- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.6K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.1KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#50
Part 32 Heart Breaker
Tidak seperti sebelumnya ketika dia menghilang lalu muncul tiba2 tanpa kabar, kepergiannya kali ini membuatku lebih bisa menerima semua konsekuensi dari kepergiannya.
Di saat aku siap untuk di acuhkan dan di lupakan, malah bukan seperti itu kenyatannya.
Semenjak Mas Kayon pergi, dia secara rutin, meskipun tidak setiap hari, mengabariku.
Aku pun terbuai lagi. Membiarkan diriku terbawa harapan yg terlalu tinggi. Membiarkannya, kembali, masuk terlalu dalam ke hatiku.
Dia mengabariku bahwa di sana dia mulai merintis usaha, dan sekarang dia mulai sibuk mengurusi usahanya. Aku pikir dia akan mulai melupakanku karena kesibukannya itu. Tapi tidak seperti yg kubayangkan, dia masih terus menghubungiku.
Sampai pada suatu waktu, dia lama tidak menghubungiku lagi. Biasanya kami hanya berhubungan lewat sms atau email. Sangat jarang dan hampir tidak pernah kami saling telfon. Maklumlah aku mahasiswa kere yg ngga sanggup beli pulsa banyak2 dan mungkin mas kayon juga lagi berhemat untuk memajukan usahanya. Hampir tiap hari aku menunggu sms ku atau emailku dibalas. Tapi, nihil.
Aku mulai kambuh. Bad mood parah dan uring2an. Di suatu malam, tengah malam lewat, setelah kukirimkan sebuah sms ke mas kayon di sore harinya aku masih melek menunggu balasannya, ngga bisa tidur, dan abis nangis meratapi nasib, sebuah panggilan masuk dari nomor yg ngga kukenal. Ragu2 aku jawab panggilannya.
“halo...Dy?” suara yg sudah lama aku tunggu2
“mas? Ini Mas Kayon?”
“iya Dy ini aku,” jawabnya. Suaranya lirih dan seperti tidak bersemangat.
“kamu kenapa mas? Kenapa ngga ngabari aku lagi belakangan ini? Kamu ada masalah?”
“maaf dy, aku lagi kena musibah, tempat usahaku kebakaran dan salah satu stafku jadi korban, luka parah. Aku schock bgt,” ujarnya.
Aku kaget sekali. Aku ngga menyangka dia bakalan kena musibah seperti ini. Jahat sekali aku sudah berpikiran buruk sama dia. Seandainya aku disana, ngga akan kubiarkan kamu sendiri menanggung masalah itu mas.
“sabar ya mas...jangan terlalu sedih, kamu harus bangkit,harus bisa, ini ujian biar kamu lebih kuat.”
“iya Dy, makasi. Aku janji berusaha nepati janjiku sama kamu,” ujarnya.
Ya dia pernah berjanji padaku akan datang dalam waktu dekat ini ke Bali untuk seterusnya tinggal sampai dia diwisuda.
“kalau ngga bisa juga ngga apa2, yg penting dateng Yudisium sama wisudanya, karena itu yg terpenting.”
“iya, udah dulu ya Dy. Makasi ya.”
“iya mas.”
“luv you.”
“iya, aku juga.”
Satu kelemahanku, aku ngga pernah bisa bilang “aku cinta kamu” ke orang yg aku cinta. Aku lebih suka menunjukkannya langsung dengan sikap, memberi bukti bukan omongan saja.
Beberapa minggu setelahnya aku masih tetap belum menerima kabar darinya. Mungkin kalian akan berpikir apakah aku percaya dengan ceritanya?bagaimana kalau ternyata itu hanya bohong belaka supaya dia tidak repot2 menghubungiku terus2an? Jujur, aku sudah tidak peduli apa dia bohong atau jujur.
Kalau kujawab dengan prinsipku yg
kupegang selama ini, aku akan jawab 80% aku percaya dan 20% aku tidak percaya. Akan selalu kusisakan sedikit ketidakpercayaan pada siapa atau apapun juga, agar aku bisa bertahan menghadapi hal terburuk.
Siang itu aku menerima sebuah panggilan masuk dari nomor yg tidak kukenal.
“hallo,” sapaku
“dy....,” suara yg sepertinya kukenal
“Dy...Dyan..hallo?”
“mas.. ini mas kayon?”
“iya ini aku. Kamu apa kabar?”
“baik mas, kamu sendiri gimana mas?”
“baik Dy, ini lagi di rumah, kepengen denger suara kamu,” sahutnya
“oh iya..ini kan udah denger.”
“hehehe iya...tapi sorry aku ngga bisa nepati janjiku buat dateng ke sana lebih awal”
“gpp mas, memangnya udah dpt jadwal Yudisium sama wisudanya?”
“udah Dy, awal bulan depan yudisium trus lagi 2 minggunya wisuda.”
“baguslah...lebih baik disiapkan aja keperluannya dari sekarang, “ saranku
“kamu lg ngapain Dy?”
“ngga lg ngapa2in, lg telfon hehehe,”
“ya udah, aku tutup ya.”
Yah...jangan ditutup dulu, batinku, masih pengen denger suaramu mas.
“iya,” sahutku singkat. Kecewa.
Telfon pun di tutup dari sana.
Aku hanya berdiam diri di kamar setelah itu, meredam kangen dengan tidur.
Sore menjelang malam setelah makan malam, karena ngga ada acara kemana2, aku kembali mengurung diri di kamarku. Melanjutkan baca novel sambil menikmati lagu kesukaanku.
Aku terkesiap ketika sebuah panggilan masuk. Dari nomor yg tidak dikenal lagi.
“hallo...”
“Dy lg dimana?” suara mas kayon, pikirku
“di rumah mas, kenapa?”
“minta tolong bisa?”
“apa?”
“ada temenku lg butuh bantuan, dia ada di deket rumahmu, di jalan N*****, deket tikungan setelah hotel T**** W***** ,” katanya
“emang dia kenapa?”
“ngga tau katanya motornya mati dan dia ngga tahu daerah sana, tumben katanya lewat sana.”
“Cewek apa cowok?”
“cewek Dy, namanya Dewi. Tolong ya..”
“ok, aku samperin...”
“thanks ya.”
“iya, sama2.”
Jujur aja males banget keluar rumah, tapi udah terlanjur janji. Agak ganjil juga sih, masa temennya di sini, org yg di jawa sana yg ditlp di mintai tolong, weird!
Sudahlah, di samperin aja dulu, pikirku. Aku memacu motorku menuju tempat yg di bilang mas kayon, emang tempatnya ngga terlalu jauh dari rumah.
Aku memelankan laju motorku setelah tikungan dan mencari2 sekiranya ada cewe yg lagi kebingungan. Dan aku kaget campur sebal begitu tahu siapa yg kulihat di sana.
Aku parkirkan motorku di pinggir jalan dan menghampirinya yg tersenyum penuh kemenangan
Langsung kucubit keras lengannya saking keselnya.
“aduuuuuuhhhh......sakit Dy!” dia meringis sambil mengelus2 lengannya yg kucubit tadi.
“jahat banget ya, ngerjain aku!”
“hehehehehe....sorry...surprise sayang.”
Yah yg ada di sana menungguku ternyata Mas Kayon, sukses dia ngerjain aku.
“cape pasti ya?” tanyaku, melihat dia meneguk air mineral yg dibawanya sampai habis.
“tadi cape, sekarang udah ilang capenya, “ godanya. Aku tertawa mendengar gombalannya.
“udah makan? Aku traktir ya?”
“boleh...hehhehe,” sahutnya tersenyum cengengesan.
Jadilah aku dan dia dengan menaiki motor masing2 ke sebuah pasar malam dekat rumahku. Aku hanya menemaninya makan, berhubung tadi aku sudah makan. Selesai makan aku dan dia memutuskan untuk ke tempat masing2, karena aku yakin mas kayon pasti lelah bgt setelah perjalanan jauh.
Meskipun hari ini kuliah libur, aku tetap pergi ke kampus, ngapain lagi kalau bukan buat ketemuan sama Mas Kayon. Kami janjian ketemuan di kantin. Begitu aku sampai di kantin, dia sudah ada di sana, mengobrol dengan seseorang yg belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku membayar sebotol minuman dingin dan duduk tak jauh dari mereka. Kuperhatikan Mas Kayon, wajahnya lebih terlihat lebih legam dari biasanya. Sesekali dia melirikku, di tengah2 obrolannya. Sampai akhirnya ketika temannya sudah pergi, dia duduk di depanku setelah menghabiskan hisapan terakhir rokoknya.
Dia memalingkan wajahnya ke belakang dan menghembuskan asap dari mulutnya. Aku memperhatikannya tak sedetik pun melepaskan pandanganku darinya.
Ketika mata kami bertemu, dia mengangkat kedua alisnya, seperti menanyakan maksud dari tatapan mataku yg sedari tadi melekat padanya.
“apa?” dia bertanya akhirnya
“sehari berapa bungkus?” aku balik bertanya
“ngga banyak, setengah lah, kadang2 setengah lebih...”jawabnya sambil tersenyum
“jangan banyak2 lah mas,” kataku, “itu bibir kamu item bgt.”
“ngga suka?”
Kumenghela nafas. Susah jawabnya, kalau bilang bilang suka tapi aku ngga suka, kalau bilang ngga suka, entah sudah berapa kali bibir itu menciumku. Serba salah.
“yah...terserah mas lah...” jawabku akhirnya, membuatnya tertawa.
“iya Dy, ngga banyak2 kok,” sahutnya menghiburku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
“mas...?”
“iya?” dia menatapku menunggu kalimatku selanjutnya
“eum...usaha mas gimana?” tanyaku hati2 takut menyinggungnya
Kini giliran dia yg menghela nafas, seperti berat bebannya untuk bercerita.
“ngga apa2 kalau ngga mau cerita,” ujarku akhirnya, aku ngga mau ngerusak moodnya
“ngga apa2 Dy....hm..ya itu hancur sudah, aku ngga bisa bangun usaha lagi, udah habis modal dan merugi juga karena musibah kemarin itu.”
Aku terdiam, lagi2 aku merusak suasana.
“sabar ya mas, nanti pasti bisa buat usaha lagi,” kataku mencoba menghiburnya.
Dia tersenyum, meraih tanganku dan menggenggamnya.
“jalan yuk!” ajaknya
“kemana?”
“ke mana aja.”
******
Kali ini kami ke Pulau Serangan lagi. Suasananya jauh lebih menyenangkan karena hari masih terang, matahari pun belum terlalu terik karena hari masih belum terlalu siang.
Jujur aja aku ngga terlalu tahu jalan di daerah ini, karena itulah aku asal masuk aja yg penting nemu pantai. Bersyukur aku bawa mobil karena jalanan masih belum di aspal sehingga debu2 beterbangan ke mana2.
Akhirnya sampai juga kami di tepi pantai, tapi sepertinya aku salah belok tadi, karena sepertinya ini bagian pulau yg berpasir hitam dan tepian pantainya juga tidak terlalu lebar. Ngga ada apapun dan siapapun, itu artinya pantai ini jarang dikunjungi biasanya pasti ada saja satu dua warung kalau di pantai yg kerap dikunjungi orang.
Kuparkirkan mobil di sebuah tanah lapang berkapur yg di sekelilingnya tampak semak belukar menutupi pemandangan pantai yg ada disekelilingnya.
“kayaknya salah tempat deh ini mas,” kataku sambil melihat kesekeliling yg sunyi senyap
“Dy sebelah sini,” ajaknya menuju sebuah jalan setapak kecil di antara rerimbunan semak belukar yg menjulang. Dan ketika sampai di ujung jalan, terpampanglah pemandangan laut langsung ke pantai lepas.
“wah, keren...,” ujarku hendak melangkah ke bibir pantai, tapi Mas Kayon keburu menahanku dengan menarik tanganku
“jangan Dy, liat dari sini aja,” cegahnya
“emang kenapa mas?”
“ini bukan pantai yg landai, sepertinya curam,” ujarnya mengamati laut di depannya
“masa sih? Tapi kok airnya tenang mas?”
“warnanya birunya gelap, kemungkinan agak dalam. Udah di sini aja, daripada kenapa2,” ujarnya.
Aku menuruti apa katanya, berdiri di sampingnya menikmati laut di depan kami.
“mas...,” panggilku setelah sekian lama kami hanya berdiam diri.
Tidak ada sahutan. Dan aku menoleh melihatnya. Dia masih berdiam diri menatap lurus ke depan. Sepertinya dia lagi ngelamun.
Perlahan kusentuh tangannya. Dia berpaling dan menatapku, memberikan sebuah senyuman kecil. Aku melihat ada sesuatu yg lain di matanya, sesuatu yg tidak ingin diperlihatkan yg ditutupi oleh senyuman2nya, entah apa.
Dia memelukku dari belakang, masih dalam kebisuannya.
“mas?” panggilku
“hmm...”
“ntar wisuda, bapak ibu dateng?”
“ibu kayanya ngga, bapak yg dateng, Insya Allah,” sahutnya
“kenapa?” tanyanya kemudian setelah terdiam sejenak
“ngga apa2, nanya aja.”
“nanti aku boleh pinjam kamera?” tanyanya kemudian
“boleh, nanti aku bawain,” sahutku.
“Dy?”
“iya?”
“anak2 pada heran liat aku sudah dateng secepat ini?”
“oya, perhatian kali ya mereka sama kamu, “ aku tersenyum
“ya ngga tau aja mereka, aku dateng karena apa?”
“ya karena mas mau yudisium dan wisuda kan?" tebakku
“ya itu juga, tp kan karena kamu aku di sini sekarang ,” sahutnya mencium sekilas pipiku
Aku hanya tersenyum. Tersenyum getir.
Hanya sampai saat wisudamu mas, dan aku sangat yakin tidak akan ada lagi kata2... karena kmu aku di sini. Tidak akan ada!
*****
Yudisiumnya di adakan di aula terbuka, masih di area kampusku. Dari bale bengong, aku dan beberapa anak mengikuti jalannya acara setahap demi setahap.
Sampai namanya di panggil, entah aku harus bilang gimana untuk mengungkapkan apa yg kurasa, aku merasa senang dan sekaligus sedih.
Setelah yudisium tinggallah persiapan untuk wisuda. Aku mengantarnya ke rektorat kampus untuk mendaftar dan mengambil kelengkapan wisuda lainnya. Aku berusaha selalu ada disisinya selama dia mempersiapkan semua keperluannya.
Tapi selama bersamanya, aku masih menunggu dia mengatakan sesuatu. Tidak ada permintaan agar aku datang di hari wisudanya. Sampai di hari aku memberikan pinjaman kamera, sampai di h-1 wisudanya pun, tidak pernah terucapkan permintaan itu. Dan tepat di hari dia diwisuda, aku pergi kuliah seperti biasa, berusaha untuk tidak kecewa.
Pasti kalian berpikir, kenapa ngga dateng aja lgs ke sana biarpun ngga di minta?
Lagi2 akan kukatakan, aku hanya ingin mendengar langsung darinya, apa dia bisa bicara langsung padaku, memintaku untuk menemaninya di hari bahagianya itu? Aku hanya ingin sebuah kepastian, kalau memang dia menginginkanku ada di sana bersamanya.
********
Beberapa hari setelah wisudanya, aku tidak mendapat kabar darinya. Kukirimkan pesan yg tak terbalaskan. Sekitar seminggu setelahnya baru dia menemuiku setelah aku pulang kuliah. Dia sedang bersama teman2nya dan juga ada Nana, Yana dan teman2 segank mereka berkumpul di bale bengong. Tampak seru membicarakan acara wisuda kemarin lalu.
Aku langsung menghampirinya, “ada apa mas?” tanyaku
“eh Dy, mau balikin ini,” dia menyodorkan kameraku yg dipinjamnya, “makasi banyak ya.”
Dia tersenyum, dan aku melihat kelegaan di matanya.
Hanya kubalas dengan senyum ucapan terima kasihnya.
“cie cie dipinjemin kamera sm Dyan rupanya,” goda Nana tiba2 di samping kami.
“elu sih dipinjemin kagak di kasi, dasar pelit!” balas Mas Kayon sambil memainkan kunciran rambut Nana, yg membuat kepalanya ketarik2 ke belakang.
“aduh... mas ini lho, ngga sopan bgt!” protes Nana cemberut abis. Mereka kembali sibuk dengan guyonan2 nya.
Aku sama sekali tidak tertarik ikut bergabung di sana, karenanya aku segera beranjak menuju ke parkiran mobil.
“Dy...tunggu,” suara mas kayon menghentikanku yg hendak masuk ke mobil.
Aku masih berdiri menunggunya mendekat.
“Dy...ntar sore bisa keluar ngga?” tanyanya.
Sebenarnya ntar sore aku ada jadwal ngajar sekalian lathan gitar di tempat Mr. Lee. Aku berpikir, memilih antara Mas Kayon atau ke tempat Mr. Lee
“aku besok sore balik pulang Dy,” ujar mas kayon kemudian ketika aku masih diam. Aku menatapnya. Seketika itu dadaku berdesir aneh, sakit, yg kemudian bereaksi cepat ke mataku yg tiba2 berair, yg kutahan sebisaku.
“aku jemput jam 5 ya.” Sahutku akhirnya.
*******
Jam setengah 6 aku sampai di kostannya. Dia sudah menunggu di luar dan kami langsung jalan tanpa tujuan yg jelas. Hampir seluruh jalanan di Denpasar dari ujung ke ujung kita lewati.
Sepanjang jalan itu pun aku memeluknya, menyadari bahwa hanya hari ini kesempatanku bersamanya, memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya, mencium aroma tubuhnya yg sampai kapan pun terekam dengan baik di ingatanku.
Jam sepuluh malam kami kembali ke kostannya.
“Hati2 ya Dy, sorry ngga nawari masuk soalnya ada Wawan di dalam,” ujarnya begitu turun dari motor.
“iya,” jawabku singkat, sekuat tenaga menahan air mata.
“sebentar,” dia mendekatiku, membuka helmku, dan mencium keningku lembut.
Satu bulir air mataku mengalir pelan di ujung mataku. Segera kututupi dengan kembali memakai helmku.
“pulang ya,” ucapku lirih yg di ikuti dengan anggukkan darinya.
Kembali aku rasakan sakit ini, dan terasa jauh lebih sakit setelah begitu banyak kenangan bersamanya.
Aku sangat berharap, esok tidak akan datang. Atau berharap besok dia berubah pikiran. Tapi harapan tinggallah harapan.
Dia memintaku mengantarnya sampai terminal bus. Dan dari tempat kostnya sampai terminal, aku berharap supaya jalan ini tidak pernah berujung supaya aku bisa terus seperti ini bersamanya. Sekali lagi harapan tinggallah harapan.
Selama perjalanan dari tempat kostnya ke terminal, dia ngga henti2nya bicara mengomentari apa pun yg di lihatnya di sepanjang jalan, tapi tidak sekali pun dia bicara tentang hubungan ini, nasib hubungan ini, apa terus berlanjut atau berakhir dengan kepergiannya ini.
Aku pun tidak mengatakan apa pun
Aku masih tetap dengan pendirianku ingin melihat sampai di mana dia mau memperjuangkan hubungan ini, apa dia mau mengatakan sesuatu tentang keputusannya untuk hubungan kami.
Sampai akhirnya perjalanan ini berujung di tujuan terakhirnya, tak satu kata pun terucap darinya.
“aku jalan ya Dy,” hanya itu ucapan perpisahannya dan sebuah kecupan di keningku.
“hati2 mas,” dan hanya itu balasanku.
Kemudian dia berlalu pergi dari tempatku menghantarnya.
Apa ini benar2 telah selesai?
Apa urusanku dengannya telah selesai?
Apa reinkarnasi perjodohan kami hanya sampai di sini?
Apa aku bisa menerima ini dengan begitu mudahnya setelah rasa sakit yg diberikannya berkali2 padaku?
Apa aku bisa menerima ini dengan begitu mudahnya setelah semua kesabaran yg telah kuberikan padanya?
Apa, apa, apa, apa, dan apa....sekian banyak pertanyaan yg dijejalkan logika pada hatiku yg hancur.
Di saat aku siap untuk di acuhkan dan di lupakan, malah bukan seperti itu kenyatannya.
Semenjak Mas Kayon pergi, dia secara rutin, meskipun tidak setiap hari, mengabariku.
Aku pun terbuai lagi. Membiarkan diriku terbawa harapan yg terlalu tinggi. Membiarkannya, kembali, masuk terlalu dalam ke hatiku.
Dia mengabariku bahwa di sana dia mulai merintis usaha, dan sekarang dia mulai sibuk mengurusi usahanya. Aku pikir dia akan mulai melupakanku karena kesibukannya itu. Tapi tidak seperti yg kubayangkan, dia masih terus menghubungiku.
Sampai pada suatu waktu, dia lama tidak menghubungiku lagi. Biasanya kami hanya berhubungan lewat sms atau email. Sangat jarang dan hampir tidak pernah kami saling telfon. Maklumlah aku mahasiswa kere yg ngga sanggup beli pulsa banyak2 dan mungkin mas kayon juga lagi berhemat untuk memajukan usahanya. Hampir tiap hari aku menunggu sms ku atau emailku dibalas. Tapi, nihil.
Aku mulai kambuh. Bad mood parah dan uring2an. Di suatu malam, tengah malam lewat, setelah kukirimkan sebuah sms ke mas kayon di sore harinya aku masih melek menunggu balasannya, ngga bisa tidur, dan abis nangis meratapi nasib, sebuah panggilan masuk dari nomor yg ngga kukenal. Ragu2 aku jawab panggilannya.
“halo...Dy?” suara yg sudah lama aku tunggu2
“mas? Ini Mas Kayon?”
“iya Dy ini aku,” jawabnya. Suaranya lirih dan seperti tidak bersemangat.
“kamu kenapa mas? Kenapa ngga ngabari aku lagi belakangan ini? Kamu ada masalah?”
“maaf dy, aku lagi kena musibah, tempat usahaku kebakaran dan salah satu stafku jadi korban, luka parah. Aku schock bgt,” ujarnya.
Aku kaget sekali. Aku ngga menyangka dia bakalan kena musibah seperti ini. Jahat sekali aku sudah berpikiran buruk sama dia. Seandainya aku disana, ngga akan kubiarkan kamu sendiri menanggung masalah itu mas.
“sabar ya mas...jangan terlalu sedih, kamu harus bangkit,harus bisa, ini ujian biar kamu lebih kuat.”
“iya Dy, makasi. Aku janji berusaha nepati janjiku sama kamu,” ujarnya.
Ya dia pernah berjanji padaku akan datang dalam waktu dekat ini ke Bali untuk seterusnya tinggal sampai dia diwisuda.
“kalau ngga bisa juga ngga apa2, yg penting dateng Yudisium sama wisudanya, karena itu yg terpenting.”
“iya, udah dulu ya Dy. Makasi ya.”
“iya mas.”
“luv you.”
“iya, aku juga.”
Satu kelemahanku, aku ngga pernah bisa bilang “aku cinta kamu” ke orang yg aku cinta. Aku lebih suka menunjukkannya langsung dengan sikap, memberi bukti bukan omongan saja.
Beberapa minggu setelahnya aku masih tetap belum menerima kabar darinya. Mungkin kalian akan berpikir apakah aku percaya dengan ceritanya?bagaimana kalau ternyata itu hanya bohong belaka supaya dia tidak repot2 menghubungiku terus2an? Jujur, aku sudah tidak peduli apa dia bohong atau jujur.
Kalau kujawab dengan prinsipku yg
kupegang selama ini, aku akan jawab 80% aku percaya dan 20% aku tidak percaya. Akan selalu kusisakan sedikit ketidakpercayaan pada siapa atau apapun juga, agar aku bisa bertahan menghadapi hal terburuk.
Siang itu aku menerima sebuah panggilan masuk dari nomor yg tidak kukenal.
“hallo,” sapaku
“dy....,” suara yg sepertinya kukenal
“Dy...Dyan..hallo?”
“mas.. ini mas kayon?”
“iya ini aku. Kamu apa kabar?”
“baik mas, kamu sendiri gimana mas?”
“baik Dy, ini lagi di rumah, kepengen denger suara kamu,” sahutnya
“oh iya..ini kan udah denger.”
“hehehe iya...tapi sorry aku ngga bisa nepati janjiku buat dateng ke sana lebih awal”
“gpp mas, memangnya udah dpt jadwal Yudisium sama wisudanya?”
“udah Dy, awal bulan depan yudisium trus lagi 2 minggunya wisuda.”
“baguslah...lebih baik disiapkan aja keperluannya dari sekarang, “ saranku
“kamu lg ngapain Dy?”
“ngga lg ngapa2in, lg telfon hehehe,”
“ya udah, aku tutup ya.”
Yah...jangan ditutup dulu, batinku, masih pengen denger suaramu mas.
“iya,” sahutku singkat. Kecewa.
Telfon pun di tutup dari sana.
Aku hanya berdiam diri di kamar setelah itu, meredam kangen dengan tidur.
Sore menjelang malam setelah makan malam, karena ngga ada acara kemana2, aku kembali mengurung diri di kamarku. Melanjutkan baca novel sambil menikmati lagu kesukaanku.
Aku terkesiap ketika sebuah panggilan masuk. Dari nomor yg tidak dikenal lagi.
“hallo...”
“Dy lg dimana?” suara mas kayon, pikirku
“di rumah mas, kenapa?”
“minta tolong bisa?”
“apa?”
“ada temenku lg butuh bantuan, dia ada di deket rumahmu, di jalan N*****, deket tikungan setelah hotel T**** W***** ,” katanya
“emang dia kenapa?”
“ngga tau katanya motornya mati dan dia ngga tahu daerah sana, tumben katanya lewat sana.”
“Cewek apa cowok?”
“cewek Dy, namanya Dewi. Tolong ya..”
“ok, aku samperin...”
“thanks ya.”
“iya, sama2.”
Jujur aja males banget keluar rumah, tapi udah terlanjur janji. Agak ganjil juga sih, masa temennya di sini, org yg di jawa sana yg ditlp di mintai tolong, weird!
Sudahlah, di samperin aja dulu, pikirku. Aku memacu motorku menuju tempat yg di bilang mas kayon, emang tempatnya ngga terlalu jauh dari rumah.
Aku memelankan laju motorku setelah tikungan dan mencari2 sekiranya ada cewe yg lagi kebingungan. Dan aku kaget campur sebal begitu tahu siapa yg kulihat di sana.
Aku parkirkan motorku di pinggir jalan dan menghampirinya yg tersenyum penuh kemenangan
Langsung kucubit keras lengannya saking keselnya.
“aduuuuuuhhhh......sakit Dy!” dia meringis sambil mengelus2 lengannya yg kucubit tadi.
“jahat banget ya, ngerjain aku!”
“hehehehehe....sorry...surprise sayang.”
Yah yg ada di sana menungguku ternyata Mas Kayon, sukses dia ngerjain aku.
“cape pasti ya?” tanyaku, melihat dia meneguk air mineral yg dibawanya sampai habis.
“tadi cape, sekarang udah ilang capenya, “ godanya. Aku tertawa mendengar gombalannya.
“udah makan? Aku traktir ya?”
“boleh...hehhehe,” sahutnya tersenyum cengengesan.
Jadilah aku dan dia dengan menaiki motor masing2 ke sebuah pasar malam dekat rumahku. Aku hanya menemaninya makan, berhubung tadi aku sudah makan. Selesai makan aku dan dia memutuskan untuk ke tempat masing2, karena aku yakin mas kayon pasti lelah bgt setelah perjalanan jauh.
Meskipun hari ini kuliah libur, aku tetap pergi ke kampus, ngapain lagi kalau bukan buat ketemuan sama Mas Kayon. Kami janjian ketemuan di kantin. Begitu aku sampai di kantin, dia sudah ada di sana, mengobrol dengan seseorang yg belum pernah aku lihat sebelumnya.
Aku membayar sebotol minuman dingin dan duduk tak jauh dari mereka. Kuperhatikan Mas Kayon, wajahnya lebih terlihat lebih legam dari biasanya. Sesekali dia melirikku, di tengah2 obrolannya. Sampai akhirnya ketika temannya sudah pergi, dia duduk di depanku setelah menghabiskan hisapan terakhir rokoknya.
Dia memalingkan wajahnya ke belakang dan menghembuskan asap dari mulutnya. Aku memperhatikannya tak sedetik pun melepaskan pandanganku darinya.
Ketika mata kami bertemu, dia mengangkat kedua alisnya, seperti menanyakan maksud dari tatapan mataku yg sedari tadi melekat padanya.
“apa?” dia bertanya akhirnya
“sehari berapa bungkus?” aku balik bertanya
“ngga banyak, setengah lah, kadang2 setengah lebih...”jawabnya sambil tersenyum
“jangan banyak2 lah mas,” kataku, “itu bibir kamu item bgt.”
“ngga suka?”
Kumenghela nafas. Susah jawabnya, kalau bilang bilang suka tapi aku ngga suka, kalau bilang ngga suka, entah sudah berapa kali bibir itu menciumku. Serba salah.
“yah...terserah mas lah...” jawabku akhirnya, membuatnya tertawa.
“iya Dy, ngga banyak2 kok,” sahutnya menghiburku. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.
“mas...?”
“iya?” dia menatapku menunggu kalimatku selanjutnya
“eum...usaha mas gimana?” tanyaku hati2 takut menyinggungnya
Kini giliran dia yg menghela nafas, seperti berat bebannya untuk bercerita.
“ngga apa2 kalau ngga mau cerita,” ujarku akhirnya, aku ngga mau ngerusak moodnya
“ngga apa2 Dy....hm..ya itu hancur sudah, aku ngga bisa bangun usaha lagi, udah habis modal dan merugi juga karena musibah kemarin itu.”
Aku terdiam, lagi2 aku merusak suasana.
“sabar ya mas, nanti pasti bisa buat usaha lagi,” kataku mencoba menghiburnya.
Dia tersenyum, meraih tanganku dan menggenggamnya.
“jalan yuk!” ajaknya
“kemana?”
“ke mana aja.”
******
Kali ini kami ke Pulau Serangan lagi. Suasananya jauh lebih menyenangkan karena hari masih terang, matahari pun belum terlalu terik karena hari masih belum terlalu siang.
Jujur aja aku ngga terlalu tahu jalan di daerah ini, karena itulah aku asal masuk aja yg penting nemu pantai. Bersyukur aku bawa mobil karena jalanan masih belum di aspal sehingga debu2 beterbangan ke mana2.
Akhirnya sampai juga kami di tepi pantai, tapi sepertinya aku salah belok tadi, karena sepertinya ini bagian pulau yg berpasir hitam dan tepian pantainya juga tidak terlalu lebar. Ngga ada apapun dan siapapun, itu artinya pantai ini jarang dikunjungi biasanya pasti ada saja satu dua warung kalau di pantai yg kerap dikunjungi orang.
Kuparkirkan mobil di sebuah tanah lapang berkapur yg di sekelilingnya tampak semak belukar menutupi pemandangan pantai yg ada disekelilingnya.
“kayaknya salah tempat deh ini mas,” kataku sambil melihat kesekeliling yg sunyi senyap
“Dy sebelah sini,” ajaknya menuju sebuah jalan setapak kecil di antara rerimbunan semak belukar yg menjulang. Dan ketika sampai di ujung jalan, terpampanglah pemandangan laut langsung ke pantai lepas.
“wah, keren...,” ujarku hendak melangkah ke bibir pantai, tapi Mas Kayon keburu menahanku dengan menarik tanganku
“jangan Dy, liat dari sini aja,” cegahnya
“emang kenapa mas?”
“ini bukan pantai yg landai, sepertinya curam,” ujarnya mengamati laut di depannya
“masa sih? Tapi kok airnya tenang mas?”
“warnanya birunya gelap, kemungkinan agak dalam. Udah di sini aja, daripada kenapa2,” ujarnya.
Aku menuruti apa katanya, berdiri di sampingnya menikmati laut di depan kami.
“mas...,” panggilku setelah sekian lama kami hanya berdiam diri.
Tidak ada sahutan. Dan aku menoleh melihatnya. Dia masih berdiam diri menatap lurus ke depan. Sepertinya dia lagi ngelamun.
Perlahan kusentuh tangannya. Dia berpaling dan menatapku, memberikan sebuah senyuman kecil. Aku melihat ada sesuatu yg lain di matanya, sesuatu yg tidak ingin diperlihatkan yg ditutupi oleh senyuman2nya, entah apa.
Dia memelukku dari belakang, masih dalam kebisuannya.
“mas?” panggilku
“hmm...”
“ntar wisuda, bapak ibu dateng?”
“ibu kayanya ngga, bapak yg dateng, Insya Allah,” sahutnya
“kenapa?” tanyanya kemudian setelah terdiam sejenak
“ngga apa2, nanya aja.”
“nanti aku boleh pinjam kamera?” tanyanya kemudian
“boleh, nanti aku bawain,” sahutku.
“Dy?”
“iya?”
“anak2 pada heran liat aku sudah dateng secepat ini?”
“oya, perhatian kali ya mereka sama kamu, “ aku tersenyum
“ya ngga tau aja mereka, aku dateng karena apa?”
“ya karena mas mau yudisium dan wisuda kan?" tebakku
“ya itu juga, tp kan karena kamu aku di sini sekarang ,” sahutnya mencium sekilas pipiku
Aku hanya tersenyum. Tersenyum getir.
Hanya sampai saat wisudamu mas, dan aku sangat yakin tidak akan ada lagi kata2... karena kmu aku di sini. Tidak akan ada!
*****
Yudisiumnya di adakan di aula terbuka, masih di area kampusku. Dari bale bengong, aku dan beberapa anak mengikuti jalannya acara setahap demi setahap.
Sampai namanya di panggil, entah aku harus bilang gimana untuk mengungkapkan apa yg kurasa, aku merasa senang dan sekaligus sedih.
Setelah yudisium tinggallah persiapan untuk wisuda. Aku mengantarnya ke rektorat kampus untuk mendaftar dan mengambil kelengkapan wisuda lainnya. Aku berusaha selalu ada disisinya selama dia mempersiapkan semua keperluannya.
Tapi selama bersamanya, aku masih menunggu dia mengatakan sesuatu. Tidak ada permintaan agar aku datang di hari wisudanya. Sampai di hari aku memberikan pinjaman kamera, sampai di h-1 wisudanya pun, tidak pernah terucapkan permintaan itu. Dan tepat di hari dia diwisuda, aku pergi kuliah seperti biasa, berusaha untuk tidak kecewa.
Pasti kalian berpikir, kenapa ngga dateng aja lgs ke sana biarpun ngga di minta?
Lagi2 akan kukatakan, aku hanya ingin mendengar langsung darinya, apa dia bisa bicara langsung padaku, memintaku untuk menemaninya di hari bahagianya itu? Aku hanya ingin sebuah kepastian, kalau memang dia menginginkanku ada di sana bersamanya.
********
Beberapa hari setelah wisudanya, aku tidak mendapat kabar darinya. Kukirimkan pesan yg tak terbalaskan. Sekitar seminggu setelahnya baru dia menemuiku setelah aku pulang kuliah. Dia sedang bersama teman2nya dan juga ada Nana, Yana dan teman2 segank mereka berkumpul di bale bengong. Tampak seru membicarakan acara wisuda kemarin lalu.
Aku langsung menghampirinya, “ada apa mas?” tanyaku
“eh Dy, mau balikin ini,” dia menyodorkan kameraku yg dipinjamnya, “makasi banyak ya.”
Dia tersenyum, dan aku melihat kelegaan di matanya.
Hanya kubalas dengan senyum ucapan terima kasihnya.
“cie cie dipinjemin kamera sm Dyan rupanya,” goda Nana tiba2 di samping kami.
“elu sih dipinjemin kagak di kasi, dasar pelit!” balas Mas Kayon sambil memainkan kunciran rambut Nana, yg membuat kepalanya ketarik2 ke belakang.
“aduh... mas ini lho, ngga sopan bgt!” protes Nana cemberut abis. Mereka kembali sibuk dengan guyonan2 nya.
Aku sama sekali tidak tertarik ikut bergabung di sana, karenanya aku segera beranjak menuju ke parkiran mobil.
“Dy...tunggu,” suara mas kayon menghentikanku yg hendak masuk ke mobil.
Aku masih berdiri menunggunya mendekat.
“Dy...ntar sore bisa keluar ngga?” tanyanya.
Sebenarnya ntar sore aku ada jadwal ngajar sekalian lathan gitar di tempat Mr. Lee. Aku berpikir, memilih antara Mas Kayon atau ke tempat Mr. Lee
“aku besok sore balik pulang Dy,” ujar mas kayon kemudian ketika aku masih diam. Aku menatapnya. Seketika itu dadaku berdesir aneh, sakit, yg kemudian bereaksi cepat ke mataku yg tiba2 berair, yg kutahan sebisaku.
“aku jemput jam 5 ya.” Sahutku akhirnya.
*******
Jam setengah 6 aku sampai di kostannya. Dia sudah menunggu di luar dan kami langsung jalan tanpa tujuan yg jelas. Hampir seluruh jalanan di Denpasar dari ujung ke ujung kita lewati.
Sepanjang jalan itu pun aku memeluknya, menyadari bahwa hanya hari ini kesempatanku bersamanya, memeluknya, merasakan kehangatan tubuhnya, mencium aroma tubuhnya yg sampai kapan pun terekam dengan baik di ingatanku.
Jam sepuluh malam kami kembali ke kostannya.
“Hati2 ya Dy, sorry ngga nawari masuk soalnya ada Wawan di dalam,” ujarnya begitu turun dari motor.
“iya,” jawabku singkat, sekuat tenaga menahan air mata.
“sebentar,” dia mendekatiku, membuka helmku, dan mencium keningku lembut.
Satu bulir air mataku mengalir pelan di ujung mataku. Segera kututupi dengan kembali memakai helmku.
“pulang ya,” ucapku lirih yg di ikuti dengan anggukkan darinya.
Kembali aku rasakan sakit ini, dan terasa jauh lebih sakit setelah begitu banyak kenangan bersamanya.
Aku sangat berharap, esok tidak akan datang. Atau berharap besok dia berubah pikiran. Tapi harapan tinggallah harapan.
Dia memintaku mengantarnya sampai terminal bus. Dan dari tempat kostnya sampai terminal, aku berharap supaya jalan ini tidak pernah berujung supaya aku bisa terus seperti ini bersamanya. Sekali lagi harapan tinggallah harapan.
Selama perjalanan dari tempat kostnya ke terminal, dia ngga henti2nya bicara mengomentari apa pun yg di lihatnya di sepanjang jalan, tapi tidak sekali pun dia bicara tentang hubungan ini, nasib hubungan ini, apa terus berlanjut atau berakhir dengan kepergiannya ini.
Aku pun tidak mengatakan apa pun
Aku masih tetap dengan pendirianku ingin melihat sampai di mana dia mau memperjuangkan hubungan ini, apa dia mau mengatakan sesuatu tentang keputusannya untuk hubungan kami.
Sampai akhirnya perjalanan ini berujung di tujuan terakhirnya, tak satu kata pun terucap darinya.
“aku jalan ya Dy,” hanya itu ucapan perpisahannya dan sebuah kecupan di keningku.
“hati2 mas,” dan hanya itu balasanku.
Kemudian dia berlalu pergi dari tempatku menghantarnya.
Apa ini benar2 telah selesai?
Apa urusanku dengannya telah selesai?
Apa reinkarnasi perjodohan kami hanya sampai di sini?
Apa aku bisa menerima ini dengan begitu mudahnya setelah rasa sakit yg diberikannya berkali2 padaku?
Apa aku bisa menerima ini dengan begitu mudahnya setelah semua kesabaran yg telah kuberikan padanya?
Apa, apa, apa, apa, dan apa....sekian banyak pertanyaan yg dijejalkan logika pada hatiku yg hancur.
pulaukapok memberi reputasi
1