- Beranda
- Stories from the Heart
[HORROR] Cerita Dari Selatan
...
TS
phaltyfalty
[HORROR] Cerita Dari Selatan
Quote:
Para pembaca kaskus yang budiman, silahkan duduk santai di depan layar komputer agan. Kisah kisah daerah pantai selatan Pulau Jawa akan tersaji di bawah ini. Mohon bijak agan-agan untuk menikmati cerita ini. Pendapat terserah pada pembaca, dan mohon bijak menanggapi. Cerita ini bumbu bumbu, antara real dan fiksi(tentunya membuat lebih sedapp). Silahkan enjoy cerita dari selatan.
Sruput kopinya sambil mbaca
Sruput kopinya sambil mbaca
![[HORROR] Cerita Dari Selatan](https://s.kaskus.id/images/2017/12/11/6904283_20171211071219.jpg)
Index cerita
Prologue
1st
2nd
3rd
4th
______
Part 5.1(camping dimulai)
Part 5.2
Part 5.3
Part 5.4
Part 5.5(camping berakhir)
Part 6.1 update 31/01/2018
Part 6.2 (wait for a moment...)
Quote:
Prologue
Ahh... Pansel Jawa. Nggak ramai seperti Pantura. Disini lebih adem dan tenang suasananya dibanding di utara sana. Kota kecematanku juga gak dilewatin jalan nasional. Aku lahir di sebuah kota kecamatan kecil, Asli wong Kxxxxx. Baru aja lulus kuliah di salah satu universitas ternama di Jabodetabek, aku kembali ke tanah ini buat mulai usaha ternak lobster, skalian bantuin keuangan keluarga. Aku sekarang tinggal sama ibu, bapak sudah meninggal. Tinggal adik namatin SMA di tahun terakhir ini. Kembalinya aku ke X (sebut saja kecamatannya itu) tak membuat lupa akan tanah ini. Kenangan kenangan indah sewaktu kecil sampai SMA, dan juga kenangan yang tak enak.
Keanehan keanehan sepanjang hidup tak akan selesai berurusan dengaku. Dari ketjil sampe zaman now masih aja... gak pernah selese!
Yup itu sekian dariku... sisanya lanjot gan
Diubah oleh phaltyfalty 31-01-2018 17:54
anasabila memberi reputasi
1
23.3K
Kutip
80
Balasan
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
33.1KThread•55.3KAnggota
Tampilkan semua post
TS
phaltyfalty
#38
Camping penuh teror, bagian 1
Hujan Sore di bulan April menandakan akhir dari musim hujan. Aku baru saja pulang dari sekolah. Tepatnya di tahun 2003, aku yang masih Kelas 6 SD saat itu akan pergi Camping. Sekolahku seret akan dana jika ke bumi perkemahan, lagian bumi perkemahan juga jauh. Diputuskanlah untuk melakukan kegiatan kepramukaan selama 3 hari 2 malam di pantai W. Aku segera bebenah, merapikan baju dan peralatan lainnya, dibantu Ibu. Aku ditugaskan untuk membawa tongkat kayu.
"Sabun, udah bu?" kataku. "Sudah. Oh iya jangan lupa dasinya di atas meja, Jeff," kata ibu mengingatkan. Sesampainya di meja kamar, kutemui adikku bermain-main dengan para tentara.
"Kakak besok camping? Aku boleh ikut engga?" katanya polos. Aku tersenyum padanya. "Kamu dirumah aja, jagain ibu sama bapak. Kakak Cuma 3 hari kok. Nanti, kita main-main lagi." Kataku. Aku mengambil dasi segitiga merah putih bersama ring pramuka untuk dimasukan ke tas ransel hitam ini. Kumasukan ke bagian depan. "Semua udah lengkap ya, Jeff?" kata Ibu. "Kayaknya udah Bu," balasku. "Ojo(jangan) kayaknya kayaknya... Coba itu ceklistmu dicek lagi,"kata Ibu. Aku amat-amati cek list yang kubuat di bon minimarket. Yak, sudah lengkap. Sempat kupandang tasku, besar sekali. Ditambah dengan si tongkat yang ada di dekatnya. Lampu sore itu remang-remang, apalagi ditambah guyuran air hujan. Ayah juga belum pulang, masih di tempat proyek mungkin. Aku hanya duduk-duduk sebentar di sofa, setel acara TV di TV tabung lamaku. Adikku yang tadinya bermain sendiri ikut-ikutan nonton. Menjelang malam, ibu membawakanku teh hangat manis. "Kak, ini ya ibu taruh meja makan. Habis ini kamu cepat tidur, sana," kata ibu. Uap panas masih mengepul di atas cangkir. Seruput dikit-dikit... Aku pun pergi tidur, mendahului adikku setelah habisnya teh itu. Masuk ke kamar, doa, dan menyelimutkan diri.
Pagi, jam 6, ayam sudah pada berkokok. Aku terbangun di pagi itu. Sejam lagi aku harus tiba ke sekolah. Ibu di dapur sudah mulai memasak lain-lain. Papa kuliat masih tidur di kamarnya. Tersedia nasi goreng telur di atas meja, menu klasik sarapan orang Indonesia. Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dulu. "Byurr", air tampak dingin sama seperti pagi biasanya. Guyuran kedua mulai terbiasa. Selesai mandi, handukan... Aku menuju ke kamarku kembali untuk pakai seragam pramuka.
"Kakak, mau kemanaa?" tanya Adikku terbangun perlahan selagi ku memakai baju."Adik kecil, sampai nanti..." kataku setengah berbisik di telinganya. Aku yang sudah siap pakai pakaian pramuka segera meninggalkan ia yang sayup-sayup kembali ke alam mimpinya. Topi, ambil di meja depan TV. Dasi+ring, ambil di tas. Aku pakai di depan cermin, sekalian menyisir rambutku. Kembali aku ke meja makan untuk menyantap makanan.
Sendokan pertama nasi goreng terasa kurang lezat. Tapi karena buatan ibu, rasanya bisa ditolerir. Ibuku berjalan ke meja makan membawa makan. "Bu, nasi gorengnya kurang enak, bawang putihnya berasa banget jadinya sangit," kataku mengeluh. "Oh iya hehe. Yaudah nikmatin aja, le. Biar kamu kuat seharian ini," kata ibu. Aku pun mengambil tempe goreng itu. Tipis sekali ibu potong, jadinya renyah. Setelah kenyang, aku bersiap memakai sepatu hitamku untuk berangkat ke sekolah. Bapak pun keluar dari kamarnya. "Pak, Buk. Aku pergi dulu," kataku pamit. "Iyo, le. Hati-hati," kata Ibu. "Ati-ati dan banyakin doa" tambah bapak dengan logat medognya. Aku pun menjinjing tas ranselku bersama tongkat, keluar rumah. "Bye rumah, sampai ketemu 3 hari lagi" Pikirku.
Jalan kerikil dulu kulalui. Matahari pagi mulai menyinari wajahku. Setelah ketemu jalan propinsi, belok ke kiri. Ke arah kecamatan. Angkutan umum dan motor mulai lalu lalang. Angin pagi itu cukup besar untuk ukuran angin selatan. Kulewati pasar, sudah banyak yang melakukan jual beli. Artinya sekolah tinggal hitungan menit. Di kejauhan, sudah dapat terlihat "SDN 1 X". Ah, sudah banyak teman berkumpul.
"Jeff" kata seorang anak perempuan. Aku balas dengan melambai,"Halo, Manda." Ia temanku sejak di kelas 1, tak pernah berpisah. Kelas 6 ini aku sudah beda kelas dengannya. Amanda berlalu, aku pun berjalan ke barisan yang masih acak-acak. Aku duduk di depan tanaman. "Jeff, baru kamu laki yang nongol" kata seorang temanku. Ia sebut saja si Gimbal, karena waktu kecil yang kutahu dia berambut gimbal. Teman sekelas sekarang. "Iya nih, baru aku" kataku.
6:45 pagi, Hari pertama
Kepala sekolah mulai menginstruksikan berbaris rapi. Para murid mulai berbaris per kelas. Yang laki, kiri. Yang kromosomnya XXX tentu saja di sebelah kananku. Akan ada upacara pembuka.
Si Gimbal tepat didepanku. Ia barisan kedua. Anak-anak sereguku sudah dibelakangku. Hanya ketua regu yang didepan, Parto. Aku di barisan ketiga mulai meluruskan. Kepsek pun mulai berpidato tepat jam 7 pagi. Pidato yang cukup singkat, hanya 15 menit. Akhirnya guru sebagai kakak-kakak pembina mulai menyuruh kami satu per satu keluar dari komplek sekolah, berjalan menuju pantai W. Perjalanan memakan waktu 30 menit.
Tempat yang kami tuju yaitu pantai W. Pantai W kurang dikenal wisatawan pada saat itu. Pasirnya masih putih, sedikit yang tahu. Dari jalan propinsi masuk sekitar 10 menit kedalam bila berjalan kaki. Sepanjang jalan masuk yang belum teraspal sempurna hanya ada hutan-hutan. Di jalanan itu terdapat desa W. Di ujung barulah kita temukan pantai W. Sebelah barat pantai W, merupakan daerah tambak dan rawa. Kebanyakan petani udang dan ikan-ikan laut serta tambak garam. Sementara, di sebelah timur masih berupa hutan yang cukup lebat. Makin rimbun semakin kita masuk ke dalam. Aku menjijing tas yang hampir seperlima bobot tubuhku ini selama 30 menit. Huwh!
Sepanjang perjalanan kami hanya ditemani beberapa kendaraan yang lewat, burung-burung, pohon-pohon, angin yang cukup dan mentari pagi. Gimbal nampak bercakap-cakap dengan Adi di depan. Aku pun mengupingnya dari kejauhan sambil berjalan.
"Ya pokoknya jangan aja lah kita masuk ke hutannya. Soal kamu percaya sama hal begituan ya terserah kamu. Tingkati waspada pokoknya" Kata Adi. "Masa iya? Semoga aja kita dapat di spot tengah," balas Gimbal. "Eh, Jeffrey..." kata Adi. "Di... kalian ngrumpi apa? Asik bener kayaknya," balasku. "Tau tuh si Adi nakutin melulu," jawab Gimbal. "Bukan nakutin. Sepupuku pernah hilang disana waktu ngelaut trus istirahat. Dicari sampai seminggu gak ada hasil." Balas Adi. "Lha, emang gimana ceritanya bisa gitu?" tanyaku. "Pak lek(om) ku kan sama sepupuku habis ngelaut subuh-subuh. Mereka istirahat bentar di Pantai W. Nah, mereka istirahat di deket-deket hutan, daerah yang ada batu karangnya. Nah, mereka menepi di situ. Mereka pun istirahat. Tapi sepupuku bilang sama bapaknya, kalau ada lentera di sana. Bapaknya hanya menyuruhnya tertidur sebentar Besoknya, sepupuku ilang tanpa jejak. Pak lek ku panik, cari sepupuku. Gak ketemu, tengah hari dia minta bantuan warga desa di situ. Di cari seminggu gak ketemu. Pernah hari ketiga pas sore-sore sebelum adzan pak lek ku ngelihat kaya ada keramaian, pasar pas nyari ke dalam hutan. Tapi pas dideketin, ngilang. Sebulan kemudian baru sepupuku balik ke depan rumah pak lek ku dianterin orang dari desa situ, pulang udah kayak orang linglung," kata Adi. Aku pun setengah gak percaya.
7:30 Pagi, hari pertama
Desa W sudah lewat... Anak-anak juga sudah letih. Mereka dipersilahkan berleha-leha 10 menit di pantai. Aku menginjakan kakiku di pasir putih. Di depanku terhampar luas samudra raya beserta deburan ombaknya memecah garis pantai.
Tiba-tiba, kami diberi instruksi untuk mendirikan tenda. Pembagian wilayah kekuasaan pun dimulai. Regu Parto pun kebagian di bagian paling barat. Kami pun segera mendirikan tenda. Di kejauhan, aku lihat semak-semak hitam bergerak. 'kresek kresek' semak-semak berbunyi kira-kira seperti itu. Tiba-tiba, seekor binatang yang entah apa, besar sekali, warnanya hitam, berbulu meloncat dalam hitungan sepersekiandetik ke dalam hutan. Aku dan Adi melihatnya. Aku pun berpikir untuk positif, mungkin itu harimau warna hitam. Namun, sepertinya Adi mulai berpikir yang nggak-nggak. "Oi, Mbal. Liat gak tadi disitu(sambil nunjuk tempat tadi)?" kata Adi. "Gak ada apa-apa tuh" balas Gimbal. "Parto, kamu liat gak?" katanya. "Gak liat tuh, Di," balas Parto. Ia pun kembali membereskan tendanya. Untung aja aku tak ditanya. Aku memang pura-pura tak tahu.
Siang, Hari pertama
Acara pramuka berjalan seperti biasa. Mulai dari larinya dapet, buat simpulnya dapet, makannya dapet. Tak ada keganjilan yang cukup berarti siang ini.
Malam pun tiba...
Matahari mulai menyembunyikan terangnya perlahan. Aku yang saat itu sedang memasak makan malam bersama teman hanya bisa memandangi ia terbenam. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku.
"Masak apa kamu?" tanya Amanda yang tiba-tiba muncul. "Gak tau nih. Masak sop. Kamu ada daun bawang lebih gak?" tanyaku pada Amanda. "Sebentar, tak ambilkan," kata Amanda bergegas menjauh. Pasang naik mulai kelihatan.Angin laut berganti angin darat. Suhu udara juga ikut turun. Sekitar 10 menit, Amanda kembali dengan membawakan daun bawang milik regunya.
"Jeff," katanya memelas. "Ini buat kamu," lanjutnya. "Makasih Man... Kau baik sekali" kataku mensenyuminya. Ia pun mebalas, "Sama-sama," dan pergi menjauhi ku. Aku kembali ke arah pantai untuk membalas panggilan alam. Menjauhi agak ke barat sedikit, tepat di garis pantai. Aku membelakangi dan menikmati momentum itu. Semilir angin menerpa ditemani rembulan yang kebiru-biruan. Tepat sekitar 10 meter, daerah hutan itu , binatang itu kembali sekelebat di pinggir. Warnanya hitam seperti kucing, tetapi bukan kucing. Terlihat jelas dihadapanku, itu bukan kucing! Jika harimau, kuragukan! Aku segera buru-buru dan kembali ke kemahku.
Jam 21:00, hari pertama
Api unggun sudah dinyalakan di depan. Aku pun bersiap untuk tidur, bukan di kasur kesayanganku. Sementara si Adi datang belakangan setelah acara malam itu selesai. Aku membuka buku karangan Agatha Christie, kali ini habiskan Death on the Nile yang belum selesai-selesai. Ceritanya makin seru, disitu karakter Hercule Poirot serasa kita mendalami jiwanya.
5 menit kemudian, Adi pun harus buang hajat. Ada bilik toilet di utara, sekitar 3 menit jalan.
Adi(1), hari pertama
Perut Adi tiba-tiba sakit, kebelet boker. "Kamu mau kemana lagi, Di?" tanya Gimbal. "Temenin aku yok ke bilik toilet, aku mau eek..." katanya memelas. Akhirnya Gimbal terpaksa meluangkan waktu bersantainya di tenda, membawa senter. "Yok, Di." Kata Gimbal. Mereka pun berjalan ke toilet. Sebelah kiri mereka terhampar hutan lebat. Mereka jalan di atas padang pasir. Sesekali bercanda.
"Gimbal, kamu tunggu sini, ya." Kata Adi. Gimbal pun menungguinya.
Sembilan Malam lewat lima menit...
"Eekmu bau bener sih, Di" kata Gimbal. Adi pun hanya tertawa terkekeh dari dalam bilik. 7 menit kemudian, "Ahh lega!" kata Adi membuka pintu toilet. "Eek cepet bener, Di! Kamu gak cebok apa?" kata Gimbal. "Cebok dikit aja aku," balas Adi. Raut muka Gimbal berubah menjadi muka yang merasa jijik. Mereka pun berjalan kembali di bawah rembulan di sebuah pantai. Setelah 2 menit berjalan, tenda mereka sudah terlihat dengan bendera biru-putih tertancap di atasnya. Adi pun melirik ke kanan. Raut mukanya berubah seketika. "Mbal, kamu liat deh sebelah kanan. Ada orang gak?" kata Adi. "Gak ada apa-apa tuh." Kata Gimbal. "Mbal, aku liat orang tua pake belangkon, bajunya baju orang jaman dulu. Ngliatin kita," kata Adi. "Eh, serius kamu?! Jangan main-main ah, gak lucu." "Beneran!" kata Adi mempercepat langkahnya setengah berlari. Gimbal pun mengikutinya. Adi merasa dipandangidengan makhluk berwujud orang tua dengan pakaian keraton itu. Adi buru-buru sampai keringatnya keluar. Didapati hanya aku yang masih asyik membaca buku malam itu, yang lainnya sudah mulai masuk ke alamnya masing-masing.
"Darimana kalian?" tanyaku. "Dari ngantar Adi nih ngluarin pisang goreng. Tadi Adi..." kata Gimbal."Udah besok aja, sekarang tidur!" kata Adi dengan serius. Adi pun langsung ke tempatnya, sementara Gimbal ke sampingku. "Belum selesai juga tuh buku?" kata Gimbal. "Belom, yaudah ah lanjut besok hari," kataku.
Dini hari, Hari kedua
Aku bermimpi, bahwa dalam mimpiku aku sedang ke Yogyakarta. Jalanannya luas sekali seperti jalan tol. Aku, adikku dan orang tuaku. Aku bermain dibelakang dengan adikku. Hujan membasahi sepanjang perjalanan...
Tiba-tiba suara membangunkanku. "drap drap" suara kaki menarikku dari alam mimpi. "Mbal?" tanyaku. Aku pun terbangun, mendapati seluruh tenda sepi. Teman-temanku terlelap semua. Cuma aku yang terbangun. Di luar terdengar suara langkah kaki. Api unggun sudah mati, tetapi sinar bulan jelas memperlihatkanku banyak kaki-kaki mengelilingi tendaku. Aku pun bergidik setengah mati, menarik sarungku menutupiku. "Mereka" ada... dan mereka kini mengelilingi tenda ini! Bulu kuduk merinding, apalagi tiba-tiba bau bangkai tercium. Ketakutanku semakin menjadi-jadi.
Para setan-setan tersebut telah menunjukan keberadaannya kepadaku. Teringatlah pada kuasa yang di atas. Aku berdoa pada Tuhan agar suara itu cepat berlalu. Aku lafalkan doa yang aku ingat, menurut kepercayaanku. Minta bantuan pada Sang Kuasa. Keringat mulai bercucuran di tubuhku, aku berusaha tidur. Aaah! Tak bisa tidur. Namun, suara itu perlahan menghilang. Tersisa ketakutan di tubuhku. Teror malam ini meninggalkan tanda tanya dan ketakutan dalam diri ini.
Aku pun terlelap... berusaha mengingat, memfokuskan pikiran pada yang kuasa.
Quote:
Hujan Sore di bulan April menandakan akhir dari musim hujan. Aku baru saja pulang dari sekolah. Tepatnya di tahun 2003, aku yang masih Kelas 6 SD saat itu akan pergi Camping. Sekolahku seret akan dana jika ke bumi perkemahan, lagian bumi perkemahan juga jauh. Diputuskanlah untuk melakukan kegiatan kepramukaan selama 3 hari 2 malam di pantai W. Aku segera bebenah, merapikan baju dan peralatan lainnya, dibantu Ibu. Aku ditugaskan untuk membawa tongkat kayu.
"Sabun, udah bu?" kataku. "Sudah. Oh iya jangan lupa dasinya di atas meja, Jeff," kata ibu mengingatkan. Sesampainya di meja kamar, kutemui adikku bermain-main dengan para tentara.
"Kakak besok camping? Aku boleh ikut engga?" katanya polos. Aku tersenyum padanya. "Kamu dirumah aja, jagain ibu sama bapak. Kakak Cuma 3 hari kok. Nanti, kita main-main lagi." Kataku. Aku mengambil dasi segitiga merah putih bersama ring pramuka untuk dimasukan ke tas ransel hitam ini. Kumasukan ke bagian depan. "Semua udah lengkap ya, Jeff?" kata Ibu. "Kayaknya udah Bu," balasku. "Ojo(jangan) kayaknya kayaknya... Coba itu ceklistmu dicek lagi,"kata Ibu. Aku amat-amati cek list yang kubuat di bon minimarket. Yak, sudah lengkap. Sempat kupandang tasku, besar sekali. Ditambah dengan si tongkat yang ada di dekatnya. Lampu sore itu remang-remang, apalagi ditambah guyuran air hujan. Ayah juga belum pulang, masih di tempat proyek mungkin. Aku hanya duduk-duduk sebentar di sofa, setel acara TV di TV tabung lamaku. Adikku yang tadinya bermain sendiri ikut-ikutan nonton. Menjelang malam, ibu membawakanku teh hangat manis. "Kak, ini ya ibu taruh meja makan. Habis ini kamu cepat tidur, sana," kata ibu. Uap panas masih mengepul di atas cangkir. Seruput dikit-dikit... Aku pun pergi tidur, mendahului adikku setelah habisnya teh itu. Masuk ke kamar, doa, dan menyelimutkan diri.
Pagi, jam 6, ayam sudah pada berkokok. Aku terbangun di pagi itu. Sejam lagi aku harus tiba ke sekolah. Ibu di dapur sudah mulai memasak lain-lain. Papa kuliat masih tidur di kamarnya. Tersedia nasi goreng telur di atas meja, menu klasik sarapan orang Indonesia. Aku segera ke kamar mandi untuk mandi dulu. "Byurr", air tampak dingin sama seperti pagi biasanya. Guyuran kedua mulai terbiasa. Selesai mandi, handukan... Aku menuju ke kamarku kembali untuk pakai seragam pramuka.
"Kakak, mau kemanaa?" tanya Adikku terbangun perlahan selagi ku memakai baju."Adik kecil, sampai nanti..." kataku setengah berbisik di telinganya. Aku yang sudah siap pakai pakaian pramuka segera meninggalkan ia yang sayup-sayup kembali ke alam mimpinya. Topi, ambil di meja depan TV. Dasi+ring, ambil di tas. Aku pakai di depan cermin, sekalian menyisir rambutku. Kembali aku ke meja makan untuk menyantap makanan.
Sendokan pertama nasi goreng terasa kurang lezat. Tapi karena buatan ibu, rasanya bisa ditolerir. Ibuku berjalan ke meja makan membawa makan. "Bu, nasi gorengnya kurang enak, bawang putihnya berasa banget jadinya sangit," kataku mengeluh. "Oh iya hehe. Yaudah nikmatin aja, le. Biar kamu kuat seharian ini," kata ibu. Aku pun mengambil tempe goreng itu. Tipis sekali ibu potong, jadinya renyah. Setelah kenyang, aku bersiap memakai sepatu hitamku untuk berangkat ke sekolah. Bapak pun keluar dari kamarnya. "Pak, Buk. Aku pergi dulu," kataku pamit. "Iyo, le. Hati-hati," kata Ibu. "Ati-ati dan banyakin doa" tambah bapak dengan logat medognya. Aku pun menjinjing tas ranselku bersama tongkat, keluar rumah. "Bye rumah, sampai ketemu 3 hari lagi" Pikirku.
Jalan kerikil dulu kulalui. Matahari pagi mulai menyinari wajahku. Setelah ketemu jalan propinsi, belok ke kiri. Ke arah kecamatan. Angkutan umum dan motor mulai lalu lalang. Angin pagi itu cukup besar untuk ukuran angin selatan. Kulewati pasar, sudah banyak yang melakukan jual beli. Artinya sekolah tinggal hitungan menit. Di kejauhan, sudah dapat terlihat "SDN 1 X". Ah, sudah banyak teman berkumpul.
"Jeff" kata seorang anak perempuan. Aku balas dengan melambai,"Halo, Manda." Ia temanku sejak di kelas 1, tak pernah berpisah. Kelas 6 ini aku sudah beda kelas dengannya. Amanda berlalu, aku pun berjalan ke barisan yang masih acak-acak. Aku duduk di depan tanaman. "Jeff, baru kamu laki yang nongol" kata seorang temanku. Ia sebut saja si Gimbal, karena waktu kecil yang kutahu dia berambut gimbal. Teman sekelas sekarang. "Iya nih, baru aku" kataku.
6:45 pagi, Hari pertama
Kepala sekolah mulai menginstruksikan berbaris rapi. Para murid mulai berbaris per kelas. Yang laki, kiri. Yang kromosomnya XXX tentu saja di sebelah kananku. Akan ada upacara pembuka.
Si Gimbal tepat didepanku. Ia barisan kedua. Anak-anak sereguku sudah dibelakangku. Hanya ketua regu yang didepan, Parto. Aku di barisan ketiga mulai meluruskan. Kepsek pun mulai berpidato tepat jam 7 pagi. Pidato yang cukup singkat, hanya 15 menit. Akhirnya guru sebagai kakak-kakak pembina mulai menyuruh kami satu per satu keluar dari komplek sekolah, berjalan menuju pantai W. Perjalanan memakan waktu 30 menit.
Tempat yang kami tuju yaitu pantai W. Pantai W kurang dikenal wisatawan pada saat itu. Pasirnya masih putih, sedikit yang tahu. Dari jalan propinsi masuk sekitar 10 menit kedalam bila berjalan kaki. Sepanjang jalan masuk yang belum teraspal sempurna hanya ada hutan-hutan. Di jalanan itu terdapat desa W. Di ujung barulah kita temukan pantai W. Sebelah barat pantai W, merupakan daerah tambak dan rawa. Kebanyakan petani udang dan ikan-ikan laut serta tambak garam. Sementara, di sebelah timur masih berupa hutan yang cukup lebat. Makin rimbun semakin kita masuk ke dalam. Aku menjijing tas yang hampir seperlima bobot tubuhku ini selama 30 menit. Huwh!
Sepanjang perjalanan kami hanya ditemani beberapa kendaraan yang lewat, burung-burung, pohon-pohon, angin yang cukup dan mentari pagi. Gimbal nampak bercakap-cakap dengan Adi di depan. Aku pun mengupingnya dari kejauhan sambil berjalan.
"Ya pokoknya jangan aja lah kita masuk ke hutannya. Soal kamu percaya sama hal begituan ya terserah kamu. Tingkati waspada pokoknya" Kata Adi. "Masa iya? Semoga aja kita dapat di spot tengah," balas Gimbal. "Eh, Jeffrey..." kata Adi. "Di... kalian ngrumpi apa? Asik bener kayaknya," balasku. "Tau tuh si Adi nakutin melulu," jawab Gimbal. "Bukan nakutin. Sepupuku pernah hilang disana waktu ngelaut trus istirahat. Dicari sampai seminggu gak ada hasil." Balas Adi. "Lha, emang gimana ceritanya bisa gitu?" tanyaku. "Pak lek(om) ku kan sama sepupuku habis ngelaut subuh-subuh. Mereka istirahat bentar di Pantai W. Nah, mereka istirahat di deket-deket hutan, daerah yang ada batu karangnya. Nah, mereka menepi di situ. Mereka pun istirahat. Tapi sepupuku bilang sama bapaknya, kalau ada lentera di sana. Bapaknya hanya menyuruhnya tertidur sebentar Besoknya, sepupuku ilang tanpa jejak. Pak lek ku panik, cari sepupuku. Gak ketemu, tengah hari dia minta bantuan warga desa di situ. Di cari seminggu gak ketemu. Pernah hari ketiga pas sore-sore sebelum adzan pak lek ku ngelihat kaya ada keramaian, pasar pas nyari ke dalam hutan. Tapi pas dideketin, ngilang. Sebulan kemudian baru sepupuku balik ke depan rumah pak lek ku dianterin orang dari desa situ, pulang udah kayak orang linglung," kata Adi. Aku pun setengah gak percaya.
7:30 Pagi, hari pertama
Desa W sudah lewat... Anak-anak juga sudah letih. Mereka dipersilahkan berleha-leha 10 menit di pantai. Aku menginjakan kakiku di pasir putih. Di depanku terhampar luas samudra raya beserta deburan ombaknya memecah garis pantai.
Tiba-tiba, kami diberi instruksi untuk mendirikan tenda. Pembagian wilayah kekuasaan pun dimulai. Regu Parto pun kebagian di bagian paling barat. Kami pun segera mendirikan tenda. Di kejauhan, aku lihat semak-semak hitam bergerak. 'kresek kresek' semak-semak berbunyi kira-kira seperti itu. Tiba-tiba, seekor binatang yang entah apa, besar sekali, warnanya hitam, berbulu meloncat dalam hitungan sepersekiandetik ke dalam hutan. Aku dan Adi melihatnya. Aku pun berpikir untuk positif, mungkin itu harimau warna hitam. Namun, sepertinya Adi mulai berpikir yang nggak-nggak. "Oi, Mbal. Liat gak tadi disitu(sambil nunjuk tempat tadi)?" kata Adi. "Gak ada apa-apa tuh" balas Gimbal. "Parto, kamu liat gak?" katanya. "Gak liat tuh, Di," balas Parto. Ia pun kembali membereskan tendanya. Untung aja aku tak ditanya. Aku memang pura-pura tak tahu.
Siang, Hari pertama
Acara pramuka berjalan seperti biasa. Mulai dari larinya dapet, buat simpulnya dapet, makannya dapet. Tak ada keganjilan yang cukup berarti siang ini.
Malam pun tiba...
Matahari mulai menyembunyikan terangnya perlahan. Aku yang saat itu sedang memasak makan malam bersama teman hanya bisa memandangi ia terbenam. Tiba-tiba, ada yang menepuk bahuku.
"Masak apa kamu?" tanya Amanda yang tiba-tiba muncul. "Gak tau nih. Masak sop. Kamu ada daun bawang lebih gak?" tanyaku pada Amanda. "Sebentar, tak ambilkan," kata Amanda bergegas menjauh. Pasang naik mulai kelihatan.Angin laut berganti angin darat. Suhu udara juga ikut turun. Sekitar 10 menit, Amanda kembali dengan membawakan daun bawang milik regunya.
"Jeff," katanya memelas. "Ini buat kamu," lanjutnya. "Makasih Man... Kau baik sekali" kataku mensenyuminya. Ia pun mebalas, "Sama-sama," dan pergi menjauhi ku. Aku kembali ke arah pantai untuk membalas panggilan alam. Menjauhi agak ke barat sedikit, tepat di garis pantai. Aku membelakangi dan menikmati momentum itu. Semilir angin menerpa ditemani rembulan yang kebiru-biruan. Tepat sekitar 10 meter, daerah hutan itu , binatang itu kembali sekelebat di pinggir. Warnanya hitam seperti kucing, tetapi bukan kucing. Terlihat jelas dihadapanku, itu bukan kucing! Jika harimau, kuragukan! Aku segera buru-buru dan kembali ke kemahku.
Jam 21:00, hari pertama
Api unggun sudah dinyalakan di depan. Aku pun bersiap untuk tidur, bukan di kasur kesayanganku. Sementara si Adi datang belakangan setelah acara malam itu selesai. Aku membuka buku karangan Agatha Christie, kali ini habiskan Death on the Nile yang belum selesai-selesai. Ceritanya makin seru, disitu karakter Hercule Poirot serasa kita mendalami jiwanya.
5 menit kemudian, Adi pun harus buang hajat. Ada bilik toilet di utara, sekitar 3 menit jalan.
Adi(1), hari pertama
Perut Adi tiba-tiba sakit, kebelet boker. "Kamu mau kemana lagi, Di?" tanya Gimbal. "Temenin aku yok ke bilik toilet, aku mau eek..." katanya memelas. Akhirnya Gimbal terpaksa meluangkan waktu bersantainya di tenda, membawa senter. "Yok, Di." Kata Gimbal. Mereka pun berjalan ke toilet. Sebelah kiri mereka terhampar hutan lebat. Mereka jalan di atas padang pasir. Sesekali bercanda.
"Gimbal, kamu tunggu sini, ya." Kata Adi. Gimbal pun menungguinya.
Sembilan Malam lewat lima menit...
"Eekmu bau bener sih, Di" kata Gimbal. Adi pun hanya tertawa terkekeh dari dalam bilik. 7 menit kemudian, "Ahh lega!" kata Adi membuka pintu toilet. "Eek cepet bener, Di! Kamu gak cebok apa?" kata Gimbal. "Cebok dikit aja aku," balas Adi. Raut muka Gimbal berubah menjadi muka yang merasa jijik. Mereka pun berjalan kembali di bawah rembulan di sebuah pantai. Setelah 2 menit berjalan, tenda mereka sudah terlihat dengan bendera biru-putih tertancap di atasnya. Adi pun melirik ke kanan. Raut mukanya berubah seketika. "Mbal, kamu liat deh sebelah kanan. Ada orang gak?" kata Adi. "Gak ada apa-apa tuh." Kata Gimbal. "Mbal, aku liat orang tua pake belangkon, bajunya baju orang jaman dulu. Ngliatin kita," kata Adi. "Eh, serius kamu?! Jangan main-main ah, gak lucu." "Beneran!" kata Adi mempercepat langkahnya setengah berlari. Gimbal pun mengikutinya. Adi merasa dipandangidengan makhluk berwujud orang tua dengan pakaian keraton itu. Adi buru-buru sampai keringatnya keluar. Didapati hanya aku yang masih asyik membaca buku malam itu, yang lainnya sudah mulai masuk ke alamnya masing-masing.
"Darimana kalian?" tanyaku. "Dari ngantar Adi nih ngluarin pisang goreng. Tadi Adi..." kata Gimbal."Udah besok aja, sekarang tidur!" kata Adi dengan serius. Adi pun langsung ke tempatnya, sementara Gimbal ke sampingku. "Belum selesai juga tuh buku?" kata Gimbal. "Belom, yaudah ah lanjut besok hari," kataku.
Dini hari, Hari kedua
Aku bermimpi, bahwa dalam mimpiku aku sedang ke Yogyakarta. Jalanannya luas sekali seperti jalan tol. Aku, adikku dan orang tuaku. Aku bermain dibelakang dengan adikku. Hujan membasahi sepanjang perjalanan...
Tiba-tiba suara membangunkanku. "drap drap" suara kaki menarikku dari alam mimpi. "Mbal?" tanyaku. Aku pun terbangun, mendapati seluruh tenda sepi. Teman-temanku terlelap semua. Cuma aku yang terbangun. Di luar terdengar suara langkah kaki. Api unggun sudah mati, tetapi sinar bulan jelas memperlihatkanku banyak kaki-kaki mengelilingi tendaku. Aku pun bergidik setengah mati, menarik sarungku menutupiku. "Mereka" ada... dan mereka kini mengelilingi tenda ini! Bulu kuduk merinding, apalagi tiba-tiba bau bangkai tercium. Ketakutanku semakin menjadi-jadi.
Para setan-setan tersebut telah menunjukan keberadaannya kepadaku. Teringatlah pada kuasa yang di atas. Aku berdoa pada Tuhan agar suara itu cepat berlalu. Aku lafalkan doa yang aku ingat, menurut kepercayaanku. Minta bantuan pada Sang Kuasa. Keringat mulai bercucuran di tubuhku, aku berusaha tidur. Aaah! Tak bisa tidur. Namun, suara itu perlahan menghilang. Tersisa ketakutan di tubuhku. Teror malam ini meninggalkan tanda tanya dan ketakutan dalam diri ini.
Aku pun terlelap... berusaha mengingat, memfokuskan pikiran pada yang kuasa.
Diubah oleh phaltyfalty 25-12-2017 19:29
1
Kutip
Balas