- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.1K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#70
Bagian Enam :
Antara Ego Melawan Logika
Antara Ego Melawan Logika

Quote:
[I]Part sebelumnya :
“Harusnya ibu kost itu mengerti! Aku ini tunangan kamu dan sudah berhak dong untuk tinggal satu rumah sama kamu! Tapi apa?? Orang-orang ditempat ini benar-benar kaku! Aku minta besok kamu pindah!!”
Aku hanya bisa menghela nafas sembari memikirkan alasan apa yang harus kuberikan kepada makhluk keras kepala satu ini.
“Ya mau bagaimana lagi? Toh ... ini memang rumah kost yang aku sewa. Memang sudah menjadi hak dari Ibu Kost untuk memberikan peringatan kepada penghuni kost yang dikiranya nakal seperti aku ini. Aku tak bisa berbuat banyak, lagipula Mama yang menyetujui untuk kost di daerah ini, kalau kamu memang mau aku pindah ke rumah yang sudah dibelikan Papa-mu di daerah Poligon. Ya ... silahkan bicarakan dengan Mama! Aku tidak mau terlibat masalah karena ini semua.” balasku sembari berdebat dengan Fexia.
Ia terlihat terdiam beberapa saat, tampaknya ia berpikir mengenai keputusan yang harus kuambil. Lagipula membicarakan ini dengan Mama bukanlah perkara yang mudah, bahkan Fexia beberapa kali didebat oleh Mama mengenai keputusan yang ia ambil. Fexia dan Mama memang sudah sangat dekat, Mama sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, bahkan boleh dibilang sebenarnya Mama seperti lebih sayang kepada Fexia daripada ke aku yang tidak lain adalah anaknya sendiri, tapi hal ini tidak menjadikan Fexia sebagai nomer satu dalam segala hal, ada banyak hal lain juga yang terkadang tidak disetujui oleh Mama dan semua itu akan bermuara kepada Tante Wiwie yang tidak lain adalah sosok yang paling ditakuti oleh Fexia.
“Baiklah ... aku akan telpon Mama sekarang juga! Kalau aku dapat izin, kamu janji ya pindah ke Poligon besok, semuanya biar aku yang urus! Titik.” ungkapnya.
“Ya ... silahkan saja! Coba saja dulu! Aku sih tidak yakin ya, Mama akan setuju dengan usulmu itu!” ejekku kepadanya, sebenarnya aku memang tidak mau untuk satu rumah dengan Fexia, selain privasiku yang akan terganggu dengan makhluk satu ini tentunya yang akan menjadi masalah utama nantinya adalah apakah aku bisa mengendalikan diri ketika berduaan dengan dirinya di dalam satu rumah? Aku tahu, aku bukanlah pria yang benar-benar lurus, masih memiliki nafsu dan terkadang berpikiran kotor terutama mengenai wanita, hal itu tentunya menjadi dilema yang membekas di hatiku sampat saat ini. Bila sampai nantinya Fexia tinggal satu rumah denganku.
Fexia terlihat sedang menekan nomer di telpon genggamnya. Ia benar-benar berharap, agar aku dan dirinya bisa tinggal satu rumah, hingga tidak lama telpon pun diangkat oleh Mama dan mereka berdua terlihat mengobrol dengan serius. Aku segera beranjak ke belakang untuk membuat segelas es teh manis di tengah terik mentari yang cukup panas, tampaknya minum es teh manis saat ini adalah waktu yang tepat, sembari menunggui Fexia yang tampaknya tengah berdebat dengan Mama.
Tidak lama kemudian, Fexia memanggilku dari arah dalam, “Sayang ... sayang!! Mama mau ngomong sama kamu ini!” ujar Fexia datar terlihat raut mukanya berubah menjadi cemberut, tampaknya feelingku barusan benar, kalau Mama menolak permintaan Fexia.
“Ya ... ma? Ada apa?” balasku cepat.
“Halo ... kak! Tadi Fexia sudah bilang ke Mama, katanya dia dimarahin sama Ibu Mar karena berduaan dengan kamu di kost. Memangnya benar?”
“Ya ... gimana lagi, Ma! Aku tadi lupa untuk membuka pintu kamar dan juga pintu utama, mungkin Ibu Mar curiga dan berpikir kami melakukan apa-apa. Namun sebenarnya, aku sedang main game di laptop, sedangkan Fexia sedang asyik dengan novel percintaan yang baru saja ia beli.” terangku panjang lebar kepada Mama.
“Syukurlah!! Kamu jangan berbuat macam-macam ya sama Fexia! Jangan buat Mama malu sama Tante Wiwie! Mama tau dan paham kalau kalian memang dijodohkan dan sudah bertunangan, tapi jangan sampai mencoreng nama baik keluarga mengerti?”
Aku terdiam sebentar sembari berpikir, ‘Memangnya yang mau dijodohkan seperti ini siapa? Kalau bukan hasil kolaborasi Mama dan juga Tante Wiwie.’
“Iya ma ... aku tahu benar mana yang baik dan yang tidak! Bukankah dari kecil Mama sudah mendidikku sedemikian rupa!” balasku mencoba menenangkan Mama pada saat itu.
“Ya sudah kalau seperti itu! Mama tidak menyetujui untuk kamu pindah ke rumah Fexia yang ada di daerah Poligon. Bagaimanapun juga hubungan kalian belum resmi. Nanti saja kalau tanggal pernikahan sudah dekat setelah tamat kuliah, sekarang ini fokus saja dengan belajar dan belajar berbisnis!” pesan Mama kepadaku.
“Iya-iya, Mamaku yang cantik! Aku sudah ingat semua yang Mama katakan.”
“Ya sudah ... jaga diri baik-baik! Ingat jangan buat Fexia menangis lagi. Mama ga enak sama Tante Wiwie, waktu itu Fexia nangis-nangis minta alamat kamu di Palembang, katanya kamu ga ngasih kabar dengannya sama sekali. Kamu jangan buat Mama malu!”
“Iya komandan, siap laksanakan! Ya sudah, aku izin mau mandi dulu ya, Ma! Mama masih mau ngobrol dengan Fexia? Aku kasih telponnya ke Xia saja ya, Ma!”
“Kamu itu selalu kalo dinasehati orang tua balasnya begitu! Ya sudah Mama juga mau pergi ke pasar!”
“Dah ... Ma!”
‘Tut ... tut ...,’ telpon kemudian mati.
Aku dengan senyum kemenangan kemudian memberikan handphone tersebut kembali kepada Fexia, “Bagaimana, Nona cantik? Masih tidak percaya dengan ucapanku sebelumnya? Hehe ...,”
“Kamu itu ya!!” balasnya sembari merebut handphone yang kuberikan kepadanya.
“Yee ... dia ngambek! Luntur loh cantiknya kalau ngambek, Nona cantik!”
“Bodoo!!” balasnya singkat sembari ngeloyor pergi memasuki kamar dan tidak lama kemudian terdengar suara daun pintu yang dibanting dari arah dalam.
‘Brak!’
“Haha ... dasar! Begini kalau dari kecil sudah dimanja orangtuanya!” ledekku sembari ngeloyor pergi ke arah dapur.
“Aku dengar loh kamu bilang apa, sayang!!” teriak Xia dari dalam kamar, dan aku segera meninggalkan Fexia yang tengah mengomel tak tentu arah di dalam kamar.
Aku mulai membuka pintu kulkas, mengeluarkan satu buah telur, daun bawang, tomat dan juga beberapa cabe rawit. Aku teringat bahwa Tuan Putri yang ada di dalam belum makan sedari pagi, tentunya aku tidak ingin anak orang lain mati kelaparan di rumahku sendiri, apalagi bagaimanapun juga dia adalah tunanganku yang sebenarnya kucintai, seandainya jika salah satu dari kami bisa untuk menurunkan ego kami masing-masing kurasa masalah ini akan dengan mudah diselesaikan.
Aku mulai merebus air di atas panci, memotong halus cabe rawit, daun bawang dan juga tomat yang sebelumnya sudah aku keluarkan dari kulkas, tidak lupa membilasnya dengan air sebersih mungkin, tentunya aku tidak ingin sakit perut karena bahan makanan yang tidak higienis. Tidak lupa menumpahkan bumbu mie ke dalam mangkuk dan mulai meracik mie kuah spesial yang kusiapkan khusus untuk Fexia, cabe rawit sebanyak 5 biji yang sudah kupotong kecil-kecil tidak lupa kumasukkan setelah mie tersebut selesai di rebus dan bercampur dengan bumbu di dalam mangkuk, setelah diaduk dan tampaknya sudah siap. Aku segera berjalan dengan nampan ke dalam kamar.
“Sayang ... buka pintunya! Aku bawa makanan untuk kamu!” rayuku mencoba agar dirinya membukakan pintu kamar untukku saat itu.
“Iya bentar!” nada suaranya terlihat ogah-ogahan. Aku tahu benar kalau sosok di dalam kamar masih merajuk akibat niatnya yang tidak
terpenuhi.
“Nih makan dulu! Kamu belum makan bukan dari pagi tadi?” godaku sembari menyodorkan semangkuk mie dengan toping daun bawang, tomat, telur mata sapi dan cabe rawit kesukaan Fexia.
“Kamu ini bisa saja merayu aku!” balasnya centil terlihat senyum sumringah memancar dari wajahnya.
Bahagia itu sebenarnya tidak harus mahal, cukup dengan memberikan apa yang disukai pasangan kita adalah kunci dari kesuksesan dari sebuah hubungan. Seperti hari ini, rasanya sudah lama aku tidak melihat senyum yang begitu bahagia terpancar dari wajahnya yang cantik.
Aku segera beranjak dari kamar berniat untuk meninggalkan Fexia yang tengah menikmati mie yang sudah kubuatkan. Aku berniat untuk mandi dan mengajaknya jalan-jalan, tampaknya sudah sangat lama terakhir kami menikmati waktu berdua, setelah acara mandiku selesai dan berganti pakaian. Aku mulai mengatakan maksudku kepada Fexia.
“Keluar yuk? Mau ga?” tanyaku seadanya.
“Kemana?” balasnya yang kini tengah menyuci piring di wastafel.
“Kalau ke mall terus nonton, gimana?”
“Mau nonton apa emang? Jangan bilang kamu ngajakin aku nonton horor lagi!” selanya tanda tidak setuju.
“Ya sudah ... pilih mau nonton apa! Mall Klender, 4 Tahun Tinggal Di Rumah Hantu, Malam Suro Di Rumah Darmo atau Boneka Setan? Itu film-film horor yang lagi tayang di bioskop sekarang ini!” balasku sembari bercanda. Aku tahu benar kalau Fexia benar-benar benci dengan film horor, hal ini dikarenakan dia memang adalah sosok yang begitu penakut, apalagi jika membahas mengenai makhluk-makhluk tak kasat mata.
“Kamu itu ya!!” ia melempar sebuah cangkir plastik ke arahku.
Dengan sigap aku menangkap cangkir tersebut dan berkata kepadanya, “Ayo mandi sana! Kamu jelek kalau begitu! Iya-iya kita nonton film komedi aja kesukaan kamu gimana?”
“Hore ... nah gitu dong, kan enak! Ga harus bikin aku marah! Wee!” balasnya sembari meledekku dengan menjulurkan lidahnya keluar.
“Kamu tambah jelek kalau melet-melet seperti itu! Kamu iku wis mirip wedus!” ledekku dengan bahasa Jawa yang artinya ‘Kamu itu lebih mirip kambing!’
“Aku tau kamu ngomong apa loh, yank!”
“Hehe ... iya sudah cepat ah! Sudah jam 3 ini, filmnya mulai jam 5!” ajakku kepadanya.
“Nonton apa dulu??” tanyanya penasaran.
“Nonton Marmut Merah Jambu, filmnya Raditya Dika kesukaan kamu itu!” balasku setengah berteriak.
“Horee ... kamu benar-benar baik, sayang!”
Dengan cepat ia kemudian memelukku sebagai suatu tanda bahagia, sedangkan aku hanya bisa memeluknya dalam ketenangan sembari mengusap kepalanya dengan tangan kananku saat itu, serasa dunia berhenti berputar untuk beberapa waktu.
“Harusnya ibu kost itu mengerti! Aku ini tunangan kamu dan sudah berhak dong untuk tinggal satu rumah sama kamu! Tapi apa?? Orang-orang ditempat ini benar-benar kaku! Aku minta besok kamu pindah!!”
Aku hanya bisa menghela nafas sembari memikirkan alasan apa yang harus kuberikan kepada makhluk keras kepala satu ini.
***
“Ya mau bagaimana lagi? Toh ... ini memang rumah kost yang aku sewa. Memang sudah menjadi hak dari Ibu Kost untuk memberikan peringatan kepada penghuni kost yang dikiranya nakal seperti aku ini. Aku tak bisa berbuat banyak, lagipula Mama yang menyetujui untuk kost di daerah ini, kalau kamu memang mau aku pindah ke rumah yang sudah dibelikan Papa-mu di daerah Poligon. Ya ... silahkan bicarakan dengan Mama! Aku tidak mau terlibat masalah karena ini semua.” balasku sembari berdebat dengan Fexia.
Ia terlihat terdiam beberapa saat, tampaknya ia berpikir mengenai keputusan yang harus kuambil. Lagipula membicarakan ini dengan Mama bukanlah perkara yang mudah, bahkan Fexia beberapa kali didebat oleh Mama mengenai keputusan yang ia ambil. Fexia dan Mama memang sudah sangat dekat, Mama sudah menganggapnya seperti anaknya sendiri, bahkan boleh dibilang sebenarnya Mama seperti lebih sayang kepada Fexia daripada ke aku yang tidak lain adalah anaknya sendiri, tapi hal ini tidak menjadikan Fexia sebagai nomer satu dalam segala hal, ada banyak hal lain juga yang terkadang tidak disetujui oleh Mama dan semua itu akan bermuara kepada Tante Wiwie yang tidak lain adalah sosok yang paling ditakuti oleh Fexia.
“Baiklah ... aku akan telpon Mama sekarang juga! Kalau aku dapat izin, kamu janji ya pindah ke Poligon besok, semuanya biar aku yang urus! Titik.” ungkapnya.
“Ya ... silahkan saja! Coba saja dulu! Aku sih tidak yakin ya, Mama akan setuju dengan usulmu itu!” ejekku kepadanya, sebenarnya aku memang tidak mau untuk satu rumah dengan Fexia, selain privasiku yang akan terganggu dengan makhluk satu ini tentunya yang akan menjadi masalah utama nantinya adalah apakah aku bisa mengendalikan diri ketika berduaan dengan dirinya di dalam satu rumah? Aku tahu, aku bukanlah pria yang benar-benar lurus, masih memiliki nafsu dan terkadang berpikiran kotor terutama mengenai wanita, hal itu tentunya menjadi dilema yang membekas di hatiku sampat saat ini. Bila sampai nantinya Fexia tinggal satu rumah denganku.
Fexia terlihat sedang menekan nomer di telpon genggamnya. Ia benar-benar berharap, agar aku dan dirinya bisa tinggal satu rumah, hingga tidak lama telpon pun diangkat oleh Mama dan mereka berdua terlihat mengobrol dengan serius. Aku segera beranjak ke belakang untuk membuat segelas es teh manis di tengah terik mentari yang cukup panas, tampaknya minum es teh manis saat ini adalah waktu yang tepat, sembari menunggui Fexia yang tampaknya tengah berdebat dengan Mama.
Tidak lama kemudian, Fexia memanggilku dari arah dalam, “Sayang ... sayang!! Mama mau ngomong sama kamu ini!” ujar Fexia datar terlihat raut mukanya berubah menjadi cemberut, tampaknya feelingku barusan benar, kalau Mama menolak permintaan Fexia.
“Ya ... ma? Ada apa?” balasku cepat.
“Halo ... kak! Tadi Fexia sudah bilang ke Mama, katanya dia dimarahin sama Ibu Mar karena berduaan dengan kamu di kost. Memangnya benar?”
“Ya ... gimana lagi, Ma! Aku tadi lupa untuk membuka pintu kamar dan juga pintu utama, mungkin Ibu Mar curiga dan berpikir kami melakukan apa-apa. Namun sebenarnya, aku sedang main game di laptop, sedangkan Fexia sedang asyik dengan novel percintaan yang baru saja ia beli.” terangku panjang lebar kepada Mama.
“Syukurlah!! Kamu jangan berbuat macam-macam ya sama Fexia! Jangan buat Mama malu sama Tante Wiwie! Mama tau dan paham kalau kalian memang dijodohkan dan sudah bertunangan, tapi jangan sampai mencoreng nama baik keluarga mengerti?”
Aku terdiam sebentar sembari berpikir, ‘Memangnya yang mau dijodohkan seperti ini siapa? Kalau bukan hasil kolaborasi Mama dan juga Tante Wiwie.’
“Iya ma ... aku tahu benar mana yang baik dan yang tidak! Bukankah dari kecil Mama sudah mendidikku sedemikian rupa!” balasku mencoba menenangkan Mama pada saat itu.
“Ya sudah kalau seperti itu! Mama tidak menyetujui untuk kamu pindah ke rumah Fexia yang ada di daerah Poligon. Bagaimanapun juga hubungan kalian belum resmi. Nanti saja kalau tanggal pernikahan sudah dekat setelah tamat kuliah, sekarang ini fokus saja dengan belajar dan belajar berbisnis!” pesan Mama kepadaku.
“Iya-iya, Mamaku yang cantik! Aku sudah ingat semua yang Mama katakan.”
“Ya sudah ... jaga diri baik-baik! Ingat jangan buat Fexia menangis lagi. Mama ga enak sama Tante Wiwie, waktu itu Fexia nangis-nangis minta alamat kamu di Palembang, katanya kamu ga ngasih kabar dengannya sama sekali. Kamu jangan buat Mama malu!”
“Iya komandan, siap laksanakan! Ya sudah, aku izin mau mandi dulu ya, Ma! Mama masih mau ngobrol dengan Fexia? Aku kasih telponnya ke Xia saja ya, Ma!”
“Kamu itu selalu kalo dinasehati orang tua balasnya begitu! Ya sudah Mama juga mau pergi ke pasar!”
“Dah ... Ma!”
‘Tut ... tut ...,’ telpon kemudian mati.
Aku dengan senyum kemenangan kemudian memberikan handphone tersebut kembali kepada Fexia, “Bagaimana, Nona cantik? Masih tidak percaya dengan ucapanku sebelumnya? Hehe ...,”
“Kamu itu ya!!” balasnya sembari merebut handphone yang kuberikan kepadanya.
“Yee ... dia ngambek! Luntur loh cantiknya kalau ngambek, Nona cantik!”
“Bodoo!!” balasnya singkat sembari ngeloyor pergi memasuki kamar dan tidak lama kemudian terdengar suara daun pintu yang dibanting dari arah dalam.
‘Brak!’
“Haha ... dasar! Begini kalau dari kecil sudah dimanja orangtuanya!” ledekku sembari ngeloyor pergi ke arah dapur.
“Aku dengar loh kamu bilang apa, sayang!!” teriak Xia dari dalam kamar, dan aku segera meninggalkan Fexia yang tengah mengomel tak tentu arah di dalam kamar.
Aku mulai membuka pintu kulkas, mengeluarkan satu buah telur, daun bawang, tomat dan juga beberapa cabe rawit. Aku teringat bahwa Tuan Putri yang ada di dalam belum makan sedari pagi, tentunya aku tidak ingin anak orang lain mati kelaparan di rumahku sendiri, apalagi bagaimanapun juga dia adalah tunanganku yang sebenarnya kucintai, seandainya jika salah satu dari kami bisa untuk menurunkan ego kami masing-masing kurasa masalah ini akan dengan mudah diselesaikan.
Aku mulai merebus air di atas panci, memotong halus cabe rawit, daun bawang dan juga tomat yang sebelumnya sudah aku keluarkan dari kulkas, tidak lupa membilasnya dengan air sebersih mungkin, tentunya aku tidak ingin sakit perut karena bahan makanan yang tidak higienis. Tidak lupa menumpahkan bumbu mie ke dalam mangkuk dan mulai meracik mie kuah spesial yang kusiapkan khusus untuk Fexia, cabe rawit sebanyak 5 biji yang sudah kupotong kecil-kecil tidak lupa kumasukkan setelah mie tersebut selesai di rebus dan bercampur dengan bumbu di dalam mangkuk, setelah diaduk dan tampaknya sudah siap. Aku segera berjalan dengan nampan ke dalam kamar.
“Sayang ... buka pintunya! Aku bawa makanan untuk kamu!” rayuku mencoba agar dirinya membukakan pintu kamar untukku saat itu.
“Iya bentar!” nada suaranya terlihat ogah-ogahan. Aku tahu benar kalau sosok di dalam kamar masih merajuk akibat niatnya yang tidak
terpenuhi.
“Nih makan dulu! Kamu belum makan bukan dari pagi tadi?” godaku sembari menyodorkan semangkuk mie dengan toping daun bawang, tomat, telur mata sapi dan cabe rawit kesukaan Fexia.
“Kamu ini bisa saja merayu aku!” balasnya centil terlihat senyum sumringah memancar dari wajahnya.
Bahagia itu sebenarnya tidak harus mahal, cukup dengan memberikan apa yang disukai pasangan kita adalah kunci dari kesuksesan dari sebuah hubungan. Seperti hari ini, rasanya sudah lama aku tidak melihat senyum yang begitu bahagia terpancar dari wajahnya yang cantik.
Aku segera beranjak dari kamar berniat untuk meninggalkan Fexia yang tengah menikmati mie yang sudah kubuatkan. Aku berniat untuk mandi dan mengajaknya jalan-jalan, tampaknya sudah sangat lama terakhir kami menikmati waktu berdua, setelah acara mandiku selesai dan berganti pakaian. Aku mulai mengatakan maksudku kepada Fexia.
“Keluar yuk? Mau ga?” tanyaku seadanya.
“Kemana?” balasnya yang kini tengah menyuci piring di wastafel.
“Kalau ke mall terus nonton, gimana?”
“Mau nonton apa emang? Jangan bilang kamu ngajakin aku nonton horor lagi!” selanya tanda tidak setuju.
“Ya sudah ... pilih mau nonton apa! Mall Klender, 4 Tahun Tinggal Di Rumah Hantu, Malam Suro Di Rumah Darmo atau Boneka Setan? Itu film-film horor yang lagi tayang di bioskop sekarang ini!” balasku sembari bercanda. Aku tahu benar kalau Fexia benar-benar benci dengan film horor, hal ini dikarenakan dia memang adalah sosok yang begitu penakut, apalagi jika membahas mengenai makhluk-makhluk tak kasat mata.
“Kamu itu ya!!” ia melempar sebuah cangkir plastik ke arahku.
Dengan sigap aku menangkap cangkir tersebut dan berkata kepadanya, “Ayo mandi sana! Kamu jelek kalau begitu! Iya-iya kita nonton film komedi aja kesukaan kamu gimana?”
“Hore ... nah gitu dong, kan enak! Ga harus bikin aku marah! Wee!” balasnya sembari meledekku dengan menjulurkan lidahnya keluar.
“Kamu tambah jelek kalau melet-melet seperti itu! Kamu iku wis mirip wedus!” ledekku dengan bahasa Jawa yang artinya ‘Kamu itu lebih mirip kambing!’
“Aku tau kamu ngomong apa loh, yank!”
“Hehe ... iya sudah cepat ah! Sudah jam 3 ini, filmnya mulai jam 5!” ajakku kepadanya.
“Nonton apa dulu??” tanyanya penasaran.
“Nonton Marmut Merah Jambu, filmnya Raditya Dika kesukaan kamu itu!” balasku setengah berteriak.
“Horee ... kamu benar-benar baik, sayang!”
Dengan cepat ia kemudian memelukku sebagai suatu tanda bahagia, sedangkan aku hanya bisa memeluknya dalam ketenangan sembari mengusap kepalanya dengan tangan kananku saat itu, serasa dunia berhenti berputar untuk beberapa waktu.
#Bersambung
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 22:20
0
Kutip
Balas