- Beranda
- Stories from the Heart
[HORROR] Cerita Dari Selatan
...
TS
phaltyfalty
[HORROR] Cerita Dari Selatan
Quote:
Para pembaca kaskus yang budiman, silahkan duduk santai di depan layar komputer agan. Kisah kisah daerah pantai selatan Pulau Jawa akan tersaji di bawah ini. Mohon bijak agan-agan untuk menikmati cerita ini. Pendapat terserah pada pembaca, dan mohon bijak menanggapi. Cerita ini bumbu bumbu, antara real dan fiksi(tentunya membuat lebih sedapp). Silahkan enjoy cerita dari selatan.
Sruput kopinya sambil mbaca
Sruput kopinya sambil mbaca
![[HORROR] Cerita Dari Selatan](https://s.kaskus.id/images/2017/12/11/6904283_20171211071219.jpg)
Index cerita
Prologue
1st
2nd
3rd
4th
______
Part 5.1(camping dimulai)
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 5.5(camping berakhir)
Part 6.1 update 31/01/2018
Part 6.2 (wait for a moment...)
Quote:
Prologue
Ahh... Pansel Jawa. Nggak ramai seperti Pantura. Disini lebih adem dan tenang suasananya dibanding di utara sana. Kota kecematanku juga gak dilewatin jalan nasional. Aku lahir di sebuah kota kecamatan kecil, Asli wong Kxxxxx. Baru aja lulus kuliah di salah satu universitas ternama di Jabodetabek, aku kembali ke tanah ini buat mulai usaha ternak lobster, skalian bantuin keuangan keluarga. Aku sekarang tinggal sama ibu, bapak sudah meninggal. Tinggal adik namatin SMA di tahun terakhir ini. Kembalinya aku ke X (sebut saja kecamatannya itu) tak membuat lupa akan tanah ini. Kenangan kenangan indah sewaktu kecil sampai SMA, dan juga kenangan yang tak enak.
Keanehan keanehan sepanjang hidup tak akan selesai berurusan dengaku. Dari ketjil sampe zaman now masih aja... gak pernah selese!
Yup itu sekian dariku... sisanya lanjot gan
Diubah oleh phaltyfalty 31-01-2018 17:54
anasabila memberi reputasi
1
23.2K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
phaltyfalty
#59
Part 5.4 | (Menuju) datangnya mereka
Hal itu terbang di atasku. Aku kini hanya bisa terdiam menatapnya,menghilang di kedalaman hutan. Kini si Gimbal sudah beranjak dari tempat ia duduk tadi saat mengajakku mengobrol. Aku hanya berdiri di padang rumput yang berpasir dengan membawa piring, terbengong-bengong akan kejadian tadi. Huff, aku narik nafas sebesar mungkin dan dihembuskan kembali. Kini aku teringat, bahwa aku harus mengambil bahan-bahan makanan untuk masak kembali.
Pukul 15.30, hari kedua
Hmmm... Ayam suwir, udah. Bumbu putih, udah. Sayurannya, udah. Bahan lainnya juga udah ditambahkan ke ramuan bernama “Soto Ayam” ini. Si Eko daritadi sepertinya meneliti satu per satu, dicek ulang, agar soto ini menjadi jawaranya. Berbekal pengetahuan dari dapur ibunya, sotonya ditambahkan ebi agar lebih lezat. Sementara hari ini menjadi bagianku menyiapkan peralatan makanan dan mencucinya. Saat ku mempersiapkan sendok, di kejauhan Adi dan Gimbal berjalan menuju tenda. Gimbal menggandeng Adi, yang pasti tak mengandung unsur yang ada romantis-romantisnya
. Sebagai teman yang baik, Gimbal bersedia mengantar Adi dari tenda palang merah menuju tendaku. Adi terlihat sudah lebih bugar, meski lesunya masih saja terlihat di raut mukanya.
“Adi, gimana kamu?” tanyaku saat berpapasan. “Yah, beginilah Jeff. Maaf ya soal tadi pagi. Aku gak bermaksud menyerangmu,” kata Adi yang masih dikuasai penyesalan. “Udah gapapa , aku tahu pasti ada apa-apa di sana tadi. Aku ya maklumin kamu, ya...” kataku. “Mending lupain aja, Di” Sambung Gimbal. Ia pun berlalu dengan gandengan Gimbal. Para teman seregu menyambutnya. “Adi, kamu kenapa?” “Adi” “Adi, udah baikan?”. Adi pun hanya membalas pertanyaan dengan senyumnya. Aku pun hanya melongo melihatnya masuk ke tenda. Dan aku berjalan ke arah tenda, hendak menaruh sendok. “Ui, nih garpunya. Katanya kurang?” kata Eko padaku. “Punyamu?” kataku. “Aku bawa cadangan 1, sama Parto juga 1.” Balas Eko. “Okelah, sipp. Lengkap. Beres berarti soal peralatan makan,” kataku. “Jeff, si Adi memang ketempelan(setan) atau gimana? Kok gitu sih, kayaknya histeris,” tanya Eko. “Mungkin kali. Aku nemuin dia udah kayak anak kecil kehilangan orang tuanya. Aku aja tadi diserang pakai ranting,” kataku. “Ya, kamu ati-ati aja. Ibuku pernah cerita ke aku kalau setan bisa nular.” Katanya.
Aku pun berjalan memasuki tenda. Disitu terlihat Adi terbaring. Aku pun menaruh sendok yang berlebih, daripada garpu yang kekurangan. “Di, nanti aku boleh ikut lombanya?” tanyanya pelan. “Kamu istirahat aja kali, Di. Kalau dah baikan...” kata Gimbal. “Udah kok. Lagian aku juga laper” kata Adi memotong. “Boleh kalau kamu dah bisa” jawabku. “Semoga aja menang...” kata Adi. “Kalo kalah ya buat kamu semua sotonya.” Balas Gimbal. Adi pun tersenyum. “Aku tinggal ya, mau ke tempat masak. Bantuin bakar kayu bakarnya.
Aku pun masih sibuk membuka-buka tiap bagian tas ku. Ah, dimana sih buku itu? Buku cerita yang dikasih opung dulu. “Jeff...” kata Adi. “Kok kamu keliatan masih mikirin tadi siang? Udah, gapapa. Aku tahu kamu lagi emosi jadi kamu nyerang aku.” Kataku. “JEFF...!” kata Adi lebih lantang. Aku yang sedang membuka-buka pun berhenti, menatap dirinya. Matanya sekarang setengah melotot. “Kamu harus hati-hati!” katanya. “Emang kenapa sih Di?” balasku. “Hutan ini... HIDUP!” Katanya. “Apasih, Di? Udahlah, lupain aja. Lagipula kita harus berpikir yang bener,” Balasku. Ia pun ke arahku, menarik lengan bajuku. “Jeff! Kita harus bertindak. Kalau gak kita kena sial. Mereka akan datang, mem. "bawa hal buruk!” Katanya. “Apasih kamu, Di! Gak ada ‘mereka-mereka’. Kita harus percaya sama yang diatas, sama Tuhan,” balasku. Adi pun tersungkur di bawah. Aku pun meninggalkannya. Ia hanya dapat pasrah, menatapku yang pergi menjauhi dia, dan keluar dari tenda. Aku pun ragu akan perkataanku tentang yang kusebut “Mereka”. Aku hanya ingin membuatnya tenang.
Aku berusaha mengatur nafas, melupakan hal tadi. Aku ke belakang tenda. Tiba-tiba saja Amanda sudah datang. Dengan senyum kecut kujawab saja langsung sebelum ia bertanya, “Gak ada tuh. Aku lupa naruhnya kayaknya.” “Aihh... keselip kali. Kamu gak teliti nyari ya? Aku masih penasaran sama kelanjutan buku sebelumnya” kata Amanda. “Ya, gak tau. Mungkin aja. Ntar aku cari lagi, aku mau bantuin mereka,” kataku sambil menunjuk kelompokku dengan sorotan mataku. Di kejauhan, si Gimbal nyengir-nyengir padaku. Aku tahu, pasti! Dia menyangka bahwa si Jeffrey akan bertemu dengan pacarnya. “Yaudah ntar aku balik. Oh iya, kayaknya sotomu kurang kuning. Pasti aku yang menang.” Katanya menjauhiku. “Enak aja, tadi kunyitnya udah banyak. Ditambah senjata pamungkas!” kataku. Amanda hanya tersenyum, berjalan menjauhiku.
Aku pun berjalan ke arah reguku. Si Parto sedang menyiapkan kayu bakarnya. Si Gimbal tiba-tiba, “Cieeee...” katanya dengan senyuman yang membuatku bosan, walau kesan pertamanya, muak... Si Eko hanya geleng-geleng kepala. Aku pun duduk di sebelah Gimbal. “He he he... Eh, tadi gimana si Adi?” kata Gimbal. “Baik.” Jawabku singkat
Menjelang matahari terbenam, hari kedua
Para juri yang terdiri dari guru pun menyicipi satu per satu soto buatan masing-masing kelompok. Total ada 9, 4 kelompok putra dan 5 kelompok putri. Kelompok yang paling banyak akan mendapat jatah memakan porsi yang banyak(9 porsi), juara kedua 8 porsi dan seterusnya. Kami ditugaskan masing-masing kelompok membuat 5 porsi soto.
Adi pun hanya duduk di paling belakang dari barisan kelompok. Sesekali si Abi mengajaknya mengobrol. Aku yang dibelakang Parto, serius memperhatikan pengunguman guru.
“Jadi juara pertama, kelompok Anggrek!” Kata pak Ade
Wah, bener juga tuh kata si Manda. Kelompoknya menang. Amanda terlihat hanyut dalam kegirangan bersama teman kelompoknya yang lain.
“Dan juara kedua kita dapat dari kelompok pria, Kelompok kijang!”
Wah seneng banget, kita sekelompok girang tentunya. Adi hanya tersenyum sesekali, dan kembali menjadi diam. Jelas sekali masih tergambar ketakutan di dalam dirinya.
Pantai W, Pukul 18.00, hari kedua
Hari ini aku makan lumayan kenyang, kebagian 2 porsi, tapi aku kasih ke kelompok yang paling sedikit. Aku kasih si Rahfa, teman sekelas kelas 5 yang tergabung di kelompok itu. Kejadian tak mengenakan harus berulang, tapi kali ini didengar orang banyak.
“TOLONG, PERGI!” teriak suara itu. Suara yang berasal dari tendaku sendiri, suara si Adi. Sontak Gimbal langsung berlari ke arah sumber suara, secara spontan juga ku mengikutinya. “KUMOHON, JANGAN GANGGU!” tambah suara itu. “TOOLOONGG!!” Adi berteriak berulang kali. Aku pun ke tenda, membukanya. Mulai dari regu kami juga ikut ke arah tenda kelompok kami.
Kudapati Adi terpojok. Aku dan Gimbal yang pertama datang langsung menghampirinya. “Ada apa sih, Di?” Kata Gimbal. “Di, kamu harus tenang. Ada apa memang?” kataku. Adi pun tiba-tiba kaget. “Di, ini kami. Aku, Jeff!” “Di, sadar, Di!” lanjut Gimbal. Tergambar jelas bahwa ketakutan Adi semakin menjadi. Aku tahu mungkin teror kembali padanya di tenda ini, tadi.
“Kalian harus tahu, harus tahu!” katanya. “Tadi di sini, mereka...” kata Adi. Selanjutnya Parto yang masuk ke tenda kami. “Mereka datang meminta bayaran, aku takut. Akulah yang menjadi bayaran utamanya. Tolonglah!”
“Hal buruk akan datang ke kita semua! Kalian harus percaya” “Di, Demit(setan) itu gak ada, hanya ada dalam hati kita” tambah Parto. “Kamu kurang fit, Di. Istirahat saja. Kamu terbawa mimpi” sambung Abi.Ketakutan Adi semakin menjadi-jadi. Kami berusaha menenangkannya.
Beberapa saat kemudian, Eko keluar sebentar karena tenda yang mulai sesak.Pak Ade pun datang ke arah kami. “Ada apa memang?” tanya pak Ade pada Eko. “Itu pak... si Adi pak. Tapi sekarang udah terkendali.” Balas Eko. “Kalian harus baik-baik jaga teman kalian. Ia sepertinya masih terbawa suasana takut” kata Pak Ade pada anak-anak kelas 6 yang diluar itu.
Suasana berlangsung-langsung meleleh. Para teman-teman sudah pergi dari tenda ini. Udara panas pun berangsung hilang, bergantin menjadi udara dingin oleh angin pantai selatan. Rembulan bersinar tak terlalu terang malam itu, namun angin kencang membuat awan bergerak cepat. Satu per satu dari kami meninggalkan Adi, hanya tersisa si Gimbal dan Eko yang menemani Adi di tenda.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Urghh.. malam ini berat juga. Setelah menghadapi Adi yang mengalami gangguan, kini aku harus menyelesaikan tugas cuci piring. Aku mencuci piring di bilik kamar mandi. Selesainya, aku pun kembali ke arah tendaku. Masih terngiang di kepalaku ini omongan Adi tadi. Sepertinya melantur, tetapi dia mengatakan hal tersebut secara sadar. Mungkin benar ia melihat demit, namun demit tak akan melukai manusia. Menakuti, mengombang-ambing hati, masih mungkin.
Aku hanya menatap jalan di gumuk pasir ini, membawa mangkok, piring, sendok, dan kawan-kawannya. Aku menatap tenda itu.
Wooshh! Bola Api terbang dari hutan menuju tendaku. Aku termangu, melihat kejadian itu. Langkah kaki sempat berhenti di tengah jalan. Adi, jangan sampai kau benar bahwa hal buruk akan menimpa kita.

Bersambung...
Quote:
Hal itu terbang di atasku. Aku kini hanya bisa terdiam menatapnya,menghilang di kedalaman hutan. Kini si Gimbal sudah beranjak dari tempat ia duduk tadi saat mengajakku mengobrol. Aku hanya berdiri di padang rumput yang berpasir dengan membawa piring, terbengong-bengong akan kejadian tadi. Huff, aku narik nafas sebesar mungkin dan dihembuskan kembali. Kini aku teringat, bahwa aku harus mengambil bahan-bahan makanan untuk masak kembali.
Pukul 15.30, hari kedua
Hmmm... Ayam suwir, udah. Bumbu putih, udah. Sayurannya, udah. Bahan lainnya juga udah ditambahkan ke ramuan bernama “Soto Ayam” ini. Si Eko daritadi sepertinya meneliti satu per satu, dicek ulang, agar soto ini menjadi jawaranya. Berbekal pengetahuan dari dapur ibunya, sotonya ditambahkan ebi agar lebih lezat. Sementara hari ini menjadi bagianku menyiapkan peralatan makanan dan mencucinya. Saat ku mempersiapkan sendok, di kejauhan Adi dan Gimbal berjalan menuju tenda. Gimbal menggandeng Adi, yang pasti tak mengandung unsur yang ada romantis-romantisnya
. Sebagai teman yang baik, Gimbal bersedia mengantar Adi dari tenda palang merah menuju tendaku. Adi terlihat sudah lebih bugar, meski lesunya masih saja terlihat di raut mukanya.“Adi, gimana kamu?” tanyaku saat berpapasan. “Yah, beginilah Jeff. Maaf ya soal tadi pagi. Aku gak bermaksud menyerangmu,” kata Adi yang masih dikuasai penyesalan. “Udah gapapa , aku tahu pasti ada apa-apa di sana tadi. Aku ya maklumin kamu, ya...” kataku. “Mending lupain aja, Di” Sambung Gimbal. Ia pun berlalu dengan gandengan Gimbal. Para teman seregu menyambutnya. “Adi, kamu kenapa?” “Adi” “Adi, udah baikan?”. Adi pun hanya membalas pertanyaan dengan senyumnya. Aku pun hanya melongo melihatnya masuk ke tenda. Dan aku berjalan ke arah tenda, hendak menaruh sendok. “Ui, nih garpunya. Katanya kurang?” kata Eko padaku. “Punyamu?” kataku. “Aku bawa cadangan 1, sama Parto juga 1.” Balas Eko. “Okelah, sipp. Lengkap. Beres berarti soal peralatan makan,” kataku. “Jeff, si Adi memang ketempelan(setan) atau gimana? Kok gitu sih, kayaknya histeris,” tanya Eko. “Mungkin kali. Aku nemuin dia udah kayak anak kecil kehilangan orang tuanya. Aku aja tadi diserang pakai ranting,” kataku. “Ya, kamu ati-ati aja. Ibuku pernah cerita ke aku kalau setan bisa nular.” Katanya.
Aku pun berjalan memasuki tenda. Disitu terlihat Adi terbaring. Aku pun menaruh sendok yang berlebih, daripada garpu yang kekurangan. “Di, nanti aku boleh ikut lombanya?” tanyanya pelan. “Kamu istirahat aja kali, Di. Kalau dah baikan...” kata Gimbal. “Udah kok. Lagian aku juga laper” kata Adi memotong. “Boleh kalau kamu dah bisa” jawabku. “Semoga aja menang...” kata Adi. “Kalo kalah ya buat kamu semua sotonya.” Balas Gimbal. Adi pun tersenyum. “Aku tinggal ya, mau ke tempat masak. Bantuin bakar kayu bakarnya.
Aku pun masih sibuk membuka-buka tiap bagian tas ku. Ah, dimana sih buku itu? Buku cerita yang dikasih opung dulu. “Jeff...” kata Adi. “Kok kamu keliatan masih mikirin tadi siang? Udah, gapapa. Aku tahu kamu lagi emosi jadi kamu nyerang aku.” Kataku. “JEFF...!” kata Adi lebih lantang. Aku yang sedang membuka-buka pun berhenti, menatap dirinya. Matanya sekarang setengah melotot. “Kamu harus hati-hati!” katanya. “Emang kenapa sih Di?” balasku. “Hutan ini... HIDUP!” Katanya. “Apasih, Di? Udahlah, lupain aja. Lagipula kita harus berpikir yang bener,” Balasku. Ia pun ke arahku, menarik lengan bajuku. “Jeff! Kita harus bertindak. Kalau gak kita kena sial. Mereka akan datang, mem. "bawa hal buruk!” Katanya. “Apasih kamu, Di! Gak ada ‘mereka-mereka’. Kita harus percaya sama yang diatas, sama Tuhan,” balasku. Adi pun tersungkur di bawah. Aku pun meninggalkannya. Ia hanya dapat pasrah, menatapku yang pergi menjauhi dia, dan keluar dari tenda. Aku pun ragu akan perkataanku tentang yang kusebut “Mereka”. Aku hanya ingin membuatnya tenang.
Aku berusaha mengatur nafas, melupakan hal tadi. Aku ke belakang tenda. Tiba-tiba saja Amanda sudah datang. Dengan senyum kecut kujawab saja langsung sebelum ia bertanya, “Gak ada tuh. Aku lupa naruhnya kayaknya.” “Aihh... keselip kali. Kamu gak teliti nyari ya? Aku masih penasaran sama kelanjutan buku sebelumnya” kata Amanda. “Ya, gak tau. Mungkin aja. Ntar aku cari lagi, aku mau bantuin mereka,” kataku sambil menunjuk kelompokku dengan sorotan mataku. Di kejauhan, si Gimbal nyengir-nyengir padaku. Aku tahu, pasti! Dia menyangka bahwa si Jeffrey akan bertemu dengan pacarnya. “Yaudah ntar aku balik. Oh iya, kayaknya sotomu kurang kuning. Pasti aku yang menang.” Katanya menjauhiku. “Enak aja, tadi kunyitnya udah banyak. Ditambah senjata pamungkas!” kataku. Amanda hanya tersenyum, berjalan menjauhiku.
Aku pun berjalan ke arah reguku. Si Parto sedang menyiapkan kayu bakarnya. Si Gimbal tiba-tiba, “Cieeee...” katanya dengan senyuman yang membuatku bosan, walau kesan pertamanya, muak... Si Eko hanya geleng-geleng kepala. Aku pun duduk di sebelah Gimbal. “He he he... Eh, tadi gimana si Adi?” kata Gimbal. “Baik.” Jawabku singkat
Menjelang matahari terbenam, hari kedua
Para juri yang terdiri dari guru pun menyicipi satu per satu soto buatan masing-masing kelompok. Total ada 9, 4 kelompok putra dan 5 kelompok putri. Kelompok yang paling banyak akan mendapat jatah memakan porsi yang banyak(9 porsi), juara kedua 8 porsi dan seterusnya. Kami ditugaskan masing-masing kelompok membuat 5 porsi soto.
Adi pun hanya duduk di paling belakang dari barisan kelompok. Sesekali si Abi mengajaknya mengobrol. Aku yang dibelakang Parto, serius memperhatikan pengunguman guru.
“Jadi juara pertama, kelompok Anggrek!” Kata pak Ade
Wah, bener juga tuh kata si Manda. Kelompoknya menang. Amanda terlihat hanyut dalam kegirangan bersama teman kelompoknya yang lain.
“Dan juara kedua kita dapat dari kelompok pria, Kelompok kijang!”
Wah seneng banget, kita sekelompok girang tentunya. Adi hanya tersenyum sesekali, dan kembali menjadi diam. Jelas sekali masih tergambar ketakutan di dalam dirinya.
Pantai W, Pukul 18.00, hari kedua
Hari ini aku makan lumayan kenyang, kebagian 2 porsi, tapi aku kasih ke kelompok yang paling sedikit. Aku kasih si Rahfa, teman sekelas kelas 5 yang tergabung di kelompok itu. Kejadian tak mengenakan harus berulang, tapi kali ini didengar orang banyak.
“TOLONG, PERGI!” teriak suara itu. Suara yang berasal dari tendaku sendiri, suara si Adi. Sontak Gimbal langsung berlari ke arah sumber suara, secara spontan juga ku mengikutinya. “KUMOHON, JANGAN GANGGU!” tambah suara itu. “TOOLOONGG!!” Adi berteriak berulang kali. Aku pun ke tenda, membukanya. Mulai dari regu kami juga ikut ke arah tenda kelompok kami.
Kudapati Adi terpojok. Aku dan Gimbal yang pertama datang langsung menghampirinya. “Ada apa sih, Di?” Kata Gimbal. “Di, kamu harus tenang. Ada apa memang?” kataku. Adi pun tiba-tiba kaget. “Di, ini kami. Aku, Jeff!” “Di, sadar, Di!” lanjut Gimbal. Tergambar jelas bahwa ketakutan Adi semakin menjadi. Aku tahu mungkin teror kembali padanya di tenda ini, tadi.
“Kalian harus tahu, harus tahu!” katanya. “Tadi di sini, mereka...” kata Adi. Selanjutnya Parto yang masuk ke tenda kami. “Mereka datang meminta bayaran, aku takut. Akulah yang menjadi bayaran utamanya. Tolonglah!”
“Hal buruk akan datang ke kita semua! Kalian harus percaya” “Di, Demit(setan) itu gak ada, hanya ada dalam hati kita” tambah Parto. “Kamu kurang fit, Di. Istirahat saja. Kamu terbawa mimpi” sambung Abi.Ketakutan Adi semakin menjadi-jadi. Kami berusaha menenangkannya.
Beberapa saat kemudian, Eko keluar sebentar karena tenda yang mulai sesak.Pak Ade pun datang ke arah kami. “Ada apa memang?” tanya pak Ade pada Eko. “Itu pak... si Adi pak. Tapi sekarang udah terkendali.” Balas Eko. “Kalian harus baik-baik jaga teman kalian. Ia sepertinya masih terbawa suasana takut” kata Pak Ade pada anak-anak kelas 6 yang diluar itu.
Suasana berlangsung-langsung meleleh. Para teman-teman sudah pergi dari tenda ini. Udara panas pun berangsung hilang, bergantin menjadi udara dingin oleh angin pantai selatan. Rembulan bersinar tak terlalu terang malam itu, namun angin kencang membuat awan bergerak cepat. Satu per satu dari kami meninggalkan Adi, hanya tersisa si Gimbal dan Eko yang menemani Adi di tenda.
-----------------------------------------------------------------------------------------
Urghh.. malam ini berat juga. Setelah menghadapi Adi yang mengalami gangguan, kini aku harus menyelesaikan tugas cuci piring. Aku mencuci piring di bilik kamar mandi. Selesainya, aku pun kembali ke arah tendaku. Masih terngiang di kepalaku ini omongan Adi tadi. Sepertinya melantur, tetapi dia mengatakan hal tersebut secara sadar. Mungkin benar ia melihat demit, namun demit tak akan melukai manusia. Menakuti, mengombang-ambing hati, masih mungkin.
Aku hanya menatap jalan di gumuk pasir ini, membawa mangkok, piring, sendok, dan kawan-kawannya. Aku menatap tenda itu.
Wooshh! Bola Api terbang dari hutan menuju tendaku. Aku termangu, melihat kejadian itu. Langkah kaki sempat berhenti di tengah jalan. Adi, jangan sampai kau benar bahwa hal buruk akan menimpa kita.
Spoiler for Mulustrasi:

Bersambung...

axxis2sixx memberi reputasi
1
Kutip
Balas