Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.7K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread53.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#205
PART 27

“Besok giliran lo jalanin proker ya, Bang?” tanya Yansa.
“Iya,” jawab gue menyeruput kopi. “Malem ini lagi dikebut sama si Sasha power pointnya.”
“Gue bantuin ya besok?” tawar Yansa. “Gue siap kok bantuin apa aja.”
“Kenapa lo?” tanya gue menjatuhkan kartu AS sekop. “Rajin banget.”
“Bangke!” seru Luther guling-guling. “Itu AS hati gue harapan satu-satunya masih aja digedein!”
“Ya… biar ada kerjaan aja, boleh, kan?” ijin Yansa.
“Boleh aja sih,” kata gue menaik turunkan alis di depan Luther. “Jangan setengah-setengah tapi.”
“Siplah, Bang.”
“Tadi gimana Bull program kerja lo?”
“Yah… semampunya, Bang.” Bull memilih kartu dengan teliti, menarik lalu memasukkannya kembali ke deck, “Guenya sih udah maksimal, tapi mau gimana lagi kalo yang bisa bahasa jawa cuma mbak Melly, Maya sama Dinda. Semoga aja mereka paham instruksi bahasa tubuh gue.”
“Penyuluhan hemat energi, yak?” tanya gue lagi di tengah Bull yang manggut-manggut. “Harusnya sih bermanfaat banget tuh Bull buat warga desa ini.”
“Lo sendiri besok mau penyuluhan apaan, Bang?” tanya si Bull menjatuhkan kartu pilihannya.
“Penyuluhan tentang pentingnya akta kelahiran,” jawab gue. “Kata si Sasha sih orang sini ada sebagian yang belum punya akta, gitu. Yah… wajarlah, biasanya kan bangun tidur langsung ke sawah kalo enggak ke pasar, mana sempat buat ke kelurahan.”
“Terus kalo sampai gede belum punya akta kelahiran gimana, Bang?” sambung Yansa memperhatikan gue. “Enggak kecatat gitu?”
“Lut, sekali lagi lo ngintipin kartu, gue colok mata lo,” ancam gue meringkas kartu deck.

Luther yang sadar matanya dalam bahaya langsung membuang muka pura-pura enggak denger.

“Setau gue akta kelahiran itu batasnya enam puluh hari dari hari kelahiran. Kalo udah lewat itu biasanya ada akta kelahiran dispensasi gitu.”
“Oh…,” gumam Yansa manggut-manggut. “Terus yang sampai gede masih belum punya?”
“Ada akta pengadilan kalo gue enggak salah,” jelas gue coba mengingat-ingat. “Buat yang lebih dari setahun masih belum punya akta gitu.”
“Keren juga abang tau begituan,” puji Yansa senyum-senyum.
“Ya iyalah,” timpal si Bull. “Hukum universitas kita gituloh.”
“Luuut….” Gue tatap mata Luther yang tak berkedip, “Mau mata kiri apa kanan dulu yang dicolok?”

Malam hari KKN ke-tiga, pukul sebelas malam ini kita kembali meronda. Enggak seperti malam sebelumnya, kali ini kita benar-benar menjaga desa sendirian. Kalo sebelumnya ada dua bapak-bapak yang pindah tidur, kali ini bapak-bapak yang giliran jaga ijin karena kecapean di sawah.

Tanggapan gue? Positive thinking, mereka benar-benar capek, memacul sekuat tenaga dari pagi sampai sore untuk menyuburkan padi agar menjadi padi sekelas raja lele. Negative thinking, ya mereka males aja. Ada anak KKN yang kena beban moral buat membantu warga masa enggak dimanfaatin. Tidak…! Pikiran buruk apa yang telah gue pikirkan! Moral lo Wi! Gimana ceritanya lo bisa berprasangka buruk terhadap orang-orang yang telah menanam padi demi negara!

“Heh!” ucap Luther menggeplak paha gue. “Malah melamun!”
“E-eh, iya.”
“Kenapa lo, Bang?” tanya Yansa. “Kangen sama cewek lo, ya?”
“Mana mungkin dia kangen sama ceweknya, Yan.” Bull merapikan kartu yang berserakan, “Di sini aja dikerubutin cewek cakep mulu, mana kepikiran sama yang di rumah.”
“Dih…, lo nya aja yang belum lihat ceweknya bang Dawi.” Yansa memposisikan diri siap bercerita panjang lebar, “Siapa yang menurut lo termasuk kategori cakep di sini?”
“Dinda,” jawab Luther menyela.
“Lo mah mikirnya Dinda doang,” kata Yansa menoyor Luther. “Balik dari sini gue kenalin cewek komunikasi, deh. Rata-rata kayak gitu semua di jurusan gue.”
“Sasha, gimana?” tanya Bull. “Udah cakep, pinter nyanyi, terkenal pula.”
Yansa menyilangkan tangannya, “Lewat!”
“Wih! Keren…!” tanggap Luther sok nyambung.
“Mbak Melly?”
“Yah… cakep sih, tapi tua dia,” kata Yansa kembali menyilangkan tangannya lebih pelan.
“Sama Cassandra?” tanya gue.

Entah gue salah ngomong atau ada sesuatu yang gue lewatkan, mereka terdiam dan memandang aneh ke gue. Hmmh…, kayaknya bukan soal salah ngomong, gue lebih yakin ke dugaan ada suatu hal yang gue lewatkan.

“Abang enggak salah?” tanya si Bull.
“Salah kenapa, ya?” tanya gue balik bener-bener enggak paham.
“Si Cassie kan lesby,” seru mereka bertiga serentak.
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.