 saya tadi,” sahutnya.
Yah....si bapak malah disuruh mikir sendiri.

******
Suatu malam sewaktu aku lagi asik utak atik komputer, aku menerima telpon dari Yunita. Masih ingat Yunita kan, teman masa SMU ku yg sudah lama ngga aku kunjungi.
“Dy, “ sapanya begitu mendengar suaraku
“hey Yun, ada apa tumben telpon? Kangen ya sama aku,” candaku
“apa sih kamu, gede rasa bgt.”
“hehehe terus apa lagi klo ngga kangen, eem...pasti mau curhat nih, atau mau ngajakin jalan?” tebakku
“Dy...Aku mau nikah...” katanya kemudian.
“hehehe ngga mempan kalo mau ngerjain aku, ngga percaya aku.”
“aku serius Dy, aku mau nikah sama Dony, aku hamil Dy....”
Jleb. Sekarang aku baru kaget. Ngga mungkin lah dia bohong klo soal hamil2an gini.
“serius kamu?”
“iya Dy, aku hamil...” lirih dia mengatakan hal itu.
Entah kenapa aku ngerasa kecewa dan marah sama dia. Okay dia pernah cerita bagaimana gaya pacaran dia dengan pacarnya, hanya saja aku ngga menyangka dia bakalan bisa seberani ini. Aku kira dia bisa mengontrol dirinya sendiri.
“kamu itu gimana sih? kok bisa? Berapa kali sih kamu berhubungan sama dia?”
Dia diam.
Aku sendiri tepok jidat menyadari pertanyaan konyolku barusan.
“Trus bokap gimana? Pasti beliau marah bgt ya?” tanyaku lagi karena dia hanya diam saja.
Bokap Yunita ini sangat religius, boleh dibilang cenderung fanatik. Dan Yunita dan pacarnya ini beda keyakinan.
Ah, lagi2 masalah keyakinan.
“Marah bgt Dy bokap, tp mau gimana lagi, mau ngga mau dia harus setuju aku sm Dony,”sahutnya kemudian
“trus kapan nikahannya?”
“minggu depan akadnya, di rumahnya Dony.”
“wew...di Jawa? Jauh bener.”
“ya keluarganya minta di sana, gimana lagi.”
“trus, kuliah kamu gimana? Kuliah Dony juga?”
“eemm....masih blom tau aku Dy...”
Aku menghela nafas mendengarnya,” ya sudah, pikirin nikahan kalian aja dulu....tapi jujur aja aku kecewa sm kamu Yun, ngga seharusnya kamu ngelakuin hal kaya gitu sebelum waktunya atau paling ngga Kmu tahu gimana mencegahnya. “
“iya aku tahu aku salah...ya sudah ya aku cm mau ngabari kamu aja.”
"Ntar..ibu ikut ke sana?”
“ngga Dy, ibu ngga mau ikut, lagian kata Dony bokap aja udah cukup buat jd wakilku nanti.”
“ya udah, kamu yg sabar ya,” kataku karena sejujurnya aku ngga tahu apa yg harus kukatakan untuk menguatkannya.
Tapi kalau menurutku hanya dirinya sendirilah yg mampu menguatkannya saat ini. Karena ini adalah resiko yg harus diterima karena perbuatannya sendiri.
******
Berhari2 setelah telponnya itu, aku akhirnya menerima sebuah pesan dr Yunita bahwa dia telah sah menjadi istri Dony. Aku ngga terlalu memikirkan dia karena sudah pasti, bagaimana pun keadaannya, pastilah dia bahagia, siapa sih yg ngga bahagia bisa menikah dengan org yg dicintai.
Justru yg kupikirkan adalah ayahnya. Pastinya beliau sangat kecewa karena setahuku ayahnya sangat menaruh harapan yg besar padanya dan Yunita dikenal sebagai anak yg penurut, sopan , ngga neko2, dan bahkan dijadikan contoh buat adik2nya.
Bokapnya ini memang sedikit killer. Awal2 kenal Yunita, susah bgt ngajak anak itu jalan keluar, dia selalu beralasan males ditanya2in bokap, jadilah setiap main ke sana palingan cuma ngobrol2 diteras rumahnya atau rujakan sama ibu dan adiknya.
Lama kelamaan aku berhasil juga mendapat kepercayaan bokapnya , meski tetep aja tiap ngajak keluar pasti ada acara tanya jawab dulu, mau kemana? Ngapain aja? Sama siapa aja? Pulang jam brp? Wuih... aku berasa kayak cowok yg ngajak keluar anak gadis org.
Di sini aku ngeliat dan membandingkan cara didikan bokap Yunita dan bokapku. Berbeda 180 derajat.
Boleh di bilang aku ini bebas mau ngelakuin apa aja semauku, keluar sama siapa aja boleh ngga pake acara interogasi2an. Ngga pernah di tanya macem2 kalau pulang telat, contoh sewaktu aku jadi panitia baksos, atau sewaktu aku suka menghabiskan waktu seharian di kostannya mas Kayon. Atau jangan2 bokap emang Ngga perhatian atau ngga peduli kali ya...yah kadang2 aku punya pikiran kayak gitu, saking cueknya ortuku.
Tapi , pemikiran itu berubah bertahun2 kemudian ketika kutahu bahwa sikap cuek bokap bukanlah berarti beliau ngga peduli tapi itu adalah salah satu cara beliau menunjukkan rasa kepercayaan yg besar yg diberikan buatku. Mungkin seperti ujian tidak tertulis yg ngga kusadari.
Sejak menginjak masa ABG aku emang suka kelayapan, entah itu main sama Sahabatku yg Cuma satu, dua orang aja, latihan basket sampe malem, dan jarang banget belajar.
Tapi, pas kenaikan kelas meski ngga masuk 3 besar, at least aku masuk 10 besar. Aku dapat uang bonus dr hasil memenangkan pertandingan basket. Jadi, boleh dibilang secara ngga lgs aku membuktikan kalau aku sering keluar rumah untuk sesuatu yg positif.
Sebenernya bokap jarang bgt bahkan hampir ngga pernah marah, tp entah kenapa aku justru takut kalau sampai ngelakuin kesalahan atau mengecewakan beliau. Seperti waktu kelulusan SMU nilai2ku terjun bebas, aku pikir aku bakalan dimarahi dan buat kecewa bokap.
Tapi di luar dugaan bokap ngga marah malah balik menghiburku karena nilaiku yg anjlok. Di situlah aku merasa, aku bener2 di sayang bokap dengan segala situasi dan kondisiku, bahkan di saat aku mengecewakan beliau.
Ini salah satu hal yg kemudian membuka mataku, kelak jika aku memiliki keturunan, aku akan menjaga dan mendidik mereka seperti bokap mendididkku.
Dan yg terpenting dan selalu ku ingatkan pada diriku sendiri adalah memang aku yg melahirkan mereka, mendidik, dan membiayai hidup mereka, tapi mereka bukan milikku sepenuhnya, hidup mereka adalah milik mereka sendiri, hanya mereka yg bisa menentukan jalan hidup sesuai takdir mereka tanpa campur tangan siapa pun juga termasuk orang tua mereka sekali pun
Okay....Skip... back to story

I got another suprise...
Sore itu aku ke warnet, tapi bukan ke warnet tempat Namy kerja paruh waktu, warnet ini dekat rumahku. Ngga ada tujuan yg jelas aku ke warnet, sekedar ingin browsing2 dan chat2 ngga jelas dengan beberapa teman, itupun kalau mereka online.
Aku buka YM dan salah satu aplikasi chat. Seneng bgt karena kulihat ID nya mas Kayon menyala hijau yg menandakan si pemilik ID sedang online. Tumben tanpa harus aku yg mengawali, dia mengirimiku pesan terlebih dahulu.
MK : mas Kayon
A : aku
MK : apa kabar Dy?
A : baik. Mas sendiri gimana kabar?
MK : Baik Dy
A : gimana usaha mas di sana?
MK : alhamdulillah Dy, lancar, mulai banyak langganan
A : baguslah, mudah2an lancar terus
MK : gimana kabar kampus?
(Ternyata kampus juga penting buat ditanya in kabarnya)
A : kemarin2 ke kampus sih katanya kabarnya dia baik2 aja mas
MK : hahahahha bisa aja kamu
A : nanyanya aneh
MK : hehehe bingung mau nanya apa
A : grogi?
MK : hehehe oya kamu dah semester akhir kan Dy tahun ini? Udah mulai nyusun?
(Kaget juga dia inget klo aku dah masuk semester akhir)
A : nyusun? Nyusun bata?
MK : skripsi Dy, skripsi....
A : oh skripsi hehe...senin depan maju sidang mas
MK : wah udah kelar aja ternyata... sukses ya buat sidangnya, aku tahu kamu pasti bisa
(Apa maksudnya dengan dia tahu aku pasti bisa?)
A : sidangnya ya pasti sukses mas tp ngga tau akunya bisa jawab apa ngga. Bisa atau ngga bisa, ya harus bisa, dipaksa bisa. Masa aku support org lain tp akunya yg ngga bisa.
MK : hehehe.. sukses ya
A : iya thanks
MK : Dy, aku mau kasi tahu kamu kalau aku sudah ada pacar di sini...
Aku terbelalak membaca sederet kalimat yg baru saja masuk ke chat wall ku. Lama aku terdiam, aku mesti jawab apa, tiba2 saja dadaku terasa sesak.
A : oya?
Hanya itu yg bisa kukatakan, selebihnya menunggu apa dia akan melanjutkan lagi membahas tentang pacarnya itu
MK : iya Dy, namanya Lany, dia keturunan chinese, sebenernya nama aslinya ......... (ga jelas dan ngga penting apa namanya). Aku kenal di tempat usahaku yg sekarang, dia pelangganku Dy.
A : oh gitu...
MK : iya, cm ya kita masih saling mengenal lebih deket lagi, soalnya dia kan beda keyakinan sm aku, kebetulan aku juga udah kenal sm keluarganya.
A : baguslah mas kalau gitu ...selamat ya..
Sakit hatiku sudah ngga bisa dilukiskan lagi. Dia sudah ngelupain semua tentang hubungan kami.
Tega sekali dia, dan dengan mudahnya bilang kalau sudah pacaran sama wanita lain yg juga beda keyakinan dengannya, lalu apa bedanya denganku???
Lalu kenapa dia memilih wanita itu, kenapa bukan aku?
Dia berhasil memporakporandakan hatiku untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini aku tidak menangis, memang hatiku sakit, tapi aku tidak menangisi rasa sakit itu lagi karena semua rasa sakitku telah tumbuh lebih jauh menjadi marah, benci, dan dendam.
“pak,” sapaku begitu berdiri di samping beliau.
“eh, kamu Dy, gimana?” tanyanya menghentikan obrolannya yg heboh.
Dosen pembimbingku ada 2.
Pembimbing 1 seorang ibu2 yg sudah mendapat gelar profesor dan menjabat guru besar di universitas otomatis beliau sibuk bgt, kalau mau bimbingan harus janjian dulu, dtg paling ngga 1 jam sebelum janjian atau bakalan di tinggal. Kalau beliau lg ada tamu yg tentu saja lebih penting dr mahasiswa kroco2 kaya aku alhasil aku harus menunggu sampai berjam2, bak satpam penjaga pintu menunggu di luar ruangannya.
Tapi orangnya asli pinter bgt, tegas, dan to the point klo ngomong. Pertama kali beliau baca proposalku beliau lgs paham dan menyetujuinya meski materi yg aku ambil lain daripada yg lain dan tidak awam untuk dibahas.
Dulu aku pernah kena semprot gara2 ngga buat tugas di matakuliah beliau gara2 kelupaan. Beruntungnya waktu bimbingan semua berjalan lancar dan beliau mengerti dan ngga bermasalah dengan bahasan2 yg aku angkat.
Sedangkan pembimbing 2 ku bertolak belakang 180 derajat. Beliau bapak2 yg easy going bgt, asik di ajak ngobrol, tiap bimbingan selalu setuju dengan arahan dr pembimbing 1 ku jd otomatis ngga ada kontradiksi antar 2 pembimbing itu.
“mau minta tanda tangan pak, sekalian mau info senin depan saya maju sidang, bapak bisa dtg kan? Soalnya Ibu S sudah konfirm ngga bisa dtg ada urusan yg lebih penting katanya sm pak rektor,” jelasku
“gampanglah. Mana yg sy tanda tangani, eh ini Ibu S udah tanda tangan kan?”
“sudahlah pak, ini tanda tangan beliau,” sahutku.
Baru kemudian beliau membubuhkan tanda tangannya di berkas2 skripsiku.
“abis ini mau ngapain Dy?” tanyanya sambil menandatangani berkas2ku.
“mau pulang aja pak,” sahutku
“bukan... mksd saya selesai kuliah ini, lanjut S2 aja ya?” ujarnya seperti menahan tawa.
“oh..bapak ini, sidang aja belum, lulus juga belum, udah di suruh S2 aja.”
“ya kan berencana dr sekarang, lagian materi skripsi kamu itu bagus lho, jarang atau malah ngga ada yg angkat kan sebelumnya? Inovatif itu mengikuti perkembangan zaman bagus kalau kamu lanjutkan bahasannya buat tesis.......Atau jangan2 kamu mau nikah abis kuliah ya?”
“hehehe...maunya tp yg diajak nikah ngga ada Pak, gimana dong,” sahutku bercanda
“hari gini ngga punya pacar? Kasian bgt kamu ya.”
Ini sih penghinaan namanya, batinku.

“hehehe ya begitulah Pak nasib saya....”
“beneran ngga ada pacar?” sekali lagi beliau bertanya sambil mengembalikan berkas2ku yg sudah ditandatanganinya.
“hehehe iya Pak udah putus,” sahutku menerima kembali berkas2ku.
“kok bisa putus?” tanyanya lagi. Adeeeh ni bapak kepo bgt ternyata.
“eemm...banyak perbedaan Pak,” sahutku berbohong , ngga mungkin lah aku bilang kalau aku ditinggalkan begitu aja tanpa sebab, bisa2 aku dapat kuliah tambahan khusus dr beliau.
“perbedaan apa? beda agama?” tebaknya lagi, membuatku merutuki diri sendiri, salah ngomong nih kayanya, “bener beda agama?” dia bertanya lagi.
Aku mengangguk mengiyakan biar percakapan ngga mengenakkan ini cepat kelar.
Beliau seperti menghela nafas sebelum berkata,
“gini Dy, apa yg kamu rasa dekat itu sebenarnya jauh, yg jauh itu terasa dekat.”
Ini apa pula maksudnya???

“maksudnya apa ya Pak??” jujur saja aku sama sekali ngga ngerti kata2 bijaknya itu.
“ya... kamu pikirin aja baik2 kata2 saya tadi,” sahutnya.
Yah....si bapak malah disuruh mikir sendiri.

******
Suatu malam sewaktu aku lagi asik utak atik komputer, aku menerima telpon dari Yunita. Masih ingat Yunita kan, teman masa SMU ku yg sudah lama ngga aku kunjungi.
“Dy, “ sapanya begitu mendengar suaraku
“hey Yun, ada apa tumben telpon? Kangen ya sama aku,” candaku
“apa sih kamu, gede rasa bgt.”
“hehehe terus apa lagi klo ngga kangen, eem...pasti mau curhat nih, atau mau ngajakin jalan?” tebakku
“Dy...Aku mau nikah...” katanya kemudian.
“hehehe ngga mempan kalo mau ngerjain aku, ngga percaya aku.”
“aku serius Dy, aku mau nikah sama Dony, aku hamil Dy....”
Jleb. Sekarang aku baru kaget. Ngga mungkin lah dia bohong klo soal hamil2an gini.
“serius kamu?”
“iya Dy, aku hamil...” lirih dia mengatakan hal itu.
Entah kenapa aku ngerasa kecewa dan marah sama dia. Okay dia pernah cerita bagaimana gaya pacaran dia dengan pacarnya, hanya saja aku ngga menyangka dia bakalan bisa seberani ini. Aku kira dia bisa mengontrol dirinya sendiri.
“kamu itu gimana sih? kok bisa? Berapa kali sih kamu berhubungan sama dia?”
Dia diam.
Aku sendiri tepok jidat menyadari pertanyaan konyolku barusan.
“Trus bokap gimana? Pasti beliau marah bgt ya?” tanyaku lagi karena dia hanya diam saja.
Bokap Yunita ini sangat religius, boleh dibilang cenderung fanatik. Dan Yunita dan pacarnya ini beda keyakinan.
Ah, lagi2 masalah keyakinan.
“Marah bgt Dy bokap, tp mau gimana lagi, mau ngga mau dia harus setuju aku sm Dony,”sahutnya kemudian
“trus kapan nikahannya?”
“minggu depan akadnya, di rumahnya Dony.”
“wew...di Jawa? Jauh bener.”
“ya keluarganya minta di sana, gimana lagi.”
“trus, kuliah kamu gimana? Kuliah Dony juga?”
“eemm....masih blom tau aku Dy...”
Aku menghela nafas mendengarnya,” ya sudah, pikirin nikahan kalian aja dulu....tapi jujur aja aku kecewa sm kamu Yun, ngga seharusnya kamu ngelakuin hal kaya gitu sebelum waktunya atau paling ngga Kmu tahu gimana mencegahnya. “
“iya aku tahu aku salah...ya sudah ya aku cm mau ngabari kamu aja.”
"Ntar..ibu ikut ke sana?”
“ngga Dy, ibu ngga mau ikut, lagian kata Dony bokap aja udah cukup buat jd wakilku nanti.”
“ya udah, kamu yg sabar ya,” kataku karena sejujurnya aku ngga tahu apa yg harus kukatakan untuk menguatkannya.
Tapi kalau menurutku hanya dirinya sendirilah yg mampu menguatkannya saat ini. Karena ini adalah resiko yg harus diterima karena perbuatannya sendiri.
******
Berhari2 setelah telponnya itu, aku akhirnya menerima sebuah pesan dr Yunita bahwa dia telah sah menjadi istri Dony. Aku ngga terlalu memikirkan dia karena sudah pasti, bagaimana pun keadaannya, pastilah dia bahagia, siapa sih yg ngga bahagia bisa menikah dengan org yg dicintai.
Justru yg kupikirkan adalah ayahnya. Pastinya beliau sangat kecewa karena setahuku ayahnya sangat menaruh harapan yg besar padanya dan Yunita dikenal sebagai anak yg penurut, sopan , ngga neko2, dan bahkan dijadikan contoh buat adik2nya.
Bokapnya ini memang sedikit killer. Awal2 kenal Yunita, susah bgt ngajak anak itu jalan keluar, dia selalu beralasan males ditanya2in bokap, jadilah setiap main ke sana palingan cuma ngobrol2 diteras rumahnya atau rujakan sama ibu dan adiknya.
Lama kelamaan aku berhasil juga mendapat kepercayaan bokapnya , meski tetep aja tiap ngajak keluar pasti ada acara tanya jawab dulu, mau kemana? Ngapain aja? Sama siapa aja? Pulang jam brp? Wuih... aku berasa kayak cowok yg ngajak keluar anak gadis org.
Di sini aku ngeliat dan membandingkan cara didikan bokap Yunita dan bokapku. Berbeda 180 derajat.
Boleh di bilang aku ini bebas mau ngelakuin apa aja semauku, keluar sama siapa aja boleh ngga pake acara interogasi2an. Ngga pernah di tanya macem2 kalau pulang telat, contoh sewaktu aku jadi panitia baksos, atau sewaktu aku suka menghabiskan waktu seharian di kostannya mas Kayon. Atau jangan2 bokap emang Ngga perhatian atau ngga peduli kali ya...yah kadang2 aku punya pikiran kayak gitu, saking cueknya ortuku.
Tapi , pemikiran itu berubah bertahun2 kemudian ketika kutahu bahwa sikap cuek bokap bukanlah berarti beliau ngga peduli tapi itu adalah salah satu cara beliau menunjukkan rasa kepercayaan yg besar yg diberikan buatku. Mungkin seperti ujian tidak tertulis yg ngga kusadari.
Sejak menginjak masa ABG aku emang suka kelayapan, entah itu main sama Sahabatku yg Cuma satu, dua orang aja, latihan basket sampe malem, dan jarang banget belajar.
Tapi, pas kenaikan kelas meski ngga masuk 3 besar, at least aku masuk 10 besar. Aku dapat uang bonus dr hasil memenangkan pertandingan basket. Jadi, boleh dibilang secara ngga lgs aku membuktikan kalau aku sering keluar rumah untuk sesuatu yg positif.
Sebenernya bokap jarang bgt bahkan hampir ngga pernah marah, tp entah kenapa aku justru takut kalau sampai ngelakuin kesalahan atau mengecewakan beliau. Seperti waktu kelulusan SMU nilai2ku terjun bebas, aku pikir aku bakalan dimarahi dan buat kecewa bokap.
Tapi di luar dugaan bokap ngga marah malah balik menghiburku karena nilaiku yg anjlok. Di situlah aku merasa, aku bener2 di sayang bokap dengan segala situasi dan kondisiku, bahkan di saat aku mengecewakan beliau.
Ini salah satu hal yg kemudian membuka mataku, kelak jika aku memiliki keturunan, aku akan menjaga dan mendidik mereka seperti bokap mendididkku.
Dan yg terpenting dan selalu ku ingatkan pada diriku sendiri adalah memang aku yg melahirkan mereka, mendidik, dan membiayai hidup mereka, tapi mereka bukan milikku sepenuhnya, hidup mereka adalah milik mereka sendiri, hanya mereka yg bisa menentukan jalan hidup sesuai takdir mereka tanpa campur tangan siapa pun juga termasuk orang tua mereka sekali pun
Okay....Skip... back to story

I got another suprise...
Sore itu aku ke warnet, tapi bukan ke warnet tempat Namy kerja paruh waktu, warnet ini dekat rumahku. Ngga ada tujuan yg jelas aku ke warnet, sekedar ingin browsing2 dan chat2 ngga jelas dengan beberapa teman, itupun kalau mereka online.
Aku buka YM dan salah satu aplikasi chat. Seneng bgt karena kulihat ID nya mas Kayon menyala hijau yg menandakan si pemilik ID sedang online. Tumben tanpa harus aku yg mengawali, dia mengirimiku pesan terlebih dahulu.
MK : mas Kayon
A : aku
MK : apa kabar Dy?
A : baik. Mas sendiri gimana kabar?
MK : Baik Dy
A : gimana usaha mas di sana?
MK : alhamdulillah Dy, lancar, mulai banyak langganan
A : baguslah, mudah2an lancar terus
MK : gimana kabar kampus?
(Ternyata kampus juga penting buat ditanya in kabarnya)
A : kemarin2 ke kampus sih katanya kabarnya dia baik2 aja mas
MK : hahahahha bisa aja kamu
A : nanyanya aneh
MK : hehehe bingung mau nanya apa
A : grogi?
MK : hehehe oya kamu dah semester akhir kan Dy tahun ini? Udah mulai nyusun?
(Kaget juga dia inget klo aku dah masuk semester akhir)
A : nyusun? Nyusun bata?
MK : skripsi Dy, skripsi....
A : oh skripsi hehe...senin depan maju sidang mas
MK : wah udah kelar aja ternyata... sukses ya buat sidangnya, aku tahu kamu pasti bisa
(Apa maksudnya dengan dia tahu aku pasti bisa?)
A : sidangnya ya pasti sukses mas tp ngga tau akunya bisa jawab apa ngga. Bisa atau ngga bisa, ya harus bisa, dipaksa bisa. Masa aku support org lain tp akunya yg ngga bisa.
MK : hehehe.. sukses ya
A : iya thanks
MK : Dy, aku mau kasi tahu kamu kalau aku sudah ada pacar di sini...
Aku terbelalak membaca sederet kalimat yg baru saja masuk ke chat wall ku. Lama aku terdiam, aku mesti jawab apa, tiba2 saja dadaku terasa sesak.
A : oya?
Hanya itu yg bisa kukatakan, selebihnya menunggu apa dia akan melanjutkan lagi membahas tentang pacarnya itu
MK : iya Dy, namanya Lany, dia keturunan chinese, sebenernya nama aslinya ......... (ga jelas dan ngga penting apa namanya). Aku kenal di tempat usahaku yg sekarang, dia pelangganku Dy.
A : oh gitu...
MK : iya, cm ya kita masih saling mengenal lebih deket lagi, soalnya dia kan beda keyakinan sm aku, kebetulan aku juga udah kenal sm keluarganya.
A : baguslah mas kalau gitu ...selamat ya..
Sakit hatiku sudah ngga bisa dilukiskan lagi. Dia sudah ngelupain semua tentang hubungan kami.
Tega sekali dia, dan dengan mudahnya bilang kalau sudah pacaran sama wanita lain yg juga beda keyakinan dengannya, lalu apa bedanya denganku???
Lalu kenapa dia memilih wanita itu, kenapa bukan aku?
Dia berhasil memporakporandakan hatiku untuk kesekian kalinya. Tapi kali ini aku tidak menangis, memang hatiku sakit, tapi aku tidak menangisi rasa sakit itu lagi karena semua rasa sakitku telah tumbuh lebih jauh menjadi marah, benci, dan dendam.
Diubah oleh drupadi5 01-01-2018 23:14
pulaukapok memberi reputasi
1