- Beranda
- Stories from the Heart
Life Always Spinning
...
TS
bomtwo
Life Always Spinning
Quote:
Quote:
Quote:
Spoiler for Rules:
PROLOG
Perkenalkan nama gw Een (umur 27 tahun sekarang) cowok tulen dan gak melambai (catat), gw berasal dan asli dari sebuah Kota yg menjadi Ibukota provinsi di Pulau Kalimantan. Gw anak ke 2 dari 3 bersaudara, kakak gw cowok dan jarak umur kami terpaut hampir 10 tahun, sedangkan adik gw cewek terpaut 3 tahun dgn gw. Kata orang gw ini anak pungut, itu di karenakan muka gw dgn kakak dan adik gw yg jauh banget bedanya karena kakak gw ganteng dan tinggi sedangkan adik gw cantik dan mungil, apalagi Mama gw juga cantik jdi semakin kentara klo gw ini terkesan anak pungut.
Gw di takdirkan sebagai cowok yg mempunyai berat badan berlebih a.k.a padat berisi (bilang aja gendut) di tambah tinggi badan gw yg cuma 167cm berasa banget gw kayak kingkong, tapi gw gak masalah karena walaupun gw gendut bagi orang gendut gw itu beda karena tubuh gw yg padat gak melar air doank seperti orang gendut kebanyakan...
Cerita ini akan berawal saat gw masuk SMA ditahun 2004, masa di mana gw mengenal cinta, konflik anak muda dan yg pasti konflik kehidupan gw sendiri.
Gw di takdirkan sebagai cowok yg mempunyai berat badan berlebih a.k.a padat berisi (bilang aja gendut) di tambah tinggi badan gw yg cuma 167cm berasa banget gw kayak kingkong, tapi gw gak masalah karena walaupun gw gendut bagi orang gendut gw itu beda karena tubuh gw yg padat gak melar air doank seperti orang gendut kebanyakan...
Cerita ini akan berawal saat gw masuk SMA ditahun 2004, masa di mana gw mengenal cinta, konflik anak muda dan yg pasti konflik kehidupan gw sendiri.
Spoiler for Q & A:
Spoiler for Mulustrasi:
Spoiler for Side Story:
Spoiler for Index:
Polling
0 suara
Siapakah yang akan menjadi pacar Een sampai lulus SMA
Diubah oleh bomtwo 10-05-2018 03:27
pulaukapok dan 10 lainnya memberi reputasi
9
291.5K
2.3K
Komentar yang asik ya
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.9KThread•54.1KAnggota
Tampilkan semua post
glitch.7
#1764
Part 49
*
*
*
*
Keesokan harinya...
Pkl 19.00 wita
*
*
*
*
*
*
Spoiler for 2017:
*
*
kesel sih awalnya pas dia bilang ke aku kalo dia bikin cerita di kaskus tentang kehidupan nya saat SMA dulu. Bukan ceritanya secara keseluruhan tapi soal kenapa dia secara gamblang ceritain cerita kita pas lagi 'nganu' itu.
Awalnya kepikiran juga minta dia buat delete part yg menceritakan saat kita lagi 'nganu' itu tapi aku pikir-pikir lagi, yaa gpp juga, kan kehidupan pribadi ku gak keganggu juga.
Aku udah baca semua part cerita dia dan bagi kalian yg penasaran kenapa aku bisa suka dia dari awal ketemu, jawaban nya adalah saat perkenalan pertama aku waktu masuk di sekolahnya itu, ketika dia dengan tanggap nya meminta maaf kepadaku karena pertanyaan sahabatnya yg membuat aku menceritakan semua kepedihan yg dulu aku alami ketika harus di tinggalkan selama-lamanya oleh Mamah ku.
Tapi bukan itu saja. Pada hari yg sama ketika aku sedang ke kantin bersama Icha, dia menyuruh sahabatnya yg lain untuk mengajak kita gabung karena emang pada saat itu hampir semua meja kantin penuh kecuali meja yg mereka duduki. Aku pun tak menolak karena memang itu saja pilihan nya.
Aku pun mulai berkenalan dengan mereka semua hingga akhirnya giliran kami berdua berjabat tangan. Aku sudah tau namanya ketika aku bertanya kepada Icha saat masih di kelas tadi, tapi tidak etis bagiku bilang begitu ketika ada seorang wanita cantik di sampingnya yg nampak mesra dengan nya.
Seusai perkenalan ku dengan dia, sahabat-sahabatnya pun langsung membully dirinya dan saat itulah aku baru tau kalo wanita yg di samping nya itu adalah pacarnya. Lebih tepatnya sih baru yakin karena dari gelagat mereka berdua sedari tadi pasti mereka punya hubungan spesial.
Tapi yg membuatku kaget adalah ketika aku tau kalo wanita yg duduk sisi kiri ku sekarang ini adalah mantan pacarnya. Baru kali ini aku melihat hubungan mantan bisa sedamai ini bahkan ketika mereka kumpul secara lengkap.
Awalnya kepikiran juga minta dia buat delete part yg menceritakan saat kita lagi 'nganu' itu tapi aku pikir-pikir lagi, yaa gpp juga, kan kehidupan pribadi ku gak keganggu juga.
Aku udah baca semua part cerita dia dan bagi kalian yg penasaran kenapa aku bisa suka dia dari awal ketemu, jawaban nya adalah saat perkenalan pertama aku waktu masuk di sekolahnya itu, ketika dia dengan tanggap nya meminta maaf kepadaku karena pertanyaan sahabatnya yg membuat aku menceritakan semua kepedihan yg dulu aku alami ketika harus di tinggalkan selama-lamanya oleh Mamah ku.
Tapi bukan itu saja. Pada hari yg sama ketika aku sedang ke kantin bersama Icha, dia menyuruh sahabatnya yg lain untuk mengajak kita gabung karena emang pada saat itu hampir semua meja kantin penuh kecuali meja yg mereka duduki. Aku pun tak menolak karena memang itu saja pilihan nya.
Aku pun mulai berkenalan dengan mereka semua hingga akhirnya giliran kami berdua berjabat tangan. Aku sudah tau namanya ketika aku bertanya kepada Icha saat masih di kelas tadi, tapi tidak etis bagiku bilang begitu ketika ada seorang wanita cantik di sampingnya yg nampak mesra dengan nya.
Seusai perkenalan ku dengan dia, sahabat-sahabatnya pun langsung membully dirinya dan saat itulah aku baru tau kalo wanita yg di samping nya itu adalah pacarnya. Lebih tepatnya sih baru yakin karena dari gelagat mereka berdua sedari tadi pasti mereka punya hubungan spesial.
Tapi yg membuatku kaget adalah ketika aku tau kalo wanita yg duduk sisi kiri ku sekarang ini adalah mantan pacarnya. Baru kali ini aku melihat hubungan mantan bisa sedamai ini bahkan ketika mereka kumpul secara lengkap.
Dan di titik inilah perasaan ku kepadanya mulai tumbuh lebih dalam lagi.
*
*
Satu hal lagi yg ingin ku jelaskan. Ini menyangkut pertanyaan seorang reader yg mungkin saja seorang wanita. Di situ dia menanyakan kenapa aku yg baru kenal dengan dia sehari udah berani main cium bahkan di bibir padahal aku tau kalo dia sudah punya pacar.
Spoiler for BARBUK:
Quote:
¥¥-*-¥¥
Keesokan harinya...
Pkl 19.00 wita
Kelar mandi dan sholat maghrib, gw pun bergegas mengganti kaos dan sarung yg gw pake sholat tadi dengan kaos polo warna hitam di padukan denga long jeans warna biru pekat.
Tak lupa minyak rambut dan parfum juga gw oles dan semprotkan ke rambut dan tubuh gw. Kalo udah gini, sekali kedip dua tiga cewe pasti langsung nempel ama gw.
Gw pun lalu berjalan menuju ke kamar Mama berniat pamit jalan sekalian ngambil jatah uang bulanan dari Kakak. Lumayan uangnya sebagai pegangan saat nanti kumpul-kumpul terakhir kalinya dengan Novita di cafe kakaknya Linda malam ini.
Tak lupa minyak rambut dan parfum juga gw oles dan semprotkan ke rambut dan tubuh gw. Kalo udah gini, sekali kedip dua tiga cewe pasti langsung nempel ama gw.
Gw pun lalu berjalan menuju ke kamar Mama berniat pamit jalan sekalian ngambil jatah uang bulanan dari Kakak. Lumayan uangnya sebagai pegangan saat nanti kumpul-kumpul terakhir kalinya dengan Novita di cafe kakaknya Linda malam ini.
Quote:
Sambil menunggu Mama mencari sesuatu yg mau di titipkan kepada Novita, gw pun lalu duduk di sofa ruang tamu sambil gangguin Adek gw yg lagi membaca komik doraemon favoritnya
Keasyikan bercanda gw sampai gak sadar kalo Mama udah berdiri di samping sofa gw duduk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam ditangan kanan nya.
Keasyikan bercanda gw sampai gak sadar kalo Mama udah berdiri di samping sofa gw duduk sambil membawa sebuah kotak kecil berwarna hitam ditangan kanan nya.
Quote:
¥¥-*-¥¥
Seperti biasa dua gelas es sirup melon pasti tersedia kalo gw main ke rumah Novita. Dia emang paling paham kalo gw gak bisa puas kalo minum cuma segelas doang, aus gw kadang kadar maksimalnya suka jail, malu-maluin.
Sambil menunggu Novita yg sedang dandan di kamarnya gw pun membakar sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya di ruang tamu nya ini.
Sebatang, dua batang dan akhirnya setelah batang ketiga rokok gw habiskan, Novita akhirnya keluar dari kamarnya dan menghampiri gw yg masih kalem menunggu sang bidadari ini dan gw bisa bilang, tampilan nya malam ini benar-benar sempurna.
Pakaian yg dia pakai sih style kesukaan nya, bukan hal baru yg wah tapi entah kenapa terasa begitu indah di mata gw. Apa karena ini malam terakhir gw bisa jalan sama dia jadi semua terlihat sempurna dari segi apapun yg nampak dari dirinya ? Mungkin saja, iyaa.
Sambil menunggu Novita yg sedang dandan di kamarnya gw pun membakar sebatang rokok lalu menghembuskan asapnya di ruang tamu nya ini.
Sebatang, dua batang dan akhirnya setelah batang ketiga rokok gw habiskan, Novita akhirnya keluar dari kamarnya dan menghampiri gw yg masih kalem menunggu sang bidadari ini dan gw bisa bilang, tampilan nya malam ini benar-benar sempurna.
Pakaian yg dia pakai sih style kesukaan nya, bukan hal baru yg wah tapi entah kenapa terasa begitu indah di mata gw. Apa karena ini malam terakhir gw bisa jalan sama dia jadi semua terlihat sempurna dari segi apapun yg nampak dari dirinya ? Mungkin saja, iyaa.
Spoiler for Tampilan Novita:
Quote:
*
*
Quote:
Setelah memastikan bahwa meja yg gw reservasi di cafe Bang Indra udah siap, segera gw beserta Novita pergi keluar rumah setelah sebelumnya berpamitan dengan Om Lub yg semenjak gw datang tadi sibuk di kamarnya mengurusi pekerjaan nya agar nanti bisa di tinggal ketika beliau besok pergi menemani Novita ke kota asal Novita dan almh Mamahnya.
Kamipun sudah duduk di atas si macan yg sudah dalam posisi menyala. Kedua tangan Novita pun sudah memeluk bagian perut gw dengan erat sampai-sampai bagian gunung kembarnya amat sangat berasa menempel di punggung gw.
Si macan pun langsung gw gas pergi dari rumahnya Novita. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yg kami lakukan karena eratnya pelukan Novita sudah menjadi tanda bahwa di antara kami sama-sama tak ingin saling berpisah walau kenyataan nya esok adalah hari terakhir kami bisa bertatap muka secara langsung.
Perjalanan ±20 menit pun menjadi tak berasa ketika kami sudah sampai di cafenya Bang Indra, kakaknya Linda. Waktu menjadi berjalan begitu cepat, seakan ingin sesegera mungkin memisahkan gw dengan Novita.
Kamipun sudah duduk di atas si macan yg sudah dalam posisi menyala. Kedua tangan Novita pun sudah memeluk bagian perut gw dengan erat sampai-sampai bagian gunung kembarnya amat sangat berasa menempel di punggung gw.
Si macan pun langsung gw gas pergi dari rumahnya Novita. Sepanjang perjalanan tak ada obrolan yg kami lakukan karena eratnya pelukan Novita sudah menjadi tanda bahwa di antara kami sama-sama tak ingin saling berpisah walau kenyataan nya esok adalah hari terakhir kami bisa bertatap muka secara langsung.
Perjalanan ±20 menit pun menjadi tak berasa ketika kami sudah sampai di cafenya Bang Indra, kakaknya Linda. Waktu menjadi berjalan begitu cepat, seakan ingin sesegera mungkin memisahkan gw dengan Novita.
Quote:
Selepas memarkirkan si macan dan berbincang sebentar dengan Kang Parkir, gw bersama Novita pun beranjak masuk ke dalam cafe.
Ketika gw membuka pintu kaca cafe ini dan masuk ke dalam bersama Novita, dari arah table order nampak terlihat Linda dengan balutan jilbab berwarna hitam yg nampak cocok ketika dia padukan dengan kemeja long sleeves polos warna biru dongker serta long jeans warna biru langitnya, sedang berbincang dengan salah satu waitersnya.
Linda pun tersenyum ketika pandangan matanya kini tepat mengarah ke arah gw serta Novita yg sekarang berdiri di samping kanan gw. Linda pun lalu berjalan ke arah kami lalu menyuruh kami untuk mengikuti dia ke lantai dua cafe Kakaknya ini.
Sesampainya di lantai dua cafenya ini, sudah nampak deretan meja yg tersusun rapi menjadi satu yg gw tebak adalah meja yg sudah gw reservasi dari kemarin. Linda pun kemudian mempersilahkan kami buat duduk lalu terjadilah diskusi di antara kami bertiga membahas akan menu apa saja yg akan gw dan Novita pesan.
Hampir 20 menit kemudian akhirnya terpilih menu-menu apa saja yg akan di hidangkan ketika sahabat-sahabat gw datang nanti.
Ketika gw membuka pintu kaca cafe ini dan masuk ke dalam bersama Novita, dari arah table order nampak terlihat Linda dengan balutan jilbab berwarna hitam yg nampak cocok ketika dia padukan dengan kemeja long sleeves polos warna biru dongker serta long jeans warna biru langitnya, sedang berbincang dengan salah satu waitersnya.
Linda pun tersenyum ketika pandangan matanya kini tepat mengarah ke arah gw serta Novita yg sekarang berdiri di samping kanan gw. Linda pun lalu berjalan ke arah kami lalu menyuruh kami untuk mengikuti dia ke lantai dua cafe Kakaknya ini.
Sesampainya di lantai dua cafenya ini, sudah nampak deretan meja yg tersusun rapi menjadi satu yg gw tebak adalah meja yg sudah gw reservasi dari kemarin. Linda pun kemudian mempersilahkan kami buat duduk lalu terjadilah diskusi di antara kami bertiga membahas akan menu apa saja yg akan gw dan Novita pesan.
Hampir 20 menit kemudian akhirnya terpilih menu-menu apa saja yg akan di hidangkan ketika sahabat-sahabat gw datang nanti.
Quote:
*
*
Tepat pukul 20.30 wita sahabat-sahabat gw akhirnya sampai di cafe ini. Gak ada yg minus kali ini. Ridho, Andre, Joni, Jay, Tian dan Bobby serta sepupu gw Alan. Ada juga Ifa, Mela, Intan dan Icha yg memang di ajak oleh Novita karena emang sohibnya dari awal masuk di sekolah gw.
Kami semua pun larut dalam obrolan yg malam ini memang di setting untuk membuat kami semua tertawa bahagia, tak ada seorang pun di antara kami yg membahas akan kepergian Novita esok hari karena gw dan semua sahabat gw sudah sepakat ingin memberikan kesan bahagia kepada Novita sehari sebelum perpisahan kami nantinya.
Obrolan pun terhenti sementara ketika menu-menu yg sudah gw pesan dengan Novita tadi di hidangkan oleh waiters cafe ini. Setelah semua hidangan sudah lengkap di atas meja, keadaan pun menjadi hening ketika gw meminta Novita untuk memimpin doa sebelum kami menyantap semua hidangan ini.
Novita pun lalu memanjatkan doa menurut keyakinan nya dan kami dengan keyakinan kami sendiri juga berdoa di dalam hati masing-masing.
Selesai berdoa kami pun mulai menyantap senya hidangan yg ada di meja sambil di barengi obrolan santai hingga bullyan agar suasana tetap terkesan bahagia.
Kami semua pun larut dalam obrolan yg malam ini memang di setting untuk membuat kami semua tertawa bahagia, tak ada seorang pun di antara kami yg membahas akan kepergian Novita esok hari karena gw dan semua sahabat gw sudah sepakat ingin memberikan kesan bahagia kepada Novita sehari sebelum perpisahan kami nantinya.
Obrolan pun terhenti sementara ketika menu-menu yg sudah gw pesan dengan Novita tadi di hidangkan oleh waiters cafe ini. Setelah semua hidangan sudah lengkap di atas meja, keadaan pun menjadi hening ketika gw meminta Novita untuk memimpin doa sebelum kami menyantap semua hidangan ini.
Novita pun lalu memanjatkan doa menurut keyakinan nya dan kami dengan keyakinan kami sendiri juga berdoa di dalam hati masing-masing.
Selesai berdoa kami pun mulai menyantap senya hidangan yg ada di meja sambil di barengi obrolan santai hingga bullyan agar suasana tetap terkesan bahagia.
*
*
Tak terasa sudah ±2 jam kami berada di cafe kakaknya Linda ini dan setelah semua makanan serta bahan obrolan habis, kamipun memutuskan untuk pulang. Dan tepat ketika kami semua berdiri dari kursi masing-masing pecahlah tangisan dari Icha yg langsung berjalan menuju Novita lalu memeluknya. Novita pun akhirnya juga ikut menangis. Selang beberapa detik kemudian pertahanan emosi Ifa, Mela dan Intan pun juga ikut jebol ketika tangisan mereka akhirnya juga pecah dan mereka bertiga pun langsung mengerumungi Novita serta Icha yg masih berpelukan erat.
Sedangkan gw cuma bersandar di dinding cafe ini sambil di temani Alan dan Ridho yg juga ikut bersandar di samping kanan dan kiri gw. Untung pada saat itu lantai dua cafe ini gak di buka untuk umum oleh Linda karena dia gak mau acara perpisahan Novita ini terganggu akan kehadiran orang lain.
Selesai acara tangis dan pelukan, kamipun satu persatu mulai turun melewati anak tangga menuju lantai satu cafe ini. Gw dan Novita sengaja turun paling belakang karena harus menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu.
Tapi pas kami sudah berada di lantai satu dan akan menuju meja kasir di mana Linda biasanya stay, di sana sudah berdiri Alan dengan dompet nya berada di tangan kanan nya. Gw pun bergegas menghampiri Alan karena feeling gw, semua makanan dan minuman tadi bakal di bayarin sama dia.
Sedangkan gw cuma bersandar di dinding cafe ini sambil di temani Alan dan Ridho yg juga ikut bersandar di samping kanan dan kiri gw. Untung pada saat itu lantai dua cafe ini gak di buka untuk umum oleh Linda karena dia gak mau acara perpisahan Novita ini terganggu akan kehadiran orang lain.
Selesai acara tangis dan pelukan, kamipun satu persatu mulai turun melewati anak tangga menuju lantai satu cafe ini. Gw dan Novita sengaja turun paling belakang karena harus menyelesaikan pembayaran terlebih dahulu.
Tapi pas kami sudah berada di lantai satu dan akan menuju meja kasir di mana Linda biasanya stay, di sana sudah berdiri Alan dengan dompet nya berada di tangan kanan nya. Gw pun bergegas menghampiri Alan karena feeling gw, semua makanan dan minuman tadi bakal di bayarin sama dia.
Quote:
Kami berempat termasuk Linda keluar dari dalam cafe ini. Di halaman parkir semua sahabat-sahabat gw udah pada stay nunggu kami untuk pamit pulang. Setelah selesai pamitan mereka pun akhirnya pulang dengan Tian, Jay, Bobby dan Ifa berada dalam satu mobil milik Bobby. Sedangkan Alan, Ridho, Intan dan Mela juga dalam satu mobil milik Alan. Andre dan Joni yg rumahnya satu arah pulang dengan menggunakan motornya Andre.
Sekarang di halaman parkir cafe ini hanya menyisakan gw dan Novita serta Linda yg masih setia mendampingi kami. Setelah kami berdua pamit ke Linda, gw pun langsung menaiki si macan yg udah dalam posisi standby berkat service ++ dari Akang Parkir. Sebelum gw dan Novita pergi dari cafe ini, tak lupa gw berikan sedikit tambahan rezeki buat Kang Parkir. Tapi lucunya sebelum menerima uang tambahan dari gw, si Akang melirik sebentar ke arah Linda seperti memastikan bahwa tidak apa-apa menerima tambahan uang dari gw dan ketika Linda mengangguka kan kepalanya dan tersenyum barulah si Akang mau menerima uang tersebut.
Gw pun lalu menggas si macan untuk segera pergi dari cafe ini setelah sebeiumnya kembali berpamitan dengan Linda serta Kang Parkir. Sebelum mengantar Novita ke rumahnya gw menyempatkan untuk mampir sebentar ke rumah gw agar Novita bisa pamit dengan Mama dan Adek gw. Untung saat gw nelpon Mama beliau masih belum tidur, jadi Mama bisa nungguin kami. Sesampainya di rumah gw, Novita pun langsung masuk ke dalam dan berpelukan dengan Mama serta Adek gw. Ada linangan air mata dari mereka bertiga ketuka berbicara di teras rumah gw waktu Mama mengantarkan Novita keluar rumah.
Gw pun langsung menggas kembali si macan menuju rumahnya Novita. Karena gw gak ingin kebersamaan kami malam ini cepat berakhir, sengaja gw melajukan si macan dengan kecepatan 40km/Jam dan Novita pun tak keberatan, malah pelukan nya pun semakin erat di perut gw.
Tapi bagaimana pun gw berusaha mengulur-ngulur waktu, namanya perpisahan pasti akan datang juga. Dan kebersamaan kami malam ini sebentar lagi akan berakhir ketika kami sudah sampai di depan rumahnya. Novita pun turun dari jok belakang si macan lalu berjalan menuju pagar rumahnya.
Setelah mematikan mesin si macan gw juga ikut turun lalu menghampiri Novita yg sedang membuka gembok pagar rumahnya. Pagar pun terbuka dan kami berjalan beriringan hingga sampai di teras rumahnya. Sebelum Novita mengetuk pintu rumahnya gw pun lalu mengambil kotak kecil warna hitam pemberian Almh Nenek buat Mama yg di berikan Mama lagi ke gw untuk di serahkan kepada Novita.
Novita pun kaget dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan nya ketika kotak itu gw buka dan nampak sebuah cincin emas putih di dalamnya. Cincin itupun gw keluarkan dari kotak dan langsung gw sematkan ke jari manisnya dan alhamdulillah, ukuran cincin tersebut sangat pas berada di jari manisnya sekarang.
Sebuah pelukan pun gw dapatkan dari Novita yg juga di sertai tangisan olehnya. Air mata gw pun akhirnya tak bisa lagi gw bendung dan pecahlah juga tangisan gw pada malam ini setelah sebelumnya gw coba tahan semenjak di cafe tadi. Pelukan pun berlangsung lama karena di antara kami sama-sama tak ingin berpisah satu sama lain hingga akhirnya gw pun harus rela melepaskan pelukan ini.
Sekarang di halaman parkir cafe ini hanya menyisakan gw dan Novita serta Linda yg masih setia mendampingi kami. Setelah kami berdua pamit ke Linda, gw pun langsung menaiki si macan yg udah dalam posisi standby berkat service ++ dari Akang Parkir. Sebelum gw dan Novita pergi dari cafe ini, tak lupa gw berikan sedikit tambahan rezeki buat Kang Parkir. Tapi lucunya sebelum menerima uang tambahan dari gw, si Akang melirik sebentar ke arah Linda seperti memastikan bahwa tidak apa-apa menerima tambahan uang dari gw dan ketika Linda mengangguka kan kepalanya dan tersenyum barulah si Akang mau menerima uang tersebut.
Gw pun lalu menggas si macan untuk segera pergi dari cafe ini setelah sebeiumnya kembali berpamitan dengan Linda serta Kang Parkir. Sebelum mengantar Novita ke rumahnya gw menyempatkan untuk mampir sebentar ke rumah gw agar Novita bisa pamit dengan Mama dan Adek gw. Untung saat gw nelpon Mama beliau masih belum tidur, jadi Mama bisa nungguin kami. Sesampainya di rumah gw, Novita pun langsung masuk ke dalam dan berpelukan dengan Mama serta Adek gw. Ada linangan air mata dari mereka bertiga ketuka berbicara di teras rumah gw waktu Mama mengantarkan Novita keluar rumah.
Gw pun langsung menggas kembali si macan menuju rumahnya Novita. Karena gw gak ingin kebersamaan kami malam ini cepat berakhir, sengaja gw melajukan si macan dengan kecepatan 40km/Jam dan Novita pun tak keberatan, malah pelukan nya pun semakin erat di perut gw.
Tapi bagaimana pun gw berusaha mengulur-ngulur waktu, namanya perpisahan pasti akan datang juga. Dan kebersamaan kami malam ini sebentar lagi akan berakhir ketika kami sudah sampai di depan rumahnya. Novita pun turun dari jok belakang si macan lalu berjalan menuju pagar rumahnya.
Setelah mematikan mesin si macan gw juga ikut turun lalu menghampiri Novita yg sedang membuka gembok pagar rumahnya. Pagar pun terbuka dan kami berjalan beriringan hingga sampai di teras rumahnya. Sebelum Novita mengetuk pintu rumahnya gw pun lalu mengambil kotak kecil warna hitam pemberian Almh Nenek buat Mama yg di berikan Mama lagi ke gw untuk di serahkan kepada Novita.
Novita pun kaget dan langsung menutup mulutnya dengan tangan kanan nya ketika kotak itu gw buka dan nampak sebuah cincin emas putih di dalamnya. Cincin itupun gw keluarkan dari kotak dan langsung gw sematkan ke jari manisnya dan alhamdulillah, ukuran cincin tersebut sangat pas berada di jari manisnya sekarang.
Sebuah pelukan pun gw dapatkan dari Novita yg juga di sertai tangisan olehnya. Air mata gw pun akhirnya tak bisa lagi gw bendung dan pecahlah juga tangisan gw pada malam ini setelah sebelumnya gw coba tahan semenjak di cafe tadi. Pelukan pun berlangsung lama karena di antara kami sama-sama tak ingin berpisah satu sama lain hingga akhirnya gw pun harus rela melepaskan pelukan ini.
Quote:
Quote:
0

















