Kaskus

Story

dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.

Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.

Quote:


Quote:


Spoiler for Sinopsis:


Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
pulaukapokAvatar border
genji32Avatar border
andybtgAvatar border
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.3K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
Stories from the Heart
KASKUS Official
32.7KThread52.2KAnggota
Tampilkan semua post
dasadharma10Avatar border
TS
dasadharma10
#47
PART 6

“Terus?” tanya Emil. “Ada yang kamu suka?”
“Ada, dua malah,” jawab gue. “Gue suka flanel merah hitam sama kaos marun polos.”
“Bukan bajunya Dawi.” Emil menunjukkan layar hape gue, “Temen-temen KKN kamu.”
“Lhah, kita kan baru ngomongin baju,” ucap gue menunjukkan layar hape Emil. “Kan lo sendiri yang bilang mending gue ikutan beli biar ongkos kirimnya lebih murah sama dapet diskon.”
“Yang lagi aku tanyain itu tentang temen KKN kamu,” katanya kembali fokus ke TV.
“Ya cakep-cakep sama wangi-wangi, sih,” jawab gue jujur. “Tapi kan gue udah punya–”
“Diem dulu!” ucap Emil membungkam mulut gue. “Aku paling suka adegan ini.”

Adegan? Adegan apa? Adegan Gareng joget lepas di film Jagad X Code. Gue udah pernah bilang kalo kita sering banget nonton film bareng kan? Ya salah satunya ini, filmnya Agus Ringgo yang berlatar di Jogja. Pada dasarnya enggak cuma filmnya Agus Ringgo, sih. Asalkan latarnya di Jogja, pasti gue sama Emil langsung cari film itu. Meskipun downloadnya harus numpang ke kafe-kafe pinggir jalan. Meskipun harus bikin akun-akun enggak jelas buat bisa klik link download. Dan meskipun akhirnya nonton film dengan kualitas gambar 240 yang bikin pedes mata.

“Tika Putri cakep, ya?” kata gue menyendok salad sayur di pangkuan. “Coba masih di Jogja dan seumuran.”
“Yang bikin dia unik tuh kelainannya itu,” ucap Emil memakan salad dari sendok gue. “Lucu.”
“Lucu gimana, sih? Baru kali ini ada maling dibilang lucu. Pada dasarnya dia itu kan maling,” ucap gue langsung memakan salad dari sendokan lain. “Tetep kena pidana harusnya.”
“Iya… iya…,” kata Emil meruncingkan bibirnya. “Paham deh sama yang calon sarjana hukum.”

Di kumpul KKN kemarin, akhirnya Melly yang diminta jadi ketua unit. Anak-anak yang udah pada kenal sama dia sih bilangnya dia bijaksana dan dapat diandalkan. Ya gue sih setuju-setuju aja orang kenyataannya dia emang kayaknya begitu. Tapi sayang enggak semua anggota unit gue setuju sama dia.

“Yang ini siapa?” tanya Emil menunjuk wajah Cassandra di hape gue.
“Kesandra,” kata gue dengan lidah setengah tergigit. “Kasyandra.”
“Cassandra maksud kamu?” Emil beranjak dari sofa kamar menuju ke lemari gue. “Mungkin buat kamu lebih enakan manggil Cassie.”
“Kesi,” ucap gue kurang yakin. “Cassie?”
“Cassie, aku rasa dia bakalan suka dipanggil gitu.”
“Dia tuh orangnya tengil, bahkan menurut gue dia sentimen sama aku, Yang,” jelas gue. “Mau dipanggil kayak gimana juga percuma.”
“Udah cobain dulu aja besok,” ucap Emil melempar sebuah baju. “Sabtu besok kamu udah berangkat ke Boyolali, jadi udah aku beliin tadi sore.”
“Ini bukannya yang di foto online shop tadi?” tanya gue mengangkat flanel merah. “Kok lo udah ada? Enggak jadi beli online? Pasti mahal kalo beli di toko.”
“Ssstt…!” desis Emil berlari membungkam mulut gue. “Itu online, kemarin aku pesen pake yang sehari sampai.”
“Lhah, kan gue baru milih tadi bajunya.” Gue perlihatkan jam tangan gue, “Belum ada sepuluh menit gue ngomong.”
“Sepuluh menit kek, sepuluh jam kek, sepuluh hari kek, itu enggak ngaruh,” jelas Emil kembali duduk di sebelah gue. “Dari aku sebelum nanya kamu mau yang mana tuh aku udah tau duluan. Aku tau apa yang kamu suka, aku tau apa yang kamu mau, aku tau kayak apa selera kamu.”

Gue dorong Emil tertidur ke arah sofa. Perlahan tapi pasti gue dekatkan muka gue ke muka dia.

“Enggak cuma kamu,” ucap gue lirih. “Aku juga tau apa yang kamu mau.”
“Apaan coba?” goda Emil.

Belum jadi kepala gue mendekat lebih jauh, ada suara gaduh dari pintu kamar. Enggak cuma gaduh, suara itu juga cempreng. Mirip banget sama kayak suara Nying-nying kejepit pintu.

“Wi…!” seru suara Edo menggedor-gedor kamar. “Temenin gue makan, yok!”
“Dasar jomblo bangke!” seru gue dari dalam kamar. “Lo enggak ngerti orang lagi nanggung ya!”
“Buruan, Wi!” serunya lagi sambil menggedor-gedor pintu. “Usus gue udah lengket ini! Cacingnya pada minta dinner!”

Gue beranjak dari sofa mengubah posisi yang udah kentang.

“Apaan coba?” tanya Emil lagi. "Kamu masih belum jawab Dawi.”
“Apa?” kata gue memakai sweater yang gue gantung di pintu. “Yang kamu mau?”
“Iyalah, apalagi.”
“Harus banget dijawab?” tanya gue meyakinkan saat membuka pintu. “Ada Edo lho ini.”
“Ya terserah, sih,” kata Emil menutup mukanya pake selimut sofa.
“Pempek tanpa kuah di siram susu putih panas,” seru gue menutup pintu kamar.
“I LOVE YOU!” seru Emil dari dalam kamar.
IzyMom020
pulaukapok
JabLai cOY
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
Ikuti KASKUS di
© 2026 KASKUS, PT Darta Media Indonesia. All rights reserved.