- Beranda
- Stories from the Heart
DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]
...
TS
dudatamvan88
DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]
TRILOGI
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON II
Salam penghuni Jagad KASKUS Terutama yang berada di Sub Forum SFTH
Hari ini ane nulis kisah kelanjutan dari cerita yang ane tulis sebelumnya mengenai hal - hal yang ane alami beberapa tahun yang lalu
Dan ane tetep mohon dengan sangat Kritik. Saran. Dan bimbinganya Buat ane yang Nubie ini.


![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709301052350189.jpg)
OTHER STORY OF BORNEO
SEASON II
Salam penghuni Jagad KASKUS Terutama yang berada di Sub Forum SFTH
Hari ini ane nulis kisah kelanjutan dari cerita yang ane tulis sebelumnya mengenai hal - hal yang ane alami beberapa tahun yang lalu
Dan ane tetep mohon dengan sangat Kritik. Saran. Dan bimbinganya Buat ane yang Nubie ini.


Quote:
Quote:
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709301052350189.jpg)
Quote:
Quote:
PROLOG
Masih terngiang dengan jelas dikepalaku rasa sakit akan Kehilangan.
Semua yang aku miliki saat aku berjaya di jakarta hanya seperti cerita dongeng yang berakhir dengan tragis.
Rian mengajakku untuk merantau kekota Bontang.
Aku berharap bisa merubah hidupku saat aku menginjakan kaki di pulau terbeasar di indonesia ini.
Tapi semuanya tidak berjalan begitu lancar saat aku dan rian berkendara menyusuri Jalan Poros Sejauh 240 kilometer Dari kota Balikpapan menuju ke Kota Bontang.
Di kota ini aku Bertemu dengan lingkungan baru.
Bertemu dengan teman baru.
Dan hal yang tak pernah kubayangkan ternyata juga kualami di kota ini.
Akulah sang wakil janji itu.
Akankah semuanya akan berakhir disini???
Masih terngiang dengan jelas dikepalaku rasa sakit akan Kehilangan.
Semua yang aku miliki saat aku berjaya di jakarta hanya seperti cerita dongeng yang berakhir dengan tragis.
Rian mengajakku untuk merantau kekota Bontang.
Aku berharap bisa merubah hidupku saat aku menginjakan kaki di pulau terbeasar di indonesia ini.
Tapi semuanya tidak berjalan begitu lancar saat aku dan rian berkendara menyusuri Jalan Poros Sejauh 240 kilometer Dari kota Balikpapan menuju ke Kota Bontang.
Di kota ini aku Bertemu dengan lingkungan baru.
Bertemu dengan teman baru.
Dan hal yang tak pernah kubayangkan ternyata juga kualami di kota ini.
Akulah sang wakil janji itu.
Akankah semuanya akan berakhir disini???
Quote:
Quote:
Quote:
Diubah oleh dudatamvan88 25-11-2017 00:14
vanpad dan 39 lainnya memberi reputasi
40
949.9K
4.1K
Thread Digembok
Mari bergabung, dapatkan informasi dan teman baru!
Stories from the Heart
32.8KThread•52.8KAnggota
Tampilkan semua post
TS
dudatamvan88
#3689
BUNUH AKU ATAU AKU PERGI
"Mati??" ujarku lirih memandangi dinding.
Jika bertanya siapa yang melakukanya pasti aku akan terdengar bodoh. Tapi apa - apaan ini?? Apa dia mau menerorku dengan cara rendahan seperti ini?? Apa tidak lebih baik jika dia langsung hadir di depanku dan membunuhku saat ini juga??
DEG
Suasanan sepi yang kurasakan saat ini benar - benar berbeda dari biasanya. Suasana ini seperti benar - benar tak ada kehidupan disekitarku bahkan serangga sekalipun.
"Ada yang ga beres ni" gumanku pelan sambil memandangi seluruh ruangan bengkel.
Tak ada yang salah dan sama sekali tidak ada yang berubah dari posisinya semula. Tapiii..
"Heeeeeeee" ujarku terkejut saat meilhat dinding di depanku kini telah bersih.
Tak ada lagi tulisan MATI yang tadi tempampang besar disana. Apa aku bodoh atau mungkin gila?? Sudahlah.
akupun beranjak ke depan hendak membuka pintu roling Dor yang tadi sudah kututup rapat.
KLEEK..
whusssssssss
Tepat di belakangku. Suara pintu belakang terbuka dan diiringin dengan angin yang bertiup pelan ke arahku. Ragu dan sangat ragu untukku berbalik badan dan melihatnya secara langsung. Tentu saja karena aku tetap saja indra. Aku manusia biasa. Sebesar apapun aku berucap tapi jika langsung dihadapkan dengan pemandangan mengerikan dari mahluk - mahluk tak kasat mata itu tetap saja nyaliku menjadi ciut dengan seketika hampir sama seperti banyak orang diluar sana. Berujar siap mati tapi saat dihadapkan pada kematian maka apa yang akan mereka lakukan?? Lari?? Andai saja aku bisa melakukanya karena saat ini pintu rolingdor yang ada di depanku benar - benar tak bisa dibuka. Sekeras apapun aku mencobanya dan memang tak akan mungkin bisa dibuka karena lubang kunci pintu ini sudah menghilang entah kemana.
"Ndraaaaaaaaaaaaaaa.." ujar suara yang sangat parau memanggil namaku tepat dibelakangku.
DEG
Seketika kaki dan tanganku kaku dan tidak dapat digerakkan sama sekali perlahan tapi pasti sambil memejamkan mataku rapat - rapat aku melafalkan ayat kursi dengan suara pelan tapi bukanya mereda rasa merinding di seluruh bulu kudukku malah semakin menjadi.
"Bener kata pak aksa dulu.. Tenang ndraa.. Tenang.. " ujarku pelan untuk menenangkan diri.
Perlahan - lahan aku mencoba memberanikan diri untuk membalikkan badan ke arah suara mengerikan yang memanggilku.
DEG
Di depan pintu kamar dan dengan pandangan mata tajam mengarah kepadaku melayang sesosok mahluk. Sosok yang kuingat. Sosok yang pernah kulepaskan dan akhirnya aku membunuhnya. Dengan jeroan berwarna semerah darah berdenyut dan meneteskan darah dari mulutnya. Tapi bagaimana bisa?? Bukankah seharusnya dia sudah mati?? Apa pak dion dan aji sudah salah rumah saat itu?? Tapi tidak.. Aku yakin betul bahwa pengelihatanku saat itu tidak salah.
BRUGHH
Aku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku hingga akhirnya terduduk di lantai dengan bersandar di pintu roling dor. Mataku tak bisa beralih dari sosok yang mendekat dan semakin mendekat ke arahku dengan senyuman yang penuh darah.
"Bbbu ning..??" ujarku Lirih.
"Maaf ndra.. Kamu saya panggil dulu kesini" ujar suara yang datangnya entah darimana tapi pasti bukan dari sosok yang ada di depanku saat ini.
wwwhhhuuusssss
Kabut tebal berwarna putih tiba - tiba menyelimutiku dengan sangat cepat hingga aku tak bisa melihat apapun.
"AAAAAAKKKKHHHHHH" teriak mahluk itu sesaat setelah kabut ini menyelimutiku.
Perlahan kabut ini mulai menghilang dan keadaan di sekitarku berubah gelap. Kegelapan hutan dengan pohon - pohon besar yang hanya diterangi oleh cahaya bulan.
"Kamu ga papa ndra??" ujar seseorang mengagetkanku.
"Ppak sami?? Kenapa saya disini pak?? Loh ida juga??" jawabku bingung saat melihat mereka berdua ternyata ada disampingku. "ini dimana??" tanyaku kebingungan.
"Tadi dion hubungi saya.. Dan ternyata memang bener kamu lagi dalam masalah.." jawab pak sami.
"Ndraaa.. Kamu ga papa kan??" ujar ida dengan berjongkok memandangiku.
Wajah ida nampak marah dengan bibir yang dimajukan (manyun) tapi sama sekali tak mengurangi kecantikanya.
"Ga papa da.." ujarku pelan. "Oh iya pak.. Saya harus balik.. Saya harus ngasih tau pak totok.. Ini semua udah ga bisa dilanjutin" lanjutku dengan berusaha berdiri.
PLAAKKsebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.
"UDAH SIH KAMU INI TENANG DULU!!! TAU GA SIH KITA DISINI INI KUATIR SAMA KAMU!!" bentak ida keras dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Entah kenapa tubuh dan mulutku menjadi tak bisa bergerak dan berucap apa - apa setelah mendengar kata - kata ida.
"Udah da.. Cukup" ujar pak sami dengan nada tegas.
"Tapi pak" ujar ida sambil menarik - narik kerah bajuku.
"CUKUP!!!" bentak pak sami.
ida seketika tertunduk dan menangis tersedu dengan tangan yang masih menggenggam erat kerah bajuku. Beberapa saat kemudian aku baru menyadari bahwa pak sami mengenakan pakaian yang aneh. Pakaian yang mirip seperti yang ada di gambar - gambar buku pelajaran. Apakah pak sami siap perang?? Sedangkan ida. Dia memakai pakaian kasual seperti biasanya.
"Ppaak.." ujarku lirih.
"Terlambat ndra.. Totok sudah mati.. Dion sudah ngurus dia.. Sekarang kita disini dulu.." ujar pak sami tanpa menoleh ke arahku.
DEG
"Apa pak?? Maksudnya gimana??" tanyaku dengan nada emosi berharap aku salah mendengar apa yang pak sami baru katakan.
"Kamu ga salah denger.. Keadaan udah semakin kacau sekarang.. Kalian semua sudah memancing perang.. Dan sekarang kita disini nunggu utusan yang saya kirim.. Mudah - mudahan dia bawa berita baik" ujar pak sami dengan menatap tajam ke arahku.
Pak totok sudah mati?? Tiara?? Lusi?? Pak hamid?? Sebenarnya berapa nyawa lagi yang harus melayang?? Dan perang?? Apa. Kenapa dan dengan siapa perang ini?? Aku sebenarnya sangat ingin menanyakan semuanya kepada pak sami tapi lidahku benar - benar kelu untuk berucap.
"Kalian sudah ikut campur terlalu jauh dengan orang yang sudah minta perlindungan ke Sang Atta" ujar ida dengan menangis tersedu.
"Maksud kamu da?? gimana bisa?? Aku kenal mbak endah.. Aku kenal bu ning dan bisa aku pastiin mereka itu orang jawa!! Gimana bisa orang yang ngelakuin ritual pesugihan jawa dapet perlindungan dari sang atta?? Lagian siapa itu sang atta??" tanyaku bingung.
"Apa kamu tau ndra gimana eratnya hubungan antara jawa dan dayak?? Apa kamu tau siapa yang mendirikan kerajaan kutai kartanegara di Kalimantan?? Kalian.. Orang jawa.. Kalian membantu kami mendirikan kerajaan itu" jawab pak sami.
"Terus apa hubunganya sama sang Atta?? Kenapa juga bisa perang?? Kita cuma harus bunuh endah dan ngakhiri bu ning!! Selesai sudah!!" ujarku setengah berteriak pada pak sami.
"Kalo emang sebegitu gampang aku ini sudah bunuh dia dari awal dia dan kakaknya nginjak tanah kalimantan ndra" jawab pak sami tak kalah keras.
"Terus apa hubunganya Sama Sang Atta??" ujarku semakin bingung.
"Dia yang akan kita temuin malam ini" ujar pak sami dengan membalikkan badan memunggungiku.
Aku hanya bisa terduduk ditanah sambil mulai menangis. Pertanyaan kenapa.. Kenapa.. Kenapa.. Saat ini membanjiri kepalaku. Aku hanya manusia bodoh. Aku hanya manusia berdosa. Aku hanya manusia lemah. Aku hanya manusia hina. Tapi kenapa semua ini tertuju ke arahku seakan aku menjadi dalang antagonis yang selalu membawa kesialan bagi orang disekelilingku.
"Aku takut ndraa" ujar ida yang entah sejak kapan sudah duduk disampingku.
Aku tak bisa menjawab ucapan ida. Aku sama bingung harus berkata apa. Pak sami berkata Aku dan yang lainya lah yang sudah memicu perang. Entah perang dalam artian apa?? Tapi apapun itu pasti sangat berakibat fatal mengingat ucapan pak sami waktu itu.
ilmu. Mahluk atau orang macam apa yang bisa melakukan itu??
"Malem ini kita akan ketemu dia ndra" ujar ida pelan sambil menutupkan wajah di kakinya.
ida sudah mulai memasuki pikiranku lagi. Tapi aku tau dengan jelas jika dia merasa sangat ketakutan. Baru pertama kali aku melihat seorang wanita ketakutan hingga menangis seperti ini dan yang menangis adalah seorang ida. Ida yang kukenal sangat ceria. Tak takut apapun walaupun bertelanjang kaki saat berjalan di hutan. Begitu teganya aku membawa masalah kepadanya dan keluarganya dan bahkan kepada sukunya.
"Tenang ndra.. Tenang.. Sudah ga ada waktu lagi.. Ini saatnya lu masuk lagi ke dunia lu yang dulu.." ujarku pada diriku sendiri.
Aku memposisikan dudukku dalam keadaan bersila dan mulai memfokuskan pikiranku.
"********* ******** *******" gumanku pelan tapibaku tau pasti ida mendengarnya.
"Ndraa.. NDRAAAA.. JANGAAAAAN!!!" ujar ida panik dan mulai mengguncang - guncangkan tubuhku.
Tapi sekarang aku sudah fokus dengan tujuanku dan guncangan ida perlahan tak lagi kurasakan meskipun ia tetap melakukanya.
DEG
"Oh jadi begitu arti sebenernya dari mimpiku malam itu??" ujarku pelan sambil membuka mata.
Pak sami sedang memandang tajam ke arahku dan ida memundurkan tubuhnya perlahan dengan gemetaran.
"Jangan lakuin hal yang ga perlu ndra!!" ujar pak sami tegas.
"Saya tau pak.. Maaf tapi saya ga bisa diem aja" jawabku dengan beranjak berdiri.
"Jangan Cobai Saya ndra!!" ujar pak sami yang sudah mengeluarkan mandau dari sarungnya dan membuat kuda - kuda hanya beberapa meter di depanku.
"Bapak kalau mau nyegah saya bapak harus bunuh saya.. Tapi saya pastikan.. Walaupun tanpa Badan dan hanya tersisa kepala saya Ganindra Basudewa tetap akan datang kesana Dan malam ini tetap akan terjadi pertumpahan darah!!" jawabku dengan berbalik dan berjalan meninggalkan ida dan pak sami menuju ke gelapnya malam Hutan Borneo.
Jika bertanya siapa yang melakukanya pasti aku akan terdengar bodoh. Tapi apa - apaan ini?? Apa dia mau menerorku dengan cara rendahan seperti ini?? Apa tidak lebih baik jika dia langsung hadir di depanku dan membunuhku saat ini juga??
DEG
Suasanan sepi yang kurasakan saat ini benar - benar berbeda dari biasanya. Suasana ini seperti benar - benar tak ada kehidupan disekitarku bahkan serangga sekalipun.
"Ada yang ga beres ni" gumanku pelan sambil memandangi seluruh ruangan bengkel.
Tak ada yang salah dan sama sekali tidak ada yang berubah dari posisinya semula. Tapiii..
"Heeeeeeee" ujarku terkejut saat meilhat dinding di depanku kini telah bersih.
Tak ada lagi tulisan MATI yang tadi tempampang besar disana. Apa aku bodoh atau mungkin gila?? Sudahlah.
akupun beranjak ke depan hendak membuka pintu roling Dor yang tadi sudah kututup rapat.
KLEEK..
whusssssssss
Tepat di belakangku. Suara pintu belakang terbuka dan diiringin dengan angin yang bertiup pelan ke arahku. Ragu dan sangat ragu untukku berbalik badan dan melihatnya secara langsung. Tentu saja karena aku tetap saja indra. Aku manusia biasa. Sebesar apapun aku berucap tapi jika langsung dihadapkan dengan pemandangan mengerikan dari mahluk - mahluk tak kasat mata itu tetap saja nyaliku menjadi ciut dengan seketika hampir sama seperti banyak orang diluar sana. Berujar siap mati tapi saat dihadapkan pada kematian maka apa yang akan mereka lakukan?? Lari?? Andai saja aku bisa melakukanya karena saat ini pintu rolingdor yang ada di depanku benar - benar tak bisa dibuka. Sekeras apapun aku mencobanya dan memang tak akan mungkin bisa dibuka karena lubang kunci pintu ini sudah menghilang entah kemana.
"Ndraaaaaaaaaaaaaaa.." ujar suara yang sangat parau memanggil namaku tepat dibelakangku.
DEG
Seketika kaki dan tanganku kaku dan tidak dapat digerakkan sama sekali perlahan tapi pasti sambil memejamkan mataku rapat - rapat aku melafalkan ayat kursi dengan suara pelan tapi bukanya mereda rasa merinding di seluruh bulu kudukku malah semakin menjadi.
Quote:
"Bener kata pak aksa dulu.. Tenang ndraa.. Tenang.. " ujarku pelan untuk menenangkan diri.
Perlahan - lahan aku mencoba memberanikan diri untuk membalikkan badan ke arah suara mengerikan yang memanggilku.
DEG
Di depan pintu kamar dan dengan pandangan mata tajam mengarah kepadaku melayang sesosok mahluk. Sosok yang kuingat. Sosok yang pernah kulepaskan dan akhirnya aku membunuhnya. Dengan jeroan berwarna semerah darah berdenyut dan meneteskan darah dari mulutnya. Tapi bagaimana bisa?? Bukankah seharusnya dia sudah mati?? Apa pak dion dan aji sudah salah rumah saat itu?? Tapi tidak.. Aku yakin betul bahwa pengelihatanku saat itu tidak salah.
BRUGHH
Aku sudah tak mampu lagi menopang tubuhku hingga akhirnya terduduk di lantai dengan bersandar di pintu roling dor. Mataku tak bisa beralih dari sosok yang mendekat dan semakin mendekat ke arahku dengan senyuman yang penuh darah.
"Bbbu ning..??" ujarku Lirih.
"Maaf ndra.. Kamu saya panggil dulu kesini" ujar suara yang datangnya entah darimana tapi pasti bukan dari sosok yang ada di depanku saat ini.
wwwhhhuuusssss
Kabut tebal berwarna putih tiba - tiba menyelimutiku dengan sangat cepat hingga aku tak bisa melihat apapun.
"AAAAAAKKKKHHHHHH" teriak mahluk itu sesaat setelah kabut ini menyelimutiku.
Perlahan kabut ini mulai menghilang dan keadaan di sekitarku berubah gelap. Kegelapan hutan dengan pohon - pohon besar yang hanya diterangi oleh cahaya bulan.
"Kamu ga papa ndra??" ujar seseorang mengagetkanku.
"Ppak sami?? Kenapa saya disini pak?? Loh ida juga??" jawabku bingung saat melihat mereka berdua ternyata ada disampingku. "ini dimana??" tanyaku kebingungan.
"Tadi dion hubungi saya.. Dan ternyata memang bener kamu lagi dalam masalah.." jawab pak sami.
"Ndraaa.. Kamu ga papa kan??" ujar ida dengan berjongkok memandangiku.
Wajah ida nampak marah dengan bibir yang dimajukan (manyun) tapi sama sekali tak mengurangi kecantikanya.
"Ga papa da.." ujarku pelan. "Oh iya pak.. Saya harus balik.. Saya harus ngasih tau pak totok.. Ini semua udah ga bisa dilanjutin" lanjutku dengan berusaha berdiri.
PLAAKKsebuah tamparan keras mendarat di pipi kiriku.
"UDAH SIH KAMU INI TENANG DULU!!! TAU GA SIH KITA DISINI INI KUATIR SAMA KAMU!!" bentak ida keras dengan air mata yang sudah membasahi pipinya.
Entah kenapa tubuh dan mulutku menjadi tak bisa bergerak dan berucap apa - apa setelah mendengar kata - kata ida.
"Udah da.. Cukup" ujar pak sami dengan nada tegas.
"Tapi pak" ujar ida sambil menarik - narik kerah bajuku.
"CUKUP!!!" bentak pak sami.
ida seketika tertunduk dan menangis tersedu dengan tangan yang masih menggenggam erat kerah bajuku. Beberapa saat kemudian aku baru menyadari bahwa pak sami mengenakan pakaian yang aneh. Pakaian yang mirip seperti yang ada di gambar - gambar buku pelajaran. Apakah pak sami siap perang?? Sedangkan ida. Dia memakai pakaian kasual seperti biasanya.
"Ppaak.." ujarku lirih.
"Terlambat ndra.. Totok sudah mati.. Dion sudah ngurus dia.. Sekarang kita disini dulu.." ujar pak sami tanpa menoleh ke arahku.
DEG
"Apa pak?? Maksudnya gimana??" tanyaku dengan nada emosi berharap aku salah mendengar apa yang pak sami baru katakan.
"Kamu ga salah denger.. Keadaan udah semakin kacau sekarang.. Kalian semua sudah memancing perang.. Dan sekarang kita disini nunggu utusan yang saya kirim.. Mudah - mudahan dia bawa berita baik" ujar pak sami dengan menatap tajam ke arahku.
Pak totok sudah mati?? Tiara?? Lusi?? Pak hamid?? Sebenarnya berapa nyawa lagi yang harus melayang?? Dan perang?? Apa. Kenapa dan dengan siapa perang ini?? Aku sebenarnya sangat ingin menanyakan semuanya kepada pak sami tapi lidahku benar - benar kelu untuk berucap.
"Kalian sudah ikut campur terlalu jauh dengan orang yang sudah minta perlindungan ke Sang Atta" ujar ida dengan menangis tersedu.
"Maksud kamu da?? gimana bisa?? Aku kenal mbak endah.. Aku kenal bu ning dan bisa aku pastiin mereka itu orang jawa!! Gimana bisa orang yang ngelakuin ritual pesugihan jawa dapet perlindungan dari sang atta?? Lagian siapa itu sang atta??" tanyaku bingung.
"Apa kamu tau ndra gimana eratnya hubungan antara jawa dan dayak?? Apa kamu tau siapa yang mendirikan kerajaan kutai kartanegara di Kalimantan?? Kalian.. Orang jawa.. Kalian membantu kami mendirikan kerajaan itu" jawab pak sami.
"Terus apa hubunganya sama sang Atta?? Kenapa juga bisa perang?? Kita cuma harus bunuh endah dan ngakhiri bu ning!! Selesai sudah!!" ujarku setengah berteriak pada pak sami.
"Kalo emang sebegitu gampang aku ini sudah bunuh dia dari awal dia dan kakaknya nginjak tanah kalimantan ndra" jawab pak sami tak kalah keras.
"Terus apa hubunganya Sama Sang Atta??" ujarku semakin bingung.
"Dia yang akan kita temuin malam ini" ujar pak sami dengan membalikkan badan memunggungiku.
Aku hanya bisa terduduk ditanah sambil mulai menangis. Pertanyaan kenapa.. Kenapa.. Kenapa.. Saat ini membanjiri kepalaku. Aku hanya manusia bodoh. Aku hanya manusia berdosa. Aku hanya manusia lemah. Aku hanya manusia hina. Tapi kenapa semua ini tertuju ke arahku seakan aku menjadi dalang antagonis yang selalu membawa kesialan bagi orang disekelilingku.
"Aku takut ndraa" ujar ida yang entah sejak kapan sudah duduk disampingku.
Aku tak bisa menjawab ucapan ida. Aku sama bingung harus berkata apa. Pak sami berkata Aku dan yang lainya lah yang sudah memicu perang. Entah perang dalam artian apa?? Tapi apapun itu pasti sangat berakibat fatal mengingat ucapan pak sami waktu itu.
Quote:
ilmu. Mahluk atau orang macam apa yang bisa melakukan itu??
"Malem ini kita akan ketemu dia ndra" ujar ida pelan sambil menutupkan wajah di kakinya.
ida sudah mulai memasuki pikiranku lagi. Tapi aku tau dengan jelas jika dia merasa sangat ketakutan. Baru pertama kali aku melihat seorang wanita ketakutan hingga menangis seperti ini dan yang menangis adalah seorang ida. Ida yang kukenal sangat ceria. Tak takut apapun walaupun bertelanjang kaki saat berjalan di hutan. Begitu teganya aku membawa masalah kepadanya dan keluarganya dan bahkan kepada sukunya.
"Tenang ndra.. Tenang.. Sudah ga ada waktu lagi.. Ini saatnya lu masuk lagi ke dunia lu yang dulu.." ujarku pada diriku sendiri.
Aku memposisikan dudukku dalam keadaan bersila dan mulai memfokuskan pikiranku.
"********* ******** *******" gumanku pelan tapibaku tau pasti ida mendengarnya.
"Ndraa.. NDRAAAA.. JANGAAAAAN!!!" ujar ida panik dan mulai mengguncang - guncangkan tubuhku.
Tapi sekarang aku sudah fokus dengan tujuanku dan guncangan ida perlahan tak lagi kurasakan meskipun ia tetap melakukanya.
DEG
"Oh jadi begitu arti sebenernya dari mimpiku malam itu??" ujarku pelan sambil membuka mata.
Pak sami sedang memandang tajam ke arahku dan ida memundurkan tubuhnya perlahan dengan gemetaran.
"Jangan lakuin hal yang ga perlu ndra!!" ujar pak sami tegas.
"Saya tau pak.. Maaf tapi saya ga bisa diem aja" jawabku dengan beranjak berdiri.
"Jangan Cobai Saya ndra!!" ujar pak sami yang sudah mengeluarkan mandau dari sarungnya dan membuat kuda - kuda hanya beberapa meter di depanku.
"Bapak kalau mau nyegah saya bapak harus bunuh saya.. Tapi saya pastikan.. Walaupun tanpa Badan dan hanya tersisa kepala saya Ganindra Basudewa tetap akan datang kesana Dan malam ini tetap akan terjadi pertumpahan darah!!" jawabku dengan berbalik dan berjalan meninggalkan ida dan pak sami menuju ke gelapnya malam Hutan Borneo.
TAMAT
symoel08 dan 17 lainnya memberi reputasi
18
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/09/30/9887347_201709300850100467.jpg)
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/11/9931379_20171011035147.jpg)
![DIBALIK JENDELA RUMAH WALET [TAMAT]](https://s.kaskus.id/images/2017/10/08/9887347_201710080143290163.jpg)