- Beranda
- Stories from the Heart
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi
...
TS
herdimeidianto
STORY OF MY LIFE (SOML 17+) Romance dan Aksi


STORY OF MY LIFE
SEBUAH CERITA MENGENAI KEPASTIAN
Quote:
Blurb:
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Aku masih terhenyak dalam menanti sebuah jawaban.
Bertanya mengenai kapan semuanya akan berakhir.
Apakah akan indah? Atau berakhir tragis.
Semuanya bisa saja terjadi, tinggal bagaimana kita menjalani sebuah cerita yang penuh dengan penantian. Semuanya untuk kamu ... wanita yang pernah berjanji untuk sehidup semati.
Quote:
Sinopsis singkat :
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Hardy akhirnya memutuskan untuk berkuliah. Walau ia tahu benar kuliah termasuk hal yang cukup rumit untuk dijalani. Bagaimana tidak, orangtuanya memberikan ia sebuah keharusan guna sukses di dalam kuliahnya, sedangkan Hardy sendiri adalah seorang pria yang memiliki kehendak bebas dalam menjalani hidup. Rasanya ia benar-benar harus berjuang untuk memenuhi ekspektasi dari kedua orangtuanya yang terlampau tinggi untuk ia penuhi.
Novieta Dwi seorang perempuan yang menghabiskan sebagian waktunya di depan komputer. Memiliki wajah yang manis dan cantik tidak serta merta membuatnya menjadi populer di lingkungannya, malah membuat kesan tomboy begitu melekat di dirinya dikarenakan dirinya yang malas mencatut diri di depan cermin.
Fexia Xiaofei seorang perempuan muda yang mengambil kuliah jurusan Kedokteran. Bercita-cita menjadi seorang Dokter bedah plastik sembari menikmati masa mudanya yang penuh dengan kesenangan.
Ketiganya akhirnya bertemu di suatu keadaan yang tidak tepat. Dimana mengharuskan Hardy untuk memilih. Kepada siapa hati ini harus berlabuh. Mencintai wanita yang selalu ada disampingnya atau menerima cinta dari seorang wanita yang menaruh harapan besar kepada dirinya.
Daftar Isi :
1. Bagian satu : Hari Pertama Kuliah
2.Bagian dua : Sebuah Penyesalan
3.Part 3 Wanita Dari Masa Lalu
4.Bagian Empat : Aku dan Dirinya
5.Bagian Lima : Cerewet Tapi Perhatian
6.Bagian Enam : Antara Ego Melawan Logika
7.Bagian Tujuh : Cinta Dari Masa Lampau
Side Story :
1.1. Pesan Singkat Untuk Dirimu Yang Disana
2. 2. Sebuah Jeritan Hati
3.3. Suatu Kisah Di Sudut Rumah Sakit
Quote:
Note penulis : Silahkan menikmati cerita ini, tidak disarankan untuk mencari tahu mengenai siapa saja orang yang berada di dalam isi cerita. Dikarenakan tidak semua orang dalam cerita ini sudah memberikan persetujuan agar cerita ini ditayangkan seperti ini. Penulis hanya ingin berbagi mengenai cerita tentang sebuah kehidupan. Semoga kisah dalam perjalanan ini dapat memberikan pengetahuan dan juga pemahaman yang lebih mengenai sisi lain dari sebuah cerita cinta.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Peringatan keras :
Cerita ini tidak menjual delusi mengenai keindahan cinta semata. Jadi bagi yang mengharapkan semuanya akan berakhir indah tampaknya tidak akan semulus itu. Dikarenakan semuanya butuh proses dan semuanya butuh perjalanan.
Selamat menikmati dan happy reading.
Polling
0 suara
Siapa wanita yang pantas mendampingi sang tokoh utama?
Diubah oleh herdimeidianto 26-12-2017 23:25
LISIN45 dan anasabila memberi reputasi
2
37.1K
Kutip
124
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.6KAnggota
Tampilkan semua post
TS
herdimeidianto
#46
Quote:
Bagian Lima
Cerewet Tapi Perhatian
Cerewet Tapi Perhatian

Quote:
Part sebelumnya :
Aku segera beranjak sembari melepaskan pelukan Fexia di lenganku yang sebelah kiri. Aku tidak ingin telat hanya karena berdebat dengan wanita manja yang kini berada di sebelahku, tampaknya mulai ke depan semuanya akan jadi lebih rumit, apalagi setelah makhluk cerewet ini kembali masuk ke dalam kehidupanku.
Aku segera beranjak sembari melepaskan pelukan Fexia di lenganku yang sebelah kiri. Aku tidak ingin telat hanya karena berdebat dengan wanita manja yang kini berada di sebelahku, tampaknya mulai ke depan semuanya akan jadi lebih rumit, apalagi setelah makhluk cerewet ini kembali masuk ke dalam kehidupanku.
***
Quote:
Akhirnya kami berdua sampai di kampus, aku segera turun dari mobil dan menyerahkan kunci mobil kepada Fexia, selanjutnya yang terjadi adalah aku segera bergegas menuju ke gedung fakultas, kalau tidak salah kelas akan dimulai lima menit lagi dan jika sampai aku telat, tampaknya absenku bisa saja kosong saat itu juga.
Quote:
“Sayang!! Tunggu!!” ujar Fexia setengah berteriak, terlihat beberapa pasang mata memperhatikan tingkahnya pada saat itu juga.
“Iya cepetan makanya! Lelet bener sih! Aku ada kelas ini!” balasku seadanya. Aku terpaksa terdiam mematung beberapa saat sembari memperhatikan sosoknya yang kini berjalan ke arahku.
“Makasih ya!!” ujarnya sok imut.
“Iya ... aku kuliah dulu! Kamu cepet sana ada kelas pagi, kan?”
“Hehe ... kelasku nanti jam 10! Kamu cepetan masuk gih nanti telat!” balasnya cepat.
“Kalau kelasmu jam 10! Kenapa sekarang sudah datang!”
“Iya cepetan makanya! Lelet bener sih! Aku ada kelas ini!” balasku seadanya. Aku terpaksa terdiam mematung beberapa saat sembari memperhatikan sosoknya yang kini berjalan ke arahku.
“Makasih ya!!” ujarnya sok imut.
“Iya ... aku kuliah dulu! Kamu cepet sana ada kelas pagi, kan?”
“Hehe ... kelasku nanti jam 10! Kamu cepetan masuk gih nanti telat!” balasnya cepat.
“Kalau kelasmu jam 10! Kenapa sekarang sudah datang!”
Quote:
Aku segera berlari ke arah lantai dua, meninggalkan Fexia yang tampaknya mulai pergi menuju ke gedung Fakultas Ekonomi, menurut info dari Anwar tampaknya Fexia memang sekarang sudah berkuliah di kampus ini demi bisa berdekatan denganku.
Akhirnya aku sampai tepat sebelum sang Dosen killer memasuki ruang kelas. Beberapa teman-temanku yang kuceritakan sebelumnya tampak dengan serius mendengarkan semua perkataan sang Dosen yang kini tengah serius dalam mengajar. Aku juga termasuk orang yang melakukan hal yang sama, rasanya terlalu sayang ketika harus membayar mahal untuk kuliah namun hanya disia-siakan dengan bermain handphone, mengobrol tidak tentu arah atau sekedar mendengarkan musik player seperti anak-anak yang berada di deretan bangku belakang. Dosen ini tidak memberikan peringatan ataupun suatu hal lain yang kiranya dapat membuat para mahasiswa pembuat keributan itu berhenti, namun sepintas aku melihat matanya memperhatikan sembari mengingat-ingat siapa saja yang mulai berulah dan hasilnya nanti akan kita lihat di akhir semester.
Perkuliahan hari itu akhirnya berakhir dengan gemilang, kurang lebih ada sekitar 4 jam berturut-turut aku berada di dalam ruangan kampus tersebut. Pelajaran hari ini total ada 4 sks yang semuanya selesai tepat sebelum jam makan siang. Aku segera beranjak menyusuri anak tangga dan berjalan ke arah kantin yang berada di lantai satu.
Belum lama aku duduk di tempat ini, mataku tiba-tiba melihat sosok yang selama ini kukenal dekat, sosok itu tak lain adalah Anwar, seorang pria medan yang suka bertingkah sok ganteng dan gemar menggoda para mahasiswi di kampus ini. Hari ini ia berpenampilan seperti biasa dengan jeans robek, sepatu Converse warna hitam, kemeja yang tidak dikancingkan sama sekali dan sebuah jam tangan yang menghiasi tangannya. Ia masih sibuk menggoda beberapa mahasiswi yang sedang menikmati makanannya disalah satu sudut kantin ini, sedangkan aku masih sibuk memperhatikan tingkahnya yang sudah seperti Don Juan kesiangan saat itu juga.
Akhirnya aku sampai tepat sebelum sang Dosen killer memasuki ruang kelas. Beberapa teman-temanku yang kuceritakan sebelumnya tampak dengan serius mendengarkan semua perkataan sang Dosen yang kini tengah serius dalam mengajar. Aku juga termasuk orang yang melakukan hal yang sama, rasanya terlalu sayang ketika harus membayar mahal untuk kuliah namun hanya disia-siakan dengan bermain handphone, mengobrol tidak tentu arah atau sekedar mendengarkan musik player seperti anak-anak yang berada di deretan bangku belakang. Dosen ini tidak memberikan peringatan ataupun suatu hal lain yang kiranya dapat membuat para mahasiswa pembuat keributan itu berhenti, namun sepintas aku melihat matanya memperhatikan sembari mengingat-ingat siapa saja yang mulai berulah dan hasilnya nanti akan kita lihat di akhir semester.
Perkuliahan hari itu akhirnya berakhir dengan gemilang, kurang lebih ada sekitar 4 jam berturut-turut aku berada di dalam ruangan kampus tersebut. Pelajaran hari ini total ada 4 sks yang semuanya selesai tepat sebelum jam makan siang. Aku segera beranjak menyusuri anak tangga dan berjalan ke arah kantin yang berada di lantai satu.
Belum lama aku duduk di tempat ini, mataku tiba-tiba melihat sosok yang selama ini kukenal dekat, sosok itu tak lain adalah Anwar, seorang pria medan yang suka bertingkah sok ganteng dan gemar menggoda para mahasiswi di kampus ini. Hari ini ia berpenampilan seperti biasa dengan jeans robek, sepatu Converse warna hitam, kemeja yang tidak dikancingkan sama sekali dan sebuah jam tangan yang menghiasi tangannya. Ia masih sibuk menggoda beberapa mahasiswi yang sedang menikmati makanannya disalah satu sudut kantin ini, sedangkan aku masih sibuk memperhatikan tingkahnya yang sudah seperti Don Juan kesiangan saat itu juga.
Quote:
Tidak lama kemudian tampaknya Anwar sudah sukses mendapatkan nomor wanita tersebut. Dengan senyum kemenangan ia pun berlalu meninggalkan wanita tersebut dari kursinya. Aku yang melihat hal itu segera memanggilnya dengan setengah berteriak, “Oi Cupetong!!!” Anwar terlihat kebinggungan karena ada seseorang yang memanggilnya, tampaknya ia lupa kalau ini adalah kantin Fakultas Hukum.
“Oi sebelah sini!!” ujarku kembali berteriak sembari melambaikan tangan.
Melihat orang yang memanggilnya adalah aku. Anwar segera berjalan ke arahku sembari tersenyum.
“Gimana sukses dapetin nomer cewek tadi?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Hehe ... biasalah dapet dong! Apa susahnya dapetin nomer satu atau dua orang cewek dengan wajahku yang tampan ini!” ocehnya dengan gaya sok ganteng.
“Dasar kutu beras! Kau mau kemana sekarang tong? Aku lihat kau buru-buru mau pergi?”
“Hehe ... biasalah ada kelas sebentar lagi! Eh aku minta ya haus nih!” ujarnya sembari dengan cepat menyeruput es jeruk yang ada di hadapanku.
“Kebiasaan emang kau ini!”
“Oi sebelah sini!!” ujarku kembali berteriak sembari melambaikan tangan.
Melihat orang yang memanggilnya adalah aku. Anwar segera berjalan ke arahku sembari tersenyum.
“Gimana sukses dapetin nomer cewek tadi?” tanyaku pura-pura tidak tahu.
“Hehe ... biasalah dapet dong! Apa susahnya dapetin nomer satu atau dua orang cewek dengan wajahku yang tampan ini!” ocehnya dengan gaya sok ganteng.
“Dasar kutu beras! Kau mau kemana sekarang tong? Aku lihat kau buru-buru mau pergi?”
“Hehe ... biasalah ada kelas sebentar lagi! Eh aku minta ya haus nih!” ujarnya sembari dengan cepat menyeruput es jeruk yang ada di hadapanku.
“Kebiasaan emang kau ini!”
Quote:
Ia hanya tertawa terkekeh dan kemudian meninggalkan aku sendiri setelah sebelumnya menghabiskan segelas es jeruk yang baru saja kupesan beberapa waktu yang lalu. Setelah acara makan siangku selesai, aku memutuskan untuk segera meninggalkan kampus rasanya hari ini cukup panas hampir terasa matahari tampaknya berada di atas kepalaku pada saat itu juga.
Aku masih berjalan kaki ke arah depan dan selanjutnya memutuskan untuk segera berjalan memutar dari depan kampus ke arah gapura yang berada di sebelah kanan, nantinya aku terpaksa menyurusi sebuah lorong besar dan barulah sampai di kostku yang berada tidak jauh dari kampus. Baru sampai di depan pintu keluar gapura kampus, tiba-tiba terdengar suara klakson seseorang dari arah belakang yang berbunyi cukup nyaring selama tiga kali berturut-turut seolah menandakan bahwa ia sedang mencoba untuk memanggil seseorang.
Aku segera menoleh ke arah belakang dan mendapati bahwa mobil yang telah mengklaksonku tadi adalah mobil Honda City berwarna hitam yang tidak lain adalah mobil Fexia, kaca mobil pun diturunkan dan sosok wanita cantik sok centil itu kemudian berbicara kepadaku, “Ayo masuk, sayang! Kan panas jalan ke kost siang-siang seperti ini!” ajaknya sembari tersenyum.
Aku masih berjalan kaki ke arah depan dan selanjutnya memutuskan untuk segera berjalan memutar dari depan kampus ke arah gapura yang berada di sebelah kanan, nantinya aku terpaksa menyurusi sebuah lorong besar dan barulah sampai di kostku yang berada tidak jauh dari kampus. Baru sampai di depan pintu keluar gapura kampus, tiba-tiba terdengar suara klakson seseorang dari arah belakang yang berbunyi cukup nyaring selama tiga kali berturut-turut seolah menandakan bahwa ia sedang mencoba untuk memanggil seseorang.
Aku segera menoleh ke arah belakang dan mendapati bahwa mobil yang telah mengklaksonku tadi adalah mobil Honda City berwarna hitam yang tidak lain adalah mobil Fexia, kaca mobil pun diturunkan dan sosok wanita cantik sok centil itu kemudian berbicara kepadaku, “Ayo masuk, sayang! Kan panas jalan ke kost siang-siang seperti ini!” ajaknya sembari tersenyum.
Quote:
“Ah tidak ... biar aku jalan kaki saja! Lagipula lebih sehat!” elakku kepadanya.
“Hmm ... kamu itu selalu saja seperti itu! Ayolah!! Kamu tidak ingin kan kalau sampai aku ngambek di tengah jalan seperti ini!” ujarnya sembari menggembungkan kedua pipinya, rasanya wajahnya terlihat begitu imut dan cantik pada saat ia sedang ngambek seperti itu. Tapi ... aku akan menjadi laki-laki yang jahat ketika menikmati wajahnya yang cantik tapi terus-terusan membuatnya ngambek seperti ini.
“Iya-iya! Baiklah aku menyerah!” ujarku sembari beranjak membuka pintu samping. Aku kemudian duduk dan menutup kembali pintu mobil tersebut.
“Nah kan enak kalau begitu! Kamu sudah makan, sayang?” tanyanya sekali lagi.
“Aku baru saja sudah makan dari kantin! Ayo pulang!” balasku seadanya.
“Oke ... tapi aku belum makan nih! Di kost ada makanan ga?” tanyanya sekali lagi.
“Hmm ... seingatku cuma ada mie goreng, telur dan beberapa daun bawang di kulkas, kalau makanan besar sih tidak ada.”
“Ya udah kalau begitu! Aku makan di kost kamu aja ya, sayang?”
“Iya ... Fexia yang cantik! Ayo pulang! Mau sampai kapan mobilmu terparkir di depan pintu keluar seperti ini? Apa kamu tidak lihat kedua satpam itu sedari tadi memperhatikan kita dari sana. Kamu mau ditegur satpam karena buat macet dengan parkir disini!” ancamku kepadanya.
“Hehe ... maaf sayang! Ya udah ayo pulang!”
“Hmm ... kamu itu selalu saja seperti itu! Ayolah!! Kamu tidak ingin kan kalau sampai aku ngambek di tengah jalan seperti ini!” ujarnya sembari menggembungkan kedua pipinya, rasanya wajahnya terlihat begitu imut dan cantik pada saat ia sedang ngambek seperti itu. Tapi ... aku akan menjadi laki-laki yang jahat ketika menikmati wajahnya yang cantik tapi terus-terusan membuatnya ngambek seperti ini.
“Iya-iya! Baiklah aku menyerah!” ujarku sembari beranjak membuka pintu samping. Aku kemudian duduk dan menutup kembali pintu mobil tersebut.
“Nah kan enak kalau begitu! Kamu sudah makan, sayang?” tanyanya sekali lagi.
“Aku baru saja sudah makan dari kantin! Ayo pulang!” balasku seadanya.
“Oke ... tapi aku belum makan nih! Di kost ada makanan ga?” tanyanya sekali lagi.
“Hmm ... seingatku cuma ada mie goreng, telur dan beberapa daun bawang di kulkas, kalau makanan besar sih tidak ada.”
“Ya udah kalau begitu! Aku makan di kost kamu aja ya, sayang?”
“Iya ... Fexia yang cantik! Ayo pulang! Mau sampai kapan mobilmu terparkir di depan pintu keluar seperti ini? Apa kamu tidak lihat kedua satpam itu sedari tadi memperhatikan kita dari sana. Kamu mau ditegur satpam karena buat macet dengan parkir disini!” ancamku kepadanya.
“Hehe ... maaf sayang! Ya udah ayo pulang!”
Quote:
Ia segera menekan pedal gas dan beranjak menuju ke kostku pada saat itu, tidak butuh waktu lama akhirnya kami berdua sudah sampai di kostku tersebut. Aku segera membuka pintu pagar, sebelumnya mobil Fexia sudah terparkir tidak jauh dari kost, hal ini dikarenakan kostku sebenarnya agak masuk sedikit ke dalam gang kecil dan hanya bisa dilalui oleh motor ataupun sepeda saja, otomatis mobil Fexia terpaksa harus berhenti di depan rumah warga yang sebelumnya aku sudah meminta izin untuk parkir disana dan telah diperbolehkan.
Fexia hanya tersenyum simpul sembari mengikuti aku dari arah belakang. Ia tak lebihnya seperti seorang bocah yang sedang menunggu pedagang gulali selesai membuat gulali untuknya. Aku yang tidak mau ambil pusing segera membuka pintu kost dan masuk ke dalam disusul dengan Fexia yang mengikutiku dari arah belakang.
Fexia hanya tersenyum simpul sembari mengikuti aku dari arah belakang. Ia tak lebihnya seperti seorang bocah yang sedang menunggu pedagang gulali selesai membuat gulali untuknya. Aku yang tidak mau ambil pusing segera membuka pintu kost dan masuk ke dalam disusul dengan Fexia yang mengikutiku dari arah belakang.
Quote:
Tiba-tiba sebuah ketukan pelan terdengar dari arah luar, ‘Tok ... Tok ... Tok ...,”
“Siapa lagi itu!” ujarku cepat sembari berjalan ke arah pintu utama.
“Ya sebentar!!” Aku segera membuka pintu dan kemudian sosok ibu kostku mulai muncul tepat di hadapan wajahku.
“Iya bu ... kenapa?” tanyaku cepat, tampaknya sang ibu kost curiga dengan aku yang membawa wanita ke dalam kamar kost.
“Ibu mendengar dari tetangga depan kalau ada wanita cantik yang ikut sama kamu ke kost ini. Mana dia? Ibu ingin bicara sebentar!” pinta ibu kost.
“Oh ... Fexia! Sebentar bu, aku panggilkan orangnya!” pikirku ini adalah kesempatan bagus untuk mengusir Fexia dari kostku saat ini juga.
Fexia kemudian keluar mendapati ada suara berisik dari arah luar. Ia tampaknya cukup terkejut dengan kedatangan ibu kost. Namun dengan cepat ia segera merubah suasana tersebut, “Halo selamat siang, Bu! Perkenalkan aku Fexia tunangannya Hardy!” ujar Fexia dengan ramah
.
Ibu kostku menerima sungkem yang diulurkan dari tangan Fexia, masih dengan wajah yang tidak ramah ia kemudian bertanya sekali lagi, “Apa kamu benar-benar tunangannya Hardy? Kamu bisa buktikan itu?” selidik ibu kost sekali lagi.
“Hmm ... kalau ibu tidak percaya! Aku bisa telpon orangtuaku, sebentar ya bu!”
Fexia segera mengambil handphonenya dan menekan tombol panggilan, tidak lama terdengar suara Tante yang tidak lain adalah ibu Fexia terdengar di seberang telepon. Ibu kost segera menerima telpon tersebut dan tampaknya berbicara dengan serius. Fexia segera menarik tanganku ke arah belakang dan mengajakku untuk berbicara.
“Inilah yang kusebut malasnya tinggal di tempat kumuh seperti ini, sayang! Pokoknya aku tidak mau tahu! Besok kamu harus ikut aku pindah ke rumah yang sudah dibelikan Papa untukku di daerah Poligon! Lingkungan disini begitu kaku dengan kehidupan kita!” pinta Fexia dengan muka serius.
“Aku belum bisa memutuskan hal itu, Xia! Lagipula kita tidak baik untuk tinggal satu rumah sebelum menikah!” balasku dengan muka tak kalah serius.
“Hardy ... hardy!!” terdengar suara ibu kost memanggilku sekali lagi.
“Ya ... ada apa, bu?” tanyaku pelan.
“Ibu sudah bicara dengan Ibunya Fexia. Ia memang memberitahukan kalau kalian sudah bertunangan, tapi ibu minta untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh di kost ini. Ibu tidak ingin para tetangga terusik dengan tingkah kalian. Ibu tahu setelah kuliah kalian akan segera menikah, tapi tetap saja kalian bukanlah pasangan suami-istri yang sah untuk berduaan di dalam kamar seperti itu!” terang ibu kost.
“Iya maaf, bu! Aku tadi memang lupa untuk membuka pintunya.” balasku cepat sembari mencoba meminta maaf.
“Oke kalau begitu ibu tinggal dulu! Ini handphonenya ibu kembalikan! Ingat jangan buat yang aneh-aneh!” pesan ibu kost sekali lagi.
“Iya bu sama-sama terimakasih sudah diingatkan!” ujarku sembari berjalan ke arah dalam.
Fexia kini terlihat tengah cemberut di tepi kasur. Ia tampaknya benar-benar marah ketika privasinya diusik oleh ibu kostku barusan.
“Harusnya ibu kost itu mengerti! Aku ini tunangan kamu dan sudah berhak dong untuk tinggal satu rumah sama kamu! Tapi apa?? Orang-orang ditempat ini benar-benar kaku! Aku minta besok kamu pindah!!”
Aku hanya bisa menghela nafas sembari memikirkan alasan apa yang harus kuberikan kepada makhluk keras kepala satu ini.
“Siapa lagi itu!” ujarku cepat sembari berjalan ke arah pintu utama.
“Ya sebentar!!” Aku segera membuka pintu dan kemudian sosok ibu kostku mulai muncul tepat di hadapan wajahku.
“Iya bu ... kenapa?” tanyaku cepat, tampaknya sang ibu kost curiga dengan aku yang membawa wanita ke dalam kamar kost.
“Ibu mendengar dari tetangga depan kalau ada wanita cantik yang ikut sama kamu ke kost ini. Mana dia? Ibu ingin bicara sebentar!” pinta ibu kost.
“Oh ... Fexia! Sebentar bu, aku panggilkan orangnya!” pikirku ini adalah kesempatan bagus untuk mengusir Fexia dari kostku saat ini juga.
Fexia kemudian keluar mendapati ada suara berisik dari arah luar. Ia tampaknya cukup terkejut dengan kedatangan ibu kost. Namun dengan cepat ia segera merubah suasana tersebut, “Halo selamat siang, Bu! Perkenalkan aku Fexia tunangannya Hardy!” ujar Fexia dengan ramah
.
Ibu kostku menerima sungkem yang diulurkan dari tangan Fexia, masih dengan wajah yang tidak ramah ia kemudian bertanya sekali lagi, “Apa kamu benar-benar tunangannya Hardy? Kamu bisa buktikan itu?” selidik ibu kost sekali lagi.
“Hmm ... kalau ibu tidak percaya! Aku bisa telpon orangtuaku, sebentar ya bu!”
Fexia segera mengambil handphonenya dan menekan tombol panggilan, tidak lama terdengar suara Tante yang tidak lain adalah ibu Fexia terdengar di seberang telepon. Ibu kost segera menerima telpon tersebut dan tampaknya berbicara dengan serius. Fexia segera menarik tanganku ke arah belakang dan mengajakku untuk berbicara.
“Inilah yang kusebut malasnya tinggal di tempat kumuh seperti ini, sayang! Pokoknya aku tidak mau tahu! Besok kamu harus ikut aku pindah ke rumah yang sudah dibelikan Papa untukku di daerah Poligon! Lingkungan disini begitu kaku dengan kehidupan kita!” pinta Fexia dengan muka serius.
“Aku belum bisa memutuskan hal itu, Xia! Lagipula kita tidak baik untuk tinggal satu rumah sebelum menikah!” balasku dengan muka tak kalah serius.
“Hardy ... hardy!!” terdengar suara ibu kost memanggilku sekali lagi.
“Ya ... ada apa, bu?” tanyaku pelan.
“Ibu sudah bicara dengan Ibunya Fexia. Ia memang memberitahukan kalau kalian sudah bertunangan, tapi ibu minta untuk tidak melakukan hal yang aneh-aneh di kost ini. Ibu tidak ingin para tetangga terusik dengan tingkah kalian. Ibu tahu setelah kuliah kalian akan segera menikah, tapi tetap saja kalian bukanlah pasangan suami-istri yang sah untuk berduaan di dalam kamar seperti itu!” terang ibu kost.
“Iya maaf, bu! Aku tadi memang lupa untuk membuka pintunya.” balasku cepat sembari mencoba meminta maaf.
“Oke kalau begitu ibu tinggal dulu! Ini handphonenya ibu kembalikan! Ingat jangan buat yang aneh-aneh!” pesan ibu kost sekali lagi.
“Iya bu sama-sama terimakasih sudah diingatkan!” ujarku sembari berjalan ke arah dalam.
Fexia kini terlihat tengah cemberut di tepi kasur. Ia tampaknya benar-benar marah ketika privasinya diusik oleh ibu kostku barusan.
“Harusnya ibu kost itu mengerti! Aku ini tunangan kamu dan sudah berhak dong untuk tinggal satu rumah sama kamu! Tapi apa?? Orang-orang ditempat ini benar-benar kaku! Aku minta besok kamu pindah!!”
Aku hanya bisa menghela nafas sembari memikirkan alasan apa yang harus kuberikan kepada makhluk keras kepala satu ini.
#Bersambung
Diubah oleh herdimeidianto 15-12-2017 23:45
0
Kutip
Balas