Hai gan, ini dia episode 35 nya...
Episode ini adalah episode terakhir di tahun 2017 ya gan, karena Bimo mau libur dulu
...
ya gan...
Jangan lupa untuk kunjungi Blog The Banker ya gan...
Versi buku dan E-Book dari The Banker juga sudah terbit gan. Isinya kompilasi cerita The Banker plus cerita dan karakter baru yang ga akan ditemukan di versi kaskus atau blog. Klik link dibawah ini untuk info lebih lanjut dan pemesanan ya:
Selasa, 9 pagi.
Udin: “Pak Bimo!!!”
Bimo: “Apaan sih? Ngagetin aja lo…”
Udin: “Liat nih Pak…”
Udin terlihat ngos – ngosan dan memperlihatkan layar HPnya ke Bimo. Terlihat sebuah halaman
websiteberita yang cukup terkenal dan terpampang sebuah foto yang familiar…
Bimo: “Itu si…”
Udin: “Iya Pak… SHARLAAA!!!”
Orang – orang menoleh ke arah Bimo karena mendengar teriakan Udin.
Bimo: “Woi kalem – kalem… Coba gw baca…”
Isi berita itu adalah tentang sebuah
start-up yang sedang heboh karena jumlah
download appsnya sudah mencapai lebih dari 1 juta
download.
Start-up itu bernama
BalaBala dan yang di
interview di berita itu adalah Sharla sebagai
Head of Marketing…
Bimo: “Wuih hebat ya… Masih muda banget si Sharla dan orang – orang di
start-up ini, tapi mereka udah bisa sukses kaya gini…”
Udin: “Sharla Pak… Sharla…”
Bimo: “Iyeee… Iyeee…”
Udin: “Saya harus gimana Pak?”
Bimo: “Lah emang mau gimana?”
Udin: “Itu Sharla Pak…”
Bimo: “Elah deh… Mending lo wudhu sono gih trus sholat dhuha… Biar gila lo berkurang dikit…”
Udin pun berjalan menjauhi Bimo sambil masih menyebut – nyebut nama Sharla…
“Ya Allah, semoga ga gila beneran itu anak…” batin Bimo.
Bimo kembali bersandar di bangkunya dan memandangi layar komputernya yang berisi email – email yang sama sekali tidak menarik bagi Bimo. Membaca kesuksesan orang – orang muda seperti Sharla dan
start-upnya selalu membuat Bimo menghela nafas.
Bimo menghela nafas karena dia membandingkan dengan hidup dia dan prestasi apa yang sudah dia capai selama ini. Dulu jaman kuliah, yang Bimo tau adalah gimana caranya bisa dapat kerjaan di perusahaan besar dan ternama. Logika Bimo waktu itu adalah, kalo udah bisa kerja di perusahaan besar dan ternama, berarti hidup lo bakal terjamin sampai tua.
Tapi kenyataannya ga begitu. Saat Bimo berhasil masuk di perusahaan besar, Bimo justru merasa hidupnya melambat. Bimo harus masuk ke sebuah sistem yang begitu kompleks dan semuanya serba teratur.
Di satu sisi bagus sih kalo semuanya teratur, berarti Bimo tinggal fokus ke gimana caranya kerja sebagus mungkin supaya karirnya bisa maju terus. Tapi lagi – lagi kenyataannya ga begitu. Bimo merasa selama ini udah bekerja sebaik mungkin, tapi yang namanya dapat promosi atau bahkan apresiasi aja susahnya minta ampun. Semua berjalan statis selama bertahun – tahun.
Mau seheboh apapun perusahaan mengumandangkan yang namanya perubahan, tapi tetep aja yang dirasakan karyawan kaya’ Bimo hampir ga ada…
Huuuufffff…
Bimo cuma bisa menghela nafas. Bimo sadar kalo terlalu naif bagi dia untuk berharap bakal ada perubahan di perusahaan yang sudah
settle seperti ini…
Mengapaaaaaaaaaaa… Aku beginiiiiiii…
Jangan kaaaauuuu… Mempertanyakaaaaaannnn…
Tuh Naif… -Broto, Narator.
Tiba – tiba HP Bimo bergetar. Terlihat di layar HP Bimo terpampang nama… Sharla!!!
Bimo: “Halo…”
Sharla: “Halo Pak Bimo… Ini Sharla…”
Bimo: “Hi Shar, panjang umur lo… Baru aja kita omongin disini…”
Sharla: “Hah masa’ sih?…”
Bimo: “Kita baru baca artikel tentang
start-up lo nih… Trus yang di
interview elo pula… Keren banget lo…”
Sharla: “Hehehe biasa aja Pak…”
Bimo: “
By the way, ada apa ya?”
Sharla: “Mmm gini Pak… Sori kalo tiba – tiba telepon… Jadi ditempatku ini kan organisasinya masih
growing, dan kita butuh orang yang bisa desain
business process and document them… Dan aku langsung ingat Pak Bimo…”
Bimo: “Oh ya…”
Sharla: “Jadi mmm… Kira – kira Pak Bimo tertarik ga untuk ketemu CEO kita untuk
explore opportunitynya?”
Bimo terdiam sejenak…
Sharla: “Sebenernya ini urusannya HR sih Pak untuk
recruitment… Tapi karena aku langsung inget Pak Bimo jadi tadi aku langsung ngomong ke CEO ku dan dia bilang mau ketemu… Jadi gimana Pak?”
Bimo: “Mmm ini serius Shar? Emang dari segi umur gw masih masuk buat di tempat lo? Bukannya
start-up semuanya masih muda – muda ya?”
Sharla: “Hahahaha… Pak Bimo bisa aja… Umur itu cuma angka Pak… Yang penting jiwanya… Pak Bimo mah masih muda dan jiwanya juga kelihatan masih muda banget…”
Diameter kepala Bimo sedikit membesar sekitar 2 cm.
Bimo: “Hehehe boleh kalo gitu… Kapan mau ketemunya?”
Sharla: “Kalo bisa sih secepatnya Pak… Besok bisa?... Jamnya terserah Pak Bimo…
After office juga boleh… Kita biasanya
hang out di kantor sampe malem kok…”
Bimo: “Ya udah besok boleh deh… Jam 7 malem gimana?... Jadi ga buru – buru, sempet sholat magrib dulu…”
Sharla: “Boleh Pak… Nanti aku WA alamatnya ya… Makasih banget ya Pak…”
Bimo: “Sama – sama Shar… Gw yang harusnya makasih banget…”
Sharla: “Mmm Pak Bimo besok datang sendiri kan?”
Bimo: “Mmm kenapa emang?”
Sharla: “Sendiri kan Pak ya?”
Sharla sepertinya ingin sekali memastikan kalo Bimo datang sendiri…
Bimo: “Mmm iya sih palingan… Emang kenapa Shar?”
Sharla: “Mmm si “itu” ga ikut kan Pak?”
Bimo: “Itu?”
Sharla: “Si “itu” Pak… Anak magang…”
Bimo: “Oooo Si Udin???!!!... Hahahaha ngga lah… Ngapain juga dia ikut…”
Sharla: “
Fiuuuh thank God Pak…”
Bimo melirik ke arah Udin dan Udin tampak memandang Bimo dengan tajam karena mendengar namanya disebut…
Pandangan Bimo dan Udin pun bertemu…
Bimo: (dalam hati) “Yah dia ngeliat kesini lagi…”
“PAIT… PAIT… PAIT… PAIT… PAIT…”
Udin kembali menghadap komputer.
Bimo: (dalam hati) “Amaaaan…”
“Ya udah Shar kalo gitu… Sampe ketemu besok ya…”
Klik
Instagram:
@commura.id
Rabu, 6.30 malam.
Bimo turun dari ojek di depan gedung kantor
BalaBala. Kantornya terletak di lantai 27 sebuah gedung di daerah Kuningan. Bimo langsung menaiki lift.
Keluar dari lift, Bimo melihat sebuah pintu kaca yang ditempeli stiker besar bertuliskan
BalaBala.
“Nah itu dia kantornya…” batin Bimo.
Bimo pun membuka pintu kaca dan disambut dengan ramah oleh resepsionis.
Resepsionis: “Selamat malam… Ada yang bisa dibantu Pak?”
Bimo: “Mmm saya ada janji
interview…”
Resepsionis: “Oh kemarin
contact nya dengan siapa ya?”
Bimo: “Dengan Sharla…”
Resepsionis: “Ok silakan duduk dulu ya Pak…”
Bimo pun duduk dan melihat sekitar. Ruangan dicat warna hijau muda dan terlihat begitu segar… Beberapa sisi temboknya dilukis dengan motif – motif abstrak yang Bimo sendiri ga ngerti bagusnya dimana…
“Hai Pak Bimo…”
Bimo: “Hai Sharla…”
Sharla: “
Welcome to our office Pak… Kebetulan Dennis masih ada
concall, jadi kita duduk di dalam aja yuk sambil aku kasih
quick tour of the office…”
Bimo: “Ok…”
Semalam Bimo menyempatkan diri mencari tau tentang CEO dari
BalaBala yang bernama Dennis Lionel Juventino.
Millenials banget kan namanya. Untuk sesaat Bimo mengira kalo dia orang luar negeri, tapi ternyata Indonesia asli.
Di akun LinkedIn nya, terlihat Dennis berusia jauh dibawah Bimo. Tapi dari segi pendidikan, jauh diatas Bimo. Dennis adalah lulusan dari Oxford University di Inggris dengan nilai
cum laude.
Sebenarnya ga beda jauh sih sama Bimo… Bimo juga lulusan Oxford…
Oxford English Course di Benhil…
Sharla: “
Ini working space kita Pak…”
Sharla menunjuk ke ruangan yang tertutup kaca. Didalamnya terlihat meja – meja yang saling berdempetan tanpa sekat… Terlihat beberapa orang masih bekerja dan semua menggunakan laptop. Terlihat juga semua mejanya bersih tanpa ada banyak barang – barang…
Pemandangan yang sangat berbeda dengan tempat kerja Bimo sekarang yang penuh dengan
cubicle bersekat dimana biasanya diisi oleh barang – barang pribadi yang sama sekali ga ada hubungannya dengan pekerjaan, mulai dari foto keluarga, alat catokan rambut, sampe koleksi
HotWheels pun ada di cubicle – cubicle itu.
Sharla: “Nah kalo ini
social area plus game room kita…”
Nah ini dia…
Ini dia yang “
start-up” banget…
Apalah jadinya sebuah
start-up tanpa
game room…
Mana mau anak jaman sekarang kerja di tempat yang ga ada
game room nya…
Anak jaman sekarang kayanya mendingan kerja di tempat yang ga ada toiletnya daripada yang ga ada
game room nya…
“Pake popok dewasa juga gapapa deh… Yang penting ada
game room nya…” begitu mungkin pemikiran anak jaman sekarang.
Interior di ruangan yang cukup besar itu begitu berwarna… Ada
dispenser soft drink di pojok ruangan dan sebuah meja biliar di tengah – tengahnya. Di sisi lain ruangan terdapat TV layar datar berukuran besar dan dibawahnya terpasang XBOX, Nintendo Wii, dan PS4.
Dan satu lagi yang
start-up banget, di seluruh penjuru ruangan itu tersebarlah
bean bag sebagai tempat duduk favorit kaum
milenials….
Beberapa orang terlihat duduk di
bean bag itu sambil memangku
laptop dan memakai
headphone berukuran besar.
Benar – benar pemandangan yang
millennials sekali…
Bimo dibawa ke ruangan berikutnya…
Sharla: “Ok Pak tunggu sebentar disini ya… Nanti CEO kita akan datang kesini… Itu ruangan CEO kita disana…”
Sharla menunjuk ke arah pojok ruangan dan Bimo pun terkejut… “Ruangan” CEO yang ditunjuk Sharla bahkan bukan sebuah ruangan, cuma sebuah meja yang cukup besar tanpa pintu atau sekat…
Ini beda banget dengan “ruangan boss” yang selama ini Bimo tahu. Di tempat Bimo bekerja sekarang dan sebelumnya, yang namanya “ruangan boss” itu udah pasti benar – benar ruangan dengan pintu sendiri…
Jangankan CEO, level Head aja udah punya ruangan sendiri lengkap dengan meja kerja besar dan kursi pejabat yang memberi kesan “angker” buat siapapun yang masuk ke ruangan itu…
No wonder kalo mereka suka merasa “Dewa” banget…
Tidak berapa lama terlihat seorang laki – laki yang mendekati Bimo.
“
Hi Mr. Bimo right?... I’m Dennis… Really nice to meet you…”
Bimo: “Oh iya Pak…”
Dennis: “Panggil Dennis aja bos… Santai aja…
I’ve heard so many great things about you from Sharla…”
Interview pun dimulai dengan pertanyaan – pertanyaan standar dan Dennis menceritakan bagaimana dia memulai
start-up ini dan apa visinya ke depan.
Beberapa menit Bimo ngomong sama Dennis, Bimo langsung tau kalo Dennis bukan orang sembarangan…
“Ini baru
millennials kelas tinggi… Bukan kelas KW yang kerjanya cuma
selfie ama
upload foto makanan doang…” pikir Bimo.
Dennis: “
As you can see, culture kita disini cukup santai… Ga ada jam kerja yang
fix dan ga ada aturan mengenai baju kerja…
But that doesn’t come for free… Disini semua memang dituntut untuk menyelesaikan pekerjaan dengan kualitas
way above average, whatever it takes… Termasuk kalo itu mengharuskan kerja sampe malam, atau bahkan ga pulang…
Or maybe on weekend… Dan untuk sekarang saat kita lagi
grow quite fast, hal kaya gini bisa terjadi tiap hari…
Are you up for that?”
Bimo kaget tiba – tiba ditembak begitu…
Bimo: “
Yeaa sure... I’m fine with that…”
Bimo pun terpaksa berbohong.
Dennis: “
And if you can see, anak – anak disini itu kaya’ menyatu banget sama kantor… Mereka bisa disini sampe malem cuma untuk
hang out dan main… Kaya’ pada ga mau pulang mereka… Hahahaha…”
Bimo menoleh ke arah
game room. Terdengar musik – musik EDM masa kini dari DJ ternama dan terlihat beberapa orang memang masih semangat banget ngobrol dan ketawa – ketawa walaupun sudah lumayan malam. Mereka masih terlihat segar dan terus mengunyah
snack – snack penuh MSG yang sudah pasti bikin bego dan bikin cepet mati.
Dramatis… -Broto, Narator.
Interview pun selesai dan Bimo pamit ke Dennis & Sharla. Di bawah, Bimo tidak langsung pulang. Bimo memilih duduk dulu di warung sambil minum teh botol untuk bengong sejenak.
Masalah terbesar Bimo dengan
interview tadi adalah soal ekspektasi untuk kerja sampe malem, ga pulang, dan kerja
weekend…
“Trus keluarga gw gimana? Kan gw mau ketemu anak gw tiap malem… Ntar kalo anak gw ga ngenalin gw karena jarang ketemu gimana? Siapa yang mau tanggung jawab?” Bimo bertanya dalam hati.
Belum lagi dengan kebiasaan disana yang suka nongkrong di kantor sampe malem walaupun pekerjaan sudah selesai. Bimo kayanya ga bisa ngikutin budaya kaya’ gitu.
Setiap jam 6 sore, pikiran Bimo udah di rumah... Jam 7, ngantuk mulai menyerang bertubi – tubi… Dan pastinya Bimo dah ga berani makan
snack MSG banyak – banyak karena berbagai penyakit sudah mengintai…
Dan yang terakhir… Bimo ga bisa ngerti sama yang namanya musik – musik DJ masa kini. Bimo lebih suka dengerin musik yang dibikin pake alat musik, bukan dari laptop dan muter – muter kenop…
Huuuuffff...
Bimo menghela nafas…
Bimo pun merasa kalo dia ga akan cocok kerja di lingkungan
start-up kaya tadi. Mungkin emang udah ga masanya aja… Bimo lebih cocok kerja yang stabil aja, walaupun ga naik – naik pangkat…
“Yang penting masih bisa sering pulang cepet lah…” batin Bimo
.
Bimo pun sekarang mengerti kenapa para anak – anak muda ini bisa jadi sukses. Disaat anak muda lain sibuk
selfie dan nongkrong – nongkrong, anak muda kaya’ Dennis memimpin sebuah perusahaan dan menciptakan sesuatu yang hebat buat orang lain.
Bimo pun kagum sama Dennis…
Bimo pengen punya posternya Dennis dan dipasang di tembok rumahnya…
Ah elah… Harus ya lebay begitu… -Broto, Narator.
Bimo membayar teh botolnya dan beranjak pulang…
Bersambung…