Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.9KThread53.6KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#194
PART 25

“Krisis kepercayaan sama polisi?” tanya gue. “Itu kalimat pertamanya?”
“Bukan, itu yang ketiga.” Melly menggeser duduknya menghadap gue, “Kalimat pertama sama kedua enggak penting.”
“Enggak penting gimana? Siapa tau itu ada hubungannya sama kenapa mereka enggak percaya sama polisi,” kata gue berpendapat. “Lo yakin dia enggak ngomong apa-apa lagi soal polisi?”
“Gue ini translator lo, masa iya gue enggak paham apa yang dia omongin?”

Pak RW kembali mengeluarkan kalimat lanjutan. Ya meskipun gue enggak tau secara gamblang apa arti omongan dia, tapi yang pasti, kali ini gue yakin banget kalo gue mendengar ada sebuah kata ‘polisi.’

“Tuh kan ‘polisi,’ ” kata gue penuh percaya diri. “Ngomong apa lagi si bapak?”
“Abang percaya sama mbak Melly, deh,” saran Maya. “Ini program kerja kelompok, enggak mungkin dia bohongin abang.”
“Gue bukannya enggak percaya sama Melly, May. Gue cuma ragu kalo dia paham bahasa jawa. Dia kan buka jawa tulen kayak lo, May. Mana mungkin dia paham seratus persen omongan pak RW.”
“Ya terus kalo gue enggak paham bahasa jawa, dari kemarin gue ngapain ke rumah pak RW?” Melly menggetok kepala gue dengan kotak pensil, “Lo pikir gue selingkuhannya pak RW?”
“Gue sih enggak bilang kayak gitu, tapi kalo lo mau berpendapat ya gue sih setuju aja.”

Melly mencubit perut gue keras-keras. Dua detik, dipelintir ke searah jarum jam.

“Sadis lo, Mell,” seru gue menepis tangannya.

Rasanya sakit banget, sewaktu gue usap, terlihat warna kulit gue memerah. Gue yakin banget, besok pas balik KKN warnanya berubah jadi ijo, jari Melly beracun.

“Intinya abang bisa enggak bikin mereka percaya sama polisi lagi?” kata Cassandra mengetok-ngetok meja tamu. “Cuma abang sama Sasha doang yang fakultas hukum di sini.”
“Iya, gue usahain,” kata gue sambil meniup-niup bekas cubitan Melly. “Gue enggak terlalu ngerti polisi, sih. Tapi kalo masalah prosedur hukum ya gue ngertilah, ada si Sasha juga bisa dibantuin nanti.”
“Abang sendiri paham, kan?” tanya Cassie lagi. “Jangan ngarepin Sasha, deh. Dari kabar grup chat unit sebelah tuh dia sering cabut kuliah buat manggung, kita enggak mungkin andalin dia.”
“Lo kenapa sih, Cass?” tanggap gue dengan suara yang agak tinggi. “Percaya sama anggota unit lo sendiri aja kenapa? Enggak perlu bawa-bawa unit sebelah, kita yang jalanin.”
“Udah…,” ucap Melly menengahi. “Kita diskusi, bukan berdebat, cari jalan tengahnya.”
“Iya, gue paham,” kata gue singkat.
“Gimana kalo penyuluhannya soal kecelakaan lalu lintas? Kan komplit tuh. Hukumnya dapet, gue sama Cassandra dapet pertolongan pertamanya.”
“Terus yang lain?” tanya gue. “Si Maya aja dari ekonomi, belum lagi yang lain. Komunikasi, psikologi, elektro, arsitektur, mau enggak dikasih program kerja kelompok?”
“Iya, gue paham maksud lo, Wi.” Melly membolak-balik buku catatannya lalu memperlihatkan sebuah tulisan ke gue, “Program kerja kelompok kan cuma tertulis minimal dua, bukan berarti enggak boleh lebih dari dua, kan?”
“Ya terus?” tanya gue masih mengusap-usap bekas cubitan.
“Kita bikin program kerja kelompok banyakan aja,” lanjut Melly. “Kan berarti pengabdian kita ke masyarakat makin gede.”

Belum jadi gue menanggapi penjelasan Melly, pak RW kembali mengeluarkan kalimat lain yang kali in gue masih enggak paham. Respon gue? ‘Inggih-inggih’ doang.

“Yaudah pada berdiri,” kata Maya.
“Berdiri?” tolak gue. “Kenapa emang?”
“Barusan abang kan bilang ‘iya,’ ” lanjut Maya membereskan buku-bukunya.
“Ya terus?” gue bersikukuh di kursi ternyaman di ruang tamu pak RW.
“Pak Pamudji mau ke peken dan kemungkinan sampai malem,” jelas Maya sabar. “Ya kita pulanglah.”
“Yaudah…, di sini aja.” Gue tarik-tarik tas Maya, “Kalo si bapak mau ke peken ya silahkan.”
Melly beranjak dari duduknya, “Belajar bahasa jawa makanya, biar tau peken itu apa. Buruan cabut, lanjutin di rumah.”

Peken, atau yang dari awal gue kira pengucapannya phe-kehn ternyata artinya adalah pasar. Wajar aja pak RW nawarin kita tinggal apa minta diusir karena pasarnya jauh dari desa ini. Yah… kurang lebih memakan waktu sekitar empat puluh menitlah kalo naik motor.

Semenjak kita pulang dari rumah pak RW, Cassie jadi diem. Mungkin cuma perasaan gue doang atau mungkin memang gue lah satu-satunya orang yang dia diemin. Kayaknya sih gara-gara gue ngomong rada keras masalah Sasha. Tapi ya enggak tau juga pastinya, orang dia sendiri enggak jelasin apa-apa. Entahlah, seperti cowok yang enggak bisa selalu ngerti isi pikiran cewek, gue juga enggak selalu bisa ngerti isi pikiran dia.

Masalah Maya, kenapa jarang banget gue ngobrol sama dia karena gue enggak terlalu nyaman sama gaya bicara dia. Dia itu jawa tulen yang terpaksa bergaul dengan orang-orang yang kebetulan fasih ngomong pake gue-lo. Bahkan, terkadang jawanya si Maya, enggak cuma logatnya, itu masih keluar. Ya sebenernya menurut gue kalo orang jawa terus ‘jawa’-nya keluar itu bagus, tapi kan enggak semua orang nyaman denger cara dia ngomong. Ah… mungkin gampangnya kayak lo dengar temen lo lagi ngomong pake bahasa inggris, tapi logatnya keluar. Niat hati ngomong savage, tapi keluarnya sa-fa-ge.

Sesampainya di rumah unit, Melly mikir keras diskusi sama Yansa dan Dinda. Ya emang sih orang rumah lainnya kayak Bull, Echa, Sasha, dan Luther enggak terlalu mempermasalahkan program kerja kelompok, tapi buat mereka berdua, ini enggak bisa dibiarin.

“Gausah dibikin ribet deh, Yan,” keluh Melly. “Cuma nambah program kerja kelompok aja apa susahnya, sih.”
“Kok jadi gue yang ribet, Mbak?” tanya Yansa mengalungkan handuk di lehernya. “Yang bikin ribet itu mbak sendiri, kalo bisa cuma dua ngapain harus tiga?”
“Ya tapi kalo cuma dua kan ada fakultas yang enggak kebagian program kerja kelompok.”
“Ya diundi aja apa susahnya sih, mbak?” timpal Dinda. “Kalo nanti fakultas komunikasi enggak dapet juga enggak masalah, kok. Yang penting KKN ini cepet selesai aja, kan?”
“Ya kalo yang enggak dapet fakultas komunikasi, kalo yang lain? Kan enggak bisa gitu.”
“Ya makanya diundi,” kata Dinda lagi mencoba memasukkan pendapatnya. “Jadi yang fakultasnya kebagian program kerja kelompok ya dirandom.”
“Kalo gitu fakultas komunikasi aja ya yang enggak ikutan program kerja kelompok?” tembak Melly mulai panas.
“Ya enggak bisa gitu, dong,” tolak Yansa dan Dinda bersamaan.
“Tadi katanya enggak masalah kalo enggak dapet bagian?”
“Ya kalo dirandom enggak masalah,” jelas Dinda. “Tapi kalo kayak gini ya enggak adil, dong.”

Ribet? Banget. Yansa, Dinda sama Melly sama-sama batunya, mau enggak mau ya pecah perang dunia ketiga buat nentuin program kerja kelompok.

Ya namanya KKN, kerja sebagai satu kelompok. Kalo ada satu aja yang egois ya enggak bakalan pernah bisa dapet titik temu. Ya emang sih satuin pemikiran dari sepuluh orang itu enggak gampang. Tapi kalo tujuh dari sepuluh orang itu udah idem duluan, harusnya lebih gampang, dong? Bukannya kayak gini, satu kepala seolah-olah mewakili kepala yang lain, kan jadi enggak menentu.
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.