- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.9K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.5KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#120
PART 18
Setelah menjemput Echa dan menelepon orang selanjutnya, penumpang ketiga pun siap kita jemput. Enisha, ah… mungkin sebagian orang di kota Jogja dan sekitarnya bakalan tau siapa dia kalo gue sebut nama aslinya. Tapi berhubung gue enggak mau mengulangi kesalahan tentang identitas yang mengakibatkan gue bingung harus gimana benerinnya, jadi lebih baik, kita panggil dia Sasha.
Vokalis salah satu band yang menurut Yansa cukup punya nama di kota Jogja. Gue tau informasi ini juga sewaktu kumpul KKN waktu itu. Awalnya dia cuma senandung pelan gitu, terus lama-kelamaan, gue tertarik buat bilang, “Suara lo bagus juga, Sha.”
Dia jawab? Enggak. Yang ngejawab malah Yansa. Berbeda dengan Yansa yang seneng banget cari informasi tentang orang lain, Sasha ini orangnya diem. Bukan kayak diem-diem kentut, tapi lebih ke diem-diem terkenal.
“Sha,” panggil Echa ketika Sasha memasuki mobil. “Lo suka bang Dawi, enggak?”
“EH?! Ini apa-apaan kenapa pertanyaannya kayak gitu?” keluh gue.
“Apa sih, Bang?! Diem aja, deh!” Echa kembali menatap Sasha, “Suka enggak?”
“Kalo dari fisik … okelah dia delapan,” kata Sasha mengejutkan. “Tapi kalo gue lebih cenderung kenal sama orangnya dulu, biar tau sifatnya gitu.”
“Gue bilang juga apa, Cha!” Yansa ngotot. “Dia itu positif pelet! Cewek lihat dia tuh langsung terpikat, apalagi kalo bukan pelet?”
“Tunggu, bukannya pelet itu khusus ke perorangan, ya?” tanya gue. “Enggak bisa buat semua lawan jenis gitu.”
“Bener juga kata abang,” setuju Echa. “Kayaknya kalo buat orang banyak tuh lebih ke susuk, deh.”
“Ya berarti abang ini susuk!” seru Yansa berubah halauan. “Positif susuk!”
“Heh, sambel cocol! Lo tadi bilang pelet dan sebagainya, kenapa sekarang gue dituduh pake susuk?”
“Gausah ngeles lagi, Bang!” seru Yansa makin panas. “Akuin sekarang! Susuk! Iya, Susuk!”
“Ini pada ngomongin apa, sih?” tanya Sasha dalam keributan yang menggema.
Sekitar jam satu siang, akhirnya setengah anggota unit terkumpul di mobil yang gue bawa. Penumpang terakhir, Luther, enggak terlalu lama dari setelah menjemput Sasha, dia pun kita jemput. Kosannya enggak terlalu jauh dari tempat Echa dan kosan Sasha jadi kita bisa menjemputnya karena searah.
Sebenernya gue pengin ceritain semua persona anggota unit yang ada di mobil ini, tapi berhubung kayaknya bakal makan waktu banyak, jadi mungkin gue jelaskan sambil lalu.
“Si Bull sampai mana dia?” tanya gue. “Udah jalan ke Klaten belum?”
“Tadi sih si Dinda bilang di grup katanya otewe,” kata Luther dari kursi belakang gue. “Tapi enggak tau otewe ke mana.”
“Gue nanyanya si Bull lho, Lut,” goda gue. “Kenapa lo nyambungnya ke Dinda mulu?”
“Cieee…!” Echa menyenggol-nyenggol Luther, “Belum jadi KKN udah cinlok duluan.”
“Gara-gara abang ini emang,” keluh Luther. “Waktu kumpul kemarin pake acara jodoh-jodohin segala.”
“Lhoh, kok lo nyalahin gue? Kan barusan lo sendiri yang nyambungin ke Dinda. Orang jelas-jelas pada denger kalo gue nanyanya si Bull.”
“Ya kan di mobilnya si Bull ada Dinda–”
“CIEEE…!” seru gue dan Echa bersamaan. “Sebut-sebut namanya…!”
“Kesel gue di mobil ini!”
“Heleh,” sindir Yansa tiba-tiba. “Bilang aja mau semobil sama Dinda.”
“CIEEEE….!”
“TURUNIN! TURUNIN GUE SEKARANG JUGA! GUE RELA JALAN KAKI KE BOYOLALI…!”
Setelah menjemput Echa dan menelepon orang selanjutnya, penumpang ketiga pun siap kita jemput. Enisha, ah… mungkin sebagian orang di kota Jogja dan sekitarnya bakalan tau siapa dia kalo gue sebut nama aslinya. Tapi berhubung gue enggak mau mengulangi kesalahan tentang identitas yang mengakibatkan gue bingung harus gimana benerinnya, jadi lebih baik, kita panggil dia Sasha.
Vokalis salah satu band yang menurut Yansa cukup punya nama di kota Jogja. Gue tau informasi ini juga sewaktu kumpul KKN waktu itu. Awalnya dia cuma senandung pelan gitu, terus lama-kelamaan, gue tertarik buat bilang, “Suara lo bagus juga, Sha.”
Dia jawab? Enggak. Yang ngejawab malah Yansa. Berbeda dengan Yansa yang seneng banget cari informasi tentang orang lain, Sasha ini orangnya diem. Bukan kayak diem-diem kentut, tapi lebih ke diem-diem terkenal.
“Sha,” panggil Echa ketika Sasha memasuki mobil. “Lo suka bang Dawi, enggak?”
“EH?! Ini apa-apaan kenapa pertanyaannya kayak gitu?” keluh gue.
“Apa sih, Bang?! Diem aja, deh!” Echa kembali menatap Sasha, “Suka enggak?”
“Kalo dari fisik … okelah dia delapan,” kata Sasha mengejutkan. “Tapi kalo gue lebih cenderung kenal sama orangnya dulu, biar tau sifatnya gitu.”
“Gue bilang juga apa, Cha!” Yansa ngotot. “Dia itu positif pelet! Cewek lihat dia tuh langsung terpikat, apalagi kalo bukan pelet?”
“Tunggu, bukannya pelet itu khusus ke perorangan, ya?” tanya gue. “Enggak bisa buat semua lawan jenis gitu.”
“Bener juga kata abang,” setuju Echa. “Kayaknya kalo buat orang banyak tuh lebih ke susuk, deh.”
“Ya berarti abang ini susuk!” seru Yansa berubah halauan. “Positif susuk!”
“Heh, sambel cocol! Lo tadi bilang pelet dan sebagainya, kenapa sekarang gue dituduh pake susuk?”
“Gausah ngeles lagi, Bang!” seru Yansa makin panas. “Akuin sekarang! Susuk! Iya, Susuk!”
“Ini pada ngomongin apa, sih?” tanya Sasha dalam keributan yang menggema.
Sekitar jam satu siang, akhirnya setengah anggota unit terkumpul di mobil yang gue bawa. Penumpang terakhir, Luther, enggak terlalu lama dari setelah menjemput Sasha, dia pun kita jemput. Kosannya enggak terlalu jauh dari tempat Echa dan kosan Sasha jadi kita bisa menjemputnya karena searah.
Sebenernya gue pengin ceritain semua persona anggota unit yang ada di mobil ini, tapi berhubung kayaknya bakal makan waktu banyak, jadi mungkin gue jelaskan sambil lalu.
“Si Bull sampai mana dia?” tanya gue. “Udah jalan ke Klaten belum?”
“Tadi sih si Dinda bilang di grup katanya otewe,” kata Luther dari kursi belakang gue. “Tapi enggak tau otewe ke mana.”
“Gue nanyanya si Bull lho, Lut,” goda gue. “Kenapa lo nyambungnya ke Dinda mulu?”
“Cieee…!” Echa menyenggol-nyenggol Luther, “Belum jadi KKN udah cinlok duluan.”
“Gara-gara abang ini emang,” keluh Luther. “Waktu kumpul kemarin pake acara jodoh-jodohin segala.”
“Lhoh, kok lo nyalahin gue? Kan barusan lo sendiri yang nyambungin ke Dinda. Orang jelas-jelas pada denger kalo gue nanyanya si Bull.”
“Ya kan di mobilnya si Bull ada Dinda–”
“CIEEE…!” seru gue dan Echa bersamaan. “Sebut-sebut namanya…!”
“Kesel gue di mobil ini!”
“Heleh,” sindir Yansa tiba-tiba. “Bilang aja mau semobil sama Dinda.”
“CIEEEE….!”
“TURUNIN! TURUNIN GUE SEKARANG JUGA! GUE RELA JALAN KAKI KE BOYOLALI…!”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
