- Beranda
- Stories from the Heart
Jeruji Patah Hati
...
TS
raymonsulthan
Jeruji Patah Hati

Terima kasih, teruntuk kalian yang pernah mengisi hati. Walau akhirnya hanya pergi dengan tinggalkan janji, beserta rasa yang sudah mati.
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh raymonsulthan 11-12-2017 23:19
anasabila memberi reputasi
1
6.2K
52
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
raymonsulthan
#1
Part 1 - Beranjak Dewasa
Belakangan ini sudah banyak sekali kebahagiaan yang kulewati, dalam rentan kurun waktu hampir setahun kuhabiskan siang ke malam hingga pagi datang dengan kumpulan soal dan materi yang bertebaran.
Tak dikira itu buahkan hasil yang cukup bangga kata mamah, Matematika kudapat nilai sempurna, IPA kudapat kurang dua dari 10 totalnya, dan Indonesia entah kenapa malah hancur jadinya.
Ya, itulah takdir yang telah Allah berikan selepas Ujian Nasional tingkat sekolah dasar kemarin.
Masih bisa dikenang, karena banyak yang terjadi saat itu, mulai dari untaian kata yang mereka ucap diam-diam karena takut ketahuan pengawas, hingga getir lengan yang dengan sigap mengambil helaian kertas yang terbang diantara kaki bangku kawanku.
Lucu ya, aku bercerita tentang kenangan di sekolah dasarku dengan tidak kubuat-buat, aku lebih senang membiarkan seperti itu apa adanya, agar semua cerita yang ada tetap utuh sebagaimana mestinya.
Beralih ke nuansa baru yang kusebut sebagai sekolah menengah pertama.
Kala itu November, gemericik hujan seringkali nampak dihadapan mata untuk mengguyur bumi yang sedang haus.
Diam-diam kuperhatikan rintiknya yang berjatuhan menyentuh tanah dengan acak, jahat juga ya, tak kenal siapa yang dituju untuk dibasahkan.
Aku saat ini sedang diam melamun diatas sofa tempat biasa kududuk, dari balik jendela kulihat banyak sekali korban dari rintik hujan yang berjatuhan, dedaunan tampak menangis, namun bingung dirasa ketika bunga tampak senyum sumringah kegirangan. Tunggu dulu, atau jangan-jangan semua makhluk ciptaan Tuhan sedang bergembira saat ini? Karena sedang kulihat pula beberapa anak seumuranku sedang tertawa sambil berlarian kesana dan kemari,
mereka tak kenal lelah!
Bertambah lagi ingatanku tentang masa lalu, oh, ternyata seperti itu aku berkeluh kesah karena hanya tidak bisa ikut merasakan dikeroyok hujan.
Bosan terus menumpuk, memaksaku bangun dari sofa itu, lalu berjalan keruang keluarga untuk menonton tv, sedangkan mamah sudah selesai menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga.
Ah, papah belum juga datang, padahal adik kecilku sudah menunggu..
Sebentar, dede kemana ya?!
Apa aku lupa karena melamun tadi ya? Atau sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh ingat jika tadi sebenarnya dede ada disampingku, dan mungkin ini jawabannya.
Pintu luar terbuka, gerbangnya juga, dan betapa sangat menyebalkannya ketika aku lihat di teras rumah, ada seseorang yang telah basah terguyur hujan, basah sekali, bajunya kotor, celananya sudah terlepas dari tempat yang seharusnya, dan dengan entengnya dia berkata padaku,
Kututup pintu, kuncinya kuputar kekiri, lalu berbalik badan, berjalan, menuju kamar untuk tidur.
Kuberjalan keluar kamar, menuju pintu depan rumah, kuputar kuncinya ke kanan, kutarik pintu kedalam, dengan senyum yang paling manis, aku berkata;
Entah dulu mamah ngidam apa saat mengandung adikku ini, rasanya ingin sekali kulempar dia dengan bantal hingga menangis, namun apa daya, itu terlalu bunuh diri, karena pasti aku akan dibuat menangis lebih keras oleh papah atau mungkin mamah.
Ah, kamu tau apa yang ia berikan tadi padaku? Setoran, berupa celana dan seperangkat pakaian dalam miliknya yang sudah bau pesing.
Lalu sebenarnya, apa yang ia maksud dengan menyebutkan kata Bospadaku tadi?!
Yah, pada akhirnya aku memang harus tetap bersabar, karena kakak yang baik dan bertanggung jawab adalah aku yang selalu dijadikan panutan olehnya.
Namanya Ridho, masih seumur jagung, dan sedang asik-asiknya bermain tajos jika hujan tak datang.
Sekilas, aku secara tidak langsung dipaksa untuk tetap bisa mengerti situasi dan kondisi, lalu kemudian memahami arti dari sebuah kalimat, bahwa hidup haruslah terus dibarengi dengan bertumbuh dewasa.
*catatan sore, 7 November 2010.
Tak dikira itu buahkan hasil yang cukup bangga kata mamah, Matematika kudapat nilai sempurna, IPA kudapat kurang dua dari 10 totalnya, dan Indonesia entah kenapa malah hancur jadinya.
Ya, itulah takdir yang telah Allah berikan selepas Ujian Nasional tingkat sekolah dasar kemarin.
Masih bisa dikenang, karena banyak yang terjadi saat itu, mulai dari untaian kata yang mereka ucap diam-diam karena takut ketahuan pengawas, hingga getir lengan yang dengan sigap mengambil helaian kertas yang terbang diantara kaki bangku kawanku.
Lucu ya, aku bercerita tentang kenangan di sekolah dasarku dengan tidak kubuat-buat, aku lebih senang membiarkan seperti itu apa adanya, agar semua cerita yang ada tetap utuh sebagaimana mestinya.
***
Beralih ke nuansa baru yang kusebut sebagai sekolah menengah pertama.
Kala itu November, gemericik hujan seringkali nampak dihadapan mata untuk mengguyur bumi yang sedang haus.
Diam-diam kuperhatikan rintiknya yang berjatuhan menyentuh tanah dengan acak, jahat juga ya, tak kenal siapa yang dituju untuk dibasahkan.
Aku saat ini sedang diam melamun diatas sofa tempat biasa kududuk, dari balik jendela kulihat banyak sekali korban dari rintik hujan yang berjatuhan, dedaunan tampak menangis, namun bingung dirasa ketika bunga tampak senyum sumringah kegirangan. Tunggu dulu, atau jangan-jangan semua makhluk ciptaan Tuhan sedang bergembira saat ini? Karena sedang kulihat pula beberapa anak seumuranku sedang tertawa sambil berlarian kesana dan kemari,
mereka tak kenal lelah!
Quote:
Bertambah lagi ingatanku tentang masa lalu, oh, ternyata seperti itu aku berkeluh kesah karena hanya tidak bisa ikut merasakan dikeroyok hujan.
Bosan terus menumpuk, memaksaku bangun dari sofa itu, lalu berjalan keruang keluarga untuk menonton tv, sedangkan mamah sudah selesai menyiapkan makan malam untuk kami sekeluarga.
Ah, papah belum juga datang, padahal adik kecilku sudah menunggu..
Sebentar, dede kemana ya?!
Quote:
Apa aku lupa karena melamun tadi ya? Atau sebenarnya aku tidak sungguh-sungguh ingat jika tadi sebenarnya dede ada disampingku, dan mungkin ini jawabannya.
Pintu luar terbuka, gerbangnya juga, dan betapa sangat menyebalkannya ketika aku lihat di teras rumah, ada seseorang yang telah basah terguyur hujan, basah sekali, bajunya kotor, celananya sudah terlepas dari tempat yang seharusnya, dan dengan entengnya dia berkata padaku,
Quote:
Kututup pintu, kuncinya kuputar kekiri, lalu berbalik badan, berjalan, menuju kamar untuk tidur.
Quote:
Quote:
Quote:
Kuberjalan keluar kamar, menuju pintu depan rumah, kuputar kuncinya ke kanan, kutarik pintu kedalam, dengan senyum yang paling manis, aku berkata;
Quote:
Entah dulu mamah ngidam apa saat mengandung adikku ini, rasanya ingin sekali kulempar dia dengan bantal hingga menangis, namun apa daya, itu terlalu bunuh diri, karena pasti aku akan dibuat menangis lebih keras oleh papah atau mungkin mamah.
Ah, kamu tau apa yang ia berikan tadi padaku? Setoran, berupa celana dan seperangkat pakaian dalam miliknya yang sudah bau pesing.
Lalu sebenarnya, apa yang ia maksud dengan menyebutkan kata Bospadaku tadi?!
Yah, pada akhirnya aku memang harus tetap bersabar, karena kakak yang baik dan bertanggung jawab adalah aku yang selalu dijadikan panutan olehnya.
Namanya Ridho, masih seumur jagung, dan sedang asik-asiknya bermain tajos jika hujan tak datang.
Sekilas, aku secara tidak langsung dipaksa untuk tetap bisa mengerti situasi dan kondisi, lalu kemudian memahami arti dari sebuah kalimat, bahwa hidup haruslah terus dibarengi dengan bertumbuh dewasa.
*catatan sore, 7 November 2010.
Diubah oleh raymonsulthan 07-12-2017 22:12
0
