- Beranda
- Stories from the Heart
KABUT (Horror Story)
...
TS
endokrin
KABUT (Horror Story)
Tanpa basa-basi lagi bagi agan dan sista yang sudah pernah membaca dongeng-dongeng saya sebelumnya kali ini saya ingin mempersembahkan sebuah dongeng baru

Cerita saya sebelumnya bisa dibaca dibawah ini, tinggal diklik saja
Quote:
WARNING!!
Quote:
Saya mohon dengan sangat untuk tidak mengcopy paste cerita ini. semoga agan dan sista yang budiman bersikap bijaksana, dan mengerti bahwa betapa susahnya membuat cerita. Terima kasih
Quote:

Diubah oleh endokrin 19-05-2019 05:10
disturbing14 dan 30 lainnya memberi reputasi
29
620K
Kutip
2.2K
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
endokrin
#1119
Quote:
CHAPTER 11
Baim mendirikan tenda untuk tempat berlindung karena hujan gerimis kembali turun. Imron yang sudah terlihat tidak berdaya mencoba membaringkan tubuhnya, wajahnya terlihat semakin pucat saja.
“Mungkin dia masuk angin, gosok tubuhnya.” Kata Baim sambil menyerahkan satu botol kecil minyak kayu putih kepadaku.
Aku masuk kedalam tenda, sebelum menggosok tubuh Imron aku memberinya air hangat yang sebelumnya telah dimasak Baim.
“Ini air rebusan jahe dan sedikit gula merah, biar tubuhmu hangat.”
“Kepalaku pusing, perutku mual ingin muntah.”
“Setelah minum ini dan istirahat kamu akan kembali seperti semula.”
Ramuan sederhana yang masih mengepulkan asap itu diminum Imron sedikit demi sedikit. Sementara sebelah tanganku menggosok punggunya dengan kayu putih. Tubuhnya terasa sangat dingin, padahal dia menggunakan dua lapis jaket.
“Sebentar lagi nasinya matang, kita akan makan dan setelah itu cepat-cepat turun kebawah.”
“Aku tidak lapar, aku pusing dan mual. Rasanya sudah tidak kuat berjalan.”
“Huss ! jangan ngomong begitu, bukankah kamu ingin agar Hesti cepat ditemukan ? semakin cepat kita kebawah memberi laporan, semakin cepat pencarian dilakukan.”
Setelah menghabiskan setengah gelas air rebusan jahe Imron kembali membaringkan tubuhnya. Aku kembali keluar tenda untuk menemani Baim menanak nasi. Walaupun diluar gerimis, tapi air tidak membasahi kami separah waktu diatas tadi, disini banyak pohon besar yang dahan dan daunnya saling berhimpit sehingga menutup jalur air dari atas.
Nasi yang dimasak mulai meletupkan buih, uap yang mengepul dari panci kecil sengaja aku tahan pake tangan untuk mendapatkan kehangatan.
“Apakah tanganmu sudah baikan ?”
“Masih perih, tapi setidaknya sudah tidak mengeluarkan darah lagi. Apakah kita masih akan sampai dibawah sebelum hari gelap Im ?”
“Tidak mungkin, sekarang saja sudah jam berapa. Kita turunnya pelan-pelan saja, yang penting semuanya selamat.”
“Kalau kita kemalaman dijalan. Apakah kita akan mendirikan tenda lagi ?”
“Rasanya itu bukan pilihan yang baik. Kalau bisa kita harus tetap melanjutkan perjalanan kebawah. Mungkin akan sedikit sulit mengingat kondisi kamu dan Imron sekarang sedang tidak baik, tapi kita tidak punya pilihan.”
Nasi telah matang. Baim menuangkannya diatas piring, kini aku yang bertugas untuk membolak-balik nasi itu dengan sendok sambil meniupnya agar menjadi dingin. Semenatar Baim mengeluarkan dua butir telur dari dalam ranselnya, mungkin itu bekal yang dia bawa karena jujur saja aku dan Imron tidak membawa bahan makanan mentah kecuali mie instan.
Dua butir telor dipecahkan, setelah diberi sedikit garam dan 4 buah cabe rawit juga bawang merah yang telah dicincang kini dimasukan kedalam panci bekas menanak nasi yang sudah berisi mentega cair.
Semerbak bau bawang tercium dan membangkitkan selera makan. Untuk sesaat rasa sakit dan khawatir terlupakan hanya dengan wangi telur dadar. Setelah dirasa cukup matang Baim menuangkannya kewadah untuk selanjutnya memasak menu lainnya.
Sepiring nasi putih, dua buah telur dadar yang tebal dan semangkuk mie goreng kini sudah tersaji. Sebelum acara makan dimulai aku membangunkan Imron didalam tenda.
“Aku tidak berselera.”
“Harus kamu paksakan makan.” Kata Baim kepada Imron.
Namun belum sempat kami memulai acara makan bersama, tiba-tiba dari arah atas terdengar suara seorang pria berteriak.
“Siapa ?”
Empat orang pria berjalan beriringan kearah kami. Saat aku melihat mereka, aku merasa sangat bahagia. Ketakutanku seperti hilang begitu saja. Rasa optimis datang kembali, sekarang kami tidak usah khawatir lagi karena mungkin akan mendapatkan teman untuk pulang.
“Apa kalian akan naik ?” Tanya salah satu dari mereka ketika sudah sampai didepan tenda.
Satu orang dari mereka tampak pucat, matanya bengkak dan merah. Baim mengajak mereka untuk makan bersama, tapi mereka menolaknya. Mungkin karena mereka sudah makan atau hanya tidak enak saja porsi makanan yang cuma sedikit.
“Saya terjatuh mas.” Belum sempat mereka bertanya, aku sudah memberi tahu lebih dulu, karena sedari tadi mereka terus melihat tanganku yang terlilit kain.
“Kami sangat bersukur bisa bertemu kalian.” Kata salah satu dari mereka yang matanya tampak bengkak dan merah.
“Apa kalian teman sepasang perempuan dan laki-laki yang semalam turun lebih dulu ?”
Keempat orang ini saling berpandangan begitu mendengar pertanyaan Baim. Mereka kelihatan sangat heran sekali, entah apa yang terjadi aku tidak mengerti.
“Bagaimana kalian bisa tahu dengan empat teman kami ?”
Mendengar pertanyaan balik, kini aku dan Baim yang menjadi heran.
Tiba-tiba saja raut wajah dari keempat orang ini berubah. Salah satu dari mereka hendak bicara, namun suaranya seperti tertahan didalam sehingga terlihat sangat berat mengeluarkan kata-kata.
“Teman kami yang kalian maksud..” orang tersebut menundukan kepalanya, dia mencoba mengatur nafasnya sebelum memulai melanjutkan pembicaraan.
“Keempat teman kami sudah meninggal diatas.”
Aku dan Baim kembali berpandangan, semakin heran saja. Apakah mereka sedang bercanda dan mencoba menakut-nakuti kami bertiga.
“Bagaimana bisa ?”
………………………………………….
Akhirnya salah satu dari mereka menjelaskan peristiwa yang menurutku sangat mengerikan. Hari itu ketika rombongan yang beranggotakan delapan orang ini sampai diatas pos empat, sudah disambut hujan lebat. mereka segera mendirikan tenda untuk tempat berlindung, namun sayang karena keadaan hujan yang deras, tenda yang mereka dirikan basah kuyup, air masuk kedalam tenda. Dan barang-barang yang sebenarnya telah mereka bungkus dengan jas hujan akhirnya basah juga.
Pilihan untuk turunpun katanya sempat terlintas dipikiran mereka, namun melihat kondisi hujan yang lebat dan angin bertiup cukup kencang rasanya tidak mungkin untuk dilakukan. Air hujan mengucur deras mengikis tanah dijalur pendakian, batu-batu kecil tergerus ikut terbawa arus.
“Kalau kami memaksakan turun, kami takut tergelincir. Lagian kondisi tubuh kami sangat kelelahan.” Kata salah satu dari mereka.
Pilihan yang mereka bisa ambil adalah bertahan didalam tenda yang lembab. Tidak bisa membuat api unggun untuk mencari kehangatan, kompor kecil yang yang mereka nyalakan didalam tendapun hanya cukup untuk membuat air panas saja, tidak cukup untuk mengeringkan tubuh.
Berjam-jam mereka bertahan didalam tenda sampai akhirnya hujan mulai reda. Namun tidak sepenuhnya berhenti, karena gerimis terus turun. Semua daun dan ranting yang mereka temukan basah semua, sehingga sulit membuat api unggun.
Menjelang sore hari satu teman wanita dari romobongan ini terkena hipotermia, tubuhnya menggigil kedinginan. Semua yang mereka ketahui tentang pertolongan pertama yang harus dilakukan telah mereka kerjakan, sayangnya kesalahan yang sebenarnya mereka ketahui namun tidak bisa dihindari adalah tidak mengganti baju basah yang dikenakan teman wanitanya itu.
“Semua perbekelan kami benar-benar basah oleh air hujan. Semua isi keril kemasukan air, kami tidak punya stok pakaian kering” Sambungnya.
Untuk menghangatkan tubuh teman wanitanya, mereka merendam kaki dan tangannya didalam air hangat. Tubuhnya digosok dengan minyak angin, bahkan dia diberikan cairan jamu sasetan yang biasanya digunakan untuk masuk angin.
“Kami kira semua pertolongan itu cukup. Sampe akhirnya dia mulai aneh.”
Wajahnya sudah pucat, bahkan kaki dan tangannya mulai membiru. Semua orang berusaha menggosok tubuhnya dengan tangan, takut kalau darahnya mulai membeku. Bahkan beberapa kali wajahnya ditampar agar dia tetap sadar, karena dia mulai meracau tak jelas.
“Saya sangat ketakutan, saya kira dia kesurupan.”
Sampai tiba saatnya teman wanita dari rombongan ini mulai tersadar dan bisa diajak ngobrol namun tubuhnya tidak bisa digerakan. Beberapa kali dia mengeluh tubuhnya sangat panas dan mamaksa untuk membuka baju, padahal cuaca sedang gerimis dan udara disekitarnya sangat dingin.
“Saya kira dia mengeluh kepanasan karena minyak angin yang kami gosokan, sampai akhirnya saya tersadar bahwa dia masih belum sadar dan sedang berhalusinasi.”
Dia terus mengeluhkan sakit dada dan susah bernafas, semua orang yang ada ditenda menjadi panik dan bingung, entah apa yang harus dilakukan. Sampai satu orang berinisiatif untuk membungkus tubuh si wanita dengan jas plastik yang sudah dikeringkan. Dia berendapat bahwa plastik akan menahan hawa dingin dari luar, sehingga pemanasan tubuh yang berjalan otomatis bisa maksimal.
“Dia memang sempat menolak dibungkus dengan berlembar-lembar plastik karena kepanasan, tapi jika tubuhnya dibiarkan terbuka dia akan lebih parah lagi, sampai saya menyuruhnya tidur sambil ditemani yang lain dan saya pergi membuat makanan hangat.”
Kejadian pahit selalu memberi tanda tapi sayangnya manusia selalu lalai karena teralihkan harapan. Begitu masakan hangat tersaji dan si wanita hendak dibangunkan, tubuhnya sudah terbujur kaku. Teman-temannya panik dan ketakutan, mereka mecoba menekan dada dan memberi nafas buatan sebisa mungkin tapi percuma nafasnya sudah berhenti.
Langit sudah mulai gelap, hujan sudah mulai reda. Para sahabat ini menangis didalam tenda mengelilingi tubuh sahabatnya yang sudah tidak bernyawa.
“Awalnya aku ingin turun berdua saja meminta bantuan untuk menjemput yang lain, namun tidak ada satu orangpun dari kami yang ingin ditinggalkan ditenda sambil menemani jasad teman wanitaku. Aku tahu dia sahabat kami, tetapi ketika sudah tidak bernyawa kondisinya sudah berbeda. Sampai akhirnya kami memutuskan untuk turun bersama-sama dan menggendong mayatnya bergantian.”
Hari sudah gelap dan gerimispun turun kembali, ketika tenda dan peralatan sudah kembali dirapikan maka perjalanan untuk kembali turunpun dimulai. Awalnya baik-baik saja, jalur pendakian memang sedikit licin, bahkan senter yang digadang-gadang bisa menjadi penerang perjalananpun menjadi sia-sia ditengah cuaca yang berkabut.
“Teman saya yang menggendong jasad teman wanita kami, menginjak batu mati. Kakinya tidak bisa menahan beban dipunggungnya, dia terjatuh dan mendorong sepasang teman kami yang berjalan paling depan. Mereka berempat jatuh tersungkur kebawah, masuk kedalam jurang yang penuh semak dan bebatuan.”
Mereka tidak pernah tahu nasib keempat temannya yang jatuh, karena saat mereka berteriak memanggil tidak ada jawaban dari bawah sana. Suara terakhir yang mereka dengar adalah suara jeritan yang kemudian diakhiri suara dentuman keras.
…………………………………..
“Apa kalian yakin teman kalian sudah meninggal ? kami bersumpah melihat empat orang itu baik-baik saja, bahkan kita sempat berbincang dan minum bersama. Tidak ada sedikitpun luka ditubuh mereka.” Baim bertanya ketika salah satu dari mereka selesai bercerita.
“Kami memang tidak yakin karena tidak melihat jasad mereka, tapi apakah mungkin orang yang terjatuh dari ketinggian tidak terluka sedikitupun ? dan maaf, mas bilang dua pasang laki-laki dan perempuan ? hanya ada dua perempuan dalam rombongan kami, dan salah satunya sudah meninggal.” Ketiga lelaki disampingnya mengangguk dengan yakin.
Mendengar jawaban tersebut membuat tenggorokanku tercekat, makanan yang aku kunyah tiba-tiba saja seperti sulit untuk ditelan. Hawa dingin seperti masuk kedalam lapisan jaket dan membuat bulu-bulu halus ditubuhku berdiri. Apakah saat diatas aku mengalami halusinasi, tapi tidak mungkin kami mengalami halusinasi secara bersamaan. Aku mengecek saku jaket untuk mencari korek gas yang aku ingat dititipkan kepadaku oleh salah satu teman mereka.
“Apa ini milik teman anda ? ”
“Iyah, ini bukti bahwa kami memang bertemu dengan keempat orang yang hendak turun. Salah satu teman wanitanya sakit, dan itu alasan yang mereka berikan kepada kami kenapa turun malam-malam.” Baim menambahkan.
Dengan tangan sedikit gemetar salah satu dari mereka mengambil korek gas dari tanganku, untuk sesaat mereka diam dan saling bertatapan, begitu juga yang dilakukan aku, Imron dan Baim. Keheningan terasa diantara dua kelompok pendaki yang tidak saling mengenal ini, walaupun aku tidak mengenal dan bahkan tidak tahu nama dari keempat orang ini, tapi aku bisa memahami rasa takut yang sedang mereka rasakan sekarang. Mereka juga tidak tahu bahwa teman wanita kami juga telah hilang.
Langit seutuhnya gelap namun hujan masih saja turun, seandainya kita sudah sampai dibawah mungkin adzan magrib telah berkumandang, namun sayangnya kita berada diketinggian yang dikelilingi pohon-pohon besar maka yang terdengar hanya suara deru ranting dan daun bergesekan karena tertiup angin.
Menjelang malam suasana semakin mencekam, banyak misteri dikepalaku yang tak bisa kupecahkan. Begitu banyak kejanggalan yang menyelimutiku selama pendakian, apakah semua kejadian ini ada campur tangan makhluk halus atau hanya bencana akibat dari keteledoran kami. Rasa lega yang dari awal aku rasakan karena bertemu teman baru, kini malah memperbesar rasa takutku.
“Dimana kamu Hesti, apakah kamu baik-baik saja ? seandainya kamu sudah meninggal, bisakah kamu menampakan diri atau memberi tanda agar kami tidak kebingungan lagi.” Aku bergumam dalam hati.
Bersambung.....
Jangan lupa like, comen, share and subcribe
twiratmoko dan 13 lainnya memberi reputasi
14
Kutip
Balas
Tutup