- Beranda
- Stories from the Heart
Patahan Salib Bidadari
...
TS
setiawanari
Patahan Salib Bidadari
In the name of Allah, the beneficient, the merciful
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Terimakasih untuk gambar sampulnya awayeye
Terimakasih Kaskus, khususnya untuk sub forum SFTH yang telah menyediakan tempat menampilkan sebuah cerita. Sebuah fasilitas yang akan saya gunakan untuk menulis dimulai dari hari ini hingga di hari-hari selanjutnya.
Terlepas dari nyata atau tidaknya cerita ini, adalah tidak terlalu penting karena sebagian dari kisah nyata dan sebagian dari imaginasi saya. Harapan saya tokoh-tokoh dalam cerita ini dapat menjadi inspirasi untuk para pembaca cerita yang saya tulis ini dapat menjadikan saya untuk terus berkreatifitas.
Mohon maaf jika materi dalam cerita ini nantinya ada kesalahan dan menyinggung pihak-pihak tertentu sekiranya nasihat, kritik dan saran dari agan/sista yang lebih berpengalaman selalu sangat saya harapkan.
Menemani istirahat untuk menghilangkan lelah setelah pulang kerja/sekolah/kuliah, atau saat sedang menunggu sesuatu mari kita baca ceritanya. Ditemani alunan musik dan segelas kopi/cokelat/susu/teh hangat kita kembali ke beberapa tahun yang lalu!!!.
PEMBUKA CERITA
Terpaku di dalam rasa cinta yang tak mungkin pudar, menanti cinta datang membawa arti sampai segenap organ ini berhenti.
Sore itu saat cuaca cerah di lantai 6 gedung akademisi yang melahirkan sarjana ekonomi terbaik aku termenung. Melamunkan manis, asam, asin dan pahitnya segala kehendak Tuhan yang dianugerahkan kepada salah satu ciptaanNya.
Manusia diberikan otak untuk berfikir dan menggunakan logika lalu diberikan hati untuk merasakan. Hati adalah malaikat sedangkan otak kadang menjadi iblis dan sangat sulit untuk mengontrolnya menjadi malaikat. Hati menjerit saat kita berbuat salah sedangkan otak adalah penyebab semua kesalahan yang dilakukan manusia. Malaikat dan iblis adalah gambaran dari manusia, sebagai simbol antara kebaikan dan kejahatan. Kebaikan tidak akan bersanding dengan kejahatan dan sebaliknya.
“Permisi Mas! Bisa pindah duduknya, lantainya mau di bersihkan!” Sapa seorang petugas cleaning service membuyarkan lamunanku.
“Oh, iya mas”. Jawabku sambil berlalu pergi menuju tempat parkir motor tepatnya dihalaman depan kampus.
Karamnya cinta ini
Tenggelamkanku diduka yang terdalam
Hampa hati terasa
Kau tinggalkanku meski ku tak rela
Salahkah diriku hingga saat ini
Kumasih mengharap
Kau tuk kembali………
Sore itu gerimis turun saat aku pulang, tak terasa sampai ditempat kos yang kebetulan hanya berjarak 10 menit dari kampus air hujan membasahi jaket jeans yang ku kenakan. Segera aku mengambil handuk dan membersihkan diri, bersiap untuk mengucapkan syukur kepada Yang Maha Kuasa. Dengan ritual sholat Ashar aku merasakan kedamaian yang tidak ada bandingannya, sebagai bentuk kepatuhan dan rasa syukur atas semua yang diberikan Tuhan baik itu berkah yang membuat hati senang maupun musibah sebagai ujian kepada hambanya agar menjadi sosok yang lebih kuat.
Waktunya istirahat, kurebahkan badan ini di kasur busa sebagai surga dunia yang paling indah, sambil memutar lagu menemaniku melepas lelah. Secangkir kopi hitam telah kusiapkan untuk menghangatkan suasana karena diluar hujan turun semakin deras. Kupandangi sebuah kalung berwarna emas berliontin salib yang bersanding dengan sebuah kalung perak berliontin lafaz Allah, tergantung dibawah poster foto Ibu Sundari Sukotjo tepat di tengah-tengah dinding kamar kosku. Masih menampakkan kilaunya meski kalung-kalung itu sudah hampir 4 tahun lamanya. Aku bangkit dari tempat tidur, meminum sedikit kopi hitam, sambil menarik nafas dalam sedalam yang aku mampu. Tiba-tiba aku merasakan sesuatu di sore ini, ya aku merasakan suatu kerinduan yang luar biasa dengan pemilik kalung salib yang tergantung dikamarku, seorang yang sangat suka musik klasik, seseorang pecinta sepakbola, seseorang yang suka kopi hitam dan mungkin pernah mencintaiku walaupun tak pernah mengungkapkan sepatah katapun.
“Ya Tuhan hari ini aku kangen banget sama dia, meski tak sebesar kangen ku kepadaMu, tapi sungguh seolah-olah aku merasa sangat lemah dan sangat kehilangan. Hari ini tepat 4 bulan yang lalu dia beranjak pergi dari tempat ini, dia pergi untuk cita-citanya, untuk impiannya dan bodohnya aku belum sempat mengutarakan seluruh perasaanku kepadanya. Perbedaan keyakinanlah yang menghalangi, aku bahkan hanya bisa diam membisu saat ku ingin mengucapkan seluruh rasa cinta ini aku takut rasa cinta kepada makhluk ciptaanMu melebihi rasa cintaku padaMu. Tak kuasa air mata ini menetes, berusaha ku tahan tapi tak sanggup karena mungkin ini air mata rindu yang mencapai puncaknya.
Aku bukan seorang penulis tetapi hari ini tiba-tiba ingin sekali aku ingin sekali memainkan jariku di keyboard yang biasanya hanya kupakai untuk membuat tugas. Aku ingin menulis tentang dirimu tentang cerita kita, walaupun mungkin tidak berujung bahagia tidak apa karena mungkin dengan tulisan ini aku bisa mencurahkan segala isi hati dan kerinduanku kepada mu. Kenangan indah tentang hari-hari yang pernah kulalui dengan seorang bidadari yang telah merubah seluruh hidupku, meski meninggalkan perasaan yang terus menggantung entah sampai kapan. Bidadari yang datang di hidupku, menemaniku sejenak lalu pergi meninggalkan patahan salibnya di hidupku.
Mungkin suatu saat nanti
Kau temukan bahagia meski tak bersamaku
Bila nanti kau tak kembali
Kenanglah aku sepanjang hidupmu
Sekilas Gambar Tentang Aku
Harapan Sesuai dengan Kenyataan
Kerikil Kecil dan Awan yang Jauh
Pertemuan dengan Sahabat
Sepatu Mengawali Sebuah Impian
Dunia Kampus dan Teman Baru
Keluarga Kecil Bernama HALTE
Sesuatu Mengganggu Pesta Akhir Smester
Diantara Rasa Kagum dan Penasaran
Meluapnya Sebuah Emosi
Hubungan yang Semakin Dekat
Kegelisahan Menghadapi Perasaan yang Berbeda
Siang Menjadi Malam dan Sebaliknya
Perjalanan yang Semakin Indah
Momen Menggelikan dan Warna Kehidupan
Dilema Menghadapi Ungkapan Perasaan
Tetangga di Sekitar Kami
Liontin Salib untuk Leher yang Indah
Kepedihan Cerita di Masa Lalu
Senyuman untuk Hati yang Terluka
Sosok yang Menjadi Pertanyaan
Mencoba Menghilangkan Trauma
Pelangi yang Hilang Bersama Turunnya Hujan
Malam Kebahagiaan Bersama Keluarga Kecil
Bidadari Kecil Kini Telah Dewasa
Kebahagiaan Kini Tinggal Prasasti
Semua Terjadi Sangat Cepat
Sebuah Cinta yang Salah
Surga yang Tak Layak untuk Dilihat
Rumput Dingin Di Bawah Bangku Taman
Pahitnya Sebuah Ucapan
Air Mata Menepis Kerasnya Kata-kata
Satu Langkah ke Arah Normal
Bertahan Hanya dalam Waktu Singkat
Semakin Tenggelam dalam Kedekatan
Lilin Kecil di Malam Penuh Kebahagiaan
Selamat Datang Kemarau
Kerinduan yang Teramat Dalam
Hembusan Angin Masa Lalu
Sayap yang Kuat Untuk Bidadari Kecil
Tinta Biru Menorehkan Luka
Berusaha Menyembunyikan Luka
Hilangnya Rasa Segan
Keberhasilan Tanpa Perayaan
Berharap Hanya Andai Saja
Serpihan Kenangan yang Menyiksa
Tempat Baru
Berita Baik Bersama Undangan
Selamat Menempuh Hidup Baru
Kesan yang Baik di Hari Pertama
Insiden Kecil dan Masa yang Telah Terlewati
Menutup Momen 4 Tahun Kebersamaan
Kotak Makan Siang
Keberanian Untuk Memulai
Pahitnya Sambutan Selamat Datang
Seperti Kembali ke Waktu Itu
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Cerita di Ujung Sore
Peneduh Panasnya Amarah
Mengungungkapkan tak Semudah Membayangkan
Titik Terang yang Terasa Gelap
Patahan Salib Bidadari
Terimakasih Untuk Masa yang Terlewati
Apa yang Sebenarnya Terjadi
Kembali Terjatuh
Dunia Ciptakan Keindahan
Dan Kebahagiaan [TAMAT]
Kata Penutup (Q&A)
Diubah oleh setiawanari 10-07-2018 17:35
nona212 dan calebs12 memberi reputasi
3
111.2K
608
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
setiawanari
#436
Teka Teki dari Perhatian Sederhana
Titik-titik air hujan menempel di jendela menemaniku memulai aktivitas di depan komputer. Segelas kopi hitam menghangatkan tubuh yang sedikit basah karena air meresap melewati celah-celah jahitan jas hujan. Senyumya menyambut kedatanganku membuat lupa jika hari ini adalah Senin pagi. Sebuah hari saat kemalasan untuk beraktivitas karena Sabtu masih terasa jauh.
Seperti hari yang lalu selain mengerjakan tugas arahannya, waktu istirahat pun aku bersamanya menikmati makan siang. Kebaikan sebagai bentuk perhatian sederhana yang sampai kini aku belum tahu maksud dan tujuannya. Yang jelas aku menikmati dan benih-benih perasaan suka semakin lama tumbuh semakin meninggi. Kadang kala aku membalasnya dengan membawakan sesuatu yang bisa aku berikan.
" Enak gak Wan?" Kata Mbak Widia menikmati makan siang hari ini.
" Enak Mbak, mana ada makanan gratisan gini dibilang gak enak." Jawabku.
" Itu kan promosi tar kalau aku udah buka usaha ketering wajib bayar, hahahaha."
" Iya, tar saya jadi langganan dah asalkan sering dapet promo kaya gini. Eh Mbak cowok yang ketemu di bar kemarin siapa ya?"
" Oooh itu, aku juga gak tau mungkin tiap malam Minggu ada kali dia, beberapa kali aku ketemu tapi baru kemarin dia berani kurang ajar, jadi malas aku main ke club itu lagi."
" Betul Mbak, lebih baik jangan main ke club malem lagi Mbak, tar ada yang nyulik Mbak Wid gimana?"
" Hahahaha, yaelah Wan gak mungkin lah lagian sesekali doang gak masalah kok. Dan kemarin udah kelar urusanmu sama cowok gak jelas itu?"
" Udah Mbak, yaaah cuma bilangin aja gak usah macem-macem gitu, eh dia paham yaudah clear masalahnya."
" Haaa semudah itu?"
" Iya, lagian gak rela saya kalau sampai pacar eh maksudnya atasan saya diganggu orang?" Kataku membuat wajah Mbak Widia sedikit memerah.
" Oooh gitu ya? Makasih..... Hehehehe. Tapi kemarin kau berani nyuri kesempatan rangkul-rangkul atasanmu ya! berani-berani kamu panggil-panggil sayang?"
" Aaah gak kok Mbak, itu mungkin improvisasi aja, reflek gitulah jadi ya maaf Mbak."
" Reflek-reflek alasanmu aja, sekarang mau rangkul aku lagi?" Kata Mbak Widia menggeser bangkunya dan menatap ke arahku.
" Oooh emang boleh Mbak? Kalau diizinkan kenapa saya tolak?"
" Hahahahahaha enak aja, yaudah aku masuk dulu, oh iya ada tugas buat kamu Wan. Nanti kita bicarakan lagi."
" Iya Mbak siap." Jawabku sedikit kecewa karena gagal mendaratkan lengan ini atas pinggangnya.
Wajah terasa segar dengan sisa basuhan air wudu saat aku memasuki jam setelah istirahat. Kembali tangan ini sibuk mengolah data-data yang semakin banyak menjelang akhir tahun.
" Oh iya Arif, Nita, Awan ikut saya ke ruang meeting ada yang ingin disampaikan Pak Gunadi." Kata Mbak Widia satu jam sebelum jam pulang kantor.
Kami pun beranjak menuju ruang meeting setelah sebelumnya membereskan berkas dan komputer.
" Meeting apaan ya Nit?" Kataku sesaat duduk di kursi.
" Gak tau, Arif noh yang ngerti." Jawab Nita.
" Ya Paling Lo mau di pecat Wan, soalnya hubungan Lo sama Mbak Widia udah terlalu deket." Jawab Arif.
" Yaelah Lo ma suka begitu melihat kebahagiaan orang lain!"
" Lagian nanya gw, mana gw tau meeting apaan orang gak ada agendanya, hahahaha."
" Kirain lau tau, kan Lo yang paling senior disini." Kataku terhenti saat Mbak Widia bersama Pak Gunadi memasuki ruangan.
" Selamat Sore semuanya." Kata Pak Gun Memulai meeting.
" Selamat Sore Pak." Jawab kami serempak.
" Untuk mempercepat waktu, langsung saja saya sampaikan tujuan meeting hari ini. Bulan ini adalah bulan tutup tahun dan akan masuk ke tahun 2013. Tahun dimana bisnis telah banyak terjadi perubahan. Perusahaan yang kita tempati sekarang pastinya akan mengikuti perubahan agar mampu bertahan dan terus berkembang. Perubahan besar yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang adalah mengenai teknologi informasi. Dunia bisnis akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Selanjutnya berdasarkan persetujuan antara direksi dan pemegang saham perusahaan ini akan melakukan kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi sekaligus perusahaan tersebut bergerak di bidang ekspedisi. Joint venture tersebut diharapkan mampu mempercepat proses operasional perusahaan dan meminimalisir pengeluaran perusahaan. Sehubungan dengan adanya rencana tersebut pasti akan berakibat dengan jobdesk kalian. Dipastikan akan ada banyak perubahan di bagian Sumber Daya Manusia dari semua aspek. Untuk itu kalian diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat, agar di 3 bulan awal tahun 2013 divisi SDM mampu bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Sebagai gambaran saya akan jelaskan sedikit garis besar mengenai perubahan jobdesk kalian nantinya." Kata Pak Gun mulai menampilkan power poin yang membuatku mungkin sudah tertidur andaikata sebelah kananku tidak ada Mbak Widia dengan rok yang sedikit terangkat.
"Nanti draft lengkapnya akan saya bagikan jadi bisa kalian pelajari lebih lanjut. Kemudian hari Jumat nanti kamu, Widia saya tugaskan untuk menghadiri rapat dengan perwakilan dari perusahaan yang akan JV dengan perusahaan ini. Selanjutnya untuk acara gathering perusahaan akhir tahun akan di adakan di Bandung, untuk waktu, dan materi acara akan di kabari lebih lanjut melalui email. Mungkin itu saja ada yang ingin di tanyakan?"
" Ada Pak, untuk nanti rapat dengan perwakilan perusahaan baru apakah saya sendiri atau dengan Bapak?" Tanya Mbak Widia.
" Oooh itu cukup kamu saja, nanti kamu bisa ajak staff kamu satu agar bisa membantu."
" Baik, Pak." Jawab Mbak Widia.
" Kalau sudah tidak ada pertanyaan kita akhiri meeting hari ini, selamat sore." Kata Pak menutup pembicaraan lalu meninggalkan ruangan disusul Mbak Widia.
" Nita, Arif kalian bisa langsung pulang, Awan nanti kamu tunggu saya ya, ada yang mau saya sampaikan." Kata Mbak Widia sebelum beranjak.
" Tu kan, pasti Lo lagi Wan. Enak ya anak baru udah jadi kesayangan, hahahahahaha." Kata Arif berdiri meninggalkan ruangan.
" Kesayangan apaan waktunya pulang malah suruh nunggu." Gerutuku.
" Yaudah, siapa tau Lo mau diangkat karyawan tetap Wan." Ledek Nita.
" Amiiiin, Nit." Jawabku.
Nita dan Arif meninggalkanku di ruang rapat tidak lama kemudian Mbak Widia kembali masuk ke menemuiku.
" Lho kok masih disini kamu Wan?"
" Katanya tadi suruh nunggu kan Mbak?"
" Hahahaha, maksudnya nunggu di ruang kerja. Yaudah kalau gitu sekalian disini aja. Wan nanti hari Jumat kamu temenin aku rapat dengan perwakilan perusahaan merger."
" Baik Mbak, tapi hmmm kok saya ya Mbak? Bukannya saya orang baru?"
" Ya gak masalah, soalnya aku lihat kamu yang paling layak, kamu cepat belajar dan presentasi kamu juga bagus dibanding Nita dan Arif. Jadi akan lebih mudah jika nanti kamu yang menyampaikan ke mereka."
" Oh baik Mbak kalau begitu."
" Kamu mau langsung pulang?"
" Rencananya sih gitu Mbak, atau Mbak Wid mau bareng?"
" Oooh gak usah, aku bawa kendaraan kok."
" Yaudah saya duluan ya Mbak." Kataku meninggalkan ruangan.
Tiba di tempat parkir ternyata Arif masih menungguku dengan kepulan asap rokoknya. Berbincang sebentar lalu kami berpisah pulang ke tujuan masing-masing.
" Tahun lalu saat gerimis seperti ini kita sering menikmati kopi panas, sekarang kamu dimana? Bahkan aku sampai saat ini aku belum tau keberadaanmu. Mudah-mudahan kau datang dalam keadaan baik, Nin." Batinku menikmati kopi panas diantara gemricik air hujan duduk di kursi teras tempat kos.
Sesekali jari-jari ini mengetik nama yang mungkin dijadikan nama akun media sosial seseorang yang dulu pernah menemaniku menikmati suasana seperti malam ini.
" Ngopi terus, item nanti usus kamu mas." Kata Indri duduk di sampingku.
" Iiih nyempil-nyempil aja sebelah kanan kan kosong." Jawabku.
" Yaudah Mas Awan geser dong, Indri mau disini."
" Huuufh dasar anak nyebelin." Kataku menggeser duduk sambil mencubit hidung adikku yang nampak lebih kecil dibandingkan hidungku.
" Mas Awan, aku boleh sambil kerja gak Mas nanti masuk semester 2? Kan jadwalnya fleksibel gitu Mas, kita yang nentuin." Kata Indri menatapku dengan tatapan yang selalu sama saat meminta sesuatu membuatku tak sekalipun sanggup untuk menolaknya.
" Ya gakpapa, tapi emang uang jajan yang mas kasih kurang?"
" Cukup lah Mas, malah lebih kok lagipula setiap gajian kan uang kamu kasih ke aku semua. Tapi Indri pengen kerja aja Mas sambil cari pengalaman gitu."
" Ya kalau itu mau kamu gak masalah asalkan gak ganggu kuliah kamu."
" Aku usahain atur jadwal sebaik mungkin yaudah aku masuk dulu ya Mas." Kata Indri kembali kedalam kosan.
Kopi tinggal setengah gelas, malam semakin larut dengan suhu yang terasa panas pertanda akan turun hujan. Melintas pelan motor Kaw*saki N*nja dengan pasangan muda diatasnya. Pengendara itu menggeber mesin beberapa kali saat melintas di depan tempat kosku. Wajahnya tertutup helm fulface namun aku mengenali wanita yang membonceng di jok belakang.
" Nilla? Sama siapa dia, ngapain main geber-geber seenaknya!" Batinku sedikit kesal.
Aku menunggu motor itu kembali melintas dengan rasa penasaran. Hingga setengah jam berlalu akhirnya motor itu melewati depan gerbang tempat kosku. Namun kali ini tanpa membonceng seorangpun. Sejenak dia berhenti menatapku sambil beberapa kali menarik gas motornya yang tertahan tarikan kopling dan akhirnya kembali berjalan meninggalkan komplek.
" Ternyata ada yang mau cari gara-gara." Batinku sejenak lalu di kagetkan dengan dering hp.
" Hallo, selamat malam." Suara lelaki di telepon itu.
" Malam, pak."
" Dengan Mas Awan?"
" Iya saya sendiri."
" Saya Muklis Mas, penjaga parkir UN* yang waktu itu mendapat laporan dari Mas Awan mengenai perusakan motor."
" Oh iya pak, jadi gimana hasil rekamannya? Udah bisa dilihat Pak?"
" Udah Mas pelakunya dipastikan mahasiswa sini, kapan Mas bisa kesini untuk melakukan tindak lanjutnya?"
" Mungkin Sabtu Mas pas saya libur."
" Baik Mas kalau begitu saya tunggu kedatangannya."
" Oke mas terimakasih atas bantuannya."
" Sama-sama Mas, selamat malam." Kata pak Muklis menutup pembicaraan.
Aku kembali masuk ke dalam, merebahkan raga disamping Indri yang masih sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.
" Belum selesai Ndri?" Kataku saat kepala menyentuh empuknya bantal.
" Bentar lagi Mas, Mas tidur aja nanti Indri yang kunci pintunya." Jawab Indri sesaat sebelum aku terlelap.
terlelap.
Seperti hari yang lalu selain mengerjakan tugas arahannya, waktu istirahat pun aku bersamanya menikmati makan siang. Kebaikan sebagai bentuk perhatian sederhana yang sampai kini aku belum tahu maksud dan tujuannya. Yang jelas aku menikmati dan benih-benih perasaan suka semakin lama tumbuh semakin meninggi. Kadang kala aku membalasnya dengan membawakan sesuatu yang bisa aku berikan.
" Enak gak Wan?" Kata Mbak Widia menikmati makan siang hari ini.
" Enak Mbak, mana ada makanan gratisan gini dibilang gak enak." Jawabku.
" Itu kan promosi tar kalau aku udah buka usaha ketering wajib bayar, hahahaha."
" Iya, tar saya jadi langganan dah asalkan sering dapet promo kaya gini. Eh Mbak cowok yang ketemu di bar kemarin siapa ya?"
" Oooh itu, aku juga gak tau mungkin tiap malam Minggu ada kali dia, beberapa kali aku ketemu tapi baru kemarin dia berani kurang ajar, jadi malas aku main ke club itu lagi."
" Betul Mbak, lebih baik jangan main ke club malem lagi Mbak, tar ada yang nyulik Mbak Wid gimana?"
" Hahahaha, yaelah Wan gak mungkin lah lagian sesekali doang gak masalah kok. Dan kemarin udah kelar urusanmu sama cowok gak jelas itu?"
" Udah Mbak, yaaah cuma bilangin aja gak usah macem-macem gitu, eh dia paham yaudah clear masalahnya."
" Haaa semudah itu?"
" Iya, lagian gak rela saya kalau sampai pacar eh maksudnya atasan saya diganggu orang?" Kataku membuat wajah Mbak Widia sedikit memerah.
" Oooh gitu ya? Makasih..... Hehehehe. Tapi kemarin kau berani nyuri kesempatan rangkul-rangkul atasanmu ya! berani-berani kamu panggil-panggil sayang?"
" Aaah gak kok Mbak, itu mungkin improvisasi aja, reflek gitulah jadi ya maaf Mbak."
" Reflek-reflek alasanmu aja, sekarang mau rangkul aku lagi?" Kata Mbak Widia menggeser bangkunya dan menatap ke arahku.
" Oooh emang boleh Mbak? Kalau diizinkan kenapa saya tolak?"
" Hahahahahaha enak aja, yaudah aku masuk dulu, oh iya ada tugas buat kamu Wan. Nanti kita bicarakan lagi."
" Iya Mbak siap." Jawabku sedikit kecewa karena gagal mendaratkan lengan ini atas pinggangnya.
Wajah terasa segar dengan sisa basuhan air wudu saat aku memasuki jam setelah istirahat. Kembali tangan ini sibuk mengolah data-data yang semakin banyak menjelang akhir tahun.
" Oh iya Arif, Nita, Awan ikut saya ke ruang meeting ada yang ingin disampaikan Pak Gunadi." Kata Mbak Widia satu jam sebelum jam pulang kantor.
Kami pun beranjak menuju ruang meeting setelah sebelumnya membereskan berkas dan komputer.
" Meeting apaan ya Nit?" Kataku sesaat duduk di kursi.
" Gak tau, Arif noh yang ngerti." Jawab Nita.
" Ya Paling Lo mau di pecat Wan, soalnya hubungan Lo sama Mbak Widia udah terlalu deket." Jawab Arif.
" Yaelah Lo ma suka begitu melihat kebahagiaan orang lain!"
" Lagian nanya gw, mana gw tau meeting apaan orang gak ada agendanya, hahahaha."
" Kirain lau tau, kan Lo yang paling senior disini." Kataku terhenti saat Mbak Widia bersama Pak Gunadi memasuki ruangan.
" Selamat Sore semuanya." Kata Pak Gun Memulai meeting.
" Selamat Sore Pak." Jawab kami serempak.
" Untuk mempercepat waktu, langsung saja saya sampaikan tujuan meeting hari ini. Bulan ini adalah bulan tutup tahun dan akan masuk ke tahun 2013. Tahun dimana bisnis telah banyak terjadi perubahan. Perusahaan yang kita tempati sekarang pastinya akan mengikuti perubahan agar mampu bertahan dan terus berkembang. Perubahan besar yang akan terjadi di tahun-tahun mendatang adalah mengenai teknologi informasi. Dunia bisnis akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi informasi. Selanjutnya berdasarkan persetujuan antara direksi dan pemegang saham perusahaan ini akan melakukan kerjasama dengan perusahaan telekomunikasi sekaligus perusahaan tersebut bergerak di bidang ekspedisi. Joint venture tersebut diharapkan mampu mempercepat proses operasional perusahaan dan meminimalisir pengeluaran perusahaan. Sehubungan dengan adanya rencana tersebut pasti akan berakibat dengan jobdesk kalian. Dipastikan akan ada banyak perubahan di bagian Sumber Daya Manusia dari semua aspek. Untuk itu kalian diharapkan mampu beradaptasi dengan cepat, agar di 3 bulan awal tahun 2013 divisi SDM mampu bekerja sesuai dengan harapan perusahaan. Sebagai gambaran saya akan jelaskan sedikit garis besar mengenai perubahan jobdesk kalian nantinya." Kata Pak Gun mulai menampilkan power poin yang membuatku mungkin sudah tertidur andaikata sebelah kananku tidak ada Mbak Widia dengan rok yang sedikit terangkat.
"Nanti draft lengkapnya akan saya bagikan jadi bisa kalian pelajari lebih lanjut. Kemudian hari Jumat nanti kamu, Widia saya tugaskan untuk menghadiri rapat dengan perwakilan dari perusahaan yang akan JV dengan perusahaan ini. Selanjutnya untuk acara gathering perusahaan akhir tahun akan di adakan di Bandung, untuk waktu, dan materi acara akan di kabari lebih lanjut melalui email. Mungkin itu saja ada yang ingin di tanyakan?"
" Ada Pak, untuk nanti rapat dengan perwakilan perusahaan baru apakah saya sendiri atau dengan Bapak?" Tanya Mbak Widia.
" Oooh itu cukup kamu saja, nanti kamu bisa ajak staff kamu satu agar bisa membantu."
" Baik, Pak." Jawab Mbak Widia.
" Kalau sudah tidak ada pertanyaan kita akhiri meeting hari ini, selamat sore." Kata Pak menutup pembicaraan lalu meninggalkan ruangan disusul Mbak Widia.
" Nita, Arif kalian bisa langsung pulang, Awan nanti kamu tunggu saya ya, ada yang mau saya sampaikan." Kata Mbak Widia sebelum beranjak.
" Tu kan, pasti Lo lagi Wan. Enak ya anak baru udah jadi kesayangan, hahahahahaha." Kata Arif berdiri meninggalkan ruangan.
" Kesayangan apaan waktunya pulang malah suruh nunggu." Gerutuku.
" Yaudah, siapa tau Lo mau diangkat karyawan tetap Wan." Ledek Nita.
" Amiiiin, Nit." Jawabku.
Nita dan Arif meninggalkanku di ruang rapat tidak lama kemudian Mbak Widia kembali masuk ke menemuiku.
" Lho kok masih disini kamu Wan?"
" Katanya tadi suruh nunggu kan Mbak?"
" Hahahaha, maksudnya nunggu di ruang kerja. Yaudah kalau gitu sekalian disini aja. Wan nanti hari Jumat kamu temenin aku rapat dengan perwakilan perusahaan merger."
" Baik Mbak, tapi hmmm kok saya ya Mbak? Bukannya saya orang baru?"
" Ya gak masalah, soalnya aku lihat kamu yang paling layak, kamu cepat belajar dan presentasi kamu juga bagus dibanding Nita dan Arif. Jadi akan lebih mudah jika nanti kamu yang menyampaikan ke mereka."
" Oh baik Mbak kalau begitu."
" Kamu mau langsung pulang?"
" Rencananya sih gitu Mbak, atau Mbak Wid mau bareng?"
" Oooh gak usah, aku bawa kendaraan kok."
" Yaudah saya duluan ya Mbak." Kataku meninggalkan ruangan.
Tiba di tempat parkir ternyata Arif masih menungguku dengan kepulan asap rokoknya. Berbincang sebentar lalu kami berpisah pulang ke tujuan masing-masing.
" Tahun lalu saat gerimis seperti ini kita sering menikmati kopi panas, sekarang kamu dimana? Bahkan aku sampai saat ini aku belum tau keberadaanmu. Mudah-mudahan kau datang dalam keadaan baik, Nin." Batinku menikmati kopi panas diantara gemricik air hujan duduk di kursi teras tempat kos.
Sesekali jari-jari ini mengetik nama yang mungkin dijadikan nama akun media sosial seseorang yang dulu pernah menemaniku menikmati suasana seperti malam ini.
" Ngopi terus, item nanti usus kamu mas." Kata Indri duduk di sampingku.
" Iiih nyempil-nyempil aja sebelah kanan kan kosong." Jawabku.
" Yaudah Mas Awan geser dong, Indri mau disini."
" Huuufh dasar anak nyebelin." Kataku menggeser duduk sambil mencubit hidung adikku yang nampak lebih kecil dibandingkan hidungku.
" Mas Awan, aku boleh sambil kerja gak Mas nanti masuk semester 2? Kan jadwalnya fleksibel gitu Mas, kita yang nentuin." Kata Indri menatapku dengan tatapan yang selalu sama saat meminta sesuatu membuatku tak sekalipun sanggup untuk menolaknya.
" Ya gakpapa, tapi emang uang jajan yang mas kasih kurang?"
" Cukup lah Mas, malah lebih kok lagipula setiap gajian kan uang kamu kasih ke aku semua. Tapi Indri pengen kerja aja Mas sambil cari pengalaman gitu."
" Ya kalau itu mau kamu gak masalah asalkan gak ganggu kuliah kamu."
" Aku usahain atur jadwal sebaik mungkin yaudah aku masuk dulu ya Mas." Kata Indri kembali kedalam kosan.
Kopi tinggal setengah gelas, malam semakin larut dengan suhu yang terasa panas pertanda akan turun hujan. Melintas pelan motor Kaw*saki N*nja dengan pasangan muda diatasnya. Pengendara itu menggeber mesin beberapa kali saat melintas di depan tempat kosku. Wajahnya tertutup helm fulface namun aku mengenali wanita yang membonceng di jok belakang.
" Nilla? Sama siapa dia, ngapain main geber-geber seenaknya!" Batinku sedikit kesal.
Aku menunggu motor itu kembali melintas dengan rasa penasaran. Hingga setengah jam berlalu akhirnya motor itu melewati depan gerbang tempat kosku. Namun kali ini tanpa membonceng seorangpun. Sejenak dia berhenti menatapku sambil beberapa kali menarik gas motornya yang tertahan tarikan kopling dan akhirnya kembali berjalan meninggalkan komplek.
" Ternyata ada yang mau cari gara-gara." Batinku sejenak lalu di kagetkan dengan dering hp.
" Hallo, selamat malam." Suara lelaki di telepon itu.
" Malam, pak."
" Dengan Mas Awan?"
" Iya saya sendiri."
" Saya Muklis Mas, penjaga parkir UN* yang waktu itu mendapat laporan dari Mas Awan mengenai perusakan motor."
" Oh iya pak, jadi gimana hasil rekamannya? Udah bisa dilihat Pak?"
" Udah Mas pelakunya dipastikan mahasiswa sini, kapan Mas bisa kesini untuk melakukan tindak lanjutnya?"
" Mungkin Sabtu Mas pas saya libur."
" Baik Mas kalau begitu saya tunggu kedatangannya."
" Oke mas terimakasih atas bantuannya."
" Sama-sama Mas, selamat malam." Kata pak Muklis menutup pembicaraan.
Aku kembali masuk ke dalam, merebahkan raga disamping Indri yang masih sibuk mengerjakan tugas-tugasnya.
" Belum selesai Ndri?" Kataku saat kepala menyentuh empuknya bantal.
" Bentar lagi Mas, Mas tidur aja nanti Indri yang kunci pintunya." Jawab Indri sesaat sebelum aku terlelap.
terlelap.
g.gowang memberi reputasi
1