- Beranda
- Stories from the Heart
Black Part Of Woman
...
TS
anism
Black Part Of Woman
Spoiler for Peringatan:
Spoiler for Anissa : Aku Bukan pramuria:
Spoiler for Ibu?!:
Spoiler for I Must Found a Father for You:
Wanita itu unik. Karena itu perlakuan terhadap mereka pun berbeda-beda dan spesial.
mereka selalu punya cerita menarik yang pantas disimak
Anism & (edit by) Fanzangela
Diubah oleh anism 30-05-2019 11:43
devarisma04 dan 6 lainnya memberi reputasi
7
48.2K
379
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
anism
#217
Kembalinya Senyum Anissa
“Tidak ada orang dirumahmu?”, tanya Anissa. Anissa tidak yakin kalau Luna telah bertemu dengan Ario atau belum.
“Ada. Ibu angkatku dan putranya. Tapi putranya selalu ada urusan kampus dan ibu angkatku sibuk. Aku tidak mau dia selalu pulang dan membereskan pekerjaan rumah.”, ujar Ario.
“Jadi kau mau aku menjadi pembantu dirumahmu?”, tanya Anissa sedikit tersinggung.
--Istri?--- Kalimat itu hanya menggantung di pikiran Ario.
“Aku cuma menawarkan pekerjaan. Kau tidak perlu menganggap pekerjaan itu rendah. Kau juga tidak perlu membereskan rumah kalau kau tidak mau. Intinya aku cuma mau kau tidak bekerja di tempat itu lagi.”, ujar Ario. Kapan terakhir mereka berdebat. Ario tersenyum mengingat hal itu. Berdebat dengan Anissa yang keras kepala memang sangat melelahkan. Namun, ia suka perasaan itu.
“Jadi berapa gajinya?”, tanya Anissa.
Ario tertawa hingga mengeluarkan air mata. Dia berusaha mengendalikan suara tawanya. “Aku pikir kamu tidak mau.”
“Aku bahkan sudah jual diri untuk uang. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi karena kamu memohon, kalau bayarannya sesuai aku tentu mau.”, ujar Anissa.
“Sesuai yang kamu inginkan saja.”, Ario melipat tangan ke bawah dagunya.
Sombong sekali orang ini, batin Anissa. Uang oh uang. Kau bisa mengangkat derajat orang dan sekaligus menjatuhkannya juga.
“Setiap bulan harganya tidak sama sesuai dengan berat ringannya pekerjaan rumah yang bakal saya kerjakan. Kalau kamu mau, aku segera ikut denganmu. Kalau kamu tidak mau, aku akan kembali ke mami.”, Anissa tetap mempertahankan egonya.
“Wah, bagaimana saya bisa tahu kamu mengerjakan pekerjaan rumah atau tidak? Jangan-jangan selama kutinggalkan kau bahkan membayar tukang bersih sewaan untuk mengerjakannya. Dan kamu memintaku membayar gajimu plus tukang bersih sewaan itu.”, olok Ario.
“Ya, sudah kalau tidak mau.”, Anissa beranjak dari tempat duduknya.
Ario memandangnya sambil tersenyum geli. “Oke… Oke…. Bagaimana kalau kita berlaku adil. Aku akan percaya padamu kalau kamu yang membersihkan rumah itu. Pembayaran sesuai dengan keinginanmu. Tapi aku punya satu syarat juga.”, Ario tersenyum.
“Syarat? Apa itu? Tidak mungkin teman tidur kan?”, ujar Anissa.
“Astaga… Kamu ini… “, Ario ingin sekali menjitak Anissa. Sikapnya sama sekali tidak berubah. Anissa tersenyum tengil kali ini.
“Setiap malam saat aku pulang, aku mau kamu mendengarkan keluh kesahku dan juga ceritakan seluruh pekerjaanmu hari itu dirumah. Setidaknya kalau ototmu tidak bekerja di siang hari tapi otakmu terpaksa harus bekerja di malam hari.”, ujar Ario sambil menyeruput minumannya.
“Baiklah. Aku ambil.”. Malam itu senyum Anissa yang lugu telah kembali kepada pemiliknya.
“Tidak ada orang dirumahmu?”, tanya Anissa. Anissa tidak yakin kalau Luna telah bertemu dengan Ario atau belum.
“Ada. Ibu angkatku dan putranya. Tapi putranya selalu ada urusan kampus dan ibu angkatku sibuk. Aku tidak mau dia selalu pulang dan membereskan pekerjaan rumah.”, ujar Ario.
“Jadi kau mau aku menjadi pembantu dirumahmu?”, tanya Anissa sedikit tersinggung.
--Istri?--- Kalimat itu hanya menggantung di pikiran Ario.
“Aku cuma menawarkan pekerjaan. Kau tidak perlu menganggap pekerjaan itu rendah. Kau juga tidak perlu membereskan rumah kalau kau tidak mau. Intinya aku cuma mau kau tidak bekerja di tempat itu lagi.”, ujar Ario. Kapan terakhir mereka berdebat. Ario tersenyum mengingat hal itu. Berdebat dengan Anissa yang keras kepala memang sangat melelahkan. Namun, ia suka perasaan itu.
“Jadi berapa gajinya?”, tanya Anissa.
Ario tertawa hingga mengeluarkan air mata. Dia berusaha mengendalikan suara tawanya. “Aku pikir kamu tidak mau.”
“Aku bahkan sudah jual diri untuk uang. Aku tidak bisa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi karena kamu memohon, kalau bayarannya sesuai aku tentu mau.”, ujar Anissa.
“Sesuai yang kamu inginkan saja.”, Ario melipat tangan ke bawah dagunya.
Sombong sekali orang ini, batin Anissa. Uang oh uang. Kau bisa mengangkat derajat orang dan sekaligus menjatuhkannya juga.
“Setiap bulan harganya tidak sama sesuai dengan berat ringannya pekerjaan rumah yang bakal saya kerjakan. Kalau kamu mau, aku segera ikut denganmu. Kalau kamu tidak mau, aku akan kembali ke mami.”, Anissa tetap mempertahankan egonya.
“Wah, bagaimana saya bisa tahu kamu mengerjakan pekerjaan rumah atau tidak? Jangan-jangan selama kutinggalkan kau bahkan membayar tukang bersih sewaan untuk mengerjakannya. Dan kamu memintaku membayar gajimu plus tukang bersih sewaan itu.”, olok Ario.
“Ya, sudah kalau tidak mau.”, Anissa beranjak dari tempat duduknya.
Ario memandangnya sambil tersenyum geli. “Oke… Oke…. Bagaimana kalau kita berlaku adil. Aku akan percaya padamu kalau kamu yang membersihkan rumah itu. Pembayaran sesuai dengan keinginanmu. Tapi aku punya satu syarat juga.”, Ario tersenyum.
“Syarat? Apa itu? Tidak mungkin teman tidur kan?”, ujar Anissa.
“Astaga… Kamu ini… “, Ario ingin sekali menjitak Anissa. Sikapnya sama sekali tidak berubah. Anissa tersenyum tengil kali ini.
“Setiap malam saat aku pulang, aku mau kamu mendengarkan keluh kesahku dan juga ceritakan seluruh pekerjaanmu hari itu dirumah. Setidaknya kalau ototmu tidak bekerja di siang hari tapi otakmu terpaksa harus bekerja di malam hari.”, ujar Ario sambil menyeruput minumannya.
“Baiklah. Aku ambil.”. Malam itu senyum Anissa yang lugu telah kembali kepada pemiliknya.
Diubah oleh anism 05-12-2017 13:08
0