Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
360.4K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
33KThread54.4KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#144
PART 20

Setelah menempuh total perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya kita masuk ke perbatasan kota Klaten dengan Boyolali. Jalanannya sih biasa aja, masih berupa aspal dan kendaraan yang lewat pun enggak terlalu sepi. Tapi, begitu sedikit lagi maju lebih jauh, kengerian di mulai. Bukan, gue bukan mau ngomongin soal mistis. Tapi ngomongin soal rumor yang beredar. Lebih tepatnya, rumor yang beredar dan ditangkap Dinda mentah-mentah.

“Kata orang, di sini jalannya banyak dipasangin jin!”
“D-dipasangin jin?” tanya gue. “M-masa, sih?”
“Semacam pesugihan tapi yang butuh korban gitu. Sengaja dipasang di sini biar tumbalnya dapet dari orang jalanan.”
“Ini cuma gue doang apa semenjak Lutther tukeran sama Dinda mobil ini malah makin serem, ya?” tanya Yansa mengusap-usap tengkuknya. “Mana bulu kuduk gue mulai berdiri lagi.”
“Ah… Din,” panggil gue.
“Ya, Bang?”
“Lo bisa enggak kalo cerita soal mistis lo itu diceritain lain waktu aja?”
“Bukannya lebih baik mencegah daripada mengobati?”
“M-maksudnya gimana, ya?”
“Sebenernya gue rada serem juga cerita ginian sih, Bang,” kata Dinda terdengar sepaham. “Tapi biar kita lebih hati-hati biar gue jelasin sekalian.”
“T-tapi cerita kayak gitu kan enggak seharusnya dishare waktu lewat dijalannya juga, Din. Cerita kayak gini ini lebih bagusnya diceritain sewaktu mau lewat atau habis lewat. Kalo waktu lewat gini kan jadi khawatir juga.”

Dinda berhenti cerita? Enggak. Karena di awal Yansa ikutan protes soal kelakuan Dinda ini, gue jadi ngerasa lebih aman karena masih ada orang normal di mobil ini. Tapi begitu gue keinginan dia buat cerita itu makin lama makin bikin kepikiran, gue putuskan buat memaksanya mengganti topik dengan halus.

“Ah… Yan!” panggil gue dengan suara lebih kencang dari Dinda. “Lo pengin gue ceritain tentang gimana cara penggunaan susuk yang baik, enggak?”
“Di jalan di depan itu, Bang,” tunjuk Dinda memaksa gue untuk melihat. “Katanya orang yang lewat bakalan lihat cewek duduk dipinggir sendirian.”
Gue langsung memalingkan muka menjauhi telunjuk tangan Dinda. “Cha! Lo pengin tau kehidupan gue sehari-hari, enggak? Kehidupan kuliah misterius, kegiatan di kosan yang misterius, atau cuci piring misterius, gitu?”

Dia nyerah? Enggak. Dinda emang orangnya batu. Makin sering gue menghindari cerita dia, makin gencar juga dia bercerita. Semacam kayak orang yang lagi di ruqyah, bedanya yang dibacain ke telinga gue bukan ayat-ayat suci tapi cerita mistis yang menurut gue pamali buat diceritain, “DENGERIN GUE ABANG! DI DEPAN ADA PEREMPUAN, BANG! SADAR, BANG!

Ya… kurang lebih seperti itu.

Dan yang lebih kampretnya lagi, setelah Dinda cerita panjang lebar, gue baru sadar kalo Yansa, Sasha dan Echa pada pake earphone. Gue yang menyadari hal itu pun seketika pasrah. Pantesan aja dari tadi si Dinda fokus ceritanya ke gue, orang yang dianggap dia dengerin cuma gue doang.

“Pernah lihat film rumah dara, Bang?” tanya Dinda tiba-tiba.
“I-iya, pernah,” jawab gue spontan di luar kesadaran.
“Katanya di jalan ini juga sering ada cewek yang nunggu jemputan gitu.”
“Sorry, tadi lo nanya apaan, ya? Kalo masalah rumah dara sorry gue enggak denger.”
“Di jalan ini juga ada cewek itu!” ulang Dinda niat.
“SORRY DINDA GUE ENGGAK DENGER!” seru gue membesarkan volume DVD.
“DI JALAN INI!” teriak Dinda makin niat di telinga gue. “JUGA ADA CEWEK ITU!”

Seketika gue pinggirkan mobil dan segera turun ke jalan. Mobil belakang awalnya sedikit kaget dan heran mengetahui gue keluar dari mobil tiba-tiba.

Ya… menurut gue normal sih kalo mereka kebingungan sewaktu gue menghampiri mereka. Tapi begitu gue menceritakan keluh kesah gue tentang kelakuan Dinda di mobil depan dan meminta si Bull buat tukeran mobil, mereka menunjukkan ekspresi muka yang justru bikin gue kebingungan.

“Orang yang sudah ditukar tidak boleh dikembalikan,” kata si Bull nyengir. “Kita bersyukur banget abang sendiri yang minta Dinda buat pindah.”
pulaukapok
pulaukapok memberi reputasi
1
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.