Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.4K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.6KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#62
PART 10

Pagi harinya gue terbangun dengan pikiran yang bener-bener blank. Gue terbangun tepat di depan kap mobil yang dibawa si Bull. Setelah membersihkan debu yang memenuhi pakaian, gue segera mengintip ke dalam mobil belakang. Dengan teliti gue mencari sosok nenek-nenek itu. Setelah gue yakin dia enggak ada, barulah gue mengetuk kaca mobil si Bull lagi. Kali ini, dalam dua ketokan mereka bangun.

“Melek woe,” kata gue seolah enggak terjadi sesuatu. “Udah pagi ini.”
“Gila lo bang,” sahut Luther sembari membuka kunci pintu mobil. “Bangun pagi bener.”

Gue bangun-bangun udah ada di luar mobil dengan posisi pintu mobil depan terbuka, berarti kejadian semalem beneran dong? Tapi terus itu nenek-nenek kemana? Yang lebih penting lagi, itu nenek-nenek siapa? Dan kenapa bisa ada di dalam mobil? Apa iya ini mistis?

“Kenapa lo, Bang?” tanya Luther. “Pagi-pagi udah melamun.”
“Eh… enggak.”
“Wah… gue tau nih,” lanjut Luther. “Nontonin Cassie bangun tidur engas lo, ya?”
“Eh?! Sembarang lo kalo ngomong!”
“Cass! Bangun Cass!” seru Luther kembali masuk ke mobil belakang. “Bang Dawi engas lihat lo tuh!”
“Jangan dipercaya Cass,” seru gue. “Dia sendiri tuh yang lagi engas, lempar batu sembunyi tangan.”
“Bang,” panggil si Bull. “Coba deh lo lihat jalan di depan.”
“Jalan di depan?” tanya gue rada bingung. “Jalannya kenapa emang?”

Gue tengok ke arah jalanan di depan. Gue usap mata gue berkali-kali agar yakin. Betapa syoknya gue, ternyata enggak sampai sepuluh meter ke depan itu udah ada papan nama desa KKN kita. Bener-bener enggak masuk di akal gue. Kalo emang cuma sedekat ini, harusnya lampu mobil semalam harusnya tembus ke papan itu. Tapi kenapa semalem rasanya jauh banget?

“Mungkin kitanya yang semalam kecapean kali, ya?” tanya si Bull. “Emang kadang kalo kita lagi capek suka aneh-aneh gini.”

Gue enggak mendengarkan perkataan si Bull selanjutnya. Ya emang masuk akal kalo lagi capek suka lihat yang aneh-aneh. Tapi ya enggak kayak semalam juga. Dengan perasaan yang was-was gue perhatikan jalanan di belakang, jalanan yang kita lewati semalam. Apa yang gue lihat bener-bener udah di luar nalar, jalanan yang semalam kita lewati berkilo-kilo berubah jadi sekitar seratus meter panjanganya.

Sewaktu gue perhatikan, tangan si Bull gemetaran menyalakan rokok. Gue tau, dia juga sadar apa yang barusan gue sadari.

“Bull,” panggil gue.
“I-iya, Bang?” sahutnya sambil masih gemetaran.
“Cuci muka lo,” perintah gue. “Kita jalan lagi mumpung udah terang.”

Sesampainya di desa yang kita tuju, sebut saja desa Kencana, kita disambut baik oleh warga di sana. Awalnya semua baik-baik aja, sampai kita merenggangkan badan juga masih baik-baik saja. Tapi setelah gue diajak menemui salah seorang warga yang merupakan tetua di desa ini, hal yang janggal pun kembali gue jumpai.

“Pak Jodi?” panggil Melly menghampiri salah seorang yang dia kenali. “Udah lama, Pak?”
“Belum kok,” jawab bapak-bapak itu santai. “Baru tadi pagi, sekitar habis subuh.”
“Medannya susah ya, Pak?” sambung gue sok akrab. “Hancur bener jalanannya.”
“Iya, Dek,” ucapnya menyalakan rokok. “Satu-satunya jalan ke desa ini cuma lewat situ, mau enggak mau ya harus hati-hati.”
IzyMom020
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan 3 lainnya memberi reputasi
4
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.