- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.5K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#34
Part 24 Blind Love 4 (17+)
Seperti yg dikatakan Mas Kayon, lebaran tahun ini dia ngga mudik. Dia ngerayain lebaran di Bali, dengan beberapa teman sekostannya yg juga ngga mudik tahun ini.
Lebaran pertama aku ngga nemenin dia karena menurutnya ada acara silahturahmi di kostan dengan temen2nya. Emang aku ngga deket dengan temen2nya di kampus atau pun di kostan.
Baru lebaran ke dua, aku nemenin dia. Dia minta di antar ke tempat saudaranya bekerja di luar kota Denpasar. Tapi ngga jauh2 amat, masih bisa ditempuh dengan motoran.
Dijalan pulang kami kehujanan. Tidak terlalu lebat tp cukup membuat kami basah.
“mau ganti pake celanaku,” katanya menawari begitu kami sampai di kostannya, memang ujung2 celana jeansku basah semua, seharusnya td aku gulung naik jd ngga akan kecipratan air.
“mana cukuplah mas, “ sahutku sambil menggulung naik ujung celanaku, lumayanlah yg basah jd ketutupan dengan bagian yg kering, jd ngga membuat kakiku kedinginan.
“udah,” kataku.
“gpp gitu aja?”
“iya, gpp.”
“ya udah, kamu tunggu bentar aku mau ngasiin ini ke anak2, mumpung mereka lagi pada ngumpul, “ dia membuka bungkusan2 yg td kami ambil dr tempat saudaranya.
“emang itu apa mas?”
“kue Dy, dititipin sm orang rumah.”
“oh, perhatian sekali ya.”
“ini dikirimin ibuku Dy.”
“oh...ya udah, aku mending pulang aja ya mas, ngga ada yg perlu aku bantuin lagi kan?”
“jangan pulang dulu, tunggu bentar aja, ngga lama kok.”
“bukan masalah lama atau ngga, biar mas bisa ngumpul2 juga sm mereka.”
“aku mah tiap hari ngumpulnya ya sm mereka, Dy. Pokoknya tunggu aku dulu.”
Dia lalu keluar sambil membawa beberapa bungkus kue dan cemilan khas lebaran.
Sambil nunggu mas Kayon aku duduk lesehan di atas kasur dipojokkan kamarnya, di sebelah kiriku pas dengan kisi2 udara, terasa udara dingin masuk melalui celah2nya. Dr sini juga bisa kulihat suasana di luar yg masih diguyur hujan. Dingin2 begini jadi ngantuk. Sejenak kupejamkan mata, sekedar menghilangkan rasa sepet mataku.
Kubuka mata ketika kudengar suara lagu. Ternyata mas Kayon udah ada dikamar, sedang duduk di depan laptopnya tak jauh dariku.
“mas...aku ketiduran ya?” tanyaku
Dia menoleh dan tersenyum. Dia menggeser duduknya mendekatiku.
“iya, baru ditinggal bentar aja udah ketiduran, sambil nyender gini pula, baringan aja ya.”
“ngga ah. Masih hujan ya di luar?” kucoba melihat dari kisi2, ternyata masih hujan diluar meski ngga terlalu deras.
“masih hujan, temenin disini dulu ya,” ujarnya lalu memelukku dari samping.
Beberapa kali diciuminya pipiku dengan lembut, dan terkadang telingaku juga dicumbunya.
“mas....” kupalingkan wajahku ke arahnya sehingga dia menghentikan ciumannya.
Dibelainya wajahku, dan dia mencium keningku sesaat, kemudian turun ke pipiku, bibirnya menyentuh daun telingaku lembut ketika dia membisikkan sesuatu
“aku disini Dy, bukan orang lain...jangan takut,” bisiknya, kurasakan kemudian bibirnya menyentuh bibirku, pelan dan lembut. Sedangkan kedua tangannya perlahan menarik tubuhku merapat ke tubuhnya.
Kucoba menikmati semua tanpa memikirkan apa pun, kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa yg mencumbuiku ada lah orang yg aku sayangi dan aku menginginkannya.
Semakin lama mas Kayon menciumiku dengan berani, dia melumat lembut bibirku tanpa henti, nafasku mulai memburu karena hasrat. Kupeluk tubuhnya erat, ketika lidahnya mulai berani menyapu bibirku mendorong masuk memainkan lidahku.
Tiba2 dia menghentikan ciumannya, sedikit mendorong tubuhku dan menatap wajahku, sambil tersenyum. Kutangkupkan kedua tanganku di kedua pipinya. Memandang lekat ke matanya.
“aku cium lagi ya, tapi ngga boleh merem, kamu liat mataku, kalau kamu merem berarti kamu kalah, mau?” ujarnya setengah berbisik
“kalau aku bisa, aku dapat apa?”
“apa aja terserah kamu.” Ujarnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“kalau kalah?”
“terserah aku,” dia tersenyum, lalu memainkan ujung hidungnya ke hidungku. Lalu dengan cepat menyapu bibirku, melumatnya lembut awalnya, aku menahan agar mataku tidak terpejam, ternyata tidak mudah, aku juga harus mengimbangi ciumannya yg semakin berani. Menahan hasratku dan kenikmatan dari pagutan bibirnya, semakin membuat mataku berat. Mas Kayon menatap lekat mataku, tak melepaskannya sedetik pun. Ketika dia mulai meraih dan memainkan lidahku, aku ngga kuat menahan lagi, tanpa kusadari mataku reflek merem dan menikmati ciumannya yg semakin liar.
Aku mulai mendesah pelan ketika kurasakan bibirnya perlahan turun menciumi leherku. Bergerak naik, menyapu telingaku, dan kudengar dia berbisik lirih...
“kamu kalah...” lalu kembali di sapunya telingaku, tapi kali ini dengan sentuhan lidahnya. Aku mendesah pelan menahan rasa geli dan hasratku.
Dia menarik tubuhku, sehingga setengah tubuhku berasa di atas tubuhnya. Kupandang wajahnya yg berada di bawahku. Dan dengan cepat dia memeluk tubuhku dan berbalik membuat posisi menjadi terbalik, aku yg di bawah dan dia di atas, tubuhnya tak sepenuhnya menindihku sebagian ditumpukan pada kedua sikunya yg menahan di kedua sisi kepalaku.
Dia menciumiku lagi, masih dengan ritme yg sama, perlahan dan sangat lembut di awal2, kemudian menjadi sangat panas dan liar. Dan kurasakan bergantian kakinya membuka kakiku silih berganti sehingga kedua kakiku terbuka lebih lebar dan menindihku dengan pinggulnya.
Hentikan Dyan! Ini salah, jangan kebablasan! Hatiku memperingatkan.
Kupalingkan wajahku yg membuat ciumannya terhenti, tapi dia tidak berhenti. Leherku yang terpampang jelas dihadapannya kini menjadi sasaran ciumannya. Pelan tapi pasti ciumannya bergerilya menuruni leherku. Satu persatu kancing kemejaku terlepas, aku ngga ngerti gimana caranya dia membukanya, sewaktu aku sadar hampir setengahnya telah terbuka. He made me fly!
Kalau diumpakan sebuah sirine, otak dan hatiku seperti bekerja sama membunyikan sirene yg paling nyaring saat itu.
Kalau diibaratkan sebuah tamparan aku seperti ditampar berkali2 oleh jeritan2 di kepalaku yg tiada henti meneriakkan kata, BERHENTI, CUKUP!!!
“MAS, CUKUP!! SUDAH!" Bergetar kata2 itu terucap nyata dalam suaraku, kuangkat wajahnya dan kudorong tubuhnya dengan sisa tenagaku.
Kukancingkan kembali kemejaku dan mengatur nafasku yg hampir habis.
Tiba2 dia memelukku.
“maaf..aku hilang kendali,” ujarnya lirih di telingaku.
Kulepaskan pelukannya.
“asal jangan sering2 hilang kendali,” ujarku menggodanya.
Aku memang tidak marah, karena ini tidak sepenuhnya salah mas kayon, aku pun punya andil besar dalam kesalahan ini.
Dia tersenyum kecut, “i promise you...”
“Mas, you can kiss me, you can touch me as you like, i allow you, but not more than that!”
Dia diam dan kemudian memelukku lagi, “sorry...really sorry,” bisiknya lirih.
Hanya perempuan itu sendiri yg bisa menjaga kehormatannya. Jangan menyalahkan lelaki, karena dalam kondisi ‘high’ jarang di antara mereka yg bisa berpikir lurus. Perempuanlah yg harus memegang kendali.
*******
Setelah kejadian sore itu, aku merasa Mas Kayon lebih menjaga sikapnya. Tidak lagi main peluk dan cium, hanya sebatas menggenggam tanganku saja, atau sebuah kecupan di kening setiap aku pamit pulang, itu pun selalu diawali dengan pertanyaan, boleh aku cium? Kadang2 aku merasa geli sendiri dengan sikapnya yg berubah drastis. Tapi aku senang, dengan begitu kami memiliki hubungan yg lebih berkualitas yg tidak hanya sebatas sentuhan fisik saja.
Siang ini aku diminta menjemput kakakku di tempat kerjanya dan di saat yg bersamaan aku pun sudah terlanjur berjanji datang ke tempat Mas Kayon. Untungnya kuliah hanya sampe jam 10 pagi, jadi sebelum pulang aku mampir ke kostannya sebentar.
“baru bangun?” tanyaku heran ketika dia membukakan pintu dengan wajah kusut dan rambut acak2an
“hheemmm...” Hanya itu sahutannya sambil menarikku masuk ke dalam kamarnya dan kembali menutup pintu.
“tidur lagi ya..” dia hendak berjalan ke arah kasur, ketika kutarik tangannya, dan kubukakan pintu. Kudorong dia keluar
“Mandi sana!” perintahku sambil menahan badannya agar tetap di luar kamar
“Dy...ngantuk..” rengeknya, merengsek di pintu.
“ngga! Mandi dulu, “ ujarku kekeh, dengan menahan badannya.
“iya...iya.. iyaaaa....” akhirnya dia mengalah, dan berjalan ke kamar mandi.
Seperti biasa kalau aku dikostannya mas kayon pasti mainan sama laptopnya. Karena hanya ini benda yg paling menarik buat di utak atik. Kuputar lagu yg sudah ada di playlist nya mas kayon.
Kemudian mataku tertarik dengan hp mas kayon yg tergeletak di samping laptopnya. Tanpa ragu, aku ngga berpikir kalau buka2 hp orang itu ngga sopan, aku hanya merasa ngga salah kok kalau aku buka hpnya, dia kan cowokku. Karena aku pun ngga pernah ngelarang mas kayon buka2 hp ku.
Kubuka inbox nya, ada banyak pesan dariku. Dan paling bawah ada beberapa pesan tanpa nama, hanya nomornya yg tertera di sana. Iseng aku buka. Aku membacanya berulang2, ini beneran?
Isinya benar2 menohokku.
Sms 1 mas aku pengen sekali ketemu, kangen...
Sms 2 iya ini aku juga berusaha sabar ngejalanin hubungan seperti ini...
Sms3 ..........
Sms 4 .............
Sms 5 ...............
Isinya kurang lebih seperti itu, perasaan kangen, galau...dsb
Cepat2 aku tutup applikasi pesannya dan kuletakkan hp nya persis seperti semula.
Baiklah, aku perlu sedikit ruang dan udara segar, pikirku
Tak lama mas kayon muncul, dia sudah mandi, wajahnya tampak segar, ujung2 rambutnya terlihat masih basah. Dia masuk, memakai kaosnya, lalu duduk di sampingku, diraihnya tanganku kepangkuannya.
“mandi udah, trus sekarang aku disuruh ngapain?” tanyanya dengan nada menggoda
“tidur aja lagi.”
“lha? Trus ngapain td disuruh mandi?” protesnya
“ngapain aja semalem? Begadang?”
aku balik nanya
“iya, begadang nonton sama ngerjain skripsi dikit2.”
“ya udah, tidur aja, aku mau jemput kakakku.”
Aku ngga bisa lagi menyembunyikan kekesalanku.
Aku berdiri dan memakai jaketku.
“kenapa Dy?kok kayaknya kesel?” rupanya dia membaca raut wajahku yg sedari tadi tanpa senyum
dan.ditekuk
“ngga apa2.” (so guys, kalau cewek bilang ngga apa2 itu artinya pasti ada sesuatu)
Aku hendak membuka pintu ketika dia menahan tanganku, dan menarikku pelan,
“boleh aku cium?”
“ngga usah.” Kutepiskan tanganku dari pegangannya dan segera keluar.
Lebaran pertama aku ngga nemenin dia karena menurutnya ada acara silahturahmi di kostan dengan temen2nya. Emang aku ngga deket dengan temen2nya di kampus atau pun di kostan.
Baru lebaran ke dua, aku nemenin dia. Dia minta di antar ke tempat saudaranya bekerja di luar kota Denpasar. Tapi ngga jauh2 amat, masih bisa ditempuh dengan motoran.
Dijalan pulang kami kehujanan. Tidak terlalu lebat tp cukup membuat kami basah.
“mau ganti pake celanaku,” katanya menawari begitu kami sampai di kostannya, memang ujung2 celana jeansku basah semua, seharusnya td aku gulung naik jd ngga akan kecipratan air.
“mana cukuplah mas, “ sahutku sambil menggulung naik ujung celanaku, lumayanlah yg basah jd ketutupan dengan bagian yg kering, jd ngga membuat kakiku kedinginan.
“udah,” kataku.
“gpp gitu aja?”
“iya, gpp.”
“ya udah, kamu tunggu bentar aku mau ngasiin ini ke anak2, mumpung mereka lagi pada ngumpul, “ dia membuka bungkusan2 yg td kami ambil dr tempat saudaranya.
“emang itu apa mas?”
“kue Dy, dititipin sm orang rumah.”
“oh, perhatian sekali ya.”
“ini dikirimin ibuku Dy.”
“oh...ya udah, aku mending pulang aja ya mas, ngga ada yg perlu aku bantuin lagi kan?”
“jangan pulang dulu, tunggu bentar aja, ngga lama kok.”
“bukan masalah lama atau ngga, biar mas bisa ngumpul2 juga sm mereka.”
“aku mah tiap hari ngumpulnya ya sm mereka, Dy. Pokoknya tunggu aku dulu.”
Dia lalu keluar sambil membawa beberapa bungkus kue dan cemilan khas lebaran.
Sambil nunggu mas Kayon aku duduk lesehan di atas kasur dipojokkan kamarnya, di sebelah kiriku pas dengan kisi2 udara, terasa udara dingin masuk melalui celah2nya. Dr sini juga bisa kulihat suasana di luar yg masih diguyur hujan. Dingin2 begini jadi ngantuk. Sejenak kupejamkan mata, sekedar menghilangkan rasa sepet mataku.
Kubuka mata ketika kudengar suara lagu. Ternyata mas Kayon udah ada dikamar, sedang duduk di depan laptopnya tak jauh dariku.
“mas...aku ketiduran ya?” tanyaku
Dia menoleh dan tersenyum. Dia menggeser duduknya mendekatiku.
“iya, baru ditinggal bentar aja udah ketiduran, sambil nyender gini pula, baringan aja ya.”
“ngga ah. Masih hujan ya di luar?” kucoba melihat dari kisi2, ternyata masih hujan diluar meski ngga terlalu deras.
“masih hujan, temenin disini dulu ya,” ujarnya lalu memelukku dari samping.
Beberapa kali diciuminya pipiku dengan lembut, dan terkadang telingaku juga dicumbunya.
“mas....” kupalingkan wajahku ke arahnya sehingga dia menghentikan ciumannya.
Dibelainya wajahku, dan dia mencium keningku sesaat, kemudian turun ke pipiku, bibirnya menyentuh daun telingaku lembut ketika dia membisikkan sesuatu
“aku disini Dy, bukan orang lain...jangan takut,” bisiknya, kurasakan kemudian bibirnya menyentuh bibirku, pelan dan lembut. Sedangkan kedua tangannya perlahan menarik tubuhku merapat ke tubuhnya.
Kucoba menikmati semua tanpa memikirkan apa pun, kuyakinkan pada diriku sendiri bahwa yg mencumbuiku ada lah orang yg aku sayangi dan aku menginginkannya.
Semakin lama mas Kayon menciumiku dengan berani, dia melumat lembut bibirku tanpa henti, nafasku mulai memburu karena hasrat. Kupeluk tubuhnya erat, ketika lidahnya mulai berani menyapu bibirku mendorong masuk memainkan lidahku.
Tiba2 dia menghentikan ciumannya, sedikit mendorong tubuhku dan menatap wajahku, sambil tersenyum. Kutangkupkan kedua tanganku di kedua pipinya. Memandang lekat ke matanya.
“aku cium lagi ya, tapi ngga boleh merem, kamu liat mataku, kalau kamu merem berarti kamu kalah, mau?” ujarnya setengah berbisik
“kalau aku bisa, aku dapat apa?”
“apa aja terserah kamu.” Ujarnya mulai mendekatkan wajahnya ke wajahku.
“kalau kalah?”
“terserah aku,” dia tersenyum, lalu memainkan ujung hidungnya ke hidungku. Lalu dengan cepat menyapu bibirku, melumatnya lembut awalnya, aku menahan agar mataku tidak terpejam, ternyata tidak mudah, aku juga harus mengimbangi ciumannya yg semakin berani. Menahan hasratku dan kenikmatan dari pagutan bibirnya, semakin membuat mataku berat. Mas Kayon menatap lekat mataku, tak melepaskannya sedetik pun. Ketika dia mulai meraih dan memainkan lidahku, aku ngga kuat menahan lagi, tanpa kusadari mataku reflek merem dan menikmati ciumannya yg semakin liar.
Aku mulai mendesah pelan ketika kurasakan bibirnya perlahan turun menciumi leherku. Bergerak naik, menyapu telingaku, dan kudengar dia berbisik lirih...
“kamu kalah...” lalu kembali di sapunya telingaku, tapi kali ini dengan sentuhan lidahnya. Aku mendesah pelan menahan rasa geli dan hasratku.
Dia menarik tubuhku, sehingga setengah tubuhku berasa di atas tubuhnya. Kupandang wajahnya yg berada di bawahku. Dan dengan cepat dia memeluk tubuhku dan berbalik membuat posisi menjadi terbalik, aku yg di bawah dan dia di atas, tubuhnya tak sepenuhnya menindihku sebagian ditumpukan pada kedua sikunya yg menahan di kedua sisi kepalaku.
Dia menciumiku lagi, masih dengan ritme yg sama, perlahan dan sangat lembut di awal2, kemudian menjadi sangat panas dan liar. Dan kurasakan bergantian kakinya membuka kakiku silih berganti sehingga kedua kakiku terbuka lebih lebar dan menindihku dengan pinggulnya.
Hentikan Dyan! Ini salah, jangan kebablasan! Hatiku memperingatkan.
Kupalingkan wajahku yg membuat ciumannya terhenti, tapi dia tidak berhenti. Leherku yang terpampang jelas dihadapannya kini menjadi sasaran ciumannya. Pelan tapi pasti ciumannya bergerilya menuruni leherku. Satu persatu kancing kemejaku terlepas, aku ngga ngerti gimana caranya dia membukanya, sewaktu aku sadar hampir setengahnya telah terbuka. He made me fly!
Kalau diumpakan sebuah sirine, otak dan hatiku seperti bekerja sama membunyikan sirene yg paling nyaring saat itu.
Kalau diibaratkan sebuah tamparan aku seperti ditampar berkali2 oleh jeritan2 di kepalaku yg tiada henti meneriakkan kata, BERHENTI, CUKUP!!!
“MAS, CUKUP!! SUDAH!" Bergetar kata2 itu terucap nyata dalam suaraku, kuangkat wajahnya dan kudorong tubuhnya dengan sisa tenagaku.
Kukancingkan kembali kemejaku dan mengatur nafasku yg hampir habis.
Tiba2 dia memelukku.
“maaf..aku hilang kendali,” ujarnya lirih di telingaku.
Kulepaskan pelukannya.
“asal jangan sering2 hilang kendali,” ujarku menggodanya.
Aku memang tidak marah, karena ini tidak sepenuhnya salah mas kayon, aku pun punya andil besar dalam kesalahan ini.
Dia tersenyum kecut, “i promise you...”
“Mas, you can kiss me, you can touch me as you like, i allow you, but not more than that!”
Dia diam dan kemudian memelukku lagi, “sorry...really sorry,” bisiknya lirih.
Hanya perempuan itu sendiri yg bisa menjaga kehormatannya. Jangan menyalahkan lelaki, karena dalam kondisi ‘high’ jarang di antara mereka yg bisa berpikir lurus. Perempuanlah yg harus memegang kendali.
*******
Setelah kejadian sore itu, aku merasa Mas Kayon lebih menjaga sikapnya. Tidak lagi main peluk dan cium, hanya sebatas menggenggam tanganku saja, atau sebuah kecupan di kening setiap aku pamit pulang, itu pun selalu diawali dengan pertanyaan, boleh aku cium? Kadang2 aku merasa geli sendiri dengan sikapnya yg berubah drastis. Tapi aku senang, dengan begitu kami memiliki hubungan yg lebih berkualitas yg tidak hanya sebatas sentuhan fisik saja.
Siang ini aku diminta menjemput kakakku di tempat kerjanya dan di saat yg bersamaan aku pun sudah terlanjur berjanji datang ke tempat Mas Kayon. Untungnya kuliah hanya sampe jam 10 pagi, jadi sebelum pulang aku mampir ke kostannya sebentar.
“baru bangun?” tanyaku heran ketika dia membukakan pintu dengan wajah kusut dan rambut acak2an
“hheemmm...” Hanya itu sahutannya sambil menarikku masuk ke dalam kamarnya dan kembali menutup pintu.
“tidur lagi ya..” dia hendak berjalan ke arah kasur, ketika kutarik tangannya, dan kubukakan pintu. Kudorong dia keluar
“Mandi sana!” perintahku sambil menahan badannya agar tetap di luar kamar
“Dy...ngantuk..” rengeknya, merengsek di pintu.
“ngga! Mandi dulu, “ ujarku kekeh, dengan menahan badannya.
“iya...iya.. iyaaaa....” akhirnya dia mengalah, dan berjalan ke kamar mandi.
Seperti biasa kalau aku dikostannya mas kayon pasti mainan sama laptopnya. Karena hanya ini benda yg paling menarik buat di utak atik. Kuputar lagu yg sudah ada di playlist nya mas kayon.
Kemudian mataku tertarik dengan hp mas kayon yg tergeletak di samping laptopnya. Tanpa ragu, aku ngga berpikir kalau buka2 hp orang itu ngga sopan, aku hanya merasa ngga salah kok kalau aku buka hpnya, dia kan cowokku. Karena aku pun ngga pernah ngelarang mas kayon buka2 hp ku.
Kubuka inbox nya, ada banyak pesan dariku. Dan paling bawah ada beberapa pesan tanpa nama, hanya nomornya yg tertera di sana. Iseng aku buka. Aku membacanya berulang2, ini beneran?
Isinya benar2 menohokku.
Sms 1 mas aku pengen sekali ketemu, kangen...
Sms 2 iya ini aku juga berusaha sabar ngejalanin hubungan seperti ini...
Sms3 ..........
Sms 4 .............
Sms 5 ...............
Isinya kurang lebih seperti itu, perasaan kangen, galau...dsb
Cepat2 aku tutup applikasi pesannya dan kuletakkan hp nya persis seperti semula.
Baiklah, aku perlu sedikit ruang dan udara segar, pikirku
Tak lama mas kayon muncul, dia sudah mandi, wajahnya tampak segar, ujung2 rambutnya terlihat masih basah. Dia masuk, memakai kaosnya, lalu duduk di sampingku, diraihnya tanganku kepangkuannya.
“mandi udah, trus sekarang aku disuruh ngapain?” tanyanya dengan nada menggoda
“tidur aja lagi.”
“lha? Trus ngapain td disuruh mandi?” protesnya
“ngapain aja semalem? Begadang?”
aku balik nanya
“iya, begadang nonton sama ngerjain skripsi dikit2.”
“ya udah, tidur aja, aku mau jemput kakakku.”
Aku ngga bisa lagi menyembunyikan kekesalanku.
Aku berdiri dan memakai jaketku.
“kenapa Dy?kok kayaknya kesel?” rupanya dia membaca raut wajahku yg sedari tadi tanpa senyum
dan.ditekuk
“ngga apa2.” (so guys, kalau cewek bilang ngga apa2 itu artinya pasti ada sesuatu)
Aku hendak membuka pintu ketika dia menahan tanganku, dan menarikku pelan,
“boleh aku cium?”
“ngga usah.” Kutepiskan tanganku dari pegangannya dan segera keluar.
pulaukapok memberi reputasi
1