Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.4K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.8KThread52.7KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#187
PART 24

“Gimana ronda semalem?” tanya Echa memberikan semangkuk sop ketika gue duduk di depan pintu rumah unit. “Lancar?”
“Bisa enggak kalo lo ngajakin ngobrol tentang sesuatu yang lain?” pinta gue.
“Lo takut ronda malem, Bang?” sindir Cassie dari dalam.
“Enggak ada ceritanya ya gue takut ngeronda malem.” Gue menyantap sop yang gue pegang, “Ya... kecuali ronda di tempat yang lingkungannya enggak gue kenal dan berpasangan sama Luther.”
“Emang kenapa Luther?” tanya Cassie duduk di sebelah gue. “Ada kejadian seru, ya?”
“Kejadian seru?” tanggap gue. “Kejadian macam apa yang lo harapkan dari seorang Luhter sih, Cass?”
“Kesurupan mungkin? Digoda sama penjaga desa ini, kan banyak.”
“Kadang gue suka kesel sendiri,” jelas gue. “Kenapa harapan anggota-anggota unit ini selalu berlawanan sama apa yang gue harapkan?”
“Lebay lo, Bang.” Cassie memasang earphone ke salah satu telinganya, “Kesurupan enggak semenyeramkan itu, kok.”
“Makasih lho informasinya, sangat membantu,” jawab gue. “Kayaknya lusa gue lebih milih mati kelaparan daripada harus kembali berpasangan sama Luther.”
“Kembali.”

Gue tatap Cassie sebentar lalu kembali melanjutkan sarapan.

“Luther tuh orangnya seru kali, Bang,” jelas Cassie. “Abang aja yang kurang explore sama jalan pikiran dia.”
“Oh… jadi lo pikir gue yang kurang explore sama jalan pikiran dia?” Gue telan sop di mulut gue bulat-bulat. “Echa, coba lo, deh. Bayangin muka Luther yang serba menjemukan itu, terus lo pikirkan, pertanyaan apa yang menurut lo bakal dia tanyakan terhadap lo?”
“Yah… paling dia bakal nanya tentang kenyataan dari snickophobia,” jawab Echa berbobot. “Sama dendrophilia mungkin.”
“Gue sama Cassandra bukan mahasiswa psikologi, bisa coba lo jelaskan sedikit?”
“Snickophobia itu perasaan rasa takut yang berlebihan pada celana dalam.”
“Oh… oke, itu masuk di akal,” setuju gue. “Terus kalo yang satunya lagi?”
“Dendrophilia itu kelainan kejiwaan di mana seseorang memiliki ketertarikan seksual terhadap pohon yang bukan manusia.”
Gue tatap muka Echa yang menjelaskan segala sesuatu barusan tanpa beban, “Gue mungkin setuju kalo Luther anaknya aneh dan punya ketakutan berlebih sama celana dalam. Tapi kalo masalah ketertarikan seksual ... kayaknya gue enggak bakal sampai berpikir sejauh itu, deh.”
“Terus abang pikir gue mikirnya kejauhan, gitu?” keluh Echa.
Gue sedikit menggeser duduk gue, “Ya … mungkin lo udah salah gaul selama di fakultas psikologi.”
“Ih…!” keluh Echa mencubit perut gue. “Jahat banget sih, Abang!”
“Lo tuh yang lebih jahat, Cha. Sejahat-jahatnya gue enggak mungkin kepikiran kalo si Luther tertarik sama pohon.” Gue aduk-aduk sop lalu memakannya lagi, “Kenapa juga lo pelajarin masalah Dendrophilia.”

Setelah kita beres-beres di hari pertama, di hari kedua KKN kita mulai membahas program kerja kelompok. Yah… masalah program kerja mandiri sih kita emang saling bantu satu sama lain, tapi buat yang satu ini, kita bener-bener kerja bareng. Kurang lebih sekitar jam dua belas siang, gue, Melly, Maya dan Cassandra berencana pergi ke rumah pak RW. Dengan berbekal ide yang seadanya dan mengharapkan usulan dari pak RW, kita berangkat dengan tangan penuh buku untuk berdiskusi.

Hari ini bakalan jadi hari yang panjang, gue enggak bisa menyia-nyiakan energi gue.
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan pulaukapok memberi reputasi
2
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.