[Side Story] Suatu kisah di sudut Rumah Sakit.
Quote:
Hari itu cuaca di luar masih sangat terasa panas, rasanya seperti matahari kini tengah berada di atas kepalaku saat ini. Aku masih terus berjalan sembari melewati banyak orang yang berlalu lalang, kebanyakan dari mereka tengah mengantri untuk mendapatkan pelayanan dari pihak Rumah Sakit.
Beberapa hari ini kesehatanku memang tidak begitu baik, aku diwajibkan untuk melakukan kontrol dengan salah seorang dokter yang berada di lantai 3, hari ini pun sama seperti yang kemarin, merupakan hari dimana kontrol itu masih terus saja terjadi.
Aku menekan tombol lift dan kemudian menunggu, mempersilahkan beberapa orang yang baru saja keluar dari dalam lift sembari terkadang melempar senyum kepada beberapa orangtua yang melakukan hal yang serupa.
Kini akhirnya aku telah sampai, di depan ruang poliklinik tempat biasa aku melakukan checkup. Aku membuka pintu tersebut dan melihat banyak dokter yang sedang melayani pasiennya. Aku kembali berjalan ke salah satu bagian yang dimana terlihat dua orang dokter co-ass yang sedang asik memainkan telpon genggamnya.
Aku masih seolah tidak perduli dan berdiri di depan pintu tersebut, berharap sang dokter segera tiba dan cepat memeriksaku. Aku masih sibuk menekan layar handphoneku membaca beberapa update status teman-teman di media sosial atau sekedar mentertawakan komentar-komentar lucu di salah satu grup whatsapp, hingga kemudian salah seorang wanita yang tidak lain dari dokter co-ass yang berada di dalam melihatku dan melemparkan senyumnya kearahku. Wanita ini mengenakan jas dokternya yang dibalut dengan hijab berwarna merah muda, tidak lupa sebuah kaca mata menggantung di atas hidungnya yang mancung.
Quote:
Aku hanya tersenyum sebentar dan kemudian mulai asik lagi ke handphoneku. Namun tiba-tiba wanita ini mendekatiku dan bertanya, "Mas yang waktu itu check-up disini, kan?" ujarnya ramah.
"Iya ... Dok! Kebetulan memang masih belum sembuh!" balasku cepat.
"Oh ... aku pikir sudah sembuh. Lagi nungguin Dokter Andes?" tanyanya sekali lagi.
"Iya Dok! Memang tadi sudah janji dengan Dokter Andes!"
"Oh ya sudah kalau begitu ... silahkan duduk, Mas! Biar aku panggilkan Dokter Andesnya!"
"Iya terimakasih, Dok!"
Quote:
Sosok ini kemudian berlalu, rasanya sudah terlalu sering aku ke tempat ini dalam dua minggu terakhir dan rasanya juga hanya satu sosok ini yang menyapaku dengan begitu ramah. Aku masih memandangi sosoknya yang kemudian beranjak pergi dari ujung mataku, hingga tanpa sadar sosok ini berbalik dan tampak tersenyum kepadaku sekali lagi. Aku membalas senyum itu dan sesaat kemudian teringat, ternyata aku belum menanyakan siapa gerangan pemilik wajah teduh nan indah yang tadi berbicara kepadaku.
Tidak lama sang dokter pun datang dan ia mulai melakukan proses check-up dokter co-ass yang sebelumnya tidak kuketahui namanya ini ternyata turut memeriksaku, tampaknya ia masih belajar tentang bagaimana cara menanggani pasien lewat sang Dokter jaga. Aku hanya tersenyum untuk sekali lagi ketika melihat ketelatenannya dalam menanggani pasien, rasanya sosok ini begitu sempurna di mataku. Hingga akhirnya kami berkenalan, ternyata pemilik wajah teduh itu bernama Dhilla. Hingga sekarang aku masih terbayang-bayang dengan wajahnya dan kini aku mulai teringat kembali mengenai satu hal "Menggapa aku tidak meminta kontaknya pada saat itu?"
Ah ... tampaknya aku menjadi mendadak pikun ketika bersinggungan dengannya dan kini kuberharap besok atau lusa aku bisa melihat kembali sosok itu untuk sekali lagi.