Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.9KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#287
PART 38

Hari ke-lima belas, seperti hari-hari sebelumnya, kegiatan KKN hari ini berjalan seperti biasa. Sementara gue, Luther dan Yansa masih mengerjakan program kerja individu Luther merenovasi rumah milik pak Maif, di waktu yang sama Dinda, Echa, Maya, dan Cassie sibuk memperbarui buku data agenda RW di rumah pak Pamudji. Gimana sama Melly dan Bull? Seperti yang dikatakan Bull semalam, mereka berdua pagi-pagi banget udah berangkat ke kelurahan.

Kalo mengingat-ingat kejadian semalam, rasanya nyesel banget. Harusnya gue bisa lebih jahat dikit sama Melly. Berdua di tempat gelap yang sepi, apalagi kalo itu bukan kode keras?! ARGH! DASAR IBLIS! KENAPA LO DATENGNYA ENGGAK SEMALEM AJA?!

“Bang,” panggil Luther berhenti mengaduk semen. “Gantian ngaduk semen, dong?”
“Baju gue beginian, Lut,” tolak gue. “Ntar kena semen rusak lagi.”
“Tengil lo, bang,” kata Luther. “Lagian mau jadi kuli bangunan malah pake baju gituan.”
“Lhah, kenapa jadi gue yang tengil? Ya kalo cuma nata bata pake flanel enggak masalah, kan?”
“Ayolah, Bang,” ibanya dengan keringat mulai mengucur. “Capek gue ngaduk semen panas-panas gini. Gantian kek yang dapet tempat ademnya.”
“Yaudah lo kerjain dulu,” kata gue melepas flanel. “Gue balik ganti baju dulu.”
“Makasih, Abang!” seru Luther kembali bersemangat. “Emang paling pengertian abang gue ini.”

Enggak ada kejadian seru ataupun mengesalkan hari ini. Anak-anak bermain seperti biasa karena Luther pemandu dugem mereka harus kerja. Permainan mereka? Mirip kayak baseball tapi dalam sekala kecil dan hanya menggunakan kayu sebagai pengganti bola. Bukan, maksud gue bukan bola yang terbuat dari kayu. Maksud gue sebatang kayu kecil yang diletakkan di tanah lalu di pukul ke arah atas depan. Gila aja kalo beneran pake bola dari kayu, kena kepala gue yakin langsung bocor itu kepala anak-anak.

Sampai di dekat rumah unit, gue lihat pintu depan terbuka. Gue mempercepat langkah kaki karena setau gue semua orang lagi keluar. Dengan sedikit berjinjit, gue langkahkan kaki ke dekat pintu depan.

Gue tau pasti kalo cewek-cewek di unit ini enggak ada yang teledor dan lupa menutup pintu. Kalo pun ada anak unit yang teledor, itu pasti Luther, tapi dia kan bukan orang terakhir yang meninggalkan rumah. Kalo emang ternyata bukan anak unit, pasti ada orang lain yang masuk tanpa ijin.

Awalnya gue berniat mengendap-endap, tapi begitu gue mendengar suara yang gue kenali, gue kembali berjalan biasa.

“Ah… gila, gue kirain siapa,” ucap gue lega. “Gue kira lo ikutan ke tempat pak Pamudji. Tadi gue lihat anak-anak pada ke sana, gue pikir lo ikutan terus rumahnya kosong gitu.”

Cassie enggak menjawab kalimat basa-basi gue. Dia hanya bersandar pada tembok ruang tengah sambil meringis kesakitan tapi enggak ada darah yang keluar dari tubuhnya. Menurut pengamatan gue, mungkin dia lagi datang bulan. Ya... sepaham gue sakitnya emang bikin seorang cewek kesakitan kayak gitu.

Gue berjalan ke arah kamar sambil melepas kaos dan celana gue. Setelah berganti celana pendek yang gue rasa sopan dan mengambil kaos bergambar Deadpool yang udah bolong-bolong karena bara rokok, gue tutup kembali pintu kamar. Sekilas gue lihat Cassie masih bersandar pada tempat yang sama.

“Lo gapapa kan, Cass?” tanya gue memakai kaos sambil berjalan ke arah dapur. “Lo enggak lupa bawa kiranti, kan?”

Si Echa masih belum masak apa, ya? Ini ada tempe tapi kok meragukan banget bentuknya. Kayaknya ini tempe boleh dikasih warga, deh. Tempenya Echa kan bentuk, bau, dan teksturnya enak banget, enggak lembek kayak gini.

“Ya gue enggak tau rasanya kalo lagi datang bulan, sih.” Gue gigit tempe itu lalu gue muntahin lagi, “Tapi setau gue, cewek gue biasanya pake itu.”

Begitu gue balik lagi ke ruang tengah, gue lihat si Cassie udah terbaring di lantai. Bukan di bagian lantai yang udah kita pasangi tikar dan biasa kita pake buat berkumpul, tapi benar-benar di lantai dan tanpa alas.

Sewaktu gue lihat lebih dekat, matanya tertutup. Masih kelihatan dengan jelas muka kesakitan yang tadi sempat gue lihat. Air mata yang bercampur keringat terlihat mengalir pelan di pipinya.

“Cass?” panggil gue memeriksa nafasnya. “Lo kenapa, Cass?”

Nafasnya masih ada, berarti dia gapapa. Tapi kenapa dia tiduran di lantai? Apa jangan-jangan dia collapse?

Gue segara mengangkat tubuh Cassie, lalu menggendongnya ke kamar cewek. Jujur aja gue enggak tau dia kenapa, tapi kalo ini semua gara-gara datang bulan, kayaknya ini datang bulan terparah yang pernah gue temui.

Tadinya gue mau ninggalin dia kamar sendirian karena si Luther udah nungguin gue. Tapi begitu gue kembali mendengar Cassie merintih dan mulai manggil-manggil nama Melly, gue jadi khawatir.

“Cass?” panggil gue pelan di dekat telinganya. “Lo kenapa?”
“Melly mana?” tanyanya pelan. “Aku harus gimana?”
“Harus gimana?” tanya gue. “Gimana apanya?”
“Aku harus gimana?!” serunya mulai histeris. “Melly mana?! Aku gimana?!”
“M-Melly kan ke kelurahan, Cass,” jawab gue menyeka keringatnya. “Lo kenapa?”
“AKU MAU MELLY!” teriaknya menggengam tangan gue erat-erat. “AKU MAU MELLY!”
“Ya mana bisa, Cass,” jawab gue mencoba menahan dia berontak. “Melly lagi di kelurahan.”

Cassie menatap gue tajam. Sepertinya dia enggak puas atas jawaban dari gue. Atau sepertinya dia enggak suka dipegang sama cowok. Atau mungkin, dia emang cuma enggak suka sama gue.

“B-bisa deh kalo g-gitu.”

Dengan sorot matanya yang masih tajam, dia memperhatikan sekelilingnya. Itu bener-bener serem banget. Cassie bener-bener jadi pribadi yang berbeda dari yang selama ini gue tau. Cassie yang selama ini gue kenal orangnya cuek tapi sekali ngomong pedes, tiba-tiba beubah agresif dan penuh dendam.

Tunggu. Apa mungkin ini yang dimaksud sama Melly semalam? Dia minta ke gue buat awasin si Cassie bukan karena dia posesif tapi karena semua ini?
Selama ini gue salah paham mengira kalo dia itu posesif tapi pada kenyataannya bukan kayak gitu. Melly minta gue mengawasi Cassie sebenernya karena kelakuan dia ini.

Perhatian gue sepenuhnya tertuju pada Cassie. Matanya yang kembali menatap gue, perlahan menutup. Air mata mulai mengalir keluar dari sudut matanya. Gue rasa dia mulai tenang.

“Aku mau Melly…,” ucap Cassie lirih dengan kepala tertunduk. “Melly ninggalin aku.”
“Melly cuma ke kelurahan sebentar, Cass,” kata gue mencoba menenangkan. “Kan di sini ada gue juga.”
“Dawi?” panggilnya. “Lo di sini buat gue?”
“Iya, gue di sini buat lo.”
pulaukapok
pulaukapok memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.