Kaskus

Story

beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
Vanilla
Hai agan-sis semua.
Setelah sering jadi silent reader, kayanya asik juga kalau saya mencoba share cerita juga.

Cerita ini 'based on true story'. Tapi ya mungkin dengan sedikit modifikasi. hehehe

Tapi kalo cerita ini bukan selera agan-sis, atau agan-sis merasa ceritanya aneh,
And you feel like you can't stand to read it anymore silahkan cari cerita lain.
Nggak usah sumpah serapah ya.
Karna buat saya mereka yg sumpah serapah itu, pikirannya sempit, kosa katanya terbatas.
Bingung mau komentar apa, ujungnya malah ngata-ngatain emoticon-Lempar Bata

Comment, critics and question allowed ya emoticon-Big Kiss

Spoiler for Prolog:


Indeks :
Part 1. Prolog
Part 2. Selected memories

Part 3. MY hero
Part 4. His journey
Part 5. Restriction
Part 6. The results

Part 7. First year
Part 8. We're classmate!
Part 9. The class president
Part 10. Embarrassing youth - intermezzo
Part 11. Wrong thought?
Part 12. Boom!
Part 13. Aftereffects
Part 14. "Manner maketh man"
Part 15. Reunion
Part 16. Let it loose
Part 17. Those shoulders
Part 18. The sunrise
Part 19. Present
Part 20. Year 7th

Part 21. Tom and jerry
Part 22. Crown Prince
Part 23. Amnesia
Part 24. "Okay, let's do that"
Part 25. Jalan belakang(back street)
Part 26. The castle
Part 27. Story about a long night
Part 28. The storm
Part 29. War
Part 30. Gotcha!
Part 31. End

Part 32. Abege
Part 33. Story of nasi goreng
Part 34. The reason behind cold martabak
Part 35. He knew it(all the time!)
Part 36. The betrayal
Part 37. Revealing the truth
Diubah oleh beanilla93 16-03-2018 13:46
anasabilaAvatar border
chamelemonAvatar border
chamelemon dan anasabila memberi reputasi
2
20.2K
182
GuestAvatar border
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.8KAnggota
Tampilkan semua post
beanilla93Avatar border
TS
beanilla93
#111
Part 27. Zarry

"Tapi aku yakin, kucing kamu pasti nggak bisa begini."

Zarry kembali menempatkan bibirnya di bibir Vanilla. Cuma kali ini, mampirnya nggak sebentar kaya yang pertama. Jalan-jalan dulu dia. Kesana... Kemari.... Kesitu... Kemana-mana dia senang.

Eh, bukan dia deng.

'Kami' lebih tepatnya.

Karena bukan cuma dia, tapi kami berdua saat itu sama-sama larut dalam suasana. Ditemani lagu green tinted sixties mind-nya mr. big, kamipun mulai berkomunikasi tanpa suara.

Saat itu kami nggak tau udah menghabiskan waktu berapa lama. Yang pasti, suara panggilan di ponselku lah yang menyadarkan kami kalau ternyata waktu itu udah jam 10 malam. Iya, panggilan dari Ayah yang murka karena aku belum pulang. Elah... Udah 2 jam ternyata. Perasaan baru beberapa menit. emoticon-Big Grin

Akhirnya aku pun pulang. Walaupun nggak pengen.

Tapi aku pulang setelah sebelumnya berjanji bahwa lusa aku akan ke sini lagi, dan nggak ada acara harus pulang jam 10 malam. Karena it turns out 2 hours is not enough for us. Yap, Vanilla akan menginap di rumah Zarry.

Jeng jeng jenggggg

Itu adalah hal yang sama sekali nggak pernah kubayangkan. Menginap di rumah pacar? Pacarku sebelumnya, yang aku pacari selama bertahun-tahun, pernah mati-matian membujukku untuk menginap di tempatnya, dan aku selalu menolak. Tapi Zarry, yang baru jadi pacarku beberapa bulan yang minta, aku langsung mengiyakan. Mungkin tanpa aku sadari, memang ada sesuatu yang beda dari Zarry, yang membuat aku memutuskan memberikan respon yang beda pada pertanyaan yang sama.

Mungkin Zarry lebih besar....

perhatiannya, bila dibandingkan mantanku sebelumnya.

2 days later
Hari itu aku dijemput Zarry ke rumah, soalnya rumah lagi kosong, jadi nggak bakal ada yang inspeksi aku dijemput siapa.

Setelah mampir beli makan dan jalan-jalan sampe bosen, mobil pun akhirnya mengarah pulang ke rumah Zarry. Iya, untuk hari ini aku dan Zarry punya tujuan pulang yang sama.

Dan disinilah aku(lagi). Duduk di posisi yang sama seperti 2 hari yang lalu. Senderan di kasur sambil selonjoran dan nontonin Zarry main ps(lagi). Cuma bedanya hari ini Zarry main ps nya sambil minum ‘minuman’ yang kayanya baru dia beli. Kenapa aku tau dia baru beli? Karena 2 hari yang lalu yang nangkring di meja nya itu botol kosong semua. Kalau yang ini baru di buka. Iya sih warnanya bening, tapi ya kali air putih di masukin botol ‘anu’, pake di segel segala. Niat amat.

Berbeda dari 2 hari yang lalu, hari ini aku sedikit lebih santai dan membiarkan Zarry main ps dulu sampe bosen. Toh waktu kami masih panjang. Nggak pake acara disuruh pulang jam 10 malam. Aku juga udah ganti celana pendek sama kaos biasa. Biar enak. Biar nggak gerah maksudnya.

Tapi ternyata nggak lama kemudian, Zarry mematikan ps nya dan mengambil posisi senderan di sebelah kiriku. Aku sudah geer dong, kirain mau ngajak pacaran. Ternyata dia nyalain laptop. Sialan.

"Ps nya mati, laptopnya lagi yang nyala." sindirku.
"Ehehe bentar ya sayang, kerjaan." jawabnya sambil mengusap pelan kepalaku.

Aku pun hanya memanyunkan bibir dan akhirnya mengalah, main hp aja lah dulu. Beberapa menit berlalu, kerjaan Zarry masih belum kelar dan aku pun memasuki tahap bosan. Iya, aku emang gampang bosan orangnya. Aku pun menyenderkan kepalaku di bahu kanan Zarry yang lagi serius mengerjakan sesuatu yang ‘mboh apa lah itu’ di laptopnya.

“Sayang, bosen. Kerjaan kamu masih lama?” tanyaku sambil cemberut.
“Iya nih ternyata sayang, besok harus report. Kamu nonton film dulu ya sambil makan? Kemaren katanya mau nonton avenger?” sahutnya yang kemudian menyentuh-nyentuh(kan layar sentuh, kalo mencet-mencet kan nggak pas) hapenya yang rupanya sudah terhubung dengan tv di kamarnya.
Tidak lama kemudian, opening film pun di mulai. Tanpa banyak protes dan juga karena memang udah laper, aku pun manut aja dan ngambil kotak berisi makanan yang tadi kami beli. Setelah ngambil makanan aku balik lagi ke kasur dan duduk ngadep tv sambil makan.

Nggak terasa aku malah jadi rame nonton film. Makanan udah abis, tapi gerak buat naroh kotaknya ke luar aja males, saking fokusnya nonton film. Saking fokusnya(lagi), aku sampai nggak sadar kalo Zarry udah ngelarin kerjaannya dan sudah berdiri di sebelahku.

“Minum dulu sayang, kayanya dari tadi kamu nggak ada minum.” tegur Zarry sambil menempelkan kaleng cola ke pipiku.

Aku pun terkejut. Ya iyalah, dingin.

“Hehehe abis seru ternyata. Aku cuci tangan sama taroh kotak dulu deh. Kamu nggak makan?”
“Iya ini aku mau makan juga. Kamu cuci tangan dulu sana. Kotaknya taroh aja di meja situ dulu, dapur jauh. Nanti aku aja yang buang sekalian keluar beli rokok.”
Aku pun mengangguk dan meletakkan kotak makanan di meja, lalu masuk ke kamar mandi Zarry.

Saat aku sedang mencuci tangan di wastafel, tanpa ku sadari Zarry juga mengikutiku ke kamar mandi. Dua tangannya menelusup dari belakangku dan ikut membilas kedua tanganku.
“Aku bisa cuci tangan sendiri ko sayang.” ucapku sambil melihat ke arahnya melalui cermin.
“Geer, aku juga cuci tangan kali. “ jawabnya sambil membalas tatapanku di cermin.
“Terus kenapa ikutan bilas tanganku?”
“Biar kamu cepet selesai, terus gantian deh.”
“Ohh ngusir? Oke.”
Saat aku ceritanya ngambek dan berbalik mau kabur, ternyata bukannya ngasih jalan, Zarry nya malah nahan aku biar ngga pergi. Aku dan Zarry pun berakhir hadap-hadapan, kaya scene di ftv yang tiba-tiba ada lagu-lagu gitu, terus tiba-tiba semuanya jadi slow motion.

“Loh, apa sih ini? Ganjen banget. “ celetuknya beberapa senti dari wajahku.

Lah, nggak salah denger ini?

“Lah, ko aku yang dikatain ganjen? Yang peluk dari belakang terus nggak mau minggir siapa coba?” tegasku sambil menatap wajahnya yang cuma dibalas senyuman aja sama dia.

“Kalo ganjen tu begini...” ucapku sambil mengalungkan tanganku di lehernya dan menciumnya sambil lewat.

Ngerti kan ya sambil lewat gimana maksudku? Pokoknya ‘set’, gitu aja udah. Setelah itu aku langsung ngabur dari kamar mandi sambil haha-hihi centil.

Aku pun kembali ke kamar Zarry dan duduk manis di kasurnya setelah sebelumnya mem play lagi film yang tadi di pause waktu aku cuci tangan.
Nggak lama kemudian Zarry keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan tangannya pake tisu dan melihat ke arahku.

“Ganjen ih, cium-cium.” ujarnya sambil menunjuk ke arahku.
“Halah, situ minta ganjenin duluan.” jawab ku sambil melet-melet.

Dia hanya tersenyum lalu duduk manis di sebelahku, dan mulai menyantap makanannya.

Dan aku yang sebelumnya keasikan makan sambil nonton film sampai lupa minum, akhirnya membuka kaleng minuman yang tadi ditempelkan Zarry ke pipiku dan meminumnya. Setelah meminum seteguk, mataku melihat ke arah botol si ‘bening tapi bukan air’ yang tadi diminum Zarry.

"Sayang, aku boleh minum itu nggak?" tanyaku sambil senyum penuh arti.
"Hmm. Boleh aja sih, tapi itu alkoholnya nggak kaya bir. Kamu tunggu aku selesai makan dulu, nanti aku campurin sama cola buat kamu. Kamu nggak pernah minum vodka kan?" jawabnya.
"Iya nggak pernah ehehe ya udah aku tungguin"

Setelah selesai makan Zarry pun pamit keluar buang kotak bekas makan sekalian beli rokok sama cola.
“Sayang beliin rokok aku juga ya. “ pintaku sambil senyum.
“Rokok aku aja udah. Rokok kamu tuh cupu.”
“Nggak mau ih. Dibilangin nggak doyan. Dulu tu terpaksa makanya aku mau ngisep itu.”
“Ahaha iya ntar dibeliin. Tinggal dulu ya, jangan kabur.” ujar Zarry yang akhirnya keluar kamar, setelah sebelumnya mengelus pelan kepalaku.

Sekitar 15 menit kemudian Zarry kembali membawa kantong plastik putih dan semangkok besar es batu. Dikeluarkannya 1 botol cola, dan 1 botol sodaranya cola(yang warna botolnya ijo) dan meletakkannya di meja. Setelah menyerahkan rokok titipanku, dia memasukkan es batu dan mencampur ‘minuman’ dengan cola yang baru saja di belinya. Sesaat setelah aku menyalakan rokokku, Zarry menyodorkan gelas berisi minuman tadi.

Tanpa buang waktu karena aku penasaran, aku pun langsung mencoba minuman itu.
Walaupun udah dicampur cola, tapi tetep aja paitnya mendominasi. Tapi aku emang nggak doyan minuman manis. Doyannya minuman yang range rasanya tu pait sampai ke sedikittttt manis.

Aku pun mengacungkan jempolku ke arah Zarry. Zarry hanya tertawa sambil menyalakan rokoknya. Dia pun mengambil satu gelas untuk dirinya sendiri, dan duduk di sampingku.

“Sayang, obat yang kemaren masih ada?” tanyaku pada Zarry.
“Masih. Mau pake obat juga kamu?"
“Iya. Mumpung nginep disini. Aku stres mikirin kerjaan."
"Nggak takut khilaf kaya kemaren? ahaha"
"Ya nggak papa. Kamu udah jadi pacarku ini" jawabku sambil noel Zarry pelan.

Tanpa menjawab, Zarry pun mengambil bungkusan obat itu dari laci mejanya dan menyerahkannya padaku.

“Terserah mau minum berapa. Di abisin juga nggak papa. “ ucapnya.

Aku lupa malam itu minum berapa biji, mungkin kalau nggak 5 ya 6 biji lah. Itu karena dosisnya emang nggak terlalu tinggi, jadi kalo sedikit nggak ngaruh apa-apa. Dan seingatku sepanjang malam itu, aku terus-terusan minum obat itu berkali-kali. Entah lah berapa kali. Hmmm jaman jahiliyah.

Setelah minum itu 'obat', aku pun tiduran di paha nya Zarry, dan kita berdua ngelanjutin nonton avengers. Walaupun sebenarnya perhatianku udah nggak begitu fokus lagi sama film, tapi mulai teralihkan ke wajah Zarry yang sedang aku pandangi.

Zarry pun sadar aku pandangi dan sesekali hanya melihat ke arahku sambil tersenyum dan memainkan rambutku.

Entah efek obat, atau vodka(atau emang centil dari sananya), aku tiba-tiba mengangkat badanku dan melingkarkan kedua tanganku di leher Zarry. Aku menatap mata Zarry, dan aku dapat melihat Zarry juga membalas tatapanku.

Kemudian aku mendekatkan bibirku ke leher Zarry dan kemudian,

“Sayang, dingin. Ac nya naikkin temperaturnya.” bisikku di telinga Zarry.

Aku dapat merasakan Zarry menghembuskan nafasnya dengan kasar. Aku pun terkikik pelan, lalu menarik diriku dan menyandarkan diriku di sandaran kasur Zarry.
Zarry pun berdiri dan mengambil remote ac serta menaikkan temperaturnya sesuai permintaanku. Setelahnya dia menyelimutiku sampai sebatas pinggang.

“Ciye yang kesel dikira mau dicium padahal nggak.” ejekku sambil tertawa.

Zarry hanya melirikku dengan tatapan kesel-kesel-sayang-nya. Sedangkan aku? Malah makin ketawa. Pengen berhenti juga susah.

Sampai akhirnya aku dipaksa diam oleh bibir Zarry yang tiba-tiba membungkam bibirku yang sebenarnya masih aja pengen ketawa.

Di temani audio adegan perangnya para avengers, kami pun semakin lama semakin larut dalam suasana. Semua anggota tubuh kami seolah udah dapat komando untuk melaksanakan hal-hal selanjutnya. Ngerti lah ya maksudnya. Nggak usah diperjelas, ts nggak bakat nulis adegan 'nganu'.

Di tengah-tengah proses melaksanakan misi, konsentrasi kami dipecahkan oleh bunyi ponsel Zarry. Zarry pun mengeceknya dan tiba-tiba langsung berdiri dan ngambil headset, terus ngomong,
"Bentar ya aku ngangkat telpon", and langsung ngacir keluar kamar.

Oh, dan coba tebak nama siapa yang tadi nongol di layar ponselnya?

"Vera".

Nice. Makasih kentangnya ver.

Setelah sekitar 15 sampai 20 menit, akhirnya Zarry balik lagi. Aku sudah siap-siap dengan sejuta kata-kata, ambek-an, kalau perlu tangisan untuk Zarry. Berharap mungkin dengan itu dia akan bersedia memutuskan Vera, dan fokus kepadaku. Aku berusaha memanfaatkan momen. Aku pasti bisa!

Namun rencana tinggal rencana, sebelum sempat satu kata pun keluar dari mulutku, Zarry langsung mendatangiku dan mengajakku menyelesaikan misi yang tadi sempat kentang. Tapi, dia pikir aku bakal nurut dan nggak jadi marah?

Yes. Absolutely.

Kami terjaga hampir sepanjang malam. Aku tidak bisa mengingat semua yang terjadi secara detail. Yang pasti, aku ingat kami berkeringat walaupun ac di kamar Zarry sudah didinginkan sedingin mungkin. Yea, i know you know the reason between our sweats.

Lalu aku juga ingat kami berdua terus-terusan minum tanpa henti. Aku juga terus-terusan minum 'obat' itu.

Terkadang di sela-sela semua yang terjadi, terselip kalimat-kalimat yang datang dari hatiku yang sebenarnya. Untuk Zarry. Walaupun cuma ada beberapa kalimat yang ku ingat.

"Aku tau kamu sudah sejauh apa sama Tiara. She told me everything. Jahat banget kamu ninggalin dia setelah semua kejadian itu."

dan,

"Aku tau kamu bad guy, tapi aku harap kamu serius sayang sama aku. Karena aku terlanjur sayang sama kamu."

Aku ingat Zarry meng-iyakan kalimatku yang kedua sambil mencium keningku.

"Aku seneng kamu meng-iyakan sekarang. Karena aku tau, drunk people don't lie." jawabku sambil kemudian menyatukan kembali bibirku dengan bibir Zarry.



Yang aku nggak tau adalah :
Aku lah satu-satunya orang yang mabuk malam itu.

Spoiler for confession:
Diubah oleh beanilla93 31-12-2017 08:59
0
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.