Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#216
PART 31

Pukul tujuh malam. Gue masih berkutat dengan laporan yang gue kerjakan dari tadi sore. Luther? Dia akhirnya berangkat bersama Bull. Udah hampir dua jam mereka berdua pergi. Katanya sih cuma mau periksa kondisi rumah, tapi enggak tau juga kenapa sampai selama ini.

“Masih belum selesai, Bang?” tanya Yansa berbaring di sebelah gue.
“Belum, nih.” Gue pukul-pukul bahu gue yang mulai tegang, “Ngomong-ngomong makasih ya tadi udah dibantuin, Yan.”
“Halah, kayak sama siapa aja lo, Bang.”
“Ya enggak, gue kira selain soal cewek lo tuh amatir. Eh, enggak taunya ternyata lo berguna juga.”
“Sialan lo, Bang,” keluh Yansa terkekeh.

Sambil saling lempar hinaan sama Yansa, gue masih sibuk mengerjakan laporan. Yang lain? Kayaknya lagi di kamar. Sasha, Echa dan Maya ngerumpi sambil terkadang terdengar tawa mereka. Si Cassie, kayaknya lagi mandi. Belum lama tadi dia lewat bawa tas mandi sama handuk. Melly? Dia lagi ngelihatin gue. Bener-bener lagi ngelihatin gue dari arah pintu kamar cewek.

“Kenapa lo, Mell?” sapa gue.

Belum ada sepersekian detik gue menunggu jawaban dari Melly, Dinda masuk ke dalam rumah dan langsung gebrak-gebrak meja tengah yang lagi gue pake kerja.

“Yansa!” serunya masih mukul-mukul meja. “Yansa…!”
“Oi… oi…!” seru gue. “Kalem, dong.”
“Kenapa lo, Din?” sahut Yansa. “Ada masalah?”
“Masalah gede!” kata Dinda terlihat kesal. “Laptop lo?! Laptop lo mana?”
“Di kamar baru gue charge,” jawab Yansa. “Kenapa, sih?”
“Buruan bikin power point!”
“Power point? Power point apaan?”
“Program kerja individu kita!”
“Iya…, program kerja kita kenapa?”
“Besok dipake!” kata Dinda masih dalam keadaan enggak karuan. “Besok pagi tuh ternyata anak-anak pulang dari penyuluhan di kelurahan.”
“Anak-anak?” timpal gue. “Anak-anak siapa?”
“Ya anak-anak dari desa inilah, Bang,” jawab Yansa duduk dari tidurnya.
“Lhah, yang tadi gangguin kita penyuluhan itu? Bukannya itu anak-anak desa sini?”
“Temen-temennya, Bang,” lanjut Yansa bangkit dari duduknya.

Tunggu, jadi masih ada lagi anak-anak badung yang lain?! Anak-anak badung yang kemungkinan lebih badung dari yang tadi?

“Buruan kerjain!” keluh Dinda mendorong Yansa. “Kerjaan kita banyak banget, nih.”
“Iya….” Yansa langsung berjalan ke kamar menuju laptopnya, “Kampret… kampret, lembur deh malem ini.”

Belum jadi selesai gue menyadari keadaan yang berbalik mengerikan gara-gara kedatangan anak-anak badung, kejadian baru dateng lagi. Tiba-tiba Melly duduk di samping mengagetkan gue.

“Dawi!”
“Ini bisa enggak ya anak unit ini kalo nyapa enggak perlu ngagetin gini?” keluh gue. “Jantungan gue lama-lama.”
“Gue enggak suka ya kalo lo deket-deket sama Cassie!” kata Melly tiba-tiba “Gue minta lo jauhin Cassie dari sekarang!”
“H-heh? Jauhin Cassie?”
“Iya! Jauhin Casssie!”
“M-maksudnya gimana, ya?”
“Kelakuan lo tadi sore, lo pikir gue enggak tau?!”

Tunggu, apa mungkin si Melly lihat gue jalan sama Cassie terus dia salah paham? Kalo iya itu yang dia permasalahkan berarti jelas-jelas salah paham, dong? Tapi kan kita cuma jalan doang. Itu pun gue minta tolong buat bantuin gue angkat file gara-gara dia ninggalin gue sendirian. Tunggu dulu! Apa jangan-jangan si Melly ini orangnya posesif?! Sampai jalan sebelahan aja engggak diperbolehin?

“T-tunggu, Mell,” kata gue mencari kata-kata yang tepat. “Masalah salah paham ini–”
Belum jadi gue menjelaskan perihal masalah Cassie dan gue, masalah yang lebih baru dateng lagi. Dari kejauhan terdengar seruan Luther dan Bull sambil berlari ke arah rumah.

“ABANG…! TOLONGIN KITA, BANG!” seru Luther dari kejauhan.
“T-tolong?” gumam gue. “Tolong apaan?”
“RUMAHNYA PAK MAIF ROBOH, BANG!”

Mampus! Masalah apalagi ini.

End of Chapter Four

Diubah oleh dasadharma10 18-12-2017 17:20
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.