- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.5K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.9KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#215
PART 30
Enggak begitu lama setelah Melly meninggalkan gue sendiri di lincak dekat rumah pak Slamet, Cassandra lewat. Awalnya gue kira dia sengaja nyusulin gue karena dimintain tolong sama Melly. Tapi setelah gue sadar kalo dia jalan lurus ke arah rumah unit tanpa menyadari keberadaan gue, barulah gue sadar dia bener-bener cuma sekedar lewat doang.
“Ah, Cassie,” panggil gue.
“Ya?” Cassie memperhatikan sekeliling gue. Begitu sadar gue berada di tempat itu sendirian, barulah dia memiringkan kepala dan berkata, “Abang ngapain di sini sendirian?”
“Lagi nungguin S.O.S.”
Gue meminta bantuan Cassie buat bawa file-file bekas penyuluhan. Meskipun agak canggung karena terakhir kali gue ngobrol sama dia agak awkward, dia tetap mau bantuin gue.
Ritualnya sama, kayak kebanyakan orang yang sempat nyakitin perasaan orang lain, gue minta maaf soal kemarin, dan kemudian dengan santai dia maafin gue sambil bilang buat lupain kejadian kemarin.
Normal kan? Ya, normal banget. Bahkan kalo dilihat sekilas tuh kita enggak bakalan percaya kalo dia itu lesbian. Tapi begitu gue ngobrol lebih jauh, gue baru merasakan perbedaannya. Perbedaan yang berasal dari suara dia. Waktu ngomong yang keluar suara laki? Enggak, bukan kayak gitu. Mana mungkin cewek sebening dia waktu ngomong ngebass gede banget, “Sorry ya suara gue ngebass, Bang.”
Enggak, suara dia enggak mirip suara cowok sama sekali. Yang gue maksud berbeda dari suaranya adalah intonasi. Mirip kayak kebanyakan temen-temen cowok gue, dia ngomong dengan penekanan kata yang sama persis kayak gue. Bahkan enggak cuma itu, pemilihan kata sewaktu ngobrol pun terdengar lebih maskulin daripada suara Luther waktu berada di depan Dinda.
Entahlah, gue bener-bener bingung harus bersikap kayak gimana sewaktu jalan sama dia. Fisiknya cewek, cakep banget, dilihat sekilas feminim banget. Tapi begitu lo ngobrol tanpa melihat dia tuh berasa ngobrol sama cowok maskulin yang suaranya ke cewek-cewekan.
Jelas-jelas suaranya beda gini dari cewek-cewek lain, tapi kenapa gue baru sadar, ya? Kemana aja gue kemarin-kemarin?
“Bang!” seru suara Luther dari arah rumah unit.
Begitu gue fokuskan pandangan, terlihat dia melambaikan tangan ke arah gue. Bener-bener kayak bencong yang minta dijamah.
“Bantuin gue, yok!” ajaknya sewaktu memakai sepatu.
“Mau ngapain?” tanya gue.
“Renovasi rumah warga.”
“Renovasi rumah warga? Enggak salah?”
“Ye…, ya enggaklah. Gue kan anak arsitektur, Bang” kata Luther penuh percaya diri. “Jangan suka raguin kemampuan ahlinya gitu, ah.”
“Iya… iya,” kata gue manggut-manggut. “Tapi harus sore-sore gini? Bentar lagi maghrib, lho.”
“Ya maka dari itu, kita periksa dulu.”
“Bang ini gue taruh dalem aja kali, ya?”
“Oh… iya, Cass,” kata gue pada Cassie yang terlupakan berada di samping gue. “Makasih ya udah repot-repot bantuin.”
“Sama-sama, Bang.”
“Lo ajak si Bull aja gih sana,” kata gue memutar-mutar leher. “Badan gue pegel-pegel ini. Mana abis ini gue masih harus nulis laporan habis lagi.”
“Yaelah, Bang–”
“Halah…, udah sana.” Gue lanjutkan langkah gue memasuki rumah unit, “Orang cek doang, kan? Besok waktu programnya jalan seratus persen baru gue bantuin.”
“Janji lho, ya?”
“Tenang aja,” jawab gue sambil nyengir. “Laki tuh yang dipegang omongannya.”
Enggak begitu lama setelah Melly meninggalkan gue sendiri di lincak dekat rumah pak Slamet, Cassandra lewat. Awalnya gue kira dia sengaja nyusulin gue karena dimintain tolong sama Melly. Tapi setelah gue sadar kalo dia jalan lurus ke arah rumah unit tanpa menyadari keberadaan gue, barulah gue sadar dia bener-bener cuma sekedar lewat doang.
“Ah, Cassie,” panggil gue.
“Ya?” Cassie memperhatikan sekeliling gue. Begitu sadar gue berada di tempat itu sendirian, barulah dia memiringkan kepala dan berkata, “Abang ngapain di sini sendirian?”
“Lagi nungguin S.O.S.”
Gue meminta bantuan Cassie buat bawa file-file bekas penyuluhan. Meskipun agak canggung karena terakhir kali gue ngobrol sama dia agak awkward, dia tetap mau bantuin gue.
Ritualnya sama, kayak kebanyakan orang yang sempat nyakitin perasaan orang lain, gue minta maaf soal kemarin, dan kemudian dengan santai dia maafin gue sambil bilang buat lupain kejadian kemarin.
Normal kan? Ya, normal banget. Bahkan kalo dilihat sekilas tuh kita enggak bakalan percaya kalo dia itu lesbian. Tapi begitu gue ngobrol lebih jauh, gue baru merasakan perbedaannya. Perbedaan yang berasal dari suara dia. Waktu ngomong yang keluar suara laki? Enggak, bukan kayak gitu. Mana mungkin cewek sebening dia waktu ngomong ngebass gede banget, “Sorry ya suara gue ngebass, Bang.”
Enggak, suara dia enggak mirip suara cowok sama sekali. Yang gue maksud berbeda dari suaranya adalah intonasi. Mirip kayak kebanyakan temen-temen cowok gue, dia ngomong dengan penekanan kata yang sama persis kayak gue. Bahkan enggak cuma itu, pemilihan kata sewaktu ngobrol pun terdengar lebih maskulin daripada suara Luther waktu berada di depan Dinda.
Entahlah, gue bener-bener bingung harus bersikap kayak gimana sewaktu jalan sama dia. Fisiknya cewek, cakep banget, dilihat sekilas feminim banget. Tapi begitu lo ngobrol tanpa melihat dia tuh berasa ngobrol sama cowok maskulin yang suaranya ke cewek-cewekan.
Jelas-jelas suaranya beda gini dari cewek-cewek lain, tapi kenapa gue baru sadar, ya? Kemana aja gue kemarin-kemarin?
“Bang!” seru suara Luther dari arah rumah unit.
Begitu gue fokuskan pandangan, terlihat dia melambaikan tangan ke arah gue. Bener-bener kayak bencong yang minta dijamah.
“Bantuin gue, yok!” ajaknya sewaktu memakai sepatu.
“Mau ngapain?” tanya gue.
“Renovasi rumah warga.”
“Renovasi rumah warga? Enggak salah?”
“Ye…, ya enggaklah. Gue kan anak arsitektur, Bang” kata Luther penuh percaya diri. “Jangan suka raguin kemampuan ahlinya gitu, ah.”
“Iya… iya,” kata gue manggut-manggut. “Tapi harus sore-sore gini? Bentar lagi maghrib, lho.”
“Ya maka dari itu, kita periksa dulu.”
“Bang ini gue taruh dalem aja kali, ya?”
“Oh… iya, Cass,” kata gue pada Cassie yang terlupakan berada di samping gue. “Makasih ya udah repot-repot bantuin.”
“Sama-sama, Bang.”
“Lo ajak si Bull aja gih sana,” kata gue memutar-mutar leher. “Badan gue pegel-pegel ini. Mana abis ini gue masih harus nulis laporan habis lagi.”
“Yaelah, Bang–”
“Halah…, udah sana.” Gue lanjutkan langkah gue memasuki rumah unit, “Orang cek doang, kan? Besok waktu programnya jalan seratus persen baru gue bantuin.”
“Janji lho, ya?”
“Tenang aja,” jawab gue sambil nyengir. “Laki tuh yang dipegang omongannya.”
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
