- Beranda
- Stories from the Heart
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
...
TS
roni.riyanto
Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]
SELAMAT DATANG DI THREAD HORROR ANE YANG SEDERHANA
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/i.pinimg.com/736x/ac/9e/c8/ac9ec8d17096742f52ebfbdcc70fa7e7--dark-art-photography-creepy-photography.jpg)
Assalamualaikum wr.wb
Spoiler for Pembukaan:
![Mata Batin They Among Us Chapter 1 [End]](https://dl.kaskus.id/3.bp.blogspot.com/-ne_rDQngRD8/Vk1ychXHIHI/AAAAAAAAJFs/GTFL1J3f6Mw/s1600/hantu%2Bpocong%2Bmenyeramkan.jpg)
Quote:
imut ya gan 

Quote:
PROLOG
Quote:
Kamu percaya hantu?
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Atau kamu pernah Bertemu dengan mereka ?
ini adalah Kisahku.
Namaku Roni seorang berusia dua puluh satu tahun yang berprofesi sebagai penulis.
berawal dari rasa penasaranku melihat dunia lain untuk bahan tulisan dibuku baruku.
aku nekat membuka mata batinku sendiri dengan mencoba banyak ritual.
hingga suatu hari mendapati diriku mulai dapat melihat keberadaan MEREKA.
Siapa sangka ternyata setelah aku membuka mata batinku masalah demi masalah muncul,
dan ternyata masalah tersebut mengancam keselamatanku dan adikku Sheril . .
Quote:
FAQ:
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapet
Q: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Q: cerita dan karakter disini nyata gan ?
A: alur dan karakter disini fiksi, namun semua kejadian mistisnya diangkat dari pengalaman nyata TS dan kawan2 TS.
Q: TS pernah bibuka mata batin ?
A: pernah
, namun sekarang sudah ditutup karena alasan risih, bukan takut 
Q: risih kenapa gan ?
A: risih karena dikit2 kaget,dikit2 mual dan risih pas mandi ditongrongin neng kunti.
Q: jadi ini cuma karangan gan ?
A: cerita utama memang dikarang, namun kejadian mistis yang dialami oleh karakter sepenuhnya nyata pernah dialami TS dan kerabat TS
tapi untuk keseimbangan cerita ane tambahin unsur Fiksi biar ceritanya lebih dapetQ: kapan update nya gan ?
A: biasanya saya update jam 20.00-24.00 Karena TS sedang sekolah bahasa updatenya cuma bisa seminggu sekali gansis. Update tiap malam minggu
Quote:
Kalau agan dimari suka cerita saya, mohon untuk
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake
share gan dan juga komengnya 
yang udah iso boleh timpuk ane pake

Selamat Membaca
Quote:
PENTING
Just Info untuk Thread ini ane akan buat tamat di chapter 1, untuk lanjutan ceritanya bisa dibaca nanti di chapter 2 yang akan di posting di thread baru segera.
Terima Kasih
INDEX PART
Kesan Pertama (pengenalan bagi Roni )
1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
RONI1. Dunia lain
2. Buka Mata Batin
3. Penghuni Rumah
4. Hantu Penglaris
5. Hantu Anak Kecil
Sisipan sekilas Linda
POPI
6. Hantu Siswi
7. Hantu Penunggu Sekolah
8. Dijilat Hantu /
9. Hantu Toilet
SHERIL
10. Hantu Toilet 2
Biografi Karakter
11. Jurig Kincir 1..
12. Jurig Kincir 2 ..
Sisipan Real Story si Bray
13. Jurig Kincir (Sheril)
LINDA
14. Uyut Catam
15. Rumah Linda
16. Saingan Linda (Sheril)
17. Kematian Linda
GALIH
18. Kemah di Curug 18 Januari 2018
19. Sesajen 19 Januari 2018
20. Sesajen part Dua 20 Januari 2018
21. Sesajen part Tiga 21 Januari 2018
22. Buntelan kecil 27 Januari 2018
Cerpen Cheesecake
23. buntelan kecil dua 7 Februari 2018
24. Wanita ? 11 Februari 2018
25. Wanita Dua 24 Februari 2018
AYU
26. Kemah lagi 10 Maret 2018
27. Sareupna 17 Maret 2018
28. Bingung 24 Maret 2018
SHERIL (2)
29.Mimpi (Sheril) 26 Maret 2018
30. Rumah Anggi (Sheril) 31 Maret 2018
31. Siapa? (Sheril) 15 April 2018
32. Ikan? 22 April 2018
33. Bayangan 29 April 2018
34. Masa Lalu 7 mei 2018
35. HATI 16 Mei 2018 ( Late Post)
36. Kakak 7 Juli 2018(Sheril)
37. Kakak-2 14 Agustus 2018(Sheril)
38. Perjalanan 3 Oktober 2018(Sheril)
BEGINNING
39. Permulaan 27 Oktober 2018(Sheril)
Teaser Chapter 2
Selamat pagi/siang/malam gansis yang suka mampir ke Thread ini, ane cuma mau bilang maaf karena ane baka vacum di dunia perinternetan untuk waktu yang bakalan lama. sebenernya udah ada lanjutan chapter 2 cuma ane ngerasa sangsi buat postingnya karena belum selesai 100%. jadi buat agan dan sista yang nunggu kelanjutannya harus berlapang dada karena ane mau vacum karena suatu alasan.
Terimakasih
Salam Kentang
Polling
Poll ini sudah ditutup. - 80 suara
Gimana Ceritanya Gan ?
Bagus Ceritanya Serem.
65%
Lumayan Seram,
28%
Boring Gan .
8%
Diubah oleh roni.riyanto 10-01-2019 16:41
sulkhan1981 dan 9 lainnya memberi reputasi
8
307.2K
Kutip
1.7K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•1Anggota
Tampilkan semua post
TS
roni.riyanto
#2
Quote:
2. Buka Mata Batin
Aku terbelalak ketika menyadari sosok hantu wanita yang melayang didepanku berwujud Linda, mantan pacarku yang sudah lama meninggal. Perasaanku menjadi campur aduk antara ngeri dan senang, disatu sisi aku merasa senang karena bisa berjumpa kembali dengan Linda.
Disisi lain aku merasa khawatir jika dia hanya Jin yang menyerupai Linda. Untuk beberapa saat kami berdua saling terdiam menatap satu sama lain, wajah dari sosok yang kulihat sekarang benar-benar mirip sekali dengan Linda.
“Linda ?”
Aku memberanikan diri bertanya kepadanya, sosok tersebut diam tak merespon ucapanku. Dia hanya tersenyum, aku tidak mengerti kenapa dia memberikan senyum kepadaku.
Mulutnya terbuka dan tampak seperti mengucapkan sesuatu namun aku tidak mendengar suara apapun, sesaat kemudian dia menghilang perlahan dari pandangan.
Aku tidak sempat membaca gerakan bibirnya karena itu terjadi dengan sangat cepat. Tiba-tiba dari luar terdengar suara adzan subuh, aku terkejut karena ketika aku melakukan ritual aku yakin sekali saat itu baru pukul satu dini hari dan sekarang sudah terdengar adzan subuh.
Jam menunjukkan pukul 04.30, sepertinya aku masuk ke dimensi tempat Linda berada untuk beberapa saat, mungkin waktu yang berputar didunia kami berbeda.
Badanku terasa sangat lemas seperti sudah melakukan olahraga berat, rasanya begitu pegal setiap sendi yang ada ditubuhku, kemudian aku mulai tak sadarkan diri lagi.
“Allahu akbar allahu akbar”
Terdengar suara adzan dari mesjid yang tak jauh dari rumahku berada. Aku membuka mata perlahan, sepertinya aku tidur dilantai lagi untuk kedua kalinya, kepalaku terasa sangat berat.
Aku bangkit dari lantai menuju ketempat tidurku dan merebahkan badan, kutoleh kesamping kanan tempat tidur nampak sisa lilin dan bahan-bahan ritual semalam. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi denganku semalam namun aku tidak mengingat apapun, yang kuingat hanyalah bertemu dengan Linda
Sepertinya aku bermimpi, dia seperti berkata kepadaku namun aku tidak dapat mendengar suaranya. Meskipun aku merasakan seluruh badanku terasa sakit, aku mencoba untuk kekamar mandi dan mengambil air wudhu untuk shalat karena subuh tadi aku tidak shalat maka jangan sampai saat dzuhurpun aku lewatkan.
Usai shalat dzuhur aku menuju ruangan tengah, tidak nampak siapapun diruangan tengah. Suatu benda menyita perhatianku, benda berwarna putih yang menempel dikulkas, rupanya memo dari Sheril.
“Kak aku ada perlu kesekolah buat ngelengkapin kekurangan data, didapur aku udah masak tongkol bumbu cabe kesukaan kakak, aku kayaknya pulang sore mau main ke Mall dulu”
Aku mengecek kedapur dan benar memang ada Tongkol bumbu Cabe, aku menyempatkan diri untuk sarapan agar tenaga dalam tubuhku pulih.
Selesai makan aku mulai berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat hanyalah aku melakukan ritual namun Nihil dan bermimpi bertemu Linda, tapi aku merasa itu terasa sangat nyata.
Apa jangan-jangan itu semua memang nyata ? Aku kehabisan akal untuk berpikir dan mengabaikan hal tersebut.
Aku kembali kekamar dan duduk di meja kerjaku, disana aku melanjutkan bacaan tentang membuka matabatin. Pilihan yang tersisa tinggal dua saja, yakni membuka mata batin ke dukun atau membuka mata batin sendiri dengan mengusapkan tanah kuburan.
“Kalo ke dukun mesti bayar, udah gitu ga asik kalo gue tulis dibuku, rasanya mendingan nekat ngusapin tanah kuburan ke mata, elain bisa jadi bahan tulisan juga berasa sensasinya”
Aku bergumam sendiri didalam kamar sambil menggigit pulpenku.
Aku teringat dengan teman SMA ku Arif, jika tidak salah dia hobi dengan hal-hal mistis. Dengan sigap kutelfon nomer nya dan tak berapa lama terdengar suara dari ujung telfon.
“Hallo assalamualaikum”
“Waalaikum salam, rif gimana kabar ? sehat ?”
“Alhamdulilah sehat, ada angina apa Ron nelfon gue ?”
“Emm lu lagi sibuk ga Rif? Gue ada perlu nih” ujarku dengan nada sedikit memelas.
“Ada perlu apaan ? ya gue sekarang lagi nganggur kemarin habis kontrak kerja " nada jawaban Arif malah terdengar lebih melas dariku.
" Ya udah sekarang lu bisa kerumah gue gak? Lu masih inget kan jalannya ?”
Aku berkata demikian karena Arif membantu kami pindahan dua minggu lalu.
“Inget Ron, ya udah gue kesana sekarang. Asal ngasilin duit aja ya, kalo ga ngasilin gue males “ ujar Arif sambil tertawa.
“Lu gak usah khawatir , ya buat roko mah udah gue sedia-in”
“Ya udah gue OTW sekarang ya. Tunggu 30 menit nyampe lah”
"Ok sip“
Disini ditulis waktu terbaik untuk mengambil tanah kuburan adalah tepat pukul dua belas malam dan dimakam yang belum tujuh hari. Sambil menunggu Arif datang aku merasa ingin makan mie instan, lalu aku memasak kuper-mie rasa yang terpendam.
“Tiiin…tiinn”
Terdengar olehku suara klakson motor, aku bergegas keluar ternyata Arif sudah sampai, lebih cepat dari yang kukira. Arif terlihat mengenakan kaos berwarna biru tua, Arif berbadan tinggi kurus, bermata sipit dan rambutnya kriting seperti bulu domba.
“Rif cepet banget nyampe nya, sini masuk”
Arif langsung memarkirkan motornya dihalaman depan, kami berdua langsung menuju kamar untuk segera membicarakan maksudku mengundangnya kemari.
“Jadi gini Rif, geu tuh butuh bahan buat buku baru gue. Dan gue butuh hal yang berhubungan sama hal-hal mistis”
Aku langsung membuka pembicaraan kepoint utama karena ingin segera kulakukan.
“Maksud lo?“ Arif bertanya dengan wajah heran.
“Gue pengen buka mata batin gue Rif, gue pengen ngeliat makhluk halus pake kepala gue sendiri. Biar gue bisa jelas nulis tentang apa yang gue liat”
“Bentar, bentar ,bentar, gak salah denger gue nih ?” Arif mengerutkan dahinya lalu melanjutkan.
“Ngebuka mata batin itu gak main-main Ron, emang lu yakin mental lu bakalan kuat. Gue khawatirnya ga kuat dan kalo gak kuat, bisa jadi Gila lu ntar " Arif berkata dengan nada sedikit membentakku.
“Maksud lo gak kuat gimana Rif ?”
“Ya gue dulu pernah dibuka mata batin gue, dan gue Cuma bertahan sehari doang, bukan masalah gue ngeri liat makhluk halusnya. Tapi itu lho ribet kalo mau kemana-mana !”
Kenudian Arif merebahkan badannya di sofa karena mungkin lelah diperjalanan.
Aku merasa penasaran dengan pernyataan temanku ini, yang kutahu dia ini sosok lelaki yang berani dan tidak takut dengan makhluk halus. Namun sekarang kenapa dia begitu khawatir saat mendengar aku ingin membuka mata batin.
Apakah memang besar sekali resiko yang harus dihadapi sampai temanku ini ingin melarangku secara tidak langsung? Akan tetapi aku merasa mantap ingin membuka mata batinku.
“Maksud lo ribet kemana-mana gimana Rif ?”
Aku berjalan kemudian duduk diranjang dan menumpangkan kakiku.
“ Ya gue males aja, kalo ngeliat nya penampakan mah gue gak masalah yang keliatan Cuma satu, tapi kalo lu buka mata batin lu, lu bakalan liat banyak. Jalanan yang gak begitu rame kalo dipasar, kalo lu liat pake mata batin bakalan rame itu jalan, belum lagi nih sensai gak enak yang bikin gue risih ”
“Risih gimana maksud lu Rif ?”
Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran soal yang dikatakan Arif. Arif kemudian berdiri dan berjalan mendekati jendela.
“Lu tau kan Ron gue ini orangnya gak suka kalo diliatin orang lain ? ya kalo diliatin cewek cakep mah gue seneng, sekarang nih ya, lu kemana-mana ngeliatain hantu. Nah kita yang mata batinnya kebuka disaranin kalo ngeliat makhluk halus kita ga boleh natap matanya”
Arif kemudian berhenti bicara dan kembali duduk di sofa.
“Emang kenapa Rif kalo kita natap mata mereka ?” aku semakin tertarik dengan masalah mata batin ini.
“Soalnya kalo kita natap mata mereka, mereka bakalan sadar kalo kita bisa ngeliat mereka, mending kalo setannya cuek. Tapi rata-rata mereka ga suka kalo kita natap mata mereka apalagi sampe melilit “
Kulihat Arif bergidik sendiri saat menceritakan pengalamannya, aku berdiri dan berpindah duduk ke meja kerjaku, lalu menarik nafas dalam-dalam dan membulatkan tekad.
“Gue udah mantep Rif mau buka mata batin, gue udah baca dan denger resiko yang bakal dirasain. Sekarang gue minta lu kesini sebenernya mau minta anter ke kuburan buat ngambil tanah kuburan”
Arif sedikit terkejut saat mendengar aku akan membuka mata batin dengan menempuh jalan itu.
“Lu yakin Ron? Kenapa ga minta dibukain ke kyai aja yang gampang , aman lagi ”
“Gue tau Rif, tapi gue merasa tertantang ngalamin sensasi nya buat gue tulis nanti dibuku gue” Ucap gue sambil tersenyum.
Arif yang mendengar gue hanya bisa pasrah karena dia tau kalau aku sudah memutskan sesuatu apapun yang terjadi pasti akan aku usahakan.
“Ya udah kalo lu udah mantap, lu tau kan kita harus kemana ?” aku hanya menjawab pertanyaan Arif dengan senyum kecil.
---------------------------------------00------------------00---------------------------------------
[url=https://S E N S O Rnedleyfallsmusic-1/come-out-and-play-creepy-music] PLAY DULU GAN [/url]
Malam harinya sekitar pukul sebelas malam, aku bersiap-siap pergi kekuburan kampung sebelah, karena kebetulan empat hari yang lalu aku mendengar ada jenazah yang baru saja dimakamkan.
Aku menuju kamar Sheril memastikan dia sudah tertidur, khawatir dia akan menahanku jika dia tahu aku akan pergi malam-malam begini.
Setelah memastikan Sheril benar-benar tertidur, aku segera memberi tahu Arif untuk segera menyalakan motor matic nya namun jangan dinyalakan didekat rumah khawatir Sheril akan terbangun.
Jarak dari rumah untuk ke kuburan cukup jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, namun jika menggunakan sepeda motor mungkin hanya sekitar sepuluh menit saja.
Setelah berjalan cukup jauh dari rumah akhrinya Arif menyalakan motornya,dengan segera kami menuju Kuburan kampong sebelah.
Kuburan tersebut bersebelahan dengan sebuah pabrik garment, jadi suasana disana tidak terlalu sepi karena adanya warung-warung burjo yang buka 24 jam. Namun tetap saja yang namanya kuburan punya aura angkernya tersendiri.
Malam ini sebenarnya terang bulan, namun terasa gelap karena bulan terhalang oleh awan. Tak lama sampai ditempat yang kami tuju, kami memarkirkan motor disebuah warung burjo kenalan Arif,
“Mau ngapain Rif malem-malem jalan kearah kuburan ? “
Seorang pemilik warung burjo bertanya kepada Arif, dengan wajah santai Arif menjawab dengan sedikit tertawa.
“Rek newak jurig wa ( mau nangkep setan om )" Penjaga warung hanya bergidik saat Arif berkata demikian.
Tak butuh waktu lama kami sampai digerbang Area kuburan, tertulis digerbang dengan tulisan terbuat dari besi yang dicat warna putih
"Kuburan kampong sukagaya“
![kaskus-image]()
Aku dengan sigap mengeluarkan senter dari balik jaketku, dan Arif nampaknya tidak terganggu dengan udara dingin dan tetap santai dengan kaos T-shirt nya.
Aku memperhatikan kearah makam, gelap sekali karena lampu penerangan disini nampaknya kurang terawat. Beberapa kali aku menjumpai tiang lampu namun lampunya padam.
“Gimana lu siap masuk ke kuburan jam segini Ron?“
Arif bertanya lagi kepadaku, sepertinya dia masih ragu dengan keputusanku menempuh jalan ini.
“Gue yakin-seyakin nya Rif, karena gue ngerasa emang butuh”
Aku menjawab dengan tegas meskipun sebenarnya aku merasakan sedikit rasa takut karena aku belum pernah masuk ke areal pemakaman dimalam hari.
“Bentar, bentar gue mau nanya, lu tuh sebenernya berani gak kalo tar pas mata batin kebuka lu bakal liat yang begituan”
Arif menatapku dengan serius menggunakan mayanya yang tajam, seolah memaksaku memberikan jawaban yang bagus.
“Ya berani lah Rif “
“Kalo berani ko minta ditemenin sama gue ? kenapa gak sendiri aja ?”
Kampret nih anak mulai timbul sifat nyebelinnya sama seperti pas masa SMA.
“Emmmm” aku menggaruk-garuk kepala.
“Nah kan udah gue duga, ya udah sekarang mah udah setengah jalan. Sayang kalo harus batal. Sini bentar Ron”
Arif menyuruhku agar mendekat kepadanya, kemudian aku disuruh untuk membelakanginya. Aku merasa telapak tangannya memegang punggunggku dan terdengar samar-samar suaranya merapalkan mantra, punggungku terasa hangat.
“Udah beres, lu boleh ngadep kesini lagi” ucap Arif.
“Abis lu apain Rif gue ? ko tadi gue ngerasa anget gitu”
Arif kemudian menyalakan rokoknya lalu berkata.
“Barusan gue kasih pager gaib badan lu biar ga diganggu sama penghuni makam” tampaknya dia khawatir terjadi hal buruk kepadaku.
“Ah ga usah segitu khawatirnya kali Rif , gue belum pernah denger kabar berita orang dibunuh sama setan”
Aku tertawa kecil, Arif hanya diam. sesaat kemudian dia memegang pundakku dan berkata,
“Emang mereka gak bisa bunuh kita langsung, tapi mereka punya sihir yang bisa nipu daya kita,ngerubah pandangan kita, kalo jinnya sihirnya tingkat tinggi mereka bisa mukul lu dan kerasa sama badan kita. Kita emang makhluk paling sempurna ..tapi inget kita ga boleh sombong karena diatas langit masih ada langit”
Aku hanya tertegun mendengar perkataan lelaki yang sudah enam tahun menjadi sahabatku.
Sedetik kemudian Arif mengajak segera masuk mencari kuburan baru yang dimaksud karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30.
Aku dan Arif memasuki areal pemakaman untuk mencari lokasi kuburan baru,baru beberapa menit memasuki areal makam. Aku merasakan seperti sedang berada ditengah kerumunan orang, mataku selalu memperhatikan nisan kuburan di areal ini.
![kaskus-image]()
Sesekali aku dikagetkan dengan suara burung. Aku dan Arif berjalan semakin masuk kedalam area makam, hingga akhirnya kami menemukan kuburan yang kami cari. Kuburan tersebut tampak masih baru meskipun sebenarnya ini adalah kuburan empat hari yang lalu. Aku mengecek nama yang tertulis di patok kuburan, tertulis disana Umar bin Tarji lahir Mei 1980 wafat September 2017.
Arif menegurku agar segera mengambil tanah kuburan ini kedalam botol yang telah kami siapkan. Ketika aku sedang memasukkan tanah tiba-tiba aku Arif berbicara Sunda halus kearah depan kami.
“Punten abdi didieu teu aya niat ganggu, ngan nyuhunkeun taneuh sakedik ( permisi, saya disini tidak ganggu, Cuma mau minta tanah sedikit )"
Aku kaget namun aku dengan cepat mengantongi botol yang sudah terisi tanah dari kuburan didepanku.
Aku masih dalam poisi jongkok, rasanya terasa berat sekali untuk menggerakan kedua kaki-ku. Aku menoleh kearah Arif dia tampak tenang sambil menghisap rokok-nya dengan wajah santai, aku bisa melihat wajahnya karena cahaya bulan cukup menerangi kami.
Kakiku mulai bisa digerakkan, aku teringat kenapa Arif mengucapkan permisi. Aku memberanikan diri melihat kearah yang sama dengan Arif, jantungku berdegup kencang.suasana terasa sangat sepi dan mencekam sesekali terdengar suara burung hantu.
Saat aku mengadahkan kepalaku kearah yang sama dengan pandangan Arif, aku merasa kaget bukan main karena tepat didepan kami berdiri atau lebih tepatnya melayang kain putih yang membungkus berbentuk permen.
Ya itu adalah Pocong, ini adalah kali kedua aku melihat makhluk ini, dan rasanya jauh berbeda saat aku melihat Pocong saat masih kecil. Karena kali ini Pocongnya sangatlah dekat denganku mungkin hanya berjarak tiga meter saja, tubuhku berkeringat dan jantungku berdegup kencang.
Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menatap kearah Pocong itu, mataku melihat dengan jelas sosok Pocong ini. Kain kafan berwarna putih kusam ,serta wajah yang hanya tinggal tulang belulang.
Aku dengan terbata-bata mengucapkan hal yang serupa dengan Arif, tak berapa lama Pocong tersebut melayang menjauh hingga hilang dari pandangan disertai dengan badanku yang mulai bisa bergerak kembali.
Aku berdiri dan mendekati Arif, Arif nampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menatapku kemudian tertawa seraya berkata.
“Kenapa Ron, takut ? katanya mau buka mata batin kiat begituan aja udah ngeri, apalagi nanti “
Arif tertawa kecil kemudian kembali menghisap rokoknya dengan santai.
“Gak kok, gue gak takut “
Aku berkata dengan sok kuat, Arif hanya tertawa kecil, kemudian mengajaku untuk segera pulang.
Terangnya cahaya bulan membuat ku bisa melihat areal pemakaman dengan jelas,bahkan bukan areal pemakaman saja yang menjadi jelas, namun penampakan juga semakin jelas.
Beberapa menit melangkah dari kuburan tadi aku sudah mendapati sosok perempuan sedang duduk dibatu nisan menggunakan gaun putihnya,sosok tersebut hanya diam.
Aku tidak dapat melihat wajahnya karena terhalang oleh rambut panjang yang acak-acakan. Selang beberapa meter aku mendapati sesosok lelaki dengan badan hitam legam dan mata hijau menyala memandangiku dari jauh. Bulu kudukku merinding, yang pasti sepanjang jalan setapak menuju keluar area aku selalu berpapasan dengan makhluk yang biasa kita sebut hantu.
Akhirnya kami sampai digerbang masuk dan segera mengambil motor Arif yang diparkir di warung borju. Diperjalanan menuju pulang Arif tak henti-hentinya menertawaiku karena melihat aku gemetar ketika berhadapan dengan sosok Pocong tadi.
“Lu baru iiat begitu aja ngeri, apalagi kalo liat yang lain Ron !”
Arif mengejekku dengan tawa kecilnya, Aku hanya diam kemudian Arif berkata lagi..
“Gue malem ini nginep ya, jaga-jaga kalo ada apa-apa “
Kali ini Arif berkata dengan nada serius, seolah dia memikirkan sesuatu yang penting. Aku hanya mengiyakan tanpa banyak bicara
Sepuluh menit kemudian kami sampai dirumahku, segera kubuka pintu depan agar motor Arif bisa masuk dan kami bergegas menuju kamar.
Didalam kamar Arif memintaku mengeluarkan tanah kuburan yang ku ambil tadi, lalu menuangkannya diatas kain putih, Arif kemudian menjelaskan.
“Ron, dunia ghaib itu ada tingkatannya. Tingkat pertama itu tingkat rendah tempat jin rendah kaya kuntilanak,genderuwo,pocong dll. Tingkat kedua ada jin yang rupanya seperti manusia namun punya dimens lain, yang ketiga tingkatan Jin yang berbadan tinggi berwajah cantik dan tampan, terus….”
Arif berhenti sejenak sambil menggaruk kepalanya seperti sedang berpikir keras.
“Ah gue lupa ,,haha” dia malah tertawa.
“Terus kalo gue pake cara ini gue bakal ada di tingkatan mana ?”
“Kalau make cara ini yang kebuka tingkat pertama, udah cepet lu olesin ke kelopak mata lu“
Kuoleskan tanah kuburan dikedua kelopak mataku, untuk beberapa saat aku menutup mata. Perlahan aku membuka mata dengan deg-degan khawatir akan ada sosok aneh dhadapanku, namun saat kubuka aku tidak mendapati apapun.
“Rif ko gue ga ngeliat yang aneh nih, biasa aja“
Aku merasa sedikit kecewa, Arif tidak menjawab dan hanya memberi senyuman.
“Udah sekarang mending tidur aja,besok liat hasilnya“
Jawab Arif seraya merebahkan badannya di sofa lalu tidur, aku hanya bisa nurut saja.
“Triiiiiinng….trinnnngg…"
Terdengar suara alarm dari HP-ku aku langsung terbangun,namun alangkah kagetnya aku saat membuka mata karena dihadapanku terdapat sesosok wajah nenek tua dengan jarak hanya 10cm sedang melihatku, dan yang paling membuat aku terkejut karena bola matanya berwarna hitam semua. kemudian aku tak sadarkan diri.
Aku terbelalak ketika menyadari sosok hantu wanita yang melayang didepanku berwujud Linda, mantan pacarku yang sudah lama meninggal. Perasaanku menjadi campur aduk antara ngeri dan senang, disatu sisi aku merasa senang karena bisa berjumpa kembali dengan Linda.
Disisi lain aku merasa khawatir jika dia hanya Jin yang menyerupai Linda. Untuk beberapa saat kami berdua saling terdiam menatap satu sama lain, wajah dari sosok yang kulihat sekarang benar-benar mirip sekali dengan Linda.
“Linda ?”
Aku memberanikan diri bertanya kepadanya, sosok tersebut diam tak merespon ucapanku. Dia hanya tersenyum, aku tidak mengerti kenapa dia memberikan senyum kepadaku.
Mulutnya terbuka dan tampak seperti mengucapkan sesuatu namun aku tidak mendengar suara apapun, sesaat kemudian dia menghilang perlahan dari pandangan.
Aku tidak sempat membaca gerakan bibirnya karena itu terjadi dengan sangat cepat. Tiba-tiba dari luar terdengar suara adzan subuh, aku terkejut karena ketika aku melakukan ritual aku yakin sekali saat itu baru pukul satu dini hari dan sekarang sudah terdengar adzan subuh.
Jam menunjukkan pukul 04.30, sepertinya aku masuk ke dimensi tempat Linda berada untuk beberapa saat, mungkin waktu yang berputar didunia kami berbeda.
Badanku terasa sangat lemas seperti sudah melakukan olahraga berat, rasanya begitu pegal setiap sendi yang ada ditubuhku, kemudian aku mulai tak sadarkan diri lagi.
“Allahu akbar allahu akbar”
Terdengar suara adzan dari mesjid yang tak jauh dari rumahku berada. Aku membuka mata perlahan, sepertinya aku tidur dilantai lagi untuk kedua kalinya, kepalaku terasa sangat berat.
Aku bangkit dari lantai menuju ketempat tidurku dan merebahkan badan, kutoleh kesamping kanan tempat tidur nampak sisa lilin dan bahan-bahan ritual semalam. Aku mencoba mengingat apa yang terjadi denganku semalam namun aku tidak mengingat apapun, yang kuingat hanyalah bertemu dengan Linda
Sepertinya aku bermimpi, dia seperti berkata kepadaku namun aku tidak dapat mendengar suaranya. Meskipun aku merasakan seluruh badanku terasa sakit, aku mencoba untuk kekamar mandi dan mengambil air wudhu untuk shalat karena subuh tadi aku tidak shalat maka jangan sampai saat dzuhurpun aku lewatkan.
Usai shalat dzuhur aku menuju ruangan tengah, tidak nampak siapapun diruangan tengah. Suatu benda menyita perhatianku, benda berwarna putih yang menempel dikulkas, rupanya memo dari Sheril.
“Kak aku ada perlu kesekolah buat ngelengkapin kekurangan data, didapur aku udah masak tongkol bumbu cabe kesukaan kakak, aku kayaknya pulang sore mau main ke Mall dulu”
Aku mengecek kedapur dan benar memang ada Tongkol bumbu Cabe, aku menyempatkan diri untuk sarapan agar tenaga dalam tubuhku pulih.
Selesai makan aku mulai berusaha mengingat-ngingat apa yang terjadi semalam. Yang kuingat hanyalah aku melakukan ritual namun Nihil dan bermimpi bertemu Linda, tapi aku merasa itu terasa sangat nyata.
Apa jangan-jangan itu semua memang nyata ? Aku kehabisan akal untuk berpikir dan mengabaikan hal tersebut.
Aku kembali kekamar dan duduk di meja kerjaku, disana aku melanjutkan bacaan tentang membuka matabatin. Pilihan yang tersisa tinggal dua saja, yakni membuka mata batin ke dukun atau membuka mata batin sendiri dengan mengusapkan tanah kuburan.
“Kalo ke dukun mesti bayar, udah gitu ga asik kalo gue tulis dibuku, rasanya mendingan nekat ngusapin tanah kuburan ke mata, elain bisa jadi bahan tulisan juga berasa sensasinya”
Aku bergumam sendiri didalam kamar sambil menggigit pulpenku.
Aku teringat dengan teman SMA ku Arif, jika tidak salah dia hobi dengan hal-hal mistis. Dengan sigap kutelfon nomer nya dan tak berapa lama terdengar suara dari ujung telfon.
“Hallo assalamualaikum”
“Waalaikum salam, rif gimana kabar ? sehat ?”
“Alhamdulilah sehat, ada angina apa Ron nelfon gue ?”
“Emm lu lagi sibuk ga Rif? Gue ada perlu nih” ujarku dengan nada sedikit memelas.
“Ada perlu apaan ? ya gue sekarang lagi nganggur kemarin habis kontrak kerja " nada jawaban Arif malah terdengar lebih melas dariku.
" Ya udah sekarang lu bisa kerumah gue gak? Lu masih inget kan jalannya ?”
Aku berkata demikian karena Arif membantu kami pindahan dua minggu lalu.
“Inget Ron, ya udah gue kesana sekarang. Asal ngasilin duit aja ya, kalo ga ngasilin gue males “ ujar Arif sambil tertawa.
“Lu gak usah khawatir , ya buat roko mah udah gue sedia-in”
“Ya udah gue OTW sekarang ya. Tunggu 30 menit nyampe lah”
"Ok sip“
Disini ditulis waktu terbaik untuk mengambil tanah kuburan adalah tepat pukul dua belas malam dan dimakam yang belum tujuh hari. Sambil menunggu Arif datang aku merasa ingin makan mie instan, lalu aku memasak kuper-mie rasa yang terpendam.
“Tiiin…tiinn”
Terdengar olehku suara klakson motor, aku bergegas keluar ternyata Arif sudah sampai, lebih cepat dari yang kukira. Arif terlihat mengenakan kaos berwarna biru tua, Arif berbadan tinggi kurus, bermata sipit dan rambutnya kriting seperti bulu domba.
“Rif cepet banget nyampe nya, sini masuk”
Arif langsung memarkirkan motornya dihalaman depan, kami berdua langsung menuju kamar untuk segera membicarakan maksudku mengundangnya kemari.
“Jadi gini Rif, geu tuh butuh bahan buat buku baru gue. Dan gue butuh hal yang berhubungan sama hal-hal mistis”
Aku langsung membuka pembicaraan kepoint utama karena ingin segera kulakukan.
“Maksud lo?“ Arif bertanya dengan wajah heran.
“Gue pengen buka mata batin gue Rif, gue pengen ngeliat makhluk halus pake kepala gue sendiri. Biar gue bisa jelas nulis tentang apa yang gue liat”
“Bentar, bentar ,bentar, gak salah denger gue nih ?” Arif mengerutkan dahinya lalu melanjutkan.
“Ngebuka mata batin itu gak main-main Ron, emang lu yakin mental lu bakalan kuat. Gue khawatirnya ga kuat dan kalo gak kuat, bisa jadi Gila lu ntar " Arif berkata dengan nada sedikit membentakku.
“Maksud lo gak kuat gimana Rif ?”
“Ya gue dulu pernah dibuka mata batin gue, dan gue Cuma bertahan sehari doang, bukan masalah gue ngeri liat makhluk halusnya. Tapi itu lho ribet kalo mau kemana-mana !”
Kenudian Arif merebahkan badannya di sofa karena mungkin lelah diperjalanan.
Aku merasa penasaran dengan pernyataan temanku ini, yang kutahu dia ini sosok lelaki yang berani dan tidak takut dengan makhluk halus. Namun sekarang kenapa dia begitu khawatir saat mendengar aku ingin membuka mata batin.
Apakah memang besar sekali resiko yang harus dihadapi sampai temanku ini ingin melarangku secara tidak langsung? Akan tetapi aku merasa mantap ingin membuka mata batinku.
“Maksud lo ribet kemana-mana gimana Rif ?”
Aku berjalan kemudian duduk diranjang dan menumpangkan kakiku.
“ Ya gue males aja, kalo ngeliat nya penampakan mah gue gak masalah yang keliatan Cuma satu, tapi kalo lu buka mata batin lu, lu bakalan liat banyak. Jalanan yang gak begitu rame kalo dipasar, kalo lu liat pake mata batin bakalan rame itu jalan, belum lagi nih sensai gak enak yang bikin gue risih ”
“Risih gimana maksud lu Rif ?”
Aku bertanya dengan penuh rasa penasaran soal yang dikatakan Arif. Arif kemudian berdiri dan berjalan mendekati jendela.
“Lu tau kan Ron gue ini orangnya gak suka kalo diliatin orang lain ? ya kalo diliatin cewek cakep mah gue seneng, sekarang nih ya, lu kemana-mana ngeliatain hantu. Nah kita yang mata batinnya kebuka disaranin kalo ngeliat makhluk halus kita ga boleh natap matanya”
Arif kemudian berhenti bicara dan kembali duduk di sofa.
“Emang kenapa Rif kalo kita natap mata mereka ?” aku semakin tertarik dengan masalah mata batin ini.
“Soalnya kalo kita natap mata mereka, mereka bakalan sadar kalo kita bisa ngeliat mereka, mending kalo setannya cuek. Tapi rata-rata mereka ga suka kalo kita natap mata mereka apalagi sampe melilit “
Kulihat Arif bergidik sendiri saat menceritakan pengalamannya, aku berdiri dan berpindah duduk ke meja kerjaku, lalu menarik nafas dalam-dalam dan membulatkan tekad.
“Gue udah mantep Rif mau buka mata batin, gue udah baca dan denger resiko yang bakal dirasain. Sekarang gue minta lu kesini sebenernya mau minta anter ke kuburan buat ngambil tanah kuburan”
Arif sedikit terkejut saat mendengar aku akan membuka mata batin dengan menempuh jalan itu.
“Lu yakin Ron? Kenapa ga minta dibukain ke kyai aja yang gampang , aman lagi ”
“Gue tau Rif, tapi gue merasa tertantang ngalamin sensasi nya buat gue tulis nanti dibuku gue” Ucap gue sambil tersenyum.
Arif yang mendengar gue hanya bisa pasrah karena dia tau kalau aku sudah memutskan sesuatu apapun yang terjadi pasti akan aku usahakan.
“Ya udah kalo lu udah mantap, lu tau kan kita harus kemana ?” aku hanya menjawab pertanyaan Arif dengan senyum kecil.
---------------------------------------00------------------00---------------------------------------
[url=https://S E N S O Rnedleyfallsmusic-1/come-out-and-play-creepy-music] PLAY DULU GAN [/url]
Malam harinya sekitar pukul sebelas malam, aku bersiap-siap pergi kekuburan kampung sebelah, karena kebetulan empat hari yang lalu aku mendengar ada jenazah yang baru saja dimakamkan.
Aku menuju kamar Sheril memastikan dia sudah tertidur, khawatir dia akan menahanku jika dia tahu aku akan pergi malam-malam begini.
Setelah memastikan Sheril benar-benar tertidur, aku segera memberi tahu Arif untuk segera menyalakan motor matic nya namun jangan dinyalakan didekat rumah khawatir Sheril akan terbangun.
Jarak dari rumah untuk ke kuburan cukup jauh jika harus ditempuh dengan berjalan kaki, namun jika menggunakan sepeda motor mungkin hanya sekitar sepuluh menit saja.
Setelah berjalan cukup jauh dari rumah akhrinya Arif menyalakan motornya,dengan segera kami menuju Kuburan kampong sebelah.
Kuburan tersebut bersebelahan dengan sebuah pabrik garment, jadi suasana disana tidak terlalu sepi karena adanya warung-warung burjo yang buka 24 jam. Namun tetap saja yang namanya kuburan punya aura angkernya tersendiri.
Malam ini sebenarnya terang bulan, namun terasa gelap karena bulan terhalang oleh awan. Tak lama sampai ditempat yang kami tuju, kami memarkirkan motor disebuah warung burjo kenalan Arif,
“Mau ngapain Rif malem-malem jalan kearah kuburan ? “
Seorang pemilik warung burjo bertanya kepada Arif, dengan wajah santai Arif menjawab dengan sedikit tertawa.
“Rek newak jurig wa ( mau nangkep setan om )" Penjaga warung hanya bergidik saat Arif berkata demikian.
Tak butuh waktu lama kami sampai digerbang Area kuburan, tertulis digerbang dengan tulisan terbuat dari besi yang dicat warna putih
"Kuburan kampong sukagaya“

Aku dengan sigap mengeluarkan senter dari balik jaketku, dan Arif nampaknya tidak terganggu dengan udara dingin dan tetap santai dengan kaos T-shirt nya.
Aku memperhatikan kearah makam, gelap sekali karena lampu penerangan disini nampaknya kurang terawat. Beberapa kali aku menjumpai tiang lampu namun lampunya padam.
“Gimana lu siap masuk ke kuburan jam segini Ron?“
Arif bertanya lagi kepadaku, sepertinya dia masih ragu dengan keputusanku menempuh jalan ini.
“Gue yakin-seyakin nya Rif, karena gue ngerasa emang butuh”
Aku menjawab dengan tegas meskipun sebenarnya aku merasakan sedikit rasa takut karena aku belum pernah masuk ke areal pemakaman dimalam hari.
“Bentar, bentar gue mau nanya, lu tuh sebenernya berani gak kalo tar pas mata batin kebuka lu bakal liat yang begituan”
Arif menatapku dengan serius menggunakan mayanya yang tajam, seolah memaksaku memberikan jawaban yang bagus.
“Ya berani lah Rif “
“Kalo berani ko minta ditemenin sama gue ? kenapa gak sendiri aja ?”
Kampret nih anak mulai timbul sifat nyebelinnya sama seperti pas masa SMA.
“Emmmm” aku menggaruk-garuk kepala.
“Nah kan udah gue duga, ya udah sekarang mah udah setengah jalan. Sayang kalo harus batal. Sini bentar Ron”
Arif menyuruhku agar mendekat kepadanya, kemudian aku disuruh untuk membelakanginya. Aku merasa telapak tangannya memegang punggunggku dan terdengar samar-samar suaranya merapalkan mantra, punggungku terasa hangat.
“Udah beres, lu boleh ngadep kesini lagi” ucap Arif.
“Abis lu apain Rif gue ? ko tadi gue ngerasa anget gitu”
Arif kemudian menyalakan rokoknya lalu berkata.
“Barusan gue kasih pager gaib badan lu biar ga diganggu sama penghuni makam” tampaknya dia khawatir terjadi hal buruk kepadaku.
“Ah ga usah segitu khawatirnya kali Rif , gue belum pernah denger kabar berita orang dibunuh sama setan”
Aku tertawa kecil, Arif hanya diam. sesaat kemudian dia memegang pundakku dan berkata,
“Emang mereka gak bisa bunuh kita langsung, tapi mereka punya sihir yang bisa nipu daya kita,ngerubah pandangan kita, kalo jinnya sihirnya tingkat tinggi mereka bisa mukul lu dan kerasa sama badan kita. Kita emang makhluk paling sempurna ..tapi inget kita ga boleh sombong karena diatas langit masih ada langit”
Aku hanya tertegun mendengar perkataan lelaki yang sudah enam tahun menjadi sahabatku.
Sedetik kemudian Arif mengajak segera masuk mencari kuburan baru yang dimaksud karena jam sudah menunjukkan pukul 23.30.
Aku dan Arif memasuki areal pemakaman untuk mencari lokasi kuburan baru,baru beberapa menit memasuki areal makam. Aku merasakan seperti sedang berada ditengah kerumunan orang, mataku selalu memperhatikan nisan kuburan di areal ini.

Sesekali aku dikagetkan dengan suara burung. Aku dan Arif berjalan semakin masuk kedalam area makam, hingga akhirnya kami menemukan kuburan yang kami cari. Kuburan tersebut tampak masih baru meskipun sebenarnya ini adalah kuburan empat hari yang lalu. Aku mengecek nama yang tertulis di patok kuburan, tertulis disana Umar bin Tarji lahir Mei 1980 wafat September 2017.
Arif menegurku agar segera mengambil tanah kuburan ini kedalam botol yang telah kami siapkan. Ketika aku sedang memasukkan tanah tiba-tiba aku Arif berbicara Sunda halus kearah depan kami.
“Punten abdi didieu teu aya niat ganggu, ngan nyuhunkeun taneuh sakedik ( permisi, saya disini tidak ganggu, Cuma mau minta tanah sedikit )"
Aku kaget namun aku dengan cepat mengantongi botol yang sudah terisi tanah dari kuburan didepanku.
Aku masih dalam poisi jongkok, rasanya terasa berat sekali untuk menggerakan kedua kaki-ku. Aku menoleh kearah Arif dia tampak tenang sambil menghisap rokok-nya dengan wajah santai, aku bisa melihat wajahnya karena cahaya bulan cukup menerangi kami.
Kakiku mulai bisa digerakkan, aku teringat kenapa Arif mengucapkan permisi. Aku memberanikan diri melihat kearah yang sama dengan Arif, jantungku berdegup kencang.suasana terasa sangat sepi dan mencekam sesekali terdengar suara burung hantu.
Saat aku mengadahkan kepalaku kearah yang sama dengan pandangan Arif, aku merasa kaget bukan main karena tepat didepan kami berdiri atau lebih tepatnya melayang kain putih yang membungkus berbentuk permen.
Spoiler for imut-imutgan:
Ya itu adalah Pocong, ini adalah kali kedua aku melihat makhluk ini, dan rasanya jauh berbeda saat aku melihat Pocong saat masih kecil. Karena kali ini Pocongnya sangatlah dekat denganku mungkin hanya berjarak tiga meter saja, tubuhku berkeringat dan jantungku berdegup kencang.
Aku mencoba mengumpulkan keberanian untuk menatap kearah Pocong itu, mataku melihat dengan jelas sosok Pocong ini. Kain kafan berwarna putih kusam ,serta wajah yang hanya tinggal tulang belulang.
Aku dengan terbata-bata mengucapkan hal yang serupa dengan Arif, tak berapa lama Pocong tersebut melayang menjauh hingga hilang dari pandangan disertai dengan badanku yang mulai bisa bergerak kembali.
Aku berdiri dan mendekati Arif, Arif nampak tenang seolah tidak terjadi apa-apa. Dia menatapku kemudian tertawa seraya berkata.
“Kenapa Ron, takut ? katanya mau buka mata batin kiat begituan aja udah ngeri, apalagi nanti “
Arif tertawa kecil kemudian kembali menghisap rokoknya dengan santai.
“Gak kok, gue gak takut “
Aku berkata dengan sok kuat, Arif hanya tertawa kecil, kemudian mengajaku untuk segera pulang.
Terangnya cahaya bulan membuat ku bisa melihat areal pemakaman dengan jelas,bahkan bukan areal pemakaman saja yang menjadi jelas, namun penampakan juga semakin jelas.
Beberapa menit melangkah dari kuburan tadi aku sudah mendapati sosok perempuan sedang duduk dibatu nisan menggunakan gaun putihnya,sosok tersebut hanya diam.
Spoiler for Neneng:
Aku tidak dapat melihat wajahnya karena terhalang oleh rambut panjang yang acak-acakan. Selang beberapa meter aku mendapati sesosok lelaki dengan badan hitam legam dan mata hijau menyala memandangiku dari jauh. Bulu kudukku merinding, yang pasti sepanjang jalan setapak menuju keluar area aku selalu berpapasan dengan makhluk yang biasa kita sebut hantu.
Akhirnya kami sampai digerbang masuk dan segera mengambil motor Arif yang diparkir di warung borju. Diperjalanan menuju pulang Arif tak henti-hentinya menertawaiku karena melihat aku gemetar ketika berhadapan dengan sosok Pocong tadi.
“Lu baru iiat begitu aja ngeri, apalagi kalo liat yang lain Ron !”
Arif mengejekku dengan tawa kecilnya, Aku hanya diam kemudian Arif berkata lagi..
“Gue malem ini nginep ya, jaga-jaga kalo ada apa-apa “
Kali ini Arif berkata dengan nada serius, seolah dia memikirkan sesuatu yang penting. Aku hanya mengiyakan tanpa banyak bicara
Sepuluh menit kemudian kami sampai dirumahku, segera kubuka pintu depan agar motor Arif bisa masuk dan kami bergegas menuju kamar.
Didalam kamar Arif memintaku mengeluarkan tanah kuburan yang ku ambil tadi, lalu menuangkannya diatas kain putih, Arif kemudian menjelaskan.
“Ron, dunia ghaib itu ada tingkatannya. Tingkat pertama itu tingkat rendah tempat jin rendah kaya kuntilanak,genderuwo,pocong dll. Tingkat kedua ada jin yang rupanya seperti manusia namun punya dimens lain, yang ketiga tingkatan Jin yang berbadan tinggi berwajah cantik dan tampan, terus….”
Arif berhenti sejenak sambil menggaruk kepalanya seperti sedang berpikir keras.
“Ah gue lupa ,,haha” dia malah tertawa.
“Terus kalo gue pake cara ini gue bakal ada di tingkatan mana ?”
“Kalau make cara ini yang kebuka tingkat pertama, udah cepet lu olesin ke kelopak mata lu“
Kuoleskan tanah kuburan dikedua kelopak mataku, untuk beberapa saat aku menutup mata. Perlahan aku membuka mata dengan deg-degan khawatir akan ada sosok aneh dhadapanku, namun saat kubuka aku tidak mendapati apapun.
“Rif ko gue ga ngeliat yang aneh nih, biasa aja“
Aku merasa sedikit kecewa, Arif tidak menjawab dan hanya memberi senyuman.
“Udah sekarang mending tidur aja,besok liat hasilnya“
Jawab Arif seraya merebahkan badannya di sofa lalu tidur, aku hanya bisa nurut saja.
“Triiiiiinng….trinnnngg…"
Terdengar suara alarm dari HP-ku aku langsung terbangun,namun alangkah kagetnya aku saat membuka mata karena dihadapanku terdapat sesosok wajah nenek tua dengan jarak hanya 10cm sedang melihatku, dan yang paling membuat aku terkejut karena bola matanya berwarna hitam semua. kemudian aku tak sadarkan diri.
Quote:
INFO: Kejadian ini dialami oleh teman saya, namun aslinya mereka berjumlah empat orang
.
.Ane waktu nulis ni cerita sumpah merinding diluar ada suara cewek nangis pulak
.. baru aja ane selesai ngetik jam 23.55 WIB
Spoiler for Penawar seger gan:

Diubah oleh roni.riyanto 22-01-2018 13:05
sulkhan1981 dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Kutip
Balas