- Beranda
- Stories from the Heart
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
...
TS
dasadharma10
Yaudah 3: Kuliah Kerja Nyata?
Selamat datang di thread ketiga yang merupakan lanjutan dari Yaudah Gue Mati Ajadan Yaudah 2: Challenge Accepted.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Sebelumnya, ijinkan gue buat memperkenalkan diri. Bagi pembaca setia kisah gue, pastinya kalian udah enggak asing dengan nama Muhdawi. Tapi bagi pembaca yang baru masuk ke thread ini, pastinya kalian asing dengan nama yang enggak biasa itu. Perkenalkan, nama lengkap gue Muhammad Danang Wijaya. Biasanya orang-orang manggil gue Dawi yang diambil dari singkatan nama gue Muhdawi. Kalian bisa panggil gue Dawi, atau kalo mau ikut-ikutan manggil gue Sawi juga enggak masalah. Gue orangnya idem, apa yang lo mau, kalo gue bisa, pasti gue usahakan. Anyway, langsung aja masuk lebih dalam ke thread ini. Sekali lagi gue ucapkan, selamat datang di thread ini.
Quote:
Quote:
Spoiler for Sinopsis:
Spoiler for Index:
Diubah oleh dasadharma10 16-10-2018 23:34
andybtg dan 14 lainnya memberi reputasi
11
359.9K
1.3K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•53.4KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dasadharma10
#42
PART 5
UNTUK beberapa pekan selanjutnya, sambil menunggu pengumuman mengenai KKN diumukan oleh departemen yang menangani, gue lebih banyak meluangkan waktu bareng Emil. Kata Emil, “Daripada besok-besok kangen tapi enggak boleh nyusulin ke tempat KKN, mending sekarang dipuas-puasin dulu.”
Mulai dari wisata ke pantai di Gunung Kidul, nontonin pemandangan di Kali Biru, dan juga mantengin film berdua di kamar, semua yang biasa kita lakuin akhir-akhir ini makin sering kita lakuin. Yang biasanya sikat gigi bareng cuma sehari sekali, kini berkali-kali. Intinya, hubungan kita makin intense. Ya emang sih sikat gigi sama hubungan yang makin intense itu enggak ada hubungannya, tapi ya maksud gue kayak gitu. Ya kalian pahamlah.
Hingga akhirnya, hari yang gue tunggu-tunggu pun tiba. Selasa malam, kelompok KKN gue janjian buat ketemu. Kita janjian buat kumpul KKN di KFC Sudirman jam delapan malam. Tadinya sewaktu di grup line gue mau usul kalo ketemuan di kafe aja, sekalian ngopi. Tapi gara-gara ada satu orang bernama yang Cassandra yang memaksakan kehendaknya buat kumpul di sini, ya gue bisa apa. Daripada gue kritik terus ribut-ribut padahal belum jadi mulai KKN, ya mending gue mengalah.
Tepat jam delapan malam gue memarkirkan motor di halaman belakang KFC Sudirman. Apes emang apes, baru gue jalan ke arah pintu masuk, ada cewek yang lari-larian nabrak gue. Dan apesnya lagi, dia bawa kopi panas yang akhirnya numpahin kita berdua.
Rasanya kesel banget. Gue pengin marah tapi juga enggak enak, tapi kalo enggak marah kok ya panas. Kayak buah simalakama, gue mau marah tapi udah terlanjur kena panas duluan, tapi kalo enggak marah ya tetep ngerasain panasnya.
“Maaf, Mas,” ucapnya memunguti barang-barang bawaannya. “Maaf aku buru-buru banget, sekali lagi maaf.”
Tanpa menunggu reaksi dan keluhan dari gue, dia pergi gitu aja. Semisal dia cowok, mungkin begitu dia beranjak pergi bakalan gue panggil lagi.
“Eh… mas,” panggil gue. “Tunggu dulu.”
Dan begitu dia nengok, udah gue sliding itu kepalanya. Jebret!
Hah! Untung dia cewek, jadi gue enggak perlu repot-repot mikir gimana caranya sliding kepala orang.
Baru gue mau berjalan ke arah toilet buat bersihin tumpahan kopi, hape gue bunyi. Begitu gue lihat, ada panggilan telepon grup line.
‘Halo?’ sapa gue.
‘Mas tuh di mana?’ kata salah seorang anggota yang waktu diskusi tempat ketemua kemarin suaranya terdengar paling cerewet. ‘Udah ditungguin ini.’
‘Iya... bentar ya,’ kata gue memasuki toilet. ‘Ini abis tabrakan, bentar lagi aku ke situ.’
‘Bisa dateng tepat waktu enggak, sih?’ kata suara itu lagi. ‘Biasakan tepat waktu dong!’
‘Ya sebentar,’ jawab gue berseru saa menaruh hape di wastafel. ‘Ini baru bersihin bentar.’
‘Meja panjang, bagian pojok timur,’ ucap suara yang sama. ‘Ditunggu lima menit, kalo enggak dateng, maad nama mas kita coret.’
Sumpah, itu suara tengil banget. Rasanya pengin gue siram air panas hape gue. Rusak-rusak deh hape gue asal itu mulut bisa sadar kalo kuping gue panas denger omongannya.
‘Iya, ini o te we,’ kata gue mengakhiri telepon.
Gue beneran on the way menghampiri mereka? Enggak. Dari mencuci kaos gue sekenanya di toilet, gue balik lagi ke parkiran. Kaos gue bagian depannya enam puluh persen basah, ini semisal gue kena angin kencengan dikit aja, gue yakin ntar malem langsung masuk angin. Yah daripada beneran masuk angin ya mengding gue ganti aja kaos gue.
Enggak, gue enggak selebay itu. Enggak sampai pulang terus ganti baju, gue cuma melepas kaos di parkiran lalu meletakkannya di motor dan segera memakai jaket yang gue tinggalkan di atas motor. Begitu gue yakin udah kalo pakaian gue normal kembali, baru deh gue nyusulin mereka.
Asli, tatapan kelompok gue waktu tau gue dateng telat asli enggak enak banget. Ya walaupun ada satu dua orang yang enggak mempermasalahkannya, tapi yang lain menatap gue dengan pandangan yang beneran enggak enak.
“Kelompok KKN unit 79 angkatan 66 buka, ya?” tanya gue.
“Iya mas, langsung duduk aja,” kata salah satu cowok yang enggak peduli gue dateng telat. “Baru dimulai kok.”
“Baru dimulai apanya,” kata salah seorang cewek ketus. “Ini semisal mas dateng telat semenit lagi, beneran kita coret nama mas.”
“Lebay lo Kes,” kata cowok sebelumnya. “Enggak perlu segitunya kali.”
“Ah… udah gapapa,” kata gue menengahi. “Yang salah emang gue, gue yang udah datengnya terlambat.”
“Bagus deh kalo sadar diri,” kata cewek itu lagi.
“Sorry, lo pasti Kes … Cess ….” Gue berdehem mencari pengucapan yang bener, “Kesandra, ya?”
“Cassandra!” kata cewek yang sama dengan muka bete. “Gausah ganti-ganti nama orang seenaknya–”
“Ya pokoknya itulah,” potong gue. “Lo pasti yang namanya itu, kan?”
“Iya, kenapa?”
“Enggak..., dari sekilas langsung kelihatan aja siapa nama lo di grup line,” ucap gue menduduki salah satu bangku yang kosong. “Ah… ngomong-ngomong nama gue Dawi, dari fakultas hukum.”
Setelah keadaan mulai agak cair, yang lainnya pun ikut memperkenalkan dirinya satu per satu. Dimulai dari perkenalan gue, orang-orang di sebelah kiri gue searah dengan jarum jam memperkenalkan dirinya.
Yang pertama, Haizzbullah Qhadijah dan lain-lain. Jujur, nama dia panjang banget dan pake nama arab. Daripada lidah gue yang keceletot sewaktu manggilnya, jadi gue ijin buat manggil dia si Bull. Ya pada dasarnya cowok yang satu ini emang tinggi gede kayak banteng sih, makanya gue panggil kayak gitu.
Yang selanjutnya Yansan Soekarno, cowok yang belain gue dari Cassandra. Dia adalah cowok terwangi yang pernah gue temui. Dari wanginya, gue yakin banget kalo perfum dia tuh bukan parfum isi ulang yang biasa ada di pinggir jalan. Dan yang lebih nyenenginnya lagi, wanginya tuh universal, cewek suka dan cowok pun betah.
Cowok terakhir, dengan nama terkeren yang pernah gue dengar, Luther Papua Suwandono.
“Luther,” panggil gue dengan suara agen Ethan Hunt. “Nama lo… Luther.”
“Iya bang, gue Luther,” katanya mengamini. “Tapi biasa dipanggil Pua, sih”
“Enggak,” ucap gue dengan suara yang sama. “Mulai detik ini, nama lo… Luther.”
Dan yang lain, sisanya cewek. Ya, dari sepuluh anggota kelompok KKN ini, cowoknya cuma empat dan ceweknya ada enam. Enggak mau ambil pusing buat kenalan sama cewek-cewek di depan gue, langsunglah gue usul buat sekalian bentuk perangkat desanya.
“Terus gimana?” tanya Luther. “Mau dibentuk musyarawah apa voting?”
“Sabeb kalo gue mah,” kata si Bull. “Mana aja asal gue enggak ketua.”
“Iya, gue juga setuju sama si Bull,” tambah gue. “Tapi kalo bisa musyawarah aja. Soalnya kebanyakan anak hukum yang dijadiin ketua kalo voting.”
Sementara yang lain mulai cerewet ceritain tentang pengalaman temennya masing-masing kalo ketua unit selalu mahasiswa fakultas hukum, Cassandra menatap gue penuh selidik. Gue yang kurang nyaman ditatap seperti itu pun mulai mencari cara agar dia mengalihkan pandangannya. Mulai dari ganti posisi duduk, pindah bangku, sampai berdiri di atas meja bareng Luther sambil nyanyi lagu qasidah perdamaian.
Enggak, yang terakhir gue bohong. Gue dan Luther masih menjaga harkat dan martabat keluarga gue.
“Lo enggak pake baju, ya?” tanya Cassandra tiba-tiba. “Cuma pake jaket doang?”
“Ah… emangnya kenapa, ya?” tanya gue.
“Kita nunggu lama-lama tapi lo cuma pake jaket doang?” kata dia dengan suara yang lebih keras.
Mendengar suara Cassandra, yang lain mendadak diam dan ikut memperhatikan dada bagian atas tepat di bawah leher.
“Iya tadi soalnya gue nabrak orang di depan,” jawab gue jujur. “Ya karena baju gue basah terpaksa gue lepas aja daripada masuk angin.”
“Nabrak orang di depan?” tanya cewek lain yang masih satu unit. “Ketumpahan kopi?”
“Iya … kok lo bisa tau?” tanya gue. “Sorry, nama lo?”
“Gue Melly, bang,” katanya bersahabat. “Gue yang ngenalin diri paling akhir lho, masa lo lupa?”
“Oh iya, Melly,” kata gue lagi. “Kok lo bisa tau?”
“Tadi tuh ada salah satu anak unit ini dateng-dateng kesel tapi sumringah,” jelas Melly. “Katanya abis ditabrak orang dan kopinya tumpah semua.”
“Oh… dia anak sini?” tanya gue. “Yang mana? Sasha? Echa? Dinda? Maya? Apa jangan-jangan si Kesi?”
“Cassandra!” seru Cassandra setengah teriak. “Lo tuh kenapa sih seneng banget ganti-ganti nama orang?”
“Siapa, Mell?” tanya gue mengacuhkan Cassandra.
“Cewek yang nabrak abang,” jawab Melly. “Tadi tuh si–”
“Okee….” kata Cassandra mengetok-ngetok meja. “Itu enggak penting ya. Yang penting siapa sekarang yang bakalan jadi ketua unit.”
UNTUK beberapa pekan selanjutnya, sambil menunggu pengumuman mengenai KKN diumukan oleh departemen yang menangani, gue lebih banyak meluangkan waktu bareng Emil. Kata Emil, “Daripada besok-besok kangen tapi enggak boleh nyusulin ke tempat KKN, mending sekarang dipuas-puasin dulu.”
Mulai dari wisata ke pantai di Gunung Kidul, nontonin pemandangan di Kali Biru, dan juga mantengin film berdua di kamar, semua yang biasa kita lakuin akhir-akhir ini makin sering kita lakuin. Yang biasanya sikat gigi bareng cuma sehari sekali, kini berkali-kali. Intinya, hubungan kita makin intense. Ya emang sih sikat gigi sama hubungan yang makin intense itu enggak ada hubungannya, tapi ya maksud gue kayak gitu. Ya kalian pahamlah.
Hingga akhirnya, hari yang gue tunggu-tunggu pun tiba. Selasa malam, kelompok KKN gue janjian buat ketemu. Kita janjian buat kumpul KKN di KFC Sudirman jam delapan malam. Tadinya sewaktu di grup line gue mau usul kalo ketemuan di kafe aja, sekalian ngopi. Tapi gara-gara ada satu orang bernama yang Cassandra yang memaksakan kehendaknya buat kumpul di sini, ya gue bisa apa. Daripada gue kritik terus ribut-ribut padahal belum jadi mulai KKN, ya mending gue mengalah.
Tepat jam delapan malam gue memarkirkan motor di halaman belakang KFC Sudirman. Apes emang apes, baru gue jalan ke arah pintu masuk, ada cewek yang lari-larian nabrak gue. Dan apesnya lagi, dia bawa kopi panas yang akhirnya numpahin kita berdua.
Rasanya kesel banget. Gue pengin marah tapi juga enggak enak, tapi kalo enggak marah kok ya panas. Kayak buah simalakama, gue mau marah tapi udah terlanjur kena panas duluan, tapi kalo enggak marah ya tetep ngerasain panasnya.
“Maaf, Mas,” ucapnya memunguti barang-barang bawaannya. “Maaf aku buru-buru banget, sekali lagi maaf.”
Tanpa menunggu reaksi dan keluhan dari gue, dia pergi gitu aja. Semisal dia cowok, mungkin begitu dia beranjak pergi bakalan gue panggil lagi.
“Eh… mas,” panggil gue. “Tunggu dulu.”
Dan begitu dia nengok, udah gue sliding itu kepalanya. Jebret!
Hah! Untung dia cewek, jadi gue enggak perlu repot-repot mikir gimana caranya sliding kepala orang.
Baru gue mau berjalan ke arah toilet buat bersihin tumpahan kopi, hape gue bunyi. Begitu gue lihat, ada panggilan telepon grup line.
‘Halo?’ sapa gue.
‘Mas tuh di mana?’ kata salah seorang anggota yang waktu diskusi tempat ketemua kemarin suaranya terdengar paling cerewet. ‘Udah ditungguin ini.’
‘Iya... bentar ya,’ kata gue memasuki toilet. ‘Ini abis tabrakan, bentar lagi aku ke situ.’
‘Bisa dateng tepat waktu enggak, sih?’ kata suara itu lagi. ‘Biasakan tepat waktu dong!’
‘Ya sebentar,’ jawab gue berseru saa menaruh hape di wastafel. ‘Ini baru bersihin bentar.’
‘Meja panjang, bagian pojok timur,’ ucap suara yang sama. ‘Ditunggu lima menit, kalo enggak dateng, maad nama mas kita coret.’
Sumpah, itu suara tengil banget. Rasanya pengin gue siram air panas hape gue. Rusak-rusak deh hape gue asal itu mulut bisa sadar kalo kuping gue panas denger omongannya.
‘Iya, ini o te we,’ kata gue mengakhiri telepon.
Gue beneran on the way menghampiri mereka? Enggak. Dari mencuci kaos gue sekenanya di toilet, gue balik lagi ke parkiran. Kaos gue bagian depannya enam puluh persen basah, ini semisal gue kena angin kencengan dikit aja, gue yakin ntar malem langsung masuk angin. Yah daripada beneran masuk angin ya mengding gue ganti aja kaos gue.
Enggak, gue enggak selebay itu. Enggak sampai pulang terus ganti baju, gue cuma melepas kaos di parkiran lalu meletakkannya di motor dan segera memakai jaket yang gue tinggalkan di atas motor. Begitu gue yakin udah kalo pakaian gue normal kembali, baru deh gue nyusulin mereka.
Asli, tatapan kelompok gue waktu tau gue dateng telat asli enggak enak banget. Ya walaupun ada satu dua orang yang enggak mempermasalahkannya, tapi yang lain menatap gue dengan pandangan yang beneran enggak enak.
“Kelompok KKN unit 79 angkatan 66 buka, ya?” tanya gue.
“Iya mas, langsung duduk aja,” kata salah satu cowok yang enggak peduli gue dateng telat. “Baru dimulai kok.”
“Baru dimulai apanya,” kata salah seorang cewek ketus. “Ini semisal mas dateng telat semenit lagi, beneran kita coret nama mas.”
“Lebay lo Kes,” kata cowok sebelumnya. “Enggak perlu segitunya kali.”
“Ah… udah gapapa,” kata gue menengahi. “Yang salah emang gue, gue yang udah datengnya terlambat.”
“Bagus deh kalo sadar diri,” kata cewek itu lagi.
“Sorry, lo pasti Kes … Cess ….” Gue berdehem mencari pengucapan yang bener, “Kesandra, ya?”
“Cassandra!” kata cewek yang sama dengan muka bete. “Gausah ganti-ganti nama orang seenaknya–”
“Ya pokoknya itulah,” potong gue. “Lo pasti yang namanya itu, kan?”
“Iya, kenapa?”
“Enggak..., dari sekilas langsung kelihatan aja siapa nama lo di grup line,” ucap gue menduduki salah satu bangku yang kosong. “Ah… ngomong-ngomong nama gue Dawi, dari fakultas hukum.”
Setelah keadaan mulai agak cair, yang lainnya pun ikut memperkenalkan dirinya satu per satu. Dimulai dari perkenalan gue, orang-orang di sebelah kiri gue searah dengan jarum jam memperkenalkan dirinya.
Yang pertama, Haizzbullah Qhadijah dan lain-lain. Jujur, nama dia panjang banget dan pake nama arab. Daripada lidah gue yang keceletot sewaktu manggilnya, jadi gue ijin buat manggil dia si Bull. Ya pada dasarnya cowok yang satu ini emang tinggi gede kayak banteng sih, makanya gue panggil kayak gitu.
Yang selanjutnya Yansan Soekarno, cowok yang belain gue dari Cassandra. Dia adalah cowok terwangi yang pernah gue temui. Dari wanginya, gue yakin banget kalo perfum dia tuh bukan parfum isi ulang yang biasa ada di pinggir jalan. Dan yang lebih nyenenginnya lagi, wanginya tuh universal, cewek suka dan cowok pun betah.
Cowok terakhir, dengan nama terkeren yang pernah gue dengar, Luther Papua Suwandono.
“Luther,” panggil gue dengan suara agen Ethan Hunt. “Nama lo… Luther.”
“Iya bang, gue Luther,” katanya mengamini. “Tapi biasa dipanggil Pua, sih”
“Enggak,” ucap gue dengan suara yang sama. “Mulai detik ini, nama lo… Luther.”
Dan yang lain, sisanya cewek. Ya, dari sepuluh anggota kelompok KKN ini, cowoknya cuma empat dan ceweknya ada enam. Enggak mau ambil pusing buat kenalan sama cewek-cewek di depan gue, langsunglah gue usul buat sekalian bentuk perangkat desanya.
“Terus gimana?” tanya Luther. “Mau dibentuk musyarawah apa voting?”
“Sabeb kalo gue mah,” kata si Bull. “Mana aja asal gue enggak ketua.”
“Iya, gue juga setuju sama si Bull,” tambah gue. “Tapi kalo bisa musyawarah aja. Soalnya kebanyakan anak hukum yang dijadiin ketua kalo voting.”
Sementara yang lain mulai cerewet ceritain tentang pengalaman temennya masing-masing kalo ketua unit selalu mahasiswa fakultas hukum, Cassandra menatap gue penuh selidik. Gue yang kurang nyaman ditatap seperti itu pun mulai mencari cara agar dia mengalihkan pandangannya. Mulai dari ganti posisi duduk, pindah bangku, sampai berdiri di atas meja bareng Luther sambil nyanyi lagu qasidah perdamaian.
Enggak, yang terakhir gue bohong. Gue dan Luther masih menjaga harkat dan martabat keluarga gue.
“Lo enggak pake baju, ya?” tanya Cassandra tiba-tiba. “Cuma pake jaket doang?”
“Ah… emangnya kenapa, ya?” tanya gue.
“Kita nunggu lama-lama tapi lo cuma pake jaket doang?” kata dia dengan suara yang lebih keras.
Mendengar suara Cassandra, yang lain mendadak diam dan ikut memperhatikan dada bagian atas tepat di bawah leher.
“Iya tadi soalnya gue nabrak orang di depan,” jawab gue jujur. “Ya karena baju gue basah terpaksa gue lepas aja daripada masuk angin.”
“Nabrak orang di depan?” tanya cewek lain yang masih satu unit. “Ketumpahan kopi?”
“Iya … kok lo bisa tau?” tanya gue. “Sorry, nama lo?”
“Gue Melly, bang,” katanya bersahabat. “Gue yang ngenalin diri paling akhir lho, masa lo lupa?”
“Oh iya, Melly,” kata gue lagi. “Kok lo bisa tau?”
“Tadi tuh ada salah satu anak unit ini dateng-dateng kesel tapi sumringah,” jelas Melly. “Katanya abis ditabrak orang dan kopinya tumpah semua.”
“Oh… dia anak sini?” tanya gue. “Yang mana? Sasha? Echa? Dinda? Maya? Apa jangan-jangan si Kesi?”
“Cassandra!” seru Cassandra setengah teriak. “Lo tuh kenapa sih seneng banget ganti-ganti nama orang?”
“Siapa, Mell?” tanya gue mengacuhkan Cassandra.
“Cewek yang nabrak abang,” jawab Melly. “Tadi tuh si–”
“Okee….” kata Cassandra mengetok-ngetok meja. “Itu enggak penting ya. Yang penting siapa sekarang yang bakalan jadi ketua unit.”
JabLai cOY dan 2 lainnya memberi reputasi
3
