- Beranda
- Stories from the Heart
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
...
TS
juraganpengki
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)
GW BERTEMAN DENGAN KOLONG WEWE (CHAPTER 3 / FINAL CHAPTER)

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...

Cool Cover By Agan Linbara (Thanks, Bree)..
Prolog
Setelah bangun dari ‘Mati Suri’ karena memutuskan untuk mencoba membunuh diri sendiri untuk melindungi Kitab Langit dan melenyapkan Bayu Ambar, gw kembali ke dunia nyata.. Kehidupan gw sedikit jauh berbeda, karena pengalaman ‘Mati Suri’ itu berefek langsung pada kelebihan yang gw miliki.. Gw masih sama Anggie, meski ujian atas cinta kami masih saja mendera.. Ada musuh baru, tentu saja.. Tapi ada juga sahabat baru yang muncul.. Karena ini akhir dari cerita kami berempat..
Kembalinya Anak Ibu...
Pengorbanan Pedang Jagat Samudera...
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Matinya Seorang Saudara (Versi Gw/Bimo)
Berkumpul Kembali...
Keanehan Yang Mulai Muncul...
Sambutan Ketiga Saudara Ke Reinata...
Sabar???
Cukup! Tinggalin Aku Sendiri!!!
Siapa Kau???
Aku Ikutin Kemauan Kamu...
Keputusan Sepihak Yang Pahit...
Semua Beban Menjadi satu
Semua Beban Menjadi Satu (2)...
Serangkum Rindu Untuk Ayah...
Munculnya Penguasa Laut Utara...
Bertemunya Dua Penguasa...
Sebuah Kesepakatan...
Ibu Kenapa Yah???
Lu Kenapa, Ka???
Wanted Dead Or Alive.. ANTON!!!
Mo 'Perabotan' Lu Hancur Apa Tanggung Jawab???
It's The End Of Us...
Di Kerjain Ibu...
Ridho!!!
Kelewatan!!!
Munculnya Dua Penjaga Gerbang Kerajaan Laut...
Dewi Arum Kesuma VS Dewi Ayu Anjani
Datangnya Sosok Seorang Pemisah Dan Shock Therapy Buat Gw...
Kerajaan Jin...
Terkuaknya Semua Jawaban...
Maafin Gw, Bree...
Pengakuan Suluh...
Akhirnya Boleh Gondrong...
Pernikahan Kak Silvi Yang Seharusnya Membuat Gw Bahagia...
Pernikahan Kak Silvi Yang seharusnya Membuat Gw Bahagia (2)...
Tunggu Pembalasan Gw!!!...
Ni Mas Linduri dan Banas Ireng...
Dua Sosok Penyelamat Misterius...
Ada Apa Sama Ridho?...
Kesalahan Fatal...
Kembalinya Jin Penjaga Ridho dan Suluh...
Akibat Terlalu Ikut Campur...
Setiap Perbuatan Akan Mendapat Balasan...
Munculnya Viny Dan Sebuah Tantangan Bertarung...
Manusia Cabul...
Suara Penolong Misterius...
Bertemunya Kembali Sepasang Kekasih...
Terkuaknya Kebenaran...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar...
Kabar Baik Ayu Dan Prasangka Sekar (2)...
Jaket Dan Celana Jeans Robek Serta Sweater Hitam Kumal...
She's My True Love...
Dilema...
Pertengkaran Dengan Ibu...
Rambe Lantak...
Gendewa Panah Pramesti...
Akan Ku Balaskan Dendam Mu, Arum Kesuma!!!
Yang Hilang dan Yang Kembali...
Jawaban Ayu...
Mati Gw!!!
Aku Makin Sayang...
Nasihat Om Hendra...
Jera Mencuri...
Ajian Segoro Geni...
Pilihan Sulit...
Keputusasaan Anggie...
Kabar Baik dari Ridho dan Suluh...
Perjalanan Menuju Pembalasan Dendam...
Rawa Rontek...
Rawa Rontek 2 (Terbayarnya Dendam)...
Kedatangan Pak Sugi...
Orang Titipan...
Hukuman Paling Berat...
Tidurlah Di Pangkuan Ku...
Menjajal Kesaktian...
Menjajal Kesaktian (2)...
Pengakuan Mengejutkan Babeh Misar...
Pengajaran Ilmu Silat Betawi...
Di Kepret Babeh Misar Lagi...
Tasya...
Naga Caglak dan Bajing Item...
Misteri Sebuah Dendam...
Kekuatan Sejati Kitab Langit Bagian Matahari...
Perpisahan...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera...
Tanah, Air, Api dan Setetes Darah dari Jantung Seorang Putera (2)...
Kembalinya Ibu...
Empat Bayangan Hitam...
Siapa Ni Mas Laras Rangkuti???
Dendam Seorang Sahabat...
Ini Keputusan Yang Harus Gw Ambil...
Semua Pengorbanan Ini Demi Ibu...
Rapuh...
Kabar Mengejutkan Sekar dan Sebuah Restu...
Siasat Braja Krama...
Munculnya Kitab Langit...
Si Pembuka Kitab langit dan Sosok Asli Pak Sugi...
Rencana Yang Matang...
Lamaran Pribadi...
Keingintahuan Anggie...
Perubahan Rencana...
Hampir Terjebak...
Kekecewaan Sekar...
Dua Syarat Reinata...
Aku Harap Kamu dan Anggie Bahagia, Mam...
Rahasia Sepasang Suami Isteri...
Menitipkan Amanah...
Berkumpulnya Para Pembela Kitab Langit...
Siasat Ki Purwagalih...
Raja Jin Raja Muslihat (Nyesek, Bree)...
Pertukaran Tawanan...
Perang Gaib PunTak Terelakkan...
Sang Penyelamat Dari Utara...
Pertempuran Awal Dua Penguasa Kerajaan Gaib...
Bertekuk Lututnya Sekutu Braja Krama...
Pertarungan Dua Putera (Gugurnya Satu Sahabat Gaib)...
Krama Raja...
Braja Krama Versus Krama Raja...
Raja Licik...
Aku Lah Sang Pembuka...
Siasat Krama Raja dan Bayu Ambar...
Terbukanya Semua Ilmu Terlarang...
Sebuah Pengecualian...
Sri Baduga Maharaja...
Hilangnya Sebuah Pengecualian...
Hilangnya Sebuah Pengecualian (2)...
Sebuah Pengorbanan...
Pahlawan...
Sumpah...
Ilmu Pamungkas yang Terlarang...
Kabar Yang Mengejutkan...
Pulang...
Pulang (2)...
Sedikit Kisah Rio Sebelum Kisah Ini Tamat...
Terhalang Sumpah...
Bantuan Sahabat Baik...
Bachelor Party...
Keturunan Lain Sang Prabu...
Pembalasan Dendam Singgih...
Sepenggal Kisah Nyi Mas Roro Suwastri...
Tawaran Yang Mengejutkan...
Lawan Atau Kawan???
Terkuaknya Silsilah...
Sebuah Kebenaran...
Sebuah Kebenaran (2)...
Bertemunya Dua Keturunan Sang Prabu...
Pertempuran Dua Hati...
Cinta Pertama VS Cinta Terakhir Jagat Tirta...
Pengakuan Bayu Barata...
Ki Larang dan Nyi Mas Galuh Pandita???
Prana Kusuma...
Kau Benar Keturunan Kami, Ngger...
Our Big Day...
Insiden...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga...
Munculnya Para Tamu Tak Terduga (2)...
Dua Tamu Istimewa...
Semua Karena Cinta...
Keputusan Sekar Kencana...
Kena Gampar...
Bonyok!!!
RIBET!!!
Berdamai...
Keponakan Baru...
Malam Pertama dan Tiga Keanehan...
Ajian Warisan Para Leluhur (The Last Part/End Of All Chapters)
SIDE STORIES
Keturunan Yang Tersesat...
Keturunan Yang Tersesat (2)...
Diubah oleh juraganpengki 15-07-2018 20:23
iskrim dan 132 lainnya memberi reputasi
127
2.1M
8K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
juraganpengki
#5
Cintai Aku Sewajarnya, Yank...
Gw segera merebahkan tubuh kembali ke atas ranjang.. Benak gw dipenuhi kilasan bayangan dimana Pedang Jagat Samudera melesat tepat ke arah jantung gw, dan membuat sukma gw terdorong ke belakang hingga jatuh tepat di raga sendiri..
Dengan perasaan dipenuhi harapan akan munculnya kembali Pedang sakti pemberian Ki Suta, gw mulai memejamkan mata.. Kedua mata yang hampir terpejam, terpaksa terbuka saat mendengar suara pintu berdecit dibuka dari luar..
Persis di depan pintu yang setengahnya hampir tertutup kembali, berdiri seorang gadis cantik berbusana serba hitam, menandakan suasana hati duka.. Sebuah senyuman manis tersungging di bibir gw, begitu melihat wajah Anggie yang masih menyiratkan perasaan sedihnya..
“Hei..” Sapa gw ke Anggie sambil mencoba menyandarkan punggung kembali di kepala ranjang..
Tanpa menjawab apapun, Anggie langsung berlari memeluk gw sangat erat.. Suara tangisan hebat terdengar dari wajahnya yang terbenam dalam dada gw.. Ada rasa nyeri di bagian dada sebelah kiri, saat kepala Anggie menempel disana, tapi sebisa mungkin gw tekan rasa sakit itu..
Sebuah pelukan sama erat gw berikan sebagai balasan, ke gadis yang sangat gw cintai.. Sengaja gw membiarkan Anggie untuk menangis sejadi-jadi nya di sana.. Hingga tak berapa lama, suara isakan gadis itu perlahan-lahan melemah sendiri..
Sejenak, gw melihat dua airmata jatuh mengalir di pipi Anggie saat gadis itu sudah mengangkat kepalanya dari dada gw.. Perlahan tangan kanan gw naik untuk menyeka dua butir air berwarna bening tersebut.. Rasa nya bahagia sekali bisa menyeka airmata Anggie, seperti janji gw saat masih dalam wujud sukma, beberapa saat lalu..
“Sayank, udah yah nangisnya.. Aku ga apa-apa koq” Ucap gw berusaha menenangkan Anggie yang masih sesekali terisak..
“Aku.. Aku mohon sama kamu.. Jangan pernah.. Buat aku ngerasa.. Rapuh kek gini.. Beb” Kalimat Anggie yang terdengar terputus-putus, harus terhenti karena tangisan nya lagi-lagi pecah..
Dengan lembut, gw tarik tubuh gadis itu dan memeluknya kembali..
“Ssshh.. Udah, Yank.. Aku minta maaf yah” Ucap gw sembari mengelus rambut Anggie yang sudah tak lagi ditutupi selendang hitam..
“Aku.. Ga sanggup, Beb.. Kalo harus.. Kehilangan kamu.. Dengan tiba-tiba kek tadi” Sahut Anggie yang masih terputus-putus kata demi kata nya, disebabkan aliran nafas terganggu oleh isakan tangis hebat tadi..
Cukup lama, gw memeluk Anggie dan membiarkan gadis itu meredakan tangisannya di dalam dada gw.. Jika gw menjadi Anggie pun mungkin akan seperti ini.. Sangat bisa dihitung orang yang kehilangan pasangan tercintanya, akan bereaksi hanya dengan tangisan kecil..
Perlahan-lahan, gw mengangkat kepala gadis itu dan menatap kedua mata sembabnya.. Sebuah senyuman manis tersungging jelas di wajah gw, lalu disusul satu kecupan lembut yang gw berikan pada kening Anggie.. Dalam hati, gw berjanji untuk akan selalu berada di sampingnya, selama Allah SWT menghendaki..
“Coba kamu tark nafas dalam-dalam terus tahan sebentar, lalu keluarin perlahan-lahan, Yank.. Itu bisa bikin nafas kamu lebih lancar, dan ga seg segan lagi.. Tapi jangan kelamaan nahannya, ntar kentut lagi” Ucap gw sengaja membuat guyonan ke Anggie yang langsung di sambut dengan tawanya, meski masih diselingi isakan..
“Nah gitu donk.. Kalo kamu ketawa tuh cantik banget tau, Yank.. So stop crying, please.. Aku kan cuma Mati Suri, Yank.. Ga mati beneran koq” Sambung gw sedikit menggombal..
Bukannya jawaban lisan yang gw dapat, tapi cubitan keras dari Anggie yang mendarat persis di pinggang.. Seketika gw meringis kesakitan sambil mengusap-usap pinggang yang masih terasa nyeri..
“Aku ga suka.. Kamu bercanda soal kematian.. Kamu ga tahu.. Gimana rasa nya jadi aku” Kata Anggie sedikit merajuk, dengan nafas masih belum teratur..
Gw hanya tersenyum lalu menarik kepala gadis itu dan mencium keningnya kembali dengan lembut..
“Iya, maaf.. Kamu jangan ngambek yah” Bujuk gw ke Anggie sambil menatap wajahnya lekat-lekat..
Anggie sendiri nampak mulai menuruti saran yang gw berikan.. Beberapa kali gadis itu terlihat menarik nafas dan menahannya sesaat, lalu dihembuskan perlahan-lahan.. Dan ternyata saran gw itu berhasil.. Lambat laun, Anggie nampak mulai bisa mengembalikan laju nafasnya hingga teratur lagi..
“Kamu jahat, Beb.. Aku ga akan maafin kamu kalo sampe ninggalin aku lagi” Jawab Anggie dengan menyandarkan kepala nya kembali di dada gw..
Baru saja gw mau menjawab, tahu-tahu suara lapar di perut terlebih dahulu terdengar oleh Anggie.. Seketika gadis itu mengangkat kepala nya dari dada gw, dan menatap dengan kedua mata terpicingkan..
“Kamu lapar yah, Beb?” Tanya Anggie..
Gw hanya mengangguk dan menggaruk-garukkan kepala.. Dengan di balas senyuman, Anggie mulai beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar.. Beberapa menit gw menunggunya, sambil meraba dada sebelah kiri.. Kembali gw tertegun saat benak ini teringat akan Pedang Jagat Samudera..
Kepala gw menoleh ke arah pintu, dan menyimpulkan sebuah senyuman melihat Anggie sudah datang sambil membawa sepiring nasi dan segelas air putih..
“Makan dulu yah, Beb.. Buka mulut kamu, aaaa” Ucap Anggie seraya menyodorkan sesendok nasi berisi irisan ayam goreng ke dalam mulut gw..
Dengan cepat, gw membuka mulut dan mengunyah makanan yang sudah ada didalam.. Pandangan gw terus menatap Anggie yang masih sembab pada kedua matanya.. Gadis itu nampak telaten sekali memisahkan irisan daging ayam dan menyuapi gw sambil diselingi senyuman manisnya.. Senyuman yang membuat nafsu makan gw semakin bertambah..
“Beb, gimana ceritanya kamu bisa sampai jatuh dari motor, tapi ga ada luka sama sekali di badan kamu?” Tanya Anggie sembari menyodorkan minuman ke arah gw..
“Maksudnya, Yank?” Tanya gw tidak mengerti, lalu meneguk air putih yang sudah ada dalam genggaman tangan..
“Masa kamu ga inget penyebab kamu Mati Suri? Kata Ridho, kamu jatuh dari motor” Seketika ucapan Anggie barusan membuat gw menyemburkan air yang ada di dalam mulut, ke atas lantai..
“Eeh, kamu kenapa sih, Beb? Minumnya pelan-pelan donk.. Tuh kan, kamu sampe batuk-batuk gitu” Ucap Anggie sedikit panik sambil mengusap-usap punggung gw, sekedar untuk meringankan batuk akibat tersedaknya tenggorokan gw oleh air minum..
Sesekali, gw masih terbatuk.. Sementara Anggie nampak mengambil sehelai tissue untuk mengelap mulut gw yang sedikit basah.. Lalu mengambil beberapa helai lagi untuk membersihkan ceceran air di lantai kamar tidur..
Gw sempat menyalahkan Ridho yang memberi alasan konyol penyebab ‘Mati Suri’ nya gw.. Bener kata Anggie, kalo Ridho bilang gw jatoh dari motor otomatis badan gw juga penuh luka.. Minimal luka memar lah.. Nah, ini kan yang ada badan gw masih mulus-mulus aja tanpa luka sedikit pun..
“Ya udah lah, aku ga mau ngomongin itu lagi.. Yang penting sekarang, kamu sudah kembali ke aku.. Aku bahagia banget, Beb.. Padahal kalo kamu tahu, aku sempet ngerasa hancur sehancurnya pas di hubungin sama Ibu.. Bahkan beberapa kali terlintas keinginan untuk bunuh diri lagi, biar bisa nyusul kamu” Kata Anggie yang membuat gw tertegun..
“Sayank, kamu jangan pernah ambil keputusan kek gitu lagi yah.. Meski seandainya aku mati pun, kamu jangan sampai bunuh diri.. Itu dosa besar, Yank..” Ucap gw menasehati..
“Iya, aku tahu.. Habisnya aku bener-bener down, Beb..Aku ga bisa bayangin hidup tanpa ada kamu”
Sejenak, gw terdiam memikirkan ucapan Anggie barusan.. Setitik perasaan tidak berkenan terbit dihati gw.. Dengan menatap dalam-dalam ke wajah Anggie, benak gw teringat akan kilasan beberapa kejadian yang hampir merenggut nyawa.. Gw sadar betul jika hidup yang sedang gw jalani penuh resiko, tapi gw sendiri yang memang memilih jalan hidup ini..
Karena sudah komitmen dengan hubungan kami yang akan mencoba untuk selalu terbuka, gw mencoba mengutarakan apa yang saat ini membuat perasaan gw tidak sreg.. Dengan lembut, gw pegang kedua tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya..
“Yank, aku tahu kamu sayang banget ke aku.. Kamu cinta banget ke aku, sebesar cinta aku ke kamu.. Tapi aku mau saat ini, kita saling mencintai dengan tidak berlebihan, cukup sekedarnya saja” Ucap gw sambil menatap wajah Anggie penuh arti..
Seketika Anggie menarik kedua tangannya dari genggaman tangan gw.. Pandangan gadis itu menatap tidak mengerti, namun cenderung tidak suka dengan maksud pembicaraan gw..
“Maksud kamu apa, Beb? Kenapa aku ngerasa kamu kek nyoba membatasi perasaan aku ke kamu?” Tanya nya dengan kedua mata masih dijejaki oleh basahnya sisa airmata..
Gw menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum sambil menarik kembali kedua tangan Anggie untuk digenggam..
“Maksud aku bukan gitu, Yank.. Kita kan cuma manusia biasa yang saling cinta.. Tapi kita ga boleh lupa bahwa urusan jodoh, maut, rizki, itu adalah kewenangan Allah, SWT.. Gimana kalo ternyata kita ga berjodoh? Atau kejadian tadi terjadi, dan aku bener-bener mati.. Aku takut kamu akan lakuin hal bodoh, karena ga sanggup kehilangan cinta, seperti yang kamu lakukin di rumah Tante kamu dulu, Yank” Tambah gw yang membuat Anggie termenung..
“Aku mau kita tetap saling sayang, saling cinta.. Kita tetap menjaga hubungan indah ini sekuatnya.. Kita jaga hati dan kepercayaan masing-masing .. Dan selebihnya, kita serahin ke Tuhan sebagai penentu, sambil terus di kawal dengan do’a kita” Ucap gw yang tetap memandangi wajah Anggie penuh arti..
Sejenak, Anggie seperti memikirkan tiap kalimat yang gw utarakan sambil menganggukan kepala.. Entahlah, mudah-mudahan gadis itu bisa mengerti, tanpa harus berujung debat dan adu argumen.. Perlahan-lahan, Anggie menarik nafas dalam-dalam lalu dengan lembut, Anggie bergantian mengecup tangan gw yang masih menggenggam jari jemarinya.. Sebuah senyuman manis mulai terbit dari wajah gadis itu..
“Aku ga akan merubah atau menahan perasaan aku untuk terus mencintai kamu, Beb.. Tapi aku janji akan terus berdo’a agar hubungan kita mendapat restu dari Illahi” Jawab Anggie lirih..
Gw segera merebahkan tubuh kembali ke atas ranjang.. Benak gw dipenuhi kilasan bayangan dimana Pedang Jagat Samudera melesat tepat ke arah jantung gw, dan membuat sukma gw terdorong ke belakang hingga jatuh tepat di raga sendiri..
Dengan perasaan dipenuhi harapan akan munculnya kembali Pedang sakti pemberian Ki Suta, gw mulai memejamkan mata.. Kedua mata yang hampir terpejam, terpaksa terbuka saat mendengar suara pintu berdecit dibuka dari luar..
Persis di depan pintu yang setengahnya hampir tertutup kembali, berdiri seorang gadis cantik berbusana serba hitam, menandakan suasana hati duka.. Sebuah senyuman manis tersungging di bibir gw, begitu melihat wajah Anggie yang masih menyiratkan perasaan sedihnya..
“Hei..” Sapa gw ke Anggie sambil mencoba menyandarkan punggung kembali di kepala ranjang..
Tanpa menjawab apapun, Anggie langsung berlari memeluk gw sangat erat.. Suara tangisan hebat terdengar dari wajahnya yang terbenam dalam dada gw.. Ada rasa nyeri di bagian dada sebelah kiri, saat kepala Anggie menempel disana, tapi sebisa mungkin gw tekan rasa sakit itu..
Sebuah pelukan sama erat gw berikan sebagai balasan, ke gadis yang sangat gw cintai.. Sengaja gw membiarkan Anggie untuk menangis sejadi-jadi nya di sana.. Hingga tak berapa lama, suara isakan gadis itu perlahan-lahan melemah sendiri..
Sejenak, gw melihat dua airmata jatuh mengalir di pipi Anggie saat gadis itu sudah mengangkat kepalanya dari dada gw.. Perlahan tangan kanan gw naik untuk menyeka dua butir air berwarna bening tersebut.. Rasa nya bahagia sekali bisa menyeka airmata Anggie, seperti janji gw saat masih dalam wujud sukma, beberapa saat lalu..
“Sayank, udah yah nangisnya.. Aku ga apa-apa koq” Ucap gw berusaha menenangkan Anggie yang masih sesekali terisak..
“Aku.. Aku mohon sama kamu.. Jangan pernah.. Buat aku ngerasa.. Rapuh kek gini.. Beb” Kalimat Anggie yang terdengar terputus-putus, harus terhenti karena tangisan nya lagi-lagi pecah..
Dengan lembut, gw tarik tubuh gadis itu dan memeluknya kembali..
“Ssshh.. Udah, Yank.. Aku minta maaf yah” Ucap gw sembari mengelus rambut Anggie yang sudah tak lagi ditutupi selendang hitam..
“Aku.. Ga sanggup, Beb.. Kalo harus.. Kehilangan kamu.. Dengan tiba-tiba kek tadi” Sahut Anggie yang masih terputus-putus kata demi kata nya, disebabkan aliran nafas terganggu oleh isakan tangis hebat tadi..
Cukup lama, gw memeluk Anggie dan membiarkan gadis itu meredakan tangisannya di dalam dada gw.. Jika gw menjadi Anggie pun mungkin akan seperti ini.. Sangat bisa dihitung orang yang kehilangan pasangan tercintanya, akan bereaksi hanya dengan tangisan kecil..
Perlahan-lahan, gw mengangkat kepala gadis itu dan menatap kedua mata sembabnya.. Sebuah senyuman manis tersungging jelas di wajah gw, lalu disusul satu kecupan lembut yang gw berikan pada kening Anggie.. Dalam hati, gw berjanji untuk akan selalu berada di sampingnya, selama Allah SWT menghendaki..
“Coba kamu tark nafas dalam-dalam terus tahan sebentar, lalu keluarin perlahan-lahan, Yank.. Itu bisa bikin nafas kamu lebih lancar, dan ga seg segan lagi.. Tapi jangan kelamaan nahannya, ntar kentut lagi” Ucap gw sengaja membuat guyonan ke Anggie yang langsung di sambut dengan tawanya, meski masih diselingi isakan..
“Nah gitu donk.. Kalo kamu ketawa tuh cantik banget tau, Yank.. So stop crying, please.. Aku kan cuma Mati Suri, Yank.. Ga mati beneran koq” Sambung gw sedikit menggombal..
Bukannya jawaban lisan yang gw dapat, tapi cubitan keras dari Anggie yang mendarat persis di pinggang.. Seketika gw meringis kesakitan sambil mengusap-usap pinggang yang masih terasa nyeri..
“Aku ga suka.. Kamu bercanda soal kematian.. Kamu ga tahu.. Gimana rasa nya jadi aku” Kata Anggie sedikit merajuk, dengan nafas masih belum teratur..
Gw hanya tersenyum lalu menarik kepala gadis itu dan mencium keningnya kembali dengan lembut..
“Iya, maaf.. Kamu jangan ngambek yah” Bujuk gw ke Anggie sambil menatap wajahnya lekat-lekat..
Anggie sendiri nampak mulai menuruti saran yang gw berikan.. Beberapa kali gadis itu terlihat menarik nafas dan menahannya sesaat, lalu dihembuskan perlahan-lahan.. Dan ternyata saran gw itu berhasil.. Lambat laun, Anggie nampak mulai bisa mengembalikan laju nafasnya hingga teratur lagi..
“Kamu jahat, Beb.. Aku ga akan maafin kamu kalo sampe ninggalin aku lagi” Jawab Anggie dengan menyandarkan kepala nya kembali di dada gw..
Baru saja gw mau menjawab, tahu-tahu suara lapar di perut terlebih dahulu terdengar oleh Anggie.. Seketika gadis itu mengangkat kepala nya dari dada gw, dan menatap dengan kedua mata terpicingkan..
“Kamu lapar yah, Beb?” Tanya Anggie..
Gw hanya mengangguk dan menggaruk-garukkan kepala.. Dengan di balas senyuman, Anggie mulai beranjak dari tempat tidur dan berjalan keluar dari kamar.. Beberapa menit gw menunggunya, sambil meraba dada sebelah kiri.. Kembali gw tertegun saat benak ini teringat akan Pedang Jagat Samudera..
Kepala gw menoleh ke arah pintu, dan menyimpulkan sebuah senyuman melihat Anggie sudah datang sambil membawa sepiring nasi dan segelas air putih..
“Makan dulu yah, Beb.. Buka mulut kamu, aaaa” Ucap Anggie seraya menyodorkan sesendok nasi berisi irisan ayam goreng ke dalam mulut gw..
Dengan cepat, gw membuka mulut dan mengunyah makanan yang sudah ada didalam.. Pandangan gw terus menatap Anggie yang masih sembab pada kedua matanya.. Gadis itu nampak telaten sekali memisahkan irisan daging ayam dan menyuapi gw sambil diselingi senyuman manisnya.. Senyuman yang membuat nafsu makan gw semakin bertambah..
“Beb, gimana ceritanya kamu bisa sampai jatuh dari motor, tapi ga ada luka sama sekali di badan kamu?” Tanya Anggie sembari menyodorkan minuman ke arah gw..
“Maksudnya, Yank?” Tanya gw tidak mengerti, lalu meneguk air putih yang sudah ada dalam genggaman tangan..
“Masa kamu ga inget penyebab kamu Mati Suri? Kata Ridho, kamu jatuh dari motor” Seketika ucapan Anggie barusan membuat gw menyemburkan air yang ada di dalam mulut, ke atas lantai..
“Eeh, kamu kenapa sih, Beb? Minumnya pelan-pelan donk.. Tuh kan, kamu sampe batuk-batuk gitu” Ucap Anggie sedikit panik sambil mengusap-usap punggung gw, sekedar untuk meringankan batuk akibat tersedaknya tenggorokan gw oleh air minum..
Sesekali, gw masih terbatuk.. Sementara Anggie nampak mengambil sehelai tissue untuk mengelap mulut gw yang sedikit basah.. Lalu mengambil beberapa helai lagi untuk membersihkan ceceran air di lantai kamar tidur..
Gw sempat menyalahkan Ridho yang memberi alasan konyol penyebab ‘Mati Suri’ nya gw.. Bener kata Anggie, kalo Ridho bilang gw jatoh dari motor otomatis badan gw juga penuh luka.. Minimal luka memar lah.. Nah, ini kan yang ada badan gw masih mulus-mulus aja tanpa luka sedikit pun..
“Ya udah lah, aku ga mau ngomongin itu lagi.. Yang penting sekarang, kamu sudah kembali ke aku.. Aku bahagia banget, Beb.. Padahal kalo kamu tahu, aku sempet ngerasa hancur sehancurnya pas di hubungin sama Ibu.. Bahkan beberapa kali terlintas keinginan untuk bunuh diri lagi, biar bisa nyusul kamu” Kata Anggie yang membuat gw tertegun..
“Sayank, kamu jangan pernah ambil keputusan kek gitu lagi yah.. Meski seandainya aku mati pun, kamu jangan sampai bunuh diri.. Itu dosa besar, Yank..” Ucap gw menasehati..
“Iya, aku tahu.. Habisnya aku bener-bener down, Beb..Aku ga bisa bayangin hidup tanpa ada kamu”
Sejenak, gw terdiam memikirkan ucapan Anggie barusan.. Setitik perasaan tidak berkenan terbit dihati gw.. Dengan menatap dalam-dalam ke wajah Anggie, benak gw teringat akan kilasan beberapa kejadian yang hampir merenggut nyawa.. Gw sadar betul jika hidup yang sedang gw jalani penuh resiko, tapi gw sendiri yang memang memilih jalan hidup ini..
Karena sudah komitmen dengan hubungan kami yang akan mencoba untuk selalu terbuka, gw mencoba mengutarakan apa yang saat ini membuat perasaan gw tidak sreg.. Dengan lembut, gw pegang kedua tangan gadis itu dan mengecup punggung tangannya..
“Yank, aku tahu kamu sayang banget ke aku.. Kamu cinta banget ke aku, sebesar cinta aku ke kamu.. Tapi aku mau saat ini, kita saling mencintai dengan tidak berlebihan, cukup sekedarnya saja” Ucap gw sambil menatap wajah Anggie penuh arti..
Seketika Anggie menarik kedua tangannya dari genggaman tangan gw.. Pandangan gadis itu menatap tidak mengerti, namun cenderung tidak suka dengan maksud pembicaraan gw..
“Maksud kamu apa, Beb? Kenapa aku ngerasa kamu kek nyoba membatasi perasaan aku ke kamu?” Tanya nya dengan kedua mata masih dijejaki oleh basahnya sisa airmata..
Gw menarik nafas dalam-dalam, lalu tersenyum sambil menarik kembali kedua tangan Anggie untuk digenggam..
“Maksud aku bukan gitu, Yank.. Kita kan cuma manusia biasa yang saling cinta.. Tapi kita ga boleh lupa bahwa urusan jodoh, maut, rizki, itu adalah kewenangan Allah, SWT.. Gimana kalo ternyata kita ga berjodoh? Atau kejadian tadi terjadi, dan aku bener-bener mati.. Aku takut kamu akan lakuin hal bodoh, karena ga sanggup kehilangan cinta, seperti yang kamu lakukin di rumah Tante kamu dulu, Yank” Tambah gw yang membuat Anggie termenung..
“Aku mau kita tetap saling sayang, saling cinta.. Kita tetap menjaga hubungan indah ini sekuatnya.. Kita jaga hati dan kepercayaan masing-masing .. Dan selebihnya, kita serahin ke Tuhan sebagai penentu, sambil terus di kawal dengan do’a kita” Ucap gw yang tetap memandangi wajah Anggie penuh arti..
Sejenak, Anggie seperti memikirkan tiap kalimat yang gw utarakan sambil menganggukan kepala.. Entahlah, mudah-mudahan gadis itu bisa mengerti, tanpa harus berujung debat dan adu argumen.. Perlahan-lahan, Anggie menarik nafas dalam-dalam lalu dengan lembut, Anggie bergantian mengecup tangan gw yang masih menggenggam jari jemarinya.. Sebuah senyuman manis mulai terbit dari wajah gadis itu..
“Aku ga akan merubah atau menahan perasaan aku untuk terus mencintai kamu, Beb.. Tapi aku janji akan terus berdo’a agar hubungan kita mendapat restu dari Illahi” Jawab Anggie lirih..
dodolgarut134 dan 23 lainnya memberi reputasi
24