- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360.1K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•53.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#186
PART 23
“Ini kita mau mainan kartu sampai kapan, Lut?” tanya Yansa. “sumpah, gue ngantuk banget.”
“Lo mau diomelin sama mbak Melly?” tanggap Luther ketus. “Besok seharian enggak makan, mau? Kalo enggak yaudah main aja.”
“Lagian lo mau-mau aja disuruh si Melly, Lut,” kata gue mengusap mata yang mulai menutup. “Anak KKN masa iya ikutan ngeronda, harusnya kan disanjung-sanjung kayak DPR yang mau memajukan desa, bukannya kayak satpam gini. Mana mau gabung sama bapak-bapak yang juga lagi ronda enggak ngerti dia ngomong apa lagi.”
“Lo tuh enggak tau diri, Bang!” keluh si Bull menendang kaki gue. “Daritadi lo teleponan mulu sama cewek lo, baru ikutan main kartu satu putaran aja udah ngeluh.”
“Tapi kenyataannya emang gitu, kan?” Gue senggol Yansa, “Lo anak komunikasi, coba jelasin ke gue gimana caranya berkomunikasi dengan orang-orang yang kita enggak tau bahasanya.”
“Pake bahasa tubuhlah,” jawab Yansa enteng. “Pendekatan sama orang pedalaman semuanya kan dimulai pake bahasa tubuh. Harusnya abang bersyukur, mereka tau bahasa jawa. Udah selazimnya kita yang melakukan peendekatan pake bahasa jawa.”
“Gue kesel lama-lama sama lo semua,” ucap gue membagikan kartu. “Ditanya apa aja pasti bisa jawab, kesel gue.”
Karena kita sudah mulai menempati rumah unit, peraturan pun mulai diberlakukan. Salah satunya masalah ronda. Demi menjaga keamanan kampung dan juga menjaga stabilitas hubungan baik dengan warga desa, sebagai ketua, Melly mulai memaksakan kehendak. Aturan pertama yang dia buat, tiap dua hari sekali cowok-cowok harus ikutan ronda. Sebagai gantinya, masalah logistik sepenuhnya kita enggak ikut ngurusin. Yah sekalinya ngurusin paling ikutan makan sama anter ke pasar kelurahan buat belanja doang.
Yah... gue sih enggak keberatan kalo rondanya ramean dan dilakukan bersama orang-orang yang kita sama-sama paham ngomong apa. Masalahnya, ini ronda sama aja cuma berempat. Ya emang tiap malam dijatah dua bapak-bapak bergantian ronda, tapi kalo kenyataannya mereka cuma pindah tidur, ya sama aja bohong.
“Mending kita muter biar enggak ngantuk,” usul si Bull.
“Kita? Muter?” tanya gue. “Mending enggak dapet jatah makan deh besok.”
“Daripada kita ngantuk-ngantukan di sini, Bang,” kata si Bull lagi. “Nanti kalo ada yang kemalingan kita juga yang repot.”
“Sejak kapan jiwa kepedulian sosial lo meningkat?” tanya gue. “Gue yang anak hukum perasaan enggak peduli-peduli amat.”
“Gue setuju sama si Bull sih, Bang,” kata Yansa melempar kartunya. “Daripada kita main kartu tapi tetep ngantuk kayak gini, ya mending muter.”
“Voting dua banding satu, nih?” tanya gue meyakinkan. “Yaudah, iya. Kita muter kalo gitu.”
“Biar cepet bagi dua aja, Bang,” usul Luther tiba-tiba.
“Lo kenapa, sih?” tanya gue ketus mendorong Luther.
“K-kenapa apanya, Bang?” tanyanya balik mencoba ke posisi semula.
“Pengin banget hidup gue susah.” Gue pukul kepala Luther pake koran, “Muter berempat lebih aman, malah nyusahin minta dua-dua.”
“Tapi desa ini cukup banyak belokan-belokannya, Bang,” jelas Luther. “Kalo nyusurin titik butanya satu per satu pasti enggak selesai-selesai.”
“Gue setuju sih sama Luther,” ucap si Bull. “Mending kita bagi dua.”
“Yaudah bagi dua,” setuju gue. “Gue sama si Bull–”
“Gue yang sama si Bull!” potong Yansa cepat.
“Lo kenapa, sih?” tanya gue mencoba mendorong Yansa jatuh.
“Gue enggak mau sama lo, Bang!” jelas Yansa bertahan. “Udah pasti kalo ada apa-apa lo bakal lari ninggalin gue duluan.”
“Ya kan pilihannya enggak cuma pasangan sama si Bull apa sama gue,” kata gue melirik ke arah orang di sebelah kiri gue. “Lo bisa juga muter sama si Luther.”
“Muter sama Luther?” Yansa beranjak dari tempat duduknya, “Ya lo aja yang muter sama dia.”
Yansa muter sama si Luther? Enggak. Gue lah yang akhirnya muter sama Luther. Dari awal jalan sama dia, perasaan gue udah enggak enak duluan. Bukannya gue meragukan kemampuan si Luther dalam hal ronda-meronda. Tapi justru sebaliknya, gue takut kalo kemampuan Luther malah ternyata bagus. Lo bayangin aja kalo orang yang sok tau dan enggak pernah mikir panjang kayak dia ketemu sama hal-hal yang mencurigakan. Kira-kira dia bakalan lari apa disamperin? Bayangin aja kecemasan gue sepanjang malam was-was waktu denger ada pergerakan atau suara.
“Bang,” panggil Luther memecah kesunyian. “Lo denger, enggak?”
“D-denger apaan? Gue enggak denger apa-apa, lo jangan macem-macem ya, Lut.”
“Abang enggak denger apa-apa?”
“Gue yakin ya, Lut! Pendengaran gue maih berfungsi dengan baik! Gue enggak denger apa-apa!”
“Bener banget,” ucapnya santai.
“M-maksud lo?” tanya gue menghentikan langkah.
“Emang enggak kedengeran apa-apa, ya? Di sini tentram banget.”
“Tunggu,” kata gue menarik bahu Luther. “Jadi yang barusan itu lo enggak denger apa-apa?”
“Iya.”
“Terus ngapain lo nanya ke gue?!”
“Ya… siapa tau abang denger sesuatu.”
“Lo bisa enggak sih berkelakuan yang normal dikit? Kalo enggak ada apa-apa ngapain lo nanya ke gue seakan ada apa-apa?!”
Luther berjalan menjauh meninggalkan gue, “Ya abang sendiri yang mikir seakan ada apa-apa.”
Empat jam ke depan melanjutkan ronda keliling desa banreng Luther? God, this is the worst!
“Ini kita mau mainan kartu sampai kapan, Lut?” tanya Yansa. “sumpah, gue ngantuk banget.”
“Lo mau diomelin sama mbak Melly?” tanggap Luther ketus. “Besok seharian enggak makan, mau? Kalo enggak yaudah main aja.”
“Lagian lo mau-mau aja disuruh si Melly, Lut,” kata gue mengusap mata yang mulai menutup. “Anak KKN masa iya ikutan ngeronda, harusnya kan disanjung-sanjung kayak DPR yang mau memajukan desa, bukannya kayak satpam gini. Mana mau gabung sama bapak-bapak yang juga lagi ronda enggak ngerti dia ngomong apa lagi.”
“Lo tuh enggak tau diri, Bang!” keluh si Bull menendang kaki gue. “Daritadi lo teleponan mulu sama cewek lo, baru ikutan main kartu satu putaran aja udah ngeluh.”
“Tapi kenyataannya emang gitu, kan?” Gue senggol Yansa, “Lo anak komunikasi, coba jelasin ke gue gimana caranya berkomunikasi dengan orang-orang yang kita enggak tau bahasanya.”
“Pake bahasa tubuhlah,” jawab Yansa enteng. “Pendekatan sama orang pedalaman semuanya kan dimulai pake bahasa tubuh. Harusnya abang bersyukur, mereka tau bahasa jawa. Udah selazimnya kita yang melakukan peendekatan pake bahasa jawa.”
“Gue kesel lama-lama sama lo semua,” ucap gue membagikan kartu. “Ditanya apa aja pasti bisa jawab, kesel gue.”
Karena kita sudah mulai menempati rumah unit, peraturan pun mulai diberlakukan. Salah satunya masalah ronda. Demi menjaga keamanan kampung dan juga menjaga stabilitas hubungan baik dengan warga desa, sebagai ketua, Melly mulai memaksakan kehendak. Aturan pertama yang dia buat, tiap dua hari sekali cowok-cowok harus ikutan ronda. Sebagai gantinya, masalah logistik sepenuhnya kita enggak ikut ngurusin. Yah sekalinya ngurusin paling ikutan makan sama anter ke pasar kelurahan buat belanja doang.
Yah... gue sih enggak keberatan kalo rondanya ramean dan dilakukan bersama orang-orang yang kita sama-sama paham ngomong apa. Masalahnya, ini ronda sama aja cuma berempat. Ya emang tiap malam dijatah dua bapak-bapak bergantian ronda, tapi kalo kenyataannya mereka cuma pindah tidur, ya sama aja bohong.
“Mending kita muter biar enggak ngantuk,” usul si Bull.
“Kita? Muter?” tanya gue. “Mending enggak dapet jatah makan deh besok.”
“Daripada kita ngantuk-ngantukan di sini, Bang,” kata si Bull lagi. “Nanti kalo ada yang kemalingan kita juga yang repot.”
“Sejak kapan jiwa kepedulian sosial lo meningkat?” tanya gue. “Gue yang anak hukum perasaan enggak peduli-peduli amat.”
“Gue setuju sama si Bull sih, Bang,” kata Yansa melempar kartunya. “Daripada kita main kartu tapi tetep ngantuk kayak gini, ya mending muter.”
“Voting dua banding satu, nih?” tanya gue meyakinkan. “Yaudah, iya. Kita muter kalo gitu.”
“Biar cepet bagi dua aja, Bang,” usul Luther tiba-tiba.
“Lo kenapa, sih?” tanya gue ketus mendorong Luther.
“K-kenapa apanya, Bang?” tanyanya balik mencoba ke posisi semula.
“Pengin banget hidup gue susah.” Gue pukul kepala Luther pake koran, “Muter berempat lebih aman, malah nyusahin minta dua-dua.”
“Tapi desa ini cukup banyak belokan-belokannya, Bang,” jelas Luther. “Kalo nyusurin titik butanya satu per satu pasti enggak selesai-selesai.”
“Gue setuju sih sama Luther,” ucap si Bull. “Mending kita bagi dua.”
“Yaudah bagi dua,” setuju gue. “Gue sama si Bull–”
“Gue yang sama si Bull!” potong Yansa cepat.
“Lo kenapa, sih?” tanya gue mencoba mendorong Yansa jatuh.
“Gue enggak mau sama lo, Bang!” jelas Yansa bertahan. “Udah pasti kalo ada apa-apa lo bakal lari ninggalin gue duluan.”
“Ya kan pilihannya enggak cuma pasangan sama si Bull apa sama gue,” kata gue melirik ke arah orang di sebelah kiri gue. “Lo bisa juga muter sama si Luther.”
“Muter sama Luther?” Yansa beranjak dari tempat duduknya, “Ya lo aja yang muter sama dia.”
Yansa muter sama si Luther? Enggak. Gue lah yang akhirnya muter sama Luther. Dari awal jalan sama dia, perasaan gue udah enggak enak duluan. Bukannya gue meragukan kemampuan si Luther dalam hal ronda-meronda. Tapi justru sebaliknya, gue takut kalo kemampuan Luther malah ternyata bagus. Lo bayangin aja kalo orang yang sok tau dan enggak pernah mikir panjang kayak dia ketemu sama hal-hal yang mencurigakan. Kira-kira dia bakalan lari apa disamperin? Bayangin aja kecemasan gue sepanjang malam was-was waktu denger ada pergerakan atau suara.
“Bang,” panggil Luther memecah kesunyian. “Lo denger, enggak?”
“D-denger apaan? Gue enggak denger apa-apa, lo jangan macem-macem ya, Lut.”
“Abang enggak denger apa-apa?”
“Gue yakin ya, Lut! Pendengaran gue maih berfungsi dengan baik! Gue enggak denger apa-apa!”
“Bener banget,” ucapnya santai.
“M-maksud lo?” tanya gue menghentikan langkah.
“Emang enggak kedengeran apa-apa, ya? Di sini tentram banget.”
“Tunggu,” kata gue menarik bahu Luther. “Jadi yang barusan itu lo enggak denger apa-apa?”
“Iya.”
“Terus ngapain lo nanya ke gue?!”
“Ya… siapa tau abang denger sesuatu.”
“Lo bisa enggak sih berkelakuan yang normal dikit? Kalo enggak ada apa-apa ngapain lo nanya ke gue seakan ada apa-apa?!”
Luther berjalan menjauh meninggalkan gue, “Ya abang sendiri yang mikir seakan ada apa-apa.”
Empat jam ke depan melanjutkan ronda keliling desa banreng Luther? God, this is the worst!
pulaukapok memberi reputasi
1
