- Beranda
- Stories from the Heart
Jeruji Patah Hati
...
TS
raymonsulthan
Jeruji Patah Hati

Terima kasih, teruntuk kalian yang pernah mengisi hati. Walau akhirnya hanya pergi dengan tinggalkan janji, beserta rasa yang sudah mati.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh raymonsulthan 11-12-2017 23:19
anasabila memberi reputasi
1
6.1K
52
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
raymonsulthan
#38
Part 5 - Dipertemukan dengan Nadine
Disuatu sore ketika Desember menangis dengan sangat dingin.
Kala itu sekolah sudah sangat sepi sekali, dikelas pun hanya tinggal aku seorang, maklum, rumahku paling jauh, dan tidak ada satupun jemputan yang datang, melainkan, memang aku sengaja membawa sepeda karena hari ini hari sabtu.
Entah kenapa aku sangat menikmati sore ini, anginnya sejuk namun menusuk. Dengan santai aku mulai melewati lorong kelasku untuk menuju parkiran,
Hei..
A, tunggu..
Ketemu! Asalnya dari balik ruang UKS, ada seorang perempuan yang muncul perhalan,
Langit semakin gelap, sore itu aku hanya berdua dengan dia yang belum juga kutau siapa namanya, ya, dia, yang selalu kubayangkan wajahnya disetiap malam, juga dia, yang selalu kuharapkan bisa bertemu dalam kebahagiaan.
Jleeeebbb..
Ini namanya bunuh diri, jarak kesana dari sekolahku adalah sekitar 1 km jauhnya, belum lagi aku tak tahu dimana rumahnya.
Itu belum seberapa, yang jadi masalah utama adalah, jarak dari rumahku kesekolah adalah sekitar, 4-5 km jauhnya. Jika aku harus mengantarkan dia terlebih dahulu, itu artinya aku harus pulang dengan mengenakan sepeda sejauh hampir 6 km.
17.20
Andai kusudah tau lagu payung teduh kala itu, pasti sudah kutuliskan liriknya disini.
Berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berlarian kesana, kearah parkiran..
Tepat dibawah redupnya langit senja, aku bersama seorang perempuan yang tak kutau namanya sedang tertawa, bercengkrama seolah sudah saling kenal lama, bagai malam dirindu bulan, tampaknya aku sangat merindukan momentini.
Tak terasa langit sudah benar-benar gelap, adzan maghrib sudah berkumandang dari 10 menit yang lalu.
Akhirnya sampai, disebuah rumah cukup mewah, kulihat ia mulai menunjuk-nunjuk rumah itu, berharap aku mengerti bahwa itulah rumahnya dan kuharus berhenti tepat didepannya.
Salam dia ucap ketika gerbang sudah dibuka, namun..
Mungkin jika aku saat itu sudah agak dewasa, tampaknya sudah bukan hal tabu lagi jika ada perasaan lain yang berkobar-kobar. Api asmara.
Usai shalat, ternyata semangkuk mie rebus sudah tersaji diatas meja ruang tamu rumahnya. Dia tampak menunggu sambil bermain handphone miliknya.
Tunggu dulu..
Handphone ku dimana?!
Kriiiiiinnnngggg....
Kriiinngg...
Ya, halo Raymon Sulthan disini ada.. yang...
Handphone kujauhkan perlahan..
Sambil bercerita dan menjelaskan kronologis kejadian absurd tadi sore, mamah mengerti, dan kemudian menjelaskan bahwa papah sedang ada di daerah sini, tidak jauh dari rumah tempat aku duduk sekarang, sedang bersama om Didi.
Entah bagaimana kelanjutannya, karena aku merasa lapar, tanpa basa-basi kulirik mangkuk sebentar, tengok kiri juga kanan, aman, dan hap, akhirnya perut ini terisi juga..
Bodohnya aku memang, selalu saja tak mengerti situasi dan kondisi, ia menangis tiba-tiba dan sukses buat aku panik setengah mati.
Jlleeeeeebbb...
Waktu berjalan begitu cepat, sedang asik ngobrol, tiba-tiba klakson mobil terdengar begitu familiar ditelingaku, tak salah memang, baleno hitam milik om didi sudah terparkir rapih di depan rumah ini.
Deg!
Hingga mobil sudah berjalan jauh beserta pertanyaan dari papah dan om Didi yang berdatangan, aku hanya bisa pasrah menjawab apa adanya sambil menyesali suatu hal..
Siapa nama perempuan manis itu?
Sesampainya dirumah aku langsung bergegas mandi, setelahnya kurebahkan badan dikasur sejenak, ya, hitung-hitung melepas lelah setelah mengotel sepeda 1 km jauhnya.
Ddddeeeettt...
Dddeeett...
Satu buah pesan masuk.
*catatan malam, nama yang indah untuk menutup lelah dimalam ini.
Kala itu sekolah sudah sangat sepi sekali, dikelas pun hanya tinggal aku seorang, maklum, rumahku paling jauh, dan tidak ada satupun jemputan yang datang, melainkan, memang aku sengaja membawa sepeda karena hari ini hari sabtu.
Entah kenapa aku sangat menikmati sore ini, anginnya sejuk namun menusuk. Dengan santai aku mulai melewati lorong kelasku untuk menuju parkiran,
Hei..
Quote:
A, tunggu..
Ketemu! Asalnya dari balik ruang UKS, ada seorang perempuan yang muncul perhalan,
Quote:
Langit semakin gelap, sore itu aku hanya berdua dengan dia yang belum juga kutau siapa namanya, ya, dia, yang selalu kubayangkan wajahnya disetiap malam, juga dia, yang selalu kuharapkan bisa bertemu dalam kebahagiaan.
Quote:
Jleeeebbb..
Ini namanya bunuh diri, jarak kesana dari sekolahku adalah sekitar 1 km jauhnya, belum lagi aku tak tahu dimana rumahnya.
Itu belum seberapa, yang jadi masalah utama adalah, jarak dari rumahku kesekolah adalah sekitar, 4-5 km jauhnya. Jika aku harus mengantarkan dia terlebih dahulu, itu artinya aku harus pulang dengan mengenakan sepeda sejauh hampir 6 km.
17.20
Quote:
Andai kusudah tau lagu payung teduh kala itu, pasti sudah kutuliskan liriknya disini.
Berdua bersamamu dalam terik dan hujan, berlarian kesana, kearah parkiran..
Quote:
Tepat dibawah redupnya langit senja, aku bersama seorang perempuan yang tak kutau namanya sedang tertawa, bercengkrama seolah sudah saling kenal lama, bagai malam dirindu bulan, tampaknya aku sangat merindukan momentini.
Quote:
Tak terasa langit sudah benar-benar gelap, adzan maghrib sudah berkumandang dari 10 menit yang lalu.
Akhirnya sampai, disebuah rumah cukup mewah, kulihat ia mulai menunjuk-nunjuk rumah itu, berharap aku mengerti bahwa itulah rumahnya dan kuharus berhenti tepat didepannya.
Quote:
Salam dia ucap ketika gerbang sudah dibuka, namun..
Quote:
Mungkin jika aku saat itu sudah agak dewasa, tampaknya sudah bukan hal tabu lagi jika ada perasaan lain yang berkobar-kobar. Api asmara.
Usai shalat, ternyata semangkuk mie rebus sudah tersaji diatas meja ruang tamu rumahnya. Dia tampak menunggu sambil bermain handphone miliknya.
Tunggu dulu..
Handphone ku dimana?!
Kriiiiiinnnngggg....
Kriiinngg...
Ya, halo Raymon Sulthan disini ada.. yang...
Quote:
Handphone kujauhkan perlahan..
Quote:
Sambil bercerita dan menjelaskan kronologis kejadian absurd tadi sore, mamah mengerti, dan kemudian menjelaskan bahwa papah sedang ada di daerah sini, tidak jauh dari rumah tempat aku duduk sekarang, sedang bersama om Didi.
Entah bagaimana kelanjutannya, karena aku merasa lapar, tanpa basa-basi kulirik mangkuk sebentar, tengok kiri juga kanan, aman, dan hap, akhirnya perut ini terisi juga..
Quote:
Bodohnya aku memang, selalu saja tak mengerti situasi dan kondisi, ia menangis tiba-tiba dan sukses buat aku panik setengah mati.
Quote:
Jlleeeeeebbb...
Quote:
Waktu berjalan begitu cepat, sedang asik ngobrol, tiba-tiba klakson mobil terdengar begitu familiar ditelingaku, tak salah memang, baleno hitam milik om didi sudah terparkir rapih di depan rumah ini.
Quote:
Deg!
Hingga mobil sudah berjalan jauh beserta pertanyaan dari papah dan om Didi yang berdatangan, aku hanya bisa pasrah menjawab apa adanya sambil menyesali suatu hal..
Siapa nama perempuan manis itu?
Sesampainya dirumah aku langsung bergegas mandi, setelahnya kurebahkan badan dikasur sejenak, ya, hitung-hitung melepas lelah setelah mengotel sepeda 1 km jauhnya.
Ddddeeeettt...
Dddeeett...
Satu buah pesan masuk.
Quote:
*catatan malam, nama yang indah untuk menutup lelah dimalam ini.
Diubah oleh raymonsulthan 09-12-2017 23:00
0
