- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.1K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#89
Bagian Tujuh :
Cinta Dari Masa Lampau
Cinta Dari Masa Lampau

Quote:
Part sebelumnya :
“Horee ... kamu benar-benar baik, sayang!”
Dengan cepat ia kemudian memelukku sebagai suatu tanda bahagia, sedangkan aku hanya bisa memeluknya dalam ketenangan sembari mengusap kepalanya dengan tangan kananku saat itu, serasa dunia berhenti berputar untuk beberapa waktu.
“Horee ... kamu benar-benar baik, sayang!”
Dengan cepat ia kemudian memelukku sebagai suatu tanda bahagia, sedangkan aku hanya bisa memeluknya dalam ketenangan sembari mengusap kepalanya dengan tangan kananku saat itu, serasa dunia berhenti berputar untuk beberapa waktu.
***
Quote:
Kami berdua segera keluar dari rumah kost. Fexia dengan senyum sumringah terlihat kini menggenggam erat tanganku. Aku tidak bisa berkata tidak pada saat itu, rasanya begitu jahat, jika aku sampai melukai hatinya sekali lagi. Jika mengingat semua itu sampai hari ini, aku masih merasakan banyak rasa penyesalan yang membekas, terutama rasa mengenai ‘Kenapa aku tidak bisa membahagiakannya sebanyak mungkin, sampai hari ini?’ Ah maaf ... tampaknya air mata telah mengalir ketika aku menulis ulang cerita ini.
Fexia segera menghidupkan mesin mobil dan mobil ini kemudian meluncur ke salah satu mall yang cukup besar di kota Palembang. Fexia adalah sosok periang yang gemar tersenyum ke siapa pun juga, bahkan terhadap orang yang tidak ia kenal. Ia tidak akan sungkan melempar senyumnya tersebut, terkadang aku suka menegur tingkahnya yang seperti itu, bukan karena apa, aku hanya takut jika terjadi hal buruk tidak menutup kemungkinan kebaikan yang kita sajikan disalah artikan oleh orang jahat di luar sana.
Kami berdua melangkah ke dalam dan menaiki eskalator menuju ke lantai 3. Fexia memutuskan untuk ditemani membeli beberapa aksesoris di sebuah toko yang berada disana. Aku hanya mengekor, mengikuti kemana sosok indah ini melangkahkan kakinya, terkadang yang namanya wanita kalau sudah masuk ke tempat belanja seperti ini sering kali tujuan awal akan berbeda dengan apa yang ia cari. Fexia adalah sosok yang seperti itu, entah sudah berapa toko yang kami masuki dari toko pakaian, sepatu dan bahkan toko yang menjual dalaman untuk wanita.
Mungkin tidak harus kujelaskan secara detail mengenai apa yang dijual disana, karena sampai sekarang rasanya aku enggan untuk sekedar berada di depan toko tersebut.
“Aku lihat-lihat dulu ke dalam ya, sayang!” rengeknya kepadaku.
“Iya-iya ... tapi cepet ya! Filmnya 30 menit lagi mulai loh! Kita belum beli tiket!” pesanku kepadanya.
“Hehe ... iya! Aku gak lama kok, sebentar!” ia kemudian berjalan ke arah dalam dan melihat-lihat beberapa model pakaian dalam.
Aku mengeluarkan handphoneku sembari melongokkan kepala ke arah bawah, dimana mataku akan luas memandang siapa saja yang berada di lantai dasar dan beberapa orang yang tengah menaiki ekskalator yang menuju ke atas, mataku tiba-tiba terpaku ke suatu pemandangan yang kurasa ganjil. Aku melihat sosok wanita yang kukenal tampak sedang menaiki ekskalator dari lantai dua menuju ke lantai tiga tempatku sekarang ini.
“Tiwi!” gumamku pelan. Aku ingat benar kalau wanita dengan rambut kepang kuda, berkulit kuning langsat dan hidung mancung yang tengah bersenda gurau dengan seorang pria di sebelahnya adalah Tiwi, sosok perempuan yang pernah berpacaran denganku di masa-masa SMP hingga SMA.
Aku berpura-pura tidak melihat kejadian tersebut dan sungguh berharap jikalau Tiwi juga tidak menyadari keberadaanku saat ini. Aku segera menarik tutup kepala hoodieku dan mengenakannya, berharap jikalau Tiwi tidak mengenali aku saat itu juga.
Namun semua harapanku sinar, tidak lama setelah Tiwi dan pria tambun berkaca mata yang disebelahnya menginjakkan kaki tepat di lantai tiga, tiba-tiba terdengar suara keributan tepat di belakangku.
“Dih! Kamu lagi, kayaknya dunia ini sempit ya!” ledek Xia.
Aku yang mendengar hal tersebut segera berbalik arah dan bergumam di dalam hati, ‘Ya Tuhan! Kenapa hari ini bisa sesial ini!’
“Memangnya kenapa? Kalau ngomong dijaga ya, Mbak! Mulutnya kayak ga pernah di sekolahin aja suka nyindir-nyindir orang!” balas Tiwi emosi.
“Sudah-sudah! Ini kenapa sih!” ujarku mencoba untuk menengahi perdebatan kedua wanita tersebut.
“Iya belain aja terus, yank! Karena wanita ini kan dulu kamu selingkuh dari aku! Masih mau kamu bela!” sindir Xia kepadaku.
Aku hanya bisa diam beberapa detik, hingga kemudian menarik Fexia pergi sembari mengucap maaf kepada Tiwi dan juga pacarnya itu, “Maaf ya! Pacarku memang emosian!” ucapku sembari membungkuk.
“Lain kali pacarnya dijaga, mas! Jangan asal marah-marah sama pacar orang! Dasar kampungan!” umpat pria tersebut kepadaku.
Tanganku yang sebelah kiri masih menggengam tangan Fexia, sedangkan yang kanan entah mengapa reflek melayangkan sebuah kepalan tinju ke arah rahang pemuda tersebut.
‘Brak!’
“Argh! Sialan!” umpat pemuda tersebut. Ia seketika terjatuh ke belakang sembari mengaduh kesakitan.
“Kamu gila ya, Har!” umpat Tiwi ke arahku mendapati pacar kesayangannya kini terjerembab di ubin dingin depan ekskalator, banyak pasang mata yang melihat ke arah kami dan menyadari apa yang terjadi.
“Aku gila? Lebih gila mana dengan orang yang tidak punya sopan santun dan etika seperti pacarmu ini? Berani-beraninya menghina perempuan! Aku paling malas kalau pacarku dihina-hina seperti itu!” balasku tak kalah sengit.
Fexia yang menyadari beberapa orang berdatangan ke arah kami segera menarik tanganku sembari berbisik, “Ayo pergi dari tempat ini, sayang!”
Aku hanya mengangguk dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa, beberapa orang kulihat menghampiri pemuda tersebut dan juga Tiwi, tampaknya Tiwi tengah menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian tersebut. Aku sih tidak mau ambil pusing, soal siapa yang benar dan salah itu urusan belakang, toh aku sudah meminta maaf, lalu kenapa masih harus menghina? Lagipula apa urusannya orang luar sok ingin ikut campur masalah perempuan. Mau dibilang apa? Lelaki jantan? Pahlawan kesiangan? Atau sekedari cari muka di depan pacar barumu? ‘Cmon Wake Up Dude! Its Fucking Bullshit!’
Aku membatalkan niatku untuk menonton film di mall ini. Kami berdua segera berjalan balik ke parkiran mobil dengan muka suram. Fexia tidak berbicara sepatah kata pun. Ia tahu benar kalau moodku sedang tidak baik dan jika hal itu terjadi Fexia tentunya sudah paham untuk diam seribu bahasa sebelum aku mulai mengajaknya bicara kembali.
“Kita pindah mall saja! Aku malas di mall ini!” ujarku pelan.
“Kita pulang saja sambil cari makan malam! Gimana?” tanya Fexia meminta persetujuanku.
“Yakin ga mau nonton?” aku berbalik bertanya kepadanya sekedar untuk menanyakan kemauannya.
“Masih ada besok, lagipula mood kamu udah jelek karena kejadian barusan!”
“Iya maafin aku ya, sayang!” rayuku mencoba untuk mencairkan suasana.
‘Hiks ...,’ air mata itu terlihat tumpah sekali lagi.
Fexia menangis sembari bergumam kepadaku, “Aku yang salah, sayang! Aku yang harusnya minta maaf! Bukan kamu!” ucapnya sesegukan.
Aku segera menarik kepalanya dan kuarahkan ke pundakku, percayalah ketika wanita menangis mereka hanya butuh pundak untuk bersandar dan butuh didengar mengenai keluh kesah hati mereka pada saat itu.
“Sudah ... jangan menangis ah! Semuanya kan udah kejadian! Jadiin pembelajaran aja, ya sayang! Kamu juga jangan lagi marah-marah ga karuan seperti itu di tempat umum, lagipula bukankah aku sekarang udah sama kamu? Apalagi yang mau kamu cemburuin dari Tiwi, toh dia cuma masa laluku kok!” terangku sembari membelai kepalanya mencoba untuk menenangkan sosok indah yang tengah menangis di pundakku saat ini.
“Maaf ... aku salah!” balasnya pelan.
“Ya sudah ... kita pindah ke mall sebelah aja ya!” ajakku kepadanya.
“Iya, tapi aku ga mau nonton!” balasnya sekali lagi sembari mengusap air matanya dengan tangannya sendiri.
Aku berinisiatif mengalihkan tanganku ke arah belakang untuk mengambil tissue yang berada di bangku tengah. Dengan telaten aku mulai mengambil tissue tersebut dan membersihkan air mata yang menetes di wajahnya yang sendu.
“Kamu jelek kalo nangis, sayang! Jangan ditumpahin lagi ya air matanya!” ujarku sembari tersenyum.
“Hal ini sebenarnya yang membuat aku begitu mencintaimu sampai saat ini, sayang!” balasnya sembari tersenyum penuh arti.
“Nah gitu dong! Sudah tahu kan, kalau aku paling tidak bisa melihat wanita menangis. Jadi kita mau kemana ini?” tanyaku sekali lagi.
“Kamu tadi kan janjinya mau temenin aku cari aksesoris! Aku mau beli kalung!” rengeknya kepadaku, tampaknya beberapa saat yang lalu sosok ini masih menangis dan sekarang sifatnya yang kekanak-kanakan mirip bocah yang minta permen ini sudah kembali seperti sedia kala
.
“Iya-iya! Yuk aku temani beli di sana!”
Sekitar 30 menit kemudian, kami akhirnya sampai di sebuah toko aksesoris di mall yang berada tidak jauh dari mall sebelumnya. Aku menuntunnya ke tempat ini, karena beberapa teman kampusku merekomendasikan tempat ini untuk mencari aksesoris.
Fexia segera masuk ke dalam toko sembari menarik tanganku. Ia terlihat mencari-cari beberapa aksesoris yang gemar ia gunakan. Fexia sebenarnya suka memakai bando warna-warni entah sudah berapa banyak koleksinya, seingatku ia gemar bergonta-ganti benda tersebut ketika sedang bersama denganku.
Aku memisahkan diri ke arah etalase kalung dan juga cincin, ternyata toko ini juga menjual beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan juga cincin yang terbuat dari perak bahkan platina. Aku mulai melirik-lirik beberapa item, karena memang sesungguhnya aku adalah orang yang gemar menggunakan gelang ataupun cincin. Aku mencoba-coba beberapa item, hingga kemudian Fexia menghampiriku dan ikut melihat-lihat, hingga kemudian matanya tertuju ke sebuah kalung yang terbuat dari perak.
“Sayang! Yang ini bagus ya!” tunjuknya.
Pegawai toko yang melayani kami dengan sigap segera mengambil barang tersebut dan menunjukkan kepada Fexia. Kalung itu terbuat dari perak dengan mainan kalung berbentuk hati yang dapat di belah dua, tampaknya ini adalah kalung couple yang bisa dijadikan dua dan ternyata ketika aku melihat secara lebih teliti kalung ini memang memiliki dua rantai yang disatukan oleh magnet yang terdapat di mainan kalung.
“Kita pakai ini ya, sayang!”
Aku hanya bisa mengangguk menyetujui keinginannya saat itu juga.
Fexia segera menghidupkan mesin mobil dan mobil ini kemudian meluncur ke salah satu mall yang cukup besar di kota Palembang. Fexia adalah sosok periang yang gemar tersenyum ke siapa pun juga, bahkan terhadap orang yang tidak ia kenal. Ia tidak akan sungkan melempar senyumnya tersebut, terkadang aku suka menegur tingkahnya yang seperti itu, bukan karena apa, aku hanya takut jika terjadi hal buruk tidak menutup kemungkinan kebaikan yang kita sajikan disalah artikan oleh orang jahat di luar sana.
Kami berdua melangkah ke dalam dan menaiki eskalator menuju ke lantai 3. Fexia memutuskan untuk ditemani membeli beberapa aksesoris di sebuah toko yang berada disana. Aku hanya mengekor, mengikuti kemana sosok indah ini melangkahkan kakinya, terkadang yang namanya wanita kalau sudah masuk ke tempat belanja seperti ini sering kali tujuan awal akan berbeda dengan apa yang ia cari. Fexia adalah sosok yang seperti itu, entah sudah berapa toko yang kami masuki dari toko pakaian, sepatu dan bahkan toko yang menjual dalaman untuk wanita.
Mungkin tidak harus kujelaskan secara detail mengenai apa yang dijual disana, karena sampai sekarang rasanya aku enggan untuk sekedar berada di depan toko tersebut.
“Aku lihat-lihat dulu ke dalam ya, sayang!” rengeknya kepadaku.
“Iya-iya ... tapi cepet ya! Filmnya 30 menit lagi mulai loh! Kita belum beli tiket!” pesanku kepadanya.
“Hehe ... iya! Aku gak lama kok, sebentar!” ia kemudian berjalan ke arah dalam dan melihat-lihat beberapa model pakaian dalam.
Aku mengeluarkan handphoneku sembari melongokkan kepala ke arah bawah, dimana mataku akan luas memandang siapa saja yang berada di lantai dasar dan beberapa orang yang tengah menaiki ekskalator yang menuju ke atas, mataku tiba-tiba terpaku ke suatu pemandangan yang kurasa ganjil. Aku melihat sosok wanita yang kukenal tampak sedang menaiki ekskalator dari lantai dua menuju ke lantai tiga tempatku sekarang ini.
“Tiwi!” gumamku pelan. Aku ingat benar kalau wanita dengan rambut kepang kuda, berkulit kuning langsat dan hidung mancung yang tengah bersenda gurau dengan seorang pria di sebelahnya adalah Tiwi, sosok perempuan yang pernah berpacaran denganku di masa-masa SMP hingga SMA.
Aku berpura-pura tidak melihat kejadian tersebut dan sungguh berharap jikalau Tiwi juga tidak menyadari keberadaanku saat ini. Aku segera menarik tutup kepala hoodieku dan mengenakannya, berharap jikalau Tiwi tidak mengenali aku saat itu juga.
Namun semua harapanku sinar, tidak lama setelah Tiwi dan pria tambun berkaca mata yang disebelahnya menginjakkan kaki tepat di lantai tiga, tiba-tiba terdengar suara keributan tepat di belakangku.
“Dih! Kamu lagi, kayaknya dunia ini sempit ya!” ledek Xia.
Aku yang mendengar hal tersebut segera berbalik arah dan bergumam di dalam hati, ‘Ya Tuhan! Kenapa hari ini bisa sesial ini!’
“Memangnya kenapa? Kalau ngomong dijaga ya, Mbak! Mulutnya kayak ga pernah di sekolahin aja suka nyindir-nyindir orang!” balas Tiwi emosi.
“Sudah-sudah! Ini kenapa sih!” ujarku mencoba untuk menengahi perdebatan kedua wanita tersebut.
“Iya belain aja terus, yank! Karena wanita ini kan dulu kamu selingkuh dari aku! Masih mau kamu bela!” sindir Xia kepadaku.
Aku hanya bisa diam beberapa detik, hingga kemudian menarik Fexia pergi sembari mengucap maaf kepada Tiwi dan juga pacarnya itu, “Maaf ya! Pacarku memang emosian!” ucapku sembari membungkuk.
“Lain kali pacarnya dijaga, mas! Jangan asal marah-marah sama pacar orang! Dasar kampungan!” umpat pria tersebut kepadaku.
Tanganku yang sebelah kiri masih menggengam tangan Fexia, sedangkan yang kanan entah mengapa reflek melayangkan sebuah kepalan tinju ke arah rahang pemuda tersebut.
‘Brak!’
“Argh! Sialan!” umpat pemuda tersebut. Ia seketika terjatuh ke belakang sembari mengaduh kesakitan.
“Kamu gila ya, Har!” umpat Tiwi ke arahku mendapati pacar kesayangannya kini terjerembab di ubin dingin depan ekskalator, banyak pasang mata yang melihat ke arah kami dan menyadari apa yang terjadi.
“Aku gila? Lebih gila mana dengan orang yang tidak punya sopan santun dan etika seperti pacarmu ini? Berani-beraninya menghina perempuan! Aku paling malas kalau pacarku dihina-hina seperti itu!” balasku tak kalah sengit.
Fexia yang menyadari beberapa orang berdatangan ke arah kami segera menarik tanganku sembari berbisik, “Ayo pergi dari tempat ini, sayang!”
Aku hanya mengangguk dan berjalan seolah tidak terjadi apa-apa, beberapa orang kulihat menghampiri pemuda tersebut dan juga Tiwi, tampaknya Tiwi tengah menjelaskan panjang lebar mengenai kejadian tersebut. Aku sih tidak mau ambil pusing, soal siapa yang benar dan salah itu urusan belakang, toh aku sudah meminta maaf, lalu kenapa masih harus menghina? Lagipula apa urusannya orang luar sok ingin ikut campur masalah perempuan. Mau dibilang apa? Lelaki jantan? Pahlawan kesiangan? Atau sekedari cari muka di depan pacar barumu? ‘Cmon Wake Up Dude! Its Fucking Bullshit!’
Aku membatalkan niatku untuk menonton film di mall ini. Kami berdua segera berjalan balik ke parkiran mobil dengan muka suram. Fexia tidak berbicara sepatah kata pun. Ia tahu benar kalau moodku sedang tidak baik dan jika hal itu terjadi Fexia tentunya sudah paham untuk diam seribu bahasa sebelum aku mulai mengajaknya bicara kembali.
“Kita pindah mall saja! Aku malas di mall ini!” ujarku pelan.
“Kita pulang saja sambil cari makan malam! Gimana?” tanya Fexia meminta persetujuanku.
“Yakin ga mau nonton?” aku berbalik bertanya kepadanya sekedar untuk menanyakan kemauannya.
“Masih ada besok, lagipula mood kamu udah jelek karena kejadian barusan!”
“Iya maafin aku ya, sayang!” rayuku mencoba untuk mencairkan suasana.
‘Hiks ...,’ air mata itu terlihat tumpah sekali lagi.
Fexia menangis sembari bergumam kepadaku, “Aku yang salah, sayang! Aku yang harusnya minta maaf! Bukan kamu!” ucapnya sesegukan.
Aku segera menarik kepalanya dan kuarahkan ke pundakku, percayalah ketika wanita menangis mereka hanya butuh pundak untuk bersandar dan butuh didengar mengenai keluh kesah hati mereka pada saat itu.
“Sudah ... jangan menangis ah! Semuanya kan udah kejadian! Jadiin pembelajaran aja, ya sayang! Kamu juga jangan lagi marah-marah ga karuan seperti itu di tempat umum, lagipula bukankah aku sekarang udah sama kamu? Apalagi yang mau kamu cemburuin dari Tiwi, toh dia cuma masa laluku kok!” terangku sembari membelai kepalanya mencoba untuk menenangkan sosok indah yang tengah menangis di pundakku saat ini.
“Maaf ... aku salah!” balasnya pelan.
“Ya sudah ... kita pindah ke mall sebelah aja ya!” ajakku kepadanya.
“Iya, tapi aku ga mau nonton!” balasnya sekali lagi sembari mengusap air matanya dengan tangannya sendiri.
Aku berinisiatif mengalihkan tanganku ke arah belakang untuk mengambil tissue yang berada di bangku tengah. Dengan telaten aku mulai mengambil tissue tersebut dan membersihkan air mata yang menetes di wajahnya yang sendu.
“Kamu jelek kalo nangis, sayang! Jangan ditumpahin lagi ya air matanya!” ujarku sembari tersenyum.
“Hal ini sebenarnya yang membuat aku begitu mencintaimu sampai saat ini, sayang!” balasnya sembari tersenyum penuh arti.
“Nah gitu dong! Sudah tahu kan, kalau aku paling tidak bisa melihat wanita menangis. Jadi kita mau kemana ini?” tanyaku sekali lagi.
“Kamu tadi kan janjinya mau temenin aku cari aksesoris! Aku mau beli kalung!” rengeknya kepadaku, tampaknya beberapa saat yang lalu sosok ini masih menangis dan sekarang sifatnya yang kekanak-kanakan mirip bocah yang minta permen ini sudah kembali seperti sedia kala
.
“Iya-iya! Yuk aku temani beli di sana!”
Sekitar 30 menit kemudian, kami akhirnya sampai di sebuah toko aksesoris di mall yang berada tidak jauh dari mall sebelumnya. Aku menuntunnya ke tempat ini, karena beberapa teman kampusku merekomendasikan tempat ini untuk mencari aksesoris.
Fexia segera masuk ke dalam toko sembari menarik tanganku. Ia terlihat mencari-cari beberapa aksesoris yang gemar ia gunakan. Fexia sebenarnya suka memakai bando warna-warni entah sudah berapa banyak koleksinya, seingatku ia gemar bergonta-ganti benda tersebut ketika sedang bersama denganku.
Aku memisahkan diri ke arah etalase kalung dan juga cincin, ternyata toko ini juga menjual beberapa aksesoris seperti kalung, gelang dan juga cincin yang terbuat dari perak bahkan platina. Aku mulai melirik-lirik beberapa item, karena memang sesungguhnya aku adalah orang yang gemar menggunakan gelang ataupun cincin. Aku mencoba-coba beberapa item, hingga kemudian Fexia menghampiriku dan ikut melihat-lihat, hingga kemudian matanya tertuju ke sebuah kalung yang terbuat dari perak.
“Sayang! Yang ini bagus ya!” tunjuknya.
Pegawai toko yang melayani kami dengan sigap segera mengambil barang tersebut dan menunjukkan kepada Fexia. Kalung itu terbuat dari perak dengan mainan kalung berbentuk hati yang dapat di belah dua, tampaknya ini adalah kalung couple yang bisa dijadikan dua dan ternyata ketika aku melihat secara lebih teliti kalung ini memang memiliki dua rantai yang disatukan oleh magnet yang terdapat di mainan kalung.
“Kita pakai ini ya, sayang!”
Aku hanya bisa mengangguk menyetujui keinginannya saat itu juga.
#Bersambung
jimmi2008 memberi reputasi
1
Kutip
Balas