Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.7KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#260
PART 32

Ya kali itu anak enggak sadar temennya ngumpet di balik pohon yang dia lewatin berkali-kali. Banyak film, anime, dan manga menggambarkan kalo orang desa itu naluri dan fisiknya jauh lebih baik daripada orang kota. Tapi ini, masa iya kayak gini. Naluri apaan kalo enggak bisa ngerasain hawa keberadaan orang lain di sekitar dia. Fisik apaan kalo matanya aja enggak bisa lihat orang yang jelas-jelas sembunyi di balik pohon.

‘Dawi…!’ seru suara di seberang mengembalikan gue ke mode fokus. ‘Kamu lagi ngapain, sih?’
‘Ah…, enggak lagi ngapa-ngapain, sih. Cuma lagi nontonin anak-anak main petak umpet di depan ruamh unit, doang,’ jawab gue jujur. ‘Masih baru banget bangun ini, maaf deh kalo kurang fokus.’
‘Ini lagi LDR, ya…,’ kata Emil terdengar sedikit kesal. ‘Perhatiin dikit, kek!’

Mata gue masih lengket banget. Meski suara Emil sebenarnya jelas, tapi entah kenapa enggak masuk dengan baik ke telinga gue.

Seperti telepon-telepon sebelumnya, dia cerita soal kegiatan dia hari ini. Mungkin lebih tepatnya keluhan tentang kegiatan dia tanpa gue. Dari pagi cari sarapan sendiri, jagain anak tetangga kamar satu kosan sendiri, sampai nemenin Arya ngobrol sendiri karena sewaktu ke kos dia enggak nemuin gue. Meski dengernya bikin gue pengin nemenin, tapi apa daya kenyataannya gue masih harus KKN.

Arya nyariin gue? Ada apaan? Entahlah. Emil enggak cerita soal percakapan mereka karena kata dia si Arya pengin cerita sendiri ke gue. Mungkin dia lagi kesal terus ke kosan pengin marahin gue untuk sekedar menyalurkan hasrat. Atau mungkin dia lagi kesepian makanya nyariin gue mau ngajakin main DotA. Atau jangan-jangan, dia mau carita soal penemuan dia hari ini? Iya, penemuan dia soal Peppy yang enggak ada kabarnya lagi. Ah… entahlah. Kalo semisal penting banget dia pasti bakalan hubungin gue lagi.

Sebenernya sama enggak sih topik pembicaraan gue sama Emil dengan kaum LDR di luar sana? Bukannya gue enggak pernah teleponan terus bingung topik sampai nanya kayak gini. Justru gue orangnya lebih memilih telepon daripada texting ke orang. Tapi biasanya yang gue telepon itu keluarga, saudara, dan atau terkadang temen. Kalo gue telepon mereka pun juga pasti ada topik tertentu yang bakal kita omongin. Ya meskipun terkadang lepas dari topik utamanya juga. Tapi maksud gue paling enggak ada topiknya. Kasih tau kabar, ngajakin main, ataupun tanya soal hal-hal penting lainnya.

Tapi kalo telepon sama pasangan, khususnya LDR, apa sih yang biasa kalian omongin? Topiknya apa? Tiap hari bisa teleponnan, mana kadang bisa sampai sejam dua jam lagi. Bikin penasaran kalo mikir tentang topik orang LDR teleponan. Tapi begitu gue yang teleponnan waktu LDR, rasanya pengin cepet-cepet tutup itu telepon. Bukannya bosen karena denger suara Emil lama-lama, tapi karena emang udah enggak ada topik yang bisa diobrolin lagi. Mentok-mentok ya cuma saling lempar kata kangen tapi enggak ketemu-ketemu juga.

Kurang lebih sekitar dua puluh menit setelah Emil telepon gue, atau paling enggak sampai si Bull bolak-balik ke dapur buat nambah nasi sampai tiga kali, Emil memutuskan untuk menyudahi telepon itu.

‘Kamu buruan bangun,’ perintah Emil dari seberang. ‘Udah siang juga.’
‘Siap, Beb.’
‘Yaudah aku pamit ke tempat Sintya dulu, nanti kalo ada ronda aku telepon lagi.’
‘Ah… Mil,’ potong gue sebelum dia menutup telepon. ‘Kalo si Arya nyariin lagi kasih aja nomor hape senter, ya?’
‘Gimana kalo aku SMS-in nomor hape sentermu aja ke dia?’
‘Bener juga,’ kata gue menyadari bahwa itu ide yang lebih bagus. ‘Makasih, ya.’
‘Assalamualaikum.’
‘Waalaikumsalam.’

Hari ke-dua belas, seminggu setelah rumah pak Maif roboh. Hari ini gue kembali terbangun di waktu matahari hampir mencapai puncak tertingginya. Sementara sebagian warga desa udah pada berangkata ke sawahnya masing-masing, gue, gue baru mau bangun. Ini juga kalo enggak gara-gara suara berisik anak-anak yang lagi main di petak umpet di depan rumah unit juga kayaknya gue bakalan masih tidur sampai maghrib.

Ya… sebenarnya enggak enak juga sama warga desa ini kalo bangunnya siang terus, sih. Tapi ya mau gimana lagi orang gue capek beneran dan bener-bener butuh waktu istirahat ekstra. Masa iya demi di pandang warga gue rajin harus bohongin badan gue sendiri. Diangkat jadi RW enggak, mati kurang istirahat iya.

Tanpa mandi, setelah cuci muka dan mengambil dua potong tempe dari piring di dapur, gue langsung nyusulin Luther ke rumah pak Maif. Ngapain? Tanggung jawab. Ya, tanggung jawab atas kebodohan dia yang udah sok tau.

Enggak banyak yang bisa gue lihat selama perjalanan ke rumah pak Maif. Kuburan di kiri jalan yang sengaja enggak dikasih batu nisan atau sekedar papan nama. Sebuah rumah reyot yang udah dikosongin karena ditinggal mati seorang perawan tua. Sampai tanah agak lapang yang biasa kita jadiin tempat penyuluhan sekaligus tempat parkir mobil.

“Si Luther mana, Yan?” tanya gue pada Yansa begitu sampai lokasi.
“Lagi ambil jatah teh di rumah pak RW,” jawab Yansa memindahkan ember-ember berisi batu bata. “Sini gih bantuin gue, Bang.”
“Ntarlah, baru bangun gue.”
“Aturan si Bull nih yang kerja hari ini, gara-gara harus nganter mbak Melly ke kelurahan terpaksa deh gue yang kerja.”
“Halah… lusa kan lo liburnya dua kali juga.” Gue ambil rokok sampoerna yang tergeletak di meja tempat kita biasa naruh barang waktu kerja, “Bagi rokok lo, Yan.”
“Emang lo ngerokok, Bang?” tanya Yansa ragu. “Kok gue baru lihta, ya?”
“Sebenernya udah enggak,” jawab gue menyalakan rokok itu. “Dulu gue ngerokok tapi gue disuruh ganti vape. Ya karena di sini enggak ada tukang recoil dan sekarang lagi kerja di ruang terbuka gini, masa iya gue biarin mulut asem?”
“Woyow!” seru Luther sedikit berlari membawa sebuah ceret dan tiga buah gelas belimbing di tumpuk di tangan lain. “Pahlawan kita baru bangun!”
“Buruan sini, gue haus,” perintah gue pada Luther.
“Belum juga kerja udah minum aja pahlawan kita ini,” canda Luther menaruh ceret di dekat gue.
“Lo ngomong lagi….” Gue menuang teh ke salah satu gelas, “Gue rubuhin temboknya.”
“Ampun, Bang.”
“Bantuin gue nata bata sini, Bang,” ajak Yansa. “Biar arsiteknya ngaduk semen.”

Gue jongkok di samping Yansa lalu mulai menumpuk bata dengan mengoleskan semen sebagai dasarnya. Ya antara kerja niat enggak niat, tanpa bayaran tapi tetap dengan tanggung jawab.

“Niat dikit kek kerjanya,” keluh Luther. “Kalo kayak gitu kapan selesai–”

Gue angkat kaki gue lalu gue tempelkan ke tembok yang baru seperempat jadi.

“Ampun, bang!" Luther meletakkan paculnya lalu berlari menarik-narik gue, "Janganlah, Bang! Ampuuunn…!”
“Aduk aja yang bener itu semen,” kata Yansa. “Niat enggak niatnya nyusun bata tetep jadi asal semennya bagus.”
“Luther… Luther….” ucap gue menarik lepas kaos gue. “Kok ada sih orang kayak lo.”

Ngomongin soal malam itu? Oke, kita bahas. Malam itu, menurut penuturan Luther, Bull dan juga pak Maif yang saling bertolak belakang, tembok rubuh selepas pak Maif pulang dari masjid.

“Ini rumahnya pak Maif kan ya, Bull?” tanya Luther sambil megang-megang tembok rumah. “Rawan kayaknya.”
“Rawan?” tanya Bull ikut-ikutan memegang tembok itu. “Perasaan kokoh-kokoh aja. Lagian lo sok tau banget, masa iya cuma megang tembok bisa nentuin kokoh enggaknya.”
“Yaelah, Bull,” kata Luther sambil geleng-geleng. “Ck … gue ini anak arsitektur yang bakal lulus dengan predikat cum laude. Kalo cuma bedain tembok kokoh apa enggaknya buat gue sih kecil, dipegang juga udah ketahuan.”
“Cari rumah lain ajalah,” ajak si Bull. “Pak Maif kan tukang gali kubur, serem gue.”
“Tuh kan, lo mulai enggak objektif. Lo enggak setuju sama statement gue kalo rumah ini enggak kokoh cuma gara-gara yang punya tukang gali kubur.” Luther mulai mengelus-elus tembok itu, “Lagian lo parno amat. Profesi enggak ada hubungannya sama rumah, Bull. Yang tukang gali kubur kan pak Maifnya, rumahnya cuma diem di sini. Jangan cuma gara-gara parno jadi enggak objektif, dong.”
“Sembarangan bilang gue enggak objektif,” kata si Bull terpancing. “Gue ini orang paling objektif di unit ini tau!”
“Halah, orang lo ngajakin pindah ke rumah lain.”
“Gue ngajakin pindah ke rumah lain karena gue objektif!” kata Bull mulai memanas. “Tembok ini baik-baik aja, gue yakin sama penilaian gue. Lo kalo nanya bang Dawi juga pasti disaranin milih rumah lain. Gue yakin banget kalo bang Dawi sepemikiran sama gue.”
“Mana ada,” kata Luther kukuh. “Bang Dawi tuh pasti setuju sama gue buat renovasi rumah ini.”
“Tuh kan!” kata si Bull lagi. “Udah dua kali sok tau lo tuh.”
“Lo sendiri juga sok tau, banteng!”

Enggak tau gimana ceritanya yang asli, kata si Bull, Luther mulai nendang-nendang buat buktiin ke dia kalo tembok itu tuh enggak kokoh. Sementara kata Luther, Bull lah yang mulai nendang tembok itu duluan buat buktiin kalo tembok itu kokoh. Dan lagi-lagi entah siapa yang sebenernya bener, menurut pak Maif, dua-duanya secara bergantian nendang-nendang tembok rumahnya sampai roboh.
Ini tembok tuh rapuh banget Bull!” seru Luther menendang tembok itu.

“Lo lihat sendiri kan gue tendang kerasnya minta ampun gini?” seru si Bull enggak kalah geram menendang tembok itu.
“Kalo gue bilang rapuh ya rapuh!”
“Ini tuh kokoh, Lut! Lo tuh sok tau!”

Entah ada dendam apa antara mereka dengan tembok itu, mereka berdua mulai ngomel-ngomel sambil nendangin tembok itu. Keduanya sama-sama enggak mau kalah, kalo Luther nendangnya kenceng, maka si Bull bakal nendang tembok itu lebih kenceng lagi. Kalo Bull ngomelnya kenceng, maka Luther ngomelnya bakalan makin kenceng lagi.

Tembok itu bertahan dari tendangan mereka yang membabi buta. Meski udah mulai goyang-goyang, tembok itu tetap bertahan dan bergeming. Sampai suatu ketika, tembok yang semula kokoh itu, beneran jadi rapuh. Dengan satu tendangan si Bull yang cukup keras, tembok itu roboh.

"Gue bilang juga apa,” kata Luther manggut-manggut sangat puas. “Rapuh, kan?”
“L-Lut,” panggil si Bull mulai panik. “Roboh beneran, Lut. Gimana ini, Lut? Gimana, Lut?”

Belum jadi Luther menjawab pertanyaan panik dari Bull, dari arah belakang ada suara orang berlari sambil teriak-teriak, “Astagfirullah! Omahku!”

“I-itu pak Maif, Lut!” kata si Bull makin panik. “Kita gimana, Lut?! Kita gimana?!”
“L-lari, Bull!” perintah Luther dengan kaki gemetaran. “L-lari!”
“L-lari?! T-terus temboknya gimana?!”
“Lari, Bull!” seru Luther lari ninggalin Bull di belakang. “Slametin nyawa lo, Bull! Jangan sampai dikubur hidup-hidup!”
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.