- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.5K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.7KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#33
Part 24 Blind Love 3
Sebelum maghrib aku sudah sampai di depan kostannya mas Kayon. Kutebak dia baru saja bangun tidur ketika membukakan pintu untukku.
“baru bangun?”
“hehehehe... “ dia malah cengengesan,”bentar aku mandi dulu ya.”
********
Aroma wangi sabun menyeruak ketika dia duduk di sebelahku seusai mandi.
“udah buka?” tanyaku
“hm..kayaknya blom deh.”
“aku beliin air minum, ada kolak, sama es buah buat buka.”
“wah makasi banyak ya Dy.” Wajahnya sumringah banget liat makanan yg aku bawa.
“biarpun jutek ternyata kamu perhatian banget ya,” ujarnya menahan senyum
“harus ya pake nge bully dulu baru di puji?!?”
Dia tertawa sambil menguyel2 lembut kepalaku.
“eh udah adzan tuh,” dia tampak serius sambil menggeser duduknya mendekat ke kisi2 di tembok di sebelahnya.
“iya, udah buka tuh, kedengaran kok adzannya, ngga usah ditempelin gitu kupingnya,” ujarku geli melihat tingkahnya.
“alhamdulillah...” ujarnya berucap syukur.
“kamu makan juga, “ katanya mulai mencicipi kolak yg aku bawa setelah dia meminum beberapa teguk air putih.
“ngga, itu kan buat mas, lagian aku udah makan td,” tolakku.
Aku duduk di atas kasurnya, buka laptopnya, memutar lagu.
“udah sampe mana skripsinya mas?” tanyaku iseng ingin tahu perkembangannya
“masih bab 3, kemarin bimbingan banyak yg direvisi. Ada beberapa data yg kurang. Makanya lagi mikir ini gimana caranya cari data lagi, mesti balik ke lapangan, butuh dana juga. “
“pulang aja sekalian lebaran, abis lebaran kan bisa cari data lagi,” usulku
“aku ngga pulang lebaran ini,” sahutnya
“lho, kenapa?”
“ngga aja, baru aja dateng masa udah mudik lagi, sekalian biar irit. “
“trus lebaran di sini aja?”tanyaku
Dia tidak menyahuti pertanyaanku, selesai makan lgs duduk di belakangku, tangannya lagi2 melingkar di pinggang, memelukku.
“mas...” aku mencoba protes, tapi dia malah mengetatkan pelukannya.
“please biarin aja, aku senang seperti ini, tenang rasanya,” sahutnya.
Akhirnya kubiarkan saja dia memelukku.
“cari makan malem yuk,” ajakku kemudian
“ntar aja, blom laper,” tolaknya
“beneran ngga laper? Kan abis puasa, masa ngga laper, atau jangan2 td puasanya bolong2 ya?”
“ Ngga Dy... puasa penuh kok, itu kolaknya udah bikin lumayan kenyang , ntar maleman aja makannya. Lagian juga masih pengen meluk kamu.”
“yah udah, terserah mas aja deh..” sahutku.
Aku asyik main solitaire ketika kurasakan hembusan nafasnya di leherku. Jujur saja, bulu romaku berdiri menahan geli. Aku masih berusaha konsen ke permainan kartu di depanku, ketika kurasakan sebuah kecupan lembut di leherku, tidak berhenti sampai di sana, dia mencium2 kecil leherku dengan lembut. Mungkin ini gerakan refleks karena tanpa sadar aku memejamkan mataku.
“Dy....” bisiknya lirih ditelingaku yg kemudian diciuminya dengan lembut. Sentuhan bibirnya yg hangat di telingaku membuat aliran darahku serasa mengalir lebih cepat memompa jantung. Dengan didera perasaan ngga menentu, antara takut dan nikmat, kuberanikan diri membuka mataku. Dia memegang pipiku dengan salah satu telapak tangannya dan dengan lembut memalingkan wajahku ke wajahnya. Sejenak pandangan kami bertemu, matanya menatapku lekat dengan teduhnya. Dia sedikit mengangkat wajahnya dan mencium lembut keningku, kedua mataku, hidungku, kedua pipiku, dan bibirnya menyentuh bibirku.
Beberapa detik, sebelum tiba2 bayangan gelap berkelebat di dalam gelapnya mataku yg terpejam. Aroma tubuhnya tiba2 berubah.
Bau ini...tersentak, aku duduk tegak terlepas dari pelukannya, tiba2 kepalaku sakit, dadaku sesak membuatku susah bernafas.
Tanpa kusadari aku terisak, sama sekali tidak bisa kutahan. Aku ngga ingin menangis tapi airmata ini terus saja merembes.
“Dy...maaf aku.., aku ngga bermaksud...entah aku kebawa perasaanku..”
Aku masih terisak.
“please Dy, jangan nangis...”
“ngga mas, bukan salah mas, aku yg bermasalah..salahku..” ujarku di sela2 tangisku, dengan lengan bajuku kuhapus airmataku. Dalam hati tak henti2nya aku merutuki diri sendiri. Kenapa masih saja kepalaku menyimpan memori buruk itu. Sampai kapan aku seperti ini.
Aku memandang wajahnya mas Kayon yg seperti orang bingung. Pasti dia merasa bersalah.
“mas...maaf...” kataku, aku bingung haruskah aku ceritakan apa yg sudah aku alami dulu. Pantaskah? Dia masih diam menunduk. Kupegang pipinya dan kuangkat wajahnya. Dia menatapku dengan tatapan memelas.
“bukan salah mas, aku ngga apa2...aku ngga marah. Kalau aku ngga mau, aku ngga akan biarkan mas sentuh2 aku dari awal,” ujarku tersenyum.
Tapi dia masih tak bergeming.
Aku beringsut mundur, bersandar di tembok, kuambil salah satu bantalnya untuk kupeluk.
Aku ingin menceritakan sesuatu padanya, sesuatu yg kusimpan rapat dari siapa pun juga.
“sewaktu aku smu kelas 2, bapak kena serangan jantung. Keluargaku ngga punya apa2 waktu itu, ekonomi keluargaku lagi jatuh2nya. Untuk bawa bapak ke rumah sakit aja harus pinjam mobil dari saudara ibu yg rumahnya lumayan jauh dr rumah. Tp untunglah bapak masih bisa tertolong. Itu kali pertama aku ngerasain rasa takut yg amat sangat. Takut kehilangan salah satu pegangan hidupku. Tapi rupanya Tuhan mendengar doaku. Atau mungkin memang seperti itulah jalan hidupku, jalan hidup bapakku.”
Aku memberi jeda dan melirik sekilas ke mas Kayon dia masih diam menatapku. Kualihkan pandanganku ke layar Laptop di depanku.
“bapak di rumah sakit sekitar sebulan, dan selama itu ibu yg lebih banyak di sana menjaga bapak. Malam harinya biasanya ibulah yg selalu menginap di rumah sakit. Otomatis hanya ada aku dan kedua kakakku di rumah, dan ditambah satu orang lagi, dia adalah pacar kakakku yg pertama, yg juga masih memiliki hubungan saudara dengan keluarga ibuku. Suatu malam, kakakku yg cowok ikut tidur dikamarku. Tengah malam aku kebangun karena...ya ngga nyaman aja tidur sm dia. Kakinya ke mana2, ngabisin tempat. Aku pindah ke kamar sebelah, kamarnya bapak dan ibu. Aku ngga tau sudah berapa lama aku terlelap, sampai aku ngerasa ada sesuatu yg…..menyentuhku.”
Aku menarik nafas sebelum melanjutkan ceritaku, “tangannya meraba rabaku dari perut, turun, dan sebelum dia semakin lancang, aku membalikkan tubuhku, membelakanginya. Aku masih pura2 tidur, aku sama sekali tidak membuka mata,tapi aku tahu siapa dia, dari bau tubuhnya. Dia adalah pacar kakakku sendiri. Aku ngga ngerasa takut, justru aku ngerasa…bingung, marah, ngga habis pikir sama tingkah cowok itu. Apa ngga puas dia sama kakakku, dia tiap malam tidur dirumah, sekamar sama kakakku, ngga puas dia sama kakakku sampai harus menggerayangi aku juga. Aku ingin sekali bangun, ngelabrak dan maki2 dia saat itu juga. Tapi, aku kepikiran bapak, kepikiran kakakku, kalau aku lakuin itu, bisa2 bapakku kolaps lagi bahkan yg terburuk pun bisa terjadi karena jantungnya masih lemah. Dan kakakku, dia begitu percaya dengan cowok itu, dan mereka juga sudah berencana akan menikah…ngga cuma sekali itu, malam itu dua kali dia datangi kamarku, menyentuhku…tapi aku ngga bisa berbuat apa2,hanya berusaha menghindar, dengan tetap berpura2 tidur… dan aku masih bertemu dengannya tiap hari sampai detik ini pun bahkan pernah dia seperti dengan pura2 tidak sengaja menyentuhku………"
"aku….muak, muak sekali, aku bahkan menahan nafas setiap kali berpapasan dengannya, aroma tubuhnya selalu mengingatkanku pada malam itu…dan ngga ada satu pun di keluargaku yg tahu apa yg kualami ini….”
Aku menoleh ke Mas Kayon yg duduk di sampingku, dia seperti melamun memandang lurus ke layar laptop.
“aku bahkan sampai pernah bermimpi, membongkar semua tingkah buruknya di depan oarangtua dan kakakku, aku puas sekali memakinya, tapi sayang semua hanya dalam mimpi…”
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“setelah malam itu, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan untuk membalaskan sakit hatiku padanya, karena aku tahu aku ngga akan bisa berbuat apa2.”
Dia menarik tanganku dan memelukku erat.
“mas…” kulepaskan pelukannya. Dan menatap matanya lekat.
“you gave me, my first kiss. But…I have been touched by someone else….”
Kembali dia merangkulku, kurasakan dia mencium kepalaku berkali2.
“sorry…” katanya setelah melepas pelukannya, “boleh aku tanya sesuatu?” aku mengangguk
“tapi dia tidak berbuat lebih jauh kan? Maksudku, kamu masih virgin kan?”
“aku masih virgin, tapi…kamu tahu mas, kalau seseorang yg ngga kamu kenal, ngga kamu cinta, dengan seenaknya menyentuh tubuh kamu apalagi dibagian yg sensitive,itu rasanya se…..”
“ssstttt,,,, udah udah ngga usah diterusin…” dia memotong cepat ucapanku, dan kembali memelukku.
Meskipun aku sudah menceritakan aibku ini padanya, tapi aku masih ngerasa ad yg mengganjal , mungkin karena dia bukan org yg seharusnya mendengar semua ini.
Aku lepaskan pelukannya.
“jadi cari makan?” tanyaku
“ya udah, ayo..”
“hm...mas aku boleh minta paracetamolnya mas ngga? Masih ada sisa kan?” tanyaku sebelum keluar dr kamarnya.
“kenapa?”
“kepalaku sakit bgt,”
Dia tampak mencari sesuatu di dalam tasnya, kemudian memberikan sebuah tablet dan segelas air. Kuambil dan langsung kuminum
“atau kamu tunggu di sini aja ya, biar aku aja yg keluar, kamu mau makan apa?”
“ngga mau, aku ikut.”
“tuh kan dibilangin ngga mau denger! Ngga ada bantah2an, udah diem di sini, aku yg keluar. Kunci aja pintunya dr dalem, biar ngga ada yg ganggu. Aku dah bw kunci cadangan.” Katanya yg ngga bisa aku bantah lagi.
Setelah Mas Kayon pergi, kukunci pintu dr dalam dan kuletakkan di atas meja di samping laptop. Kepalaku masih kerasa sakit, aku berbaring berharap sakitnya cepat hilang dengan kubawa tiduran.
Sayup2 kudengar suara music, kubuka mataku, kulihat pintu kamar mas Kayon sedikit terbuka. Sepertinya dia sudah datang dan sepertinya aku tertidur.
Aku duduk, mengumpulkan nyawa. Kulihat jam di layar laptop menunjukkan pukul delapan kurang. Kugerak2an kepalaku yg terasa lebih ringan sekarang. Haus. Kuambil gelas dan kutuangkan sedikit air mineral ke dalamnya, lalu kuteguk habis. Lega sekali rasanya.
Memandangi gelas ditanganku, entah kenapa aku kepikiran ingin minum, alkohol maksudku, apa benar bisa membuat tenang.
“udah bangun?” kepala mas Kayon melonggok dari balik pintu.
“kok ngga dibangunin?” tanyaku.
“biar kamu istirahat, ini aku beliin soto ayam. Makan ya,” katanya sambil mengeluarkan bungkusan dan meletakkannya di mangkok
“buat mas aja, pake sahur.”
“lha terus kamu gimana?”
“aku bisa makan di rumah ntar. Simpan aja ya.”
“ya udah.” Dia merapikan kembali dan menggantung kantongnya di dekat lemari.
“masih sakit?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng.
“mas....” aku agak ragu untuk melanjutkan kalimatku
“kenapa?” tanyanya sambil lalu. Dia tampak serius dengan laptopnya.
“Dy, liat ini, mending kan, wajahnya ngga kepotong2 lagi,” ujarnya memperlihatkan fotoku yg dijadiin skin winamp tapi dengan design yg lebih bagus dr yg kemarin.
Aku hanya tersenyum menanggapinya
“eh tadi kenapa? Kamu mau bilang apa?”
“emang beneran ya klo minum bisa buat pikiran tenang?”
Dia melihatku dengan pandangan menyelidik.
“maksudnya nanya gitu apa?”
“eemm...nanya aja, rasanya kayak gimana?”
“ngga enak! Jangan pernah nyoba2 buat minum, kan kamu yg ngga suka klo aku minum, sekarang kenapa kamu nanya2 gitu.”
“kan aku cuma nanya mas, aku ngga bilang mau minum.”
“ga usah nanya2, mending kamu ngga tahu sama sekali. Jangan coba2 lho!” dia memperingatiku.
“iya2..”
Dia duduk di sampingku. Mencium pipiku sekilas, dan memelukku dr samping
“kamu bisa ngelupain semua kejadian buruk itu Dy. Aku sangat yakin kamu pasti bisa. Tanpa alkohol, rokok, atau pun obat2an.”
“ngga semudah Itu.”
“emang ngga mudah, tapi Kmu bisa kalau kamu berusaha. Kamu ngga bisa melupakan karena kamu masih marah dan benci dengannya. Maafkan Dy...dan akan lebih mudah untuk melupakannya.”
“maaf?!” aku kaget dia memintaku untuk memaafkan laki2 itu.
“mas nyuruh aku maaf in dia?” kutekankan sekali lagi kalau aku ngga salah tangkap maksudnya Mas Kayon
“iya Dy, biar hatimu tenang, bukannya kamu yg bilang, biar Tuhan yg balaskan sakit hatimu, itu artinya kamu sudah pasrahkan semua sama Beliau. Sekarang tinggal kamu bersihkan hatimu dari benci. Kalau kamu sudah ikhlas, hatimu tenang, pikiranmu juga tenang. Bisa berpikir ke depannya gimana, ngga melulu mikirin kejadian buruk itu. Kalau kamu selalu teringat ngga baik buat dirimu sendiri.”
Aku ngga segera mengkomentari pemikiran dari Mas Kayon. Kupikir ada benarnya juga apa yg dikatakannya. Tapi tetap ngga mudah menghilangkan rasa marah dan benci ini. Apalagi, hampir tiap hari aku bertemu dengannya.
“Dy...kamu ngerti kan maksudku?”
“iya...tapi ngga sekarang mas,” sahutku,”aku belum bisa.”
“iya aku ngerti, sayang..”
Aku menolehnya kaget. Kali pertama dia memanggilku ‘sayang’
“ngga usah pake sayang2 gitu, ah,” protesku
“lha emang kenapa, kan beneran sayang.”
“norak tau!”
Dia tertawa ngakak.
Ah, aku suka kamu seperti ini mas. Selalu bisa menenangkan, memberi pengertian, dan selalu menyenangkan setiap diajak bertukar pikiran.
“baru bangun?”
“hehehehe... “ dia malah cengengesan,”bentar aku mandi dulu ya.”
********
Aroma wangi sabun menyeruak ketika dia duduk di sebelahku seusai mandi.
“udah buka?” tanyaku
“hm..kayaknya blom deh.”
“aku beliin air minum, ada kolak, sama es buah buat buka.”
“wah makasi banyak ya Dy.” Wajahnya sumringah banget liat makanan yg aku bawa.
“biarpun jutek ternyata kamu perhatian banget ya,” ujarnya menahan senyum
“harus ya pake nge bully dulu baru di puji?!?”
Dia tertawa sambil menguyel2 lembut kepalaku.
“eh udah adzan tuh,” dia tampak serius sambil menggeser duduknya mendekat ke kisi2 di tembok di sebelahnya.
“iya, udah buka tuh, kedengaran kok adzannya, ngga usah ditempelin gitu kupingnya,” ujarku geli melihat tingkahnya.
“alhamdulillah...” ujarnya berucap syukur.
“kamu makan juga, “ katanya mulai mencicipi kolak yg aku bawa setelah dia meminum beberapa teguk air putih.
“ngga, itu kan buat mas, lagian aku udah makan td,” tolakku.
Aku duduk di atas kasurnya, buka laptopnya, memutar lagu.
“udah sampe mana skripsinya mas?” tanyaku iseng ingin tahu perkembangannya
“masih bab 3, kemarin bimbingan banyak yg direvisi. Ada beberapa data yg kurang. Makanya lagi mikir ini gimana caranya cari data lagi, mesti balik ke lapangan, butuh dana juga. “
“pulang aja sekalian lebaran, abis lebaran kan bisa cari data lagi,” usulku
“aku ngga pulang lebaran ini,” sahutnya
“lho, kenapa?”
“ngga aja, baru aja dateng masa udah mudik lagi, sekalian biar irit. “
“trus lebaran di sini aja?”tanyaku
Dia tidak menyahuti pertanyaanku, selesai makan lgs duduk di belakangku, tangannya lagi2 melingkar di pinggang, memelukku.
“mas...” aku mencoba protes, tapi dia malah mengetatkan pelukannya.
“please biarin aja, aku senang seperti ini, tenang rasanya,” sahutnya.
Akhirnya kubiarkan saja dia memelukku.
“cari makan malem yuk,” ajakku kemudian
“ntar aja, blom laper,” tolaknya
“beneran ngga laper? Kan abis puasa, masa ngga laper, atau jangan2 td puasanya bolong2 ya?”
“ Ngga Dy... puasa penuh kok, itu kolaknya udah bikin lumayan kenyang , ntar maleman aja makannya. Lagian juga masih pengen meluk kamu.”
“yah udah, terserah mas aja deh..” sahutku.
Aku asyik main solitaire ketika kurasakan hembusan nafasnya di leherku. Jujur saja, bulu romaku berdiri menahan geli. Aku masih berusaha konsen ke permainan kartu di depanku, ketika kurasakan sebuah kecupan lembut di leherku, tidak berhenti sampai di sana, dia mencium2 kecil leherku dengan lembut. Mungkin ini gerakan refleks karena tanpa sadar aku memejamkan mataku.
“Dy....” bisiknya lirih ditelingaku yg kemudian diciuminya dengan lembut. Sentuhan bibirnya yg hangat di telingaku membuat aliran darahku serasa mengalir lebih cepat memompa jantung. Dengan didera perasaan ngga menentu, antara takut dan nikmat, kuberanikan diri membuka mataku. Dia memegang pipiku dengan salah satu telapak tangannya dan dengan lembut memalingkan wajahku ke wajahnya. Sejenak pandangan kami bertemu, matanya menatapku lekat dengan teduhnya. Dia sedikit mengangkat wajahnya dan mencium lembut keningku, kedua mataku, hidungku, kedua pipiku, dan bibirnya menyentuh bibirku.
Beberapa detik, sebelum tiba2 bayangan gelap berkelebat di dalam gelapnya mataku yg terpejam. Aroma tubuhnya tiba2 berubah.
Bau ini...tersentak, aku duduk tegak terlepas dari pelukannya, tiba2 kepalaku sakit, dadaku sesak membuatku susah bernafas.
Tanpa kusadari aku terisak, sama sekali tidak bisa kutahan. Aku ngga ingin menangis tapi airmata ini terus saja merembes.
“Dy...maaf aku.., aku ngga bermaksud...entah aku kebawa perasaanku..”
Aku masih terisak.
“please Dy, jangan nangis...”
“ngga mas, bukan salah mas, aku yg bermasalah..salahku..” ujarku di sela2 tangisku, dengan lengan bajuku kuhapus airmataku. Dalam hati tak henti2nya aku merutuki diri sendiri. Kenapa masih saja kepalaku menyimpan memori buruk itu. Sampai kapan aku seperti ini.
Aku memandang wajahnya mas Kayon yg seperti orang bingung. Pasti dia merasa bersalah.
“mas...maaf...” kataku, aku bingung haruskah aku ceritakan apa yg sudah aku alami dulu. Pantaskah? Dia masih diam menunduk. Kupegang pipinya dan kuangkat wajahnya. Dia menatapku dengan tatapan memelas.
“bukan salah mas, aku ngga apa2...aku ngga marah. Kalau aku ngga mau, aku ngga akan biarkan mas sentuh2 aku dari awal,” ujarku tersenyum.
Tapi dia masih tak bergeming.
Aku beringsut mundur, bersandar di tembok, kuambil salah satu bantalnya untuk kupeluk.
Aku ingin menceritakan sesuatu padanya, sesuatu yg kusimpan rapat dari siapa pun juga.
“sewaktu aku smu kelas 2, bapak kena serangan jantung. Keluargaku ngga punya apa2 waktu itu, ekonomi keluargaku lagi jatuh2nya. Untuk bawa bapak ke rumah sakit aja harus pinjam mobil dari saudara ibu yg rumahnya lumayan jauh dr rumah. Tp untunglah bapak masih bisa tertolong. Itu kali pertama aku ngerasain rasa takut yg amat sangat. Takut kehilangan salah satu pegangan hidupku. Tapi rupanya Tuhan mendengar doaku. Atau mungkin memang seperti itulah jalan hidupku, jalan hidup bapakku.”
Aku memberi jeda dan melirik sekilas ke mas Kayon dia masih diam menatapku. Kualihkan pandanganku ke layar Laptop di depanku.
“bapak di rumah sakit sekitar sebulan, dan selama itu ibu yg lebih banyak di sana menjaga bapak. Malam harinya biasanya ibulah yg selalu menginap di rumah sakit. Otomatis hanya ada aku dan kedua kakakku di rumah, dan ditambah satu orang lagi, dia adalah pacar kakakku yg pertama, yg juga masih memiliki hubungan saudara dengan keluarga ibuku. Suatu malam, kakakku yg cowok ikut tidur dikamarku. Tengah malam aku kebangun karena...ya ngga nyaman aja tidur sm dia. Kakinya ke mana2, ngabisin tempat. Aku pindah ke kamar sebelah, kamarnya bapak dan ibu. Aku ngga tau sudah berapa lama aku terlelap, sampai aku ngerasa ada sesuatu yg…..menyentuhku.”
Aku menarik nafas sebelum melanjutkan ceritaku, “tangannya meraba rabaku dari perut, turun, dan sebelum dia semakin lancang, aku membalikkan tubuhku, membelakanginya. Aku masih pura2 tidur, aku sama sekali tidak membuka mata,tapi aku tahu siapa dia, dari bau tubuhnya. Dia adalah pacar kakakku sendiri. Aku ngga ngerasa takut, justru aku ngerasa…bingung, marah, ngga habis pikir sama tingkah cowok itu. Apa ngga puas dia sama kakakku, dia tiap malam tidur dirumah, sekamar sama kakakku, ngga puas dia sama kakakku sampai harus menggerayangi aku juga. Aku ingin sekali bangun, ngelabrak dan maki2 dia saat itu juga. Tapi, aku kepikiran bapak, kepikiran kakakku, kalau aku lakuin itu, bisa2 bapakku kolaps lagi bahkan yg terburuk pun bisa terjadi karena jantungnya masih lemah. Dan kakakku, dia begitu percaya dengan cowok itu, dan mereka juga sudah berencana akan menikah…ngga cuma sekali itu, malam itu dua kali dia datangi kamarku, menyentuhku…tapi aku ngga bisa berbuat apa2,hanya berusaha menghindar, dengan tetap berpura2 tidur… dan aku masih bertemu dengannya tiap hari sampai detik ini pun bahkan pernah dia seperti dengan pura2 tidak sengaja menyentuhku………"
"aku….muak, muak sekali, aku bahkan menahan nafas setiap kali berpapasan dengannya, aroma tubuhnya selalu mengingatkanku pada malam itu…dan ngga ada satu pun di keluargaku yg tahu apa yg kualami ini….”
Aku menoleh ke Mas Kayon yg duduk di sampingku, dia seperti melamun memandang lurus ke layar laptop.
“aku bahkan sampai pernah bermimpi, membongkar semua tingkah buruknya di depan oarangtua dan kakakku, aku puas sekali memakinya, tapi sayang semua hanya dalam mimpi…”
Dia meraih tanganku dan menggenggamnya erat.
“setelah malam itu, aku hanya bisa meminta kepada Tuhan untuk membalaskan sakit hatiku padanya, karena aku tahu aku ngga akan bisa berbuat apa2.”
Dia menarik tanganku dan memelukku erat.
“mas…” kulepaskan pelukannya. Dan menatap matanya lekat.
“you gave me, my first kiss. But…I have been touched by someone else….”
Kembali dia merangkulku, kurasakan dia mencium kepalaku berkali2.
“sorry…” katanya setelah melepas pelukannya, “boleh aku tanya sesuatu?” aku mengangguk
“tapi dia tidak berbuat lebih jauh kan? Maksudku, kamu masih virgin kan?”
“aku masih virgin, tapi…kamu tahu mas, kalau seseorang yg ngga kamu kenal, ngga kamu cinta, dengan seenaknya menyentuh tubuh kamu apalagi dibagian yg sensitive,itu rasanya se…..”
“ssstttt,,,, udah udah ngga usah diterusin…” dia memotong cepat ucapanku, dan kembali memelukku.
Meskipun aku sudah menceritakan aibku ini padanya, tapi aku masih ngerasa ad yg mengganjal , mungkin karena dia bukan org yg seharusnya mendengar semua ini.
Aku lepaskan pelukannya.
“jadi cari makan?” tanyaku
“ya udah, ayo..”
“hm...mas aku boleh minta paracetamolnya mas ngga? Masih ada sisa kan?” tanyaku sebelum keluar dr kamarnya.
“kenapa?”
“kepalaku sakit bgt,”
Dia tampak mencari sesuatu di dalam tasnya, kemudian memberikan sebuah tablet dan segelas air. Kuambil dan langsung kuminum
“atau kamu tunggu di sini aja ya, biar aku aja yg keluar, kamu mau makan apa?”
“ngga mau, aku ikut.”
“tuh kan dibilangin ngga mau denger! Ngga ada bantah2an, udah diem di sini, aku yg keluar. Kunci aja pintunya dr dalem, biar ngga ada yg ganggu. Aku dah bw kunci cadangan.” Katanya yg ngga bisa aku bantah lagi.
Setelah Mas Kayon pergi, kukunci pintu dr dalam dan kuletakkan di atas meja di samping laptop. Kepalaku masih kerasa sakit, aku berbaring berharap sakitnya cepat hilang dengan kubawa tiduran.
Sayup2 kudengar suara music, kubuka mataku, kulihat pintu kamar mas Kayon sedikit terbuka. Sepertinya dia sudah datang dan sepertinya aku tertidur.
Aku duduk, mengumpulkan nyawa. Kulihat jam di layar laptop menunjukkan pukul delapan kurang. Kugerak2an kepalaku yg terasa lebih ringan sekarang. Haus. Kuambil gelas dan kutuangkan sedikit air mineral ke dalamnya, lalu kuteguk habis. Lega sekali rasanya.
Memandangi gelas ditanganku, entah kenapa aku kepikiran ingin minum, alkohol maksudku, apa benar bisa membuat tenang.
“udah bangun?” kepala mas Kayon melonggok dari balik pintu.
“kok ngga dibangunin?” tanyaku.
“biar kamu istirahat, ini aku beliin soto ayam. Makan ya,” katanya sambil mengeluarkan bungkusan dan meletakkannya di mangkok
“buat mas aja, pake sahur.”
“lha terus kamu gimana?”
“aku bisa makan di rumah ntar. Simpan aja ya.”
“ya udah.” Dia merapikan kembali dan menggantung kantongnya di dekat lemari.
“masih sakit?” tanyanya kemudian. Aku menggeleng.
“mas....” aku agak ragu untuk melanjutkan kalimatku
“kenapa?” tanyanya sambil lalu. Dia tampak serius dengan laptopnya.
“Dy, liat ini, mending kan, wajahnya ngga kepotong2 lagi,” ujarnya memperlihatkan fotoku yg dijadiin skin winamp tapi dengan design yg lebih bagus dr yg kemarin.
Aku hanya tersenyum menanggapinya
“eh tadi kenapa? Kamu mau bilang apa?”
“emang beneran ya klo minum bisa buat pikiran tenang?”
Dia melihatku dengan pandangan menyelidik.
“maksudnya nanya gitu apa?”
“eemm...nanya aja, rasanya kayak gimana?”
“ngga enak! Jangan pernah nyoba2 buat minum, kan kamu yg ngga suka klo aku minum, sekarang kenapa kamu nanya2 gitu.”
“kan aku cuma nanya mas, aku ngga bilang mau minum.”
“ga usah nanya2, mending kamu ngga tahu sama sekali. Jangan coba2 lho!” dia memperingatiku.
“iya2..”
Dia duduk di sampingku. Mencium pipiku sekilas, dan memelukku dr samping
“kamu bisa ngelupain semua kejadian buruk itu Dy. Aku sangat yakin kamu pasti bisa. Tanpa alkohol, rokok, atau pun obat2an.”
“ngga semudah Itu.”
“emang ngga mudah, tapi Kmu bisa kalau kamu berusaha. Kamu ngga bisa melupakan karena kamu masih marah dan benci dengannya. Maafkan Dy...dan akan lebih mudah untuk melupakannya.”
“maaf?!” aku kaget dia memintaku untuk memaafkan laki2 itu.
“mas nyuruh aku maaf in dia?” kutekankan sekali lagi kalau aku ngga salah tangkap maksudnya Mas Kayon
“iya Dy, biar hatimu tenang, bukannya kamu yg bilang, biar Tuhan yg balaskan sakit hatimu, itu artinya kamu sudah pasrahkan semua sama Beliau. Sekarang tinggal kamu bersihkan hatimu dari benci. Kalau kamu sudah ikhlas, hatimu tenang, pikiranmu juga tenang. Bisa berpikir ke depannya gimana, ngga melulu mikirin kejadian buruk itu. Kalau kamu selalu teringat ngga baik buat dirimu sendiri.”
Aku ngga segera mengkomentari pemikiran dari Mas Kayon. Kupikir ada benarnya juga apa yg dikatakannya. Tapi tetap ngga mudah menghilangkan rasa marah dan benci ini. Apalagi, hampir tiap hari aku bertemu dengannya.
“Dy...kamu ngerti kan maksudku?”
“iya...tapi ngga sekarang mas,” sahutku,”aku belum bisa.”
“iya aku ngerti, sayang..”
Aku menolehnya kaget. Kali pertama dia memanggilku ‘sayang’
“ngga usah pake sayang2 gitu, ah,” protesku
“lha emang kenapa, kan beneran sayang.”
“norak tau!”
Dia tertawa ngakak.
Ah, aku suka kamu seperti ini mas. Selalu bisa menenangkan, memberi pengertian, dan selalu menyenangkan setiap diajak bertukar pikiran.
pulaukapok memberi reputasi
1