- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#4
Quote:
4.Hantu Penglaris
“Rif ngebut cepetan! “
Aku berteriak kepada Arif seraya menutup kembali mataku, dia sepertiya sadar akan hal yang sedang terjadi kepadaku. Sedetik kemudian dia memacu motornya dengan kecepata tinggi.
Kupeluk erat badan Arif dan menempelkan wajahku kepundaknya, posisi kami sekarang mungkin terlihat seperti sejoli sedang naik motor, ditengah lajunya motor Arif berkata setengah teriak kepadaku.
“Gue bilang kan tadi suruh tutup mata Ron, napa lu malah buka ?” ujarnya dengan nada kesal.
Aku tidak menjawab, badanku terasa gemetar, terasa keringat dingin keluar dari tubuhku. Jantungku berdebar dengan cepat. Meskipun aku sudah cukup terbiasa melihat penampakan makhluk halus, namun sosok yang tadi aku lihat sungguh diluar kemampuanku.
Sosok yang kulihat tadi adalah sosok yang sangat tinggi besar, berada diareal makam, dan pohon kamboja terlihat olehku hanya selutut di makhluk tersebut. Mereka telanjang dan hanya mengenakan seperti alang-alang disekitar area laki-lakinya, aku yakin mereka berkelamin laki-laki.
Warna tubuh mereka gelap, mungkin kebiruan,mata mereka melotot seperti hampir keluar dan menyala berwarna merah, dua taring panjang terlihat sangat besar sebesar paha orang dewasa. Rambut mereka acak-acakan dan salah satu dari mereka seperti memegang sesuatu yang menurutku mirip dengan senjata Bima dari tokoh Pandawa.
Aku melihat jumlah dari maklhuk itu hanya ada dua, dan mereka seperti sedang mengobrol dengan bahasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Suara mereka sangat berat mungkin karena ukuran tubuh mereka.
Aku sampai sedikit mengadah keatas agar bisa melihat wajah mereka, dan jujur aku merasa gemetar terutama disaat salah satu dari mereka menatap kearahku dengan mata yang merah menyala, aku masih menutup mataku, Arif masih memacu motornya dengan ngebut.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara keramaian dan hawa hangat, aku yakin kami sudah melewati totoang ( kebun atau area tidak ada warga tinggal). Aku lantas membuka mataku,kulihat kami rupanya sudah memasuki area kampung sebelah.
“Cekiiiitttt”
Arif mengerem dengan mendadak.
“Duh Rif kok ngerem mendadak banget, kaget gue“ ujarku sedikit memarahinya. Dia menolehku dengan tatapan malas.
“Ron sebenernya lu mantap gak sih buat ngebuka mata batin? Dari rumah lu kaya ketakutan banget. Gue khawatir“
“Niat gue mantap ko Rif, cuman barusan gue ngeliat makhluk yang belum pernah gue llihat gambarnya atau denger ceritanya “ ujarku dengan sedikit gugup.”
“Emang tadi lu liat apa sampe gemeteran gitu ?”
“Gue ngeri ngeliat raksasa Rif, lu liat juga kan ? suaranya juga bikin ngeri Rif”
“Oh yang itu, itu mereka dari kaum Denawa ( sejenis Buto ijo) , mereka ga bakalan ganggu manusia ko,mereka itu makhluk yang jarang banget nampakin dirinya ke manusia, kecuali emang keliatan bagi yang punya mata batin” Ujar Arif menjelaskan.
“Sumpah Rif gak nyangka gue ada makhluk begitu“
“Saran gue nih Ron, kalo lu ngerasa takut ngeliat yang ngeri. Usahain gak usah teriak. Merem aja terus liat kearah lain. Kalo teriak gitu mereka bakalan sadar. Terus kalo lu lagi apes bisa aja mereka ngikutin lu kerumah, gak bagus tuh“
Arif berkata dengan nada menasehati, Aku hanya mengangguk , dan kamipun melanjutkan perjalanan.
Pasar sudah tidak jauh dari sini, lokasinya diujung kampung yang sekarang kami lewati. Aku melihat beberapa penampakan lagi, yang mendominasi memang embak kun-kun namun aku melihat beberapa penampakan yang cukup langka menurutku.
Aku melihat penampakan tuyul yang sedang digendong oleh majikannya, aku tidak begitu detil melihatnya karena Arif memacu motornya cukup kencang. Namun Yang paling kuingat adalah tuyul tersebut menggunakan sempak dari kain putih yang dililitkan sedemikan rupa.
Warna kulitnya putih pucat, telinganya runcing dibagian ujung atas, berhidung pesel dan mata besar berwarna hitam. Buruk sekali rupa mereka, aku merasa bersyukur ternyata aku tidaklah seberapa jelek dibanding mereka.
Penampakan unik lainnya adalah seorang ibu yang berjalan menyeret kakinya, bagi orang yang normal mungkin akan menyangka
“Ah mungkin kakinya lumpuh“
Namun yang terlihat olehku sangatlah berbeda, karena aku melihat ada sesosok makhluk menyerupai anak kecil berumur enam tahun laki-laki sedang memeluk dan duduk dikakinya.
Adapun penampakan lainnya yaitu seorang wanita yang tadinya kukira adalah manusia ,dia terlihat sedang menunggu seseorang dipinggir jalan. Namun ketika kami melintas didekatnya, ternyata wanita tersebut tidak memiliki wajah ataupun biasa kita sebut muka rata.
Tak berapa lama kami sampai juga dipasar, Arif memarkirkan motornya disebuah warung borju kenalan Arif, lalu kami melanjutkan dengan berjalan kaki.
“Rif rasanya kok ni pasar rame banget ya, gak kaya biasanya rame malem minggu doang “
“Ya rame karena yang lu liat bukan Cuma orang, coba deh lu perhatiin lebih detil. Keliat ge perbedaannya ?”
Aku mencoba melihat mereka lebih teliti, mereka tampak seperti manusia normal. Biasanya aku tau mereka makhluk gaib jika mereka memiliki
penampilan khas seperti pisau menancap diperut, bersimbah darah atau tanpa wajah seperti wanita yang kulihat tadi ketika dikampung sebelah.
“Udah ketemu gak bedanya apa Ron?“
Arif bertanya padaku selagi aku berpikir.
“Kagak Rif, emang bedanya apaan?“
Aku menjawab dengan polos berharap Arif segera menjelaskan.
“Coba lu perhatiin warna kulitnya, mereka itu kulitnya pucet kebiruan kadang kuning, coba perhatiin?”
Aku mulai memperhatikan mereka lebih teliti dan ternyata benar seperti yang diucapkan Arif, sebenarnya cukup mudah membedakannya karena jika aku perhatikan lebih teliti lagi. Mereka itu jarang sekali bergerak, mereka hanya berdiam diri ditempat meskipun ada dari beberapa mereka yang berpindah tempat dan terlihat seperti manusia normal.
“Gimana Ron? Udah bisa bedain ?“
“Iya udah Rif, tapi gue mau nanya . pernah denger kata orang kalo makhluk gitu gak napak, tapi kok ini napak ?” aku bertanya sedikit merasa bingung.
“Emang kebanyakan kagak napak, tapi ya itu bagi yang bisa terbang. Ada juga yang kaya kita jalan kaki Ron, tuyul aja lari kan“ Arif berkata dengan santai, sepertinya dia cukup paham akan detil hal-hal seperti ini.
“Beli soto-nya dimana nih Ron? Yang jual soto kan banyak ?“
“Soto ayam pak Budi Rif tuh yang didepan “ aku menunjuk kearah sebuah ruko yang menjadi lapak tukang soto.
“Yakin mau beli disana? “
Arif menanyaiku seolah dia mengingatkanku.
“Emang kenapa Rif ko nanya gitu ? disitu soto ayamnya enak ko minggu kemaren gue beli sama Sheri ade gue” ujarku dengan heran.
“Enak banget ya rasanya, lu makannya ditempat kan? Ga dimakan dirumah ?” kemudian dia tersenyum kecil.
“Iya emang kenapa Rif, kasih tau napa lu kok senyum-senyum gitu ?” ujarku dengan sangat heran.
“Ya udah ayok jalan aja kesana tar juga lu liat sendiri.”
Aku makin penasaran dengan ucapan Arif, ditambah dia mengetahui jika aku makan ditempak ketika membeli soto ini. Akhirnya kami berjalan menuju kearah ruko dan aku sesekali harus berjalan memutar karena ada sosok gaib yang menghalangi jalan.
Namun Arif berkata tabrak saja mereka kareena kita akan tembus, berbeda jika mereka berniat berinteraksi, maka kita dapat melakukan kontak tubuh seperti yang dilakukan nenek tua yang berada dirumah.
Saat aku tiba didepan Ruko soto, aku langsung melongo dan sontak merasakan mual. Karena aku melihat di warung yang ramai ini bukan hanya terdapat pelanggan saja, namun beberapa makhluk astral yang kuyakini sebagai “Penglaris” yang digunakan oleh penjual.
Bentuk mereka seperti kakek-kakek keriput hanya menggunakan cawat seperti tuyul, perut mereka buncit,namun badan mereka kurus, dan bentuk wajah yang menurutku sangatlah buruk.
Mereka tampak meludahi hidangan yang hendak disajikan kepelanggan, Aku sontak merasakan mual yang lebih dahsyat hingga sampai harus menutup mulutku. Pemilik ruko melihatku dan sepertinya sadar aku bisa melihat “ Peliharaannya “ lantas mendekatiku, menarik tanganku menjauh dari Ruko dan berkata.
“Mas tolong jangan ganggu usaha kami, kami Cuma pengen cari uang. Saya mohon mas jangan kasih tau pembeli yang lain” ujar bapak pemilik dengan nada sopan dan sedikit memohan.
Aku hanya menganggukan kepala, lalu Bapak tersebut mengucapkan terimakasih dan kembali ke Ruko nya.
Arif menatapku dengan senyum puas, lalu kami melanjutkan mencari makanan lain. Sepanjang pencarianku aku sering sekali melihat “ penglaris “ sedang melakukan tugas mereka,ya meskipun ada juga warung jujur yang ramai tanpa menggunakan penglaris karena aku tidak melihat si “penglaris” di warung tersebut. Aku hanya menahan rasa mual namun sepertinya mulai sedikit terbiasa.
Kami terus berjalan keujung pasar berharap menemukan makanan selera kami tanpa adanya ludah dari si penglaris. Kami harus berhenti sejenak karena didepan kami ada persimpangan yang memiliki lampu merah, ketika menunggu lampu menjadi hijau aku merasa celanaku ada yang menarik disertai suara
“Mas, mas , tolong “
Ketika aku menoleh kearah bawah aku terkejut melihat sosok bapak-bapak bersimbah darah , dengan wajah rusak hanya menyisakan satu mata dan mulut yang masih utuh . Dan yang paling membuatku kaget adalah sosok tersebut hanya memiliki bagian dari kepala sampai pinggang saja.
“Mas tolong saya mas.”
Sosok tersebut memohon kepadaku dengan sangat pilu, namun saat hendak aku ingin menjawab Arif menarik tanganku karena lampu sudah hijau. Aku berjalan dan sekali menoleh kearah sosok tersebut dan dia tampak mengesot untuk menghampiriku, Arif kemudian menarikku setengah berlari tanpa berkata apapun.
“Rif kenapa ko lu narik tangan gue ? itu ada makhluk yang ngomong sama gue” ujarku sambil melepaskan genggaman tangan Arif.
“Ron, gue saranin lu ga usah dengerin sama nurutin kalo ada makhluk yang minta tolong sama lu, selain ngerepotin lu, gimana kalo permintaannya ngancem hidup lo ?” ujar Arif dengan mimik serius. Aku hanya diam ketika melihat wajah Arif yang menasehatiku dengan serius.
“Udah yuk ah cari makan lagi, didepan ada soto lamongan yang dulu pernah gue beli. Aman gak pake penglaris”, aku hanya mengiyakan. Kamipun lanjut berjalan kearah warung tenda yang dimaksud Arif.
Aku masih terbayang sosok mengenaskan yang meminta tolong kepadaku tadi, setelah beres membeli soto lamongan kami segera beranjak pulang, namun saat arah kembali. Aku tidak mendapati sosok tadi yang meminta pertolongan kepadaku.
Aku sepertinya mulai terbiasa untuk tidak takut saat berpapasan dengan makhluk astral, meskipun aku masih merasa ngeri jika berhadapan dengan makhluk bertubuh tinggi besar atau pun makhluk yang memberikan tatapan jahat kepadaku.
Tak berapa lama kami sampai diwarung borju tempat Arif memarkirkan motor, aku mendapati sosok yang kulihat tadi sedang berada didekat motor kami.
Terdengar olehku sosok tersebut meminta tolong kepada Arif namun Arif mengabaikannya, Arif segera menghampiriku dan mengajakku pulang. Aku menatap kearah sosok tersebut, sosok itupun menatapku. Namun dia hanya berdiam diri ditempatnya.
Diperjalanan pulang, aku terus terbayang akan sosok tersebut. Aku penasaran bantuan seperti apa yang dia butuhkan, dan aku juga penasaran tentang peringatan yang dikatakan oleh Arif mengenai keselamatan hidup.
Apakah memang bisa sampai mengancam nyawaku ? tapi aku adalah tipe orang yang mudah bersimpati dan senang jika menolong orang lain meskipun memang kali ini bukanlah orang yang ditolong.
“Ron, bentar lagi mau ngelewatin kuburan. Lu tutup mata lu ya, gue khawatir lu bakal teriak lagi” Ujar Arif dengan nada serius.
Aku hanya bisa menurut setelah membuatnya kesal saat perjalanan berangkat tadi, aku menutup mata dan berusaha menahannya apapun yang terjadi.
Sama seperti saat berangkat tadi aku mendengar suara-suara dari arh makam dan kebun disebrang makam, namun kali ini ada yang berbeda karena aku mendengar suara seorang wanita sedang memanggil nama seseorang .
( anjir gue merinding gan soalnya ni pengalaman TS asli pas pulang kerja ngelewatin kuburan, bedanya TS kagak merem soalnya nyetir motor
, dan mbak kunti ngebonceng dimotor, keliatan sama TS pas nengok kepinggir ada kain ketiup angin dan motor kerasa berat
,tapi TS sekarang pemberani
).
“Roni…..Roni..!”
Aku mendengar suara wanita memanggil namaku.
“Ron…Roni..”
suara tersebut kembali terdengar, aku berpikir secara logis tidak mungkin ada wanita biasa yang memanggilku dari arah kebun malam-malam begini.
“Jangan disahut Ron, udah diemin aja “ Terdengar suara Arif mengingatkan.
“Jalo gue jawab emangnya kenapa Rif?”
“Kalo lu jawab tar dia ngikutin elu, dan lu bisa sakit. Soalnya kalo kita bersentuhan dengan mereka. Gak baik, tar gue jelasin.” Arif menghentikan omongannya.
Aku hanya mengiyakan saja. Setelah beberapa menit Arif mengizinkanku untuk membuka mata.
Kami sudah berada dikampung sukagaya, kampung tempat tinggal baruku. Ku cek jam di HP-ku sudah menunjukkan pukul 20.00. sejam setengah sudah aku dan Arif pergi dari rumah.
Semoga saja Sheril tidak marah karena mengunggu terlalu lama. Sepanjang jalan dari areal makam au tidak mengobrol dengan Arif, dan aku hanya melihat sekeliling berharap melihat penampakan aneh untuk bahan di bukuku.
Kamipun akhirnya sampai dirumah. Arif langsung bergegas masuk duluan sambil membawa soto yang kami beli, mungkin sudah sangat lapar.
Saat aku turun dari motor aku melihat seorang ibu-ibu atau mungkin lebih pantas kusebut dengan panggilan tante, dia adalah tetanggaku, umurnya mungkin sekitar tiga puluh lima tahunan. Kami jarang mengobrol karena aku jarang keluar rumah, dia sedang duduk diteras rumahnya bersama anak perempuannya yang seumuran dengan Sheril, namun aku belum mengetahui namanya.
“Dari mana dek Roni ? tumben keluar rumah ?” sapa tante Tuti dengan senyuman kecilnya.
“Dari pasar bu , habis beli soto buat adek saya“ balasku dengan senyum.
“Itu temenmu dek Roni ? ganteng ya temennya"
Bu Tuti berkata sambil terkikih, dia adalah janda anak satu. Dia bekerja di salah satu bank swasta, namun dengan umur dengan kepala tiga namun dia masih tampil menarik dan seksi karena mengikuti fashion, sehingga orang-orang tidak ada yang menyangaka dia sudah memiliki anak yang duduk dibangku SMA.
“Iya bu temen saya, kebetulan lagi nginep“
“Jangan panggil ibu dong ah, panggil tante aja , emang tante keliatan tua ya sambil memegang wajahnya“
“Mamah “
Tampak anaknya yang duduk disampingnya mencubit tante Tuti,
Aku hanya tersenyum dan bergegas kedalam rumah.
Didalam rumah aku masuk seperti biasa, namun yang membedakan aku harus terbiasa dengan pemandangan sosok baru yang kulihat berkat mata batin ini. Belum lama aku masuk kedalam rumah Sheril menghampiriku.
“Kak kenapa gak beli soto ayam yang waktu itu ? kan enak kak?” tanyanya dengan heran.
“Nih dek, tadi kakak ketemu sama kyai pas mau beli soto. Terus dia ngomong ke kakak katanya warung ini pake jin penglaris dek. Jadi kakak
gak beli “
Aku terpaksa berbohong kepadanya, aku masih belum siap memberi tahu adikku perihal mata batinku.
“Terus kakak percaya gitu aja ? siapa tau itu kyai saingan tukang soto“ sheril memasang wajah kesal.
“Ya udah nanti kakak beliin lagi, sekarang mah soto lamongan dulu aja ya , enak kok itu langganannya bang Arif dek, ngomong-ngomong bang Arif kemana ?”
“Bang Arif dikamar kakak,katanya mau makan dikamar aja biar duduk disofa..soalnya disini gak ada kursi. Ya udah aku balik ke kamar aku kak” sedetik kemudian Sheril berjalan memasuki kamarnya.
Aku lantas berjalan kearah kamar,dan seperti biasa kakek dan nenek masih saja berdiri diruangan tengah. Saat aku menatap mereka, mereka hanya tersenyum kecil dan taring mereka terlihat meskipun sedikit.
Aku tidak merasa takut sedikitpun karena sudah terbiasa kupikir. Bahkan melihat om-om yang berdiri didekat gudang pun aku tidak takut seperti pas pertama melihatnya.
Dikamar, aku mendapati Arif sedang lahap menyantap sotonya. Akupun segera membuka soto dan menyantap bagianku, rasa sotonya enak seperti yang dikatakan Arif.
Begitu selesai makan, aku duduk dikursi kerja ku dan menyalakan laptop sementara Arif duduk di sofa dan menyalakan rokoknya.
“Rif, lu gapapa nginep lama dirumah gue ? emak bapa gak nanyain lu ?”
“Gak usah khawatir ,tadi sore pas lu mandi gue udah ngabarin bakal disini beberapa hari”, ujar Arif sambil memainkan asap rokok yang dihembuskannya.
“Eh Rif tadi lu bilang kalo kita kontak fisik sama makhluk astral ga baik buat kesehatan, maksudnya gimana ?” aku bertanya dengan antusias karena kupikir bisa menjadi bahan untuk buku ku.
“Oh itu, jadi manusia itu punya ion positif Ron, sedangkan mereka itu punya ion negative, jadi kalo kita sentuhan ya bakalan negative, contohnya pernah denger kan istilah dicabak jurig ( dipegang hantu) ada yang suka ngerasa meriang kan kadang gatel-getel. Kaya gitu lah “ aku dengan sigap segera mencatat penjelasan Arif.
“Dah Ron ah gue ngantuk, gue tidur duluan ya“
Diapun segera merebahkan badannya disofa tanpa menggunakan selimut atau apapun,dia mungkin terbiasa tidur seperti itu dirumahnya.
Akupun memutuskan untuk mengetik kejadian yang kualami selama pergi membeli soto tadi. Ketika sedang asyik menulis, aku mendengar suara lelaki dari luar.
“ Mas, tolong mas,”
Suara itu sangat mirip dengan suara sosok yang kutemui tadi dipasar,aju tidak menjawab karena ingat dengan nasihat Arif.
Perlahan aku berdiri dan berjalan pelan kearah jendela, kuangkat tirai dengan perlahan, tidak nampak apa-apa. Sedetik kemudian aku dikejutkan dengan munculnya sosok kuntilanak yang terbang kearahku, aku kaget dan langsung menghalangi wajah dengan sikuku,
aku mencoba melihat lagi.
Kuntilanak tersebut berhenti dan melayang didepanku, kulihat wajahnya yang hanya tinggak tulang dengan kulit tipis dan belatung dilubang matanya, rambutnya panjang acak-acakan.
Tak lama kemudian dia terbang menjauh. Saat aku menoleh kebawah dari lubang jendela aku mendapati sosok yang kutemui dilampu merah tadi sedang menatap kearahku. Seraya berkata
“ Mas tolong saya mas, saya butuh bantuan mas “
Namun tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang.
BERISIIIK !
.,
“Rif ngebut cepetan! “
Aku berteriak kepada Arif seraya menutup kembali mataku, dia sepertiya sadar akan hal yang sedang terjadi kepadaku. Sedetik kemudian dia memacu motornya dengan kecepata tinggi.
Kupeluk erat badan Arif dan menempelkan wajahku kepundaknya, posisi kami sekarang mungkin terlihat seperti sejoli sedang naik motor, ditengah lajunya motor Arif berkata setengah teriak kepadaku.
“Gue bilang kan tadi suruh tutup mata Ron, napa lu malah buka ?” ujarnya dengan nada kesal.
Aku tidak menjawab, badanku terasa gemetar, terasa keringat dingin keluar dari tubuhku. Jantungku berdebar dengan cepat. Meskipun aku sudah cukup terbiasa melihat penampakan makhluk halus, namun sosok yang tadi aku lihat sungguh diluar kemampuanku.
Sosok yang kulihat tadi adalah sosok yang sangat tinggi besar, berada diareal makam, dan pohon kamboja terlihat olehku hanya selutut di makhluk tersebut. Mereka telanjang dan hanya mengenakan seperti alang-alang disekitar area laki-lakinya, aku yakin mereka berkelamin laki-laki.
Warna tubuh mereka gelap, mungkin kebiruan,mata mereka melotot seperti hampir keluar dan menyala berwarna merah, dua taring panjang terlihat sangat besar sebesar paha orang dewasa. Rambut mereka acak-acakan dan salah satu dari mereka seperti memegang sesuatu yang menurutku mirip dengan senjata Bima dari tokoh Pandawa.
Spoiler for mulustrasi:
Aku melihat jumlah dari maklhuk itu hanya ada dua, dan mereka seperti sedang mengobrol dengan bahasa yang belum pernah kudengar sebelumnya. Suara mereka sangat berat mungkin karena ukuran tubuh mereka.
Aku sampai sedikit mengadah keatas agar bisa melihat wajah mereka, dan jujur aku merasa gemetar terutama disaat salah satu dari mereka menatap kearahku dengan mata yang merah menyala, aku masih menutup mataku, Arif masih memacu motornya dengan ngebut.
Beberapa menit kemudian aku mendengar suara keramaian dan hawa hangat, aku yakin kami sudah melewati totoang ( kebun atau area tidak ada warga tinggal). Aku lantas membuka mataku,kulihat kami rupanya sudah memasuki area kampung sebelah.
“Cekiiiitttt”
Arif mengerem dengan mendadak.
“Duh Rif kok ngerem mendadak banget, kaget gue“ ujarku sedikit memarahinya. Dia menolehku dengan tatapan malas.
“Ron sebenernya lu mantap gak sih buat ngebuka mata batin? Dari rumah lu kaya ketakutan banget. Gue khawatir“
“Niat gue mantap ko Rif, cuman barusan gue ngeliat makhluk yang belum pernah gue llihat gambarnya atau denger ceritanya “ ujarku dengan sedikit gugup.”
“Emang tadi lu liat apa sampe gemeteran gitu ?”
“Gue ngeri ngeliat raksasa Rif, lu liat juga kan ? suaranya juga bikin ngeri Rif”
“Oh yang itu, itu mereka dari kaum Denawa ( sejenis Buto ijo) , mereka ga bakalan ganggu manusia ko,mereka itu makhluk yang jarang banget nampakin dirinya ke manusia, kecuali emang keliatan bagi yang punya mata batin” Ujar Arif menjelaskan.
“Sumpah Rif gak nyangka gue ada makhluk begitu“
“Saran gue nih Ron, kalo lu ngerasa takut ngeliat yang ngeri. Usahain gak usah teriak. Merem aja terus liat kearah lain. Kalo teriak gitu mereka bakalan sadar. Terus kalo lu lagi apes bisa aja mereka ngikutin lu kerumah, gak bagus tuh“
Arif berkata dengan nada menasehati, Aku hanya mengangguk , dan kamipun melanjutkan perjalanan.
Pasar sudah tidak jauh dari sini, lokasinya diujung kampung yang sekarang kami lewati. Aku melihat beberapa penampakan lagi, yang mendominasi memang embak kun-kun namun aku melihat beberapa penampakan yang cukup langka menurutku.
Aku melihat penampakan tuyul yang sedang digendong oleh majikannya, aku tidak begitu detil melihatnya karena Arif memacu motornya cukup kencang. Namun Yang paling kuingat adalah tuyul tersebut menggunakan sempak dari kain putih yang dililitkan sedemikan rupa.
Warna kulitnya putih pucat, telinganya runcing dibagian ujung atas, berhidung pesel dan mata besar berwarna hitam. Buruk sekali rupa mereka, aku merasa bersyukur ternyata aku tidaklah seberapa jelek dibanding mereka.
Spoiler for dedek kecil:
Penampakan unik lainnya adalah seorang ibu yang berjalan menyeret kakinya, bagi orang yang normal mungkin akan menyangka
“Ah mungkin kakinya lumpuh“
Namun yang terlihat olehku sangatlah berbeda, karena aku melihat ada sesosok makhluk menyerupai anak kecil berumur enam tahun laki-laki sedang memeluk dan duduk dikakinya.
Adapun penampakan lainnya yaitu seorang wanita yang tadinya kukira adalah manusia ,dia terlihat sedang menunggu seseorang dipinggir jalan. Namun ketika kami melintas didekatnya, ternyata wanita tersebut tidak memiliki wajah ataupun biasa kita sebut muka rata.
Spoiler for cantik:
Tak berapa lama kami sampai juga dipasar, Arif memarkirkan motornya disebuah warung borju kenalan Arif, lalu kami melanjutkan dengan berjalan kaki.
“Rif rasanya kok ni pasar rame banget ya, gak kaya biasanya rame malem minggu doang “
“Ya rame karena yang lu liat bukan Cuma orang, coba deh lu perhatiin lebih detil. Keliat ge perbedaannya ?”
Aku mencoba melihat mereka lebih teliti, mereka tampak seperti manusia normal. Biasanya aku tau mereka makhluk gaib jika mereka memiliki
penampilan khas seperti pisau menancap diperut, bersimbah darah atau tanpa wajah seperti wanita yang kulihat tadi ketika dikampung sebelah.
“Udah ketemu gak bedanya apa Ron?“
Arif bertanya padaku selagi aku berpikir.
“Kagak Rif, emang bedanya apaan?“
Aku menjawab dengan polos berharap Arif segera menjelaskan.
“Coba lu perhatiin warna kulitnya, mereka itu kulitnya pucet kebiruan kadang kuning, coba perhatiin?”
Aku mulai memperhatikan mereka lebih teliti dan ternyata benar seperti yang diucapkan Arif, sebenarnya cukup mudah membedakannya karena jika aku perhatikan lebih teliti lagi. Mereka itu jarang sekali bergerak, mereka hanya berdiam diri ditempat meskipun ada dari beberapa mereka yang berpindah tempat dan terlihat seperti manusia normal.
“Gimana Ron? Udah bisa bedain ?“
“Iya udah Rif, tapi gue mau nanya . pernah denger kata orang kalo makhluk gitu gak napak, tapi kok ini napak ?” aku bertanya sedikit merasa bingung.
“Emang kebanyakan kagak napak, tapi ya itu bagi yang bisa terbang. Ada juga yang kaya kita jalan kaki Ron, tuyul aja lari kan“ Arif berkata dengan santai, sepertinya dia cukup paham akan detil hal-hal seperti ini.
“Beli soto-nya dimana nih Ron? Yang jual soto kan banyak ?“
“Soto ayam pak Budi Rif tuh yang didepan “ aku menunjuk kearah sebuah ruko yang menjadi lapak tukang soto.
“Yakin mau beli disana? “
Arif menanyaiku seolah dia mengingatkanku.
“Emang kenapa Rif ko nanya gitu ? disitu soto ayamnya enak ko minggu kemaren gue beli sama Sheri ade gue” ujarku dengan heran.
“Enak banget ya rasanya, lu makannya ditempat kan? Ga dimakan dirumah ?” kemudian dia tersenyum kecil.
“Iya emang kenapa Rif, kasih tau napa lu kok senyum-senyum gitu ?” ujarku dengan sangat heran.
“Ya udah ayok jalan aja kesana tar juga lu liat sendiri.”
Aku makin penasaran dengan ucapan Arif, ditambah dia mengetahui jika aku makan ditempak ketika membeli soto ini. Akhirnya kami berjalan menuju kearah ruko dan aku sesekali harus berjalan memutar karena ada sosok gaib yang menghalangi jalan.
Namun Arif berkata tabrak saja mereka kareena kita akan tembus, berbeda jika mereka berniat berinteraksi, maka kita dapat melakukan kontak tubuh seperti yang dilakukan nenek tua yang berada dirumah.
Saat aku tiba didepan Ruko soto, aku langsung melongo dan sontak merasakan mual. Karena aku melihat di warung yang ramai ini bukan hanya terdapat pelanggan saja, namun beberapa makhluk astral yang kuyakini sebagai “Penglaris” yang digunakan oleh penjual.
Bentuk mereka seperti kakek-kakek keriput hanya menggunakan cawat seperti tuyul, perut mereka buncit,namun badan mereka kurus, dan bentuk wajah yang menurutku sangatlah buruk.
Spoiler for mulustrasi:
Mereka tampak meludahi hidangan yang hendak disajikan kepelanggan, Aku sontak merasakan mual yang lebih dahsyat hingga sampai harus menutup mulutku. Pemilik ruko melihatku dan sepertinya sadar aku bisa melihat “ Peliharaannya “ lantas mendekatiku, menarik tanganku menjauh dari Ruko dan berkata.
“Mas tolong jangan ganggu usaha kami, kami Cuma pengen cari uang. Saya mohon mas jangan kasih tau pembeli yang lain” ujar bapak pemilik dengan nada sopan dan sedikit memohan.
Aku hanya menganggukan kepala, lalu Bapak tersebut mengucapkan terimakasih dan kembali ke Ruko nya.
Arif menatapku dengan senyum puas, lalu kami melanjutkan mencari makanan lain. Sepanjang pencarianku aku sering sekali melihat “ penglaris “ sedang melakukan tugas mereka,ya meskipun ada juga warung jujur yang ramai tanpa menggunakan penglaris karena aku tidak melihat si “penglaris” di warung tersebut. Aku hanya menahan rasa mual namun sepertinya mulai sedikit terbiasa.
Kami terus berjalan keujung pasar berharap menemukan makanan selera kami tanpa adanya ludah dari si penglaris. Kami harus berhenti sejenak karena didepan kami ada persimpangan yang memiliki lampu merah, ketika menunggu lampu menjadi hijau aku merasa celanaku ada yang menarik disertai suara
“Mas, mas , tolong “
Ketika aku menoleh kearah bawah aku terkejut melihat sosok bapak-bapak bersimbah darah , dengan wajah rusak hanya menyisakan satu mata dan mulut yang masih utuh . Dan yang paling membuatku kaget adalah sosok tersebut hanya memiliki bagian dari kepala sampai pinggang saja.
Spoiler for mamang:
“Mas tolong saya mas.”
Sosok tersebut memohon kepadaku dengan sangat pilu, namun saat hendak aku ingin menjawab Arif menarik tanganku karena lampu sudah hijau. Aku berjalan dan sekali menoleh kearah sosok tersebut dan dia tampak mengesot untuk menghampiriku, Arif kemudian menarikku setengah berlari tanpa berkata apapun.
“Rif kenapa ko lu narik tangan gue ? itu ada makhluk yang ngomong sama gue” ujarku sambil melepaskan genggaman tangan Arif.
“Ron, gue saranin lu ga usah dengerin sama nurutin kalo ada makhluk yang minta tolong sama lu, selain ngerepotin lu, gimana kalo permintaannya ngancem hidup lo ?” ujar Arif dengan mimik serius. Aku hanya diam ketika melihat wajah Arif yang menasehatiku dengan serius.
“Udah yuk ah cari makan lagi, didepan ada soto lamongan yang dulu pernah gue beli. Aman gak pake penglaris”, aku hanya mengiyakan. Kamipun lanjut berjalan kearah warung tenda yang dimaksud Arif.
Aku masih terbayang sosok mengenaskan yang meminta tolong kepadaku tadi, setelah beres membeli soto lamongan kami segera beranjak pulang, namun saat arah kembali. Aku tidak mendapati sosok tadi yang meminta pertolongan kepadaku.
Aku sepertinya mulai terbiasa untuk tidak takut saat berpapasan dengan makhluk astral, meskipun aku masih merasa ngeri jika berhadapan dengan makhluk bertubuh tinggi besar atau pun makhluk yang memberikan tatapan jahat kepadaku.
Tak berapa lama kami sampai diwarung borju tempat Arif memarkirkan motor, aku mendapati sosok yang kulihat tadi sedang berada didekat motor kami.
Terdengar olehku sosok tersebut meminta tolong kepada Arif namun Arif mengabaikannya, Arif segera menghampiriku dan mengajakku pulang. Aku menatap kearah sosok tersebut, sosok itupun menatapku. Namun dia hanya berdiam diri ditempatnya.
Diperjalanan pulang, aku terus terbayang akan sosok tersebut. Aku penasaran bantuan seperti apa yang dia butuhkan, dan aku juga penasaran tentang peringatan yang dikatakan oleh Arif mengenai keselamatan hidup.
Apakah memang bisa sampai mengancam nyawaku ? tapi aku adalah tipe orang yang mudah bersimpati dan senang jika menolong orang lain meskipun memang kali ini bukanlah orang yang ditolong.
“Ron, bentar lagi mau ngelewatin kuburan. Lu tutup mata lu ya, gue khawatir lu bakal teriak lagi” Ujar Arif dengan nada serius.
Aku hanya bisa menurut setelah membuatnya kesal saat perjalanan berangkat tadi, aku menutup mata dan berusaha menahannya apapun yang terjadi.
Sama seperti saat berangkat tadi aku mendengar suara-suara dari arh makam dan kebun disebrang makam, namun kali ini ada yang berbeda karena aku mendengar suara seorang wanita sedang memanggil nama seseorang .
( anjir gue merinding gan soalnya ni pengalaman TS asli pas pulang kerja ngelewatin kuburan, bedanya TS kagak merem soalnya nyetir motor
, dan mbak kunti ngebonceng dimotor, keliatan sama TS pas nengok kepinggir ada kain ketiup angin dan motor kerasa berat
,tapi TS sekarang pemberani
).“Roni…..Roni..!”
Aku mendengar suara wanita memanggil namaku.
“Ron…Roni..”
suara tersebut kembali terdengar, aku berpikir secara logis tidak mungkin ada wanita biasa yang memanggilku dari arah kebun malam-malam begini.
“Jangan disahut Ron, udah diemin aja “ Terdengar suara Arif mengingatkan.
“Jalo gue jawab emangnya kenapa Rif?”
“Kalo lu jawab tar dia ngikutin elu, dan lu bisa sakit. Soalnya kalo kita bersentuhan dengan mereka. Gak baik, tar gue jelasin.” Arif menghentikan omongannya.
Aku hanya mengiyakan saja. Setelah beberapa menit Arif mengizinkanku untuk membuka mata.
Kami sudah berada dikampung sukagaya, kampung tempat tinggal baruku. Ku cek jam di HP-ku sudah menunjukkan pukul 20.00. sejam setengah sudah aku dan Arif pergi dari rumah.
Semoga saja Sheril tidak marah karena mengunggu terlalu lama. Sepanjang jalan dari areal makam au tidak mengobrol dengan Arif, dan aku hanya melihat sekeliling berharap melihat penampakan aneh untuk bahan di bukuku.
Kamipun akhirnya sampai dirumah. Arif langsung bergegas masuk duluan sambil membawa soto yang kami beli, mungkin sudah sangat lapar.
Saat aku turun dari motor aku melihat seorang ibu-ibu atau mungkin lebih pantas kusebut dengan panggilan tante, dia adalah tetanggaku, umurnya mungkin sekitar tiga puluh lima tahunan. Kami jarang mengobrol karena aku jarang keluar rumah, dia sedang duduk diteras rumahnya bersama anak perempuannya yang seumuran dengan Sheril, namun aku belum mengetahui namanya.
Spoiler for tante :
“Dari mana dek Roni ? tumben keluar rumah ?” sapa tante Tuti dengan senyuman kecilnya.
“Dari pasar bu , habis beli soto buat adek saya“ balasku dengan senyum.
“Itu temenmu dek Roni ? ganteng ya temennya"
Bu Tuti berkata sambil terkikih, dia adalah janda anak satu. Dia bekerja di salah satu bank swasta, namun dengan umur dengan kepala tiga namun dia masih tampil menarik dan seksi karena mengikuti fashion, sehingga orang-orang tidak ada yang menyangaka dia sudah memiliki anak yang duduk dibangku SMA.
“Iya bu temen saya, kebetulan lagi nginep“
“Jangan panggil ibu dong ah, panggil tante aja , emang tante keliatan tua ya sambil memegang wajahnya“
“Mamah “
Tampak anaknya yang duduk disampingnya mencubit tante Tuti,
Aku hanya tersenyum dan bergegas kedalam rumah.
Didalam rumah aku masuk seperti biasa, namun yang membedakan aku harus terbiasa dengan pemandangan sosok baru yang kulihat berkat mata batin ini. Belum lama aku masuk kedalam rumah Sheril menghampiriku.
“Kak kenapa gak beli soto ayam yang waktu itu ? kan enak kak?” tanyanya dengan heran.
“Nih dek, tadi kakak ketemu sama kyai pas mau beli soto. Terus dia ngomong ke kakak katanya warung ini pake jin penglaris dek. Jadi kakak
gak beli “
Aku terpaksa berbohong kepadanya, aku masih belum siap memberi tahu adikku perihal mata batinku.
“Terus kakak percaya gitu aja ? siapa tau itu kyai saingan tukang soto“ sheril memasang wajah kesal.
“Ya udah nanti kakak beliin lagi, sekarang mah soto lamongan dulu aja ya , enak kok itu langganannya bang Arif dek, ngomong-ngomong bang Arif kemana ?”
“Bang Arif dikamar kakak,katanya mau makan dikamar aja biar duduk disofa..soalnya disini gak ada kursi. Ya udah aku balik ke kamar aku kak” sedetik kemudian Sheril berjalan memasuki kamarnya.
Aku lantas berjalan kearah kamar,dan seperti biasa kakek dan nenek masih saja berdiri diruangan tengah. Saat aku menatap mereka, mereka hanya tersenyum kecil dan taring mereka terlihat meskipun sedikit.
Aku tidak merasa takut sedikitpun karena sudah terbiasa kupikir. Bahkan melihat om-om yang berdiri didekat gudang pun aku tidak takut seperti pas pertama melihatnya.
Dikamar, aku mendapati Arif sedang lahap menyantap sotonya. Akupun segera membuka soto dan menyantap bagianku, rasa sotonya enak seperti yang dikatakan Arif.
Begitu selesai makan, aku duduk dikursi kerja ku dan menyalakan laptop sementara Arif duduk di sofa dan menyalakan rokoknya.
“Rif, lu gapapa nginep lama dirumah gue ? emak bapa gak nanyain lu ?”
“Gak usah khawatir ,tadi sore pas lu mandi gue udah ngabarin bakal disini beberapa hari”, ujar Arif sambil memainkan asap rokok yang dihembuskannya.
“Eh Rif tadi lu bilang kalo kita kontak fisik sama makhluk astral ga baik buat kesehatan, maksudnya gimana ?” aku bertanya dengan antusias karena kupikir bisa menjadi bahan untuk buku ku.
“Oh itu, jadi manusia itu punya ion positif Ron, sedangkan mereka itu punya ion negative, jadi kalo kita sentuhan ya bakalan negative, contohnya pernah denger kan istilah dicabak jurig ( dipegang hantu) ada yang suka ngerasa meriang kan kadang gatel-getel. Kaya gitu lah “ aku dengan sigap segera mencatat penjelasan Arif.
“Dah Ron ah gue ngantuk, gue tidur duluan ya“
Diapun segera merebahkan badannya disofa tanpa menggunakan selimut atau apapun,dia mungkin terbiasa tidur seperti itu dirumahnya.
Akupun memutuskan untuk mengetik kejadian yang kualami selama pergi membeli soto tadi. Ketika sedang asyik menulis, aku mendengar suara lelaki dari luar.
“ Mas, tolong mas,”
Suara itu sangat mirip dengan suara sosok yang kutemui tadi dipasar,aju tidak menjawab karena ingat dengan nasihat Arif.
Perlahan aku berdiri dan berjalan pelan kearah jendela, kuangkat tirai dengan perlahan, tidak nampak apa-apa. Sedetik kemudian aku dikejutkan dengan munculnya sosok kuntilanak yang terbang kearahku, aku kaget dan langsung menghalangi wajah dengan sikuku,
aku mencoba melihat lagi.
Spoiler for mbak :
Kuntilanak tersebut berhenti dan melayang didepanku, kulihat wajahnya yang hanya tinggak tulang dengan kulit tipis dan belatung dilubang matanya, rambutnya panjang acak-acakan.
Tak lama kemudian dia terbang menjauh. Saat aku menoleh kebawah dari lubang jendela aku mendapati sosok yang kutemui dilampu merah tadi sedang menatap kearahku. Seraya berkata
“ Mas tolong saya mas, saya butuh bantuan mas “
Namun tiba-tiba aku mendengar suara dari belakang.
BERISIIIK !
.,
Quote:
INFO: - melihat raksasa dialami oleh teman TS yang ketika itu masih tinggal dikalimantan, dia pindah ke sekloah TS ketika SMK
-nama dipanggil kunti dialami oleh TS sendiri ketika perjalanan pulang dari shift 3 jam 00.30 malam melewati kuburan.
- melihat penglaris dialami oleh TS dan Tetangga TS.
-dimintai toong oleh sosok setengah dialami teman TS ketika dia sedang berada dijalur pantura
.-nama dipanggil kunti dialami oleh TS sendiri ketika perjalanan pulang dari shift 3 jam 00.30 malam melewati kuburan.
- melihat penglaris dialami oleh TS dan Tetangga TS.
-dimintai toong oleh sosok setengah dialami teman TS ketika dia sedang berada dijalur pantura
Diubah oleh roni.riyanto 22-01-2018 13:35
sulkhan1981 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas