- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#306
PART 41
Untungnya di anggota unit KKN gue ada yang mahasiswa kedokteran dan paham kesehatan. Dengan sigap Cassie memeriksa gue dan segera mendiagnosa kalo gue keracunan makanan. Tanpa berlama-lama, dengan barang bukti mie instan yang masih menjulur dari mulut gue, dia memerintahkan Yansa dan Luther untuk mencari buah kelapa untuk diambil airnya. Enggak lupa juga dia meminta Echa buat menyediakan air minum sebanyak yang dia bisa.
Setelah beberapa kali gue dipaksa untuk minum air kelapa, akhirnya gue muntah. Dalam keadaan lemas setelah muntah, Cassie memeriksa keadaan gue. Begitu dia sadar jika seluruh mie telah keluar, dia langsung menyuruh gue untuk minum air putih yang dibawakan Echa sebanyak-banyaknya. Dalam keadaan lemas akhirnya gue tertidur dalam pengawasan Cassie.
“Bang,” panggil Luther. “Yan?”
“Paan?” sahut Yansa.”
“Menurut lo baiknya gimana, ya?” tanya Luther memutar-mutar batu bata di tangannya.
“Ya posisi tengkurap lah,” jawab Yansa. “Masa iya diberdiriin.”
“Tengkurap? Apaanya?” kata Luther malah balik nanya.
“Ya batanya lah, apalagi emang?” tanya Yansa heran. “Lo ngomongin apa sih, Lut?”
“Si Dinda, Yan,” jelas Luther. “Si Dinda.”
“Oh…,” gumam gue dan Yansa bersamaan.
Gue enggak terlalu banyak bicara karena masih bener-bener kesal sama Luther. Meski dia jadi baik sama gue dan enggak terlalu nuntut gue buat bantuin masalah program kerjanya. Bahkan sampai membiarkan gue untuk bersantai sementara dia kerja, tapi tetep aja kenyataannya gue hampir mati diracun sama dia. Gila aja kalo gue ngerasa baik-baik aja setelah kelakuan dia.
Lagipula, gimana ceritanya dia bisa baru bilang kalo mie instan itu dibeliin nyokapnya waktu pertama kali merantau yang berarti tiga tahun yang lalu coba? Nyangka enggak lo?
Ya emang sih guenya juga yang teledor enggak menyadari kalo mie instan soto itu yang merek itu keluaran lama. Tapi tetep aja itu sepenuhnya salah Luther, kan? Gimana ceritanya dia menawarkan bahan makanan yang udah enggak bisa dimakan?!
“Lo masih marah sama gue, Bang?” tanya Luther lirih.
“Ya menurut lo,” jawab gue singkat.
“Maaflah, Bang,” kata Luther lagi. “Kan abang enggak sampai mati juga.”
“Lo pikir pernyataan barusan bisa merubah keadaan, gitu?” tanya gue dari balik kaca mata hitam.
“Ya paling enggak abang enggak sampai mati,” kata Luther mencurigakan.
“Maksud lo?” tanya gue mengorek arah pembicaraan kita.
“Ya abang cuma masak dua bungkus mie kadaluarsa jadi enggak keracunan banget sampai mati.”
“Keracunan sampai mati?” Gue lepas kaca mata hitam gue lalu menatap Luther tajam-tajam, “Jadi menurut lo kalo gue sampai makan tiga bungkus mie kadaluarsa itu gue bakalan keracunan sampai mati?!”
“Enggak ada orang yang makan mie instan sampai tiga bungkus, Bang!”
“Itu satu-satunya alasan enggak masuk akal yang bikin gue masih hidup?!”
“Setahu gue iya!” Luther melirik gue dengan hati-hati, “Enggak ada yang makan tiga bungkus! Enggak ada.”
“Fuck you, Luth!” Gue lempar batu bata ke arah samping Luther, “Fuck you!”
Setelah sekian menit gue diemin tapi Luther masih tetep ngotot buat minta maaf juga, gue jadi luluh. Pelan-pelan gue tanggapi permintaan maaf dia meski masih dengan kata-kata yang lumayan bete.
“Tembak enggak ya, Bang?”
“Kalo menurut gue sih tembak,” sahut Yansa.
“Alasannya?” tanya Luther lebih dalam.
“Ya karena lo suka dan pengin berhubungan lebih sama dia,” jelas Yansa. “Bukannya itu udah jelas?”
“Kalo ditolak?”
“Ya resiko kan Lut,” kata Yansa mengoleskan semen ke tembok. “Daripada lo gini-gini aja, galau mengharapkan kelanjutan kisah cinta lo tapi enggak maju-maju.”
“Bener kata Yansa, kalo menurut gue tembak aja,” setuju gue. “Mending sakit ditolak.”
“Kok mending sakit ditolak sih. Bang? Ya mending diterimalah.”
“Lo tuh enggak tau diri banget ya, Lut,” keluh Yansa. “Masih mending dia mau jawab.”
“Terakhir kali temen gue mendem perasaan kayak lo gini, dia kehilangan cewek yang dia suka,” jelas gue panjang lebar. “Dan yang gue lihat sendiri dari temen gue itu. Lebih mendingan sakit ditolak daripada sakit keduluan cewek itu jadian sama orang lain.”
“Orang lain?” Luther menyalakan rokok dan duduk di sebelah gue, “Ini kan soal gue sama Dinda doang, Bang. Ngapain bawa-bawa orang lain?”
“Dia itu single Lut,” tambah gue. “Jangan pernah mikir kalo yang pengin dapetin dia tuh cuma lo doang. Cewek yang lo suka enggak serendah itu. Yang ngantri buat dapetin hati dia tuh banyak.”
Baru selesai gue ngomong sama Luther, pak Maif keluar dari rumahnya. Dengan membawa ember dan cetok semen, dia menghampiri kita.
Sejujurnya gue enggak terlalu paham sama apa yang dia omongin. Tapi yang gue tangkap dari gerakan tubuh dia, kayaknya dia mau bantuin kita renovasi rumah dia.
Awalnya gue kira kerjaan kita bakalan cepat selesai karena pak Maif bakalan bantu kita. Tapi setelah dia batuk-batuk enggak jelas dan narik-narik baju Luther, gue baru sadar, dia dateng untuk menghambat pekerjaan kita.
Pak Maif bengek. Belum jadi dia bantuin kita, dia malah menarik-narik baju Yansa dan pada saat yang sama matanya berubah putih. Mirip kayak orang sakau dan sejenisnya, dia berusaha menggapai semua yang ada di sekitarnya.
“Y-Yan! I-itu dia kenapa?” tanya gue.
“M-mana gue tau, Bang!” kata Yansa mencoba menarik lepas bajunya dari cengkraman pak. “Sakit kali ini orang.”
“Kerasukan,” kata Luther merubah keadaan. “Dia kerasukan!”
“K-kerasukan?” tanya Yansa gemetaran. “L-lo yakin?”
“Yansa lo kan anak komunikasi,” seru gue megangin kepala pak Maif. “Buruan tanya mau dia apa! Kenapa dia ganggu kita!”
“Udah gila kali lo, Bang!” seru Yansa mendorong-dorong badan pak Maif. “Di kampus gue enggak diajarin cara ngomong sama setan!”
“Lo harusnya bisa berkomunikasi sama siapa aja, kan?!” kata gue menghindari air liur pak Maif yang muncrat-muncrat. “Dasar mahasiswa komunikasi yang enggak kompeten!”
“Ya iya emang gue wajib bisa berkomunikasi dengan siapa aja!” Yansa segera menjaga jarak setelah bajunya terlepas dari tangan pak Maif, “Tapi siapa aja dan apa saja itu beda bang! Gue bukan nabi yang dikasih mukjizat bisa ngomong sama binatang! Apalagi ngomong sama bapak-bapak yang kerasukan setan bengek gara-gara asmanya kambuh kayak pak Maif gini!”
Asma! Iya! Pak Maif lebih mirip kayak orang yang asmanya kambuh daripada orang kerasukan. Kemungkinan besar pak Maif cuma terserang asma!
“Luth!” seru gue memanggilnya untuk bertugas.
“I-iya, Bang?!”
“Panggil Cassie ke sini!” perintah gue. “Kita butuh medis!”
Setelah sekian menit gue dan Yansa menjaga jarak dari pak Maif yang terbaring di tanah menatap seram ke arah kita, akhirnya Luther datang bersama Cassie. Begitu gue cerita kejadian sebenarnya, dia langsung meminta kita buat cari inhaler di dalam rumah pak Maif.
Satu hirup, dua hirup, akhirnya pak Maif kembali normal lagi. Begitu pak Maif kelihatan lega, kita semua juga ikut merasa lega. Hampir aja gue masuk ke ranah pidana gara-gara dia.
“Ini orang emang kayaknya enggak cocok kerja sama makhluk hidup, Bang,” bisik Yansa.
Untungnya di anggota unit KKN gue ada yang mahasiswa kedokteran dan paham kesehatan. Dengan sigap Cassie memeriksa gue dan segera mendiagnosa kalo gue keracunan makanan. Tanpa berlama-lama, dengan barang bukti mie instan yang masih menjulur dari mulut gue, dia memerintahkan Yansa dan Luther untuk mencari buah kelapa untuk diambil airnya. Enggak lupa juga dia meminta Echa buat menyediakan air minum sebanyak yang dia bisa.
Setelah beberapa kali gue dipaksa untuk minum air kelapa, akhirnya gue muntah. Dalam keadaan lemas setelah muntah, Cassie memeriksa keadaan gue. Begitu dia sadar jika seluruh mie telah keluar, dia langsung menyuruh gue untuk minum air putih yang dibawakan Echa sebanyak-banyaknya. Dalam keadaan lemas akhirnya gue tertidur dalam pengawasan Cassie.
“Bang,” panggil Luther. “Yan?”
“Paan?” sahut Yansa.”
“Menurut lo baiknya gimana, ya?” tanya Luther memutar-mutar batu bata di tangannya.
“Ya posisi tengkurap lah,” jawab Yansa. “Masa iya diberdiriin.”
“Tengkurap? Apaanya?” kata Luther malah balik nanya.
“Ya batanya lah, apalagi emang?” tanya Yansa heran. “Lo ngomongin apa sih, Lut?”
“Si Dinda, Yan,” jelas Luther. “Si Dinda.”
“Oh…,” gumam gue dan Yansa bersamaan.
Gue enggak terlalu banyak bicara karena masih bener-bener kesal sama Luther. Meski dia jadi baik sama gue dan enggak terlalu nuntut gue buat bantuin masalah program kerjanya. Bahkan sampai membiarkan gue untuk bersantai sementara dia kerja, tapi tetep aja kenyataannya gue hampir mati diracun sama dia. Gila aja kalo gue ngerasa baik-baik aja setelah kelakuan dia.
Lagipula, gimana ceritanya dia bisa baru bilang kalo mie instan itu dibeliin nyokapnya waktu pertama kali merantau yang berarti tiga tahun yang lalu coba? Nyangka enggak lo?
Ya emang sih guenya juga yang teledor enggak menyadari kalo mie instan soto itu yang merek itu keluaran lama. Tapi tetep aja itu sepenuhnya salah Luther, kan? Gimana ceritanya dia menawarkan bahan makanan yang udah enggak bisa dimakan?!
“Lo masih marah sama gue, Bang?” tanya Luther lirih.
“Ya menurut lo,” jawab gue singkat.
“Maaflah, Bang,” kata Luther lagi. “Kan abang enggak sampai mati juga.”
“Lo pikir pernyataan barusan bisa merubah keadaan, gitu?” tanya gue dari balik kaca mata hitam.
“Ya paling enggak abang enggak sampai mati,” kata Luther mencurigakan.
“Maksud lo?” tanya gue mengorek arah pembicaraan kita.
“Ya abang cuma masak dua bungkus mie kadaluarsa jadi enggak keracunan banget sampai mati.”
“Keracunan sampai mati?” Gue lepas kaca mata hitam gue lalu menatap Luther tajam-tajam, “Jadi menurut lo kalo gue sampai makan tiga bungkus mie kadaluarsa itu gue bakalan keracunan sampai mati?!”
“Enggak ada orang yang makan mie instan sampai tiga bungkus, Bang!”
“Itu satu-satunya alasan enggak masuk akal yang bikin gue masih hidup?!”
“Setahu gue iya!” Luther melirik gue dengan hati-hati, “Enggak ada yang makan tiga bungkus! Enggak ada.”
“Fuck you, Luth!” Gue lempar batu bata ke arah samping Luther, “Fuck you!”
Setelah sekian menit gue diemin tapi Luther masih tetep ngotot buat minta maaf juga, gue jadi luluh. Pelan-pelan gue tanggapi permintaan maaf dia meski masih dengan kata-kata yang lumayan bete.
“Tembak enggak ya, Bang?”
“Kalo menurut gue sih tembak,” sahut Yansa.
“Alasannya?” tanya Luther lebih dalam.
“Ya karena lo suka dan pengin berhubungan lebih sama dia,” jelas Yansa. “Bukannya itu udah jelas?”
“Kalo ditolak?”
“Ya resiko kan Lut,” kata Yansa mengoleskan semen ke tembok. “Daripada lo gini-gini aja, galau mengharapkan kelanjutan kisah cinta lo tapi enggak maju-maju.”
“Bener kata Yansa, kalo menurut gue tembak aja,” setuju gue. “Mending sakit ditolak.”
“Kok mending sakit ditolak sih. Bang? Ya mending diterimalah.”
“Lo tuh enggak tau diri banget ya, Lut,” keluh Yansa. “Masih mending dia mau jawab.”
“Terakhir kali temen gue mendem perasaan kayak lo gini, dia kehilangan cewek yang dia suka,” jelas gue panjang lebar. “Dan yang gue lihat sendiri dari temen gue itu. Lebih mendingan sakit ditolak daripada sakit keduluan cewek itu jadian sama orang lain.”
“Orang lain?” Luther menyalakan rokok dan duduk di sebelah gue, “Ini kan soal gue sama Dinda doang, Bang. Ngapain bawa-bawa orang lain?”
“Dia itu single Lut,” tambah gue. “Jangan pernah mikir kalo yang pengin dapetin dia tuh cuma lo doang. Cewek yang lo suka enggak serendah itu. Yang ngantri buat dapetin hati dia tuh banyak.”
Baru selesai gue ngomong sama Luther, pak Maif keluar dari rumahnya. Dengan membawa ember dan cetok semen, dia menghampiri kita.
Sejujurnya gue enggak terlalu paham sama apa yang dia omongin. Tapi yang gue tangkap dari gerakan tubuh dia, kayaknya dia mau bantuin kita renovasi rumah dia.
Awalnya gue kira kerjaan kita bakalan cepat selesai karena pak Maif bakalan bantu kita. Tapi setelah dia batuk-batuk enggak jelas dan narik-narik baju Luther, gue baru sadar, dia dateng untuk menghambat pekerjaan kita.
Pak Maif bengek. Belum jadi dia bantuin kita, dia malah menarik-narik baju Yansa dan pada saat yang sama matanya berubah putih. Mirip kayak orang sakau dan sejenisnya, dia berusaha menggapai semua yang ada di sekitarnya.
“Y-Yan! I-itu dia kenapa?” tanya gue.
“M-mana gue tau, Bang!” kata Yansa mencoba menarik lepas bajunya dari cengkraman pak. “Sakit kali ini orang.”
“Kerasukan,” kata Luther merubah keadaan. “Dia kerasukan!”
“K-kerasukan?” tanya Yansa gemetaran. “L-lo yakin?”
“Yansa lo kan anak komunikasi,” seru gue megangin kepala pak Maif. “Buruan tanya mau dia apa! Kenapa dia ganggu kita!”
“Udah gila kali lo, Bang!” seru Yansa mendorong-dorong badan pak Maif. “Di kampus gue enggak diajarin cara ngomong sama setan!”
“Lo harusnya bisa berkomunikasi sama siapa aja, kan?!” kata gue menghindari air liur pak Maif yang muncrat-muncrat. “Dasar mahasiswa komunikasi yang enggak kompeten!”
“Ya iya emang gue wajib bisa berkomunikasi dengan siapa aja!” Yansa segera menjaga jarak setelah bajunya terlepas dari tangan pak Maif, “Tapi siapa aja dan apa saja itu beda bang! Gue bukan nabi yang dikasih mukjizat bisa ngomong sama binatang! Apalagi ngomong sama bapak-bapak yang kerasukan setan bengek gara-gara asmanya kambuh kayak pak Maif gini!”
Asma! Iya! Pak Maif lebih mirip kayak orang yang asmanya kambuh daripada orang kerasukan. Kemungkinan besar pak Maif cuma terserang asma!
“Luth!” seru gue memanggilnya untuk bertugas.
“I-iya, Bang?!”
“Panggil Cassie ke sini!” perintah gue. “Kita butuh medis!”
Setelah sekian menit gue dan Yansa menjaga jarak dari pak Maif yang terbaring di tanah menatap seram ke arah kita, akhirnya Luther datang bersama Cassie. Begitu gue cerita kejadian sebenarnya, dia langsung meminta kita buat cari inhaler di dalam rumah pak Maif.
Satu hirup, dua hirup, akhirnya pak Maif kembali normal lagi. Begitu pak Maif kelihatan lega, kita semua juga ikut merasa lega. Hampir aja gue masuk ke ranah pidana gara-gara dia.
“Ini orang emang kayaknya enggak cocok kerja sama makhluk hidup, Bang,” bisik Yansa.
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
