- Beranda
- Stories from the Heart
Cerita Yang Belum Berakhir
...
TS
drupadi5
Cerita Yang Belum Berakhir
Kisah kita berbeda kawan, suka duka kita tidak pernah sama, meski kita hidup berpuluh-puluh tahun jalan hidup kita pun tidak pernah melengkung ke arah yang sama, memainkan suatu cerita dengan peran yang berbeda-beda, yang nanti, entah kapan, hanya akan berujung pada suatu akhir dimana waktu bukan lagi milik kita....
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
tapi bagaimana jika akhir itu pun tidak berarti sebuah penyelesain dari cerita kita?
*****
02.30 am
Subuh ini, sepulang kerja, seperti biasa suami dan anakku udah pada pulas tertidur. Kulepaskan dulu helm, jaket, dan semua atribut pengaman dan pelindung, sebelum sedikit membasuh diri.
Menenangkan diri sejenak sebelum bertemu kasur, kubuka hape BB jadulku, ada satu notif kalau ada yg mengirim pesan lewat FB messenger. Langsung kubuka,
dah pake BB ya, boleh minta PIN mu?
Sebuah pesan singkat, tp cukup membuat jantungku berdesir aneh. Setelah berpikir sejenak, kubalas pesan itu...
Bole, ini PIN ku %^&$#@
Bukan tanpa alasan kuberikan contactku, hanya karena rasa penasaran yang telah terpendam bertahun-tahun dan... sebuah penyelesaian
*****
prologue
part 1 jadi mahasiswa
part 2 baksos
part 3 mas kayon
part 4 karena matras
part 4.2 obrolan pertama
part 5 karena pertanyaan dan jawaban konyol
part 6 kesurupan???
part 7 sopir dan assisten sopir
part 8 around me
part 9 mabuk
part 10 pasar loak
part 11 pelukis malam
part 12 baksos in action
part 13 yunita
2014
part 14 would you be
part 15 would you be (2)
part 16 would you be mine?
part 17 hilang
part 18 second chance...1
part 19 second chance...2
part 20 second chance...3
part 21 SMS
part 22 blind love
part 23 blind love 2
part 24 blind love 3
part 24 blind love 4 (17+)
part 25 blind love 5
part 26 blind love 6
part 27 siksaan 1
part 28 Mr. Lee
part 29 siksaan 2
part 30 following the flow (cinta tanpa logika)
part 31 following the flow (cinta tanpa logika 2)
part 32 heart breaker
part 33 kehilangan
part 34 solo fighter
part 35 kejutan
part 36 perbedaan itu (ngga) indah
2008
part 37 the next steps
part 38 dewa bisma
part 39 anak rantau
part 40 penantian
part 41 akhir dari penantian
2009
all i want
part 42 and story goes on...
part 43 nelangsa
part 44 a gift
part 45 trouble maker
part 46 trouble maker 2
part 47 tentang dewa
part 48 tentang dewa 2
part 49 is it real?
part 50 is it real? 2
part 51 rasa itu
part 52 jealouse
part 53 Jakerdah
part 54 drama queens
part 55 i feel you
part 56 ikatan
part 57 September 2006
part 58 july 2009
part 59 ujian pertama
part 60 ujian kedua
part 61 ujian yg sebenarnya
Part 62 Dewa Rasya
part 63 kembali
part 64 Namy
part 65 batas benci dan cinta
part 66 trouble maker
part 67 trouble maker 2
part 68 trouble maker 3
Diubah oleh drupadi5 23-11-2019 23:42
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
11
37.5K
329
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.7KThread•52.2KAnggota
Tampilkan semua post
TS
drupadi5
#10
Part 6 Kesurupan???
Suatu sore sekitar jam 3 an, masih suasana MOS, session nya sie dispilin di ruangan. Aku ngga tahu pasti kejadiannya gimana, tiba2 dah pada heboh aja para panitia berhamburan masuk ke ruangan disertai dengan jeritan dan teriakan2 ngga jelas, yg sepertinya dari para maba cewek.
Aku yg sedari tadi sibuk ngerekap jumlah anak2 yg sudah daftar, masih planga plongo aja, ngga ngerti apa yg sebenernya terjadi.
Panitia MOS masih di dalam, yg kudengar dan klo ngga salah, suara teriakan para panitia juga ngga kalah histerisnya dengan teriakan para maba. Sejurus kemudian, sie disiplin yg berjumlah 4 orang keluar dengan tergesa dan wajahnya tampak memerah.
“A**... akal2an mereka aja itu! Ngga ada yg namanya kesurupan, tolol mereka itu!!!” teriak salah satu dr sie disiplin, “lo mau dikadalin sama mereka, as*!!”
“Kle**... mereka ngga bohong kamp***!!!” hardik yg lain, “lo tahan emosi lo!!”
Dan mereka berempat berdebat, saling teriak. Aduh kalau begini mah mending ngungsi aja deh. Mereka tadi nyebut2 kesurupan, apa iya para maba kesurupan? Bergegas aku menuju ke gedung depan, gedung yg dipakai buat MOS.
Aku melongok di pintu ruang MOS, Cuma ada maba yg cowok2 di sana dengan wajah seperti syok, ada beberapa panitia juga di sana. Sayup2 aku denger suara tangisan, bukan cuma satu tapi beberapa suara org nangis, wah ada apa ini. Aku mendatangi arah sumber suara yg ternyata dari ruangan sebelahnya. Di sana barulah suasana agak sedikit dramatis.
Para Maba yg kebanyakan cewek2 pada bergelimpangan, ada yang nangis2, ada yg duduk selonjoran bersandaran dengan raut wajah kelelahan. Para panitia sibuk membagikan minuman dan beberapa ada juga yg mencoba menenangkan sebagian maba yg masih terisak2. Suasana makin sore makin ngga kondusif, karena para orang tua yg hendak menjemput anak2 mereka, mulai menyadari ada sesuatu yg lain dari biasanya. Tapi untunglah, ada beberapa dosen pendamping yg menangani para orang tua dan memberi penjelasan perihal situasi yg terjadi.
Dari Yana, yg jadi salah satu pedampig kelompok di MOS, aku mengetahui bahwa akar permasalahannya adalah, pada saat istirahat, ada salah satu maba yg td pagi kena hukum secara terang2an menantang sie disiplin buat berantem. Tp karena masih dalam lingkungan kampus dan acara mos, sie disiplin ngga mau ngeladenin, dan td pas sesinya sie disiplin masuk ruangan di sanalah, mereka pada numpahin marah mereka ke maba. Atau lebih tepatnya rasa kecewa mereka ke para maba, bukan secara personal tp keseluruhan maba yg sudah ngga bisa di atur. Mungkin karena emosi dan banyak aura negative nya, jadi deh ada beberapa maba yg cewek yg ngga tahan, dan seperti agak kesurupan. Ini baru kemungkinan, penyebab jelasnya aku juga ngga terlalu ngerti. Kalau menurutku sih lebih ke kondisi fisik dan psikis mereka yg sudah lelah mungkin.
Aku dan Yana lagi duduk2, sewaktu Nana dan Damar datang, dan dengan serunya mereka cerita
“eh, Yan, Yan.. masih sih tadi Damar nenangin anak cewek, udah kaya nenangin ibu2 yg lagi mau melahirkan aja gayanya, pake nyuruh2... nafas yg bagus, atur nafas.....emang mau lahiran apa!” cerita Nana ketawa ketiwi, “ atau lo Cuma cari2 kesempatan aja tuh biar bisa deketin cewek2, perasaan dr tadi yg kamu bantuin yg bening2 mulu deh...,” semprot Nana ke Damar yg cengar cengir aja dr tadi.
“ah..beneran nih kesempatan lo ya!!” Yana juga jd ikut2an ngeledekin Damar.
“Dy...Dyaaan!!!” aku menoleh ke arah suara yg teriak memanggilku. Mas Kayon yg memanggilku dari balik jendela ruangan. Dia memberi tanda agar aku ke sana. Apa lagi sih, pikirku.
“kenapa mas?” tanyaku ke Mas Kayon yg tampak duduk di samping seorang cewek maba yg lagi terisak2 dengan nafas agak tersengal2. Wah, asma nih anak, pikirku begitu melihat cara dia bernafas yg rada2 ngga normal.
“bawa obat asma?” tanya mas kayon
“ngga mas, di sie kesehatan ngga ada?” tanyaku lalu duduk bersimpuh di ujung kaki si cewek maba.
“ngga punya mereka” sahut Mas Kayon. Tampak jelas bgt dr raut wajahnya kalau dia sangat kuatir.
Biasanya kalau aku dulu pas masa2nya asmaku kambuh ke mana2 pasti bawa obat, ini cewek bawa ngga ya? Aku beringsut pindah duduk ke samping cewek itu yg lagi berbaring.
“Dek..” panggilku ke cewek itu, tapi dia ngga jawab, “Dek!” aku panggil lagi sambil menyentuh lengannya, dia menoleh ke arahku.
“kamu punya asma? Bawa obatnya ngga?”tanyanku pelan. Dia hanya menggeleng. Parah ini dia sampe ngga sanggup ngomong.
Aku ambil selembar kertas dan menuliskan satu nama obat inhaler yg biasa aku pake beserta spesifikasinya, dan tak lupa beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya ke Mas Kayon
“tolong beliin obat ini, cepetan Mas!”
“tapi Dy...”
“udah cepetan!” potongku cepat.
Kebetulan kampusku ini ngga jauh dari rumah sakit terbesar di pulau ini, jd ngga akan susah nyari apotik di sekitaran kampus. Sambil nunggu Mas Kayon, aku berusaha membuat cewek ini nyaman meski ngga bisa nafas dengan normal
“dek...adek bisa duduk, senderan aja, “ kataku.
Tidak ada sahutan.
“dek, adek duduk ya, klo baringan terlentang gini justru tambah susah nafasnya. Atau kalau mau tiduran, posisinya nyamping aja ya...” kataku.
Maba cewek itu sepertinya mau ngikutin saranku, dia yang tadinya tiduran terlentang, perlahan-lahan memiringkan posisi badannya ke samping.
“nafasnya di atur, Dek...susah memang, tp klo bisa malah lebih enakan ntar rasanya,” saranku lagi.
Cewek itu ngga ada respon, hanya saja sekarang dia sudah agak tenang, ngga nangis2 lagi kayak tadi.
Sejurus kemudian, “ini Dy!!” tiba2 Mas Kayon udah ada di belakangku dan menyerahkan kontong plastik berisi obat pesenanku, dadanya naik turun dan nafasnya tampak ngos2an, kayaknya dia lari2an deh, cepet bgt baliknya.
“dek, saya bantu duduk ya...pakai obatnya dulu,” kataku sambil memapahnya agar bisa duduk.
“ini obat asma inhaler, ini kmu masukkan ke mulut, nanti kalo terasa ada gas yg menyemprot di mulut kamu hirup ya, seperti ini....huurruup...” aku memberikan contoh cara menghirup obatnya. Dia menggangguk.
Aku membantunya memakai obat inhaler itu, begitu ujung atasnya aku tekan, akan ada sejumlah gas berisi kandungan obat yg akan menyemprot dari dalam lubang yg sudah ada di dalam mulutnya, nah si cewek tinggal menghirupnya saja.
“uhuuk..huuuk...,” sedotan pertama dia terbatuk2 keras, reaksi yg wajar, karena nafasnya masih pendek2 pasti sulit buat menghirup dengan menarik nafas.
Nunggu sekitar 2 menit, kembali aku berikan obat itu
“sekali lagi ya... yg tadi kayaknya ngga kehirup sempurna,” kataku.
Nah, yg kedua ini dia sudah ngga batuk2 lagi. Setelah memakaikan obat, aku minta dia tetap duduk senderan ke tembok dan bernafas dengan teratur.
Aku tahu banget gimana rasanya dalam posisi maba cewek ini. Rasanya udah kaya pengen mati aja, lemes, dan susah nafas. Hampir sejam, aku nemenin maba cewek itu, akhirnya keadaannya mulai membaik, meski nafasnya belum begitu normal.
“kamu sampai rumah harus tetap periksa ke dokter ya,” saranku yg di iyakan dengan anggukkan kepala dari maba cewek itu.
“Makasi ya Kak...”sahutnya lirih, sebulir air mata lagi2 jatuh di pipinya.
“sama2. Udah jangan nangis lagi, kamu kenapa nangis sih?eh, nama kamu siapa?”
“saya Uttari, kak...saya takut kak....”
“takut kenapa?” tanyaku lagi penuh dengan rasa penasaran
“Tadi waktu kakak2 sie disiplin marah2 di ruangan, sy ngeliat ada...entahlah...gimana harus bilangnya, seperti asap atau kaya bayangan gitu kak, keabu2an dilangit2 ruangan, makin lama makin banyak, setelah itu saya ngerasa kepala saya sakit dan susah nafas...setelah itu...saya ngga inget apa2 lagi tau2 sudah di sini dan...saya susaaahh bgt buat bernafas...saya kira saya udah mati ka...”
“udah2...ngga usah dibahas. Mungkin itu halusinasi kamu aja, karena tegang dan kecapean. Ngga ada apa2 dan semua baik2 aja. Kamu emang ada sakit asma, atau baru kali ini aja ngalamin kayak gini?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“saya emang punya asma dari kecil kak,” sahutnya
“sering kambuh?”
“hm...ngga sering2 bgt sih..”
“kamu memang ngga pernah bawa obat klo ke mana2?” selidikku. Biasanya bagi orang2 yg punya asma dan potensial kambuhnya intens, selalu bawa obat kemana pun mereka pergi. Aku pun dulu seperti itu, obat selalu ada di dalam tasku.
“tadi kelupaan bawanya,” katanya lirih.
“astaga... Jangan sampai lupa lah, itu penting bgt tau!”
“iya kak...”sahutnya dengan wajah menyesal.
“Dy...” panggil Mas Kayon yg tiba2 udah ada di sampingku. Perasaan tadi ngasi obat masih di sini, eh sekarang malah muncul lg dr arah pintu.
“udah baikan?” tanyanya ke Uttari
“Udah kak, berkat kakak ini....”sahut Uttari, sambil menoleh ke aku
“kamu salah dek, mas ini yg nolong kamu tadi, aku hanya bantu aja, oya, kamu biasanya pake obat apa? Inhaler atau obat minum?” tanyaku
“obat minum kak, dokter sih nyaranin pake inhaler, tapi Bapak beliin aku obat minum karena lebih murah,” sahutnya.
“ini buat kamu aja,” kataku kemudian meletakkan obat inhaler yg di beli Mas Kayon ke tangan Uttari
“tapi kak...”
“udah simpen aja!!” potongku cepat, “kamu dijemput apa bawa motor sendiri?” tanyaku lagi, begitu menyadari hari hampir gelap dan di ruangan pun tinggal beberapa orang maba saja yg sepertinya masih beristirahat sambil menunggu jemputan.
“emm...saya naik sepeda kak,” sahut Uttari lirih dan sambil nunduk
“rumah kmu di mana?” tanya Mas Kayon
“di Si******* kak,” reflek aku memandang Mas Kayon begitu pula sebaliknya. Kami saling berpandangan, sepertinya memiliki pemikiran yg sama...lumayan jauh rumahnya, naik sepeda pula.
“eee...hm....”aku hendak bicara tapi aga ragu.
“tunggu...” kata Mas Kayon yg tiba2 berdiri dan keluar ruangan. Aku penasaran mau ngapain dia.
“bentar ya Dek...” lalu aku keluar nyusul Mas Kayon
Aku menuju ruang senat, kulihat Mas Kayon lagi ngobrol dengan anak2 dari sie kesehatan.
“gimana?” kataku menghampirinya begitu dia selesai bicara. Feelingku sih dia lagi bahas Uttari tadi.
“eum...harus nunggu, mobilnya lagi dipake buat anter anak yg lain, nganternya jauh pula,” kata Mas Kayon.
Tiba2 terdengar suara berteriak2 dari arah ruangan, secepat kilat, aku dan mas kayon berlari balik ke arah ruangan. Syukurlah Uttari masih ada disana dengan kondisi yg sama seperti saat aku pergi. Rupa2nya yg berteriak tadi salah seorang cewek yg memang sedari tadi aku lihat paling dijagain sama panitia, bahkan ada Pak Mangku, pegawai kampus yg juga ‘juru kunci’ di kampus ini. Udah bukan rahasia kalo Pak Mangku ini punya sedikit kelebihan, boleh dibilang Bapak ini pawangnya kalo di kampusku.
“kak...” Uttari dengan susah payah berdiri dan merapat ke aku, wajahnya disembunyikan di balik lenganku.
“udah udah.. gpp,” ujarku berusaha menenangkan padahal aku sendiri ngga tahu dia kenapa.
“ada itu d....”
“ssstttt!!!”diem!!” potongku cepat sebelum Uttari menyelesaikan kalimatnya. “Ambil tasmu, biar aku anter kamu pulang,” sahutku kemudian, biar cepet pergi dari sini. Takutnya ntar malah Uttari ikutan ketularan, malah panjang ntar urusan apalagi dia ada sakit asma.
Aku memapahnya pelan2 menuju parkiran mobil, kebetulan hari ini aku bawa mobilnya bokap gara2 td pagi ngga kebagian motor.
(Fyi, aku ini ngga punya motor, aku bawa motor hanya kalau ada motor yg ngga dipake sama kakak2ku atau ibuku, sedangkan bokap biasanya bawa motor h**** bebek keluaran tahun 76 yg hanya beliau dan Tuhan yg tahu gimana caranya menghidupkan mesinnya, so kalau ngga ada motor nganggur mau ngga mau aku harus bawa mobil, mobil ini hasil jerih payah ortuku yg akhirnya bisa bangkit dr keterpurukan ekonomi 2 tahun belakangan ini, apalagi sejak Dwi, teman baikku yg meninggal karena kecelakaan itu, bokap udah ngga ngebolehin aku bw motor kalau kuliah ke kampus di Bukit. Harus bawa mobil, karena beliau tahu aku suka ngebut dan serampangan kalau naik motor, dan yg terutama karena aku anak kesayangan bokap hehe)
“Dy...!!” suara Mas Kayon memanggilku. Dia berlari2 kecil ke parkiran, padahal aku dah siap2 jalan
“kamu sendiri?” tanyanya
“berdua, sama Uttari..” jawabku sekenanya. Dia hanya melengos mendengar jawabanku
“maksudku, kmu sendirian aja nganternya?kamu bukan panitia lho, klo ntar ditanya2 sama ortunya kamu mau jawab apa?kalo dimintai pertanggung jawaban soal keadaan Uttari gimana?” Mas Kayon bicara agak pelan supaya tidak terdengar Uttari.
Bener juga Mas Kayon, baru aku sadar aku ini panitia baksos, bukan panitia MOS.
Aku memandang Mas Kayon lalu tersenyum kecil, “hehe iya juga ya..ngga kepikiran ke sana.”
“kamu itu ya...bentar aku panggil panitianya dulu, biar ikutan nganter,” ujarnya sambil menjitak pelan keningku lalu kemudian berlari kedalam kampus.
Hey....sejak kapan dia berani nyentuh2 wajahku????
Akhirnya, ada aku sebagai sopir, kemudian Yuni sie kesehatan, sama Mas Kayon yg ikutan nganter Uttari ke rumahnya. Untunglah bokap nya Uttari baik banget. Awalnya beliau menolak obat yg aku kasikan ke Uttari. Tapi aku memaksa agar beliau mau menerimanya dengan alasan Uttari akan sangat memerlukan inhaler selama masa2 MOS, apalagi bakalan ada serentetan acara lainnya seusai MOS tingkat fakultas ini, yg akan sangat menguras tenaga. Penderita asma akan sangat terbantu karena reaksi inhaler lebih cepat dibandingkan dengan obat minum.
“Yun, ganti nih duitnya Dyan, td dia lho yg beliin obatnya Uttari,” ujar Mas Kayon sewaktu di mobil setelah dari rumahnya Uttari
“Ngga usah Mbak, biarin aja,” kataku sambil fokus nyetir.
“ngga bisa gitu dong Dy,” sahut Mas Kayon
“Ada receipt nya ngga Mas?” tanya Mbak Yuni ke Mas Kayon
“Ada lah masih gw simpen.” Kata Mas Kayon sambil ngerogoh saku celana jeans belelnya
“Mbak, aku serius lho...ngga perlu diganti itu, lagian obatnya juga udah dikasiin ke Uttari, biarin aja,” ujarku lagi memastikan kalo aku ngga ngerubah keputusanku.
“ya udah kalau gitu, makasi ya Dy.” Sahut Mbak Yuni
“sama2 mbak.”
“beneran Dy?”tanya Mas Kayon lagi, “itu uang yg kamu kasiin ngga ada kembaliannya lho?” ujarnya lagi, aku ngerti maksudnya dia, obatnya lumayan mahal.
“beneran mas, emang harganya segitu makanya aku kasiin uangnya ya segitu.”
Sore telah benar2 berganti malam, ketika kami sampai di kampus. Setelah Mbak Yuni turun dan Mas Kayon yg begitu nyampe kampus langsung di tarik sama si ketua MOS entah ada urusan apa, aku muter mobil lewat parkiran berniat langsung pulang aja. Jadi ikutan capek. Tapi sebelum mobilku sampai gerbang, aku dicegat Mas Kayon. Dia menghampiriku yg masih ada di dalam mobil
“Dy, sorry... hmm...kita bisa minta bantuan kamu lg ngga?” katanya dengan mimik wajah serius banget
“bantu apa?” tanyaku jadi penasaran
“anter anak maba lagi ke rumahnya, dia bawa motor, tp kondisinya sekarang ngga memungkinkan buat naik motor, apalagi dia sendirian, trus mobil yg anter maba yg satunya blom balik2, kasihan anaknya kalau terlalu lama nunggu” jelasnya
“ya udah...ok.” ngga mungkin juga kan nolak kalau situasinya udah gini.
Aku memarkirkan mobilku di lobby kampus, ternyata yg mau di antar itu anak yg teriak2 td sore sewaktu aku ngurusin Uttari. Kali ini yg ikut lumayan banyak, ada Pak Mangku, ketua MOS nya, beberapa senior, dan yg ngga mau ketinggalan Mas Kayon. Untunglah rumahnya ngga terlalu jauh juga.
Sampai di rumahnya, semuanya ikut masuk kecuali Aku dan Mas Kayon, kami sih ngga ada urusan, aku cuma sopir dan mas kayon...assisten sopir hehehe anggep aja gitu. Lumayan lama mereka di dalam.
“makasi ya Dy udah mau bantuin, kamu ngga apa2 kan pulangnya malem?” tanyanya sewaktu kami menunggu yg lainnya di dalam mobil
“emang ngga ada yg bisa nyetir ya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya
“Roy (ketua MOS) bisa kok nyetir, masalahnya yg di setir kagak ada hehehe...” jawabnya tersenyum
“eh ditanya jawab dong, kebiasaan nih kalo ditanya pasti balik nanya!” gerutunya lagi
“jawab apaan?” jawabku bingung
“ngga apa2 kalau kamu pulang malam2?” ulangnya lagi.
Aku melihat jam dipergelangan tanganku, menunjukkan jam 8 malam
“baru juga jam 8...ngga terlalu malam juga,” sahutku
“ya kan kmunya dari pagi di kampus, blom sempat pulang, ngga dicariin ntar?”
“pulang jam 12 pun aku ngga ada yg nyariin kok.” Sahutku
“oya? Masa sih, ngga kuatir gitu bapak ibu mu?”
“kuatir lah namanya juga orang tua.... Bapakku tau kok kalau aku ada kegiatan di kampus, jadi ya percaya kalau aku emang dikampus bukan kelayapan, sudahlah ngga usah dibahas,” jelasku.
Sebelum dia mulai ngoceh lagi, untunglah aku diselamatkan dengan kedatangan anak2 yg lain dr dalam rumah si anak maba.
Sampai di kampus...
“Makasi ya udah mau bantuin,” kali ini si ketua MOS yang namanya Roy yg ngucapin terima kasih kepadaku
“sama2 kak.”jawabku singkat
“balik dulu ya Kak,” pamitku kemudian.
Sebelum balik ke parkiran, lagi2 aku dicegat sama Mas Kayon, mau apa lagi nih cowok.
“makasi ya Dy.”
“makasi buat apa lagi mas?”
“makasi aja buat semua...aku jadi bisa ngeliat sisi kamu yg lain..” katanya cepat
“hah...apaan?” ujarku memastikan
pendengaranku ngga salah, sisi yg lain apa maksudnya
“hehehe ngga apa2 kok, ya udah sana pulang, hati2 ya di jalan.”
Aku yg sedari tadi sibuk ngerekap jumlah anak2 yg sudah daftar, masih planga plongo aja, ngga ngerti apa yg sebenernya terjadi.
Panitia MOS masih di dalam, yg kudengar dan klo ngga salah, suara teriakan para panitia juga ngga kalah histerisnya dengan teriakan para maba. Sejurus kemudian, sie disiplin yg berjumlah 4 orang keluar dengan tergesa dan wajahnya tampak memerah.
“A**... akal2an mereka aja itu! Ngga ada yg namanya kesurupan, tolol mereka itu!!!” teriak salah satu dr sie disiplin, “lo mau dikadalin sama mereka, as*!!”
“Kle**... mereka ngga bohong kamp***!!!” hardik yg lain, “lo tahan emosi lo!!”
Dan mereka berempat berdebat, saling teriak. Aduh kalau begini mah mending ngungsi aja deh. Mereka tadi nyebut2 kesurupan, apa iya para maba kesurupan? Bergegas aku menuju ke gedung depan, gedung yg dipakai buat MOS.
Aku melongok di pintu ruang MOS, Cuma ada maba yg cowok2 di sana dengan wajah seperti syok, ada beberapa panitia juga di sana. Sayup2 aku denger suara tangisan, bukan cuma satu tapi beberapa suara org nangis, wah ada apa ini. Aku mendatangi arah sumber suara yg ternyata dari ruangan sebelahnya. Di sana barulah suasana agak sedikit dramatis.
Para Maba yg kebanyakan cewek2 pada bergelimpangan, ada yang nangis2, ada yg duduk selonjoran bersandaran dengan raut wajah kelelahan. Para panitia sibuk membagikan minuman dan beberapa ada juga yg mencoba menenangkan sebagian maba yg masih terisak2. Suasana makin sore makin ngga kondusif, karena para orang tua yg hendak menjemput anak2 mereka, mulai menyadari ada sesuatu yg lain dari biasanya. Tapi untunglah, ada beberapa dosen pendamping yg menangani para orang tua dan memberi penjelasan perihal situasi yg terjadi.
Dari Yana, yg jadi salah satu pedampig kelompok di MOS, aku mengetahui bahwa akar permasalahannya adalah, pada saat istirahat, ada salah satu maba yg td pagi kena hukum secara terang2an menantang sie disiplin buat berantem. Tp karena masih dalam lingkungan kampus dan acara mos, sie disiplin ngga mau ngeladenin, dan td pas sesinya sie disiplin masuk ruangan di sanalah, mereka pada numpahin marah mereka ke maba. Atau lebih tepatnya rasa kecewa mereka ke para maba, bukan secara personal tp keseluruhan maba yg sudah ngga bisa di atur. Mungkin karena emosi dan banyak aura negative nya, jadi deh ada beberapa maba yg cewek yg ngga tahan, dan seperti agak kesurupan. Ini baru kemungkinan, penyebab jelasnya aku juga ngga terlalu ngerti. Kalau menurutku sih lebih ke kondisi fisik dan psikis mereka yg sudah lelah mungkin.
Aku dan Yana lagi duduk2, sewaktu Nana dan Damar datang, dan dengan serunya mereka cerita
“eh, Yan, Yan.. masih sih tadi Damar nenangin anak cewek, udah kaya nenangin ibu2 yg lagi mau melahirkan aja gayanya, pake nyuruh2... nafas yg bagus, atur nafas.....emang mau lahiran apa!” cerita Nana ketawa ketiwi, “ atau lo Cuma cari2 kesempatan aja tuh biar bisa deketin cewek2, perasaan dr tadi yg kamu bantuin yg bening2 mulu deh...,” semprot Nana ke Damar yg cengar cengir aja dr tadi.
“ah..beneran nih kesempatan lo ya!!” Yana juga jd ikut2an ngeledekin Damar.
“Dy...Dyaaan!!!” aku menoleh ke arah suara yg teriak memanggilku. Mas Kayon yg memanggilku dari balik jendela ruangan. Dia memberi tanda agar aku ke sana. Apa lagi sih, pikirku.
“kenapa mas?” tanyaku ke Mas Kayon yg tampak duduk di samping seorang cewek maba yg lagi terisak2 dengan nafas agak tersengal2. Wah, asma nih anak, pikirku begitu melihat cara dia bernafas yg rada2 ngga normal.
“bawa obat asma?” tanya mas kayon
“ngga mas, di sie kesehatan ngga ada?” tanyaku lalu duduk bersimpuh di ujung kaki si cewek maba.
“ngga punya mereka” sahut Mas Kayon. Tampak jelas bgt dr raut wajahnya kalau dia sangat kuatir.
Biasanya kalau aku dulu pas masa2nya asmaku kambuh ke mana2 pasti bawa obat, ini cewek bawa ngga ya? Aku beringsut pindah duduk ke samping cewek itu yg lagi berbaring.
“Dek..” panggilku ke cewek itu, tapi dia ngga jawab, “Dek!” aku panggil lagi sambil menyentuh lengannya, dia menoleh ke arahku.
“kamu punya asma? Bawa obatnya ngga?”tanyanku pelan. Dia hanya menggeleng. Parah ini dia sampe ngga sanggup ngomong.
Aku ambil selembar kertas dan menuliskan satu nama obat inhaler yg biasa aku pake beserta spesifikasinya, dan tak lupa beberapa lembar uang, lalu menyerahkannya ke Mas Kayon
“tolong beliin obat ini, cepetan Mas!”
“tapi Dy...”
“udah cepetan!” potongku cepat.
Kebetulan kampusku ini ngga jauh dari rumah sakit terbesar di pulau ini, jd ngga akan susah nyari apotik di sekitaran kampus. Sambil nunggu Mas Kayon, aku berusaha membuat cewek ini nyaman meski ngga bisa nafas dengan normal
“dek...adek bisa duduk, senderan aja, “ kataku.
Tidak ada sahutan.
“dek, adek duduk ya, klo baringan terlentang gini justru tambah susah nafasnya. Atau kalau mau tiduran, posisinya nyamping aja ya...” kataku.
Maba cewek itu sepertinya mau ngikutin saranku, dia yang tadinya tiduran terlentang, perlahan-lahan memiringkan posisi badannya ke samping.
“nafasnya di atur, Dek...susah memang, tp klo bisa malah lebih enakan ntar rasanya,” saranku lagi.
Cewek itu ngga ada respon, hanya saja sekarang dia sudah agak tenang, ngga nangis2 lagi kayak tadi.
Sejurus kemudian, “ini Dy!!” tiba2 Mas Kayon udah ada di belakangku dan menyerahkan kontong plastik berisi obat pesenanku, dadanya naik turun dan nafasnya tampak ngos2an, kayaknya dia lari2an deh, cepet bgt baliknya.
“dek, saya bantu duduk ya...pakai obatnya dulu,” kataku sambil memapahnya agar bisa duduk.
“ini obat asma inhaler, ini kmu masukkan ke mulut, nanti kalo terasa ada gas yg menyemprot di mulut kamu hirup ya, seperti ini....huurruup...” aku memberikan contoh cara menghirup obatnya. Dia menggangguk.
Aku membantunya memakai obat inhaler itu, begitu ujung atasnya aku tekan, akan ada sejumlah gas berisi kandungan obat yg akan menyemprot dari dalam lubang yg sudah ada di dalam mulutnya, nah si cewek tinggal menghirupnya saja.
“uhuuk..huuuk...,” sedotan pertama dia terbatuk2 keras, reaksi yg wajar, karena nafasnya masih pendek2 pasti sulit buat menghirup dengan menarik nafas.
Nunggu sekitar 2 menit, kembali aku berikan obat itu
“sekali lagi ya... yg tadi kayaknya ngga kehirup sempurna,” kataku.
Nah, yg kedua ini dia sudah ngga batuk2 lagi. Setelah memakaikan obat, aku minta dia tetap duduk senderan ke tembok dan bernafas dengan teratur.
Aku tahu banget gimana rasanya dalam posisi maba cewek ini. Rasanya udah kaya pengen mati aja, lemes, dan susah nafas. Hampir sejam, aku nemenin maba cewek itu, akhirnya keadaannya mulai membaik, meski nafasnya belum begitu normal.
“kamu sampai rumah harus tetap periksa ke dokter ya,” saranku yg di iyakan dengan anggukkan kepala dari maba cewek itu.
“Makasi ya Kak...”sahutnya lirih, sebulir air mata lagi2 jatuh di pipinya.
“sama2. Udah jangan nangis lagi, kamu kenapa nangis sih?eh, nama kamu siapa?”
“saya Uttari, kak...saya takut kak....”
“takut kenapa?” tanyaku lagi penuh dengan rasa penasaran
“Tadi waktu kakak2 sie disiplin marah2 di ruangan, sy ngeliat ada...entahlah...gimana harus bilangnya, seperti asap atau kaya bayangan gitu kak, keabu2an dilangit2 ruangan, makin lama makin banyak, setelah itu saya ngerasa kepala saya sakit dan susah nafas...setelah itu...saya ngga inget apa2 lagi tau2 sudah di sini dan...saya susaaahh bgt buat bernafas...saya kira saya udah mati ka...”
“udah2...ngga usah dibahas. Mungkin itu halusinasi kamu aja, karena tegang dan kecapean. Ngga ada apa2 dan semua baik2 aja. Kamu emang ada sakit asma, atau baru kali ini aja ngalamin kayak gini?” tanyaku mencoba mengalihkan pembicaraan.
“saya emang punya asma dari kecil kak,” sahutnya
“sering kambuh?”
“hm...ngga sering2 bgt sih..”
“kamu memang ngga pernah bawa obat klo ke mana2?” selidikku. Biasanya bagi orang2 yg punya asma dan potensial kambuhnya intens, selalu bawa obat kemana pun mereka pergi. Aku pun dulu seperti itu, obat selalu ada di dalam tasku.
“tadi kelupaan bawanya,” katanya lirih.
“astaga... Jangan sampai lupa lah, itu penting bgt tau!”
“iya kak...”sahutnya dengan wajah menyesal.
“Dy...” panggil Mas Kayon yg tiba2 udah ada di sampingku. Perasaan tadi ngasi obat masih di sini, eh sekarang malah muncul lg dr arah pintu.
“udah baikan?” tanyanya ke Uttari
“Udah kak, berkat kakak ini....”sahut Uttari, sambil menoleh ke aku
“kamu salah dek, mas ini yg nolong kamu tadi, aku hanya bantu aja, oya, kamu biasanya pake obat apa? Inhaler atau obat minum?” tanyaku
“obat minum kak, dokter sih nyaranin pake inhaler, tapi Bapak beliin aku obat minum karena lebih murah,” sahutnya.
“ini buat kamu aja,” kataku kemudian meletakkan obat inhaler yg di beli Mas Kayon ke tangan Uttari
“tapi kak...”
“udah simpen aja!!” potongku cepat, “kamu dijemput apa bawa motor sendiri?” tanyaku lagi, begitu menyadari hari hampir gelap dan di ruangan pun tinggal beberapa orang maba saja yg sepertinya masih beristirahat sambil menunggu jemputan.
“emm...saya naik sepeda kak,” sahut Uttari lirih dan sambil nunduk
“rumah kmu di mana?” tanya Mas Kayon
“di Si******* kak,” reflek aku memandang Mas Kayon begitu pula sebaliknya. Kami saling berpandangan, sepertinya memiliki pemikiran yg sama...lumayan jauh rumahnya, naik sepeda pula.
“eee...hm....”aku hendak bicara tapi aga ragu.
“tunggu...” kata Mas Kayon yg tiba2 berdiri dan keluar ruangan. Aku penasaran mau ngapain dia.
“bentar ya Dek...” lalu aku keluar nyusul Mas Kayon
Aku menuju ruang senat, kulihat Mas Kayon lagi ngobrol dengan anak2 dari sie kesehatan.
“gimana?” kataku menghampirinya begitu dia selesai bicara. Feelingku sih dia lagi bahas Uttari tadi.
“eum...harus nunggu, mobilnya lagi dipake buat anter anak yg lain, nganternya jauh pula,” kata Mas Kayon.
Tiba2 terdengar suara berteriak2 dari arah ruangan, secepat kilat, aku dan mas kayon berlari balik ke arah ruangan. Syukurlah Uttari masih ada disana dengan kondisi yg sama seperti saat aku pergi. Rupa2nya yg berteriak tadi salah seorang cewek yg memang sedari tadi aku lihat paling dijagain sama panitia, bahkan ada Pak Mangku, pegawai kampus yg juga ‘juru kunci’ di kampus ini. Udah bukan rahasia kalo Pak Mangku ini punya sedikit kelebihan, boleh dibilang Bapak ini pawangnya kalo di kampusku.
“kak...” Uttari dengan susah payah berdiri dan merapat ke aku, wajahnya disembunyikan di balik lenganku.
“udah udah.. gpp,” ujarku berusaha menenangkan padahal aku sendiri ngga tahu dia kenapa.
“ada itu d....”
“ssstttt!!!”diem!!” potongku cepat sebelum Uttari menyelesaikan kalimatnya. “Ambil tasmu, biar aku anter kamu pulang,” sahutku kemudian, biar cepet pergi dari sini. Takutnya ntar malah Uttari ikutan ketularan, malah panjang ntar urusan apalagi dia ada sakit asma.
Aku memapahnya pelan2 menuju parkiran mobil, kebetulan hari ini aku bawa mobilnya bokap gara2 td pagi ngga kebagian motor.
(Fyi, aku ini ngga punya motor, aku bawa motor hanya kalau ada motor yg ngga dipake sama kakak2ku atau ibuku, sedangkan bokap biasanya bawa motor h**** bebek keluaran tahun 76 yg hanya beliau dan Tuhan yg tahu gimana caranya menghidupkan mesinnya, so kalau ngga ada motor nganggur mau ngga mau aku harus bawa mobil, mobil ini hasil jerih payah ortuku yg akhirnya bisa bangkit dr keterpurukan ekonomi 2 tahun belakangan ini, apalagi sejak Dwi, teman baikku yg meninggal karena kecelakaan itu, bokap udah ngga ngebolehin aku bw motor kalau kuliah ke kampus di Bukit. Harus bawa mobil, karena beliau tahu aku suka ngebut dan serampangan kalau naik motor, dan yg terutama karena aku anak kesayangan bokap hehe)
“Dy...!!” suara Mas Kayon memanggilku. Dia berlari2 kecil ke parkiran, padahal aku dah siap2 jalan
“kamu sendiri?” tanyanya
“berdua, sama Uttari..” jawabku sekenanya. Dia hanya melengos mendengar jawabanku
“maksudku, kmu sendirian aja nganternya?kamu bukan panitia lho, klo ntar ditanya2 sama ortunya kamu mau jawab apa?kalo dimintai pertanggung jawaban soal keadaan Uttari gimana?” Mas Kayon bicara agak pelan supaya tidak terdengar Uttari.
Bener juga Mas Kayon, baru aku sadar aku ini panitia baksos, bukan panitia MOS.
Aku memandang Mas Kayon lalu tersenyum kecil, “hehe iya juga ya..ngga kepikiran ke sana.”
“kamu itu ya...bentar aku panggil panitianya dulu, biar ikutan nganter,” ujarnya sambil menjitak pelan keningku lalu kemudian berlari kedalam kampus.
Hey....sejak kapan dia berani nyentuh2 wajahku????
Akhirnya, ada aku sebagai sopir, kemudian Yuni sie kesehatan, sama Mas Kayon yg ikutan nganter Uttari ke rumahnya. Untunglah bokap nya Uttari baik banget. Awalnya beliau menolak obat yg aku kasikan ke Uttari. Tapi aku memaksa agar beliau mau menerimanya dengan alasan Uttari akan sangat memerlukan inhaler selama masa2 MOS, apalagi bakalan ada serentetan acara lainnya seusai MOS tingkat fakultas ini, yg akan sangat menguras tenaga. Penderita asma akan sangat terbantu karena reaksi inhaler lebih cepat dibandingkan dengan obat minum.
“Yun, ganti nih duitnya Dyan, td dia lho yg beliin obatnya Uttari,” ujar Mas Kayon sewaktu di mobil setelah dari rumahnya Uttari
“Ngga usah Mbak, biarin aja,” kataku sambil fokus nyetir.
“ngga bisa gitu dong Dy,” sahut Mas Kayon
“Ada receipt nya ngga Mas?” tanya Mbak Yuni ke Mas Kayon
“Ada lah masih gw simpen.” Kata Mas Kayon sambil ngerogoh saku celana jeans belelnya
“Mbak, aku serius lho...ngga perlu diganti itu, lagian obatnya juga udah dikasiin ke Uttari, biarin aja,” ujarku lagi memastikan kalo aku ngga ngerubah keputusanku.
“ya udah kalau gitu, makasi ya Dy.” Sahut Mbak Yuni
“sama2 mbak.”
“beneran Dy?”tanya Mas Kayon lagi, “itu uang yg kamu kasiin ngga ada kembaliannya lho?” ujarnya lagi, aku ngerti maksudnya dia, obatnya lumayan mahal.
“beneran mas, emang harganya segitu makanya aku kasiin uangnya ya segitu.”
Sore telah benar2 berganti malam, ketika kami sampai di kampus. Setelah Mbak Yuni turun dan Mas Kayon yg begitu nyampe kampus langsung di tarik sama si ketua MOS entah ada urusan apa, aku muter mobil lewat parkiran berniat langsung pulang aja. Jadi ikutan capek. Tapi sebelum mobilku sampai gerbang, aku dicegat Mas Kayon. Dia menghampiriku yg masih ada di dalam mobil
“Dy, sorry... hmm...kita bisa minta bantuan kamu lg ngga?” katanya dengan mimik wajah serius banget
“bantu apa?” tanyaku jadi penasaran
“anter anak maba lagi ke rumahnya, dia bawa motor, tp kondisinya sekarang ngga memungkinkan buat naik motor, apalagi dia sendirian, trus mobil yg anter maba yg satunya blom balik2, kasihan anaknya kalau terlalu lama nunggu” jelasnya
“ya udah...ok.” ngga mungkin juga kan nolak kalau situasinya udah gini.
Aku memarkirkan mobilku di lobby kampus, ternyata yg mau di antar itu anak yg teriak2 td sore sewaktu aku ngurusin Uttari. Kali ini yg ikut lumayan banyak, ada Pak Mangku, ketua MOS nya, beberapa senior, dan yg ngga mau ketinggalan Mas Kayon. Untunglah rumahnya ngga terlalu jauh juga.
Sampai di rumahnya, semuanya ikut masuk kecuali Aku dan Mas Kayon, kami sih ngga ada urusan, aku cuma sopir dan mas kayon...assisten sopir hehehe anggep aja gitu. Lumayan lama mereka di dalam.
“makasi ya Dy udah mau bantuin, kamu ngga apa2 kan pulangnya malem?” tanyanya sewaktu kami menunggu yg lainnya di dalam mobil
“emang ngga ada yg bisa nyetir ya?” tanyaku tanpa menjawab pertanyaannya
“Roy (ketua MOS) bisa kok nyetir, masalahnya yg di setir kagak ada hehehe...” jawabnya tersenyum
“eh ditanya jawab dong, kebiasaan nih kalo ditanya pasti balik nanya!” gerutunya lagi
“jawab apaan?” jawabku bingung
“ngga apa2 kalau kamu pulang malam2?” ulangnya lagi.
Aku melihat jam dipergelangan tanganku, menunjukkan jam 8 malam
“baru juga jam 8...ngga terlalu malam juga,” sahutku
“ya kan kmunya dari pagi di kampus, blom sempat pulang, ngga dicariin ntar?”
“pulang jam 12 pun aku ngga ada yg nyariin kok.” Sahutku
“oya? Masa sih, ngga kuatir gitu bapak ibu mu?”
“kuatir lah namanya juga orang tua.... Bapakku tau kok kalau aku ada kegiatan di kampus, jadi ya percaya kalau aku emang dikampus bukan kelayapan, sudahlah ngga usah dibahas,” jelasku.
Sebelum dia mulai ngoceh lagi, untunglah aku diselamatkan dengan kedatangan anak2 yg lain dr dalam rumah si anak maba.
Sampai di kampus...
“Makasi ya udah mau bantuin,” kali ini si ketua MOS yang namanya Roy yg ngucapin terima kasih kepadaku
“sama2 kak.”jawabku singkat
“balik dulu ya Kak,” pamitku kemudian.
Sebelum balik ke parkiran, lagi2 aku dicegat sama Mas Kayon, mau apa lagi nih cowok.
“makasi ya Dy.”
“makasi buat apa lagi mas?”
“makasi aja buat semua...aku jadi bisa ngeliat sisi kamu yg lain..” katanya cepat
“hah...apaan?” ujarku memastikan
pendengaranku ngga salah, sisi yg lain apa maksudnya
“hehehe ngga apa2 kok, ya udah sana pulang, hati2 ya di jalan.”
pulaukapok dan i4munited memberi reputasi
3